Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

“Konsep Dasar Keperawatan Komunitas”

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Komunitas

Dosen Pengampu : Ns. Grace Carol Sipasulta, M.Kep., Sp.Kep.Mat

Disusun oleh:

Tito Prasetiyo P07220116118

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALIMANTANTIMUR

JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN

KELAS BALIKPAPAN

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan

rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah

ini. Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari

berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami

menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi

dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu

dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami

dapat memperbaiki makalah ini dengan benar.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat

maupun inpirasi terhadap pembaca.

Balikpapan, 12 Januari 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………ii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………1

A. Latar Belakang …………………………………………………………………………1

B. Rumusan Masalah …………………………………………………………………2

C. Manfaat penelitian …………………………………………………………………2

BAB II TINJAUAN TEORI…………………………………………………………………3

A. Pengertian Keperawatan Komunitas …………………………………………………3

B. Tujuan Keperawatan Komunitas …………………………………………………………3

C. Ruang Lingkup / Sasaran Keperawatan Komunitas …………………………………5

D. Prinsip-Prinsip Keperawatan Komunitas …………………………………………9

E. Peran dan Fungsi Keperawatan Komunitas ………………………………………...10

F. Tingkat Pencegahan pada Praktik Keperawatan Komunitas ………………………...15

G. Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas ………………………………………...21

H. Asumsi Dasar dan Keyakinan dalam Keperawatan Komunitas ………………………...22

I. Sejarah Perkembangan Keperawatan Komunitas ………………………………………...25

J. SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DI INDONESIA ...26

BAB III PENUTUP ………………………………………………………………...28

A. Kesimpulan ………………………………………………………………………...28

B. Saran ………………………………………………………………………………...28

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………...29

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan, serta

bertambahnya penduduk dan masyarakat maka, maka perlu adanya perawat kesehatan

komunitas yang dapat melayani masyarakat dalam dalam hal pencegahan, pemeliharaan,

promosi kesehatan dan pemulihan penyakit, yang bukan saja ditujukan kepada individu,

keluarga, tetapi juga dengan masyarakat dan inilah yang disebut dengan keperawatan

komunitas.

Komunitas (community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai persamaan

nilai (values), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus dengan batas-batas

geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah melembaga (Sumijatun dkk, 2006).

Misalnya didalam kesehatan di kenal kelompok ibu hamil, kelompok ibu menyusui,

kelompok anak balita, kelompok lansia, kelompok masyarakat dalam suatu wilayah desa

binaan dan lain sebagainya. Sedangkan dalam kelompok masyarakat ada masyarakat

petani, masyarakat pedagang, masyarakat pekerja, masyarakat terasing dan sebagainya

(Mubarak, 2006).

Keperawatan Kesehatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang

ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi, dalam upaya

pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan

kesehatan, dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, dan

melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan pelaksanaan dan evaluasi pelayanan

keperawatan.

1
B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian keperawatan komunitas?

2. Apa saja tujuan keperawatan komunitas?

3. Apa saja ruang lingkup dan sasaran keperawatan komunitas?

4. Apa saja prinsip-prinsip keperawatan komunitas?

5. Apa saja peran dan fungsi perawat komunitas?

6. Bagaimana tingkat pencegahan pada praktik keperawatan komunitas?

7. Bagaimana strategi intervensi keperawatan komunitas?

8. Bagaimana asumsi dasar dan keyakinan dalam keperawatan komunitas?

C. Manfaat Penulisan

Penulis dan membaca dapat mengetahui pengertian, tujuan, ruang lingkup dan sasaran,

prinsip, peran dan fungsi perawat, tingkat pencegahan pada praktik keperawatan

komunitas, strategi intervensi dan asumsi dasar dan keyakinan dalam keperawatan

komunitas serta dapat menjadi gambaran dalam pengaplikasian ilmu tersebut.

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Keperawatan Komunitas

Komunitas (community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai

persamaan nilai (values), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus dengan

batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah melembaga

(Sumijatun, 2006). Misalnya di dalam kesehatan di kenal kelompok ibu hamil, kelompok

ibu menyusui, kelompok anak balita, kelompok lansia, kelompok masyarakat dalam suatu

wilayah desa binaan dan lain sebagainya. Sedangkan dalam kelompok masyarakat ada

masyarakat petani, masyarakat pedagang, masyarakat pekerja, masyarakat terasing dan

sebagainya (Mubarak, 2006).

Keperawatan komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang merupakan perpaduan

antara keperawatan dan kesehatan masyarakat (public health) dengan dukungan peran

serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan promotif dan preventif

secara berkesinambungan tanpa mengabaikan perawatan kuratif dan rehabilitatif secara

menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok serta

masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses keperawatan (nursing process) untuk

meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal, sehingga mampu mandiri dalam

upaya kesehatan (Mubarak, 2006).

B. Tujuan Keperawatan Komunitas

Keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan

sebagai upaya dalam pencegahan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui

3
pelayanan keperawatan langsung (direction) terhadap individu, keluarga dan kelompok

didalam konteks komunitas serta perhatian lagsung terhadap kesehatan seluruh masyarakat

dan mempertimbangkan masalah atau isu kesehatan masyarakat yang dapat mempengaruhi

individu, keluarga serta masyarakat.

a. Tujuan Umum

Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara

meyeluruh dalam memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan yang

optimal secara mandiri.

b. Tujuan Khusus

1) Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat

2) Meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk

melaksanakan upaya perawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah

keperawatan

3) Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlu¬kan pembinaan dan

asuhan keperawatan

4) Tertanganinya kelompok masyarakat khusus/rawan yang memerlukan pembinaan

dan asuhan keperawatan di rumah, di panti dan di masyarakat

5) Tertanganinya kasus-kasus yang memerlukan penanganan tindaklanjut dan asuhan

keperawatan di rumah

6) Terlayaninya kasus-kasus tertentu yang termasuk kelompok resiko tinggi yang

memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan di rumah dan di Puskesmas

7) Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan sosial untuk menuju

keadaan sehat optimal

4
C. Ruang Lingkup / Sasaran Keperawatan Komunitas

1. Ruang Lingkup Keperawatan Komunitas

a. Upaya Promotif

Untuk meningkatkan kesehatan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat

dengan jalan:

1) Penyuluhan kesehatan masyarakat

2) Peningkatan gizi

3) Pemeliharaan kesehatan perorangan

4) Pemeliharaan kesehatan lingkungan, olahraga secara teratur

5) Rekreasi

6) Pendidikan seks

b. Upaya Preventif

Untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan kesehatan terhadap

individu, keluaga, kelompok dan masyarakat melalui kegiatan:

1) Imunisasi masal terhadap bayi dan balita

2) Pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui posyandu, puskesmas, maupun

kunjungan rumah

3) Pemberian vitamin A, yodium melalui posyandu, puskesmas, ataupun di rumah

4) Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas, dan menyusui

5
c. Upaya Kuratif

Untuk merawat dan mengobati anggota-anggota keluarga, kelompok yang

menderita penyakit ataupun masalah kesehatan melalui:

1) Perawatn orang sakit di rumah (home nursing)

2) Perawatn orang sakit sebagai tindak lanjut keperawatan dari puskesmas dan

Rumah Sakit

3) Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis di rumah ibu bersalin dan nifas

4) Perawatan tali pusat bayi baru lahir

d. Upaya Rehabilitatif

Upaya pemulihan kesehatan bagi penderita yang dirawat di rumah maupun

terhadap kelompok-kelompok tertentu yang menderita penyakit yang sama.

1) Pelatihan fisik bagi yang mengalami gangguan fisik seperti penderita kusta, patah

tulang, kelainan bawaan

2) Pelatihan fisik tertentu bagi penderita-penderita penyakit tertentu, seperti TBC,

pelatihan nafas dan batuk, penderita struk melalui fisioterafi

e. Upaya Resosialitatif

Upaya untuk mengembalkan individu, keluarga, dan kelompok khusus

kedalam pergaulan masyarakat.

6
2. Sasaran Keperawatan Komunitas

Sasaran pelayanan kesehatan masyarakat adalah individu, keluarga/ kelompok

dan masyarakat dengan fokus upaya kesehatan primer, sekunder dan tersier. Oleh

karenanya pendidikan masyarakat tentang kesehatan dan perkembangan sosial akan

membantu masyarakat dalam mendorong semangat untuk merawat diri sendiri, hidup

mandiri dan menentukan nasibnya sendiri dalam menciptakan derajat kesehatan yang

optimal (Elisabeth, 2007). Adapun sasaran keperawatan komunitas meliputi:

a. Individu

Individu adalah bagian dati anggota keluarga. Apabila individu tersebut

mempunyai masalah kesehatan/keperawatan karena ketidakmampuan merawat diri

sendiri oleh suatu hal dan sebab, maka akan dapat mempengaruhi anggota keluarga

lainnya baik secara fisik, mental maupun sosial.

b. Keluarga

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, terdiri atas kepala keluarga,

anggota keluarga lainnya yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga

karena pertalian darah dan ikatan perkawinan atau adopsi, satu dengan lainnya saling

tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga

mempunyai masalah kesehatan/keperawatan, maka akan berpengaruh terhadap

anggota keluarga lainnya dan keluarga-keluarga yang aada di sekitarnya.

c. Kelompok Khusus

Kelompok khusus adalah kumpulan individu yang mempunyai kesamaan jenis

kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yang terorganisasi yang sangat rawan

terhadap masalah kesehatan. Termasuk diantaranya adalah:

7
1. Kelompok khusus dengan kebutuhan khusus sebagai akibat perkembangan dan

pertumbuhannya, seperti;

a) Ibu hamil

b) Bayi baru lahir

c) Balita

d) Anak usia sekolah

e) Usia lanjut

2. Kelompok dengan kesehatan khusus yang memerlukan pengawasan dan

bimbingan serta asuhan keperawatan, diantaranya adalah:

a) Penderita penyakit menular, seperti TBC, lepra, AIDS, penyakit kelamin

lainnya.

b) Penderita dengan penynakit tak menular, seperti: penyakit diabetes mellitus,

jantung koroner, cacat fisik, gangguan mental dan lain sebagainya.

3. Kelompok yang mempunyai resiko terserang penyakit, diantaranya:

a) Wanita tuna susila

b) Kelompok penyalahgunaan obat dan narkoba

c) Kelompok-kelompok pekerja tertentu, dan lain-lain.

4. Lembaga sosial, perawatan dan rehabilitasi, diantaranya adalah:

a) Panti werdha

b) Panti asuhan

c) Pusat-pusat rehabilitasi (cacat fisik, mental dan sosial)

d) Penitipan balita

8
d. Masyarakat

Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup dan bekerjasama cukup

lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka

sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas yang telah ditetapkan dengan jelas.

Masyarakat merupakan kelompok individu yang saling berinteraksi, saling

tergantung dan bekerjasama untuk mencapai tujuan. Dalan berinteraksi sesama

anggota masyarakat akan muncul banyak permasalahan, baik permasalahan sosial,

kebudayaan, perekonomian, politik maupun kesehatan khususnya.

D. Prinsip-Prinsip Keperawatan Komunitas

Pada perawatan kesehatan masyarakat harus mempertimbangkan beberapa prinsip, yaitu:

a. Kemanfaatan

Semua tindakan dalam asuhan keperawatan harus memberikan manfaat yang

besar bagi komunitas. Intervensi atau pelaksanaan yang dilakukan harus memberikan

manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas, artinya ada keseimbangan antara manfaat

dan kerugian (Mubarak, 2006).

b. Kerjasama

Kerjasama dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat berkelanjutan

serta melakukan kerja sama lintas program dan lintas sektoral (Riyadi, 2007).

c. Secara langsung

Asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan intervensi, klien

dan lingkunganya termasuk lingkungan sosial, ekonomi serta fisik mempunyai tujuan

utama peningkatan kesehatan (Riyadi, 2007).

9
d. Keadilan

Tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas dari

komunitas itu sendiri. Dalam pengertian melakukan upaya atau tindakan sesuai dengan

kemampuan atau kapasitas komunitas (Mubarak, 2006).

e. Otonomi

Klien atau komunitas diberi kebebasan dalam memilih atau melaksanakan

beberapa alternatif terbaik dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang ada

(Mubarak, 2006).

E. Peran dan Fungsi Keperawatan Komunitas

Banyak peranan yang dapat dilakukan oleh perawat kesehatan masyarakat

diantaranya adalah:

1. Sebagai penyedia pelayanan (Care provider)

Memberikan asuhan keperawatan melalui mengkaji masalah

keperawatan yang ada, merencanakan tindakan keperawatan, melaksanakan

tindakan keperawatan dan mengevaluasi pelayanan yang telah diberikan

kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

2. Sebagai Pendidik dan konsultan (Nurse Educator and Counselor)

Memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga,

kelompok dan masyarakat baik di rumah, puskesmas, dan di masyarakat

secara terorganisir dalam rangka menanamkan perilaku sehat, sehingga

terjadi perubahan perilaku seperti yang diharapkan dalam mencapai derajat

kesehatan yang optimal.

10
Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan

mengatasi tatanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun

hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan

seseorang. Di dalamnya diberikan dukungan emosional dan intelektual.

Proses pengajaran mempunyai 4 komponen yaitu : pengkajian,

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hal ini sejalan dengan proses

keperawatan dalam fase pengkajian seorang perawat mengkaji kebutuhan

pembelajaran bagi pasien dan kesiapan untuk belajar. Selama perencanaan

perawat membuat tujuan khusus dan strategi pengajaran.Selama pelaksanaan

perawat menerapkan strategi pengajaran dan selama evaluasi perawat menilai

hasil yang telah didapat (Mubarak, 2005).

3. Sebagai Panutan (Role Model)

Perawat kesehatan masyarakat harus dapat memberikan contoh yang

baik dalam bidang kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan

masyarakat tentang bagaimana tata cara hidup sehat yang dapat ditiru dan

dicontoh oleh masyarakat.

4. Sebagai pembela (Client Advocate)

Pembelaan dapat diberikan kepada individu, kelompok atau tingkat

komunitas.Pada tingkat keluarga, perawat dapat menjalankan fungsinya

melalui pelayanan sosial yang ada dalam masyarakat.Seorang pembela klien

adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan termasuk di dalamnya

peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien

terpenuhi dan melindungi hak-hak klien (Mubarak, 2005).

11
Tugas perawat sebagai pembela klien adalah bertanggung jawab

membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari

berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi hal lain yang

diperlukan untuk mengambil persetujuan (Informed Concent) atas tindakan

keperawatan yang diberikan kepadanya. Tugas yang lain adalah

mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena klien

yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak

petugas kesehatan (Mubarak, 2005).

5. Sebagai Manajer kasus (Case Manager)

Perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengelola berbagai

kegiatan pelayanan kesehatan puskesmas dan masyarakat sesuai dengan

beban tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.

6. Sebagai kolaborator

Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan dengan cara

bekerjasama dengan tim kesehatan lain, baik dengan dokter, ahli gizi, ahli

radiologi, dan lain-lain dalam kaitanya membantu mempercepat proses

penyembuhan klien Tindakan kolaborasi atau kerjasama merupakan proses

pengambilan keputusan dengan orang lain pada tahap proses keperawatan.

Tindakan ini berperan sangat penting untuk merencanakan tindakan yang

akan dilaksanakan (Mubarak, 2005).

7. Sebagai perencana tindakan lanjut (Discharge Planner)

Perencanaan pulang dapat diberikan kepada klien yang telah

menjalani perawatan di suatu instansi kesehatan atau rumah

12
sakit.Perencanaan ini dapat diberikan kepada klien yang sudah mengalami

perbaikan kondisi kesehatan.

8. Sebagai pengidentifikasi masalah kesehatan (Case Finder)

Melaksanakan monitoring terhadap perubahan-perubahan yang

terjadi pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang menyangkut

masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang timbul serta berdampak

terhadap status kesehatan melalui kunjungan rumah, pertemuan-pertemuan,

observasi dan pengumpulan data.

9. Koordinator Pelayanan Kesehatan (Coordinator of Services)

Peran perawat sebagai koordinator antara lain mengarahkan,

merencanakan dan mengorganisasikan pelayanan kesehatan yang diberikan

kepada klien. Pelayanan dari semua anggota tim kesehatan, karena klien

menerima pelayanan dari banyak profesional (Mubarak, 2005).

10. Pembawa perubahan atau pembaharu dan pemimpin (Change Agent and

Leader)

Pembawa perubahan adalah seseorang atau kelompok yang

berinisiatif merubah atau yang membantu orang lain membuat perubahan

pada dirinya atau pada sistem. Marriner torney mendeskripsikan pembawa

peubahan adalah yang mengidentifikasikan masalah, mengkaji motivasi dan

kemampuan klien untuk berubah, menunjukkan alternative, menggali

kemungkinan hasil dari alternatif, mengkaji sumber daya, menunjukkan peran

membantu, membina dan mempertahankan hubungan membantu, membantu

13
selama fase dari proses perubahan dan membimibing klien melalui fase-fase

ini (Mubarak, 2006).

Peningkatan dan perubahan adalah komponen essensial dari

perawatan. Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat membantu

klien untuk merencanakan, melaksanakan dan menjaga perubahan seperti :

pengetahuan, ketrampilan, perasaan dan perilaku yang dapat meningkatkan

kesehatan (Mubarak, 2006).

11. Pengidentifikasi dan pemberi pelayanan komunitas (Community Care

Provider And Researcher)

Peran ini termasuk dalam proses pelayanan asuhan keperawatan

kepada masyarakat yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan

evaluasi masalah kesehatan dan pemecahan masalah yang diberikan.

Tindakan pencarian atau pengidentifikasian masalah kesehatan yang lain juga

merupakan bagian dari peran perawat komunitas.

Fungsi keperawatan komunitas, antara lain :

1. Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi

kesehatan masyarakat dan keperawatan dalam memecahkan masalah klien

melalui asuhan keperawatan.

2. Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan

kebutuhannya dibidang kesehatan.

3. Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah,

komunikasi yang efektif dan efisien serta melibatkan peran serta masyarakat.

14
4. Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat berkaitan dengan

permasalahan atau kebutuhannya sehingga mendapatkan penanganan dan

pelayanan yang cepat dan pada akhirnya dapat mempercepat proses

penyembuhan (Mubarak, 2006).

F. Tingkat Pencegahan pada Praktik Keperawatan Komunitas

Menurut Allender & Spradley (2005) tingkat pencegahan dalam

praktik keperawatan komunitas, antara lain :

1. Prevensi primer ditujukan bagi orang-orang yang termasuk kelompok risiko

tinggi, yakni mereka yang belum menderita tetapi berpotensi untuk menderita

. Perawat komunitas harus mengenalkan faktor-faktor yang berpengaruh

terhadap timbulnya dan upaya yang perlu dilakukan untuk menghilangkan

faktor-faktor tersebut. Sejak masa prasekolah hendaknya telah ditanamkan

pengertian tentang pentingnya latihan jasmani teratur, pola dan jenis makanan

yang sehat, menjaga badan agar tidak terlalu gemuk, dan risiko merokok bagi

kesehatan.

2. Prevensi sekunder bertujuan untuk mencegah atau menghambat timbulnya

penyulit dengan tindakan deteksi dini dan memberikan intervensi

keperawatan sejak awal penyakit. Dalam mengelol, sejak awal sudah harus

diwaspadai dan sedapat mungkin dicegah kemungkinan terjadinya penyulit

menahun.Penyuluhan mengenai dan pengelolaannya secara mandiri

memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien. Sistem

15
rujukan yang baik akan sangat mendukung pelayanan kesehatan primer yang

merupakan ujung tombak pengelolaan .

3. Prevensi tersier. Apabila sudah muncul penyulit menahun , maka perawat

komunitas harus berusaha mencegah terjadinya kecacatan/komplikasi lebih

lanjut dan merehabilitasi pasien sedini mungkin, sebelum kecacatan tersebut

menetap. Pendidikan kesehatan bertujuan untuk melindungi upaya

rekonstitusi, yaitu: mendorong untuk patuh mengikuti program PKP ,

pendidikan kesehatan kepada dan keluarga untuk mencegah hipoglikemi

terulang dan melihara stabilitas klien (Allender & Spradley, 2005)

Berdasarkan Levell dan Clark tingkatan pencegahan dalam keperawatan

komunitas dapat digunakan pada tahap sebelum terjadinya suatu penyakit

(Prepathogenesis Phase) dan pada tahap Pathogenesis Phase.

1. PrepathogenesisPhase

Pada tahapan ini yang dapat digunakan melalui kegiatan primary

prevention atau pencehan primer.Pencegahan primer ini dapat dilakukan

selama fase pre pathogenesis terjadinya penyakit atau masalah

kesehatan.Pencegahan dalam arti sebenarnya yaitu, terjadinya sebelum sakit

atau ketidakfungsian dan di aplikasikan ke dalam populasi sehat pada

umumnya. Pencegahan primer merupakan suatu usaha agar masyarakat yang

berada dalam stage of optinum health tidak jatuh kedalam stage yang lain dan

yang lebih buruk.

16
Pencegahan primer ini melibatkan tindakan yang diambil sebelum

terjadinya masalah kesehatan dan mencakup aspek promosi kesehatan dan

perlindungan.Dalam aspek promosi kesehatan, pencegahan primer berfokus

pada peningkatan kesehatan secara keseluruhan dari mulai individu, keluarga,

dan kelompok masyarakat.perlindungan kesehatan ini ditujukan untuk

mencegah terjadinya masalah kesehatan yang spesifik. Misalnya, imunisasi

adalah ukuran pelindung untuk penyakit menular tertentu. Aspek

perlindungan kesehatan dari pencegahan primer ini juga dapat melibatkan,

mengurangi atau menghilangkan faktor risiko sebagai cara

untukmencegahpenyakit.Primary prevention dilakukan dengan dua kelompok

kegiatan yaitu :

a. Health Promotion atau peningkatan kesehatan

Peningkatan status kesehatan masyarakat, dengan melalui beberapa

kegiatan, sebagai berikut:

1. Pendidikan kesehatan atau healtheducation

2. Penyuluhan kesehatan masyarakat (PKM) seperti:

penyuluhan tentang masalahgizi

3. Pengamatan tumbuh kembang anak atau growth and

developmentmonitoring

4. Pengadaan rumah yangsehat

5. Pengendalian lingkunganmasyarakat

6. Program P2M (pemberantasan penyakit tidakmenular)

17
7. Simulasi dini dalam kesehatan keluarga dan asuhan pada anak

atau balita penyuluhan tentang pencegahan penyakit

8.

b. General and spesific protection (perlindungan umum dan khusus)

Merupakan usahakesehatan untuk memberikan perlindungan secara

khusus dan umum terhadap seseorang atau masyaraka, antara lain :

1. Imunisasi untuk balita

2. Hygineperseorangan

3. Perlindungan diri dari terjadinyakecelakaan

4. Perlindungan diri dari lingkungan kesehatan dalam kerja

5. Perlindungan diri dari carsinogen, toxic danalergen

2. Pathogenesisphase

Pada tahap pathogenesis ini dapat dilakukan dengan dua kegiatan pencegahan

yaitu:

a. Sekodary prevention (pencegahansekunder)

Yaitu pencegahan terhadap masyarakat yang masih atau sedang sakit,

dengan dua kelompok kegiatan:

1) Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis awal dan

pengobatan segera atau adekuat), antara lain melalui:

pemeriksaan kasus dini (early case finding), pemeriksaan umum

lengkap (general check up), pemeriksaan missal (mass

screening), survey terhadap kontak, sekolah dan rumah

18
(contactsurvey, school survey, household survey), kasus (case

holding), pengobatn adekuat (adekuattretment)

b. Disability limitation (pambatasan kecacatan) Penyempurnaan dan

intensifikasi terhadap terapi lanjutan, pencegahan komplikasi,

perbaikan fasilitas kesehatan, penurunan beban sosial penderita, dan

lain- lain.Pada pencegahan level ini menekankan pada upaya penemuan

kasus secara dini atau awal dan pengobatan tepat atau “early diagnosis

and prompt treatment”. Pencegahan sekunder ini dilakukan mulai saat

fase patogenesis (masa inkubasi) yang dimulai saat bibit penyakit

masuk kedalam tubuh manusia sampai saat timbulnya gejala penyakit

atau gangguan kesehatan. Diagnosis dini dan intervensi yang tepat

untuk menghambat prosespatologik (proses perjalanan penyakit)

sehingga akan dapat memperpendek waktu sakit dan tingkat keparahan

atau keseriusanpenyakitTertiary prevention (pencegahan tersier)

Yaitu usaha pencegahan terhadap masyarakat yang setelah sembuh dari

sakit serta mengalami kecacatan antara lain :

1) Pendidikan kesehatanlanjutan

2) Terapi kerja (worktherapy)

3) Perkampungan rehabilitsisosial

4) Penyadaran terhadapmasyarakat

5) Lembaga rehabilitasi dan partisipasimasyarakat

Upaya pencegahan tersier dimulai pada saat cacat atau

ketidakmampuan terjadi penyembuhan sampai stabil/ menetap atau

19
tidak dapat diperbaiki (irreversaible).Dalam pencegahan ini dapat

dilaksanakan melalui program rehabilitas untuk mengurangi

ketidakmampuan dan meningkatkan efisiensi hidup

penderita.Kegiatan rehabilitasi ini meliputi aspek medis dan sosial.

Pencegahan tersier dilaksanakan pada fase lanjut proses patogenese

suatu penyakit atau gangguan pada kesehatan. Penerapannya pada

upaya pelayanan kesehatan masyarakat melalui program PHN (Public

Health Nursing) yaitu merawat penderita penyakit kronis di luar

pusat-pusat pelayanan kesehatan yaitu di rumahnya sendiri.

Perawatan penderita pada stadium terminal (pasian yang tidak

mampu diatasi penyakitnya) jarang dikategorikan sebagai pencegahan

tersier tetapi bersifat paliatif, prinsip upaya pencegahan adalah

mencegah agar individu atau kelompok masyarakat tidak jatuh sakit,

diringankan gejala penyakitnya atau akibat komplikasi sakitnya, dan

ditingkatkan fungsi tubuh penderita setelah perawatan dilakukan.

Rehabilitas sebagai tujuan pencegahan tersier lebih dari upaya untuk

menghambat proses penyakitnya sendiri yaitu mengembalikan

individu kepada tingkat yang optimal dari ketidakmampuannya. Jadi

pencegahan pada tahap pathogenesis ini dimaksudkan untuk

memperbaiki keadaan masyarakat yang sudah jatuhpada tahap sakit

ringan, sakit, dan sakit berat agar dapat mungkin kembali ke tahap

sehat optimum.

20
G. Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas

Strategi intervensi keperawatan komunitas adalah sebagai berikut:

1. Proses kelompok (group process)

Seseorang dapat mengenal dan mencegah penyakit, tentunya setelah

belajar dari pengalaman sebelumnya, selain faktor pendidikan/pengetahuan

individu, media masa, Televisi, penyuluhan yang dilakukan petugas kesehatan

dan sebagainya. Begitu juga dengan masalah kesehatan di lingkungan sekitar

masyarakat, tentunya gambaran penyakit yang paling sering mereka temukan

sebelumnya sangat mempengaruhi upaya penangan atau pencegahan penyakit

yang mereka lakukan. Jika masyarakat sadar bahwa penangan yang bersifat

individual tidak akan mampu mencegah, apalagi memberantas penyakit

tertentu, maka mereka telah melakukan pemecahan-pemecahan masalah

kesehatan melalui proses kelompok.

2. Pendidikan Kesehatan (Health Promotion)

Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis,

dimana perubahan tersebut bukan hanya sekedar proses transfer materi/teori

dari seseorang ke orang lain dan bukan pula seperangkat prosedur. Akan tetapi,

perubahan tersebut terjadi adanya kesadaran dari dalam diri individu,

kelompok atau masyarakat sendiri. Sedangkan tujuan dari pendidikan

kesehatan menurut Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 maupun

WHO yaitu ”meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan

meningkatkan derajat kesehatan; baik fisik, mental dan sosialnya; sehingga

produktif secara ekonomi maupun secara sosial.”

21
3. Kerjasama (Partnership)

Berbagai persoalan kesehatan yang terjadi dalam lingkungan

masyarakat jika tidakditangani dengan baik akan menjadi ancaman bagi

lingkungan masyarakat luas. Oleh karena itu, kerja sama sangat dibutuhkan

dalam upaya mencapai tujuan asuhan keperawatan komunitas melalui upaya

ini berbagai persoalan di dalam lingkungan masyarakat akan dapat diatasi

dengan lebih cepat.

H. Asumsi Dasar dan Keyakinan dalam Keperawatan Komunitas

Menurut American Nurses Association (ANA, 1980) asumsi dasar keperawatan

komunitas didasarkan asumsi berikut :

1. Sistem kesehatan bersifat kompleks

2. Pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tersier merupakan komponen sistem

pelayanan kesehatan

3. Keperawatan merupakan subsistem pelayanan kesehatan, dimana hasil

pendidikan dan penelitian melandasi praktek

4. Fokus utama adalah keperawatan primer,sehingga keperawatan komunitas

perlu dikembangkan ditatanan pelayanan kesehatan utama.

Dengan demikian perawatan komunitas dikembangkan ditatanan pelayanan

kesehatan yang melibatkan komunitas secara aktif, sesuai keyakinan keperawatan

komunitas.

22
Keyakinan. Beberapa keyakinan yang mendasari praktek keperawatan komunitas,

yaitu:

1. Pelayanan kesehatan sebaiknya tersedia, dapat terjangkau dan dapat diterima

oleh semua orang.

2. Penyusunan kebijakan seharusnya melibatkan penerima pelayanan, dalam hal

ini komunitas.

3. Perawatan sebagai pemberi pelayanan dan klien sebagai penerima pelayanan

perlu terjalin kerjasama yang baik

4. Lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan komunitas, baik bersifat

mendukung maupun menghambat, untuk itu harus diantisipasi.

5. Pencegahan penyakit dilakukan dalam upaya meningkatkan kesehatan

6. Kesehatan merupakan tanggung jawab setiap orang

Dari asumsi dan keyakinan yang mendasar tersebut dikembangkan falsafah

keperawatan komunitas yang akan menjadi landasan keperawatan komunitas.

Falsafah Keperawatan Komunitas, yaitu :

Keperawatan komunitas merupakan pelayanan yang memberikan pelayanan

terhadap pengaruh lingkungan (bio, psiko, sisio, cultural dan spiritual) terhadap

kesehatan komunitas dan memberikan prioritas pada strategi pencegahan penyakit dan

peningkatan kesehatan. Falsafah yang melandasi keperawatan komunitas mengacu

kepada falsafah atau paradigma keperawatan secara umum yaitu manusia atau

kemanusiaan merupakan titik sentral setiap upaya pembangunan kesehatan yang

menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan bertolak dari pandangan ini disusun

23
falsafah atau paradigma keperawatan komunitas yang terdiri dari 4 komponen dasar,

seperti yang diuraikan di bawah ini :

1. Manusia

Komunitas sebagai klien berarti sekumpulan individu/klien yang berada pada

lokasi atau batas geografis tertentu yang memiliki nilai-nilai, keyakinan dan

minat relatif sama serta adanya interaksi satu sama lain untuk mencapai tujuan.

Komunitas sebagai klien yang dimaksud termasuk kelompok beresiko tinggi

antara lain; daerah terpencil, daerah rawan, daerah kumuh.

2. Kesehatan

Sehat adalah suatu kondisi terbebasnya dari gangguan pemenuhan kebutuhan

dasar klien/komunitas.Sehat merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai

dampak dari keberhasilan mengatasi stressor.

3. Lingkungan

Semua faktor internal dan eksternal atau pengaruh disekitar klien, yang bersifat

biologis, psikologis, sosial cultural dan spiritual.

4. Keperawatan

Intervensi/tindakan yang bertujuan untuk menekan stressor atau meningkatkan

kemampuan klien/komunitas menghadapi stressor melalui pencegahan primer,

sekunder dan tersier.

Berdasarkan falsafah tersebut diatas dikembangkan pengertian, tujuan, sasaran

dan strategi intervensi keperawatan komunitas.

24
I. Sejarah Perkembangan Keperawatan Komunitas

Pembagian era sejarah perkembangan keperawatan komunitas

1. Empirical health era (< 1850 )

Pendekatan kearah symptom/gejala yg dikeluhkan si sakit, pendidikan,

yankes, penelitian berorientasi pada gejala penyakit

2. Basic science era (1850-1900)

Ditemukannya laboratorium, Ilmu kesehatan berkembang ke arah

penyebab terjadinya penyakit yg dpt dibuktikan secara laboratoris.

3. Clinical science era ( 1900-1950)

Ilmu kesehatan, bagaimana mendiagnosis, mengobati dan memulihkan

individu yg menderita sakit tertentu/ Patient oriented.

4. Publc health science era (1950-2000)

Mulai dikembangkan kesehatan masyarakat (public health), yankes tdk

lagi mengutamakan upaya kuratif tetapi juga memikirkan upaya promotif dan

rehabilitatif.

5. Political health science era (sekarang)

Konsep pendekatan terhadap semua penduduk.Masalah yang dihadapi

meliputi : environment, health services, behavior dan herediter.

25
J. SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DI INDONESIA

1. Pasca Perang Kemerdekaan Pelayanan prefentif mulai dipikirkan guna

melengkapi upaya (pelayanan) kuratif, serta lahirnya konsep Bandung Plan

sebagai embrio dari konsep Puskesmas.

2. Tahun 1960 Terbit Undang-Undang Pokok Kes No. 9 Th 1960 tentang Pokok-

Pokok Kesehatan. “Tiap-tiap warga negara berhak mencapai derajat kesehatan

yang setinggi-tingginya dan wajib diikut sertakan dalam kegiatan yang

diselenggarakan oleh pemerintah”

3. Pelita I Dimulai Pelayanan kesehatan melaui puskesmas 4. Pelita II Mulai

dikembangkan PKMD, sebagai bentuk oprasional dari Primary Health Care

(PHC). Pada saat ini juga mulai timbul kesadaran untuk keterlibatan partisipasi

masyarakat dalam bidang kesehatan.

4. Pelita III Lahir SKN th 1982, menekankan pada; Pendekatan kesistem

masyarakat Kerjasama Lintas Program (KLP) & Lintas Sektoral (KLS). Peran

serta masyarakat menekankan pada pendekatan promotive & prefentive.

5. Pelita IV PHC / PKMD diwarnai dengan prioritas untuk menurunkan tingkat

kematian bayi dan anak, tingkat kelahiran ibu serta menyelenggarakan

program posyandu di tiap desa.

6. Pelita V peningkatan mutu posyandu, melaksanakan Panca Krida Posyandu

serta Sapta Krida Posyandu.

7. Menjelang Th 2000 (th 1998) Pergeseran visi pembangunan kesehatan di

Indonesia, yang semua menganut paradigma sakit menjadi paradigama sehat.

26
Visi pembangunan kesehatan dewasa ini adalah “Indonesia Sehat th 2010”

dengan misi sebagai berikut:

a. Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan.

b. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.

c. Memelihara meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata &

terjangkau.

d. Meningkatkan kesehatan individu dan keluarga.

e. Memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat serta lingkungan.

27
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Keperawatan komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang merupakan

perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat (public health) dengan dukungan

peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan promotif dan preventif

secara berkesinambungan tanpa mengabaikan perawatan kuratif dan rehabilitatif secara

menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok serta

masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses keperawatan (nursing process) untuk

meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal, sehingga mampu mandiri dalam

upaya kesehatan.

Proses keperawatan komunitas merupakan metode asuhan keperawatan yang bersifat

alamiah, sistematis, dinamis, kontiniu, dan berkesinambungan dalam rangka memecahkan

masalah kesehatan klien, keluarga, kelompok serta masyarakat melalui langkah-langkah

seperti pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi keperawatan.

B. Saran

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini.Oleh karena

itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis

dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi

penulis pada khususnya dan pembaca pada umum.

28
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Elizabeth T & Judith McFarlane. 2007. Keperawatan Komunitas Teori Dan Praktik,
Jakarta: EGC.

Mubarak, W, I, Santoso, B, A, Rosikin, K & Patonah, S. (2006). Buku Ajar Ilmu Keperawatan
Komunitas 2 Teori & Aplikasi Dalam Praktik Dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan
Komunitas, Gerontik dan Keluarga. Jogjakarta : Sagung Seto.

Riyadi, Sugeng. 2007.Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Salemba Medika

29