Anda di halaman 1dari 20

TEORI BELAJAR KOGNITIVISME DAN BEHAVIOURISTIK

OLEH

1. ELIANA PURBA 8186181003


2. SRIWIRA WATI GINTING 8186181019

PENDIDIKAN DASAR

PASCA SARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan rahmat-Nya lah kepada tim penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul “Teori Belajar Behaviouristik dan Teori Belajar Kognitivisme” dengan tepat waktu.

Penulis menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan
tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu dalam
kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.

Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, tim penulis telah
berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat
menyelesaikannya dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan
dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.

Berikut ini tim penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul " Teori
Belajar Behaviouristik dan Teori Belajar Kognitivisme” yang menurut kami dapat
memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari ilmu kewarganegaraan lebih
dalam lagi.

Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih.dan
semoga Tuhan memberkati makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi tim penulis
maupun pembaca atau pendengar.

Medan, Agustus 2018

"Penulis’’

i
Daftar isi

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i


Daftar isi.....................................................................................................................................ii
BAB I ......................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 1
I. Latar Belakang ............................................................................................................... 1
II. RUMUSAN MASALAH ............................................................................................... 1
BAB II........................................................................................................................................ 2
PEMBAHASAAN ..................................................................................................................... 2
I. TEORI BELAJAR ......................................................................................................... 2
1.1. Teori Belajar Behaviouristik.................................................................................... 2
1.1.1. Pengertian Teori belajar Behaviouristik ........................................................... 2
1.1.2. Prinsip-Prinsip Belajar Behaviouristik ............................................................. 4
1.1.3. TIPE-TIPE PEMBELAJARAN BEHAVIOURISTIK MENURUT PARA
TOKOH BEHAVIOURISTIK ....................................................................................... 5
1.1.4. Implementasi Teori Belajar pada pembelajaraan ............................................. 9
1.1.5. Kelebihan dan Kekurangan Teori Behaviouristik .......................................... 11
1.2. Teori Belajar Kognitif ........................................................................................... 11
1.2.1. Pengertian Teori Belajar Kognitif .................................................................. 11
1.2.2. Jenis-Jenis Teori Belajar Kognitif .................................................................. 12
1.2.3. Implikasi Teori Belajar Kognitif terhadap pembelajaraan. ............................ 14
1.2.4. Kelebihan dan Kelemahaan Teori Kognitif ................................................... 15
BAB III .................................................................................................................................... 16
PENUTUP................................................................................................................................ 16
Kesimpulan .......................................................................................................................... 16
Daftar Pustaka .......................................................................................................................... 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Pendidkan merupakan wahana untuk membentuk peserta didik dalam mencapai
tingkat perkembangan optimal sesuai dengan potensi dirinya dan hakiki. Secara garis besar
aspek-aspek yang mempengaruhi perkembangan siswa sekolah dasar baik itu perkembangan
fisik, kognitif maupun sosioemosional masing-masing dari perkembangan tersebut akan
dihubungkan dengan pendidikan.

Karakteristik yang dimliki oleh siswa sekolah dasar merupakan tahap awal masa
perkembangan kanak-kanak. Dalam hal ini, guru sangat dituntut memberikan bantuan melalui
peran guru untuk mencapai tugas perkembangan peserta didik. Guru akan melaksanakan
perannya secara optimal sesuai dengan pertumbuhan serta perkembangan peserta didik
melalui pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Pembelajaran merupakan suatu sistem,
yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan yang satu dengan yang
lainnya.

Dalam pemenuhan peranannya maka guru mengkaji pengetahuan serta menelaah


materi yang berhubungan dengan perkembangan serta potensi peserta didik adalah melalui
teori. Menurut Santrock (1995) Teori merupakan seperangkat gagasan yang saling berkaitan
dan menolong menerangkan data, serta membuat ramalan. Dari penjelasaan diatas maka
diperlukan kemampuan dalam peyampaian serta penyajian pengetahuan serta perkembangan
peserta didik melalui beberapa teori pembelajaran.

II. RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana deskripsi Teori Behaviouristik dan Teori Kognitifisme menurut para
ahli?
2. Bagaimana Implementasi Teori Behaviouristik dan Teori Kognitifisme dalam proses
belajar dan mengajar?
3. Bagaiman saja kelemahaan serta kelebihan Teori Behaviouristik dan Teori
Kognitifif dalam proses belajar mengajar?

1
BAB II
PEMBAHASAAN
I. TEORI BELAJAR
Menurut Sukmadinata teori merupakan suatu set atau sistem pernyataan (a set os
statement) yang menjelaskan serangkaian hal. (Rusman, 2017). Teori dimaksudkan adalah
untuk menjelaskan fenomena tertentu serta untuk memprediksi atau meramalkan kejadian
yang akan datang. Dengan demikian, penjelasan tersebut memiliki kaitan dengan proses
pembelajaran.

Teori belajar menurut Biggie adalah : ”suatu teori belajar adalah suatu pandangan
yang terpadu lagi sistematik dalam hubungannya dengan hakikat dari proses
dimana orang-orang berhubungan dengan lingkungan mereka dalam suatu cara
untuk meningkatkan kemampuan mereka menggunakan diri mereka sendiri dan
lingkungannya secara lebih efektif”. (Rusman, 2017 : 108)

Berdasarkan keterangan diatas maka dapat kita pahami bahwa teori belajar merupakan
suatu konsep belajar yang dapat menjelaskan pandangan-pandangan mengenai pembelajaran
yang dapat diterapkan dan dapat dipahami saat proses belajar mengajar. Adapun pengertian
dari teori belajar ini sangat diharapkan bagi pendidik mampu memahami bagaimana
ruanglingkup dari teori belajar itu sendiri sehingga pendidik mampu mengenal serta mampu
memahami kondisi belajar peserta didik.

1.1. Teori Belajar Behaviouristik

1.1.1. Pengertian Teori belajar Behaviouristik


Pada kegiatan belajar kita sering mendengar istilah behaviouristik teori belajar ini,
sering dijadikan sebagai materi-materi mata kuliah kependidikan atau keguruan misalnya
dalam kegiatan pelatihan profesionalisme guru pada muatan materi pembelajarannya
membahas jenis-jenis teori belajar juga termasuk bagaimana pengertian serta bagaimana
mengaplikasikan dalam kegiatan pada saat proses belajar mengajar disekolah.

Teori behaviouristik ini sering sekali dikaitkan dengan istilah psikologi dimana dalam
teori ini kita kenal adanya hubungan antara stimulans dan respon. Adapun bentuk hubungan
antara stimulan dan respon tersebut adalah adanya rangsangan yang didapat baik itu dari
internal maupun eksternal yang dapat menimbulkan umpan balik dari rangsangan tersebut
yang kita ketahui itu dapat disebut sebagai respon. Dapat diberikan contoh dari ilustrasi diatas

2
adalah ketika saat proses kegiatan belajar akan dimulai guru harus mampu memberi
rangsangan berupa motivasai sederhana yang mampu dipahami oleh peserta didik sehingga
dapat memberi respon yang diberikan guru kepada siswa.

Beberapa contoh yang dapat kita temukan dalam kegiatan kehidupan sehari-hari kita
misalnya ketika kita membicarakan asam nipis atau jeruk menggambarkan bagaimana bentuk
dan rasa dari asam itu maka kita akan merespon secara tidak sadar kita akan mengeluarkan
air liur. Hal tersebut dapat dikatan wajar karena mahluk hidup terkhusus manusia merupakan
mahluk pasif yang dapat dipengaruhi atau dikuasai oleh stimuls-stimulus pada lingkungannya
atau sering disebut hukum alam.

Teori behaviouristik dikembangkan dari psikologi behaviourisme yang digagas


oleh Waston. Waston menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan
tingkah laku. Ia mengajukan paradigma bahwa belajar berdasarkan perilaku yang
dapat diukur, diamati, dianalisis, dan diuji secara obyektif. Behaviorisme adalah
suatu teori psikologi tentang perubahaan perilaku sebagai hasil dari
pengalaman.(Istiqomah 2016 :25)
Tokoh Edward Lee dalam bukunya Animal intelligence : An Experimental Study of
Association Proces in Animal, menguraikan hasil penelitiannya terhadap beberapa perilaku
hewan seperti kucing, anjing dan burung. Perilaku binatang-binatang itu ternyata
mencerminkan prinsip dasar dari belajar yang dianutnya yaitu bahwa dasar dari belajar adalah
asosiasi, suatu stimulus yang akan menimbulkan suatu respon tertentu (Istiqomah, 2017:26).

Menurut watson “kaum behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka semua
peristilhaan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan,
bahkan termasuk berpikir dan emosi sejauh kedua pengertian tersebut dirumuskan
secara subjektif.
Kepribadiaan merupakan himpunan aneka tindakan yang dapat diungkap lewat
pengamatan yang sunguh-sungguh terhadap tingkah laku dalam waktu yang
cukup lama agar diperoleh informasi yang dapat diandalkan. Dengan kata lain
kepribadian hanyalah merupakan hasil akhir dari berbagai sistem kebiasaan kita.”
(Soyomukti, 2016:34)
Dari hal diatas dapat kita simpulkan dimana kaum behaviuoristik sangat yakin bahwa
sekolah sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, mereka memiliki keyakinan
yang kuat terhadap masa depan sekolah sebagai hal ilwhal yang berkaitan dengan rekayasa
pengubahan tingkah laku. Maka dari itu individu dapat dikendalikan melalui cara
menggantikan stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan
respon yang diiinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh
stimulus yang berasal dari luar dirinya.

3
Berdasarkan penjelasan diatas menegnai teori belajar behaviouristik dalam
penerapannya diharapkan sekolah terkhusus pendidik harus menepatsasarankan teori ini. Hal
ini dimaksudkan setiap pesertadidik memiliki stimulus serta respon secara alamiah dalam
dunia pendidikan hal ini sangat dipengaruhi oleh cara didikan di sekolah, sekolah merupakan
wahana sosial yang tentunya memiliki kewajiban dalam perkembangan negara terkhusus
negara Indonesia. Maka dari itu setiap kegiatan belajar mengajar sangat diharapkan guru
memberikan rangsangan-rangsangan yang baik sehingga pesertadidik dapat memberikan
respon yang baik pula. Dari istilah di atas dapat dicontohkan setiap guru memberikan atau
melaksanakan proses kegiatan belajar disekolah dengan mengunakan pendekatan, metode,
model-model belajar yang dapat menarik perhatiam pesetadidik.

1.1.2. Prinsip-Prinsip Belajar Behaviouristik


Berkenaan dengan perubahaan tingkah laku manuisa, teori belajar behaviouristik
memiliki prisnsip-prinsip behaviouristik yang dikembangkan oleh Hull adalah sebagai
berikut :

1. Reinforcement yang merupakan faktor penting dalam belajar. Reinforcement


hanya berfungsi sebagai drive reduction (pemuas) dari pada satisfied faktor
(pemenuhan).
2. Dalam hubungan antara S-R perlu diperhatikan peranan intervening variable
(variabel penghalang) yang dikenal dengan unsur O (organisme). Faktor o adalah
kondisi internal dan sesuatu yang disimpulkan (inferred). Efeknya dapat dilihat
pada faktor R yang dikenal output.
3. Proses belajar baru terjadi setelah keseimbangan biologis terjadi. Dalam hal ini
Hull terpengaruh teori Darwin yang mementingkan adaptasi organisme.
(Istiqomah, 2016:27).

Dari penjelasan diatas dapat diberikan contoh atau ilustrasi agar dapat memahami
pengertian teori dari prisnsip – prinsip belajar adalah sebagai berikut; ilustrasi belajar
mengjar didalam kelas seorang guru hasus menyusun rancangan pembelajaran yang invatif
serta kreatif yang dapat mengembangkan pendidikan baik secara pengetahuan, ketrampilan,
serta sikap. Untuk itu guru harus memiliki kemampuan adapun kemampuan guru yang seperti
kita ketahui adalah kemampuan pedagogik, kemampuan profesional, kemampuan sosial serta
kekmapuan kepribadian. Motivasi merupakan salah satu cara guru untuk dapat emeberi
stimulus awal yang dapat mendorong minat siswa secara batin kemudian guru harus mampu

4
menarik perhatian siswa sehingga siswa dapat menjawab atau merespon dari stimulus.
Kegiatan ini merupakan kegiatan yang tidak bisa dianggap remeh karena siswa kelas dasar
masih memiliki pemikiran yang atau labil sehingga guru memiliki tanggungjawab untuk
mendidik siswa dimulai dari dasar.

1.1.3. TIPE-TIPE PEMBELAJARAN BEHAVIOURISTIK MENURUT PARA


TOKOH BEHAVIOURISTIK
1.1.3.1 Edward Lee Thorndike (1874-1949)

Dari percobaannya yang terkenal (Puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai
hubungan antara stimulus dan respon, perlu adanya kemampuan untuk memilih respon yang
tepat serta melalui usaha-usaha atau percobaan-percobaan (trial) dan kegagalan – kegagalan
(erorr) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah trial dan erorr dan
berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan
oleh Thorndike adalah teori belajar koneksionisme atau asosiasi.

Teori ini dikembangkan oleh Edward L Thorndike dasar terjadinya belajar adalah
pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan kecendrungan untuk
bertindak atau berhubunga antara stimulus dengan respon (Istiqomah 2016:26).

Tiga hukum utama dalam proses belajar yaitu :

a. Hukum Latihan, hukum ini menjelaskan kemungkinan kuat atau lemahnya


hubungan stimulus dan respon.

b. Hukum Pengaruh, hukum ini menunjuk kepada kuat atau lemahnya hubungan
stimulus dan respon tergantung.

c. Hukum Kesiapan, menurut hukum ini hubungan antara stimulus dan respon
akan mudah terbentuk mana kala ada kesiapan dalam diri individu (Sanjaya :
2008, 238-240).

Dari penjelasan diatas maka dapt disimpulkan pada setiap perkembangan proses
belajar memiliki proses dipengaruhi serta mempengaruhi dimana setiap proses belajarar tahap
awalnya adalah tahap latihan pada saat proses belajar mengajar guru berperan penting dalam
melatih siswa baik melatih bersifat koognitif maupun perilaku, kemudian adalah hukum
pengaruh, pengaruh pada siswa terganting stimulus dari lingkungannya baik maupun buruk

5
respon akan tergantung pada stimulus yang diberikan, kesiapan adalah sikap mental atau
pikiran peserta didik dalam memberi respon pada saat diberikan stimulus itu sendiri.

1.1.3.2 Burhus Fredederic Skinner (1904-1990)

B. F. Skinner adalah seorang yang berkebangsaan Amerika yang dikenal sebagai


seorang tokoh behavioris yang meyakini bahwa perilaku individu dikontrol melalui proses
operant conditioning dimana seseorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui
pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relatif besar. Gaya mengajar
guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru
melalui pengulangan (drill) dan latihan (exercise).

Menagement kelas menurut skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi


perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang
diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. Operant
Conditioning atau pengkondisian operanadalah suatu proses perilaku operant (penguatan
positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau
menghilang sesuai dengan keinginan.

Dalam proses belajar skinner, classical conditioning menekankan pentingnya


stimulus untuk memunculkan respons yang dikehendaki. Tipe ini dikenal sebagai pilihan
stimulus yang mengutamakan “apa yang dilakukan agar timbul perubahan tingkah laku
peserta didik. skinner dalam teorinya guru memberi penghargaan sebagai pengelolah tingkah
laku, teori ini disebut sebagai teori operant conditioning diaman suatu proses penguatan
perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut diulang kembali atau
menghilang sesuai keiinginan (Istiqomah 2016 : 27).

Skiner mengungkapkan tingkah laku ditentukan oleh stimulus sepenuhnya tidak ada
faktor lain sebagai perantara. Tingkah laku tertantu akan timbul sebagai reaksi adanya
stimulus (Rusman, 2017:111). Teori Operant Conditioning yang dikembangkan oleh skiner
merupakan pengembangan dari teori stimulus respon (Sanjaya, 2008:240).

1.1.3.3 David Ausubel

Belajar bermakna menurut Ausubel merupakan suatu proses dikaitkannya informasi


baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang faktor yang
paling penting yang mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui siswa. Pandangan

6
Ausubel agak berlawanan dengan Burner yang beranggapanbahwa belajar dengan
menemukan sendiri (discovery learning) adalah sesuaidengan hakikat manusia sebagai
seorang yang mencari-cari secara aktif danmenghasilkan pengetahuan serta pemahaman yang
sungguh-sungguh bermakna Sedang menurut Ausubel kebanyakan orang belajar terutama
denga menerimadari orang lain (reception learning).

Kedua pandangan tersebut sangat mirip yakni sebuah konstruksipengetahuan baru


yang sesungguhnya bergantung pada sistem pembelajaran yangbermakna. Hanya saja
discovery learning Burner menonjolkan corak berpikirinduktif sedangkan reception learning
Ausubel menonjolkan corak berpikirdeduktif. Sebagai konsekuensinya, Ausubel
mencanangkan mengajar yangdisebutkan “mengajar dengan menguraikan” (expository
teaching). Psikologi pendidikan yang diterapkan oleh Ausubel adalah bekerja untuk mencari
hukum belajar yang bermakna (Istiqomah : 2016, 27).

1.1.3.4 Robert Gagne

Teori Gagne banyak dipakai untuk mendesain software instruksional (program -


program berupa drill, tutorial atau simulasi). Kontribusi terbesar dari teori instruksional
Gagne adalah “9 kondisi Instruksional” yaitu :

1. Mendapatkan perhatian

2. Menginformasikan siswa mengenai tujuan yang akan dicapai

3. Stimulasi kemampuan dasar siswa untuk persiapan belajar

4. Penyajian materi baru

5. Menyediakan pembimbingan

6. Memunculkan tindakan

7. Siap memberikan umpan balik langsung terhadap hasil yang baik

8. Menilai hasil belajar yang ditunjukkan

9. Meningkatkan proses penyimpanan memori dan mengingat

Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk
kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam

7
pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-
kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang
diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu.
Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi
individu dalam proses pembelajaran. Hal ini memunculkan pemikiran Gagne bahwa
pembelajaran harus dikondisikan untuk memunculkan respons yang diharapkan.

Gagne mencatat ada delapan tipe belajar :

1. Belajar isyarat (signal learning)

2. Belajar stimulus respon

3. Belajar merantaikan (chaining)

4. Belajar asosiasi verbal (verbal Association)

5. Belajar membedakan (discrimination)

6. Belajar konsep (concept learning)

7. Belajar dalil (rule learning)

8. Belajar memecahkan masalah (problem solving)

1.1.3.5 Ivan Petrovich Pavlov

Terori classical conditioning berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang di oleh


Ivan Pavlop (1849-1936), seorang ilmuan besar rusia yang berhasil memperoleh hadiah nobel
pada tahun 1909 (Dafrizal 2015:7).

Teori ini merupakan sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara
memberikan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut sehingga dari eksperimen tersebut
mengangkat beberapa prinsip (1) Pengetaraan merupakan suatu rangsangan alami dapat
membangkitkan reaksi sel-sel sehingga menghasilkan tindakan balasan. (2) penularan dimana
reksi dari sel-sel yang berada disekitar berkenaan dengan rangsangan alami. (3) Generalisasi
rangsangan keadaan dimana organisme memberikan balasan yang sama terhadap rangsangan
tertentu. (4) Penghapusan dimana suatu tindak balas akan hilang secara perlahan.

8
1.1.4. Implementasi Teori Belajar pada pembelajaraan
Tak dapat dipungkiri bahwa asumsi mengenai belajar ini tentulah berimplikasi pada
pendidikan. Pada tabel di bawah ini dapat digambarkan bagaimana asumsi dasar mengenai
belajar ( behviorisme ) dan implikasinya terhadap pendidikan.

Aplikasi teori behavioristik dalam proses pembelajaran untuk memaksimalkan


tercapainya tujuan pembelajaran (siswa menunjukkan tingkah laku/kompetensi sebagaimana
telah dirumuskan), guru perlu menyiapkan dua hal, sebagai berikut:
a. Menganalisis Kemampuan Awal dan Karakteristik Siswa Siswa sebagai
subjek yang akan diharapkan mampu memiliki sejumlah kompetensi
sebagaimana yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi dan
kompetensi dasar, perlu kiranya dianalisis kemampuan awal dan
karakteristiknya.
b. Merencanakan materi pembelajaran yang akan dibelajarkan Idealnya proses
pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru benar-benar sesuai dengan apa
yang diharapkan oleh siswa dan juga sesuai dengan kondisi siswa, sehingga
di sini guru tidak akan over-estimate dan atau under-estimate terhadap
siswa. Namun kenyataan tidak demikian adanya. Sebagian siswa ada yang
sudah tahu dan sebagian yang lain belum tahu sama sekali tentang materi yang
akan dibelajarkan di dalam kelas (Muflihin, : 9).

Tabel Asumsi dasar teori behaviorisme dan implikasi pendidikan


ASUMSI IMPLIKASI PENDIDIKAN CONTOH
Pengaruh Mengembangkan lingkungan kelas yang Ketika seorang siswa
lingkungan memelihara prilaku yang diinginkan sering mengalami
kesulitan dalam
mengerjakan tugas sekolah
maka pujilah siswa tersebut
Secara santun (tidak
menyolok) ketika dia sudah
menyelesaikan tugasnya
tanpa peringatan
Fokus pada Identifikasi stimulus khusus (termasuk Jika seorang siswa sering
peristiwa prilakumu sendiri) yang dapat terlibat prilaku yang

9
yang dapat mempengaruhi prilaku yang ditanpakan mengganngu dalam kelas,
diamati siswa pertimbangkan apakah
anda mungkin sedang
mendorong prilaku
tersebut dengan memberi
perhatian setiap prilaku itu
muncul.
Belajar Jangan beranggapan bahwa belajar dapat Cari bukti konkrit bahwa
sebagai terjadi kecuali jika siswa menampakkan belajar telah terjadi lebih
perubahan suatu perubahan penampilan di kelas dari sekedar asumsi bahwa
prilaku siswa telah belajar dengan
sederhana karena mereka
mengatakan bahwa mereka
sudah memahami apa yang
mereka pelajari.
Persambung Jika anda menginginkan siswa anda Masukan kegiatan
an peristiwa mengasosiasikan dua peristiwa (stimulus pendidikan yang belum
dan/atau respon) satu sama lain, pastikan disenangi kedalam jadwal
peristiwa-peristiwa tersebut muncul harian sebagai suatu cara
berdekatan. membantu siswa
mengasosiasikan mata
pelajaran dengan perasaan
yang dapat menyenangkan

10
Kemiripan Ingat bahwa penelitian Perkuat siswa yang hiper
prinsip- dengan spesies yang bukan aktif untuk duduk tenang
prinsip manusia sering memiliki dalam jangka waktu yang
belajar hubungan dalam praktik di lama berturut-turut.
lintas kelas
spesies

1.1.5. Kelebihan dan Kekurangan Teori Behaviouristik


Para ahli behaviour bahwa belajar merupakan proses perubahaan tingkah laku
dimana penguatan dan penghargaan dan hukuman menjadi stimulus untuk
merangsang peserta didik berperilaku.

“Kelemahaan teori behaviourisme antara lain menyumbangkan pemikiran secara


nyata tentang pembentukan kedisiplinan dan tanggung jawab. Selain itu karena
beorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati, maka kontrol dan rekayasa
terhadap proses belajar dan pembelajaran atau lebih luas lagi rekayasa terhadap
sistem pendidikan bisa dilakukan secara terarah, jelas dan pasti”.

“Kelebihaan teori behaviorusme antara lain menyumbangkan pemikiran secara


nyata tentang pembentukan kedisiplinan dan tanggung jawab. Selain itu
beorientasi pada hasil yang dapat diukur, diamati maka kontrol dan rekayasa
terhadap sistem pendidikan bisa dilakukan secara terarah, jelas dan pasti
(Istiqomah, 2016:28).

1.2. Teori Belajar Kognitif

1.2.1. Pengertian Teori Belajar Kognitif


Kogtivisme lahir sebgai respons atas ketidakpuasan terhadap behaviorrisme. Para ahli
kognitivisme berpendapat bahwa perilaku seseorang selalu didasarkan atas kognitif, yaitu
tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana perilaku itu terjadi. Teori belajar kognitif
lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil. Belajar dipandang sebagai sesuatu proses
mental yang aktif untuk mencapai, mengingat, dan menggunakan pengetahuan.

11
Teori belajar kognitif dipelopori oleh Jean Piaget (1896-1980) seorang psikolog. Teori
pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Setiap organisme harus beradaptasi
secara fisik dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup, demikian juga struktur pikiran
manusia.

1.2.2. Jenis-Jenis Teori Belajar Kognitif


a. Teori Kognitif Gestalt

Perintis teori ini Max Wertheimer, pada tahun 1912 mengadakan eksperimen
mengenai pengamatan. Eksperimennya merupakan suatu inovasi berkenaan dan pengamatan
(Rusman 2017:120).

Konsep penting teori psikologi yaitu phi phenomeon yaitu bergeraknya obejek satis
menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan
demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi (Istiqomah 2016:29).

b. Teori kognitif piaget

Dalam Pandangan pieget, pengetahuan datang dari tindakan, perkembangan kognitif


sebagian besar begantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif
berinteraksi dengan lingkungannya (Nugroho 2015:295).

Perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik yang didasari karena


perkembangan sistem syaraf, Belajar merupakan proses identifikasi dan pengintegrasian
stimulus/ informasi yang baru. Skemata melalui tahap Asimilasi : adalah proses penerimaan
informasi baru lalu dimodifikasi sehingga cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki
sebelumnya. Akomodasi : adalah proses perubahan / penyesuaian struktur kognitif yang
telah dimiliki dengan informasi baru yang diterima. Ekuilibrasi : adalah keseimbangan antara
asimilasi & akomodasi atau pengembangan antara lingkungan luar dengan struktur kognitif
yang ada dalam dirinya (Nugroho 2015:296).

Proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan sesuai
dengan umurnya. Piaget membagi tahap perkembangan kognitif menjadi empat, yaitu : (1)
Tahap sensorimotor (0–1,5 tahun) (2) Tahap pra operasional (1,5–6 tahun) (3) Tahap
operasional konkret (6–12 tahun) (4) Tahap operasional formal (11/12 tahun ke atas)
(Rusman 2017:124-126).

12
c. Teori Kognitif Ausubel

Guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang
bermakna Belajar bermakna adalah menyajikan materi pelajaran yang baru dengan
menghubungkan pada konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa,
Siswa pada pendidikan dasar harus dilibatkan pada kegiatan langsung, sedangkan untuk siswa
pada tingkat pendidikan lebih tinggi akan lebih efektif bila guru menggunakan penjelasan,
demonstrasi, diagram atau ilustrasi.

Langkah-langkah dalam menerapkan belajar bermakna :(a)Advance organizer


Penyampaian awal tentang kerangka isi materi yang akan dipelajari siswa, contoh : hand out
pelajaran. (b) Progressive differensial materi pelajaran disampaikan bertahap, di awali konsep
umum kemudian dilanjutkan ke hal yang khusus. (c) Integrative reconciliation Penjelasan
tentang kesamaan dan perbedaan antara kosep-kosep yang telah dimiliki dengan konsep yang
baru dipelajari. (d) Consolidation pemantapan materi dengan menghadirkan banyak contoh
(Istiqomah, 2016:38).

d. Teori Kognitif Joronr Burner

Perkembangan bahasa besar pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif Dalam


proses belajar, Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku
seseorang. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika guru memberikan kesempatan pada
siswa untuk menemukan sendiri suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-
contoh yang dijumpai dalam kehidupannya  Free Discovery Learning

Menurut Bruner, perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap, yaitu :
Tahap enaktif : dalam memahami dunia anak mengunakan pengetahuan motorik : sentuhan,
pegangan dll. Tahap ikonik : Seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui
gambar-gambar atau visualisasi verbal. Tahap simbolik : seseorang memahami dunia
melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika dll (Istiqomah, 2016:34).

Seseorang dikatakan memahami suatu konsep apabila ia mengetahui semua unsur dari
konsep itu meliputi : (a) Nama , (b) Contoh-contoh baik yang positif maupun negatif (c)
Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak, (d) Rentangan karakteristik, (e) kaidah.

13
e. Teori Kognirif Robert Gagne

Proses belajar adalah suatu proses dimana siswa terlibat dalam aktivitas yang
memungkinkan mereka memiliki kemampuan yang tidak dimiliki sebelumnya. Ada delapan
tingkat kemampuan belajar menurut Gagne, dimana kemampuan belajar pada tingkat tertentu
ditentukan oleh kemampuan belajar ditingkat sebelumnya. Delapan tingkat kemampuan
belajar tersebut adalah sbb : (1) Signal Learning : dari signal yang dilihat, anak akan memberi
respon tertentu. (2) Stimulus – response learning : seorang anak akan memberi respon fisik
atau vokal setelah mendapat stimulus tertentu. (3) Chaining : kemampuan anak untuk
menggabungkan dua atau lebih hasil belajar S – R yang sederhana (4) Verbal assosiation :
bentuk penggabungan hasil belajar yang melibatkan unit bahasa seperti memberi nama
sebuah obyek atau benda (5) Multiple discrimination : kemampuan untuk menghubungkan
beberapa kemampuan chaining sebelumnya (6) Concept learning : anak mampu memberi
respon terhadap stimulus yang hadir melalui karakteristik abstraknya. (7) Principle learning :
kemampuan siswa untuk menghubungkan satu konsep dengan konsep lainnya. (8) Problem
solving : siswa mampu menerapkan prinsip-prinsip yang telah dipelajari untuk mencapai satu
sasaran (merupakan tipe belajar yang paling tinggi) (Istiqomah 2016:36).

1.2.3. Implikasi Teori Belajar Kognitif terhadap pembelajaraan.


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapannya: (1)Mementingkan pengaruh
linkungan.(2)Mementingkan bagian-bagian.(3)Mementingkan peranan reaksi.(4)
Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon.
(5)Mementingkan pembentukan kebiasaan melalu latihan dan pengulangan.(6)
Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya. (7)Hasil belajar yang
dicapai adalah muncul perilaku yang diinginkan.

Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai
aktivitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang
sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke
keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu
jawaban benar. Jawabanyang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas
belajarnya.

Implikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaraan, diantaranya:

14
a. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh karena itu guru
hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak. Anak
akan dapat belajar dengan baik apabila ia mampu menghadapi lingkungannya
dengan baik.
b. Guru harus dapat membantu anak agar berinteraksi dengan lingkungan belajarnya
sebaik mungkin. (fasilitator, in arso sung tolado, ing madyo mangun karso, tut
wuri handayani).
c. Bahan yang harus dipelajari hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asin. Beri
peluang kepada anak untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.
d. Di kelas, berikan kesempatan pada anak untuk dapat bersosialisasi dan diskusi
sebanyak mungkin (Rusman, 2017:249).

1.2.4. Kelebihan dan Kelemahaan Teori Kognitif


“Adapun yang menjadi kelebihan teori kognitif adalah (a) menjadikan peserta didik
lebih kreatif dan mandiri. (b) membantu peserta didik memahami bahan belajar
secara lebih mudah. Sdeangkan yang menjadi kekurangannya adalah (a) teorinya
tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan. (b) sulit dipraktikkan khusus
ditingkat lanjut (c) beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan
pemahamannya masih belum tuntas”(Istiqomah 2016:38).

15
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Teori Behaviouristik adalah Perubahan yang terjadi melalui rangsangan (stimulans)
yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum
mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun
eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak,
berupa reaksi fifik terhadap stimulans.

Teori belajar kognitif dipelopori oleh Jean Piaget (1896-1980) seorang psikolog. Teori
pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Setiap organisme harus beradaptasi
secara fisik dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup, demikian juga struktur pikiran
manusia.

Adapun yang menjadi perbedaan teori behaviouristik dan teori kognitif

No Teori Belajar Behaviouristik Teori Belajar Kognitif


1. Mementingkan Pengaruh Lingkungan Mementingkan apa yang ada di dalam diri

2. Mementingkan Bagian-Bagian Mementingkan keseluruhaan

3. Mengutamakan peranan reaksi Mengutamakan fungsi kognitif


4. Hasil belajar terbentuk secara mekanis Terjadi keseimbangan di dalam diri
5. Dipengaruhi Oleh pengalaman masa Tergantung pada masa saat ini
lalu
6. Mementingkan Pembentukan Mementingkan terbentuknya struktur kognitif
Kebiasaan
7. Memecahkan masalah dilakukan Memecahkan masalah dilakukan kepada
dengan cara “trial and error” “insight”

16
Daftar Pustaka

Sumber Buku

Istiqomah. 2016. Sukses Uji Kompetensi Guru. Jakarta : Dunia cerdas

Lubis, Rajab M. 2017. Perkembangan Peserta Didik. Medan : Universitas Negeri Medan

Rusman.2017. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Kencana

Sanjaya, Wina. 2013. KURIKULUM dan PEMBELAJARAN. Jakarta ; KENCANA

Soyomuk, Nurani. 2016. TEORI-TEORI PENDIDIKAN DARI TRADISIONAL, NEO


LIBERAL, MARXIS-SOSIALISASIS, POSTIMODERN. Yogyakarta ; AR.RUZZ MEDIA

Sumber Jurnal

Jamridafrizal. (2016). Teori Belajar Behaviourisme dan Impilkasinya Dalam Praktek


Pendidikan. Universitas Negeri Jakarta.

Muflihin Hizbul Muh ( ). Aplikasi Dan Implikasi Teori Behaviourisme dalam Pembeljaran

Nahar Irwan Novi. (2016). Penerapan Belajar Teori Behaviouristik dalam Proses
Pembelajaraan. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial. Volum 1

Nugroho Pusp0. (). Pandangan Kognitifsme dan Aplikasinya dalam agama islam anak usia
dini.

17