Anda di halaman 1dari 51

CRITICAL BOOK REVIEW

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Perkuliahan


Mata Kuliah Filsafat Ilmu

Disusun Oleh:
Eliana Purba
8186181003
DIKDAS A2

PENDIDIKAN DASAR
PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.karena dengan
rahmat-Nya Critical book Review ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Maksud dari penyusunan Critical book Review ini adalah sebagai salah satu point
penilaian yang dapat dijadikan sebagai salah satu pegangan dalam proses belajar mengajar
mata kuliahStatistika dan Probabilitas, serta dengan harapan untuk memotivasi penulis
sehingga mampu memahami segala pembahasan dan aplikasi yang berkaitan dengan
pembelajaran tersebut.
Terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Statistikaatas bimbingannya,
sehingga penyusun bisa menyelesaikan tugas Critical book Review ini.
Penulis menyadari bahwa tugas Critical book Reviewini tidak luput dari kesalahan
dan kekurangan, oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi perbaikan Critical book Review ini.
Akhir kata, penulis berharap agar Critical book Review dapat bermanfaat bagi
masyarakat luas terutama mahasiswa yang ingin menjadikan tugas ini sebagai referensi.

Medan, Februari 2019

Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
A. INFORMASI BIBLIOGRAFI
JUDUL BUKU : PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
PENULIS : DENY SETIAWAN
ISBN : 978-602-98133-7-1
PENERBIT : MADENATERA
URUTAN CETAKAN : CETAKAN KEEMPAT
DIMENSI BUKU : 15,5 x 24,5 CM
TEBAL BUKU : VII+143 HLM
B. TUJUAN CBR

Tujuan penulisan CBR. Mengulas isi sebuah buku-buku. Mencari dan mengetahui
informasi yang ada dalam buku. Melatih diri untuk berfikir kritis dalam mencari informasi yang
diberikan oleh setiap bab dari buku. Mengkritisi satu topik materi kuliah pembelajaran tematik
dalam buku yang akan di kritik.
C. MANFAAT CBR

Manfaat CBR adalah memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif


tentang apa yang tampak dan terungkap dalah sebuah buku yang mengajak pembaca untuk
memikirkan, merenungkan dan mendiskusikan lebih jauh mengenai masalah.
BAB II
PENGANTAR
Pendidikan kewarganegaraan memiliki peranan penting dalam sebagai wadah untuk
mempersiapkan generasi saat ini dalam menjalankan peran serta tanggungjawab sebagai
warga negara. Sebagaimana pengertian pendidikan kewarganegaraan menurut
PERMENDIKNAS Nomor 22 Tahun 2006 yang mengatur tentang satandart isi satuan
pendidikan dasar dan menengah adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada
pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan
kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, Terampil, dan berkarakter
yang dimanatkan oleh pancasila.
Membicarakan kewarganegaraan dalam suatu negara tidaklah terlepas dengan
pembicaraan status formal kedudukan warga negara dalam negara tersebut maka pembahasan
pada buku ini juga tidak terlepas pada bidang pendidikan, polilik, hukum sebagai penjelasan
sebagai pembekalan generasi saat ini dengan kemampuan dasar yang berkenaan dengan
kewarganegaraan.
Perkembangan pendidikan kewarganegaraan saat ini atau sering disebut sebagai
paradigma baru pendidikan kewarganegaraan yang mana sebagai warga negara bukan hanya
sebatas mengetahui, melaksanakan atau mematuhi aturan yang berlaku namun diharapkan
menjadi warga negara yang mampu memberikan sesuatu untuk negaranya seperti kutipan dari
John F Kennedy “Jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang
kamu berikan kepada mu”.
Pendidikan kewarganegaan yang dipelajari disekolah sangat diharpkan membantu
peserta didik dalam berabagai aspek yaitu baik dari aspek pengetahuan, ketrampilan dan
aspek sikap. Dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan pada jenjang sekolah dasar,
sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas samapai pada tingkat perguruan tinggi
besar harapan untuk penaman pemahaman atau mengetahui hak setrta tanggungjawabnya
sebagai warga negara.
Pada kegiatan critical book PKn ini bertujuan untuk mengasah kemampuan dalam
menganalisis bagaimana perkembangan isu kewarganegaraan yang berkembang saat ini
melalui topik bahasan atau topi materi yang ada pada buku PKn sehingga memahami sejauh
mana esssensi pendidikan kewarganegaraan dalam melaksanakan hak dan kewajiban sabagai
warga negara yang baik. Dengan demikiaan, berdasarkan penjelasan diatas maka disusunlah
critical book review ini sesuai dengan sistematika yang berlaku.
BAB III
PEMBAHASAN
A. INTISARI BUKU
RINGKASAN BUKU
BAB I
HAKIKAT PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan menurut Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan
Menengah adalah mata pelajaran yang mefokuskan pada pembentukan warga negara yang
memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga
negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila
dan UUD 1945. Dari definisi tersebut dapat di jelaskan bahwa pendidikan kewarganegaraan
dirumuskan secara luas untuk mencakup proses penyiapan generasi muda untuk mengambil
peran dan tanggung jawab sebagai warganegara, dan secara khusus, peran pendidikan
termasuk di dalamnya persekolahan, pengajaran dan belajar, dalam proses penyiapan
warganegara tersebut.
Beberapa unsur yang terkait dengan pengembangan PKn antara lain (Somantri, 2001:
158) : Hubungan pengetahuan insentif dengan pengembangan ekstraseptif atau antara agama
dengan ilmu Kebudayaan Indonesia dan tujuan pendidikan nasional Disiplin ilmu atau
pendididkan, terutama psikologi pendidikan. Disiplin ilmu-ilmu sosial, khususnya “ide
fundamental” ilmu kewarganegaraan Dokumen negara, khususnya Pancasila, UUD 1945 dan
perundangan negara serta sejarah perjuangan bangsa Kegiatan dasar manusia Pengertian
pendidikan IPS.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat dikemukakan bahwa Pendidikan
Kewarganegaraan adalah suatu mata pelajaran yang merupakan satu rangkaian proses untuk
mengarahkan peserta didik menjadi warga negara yang berkarakter bangsa Indonesia, cerdas,
terampil, dan bertanggungjawab sehingga dapat berperan aktif dalam masyarakat sesuai
dengan ketentuan Pancasila dan UUD 1945.
Sejarah Pendidikan Kewarganegaraan
Menurut Nu’man Soemantri (Cholisin, 2004: 44-57), secara singkat sejarah
perkembangan PKn sesudah kemerdekaan diawali dengan pendidikan moral di Indonesia
yang berisi nilai-nilai kemasyarakatan, adat dan agama. Pada tahun 1957, pelajar
kewarganegaraan membahas cara memperoleh dan kehilangan kewargaan negara. Pada tahun
1961, istilah kewarganegaraan berubah menjadi civics yang membahas tentang sejarah
nasional, sejarah Proklamasi, UUD 1945, Pancasila, pidato-pidato kenegaraan presiden,
pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa.
Pada tahun 1968, pemerintah menetapkan kurikulum yang baru dengan mengganti
nama pelajaran Kewargaan Negara menjadi Pendidikan Kewargaan Negara/PKn. Tahun 1972
diadakan Seminar Nasional Pengajaran dan pendidikan civics di Tawangmangu Surakarta.
Pada kurikulum tahun 1989, Pendidikan Kewarganegaraan diatur dalam Undang-Undang No-
2 Tahun 1989 tentang SPN Pasal 39 ayat 2, yaitu Pancasila yang mengarah pada moral,
tentunya diharapkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian kurikulum 1994
bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Kurikulum 1994
sebagai salah satu upaya dalam melaksanakan UU no.2 Tahun 1989, yaitu memilih
mengintergrasikan antara pengajaran pendidikan Pancasila dan pendidikan Kewarganegaraan
menjadi PPKn. Kurikulum tahun 2004/kurikulum KBK juga membawa perubahan nama dari
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menjadi Pendidikan Kewarganegaraan, isinya
meliputi beberapa aspek yaitu, Pancasila, persatuan dan kesatuan, norma, hukum dan
peraturan, hak asasi manusia, kebutuhan warga negara, konstitusi negara, kekuasaan dan
politik, dan globalisasi.
Tetapi dengan adanya perubahan UU No. 2 Tahun 1989 yang diubah dengan UU No.
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional nama pendidikan Pancasila tidak
dieksplisitkan lagi, sehingga berubah nama menadi Pendidikan Kewarganegaraan.
Pendidikan Pancasila dimasukkan dalam PKn. Begitu pula kurikulum 2004 memperkenalkan
istilah pengganti PPKn dengan Kewarganegaraan/Pendidikan Kewarganegaraan. Perubahan
ini juga nampak diikuti dengan perubahan isi PKn yang lebih memperjelas akar keilmuan
yakni polotik, hukum, dan moral (Cholisin, 2004: 57).
Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan
Tujuan dari pendidikan Kewarganegaraan diatur dalam Permendiknas Nomor 22
tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Tujuannya
adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: Berpikir secara kritis,
rasional dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan. Berpartisipasi secara aktif dan
bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara, serta antikorupsi. Berkembang secara positif dan demokratis untuk
membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup
bersama dengan bangsa-bangsa lain. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam
percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkab teknologi
informasi dan komunikasi.
Karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan
Adapun karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan nenurutBranson, (1999:4) materi
Pendidikan Kewarganegaraan harus mencakup tiga komponen, yaitu CivicKnowledge
(pengetahuan kewarganegaraan) CivicSkill (kecakapan kewarganegaraan) dan
CivicDisposition (watak-watak kewarganegaraan). Komponen pertama CivicKnowledge
“berkaitan dengan kandungan atau nilai apa yang seharusnya diketahui oleh
warganegara”(Branson, 1999: 8). Aspek ini menyangkut kemampuan akademik keilmuan
yang dikembangkan dari berbagai teori atau konsep politik, hukum dan moral. Komponen
kedua CivicSkill meliputi keterampilan intelektual (intelectualskills) dan keterampilan
berpartisipasi (participatoryskills) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Komponen
ketiga CivicDisposition (watak-watak kewarganegaraan) merupakan dimensi yang paling
subtantif dan esensial dalam mata pelajaran PKn. Dimensi watak kewarganegaraan dapat
dipandang sebagai “muara” dari pengembangan kedua dimensi sebelumnya.
Ruang Lingkup Pendidikan Kewarganegaraan
Ruang lingkup Pendidikan Kewarganegaraan diatur dalam Permendiknas No. 22
tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Ruang
lingkup mata pelajaran PKn untuk pendidikan dasar dan menengah secara umum meliputi
aspek-aspek sebagai berikut: Persatuan dan kesatuan bangsa, meliputi hidup rukun dalam
perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda,
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, partisipasi dalam pembelaan negara, sikap
positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan keadilan.
Norma, hukum dan peraturan, meliputi tertib dalam kehidupan keluarga tata tertib disekolah,
norma yang berlaku di masyarakat, peraturan-peraturan daerah, norma-norma dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem hukum dan peradilan nasional, hukum dan
peradilan internasional.
Hak Asasi Manusia, meliputi hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota
masyarakat, instrumen nasional dan internasional HAM, pemajuan penghormatan dan
perlindungan HAM. Kebutuhan warga negara, meliputi hidup gotong royong, harga diri
sebagai masyarakat, kebebasan berorganinasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat,
menghargai keputusan bersama, prestasi diri, persamaan kedudukan warga negara. Konstitusi
Negara, meliputi prolkamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, konstitusi yang
pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi.
Kekuasaan dan politik, meliputi pemerintahan desa dan kecamatan, pemerintahan
daerah dan otonomi, pemerintah pusat, demokrasi dan sistem-sistem pemerintahan, pers
dalam masyarakat demokrasi. Pancasila, meliputi kedudukan pancasila sebagai dasar negara
dan ideology negara, proses perumusan pancasila sebagai dasar negara, pengalaman nilai-
nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari, pancasila sebagai ideology terbuka. Globalisasi,
meliputi: globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri Indonesia di era globalisasi,
dampak globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi
globalisasi.
BAB II
DIMENSI DAN SUBTANSI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
A. PENDAHULUAN

Tujuan pendidikan kerarga negaraan secara umum baik untuk pendidikan dasar dan
menengah, pada prinsipnya sama, yaitu untuk memberikan “kompensasi dasar pada peserta
didik dalam hal (1)berfikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam menangani isu kewarga
negaraan; (2) berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab, serta bertindak secara sadar
dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; (3) pembentukan diri yang
didasarkan pada karakter-karakter positif masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia yang
demokratis (kurikulum kewarganegaraan untuk SD, SLTP, SMU,2001:12)
Sementara di perguruan tinggi tujuan pendidikan kewarganegaraan lebih diarahkan
pada kompetensi utama yaitu membentuk warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa
dan negara, dengan berfokus pada tiga komponen dasar pengembangan, yaitu : (1) Civic
knowledge,(2) civic skills, (3) civic disposition/traits.
Namun demikian kita menyadari bahwa masih banyak kelemahan dalam pendidikan
kewarga negaraan, paling tidak terdiri atas kelemahan pokok, yaitu sebagai berikut :
(1) Kelemahan dalam filosofis pendidkan kewarganegaraan;
(2) Lebih bersifat indoktrinatif dan terlalu menonjolkan moral behavioristik.
(3) Terjadi kesenjangan antara materi pelajaran dengan basic keilmuan dari
kewarganegaraan.
(4) Terlalu banyak diintervasi oleh kepentingan politik yang berkuasa.
(5) Penekanannya pada pembentukan warga negara yang “loyalitas”.
(6) Kurang mengembangkan kehidupan demokrasi yang partisipatif.

Menyikapi kelemahan-kelemahan yang ada, diusulkan bahwa pendidikan


kewarganegaraan baru, sebagai tujuan utamanya, hendaknya dapat mengembangkan
kompetensi warga negara (civic competence), akhlak warga negara yang diinginkan
(desirable personal qualities atau civic virtue), dan budaya warga negara (civic culture),serta
nilai dan kepercayaan terhadap demokrasi (democratic values and belifs) menuju
terbentuknya kepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaaan (Winataputra,2002).
Dengan demikian lebih lanjut upaya pengembangan pendidikan kewarganegaraan di
masa yang akan datang hendaknya;
a) Memiliki konsistensi antara tujuan idealnya dengan struktur program kurikulernya,
yang mengacu pada misi dan fungsi pembentukan kepribadian warga negara yang
mantap dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan
kebangsaan.
b) Seimbang antara pengembangan nilai moral dengan pemahaman struktur, proses
dan institusi-institusi negara dengan segala kelengkapannya.
c) Menerapkan pendekatan pedagogis dan metodologis yang tidak bernuansa
dogmatis-indoktrinatif, melainkan menumbuhkembangkan budaya berfikir kritis,
sistematis, kreatif dan inovatif.
d) Terintegrasi dengan konteks disiplin keilmuan dan lingkungan sosial budaya.
(Winataputra,2002).
B. Kecenderungan Global dalam Pendidikan Kewarganegaraan.
Jhon J. Patrick (Quiqley,2000: 4-7) menuliskan kecenderungan perkembangan Pkn
secara global, menyangkut hal-hal sebagai berikut:
1) Pendidikan kewarganegaraan memiliki keterkaitan antara pengetahuan
kewarganegaraan(civic knowledge), keterampilan dalam kehidupan bermasyarakat
dalam masyarakat (civic skill) dan berkembangnya nilai-nilai kebajikan dalam
masyarakat (civic virtue). Pengetahuan kewarganegaraan menyangkut prinsip-
prinsip demokrasi, jalannya pemerintahan yang demokratis dan perilaku demokratis
masyarakat serta perbandingan nilai demokrasi antar negara.
2) Pendidikan kewarganegaraan memiliki pola pembelajaran yang sistematik
mengenai konsep-konsep utama.
3) Pola pembelajaran yang mengaplikasikan konsep utama Pkn untuk menganalisis
sebagai kasus yang berkembang dalam kehidupan bernegara.
4) Pengembangan keterampilan dan kemampuan siswa untuk membuat keputusan.
5) Analisis perbandingan internasional tentang pemerintah dan kewarganegaraan.
Kebangkitan demokrasi di dunia mendorong dunia pendidikan untuk
mengembangkan pola pembelajaran Pkn.
6) Pengembangan keterampilan partisipatoris dan kebajikan warga negara melalui
kegiatan-kegiatan belajar.
7) Penggunaan buku sumber di dalam mengajarkan kebajikan warga negara(civic
vertues).
8) Mempelajari secara aktif pengetahuan, keterampilan dan kebajikan-kebajikan warga
negara.
9) Menghubingkan antara isi dan proses dalam belajar-mengajar pengetahuan,
keterampilan dan kebajikan-kebajikan warga negara.

Dari kesembilan kecenderungan diatas diharapkan bahwa dalam mengembangkan dan


melaksanakan kurikulum dan pembelajaran dikelas, guru dapat memahami kebajikan-
kebajikan warga negara, dan keterampilan-keterampilan intelektual dan partisipasi, tidak
terpisahkan sebagai sosok pengetahuan warga negara (a body of civic knowledge). Hal ini
diamsusikan bahwa jika siswa diharapkan dapat berfikir secara kritis dan bertindak secra
efektif, serta pandai menjawab berbagai isu-isu sosial kemasyarakatan (virtously response to
a public issue).
Perkembangan diatas merupakan kecenderungan yang terjadi dalam pendidikan
kewarganegaraan. Di samping kecenderungan global pendidikan kewarganegaraan untuk
demokrasi, pendidikan kewarga-negaraan juga dipengaruhi perkembangan global lainnya.
Menurut Wahab(1999) perkembangan tersebut diantaranya gagalnya penerapan konsep
pendidikan kewarganegaraan yang lalu, sebagai akibat dari penekanan pada kebenaran yang
bersifat monovision dan sama sekali mengabaikan kemungkinan multivision atau jika itu
dilakukan hanya bersifat semu. Multivision ini akan memungkinkan lahirnya perbedaan,
pilihan alternatif dalam berbagai aspek kehidupan warga negara, tumbuhnya rasa kebebasan
dan persamaan dalam konteks hukum yang berkeadilan dan penghargaan terhadap hak-hak
sipil warga negara.
Uraian diatas, sekaligus menggambarkan bahwa di dalam pendidikan kewarga
negaraan, persoalan kehidupan warga negara dalam sistem nilai demokrasi telah mengalami
globalizing (Patrick,2000: 11). Hal ini berarti di dalam pengembangan pendidikan
kewarganegaraan saat ini kajian isi/materi kurikulum pendidikan kewarganegaraan, tidak
hanya berorientasi dalam perspektif lokal dan nasional, namun harusmenyesuaikan dengan
perkembangan global yang tengah mengalir membawa nilai-nilai baru, seperti demokrasi dan
civil society.
C. Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan.

Pendidkan kewarga negaraan paradigma baru berorientasi pada terbentuknya


masyarakat sipil (civil society), dengan memberdayakan warga negara melalui proses
pendidikan, agar mampu berperan serta secara aktif dalam sistem pemerintahan negara yang
demokratis. Print et.al (1999:25) mengemukakan, civic education is necessary for the
building and consolidation of a democratic society. Inilah visi pendidikan kewarganegaraan
yang perlu dipahami oleh guru, siswa dan masyarakat pada umumnya. Kedudukan warga
negara yang ditempatkan pada posisi yang lemah dan pasif, seperti pada masa-masa yang
lalu, harus diubah pada posisi yang kuat dan partisipatif.
Sejalan dengan visi pendidikan kewarganegaraan paradigma baru, misi mata pelajaran
ini adalah meningkatkan kompetensi siswa agar mampu menjadi warga negara yang berperan
serta secara aktif dalam sistem dalam sistem pemerintahan negara yang demokratis. Agar
siswa memiliki kompetensi seperti itu diperlukan seperangkat pengetahuan dan keterampilan,
serta watak yang mendukung pengembangan kemampuan tersebut. Sehubungan dengan hal
itu, suryadi dan Somardi (2000:5) mengemukakan bahwa pendidikan kewarganegaraan
memfokuskan pada tiga komponen pengembangan, yaitu : (1) civic knowledge, (2) civic
skills dan (3) civic disposition. Inilah pengertian “warga negara yang baik” yang diharapkan
oleh pendidikan kewarganegaraan.
Sementara keterampilan kewarga negaraan 9civic skills), merupakan keterampilan yang
dikembangkan dari pengatahuan kewarganegaraan, agar penetahuan yang diperoleh menjadi
sesuatu yang bermakna, karena dapat dimanfaatkan dalam menghadapi masalah-masalah
kehidupan berbangsa dan bernegara. Civic skills mencakup intellectual skills (keterampilan
intelektual) dan participation skills (keterampilan partisipasi).
Keterampilan intelektual yang terpenting bagi terbentuknya warga negara yang
berwawasan luas, efektif dan bertanggung jawab antara lain adalah keterampilan berfikir
kritis. Keterampilan berfikir kritis meliputi mengidentifikasi, menggambarkan/
mendeskripsikan, menjelaskan menganalisis, mengevaluasi menentukan dan
mempertahankan pendapat yang berkenaan dengan masalah-masalah publik.
Keterampilan partisipasi dalam demokrasi telah digambarkan oleh Aristoles dalam
bukunya Politics (Branson, dkk 1999;4) yang menyatakan “jika kebebasan dan kesamaan
ebagaimana menurut sebagian pendapat orang dapat diperoleh terutama dalam demokrasi,
maka kebebasan pendapat orang akan dapat dicapai apabila semua orang tanpa kecuali ikut
ambil bagian sepenuhnya dalam pemerintahan.” Dengan kata lain cita-cita demokrasi dapat
diwujudkan dengan sesungguhnya bila setiap warga negara dapat berpartisipasi dalam
pemerintahannya. Pengembangan keterampilan kewarganegaraan dalam praktek
pembelajaran kewarganegaraan, bisa mengacu pada rincian seperti dapat dilihat pada tabel
dibawah ini:
Keterampilan Kewarganegaraan
Keterampilan Intelektual Keterampilan Partisipasi
1. Mengidentifikasi 1. Berinteraksi
- Membedakan - Bertanya, menjawab, berdiskusi,
- Mengelompokkan dengan sopan santun
- Menentukan bahwa sesuatu itu asli. - Menjelaskan artikulasi
2. Menggambarkan kepentingan
- Proses - Membangun koalisi
- Lembaga - Mengelola konflik secara damai
- Fungsi - Mencari konsensus.
- Alat 2. Memantau
- Tujuan - Menggunakan berbagai sumber
- kualitas informasi seperti perpustakaan,
3. Menjelaskan surat kabar, TV, dan lain
- Sebab-sebab terjadinya sesuatu sebagainya untuk mengetahui
peristiwa. persoalan-persoalan publik.
- Makna dan pentingnya peristiwa - Upaya mendapatkan informasi
- Alasan bertindak. tentang persoalan publik dari
4. Menganilisis kelompok-kelompok kepentingan,
- Unsur-unsur atau komponen- pejabat,pemerintah, lembaga-
komponen ide atau gagasan, proses lembaga pemerintah.
politik, institusi-institusi. 3. Mempengaruhi, proses politik,
- Memilih mana yang merupakan pemerintah baik secara formal
cara dengan tujuan, mana yang maupun informal, yang termasuk
merupakan fakta dan pendapat, keterampilan ini.
mana yang merupakan tanggung - Melakukan simulasi tentang
jawab pribadi dan mana yang kegiatan, kampanye pemilu.
merupakan tanggung jawab publik. - Memberikan suara dalam suatu
5. Mengevaluasi pemilihan.
- Kekuatan dan kelemahan isu/ - Membuat petisi.
pendapat. - Melakukan
- Membuat pilihan baru. pembicaraan/memberikan
6. Mengambil pendapat kesaksian di hadapan lembaga
- Dari hasil seleksi berbagai. publik.
- Membuat pilihan baru - Bergabung atau bekerja dalam
7. Mempertahankan pendapat lembaga advokasi untuk
- Mengemukakan argumentasi meperjuankan tujuan bersama atau
berdasarkan asumsi atas posisi yang pihak lain,
dipertahankan/diambil/dibela. - Meminta atau menyediakan diri
- Merespons posisi yang tidak untuk menduduki jabatan tertentu.
disepakati. -

Sumber: Diolah dari Center for Civic Education.(1994). National Standard for Civics and
Goverbment,p.p.1-5;127-135.
Sedangkan komponen yang ketiga adalah civic dispositions. Disposisi kepribadian
warga negara yang mendukung refektivasnpihak individu, keberfungsian sistem politik yang
sehat, martabat dan harga diri dan kepentingan umum, diidentifikasi oleh National Standard
for Civics and Goverment(cci 1994), sebagai berikut:
(a) Menjadi anggota masyarakat yang mandiri. Disposisi ini meliputi kepatuhan secara
suka rela terhadap standar perilaku yang dibebankan sendiri daripada memerlukan
pembebanan dari kontrol luar, penerimaan tanggung jawab terhadap akibat-akibat
dari perbuatan sendiri pemenuhan kewajiban moral dan hukum dari keanggotaan
dalam masyarakat demokratis.
(b) Memikul tanggung jawab pribadi, politik dan ekonomi sebagai warga negara.
(c) Hormat terhadap harga diri dan martabat kemanusiaan.
(d) Berpartisipasi dalam urusan-urusan kemasyarakatan menurut cara yang penuh
pemikiran dan efektif.
(e) Menigkatkan fungsi demokrasi konsitusional yang sehat.
Uraian diatas, menunjukkan bahwa civic dispositions merupakan komponenpenting
yang berkaitan dengan nilai-nilai (values)yang berkontribusi dalam pembentukan karakter
warga negara. Ketiga komponen tersebut lebih lanjut perlu dikembangkan diklasifikasi guna
menghasilkan a body of civic knowledge, yang dapat memenuhi harapan demokrasi dan civil
society.
D. Restrukturisasi Isi Kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan dalam Dimensi Global.

Restrukturisasi isi/materi merupakan bagian penting dalam suatu pembaharuan


kurikulum. Dalam konteks pendidikan kewarganegaraan dengan paradigma baru dimensi
global, maka restruksionisasi isi kurikulum harus mendasarkan pada standar kelayakan materi
yang bersifat universal, yang core, yang intinya relevan, dalammembangun demokrasi dan
civil society, untuk pemberdayaan warga negara.
Uraian lengkap mengani pendidkan kewarganegaraan demokratis dapat dilihat pada
substansi kajian kewarganegaraan demokratis, seperti dibawah ini:
1. Knowledge of Citizenship and Goverment in Democracy
a. Concepts and principles on the subtance of democracy
b. Perenial issues about the meaning and uses of core ideas
c. Continuing issues and landmark decisions abot public policy and
consitutional interpretation.
d. Consitutions and institutions of respresentative democratic goverment
e. Practices of democratic citizenship and the roles of citizens
f. History of democracy in particular sates and the throughout the world.
2 Cognitive Skils of Democratic Citizenship
a. Identifying and describing information about political and civic life.
b. Analyzing and explaining information about political and civic life
c. Synthesizing and explaining information about political and civic life.
d. Evaluating taking and defending position on public events and issues
e. Thinking critically about conditions of political and civic life.
f. Thinking constructively about how ti improve political and civic life.
3 Perticipatory Skills of Democratic Citizenship
a. Interacting with other citizens to promote personal and common intersts
b. Monitoring public events and issues
c. Deliberating and making decisions on public issues
d. Implementing policy decision on public issues.
e. Taking action to improve political and civic life.
4 Virtues and Dispositions of Democratic Citizenship
a. Affirming the common and equal humanity and dignity of each person.
b. Respecting, protecting and exercising rightspassessed equally each person.
c. Participating responsibility in the political ane civic life of the community
d. Practicing self-goverment and supporting goverment by concent of the
governed.
e. Exemplifying the moral traits of democratic citizenship.
f. Promoting the common good.
Sumber : Patrick, 2003: 9
Uraian lengkap mengenai substansi pendidikan kewarganegaraan dalam kurikulum
pendidikan kewarganegaraan di inggris, dapat disajikan seperti dibawah ini :
Key Consepts Values and Skills and Aptitudes Knowledge and
Dispositions Understand
 Democracy and  Concern for the  Ability to make a  Topical and
autocracy common good reasoned contemporary
 Cooperation  Believe in human argument both issues and
and conflict dignity and verbally and events at local,
 Equality and equality writing national, EU,
diversity  Concern to  Ability to Communwealth
 Fairness, resolve conflicts cooperate and and
justice, the  A disposition to work effectively international
rules of law, work with and with others. levels the nature
rules, law and for others with  Ability to of democratic
human right. sympathetic consider and communities,

 Freedom and understanding appreciate the including how

community  Peoclivity to experience of they function

 Individual and actresponsibility, others. and change.

community that iscare for  The

 Power and others and one interdependence

authority self. of individuals

 Rights and and local and

responsibilities. voluntary
communities.
Sumber : Qualifications and Curiculum Authority(1998:44).
Secara garis besar mata pelajaran kewarganegaraan terdiri dari:
a) Dimensi pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge) yang mencakup bidang
politik, hukum dan moral. Secara terperinci, materi pengetahuan kewarganegaraan
meliputi pengetahuan tentang prinsip-prinsip dari proses demokrasi, lembaga
pemerintahan dan non pemerintahan.
b) Dimensi keterampilan kewarganegaraan (civic skills) meliputi keterampilan partisipasi
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, misalnya berperan secara aktif mewujudkan
masyarakat medani(civic society), keterampilan mempengaruhi dan memonitoring
jalannya pemerintahan, dan proses pengambilan keputusan politik.
c) Dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civic velues) mencakup antara lain percaya dir,
komitmen, penguasaan atas nilai religius, norma dan moral luhur, nilai keadilan,
demokratis, toleransi, kebebasan individual, kebebasan berbicara, kebebasan pers,
kebebasan berserikat dan berkumpul, dan perlindungan terhadap
minoritas(Depdiknas,2003).
Dari tiga dimensi diatas, kemudian dijabarkan ke dalam substansi kajian dan uraian
materi kajian pendidikan kewarganegaraan, seperti di bawah ini:
Topik Subtansi Urutan Materi Kajian
Kajian
1. Persatuan dan Hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebagsaan
kesatuan bangsa sebagai bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda, Keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia, Partisipasi dalam pembelaan
negara, Sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik
Indonesia, Keterbukaan dan jaminan keadilan.

2. Norma hukum Tertib dalam kehidupan kelluarga, tertib di sekolah, norma yang
dan persatuan berlaku di masyarakat, peraturan-peraturan daerah, norma-norma
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem hukum dan
peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional.

3. Hak asasi Hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat,
manusia Instrumen nasional dan international HAM, pemajuan dan
penghormatan HAM.

4. Kebutuhan Hidup gotong royong, harga diri sebagai warga masyarakat,


Warga Negara kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat,
menghargai keputusan bersama, prestasi dir, persamaan
kedudukan warga-warga.

5. Konstitusi Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi pertama, konstitusi-


negara konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, Hubungan dasar
nnegara dengan konstitusi.

6. Kekuasaan dan Pemerintah desa dan kecamatan, pemerintahan daerah dan


Politik otonomi, pemerintahan pusat, demokrasi dan sistem politik,
budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat madani,
sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat demokrasi.

7. Pancasila Kedudukan pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara,


proses perumusan pancasila sebagai dasar negara, pengamalan
nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari, pancasila
sebagai ideologi terbuka.

8. Globalisasi Globalisasi di lingkungannya, politikluar negeri Indonesia di era


globalisasi dan mengevaluasi globalisasi.
Sumber: peraturan Materi Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Berdasarkan uraian diatas diperoleh gambaran tentang keragaman uasnya cakupan
materi dan penataan Pendidikan Kewarga Negaraan dalam Kurikulum. Hal ini bukanlah
sesuatu yang harus dianggap aneh, sebab kurikulum pada dasarnya adalah suatu pilihan.
Dilihat dari sudut keilmuan, standar materi mata pelajaran ini tidak sedemikian ketat, cukup
fleksibel, bahkan mudah berubah.
Sedangkan dalam penataannya di dalam struktur kurikulum, Belinda Charles dalam
Print (1999: 133-135), merekomendasikan isi pendidikan kewarganearaan dapat ditata dalam
tiga model, yaitu : formal curiculum, informal curiculum, dan hidden curiculum. Dengan
model formal curiculum implementasi pembelajarannya dapat menembus berbagai mata
pelajaran. Dengan model informal curiculum dapat diimplementasikan dalam kegiatan-
kegiatan ekstra kulikuler, seperti pramuka, klub-klub remaja, PMR, kegiatan rekreasi dan
olah raga. Model ini justru efektif dalam pembentukan karakter remaja. Dengan model
hidden curiculum, seperti misalnyaetika, dapat dikembangkan dalam tingkah laku sehari-hari.
Artinya bahwa restrukrisasi isi kurikulum Pkn di Indonesia dalam dimensi global yang
meliputi komponen: civic knowledge, civic skills dan civic values, bagaimanapun jangan
terlepas dari “akar”nya, membentuk warga negara Indonesia yang demokratis, cerdas dan
“religius”. Hal ini sejalan dengan muatan cita-cita, nilai dan konsep demokrasi yang
seyogyanya menjadi isi dari pada dasarnya diangkat dari pilar-pilar demokrasi konstitusional
Indonesia. (Sanusi, 1998).
BAB III
PARADIGMA BARU PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
A. Pendahuluan
Pada masa transisi saat ini, dimana proses perjalanan bangsa sedang menuju
masyarakat madani (civilsociety), pendidikan kewarganegaraan sebagai salah satu pelajaran
dipersekolahan dipandang perlu untuk dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan
tuntutan masyarakat yang tengah berubah di era global. Proses pembangunan karakter bangsa
(nationalcharacterbuilding) yang sejak jaman kemerdekaan telah terbangun perlu
direvitalisasi agar sesuai dengan isi pesan konstitusi. Proses revitalisasi terhadap
nationalcharacterbuilding yang dimaksud saat ini, diarahkan pada penciptaan tatanan
masyarakat indonesia yang menempatkan demokrasi sebagai titik sentral dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Berangkat dari pemikiran inilah Pendidikan Kewarganegaraan di
era reformasi harus dapat melakukan pergeseran paradigmanya dari yang bersifat feodalistik
ke arah paradigma baru yang menunjukkan New Indonesian CivicEducation.
B. Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan yang memiliki yang diharapkan mampu mengarahkan
dan mendidik warga negara agar dapat berperan aktif dalam kehidupan demokrasi dan
jalannya pemerintahan. John J Patrick (Quiqley, 2000: 4-7) menuliskan kecendrungan
perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan secara global saat ini sebagai suatu figur kajian
yang menampilkan dirinya sebagai:
1. Pendidikan Kewarganegaraan yang memiliki keterkaitan secara fungsional
antara pengetahuan kewarganegaraan (civicknowledge), keterampilan dalam
kehidupan bermasyarakat (civicskill), dan berkembangnya nilai-nilai
kebajikan dalam masyarakat (civicvirtue).
2. Pendidikan Kewarganegaraan yang memiliki pola pembelajaran yang
sistematik mengenai konsep-konsep utama ( pola pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan menyangkut : pemerintahan demokratis, hak dan
kewajiban warga negara serta bentu dan tugas lembaga politik).
3. Pola pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dikembangkan melalui
upaya mengaplikasikan konsep-konsep utama dengan pendekatan analisis
berbagai kasus yang berkembang.

C. Paradigma Baru dalam pendidikan Kewarganegaraan


Paradigma baru yang diusulkan dalam Pendidikan Kewarganegaraan haruslah
berorientasi pada terbentuknya masyarakat sipil ( civilsociety), dengan memberdayakan
warga negara melalui proses pendidikan, agar mampu berperan aktif dalam sistem
pemerintahan negara yang demokratis. Print.et. al (1999:25) mengemukakan, civic education
nisnecessary for the building and consolidation of democratic society. Inilah versi Pendidikan
Kewarganegaraan yang perlu dipahami oleh pendidik, peserta didik, dan masyarakat pada
umumnya. Suryadi dan Soemardi (2000: 5) mengemukakan bahwa Pendidikan
Kewarganegaraan memfokuskan pada tiga komponen pengembangan yaitu:
 Civicknowledge
 Civicskills
 Civicdisposition

Dalam prosesnya, tiga komponen tersebut bersinergi secara fungsional sehingga


diharapkan dapat menghasilkan warga negara yang baik sebagaimana yang dimaksudkan
dalam Pendidikan Kewarganegaraan. Dengan memperhatikan tiga komponen di atas dan
berorientasi pada sistem kehidupan global, maka materi Pendidikan Kewarganegaraan yang
memuat komponen-komponen pengetahauan, keterampilan, dan disposisi kepribadian warga
negara, tidak saja fungsional dalam tataran kehidupan berbangsa dan bernegara melainkan
juga dalam era kehidupan global.
BAB IV
WARGA ,NEGARA DAN KEWARGANEGARAAN
A. Pengertianwarga negara
Pengertianwarga negara menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2002) adalah penduduk
sebuah negara bangsa berdasarkan keturunan, tempat kelahiran, dan sebagainya yang
memiliki kewajiban dan hak penuh sebagai warga Negara. Selanjutnya dalam UU no
22/1958, dan dinyatakan dan dinyatakan dalam UU 12/2006 tentang kewarganegaraan
republic Indonesia menekankan kepada peraturan yang meyatakan bahwa warga negara
republic Indonesia adalah orang -orang yang berdasarkan perundang-undangan.

B. PenentuanKewarganegaraan

Siapa saja yang menjadi warga negaranya. dalam menentukan kewarganegaraan


seseorang, dikenal adanya asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran dan asas
kewarganegaraan berdasarkan perkawinan.

1. Asas kewarganegaraanberdasarkankelahiran

Penentuan kewarganegaraan berdasarkan kelahiran seseorang dikenal dengan dua asas


kewarganegaraan

a. Asas Ius Soli


Asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan dari dimana
seseorang itu dilahirkan.
b. Asas Ius Sanguinis
Asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan berdasarkan
keturunan atau dengan kata lain ditentukan berdasarkan kewarganegaraan dari
orang tuanya.
C. Asas kewarganegaraan berdasarkan perkawinan
1. Asas kesatuan atau kesamaan hukum itu berdasarkan pada paradigma bahwa
suami-isteri ataupun ikatan keluarga merupakan inti masyarakat yang
meniscayakan suasana sejahtera, sehat, dan tidak terpecah. Jadi, suami-isteri
atau keluarga yang baik dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyakatnya
harus mencerminkan adanya suatu kesatuan yang bulat. Dan untuk
merealisasikan terciptanya kesatuan dalam keluarga atau suami-isteri, maka
semuanya harus tunduk pada hukum yang sama. Dengan kebersamaan tersebut
sehingga masing-masing tidak terdapat perbedaan yang dapat mengganggu
keutuhan dan kesejahteraan keluarga
2. Asas persamaan derajat menyebutkan bahwa suatu perkawinan tidak
menyebabkan perubahan status kewarganegaraan masing-masing pihak.Jadi,
baik suami maupun isteri tetap dangan kewarganegaraan aslinya, sama seperti
sebelum mereka dikaitkan oleh pernikahan dan keduanya memiliki hak untuk
memilih kewarganegaraan yang dianutnya
D. Asas kewarganegaraan berdasarkan na turalisasi

E. Pengertian Negara

Istilah negara dekenal pertama kali di Yunani dengan istilah polis yang artinya negara
kota, negara di gambarkan dengan sebuah kota kecil yang sduah melaksanakan
kepemimpinan yang demokratis

1. Menurut kranenburrg negara adalah suatu organisasi kekuasaan yang diciptakan oleh
sekelompok manusia yang disebut bangsa.”
2. Roger F. SoleauMenurut pendapat Roger F. Soleau, arti negara merupakan sebuat
sarana atau dapat disebut sebuah wewenang yang mengendalikan dan mengatur
masalah-masalah yang bersifat umum dalam kehidupan masyarakat.
3. Prof. Mirian BujiardjoArti negara adalah sebuah organisasi dalam sebuah wilayah
tertentuk yang dapat memaksakan kekuasaan secara sah kepada selluruh golongan
kekuasaan yang lain yang dapat menerapkan tujuan dari kehidupan masyarakat
bersama. Artinya, negara adalah sekelompok manusia yang tinggal dalam sebuah
wilayah tertentu serta diorganisasikan oleh pemerintah negara yang berlaku yang
umumnya mempunyai kedaulatan
4. Menurut SunarkoMenurut Sunarko, arti negara secara umum adalah organisasi
masyarakat yang mempunyai daerah yang mana kekuasaan Negara berlaku sebagai
kedaulatan.
F. Teori Terjadinya Negara
1. Teori kontrak social
2. Teori kontrak social sering juga di sebut teori perjanjian, menurut teori ini,
Negara terbentuk atas dasar sebuah perjanjian oleh masyrakat
3. Teori keTuhanan Timbulnya negara itu adalah atas kehendak Tuhan. Segala
sesuatu tidak akan terjaditanpa kehendak-Nya
4. Teori kekuasaan Teori kekuasaan menyatakan bahwa negara terbentuk
berdasarkan kekuasaan.
5. Teori alam Menurut teori ini, Negara ada karena adanya keinginan untuk
memenuhi kebutuhan masusia yang bermacam-macam
G. Bentuk negara dan tugastugaspemerintah

Bentuk Negara, Secara umum bentuk negara hanya memiliki 2 kestuan kesatuan
(unitary state) dan negara serikat (federation) negara kesatuan adalah yang mengatur semua
kekuasaan di lingkungan wilayah negaranya

Cirikhas negara kesatuan

a) kedaulatankeluar dan kealamditangani oleh pemerintahpusat


b) negarahnyamemilikisatu UUD
c) kebijakanhanyasatu

Tugas tugaspemerintah, Menjamin keamanan negara dari segala kemungkinan


serangan dari luar, dan menjaga agar tidak terjadi pemberontakan dari dalam yang dapat
menggulingkan pemerintahan yang sah melalui cara-cara kekerasan.

1. Memelihara ketertiban dengan mencegah terjadinya gontok-gontokan diantara


warga masyarakat, menjamin agar perubahan apapun yang terjadi di dalam
masyarakat dapat berlangsung secara damai.
2. Menjamin diterapkannya perlakuan yang adil kepada setiap warga masyarakat
tanpa membedakan status apapun yang melatarbelakangi keberadaan mereka.
3. Melakukan pekerjaan umum dan memberikan pelayanan dalam bidang-bidang
yang tidak mungkin dikerjakan oleh lembaga non pemerintahan, atau yang akan
lebih baik jika dikerjakan oleh pemerintah.
4. Melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial: membantu
orang miskin dan memelihara orang cacat, jompo dan anak terlantar: menampung
serta menyalurkan para gelandangan ke sektor kegiatan yang produktif, dan
semacamnya.
5. Menerapkan kebijakan ekonomi yang menguntungkan masyarakat luas, seperti
mengendalikan laju inflasi, mendorong penciptaan lapangan kerja baru,
memajukan perdagangan domestic dan antar bangsa, serta kebijakan lain yang
secara langsung menjamin peningkatan ketahanan ekonomi negara dan
masyarakat.

H. Pengertian kewarganegraan

Kewarganegaraan (civic) memiliki pengertian yang lebih luas dari pada warna negara,
pengertian kewarganegaraan dapat di lihat dari perfektif ide kewarganegaraan dan prinsip
warga negra sebagai subjek politik

1. Kewarganegraansebagaikontruksi legal
2. Kewarganegraandiartikansebagaiposisinetralitas
3. Kewarganegraansebagaiketerliabtandalamkehidupankomunal
4. Kewarganegraandikaitkandenganupayapenjegahan
5. Kewarganegraansebagaiupayapemenuhan
6. Kewarganegraansebagai proses

I. Warga negara dan kewarganegaraan

Salah satu persyratan di terima satatus sebuah negara adalah adanya unsure warga negara
yang di atur menurut ketentuan hokum tertentu. Berdasarkan prinsip ‘iossoli’seseorang yang
dilahirkan dalam wilayah hokum suatu negara, secara hokum dianggap memiliki status
kewarganegaraan dari negara tempat kelahiran.

J. Cara memperolehkewarganegaraan Indonesia

Sebelumnya sudah di bahas tentang memperoleh status kewarganegaraan pada sebah


negara yaitu dengan cara aktif dan pasif WNA untuk memperoleh warga negara Indonesia
dengan melakukan permohonan tahun 2006 pasal 9 menjelaskan bahwa permohonan
pewarganegaraan dapat di ajukan oleh pemohon jika memenuhi persyratan sebagai berikut
1. telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin;
2. pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah
negara republic Indonesia paling singkat 5 thaun berturut-turut atau paling
singkat 10 tahun tidak berturut-turut.
3. sehat jasmani dan rohani;
4. dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
5. Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam
dengan pidana penjara 1 tahun atau lebih.
6. jika dengan memperoleh kewarganegaraan republik Indonesia, tidak menjadi
bekewarganegaraan ganda;
7. mempunyai pekerjaan dan/atau berpenghasilan tetap; dan
8. membayar uang pewarganegaraan ke Kas Negara.

Kemudian permohonan harus memahami prosedur pengjuan sebagai berikut

1. Permohonan/naturalisasi diajukan di Indonesia oleh pemohon secara tertulis


dalam bahasa Indonesia di atas kertas bermaterai cukup
2. berkas permohonankemudiandisampaikankepadapejabat yang di tunjuk
3. menteri meneruskanpermohonan
4. pemohonan akandikenakanbiayakewarganegraan
5. presiden berwenangmengabulkanataumenolakpermohonankewarganegaraan
6. pengabulan permohonanpalimglambat 3 hari
7. jika pemohantidak di labulkanmakapenolakanakandisertai alas an dan
diberitahujankepada Menteri
8. keputusan presiden mengenai pengabulan berlaku efektif terhitung sejak
tanggal permohonan
K. Kehilangankewarganegaraan Indonesia
1. Memperoleh kewarganegaraan lain ataskemauannyasendiri;
2. Tidak menolak atau melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan yang
bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu bagi dinyatakan hilang
kewarganegaraannya oleh presiden atas permohonansendri.
3. Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin Presiden;
4. Secara suka rela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam
itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya dapat
dijabat oleh Warga Negara Indonesia;
5. Secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing
atau bagian dari negara asing tersebut; Tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam
pemilihan sesuatu yang bersifat ketatanegaraan untuk suatu negara asing;
6. Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang
dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain
atas namanya, atau;
7. Bertempat tinggal di lua rwilayah negara Republik Indonesia selama 5 (lima) tahun
terus menerus bukan dalamrangka dinas negara, tanpa alasan yang sah dan dengan
sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi Warga Negara
Indonesia sebelum jangka waktu 5 (lima) tahun itu berakhir, dan setiap 5 (lima) tahun
berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan pernyataan ingin tetap menjadi
Warga Negara Indonesia kepada Perwakilan Republik Indonesia yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan padahal Perwakilan Republik
Indonesia tersebut telah memberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan,
sepanjang yang bersangkutan tidak menjadi tanpa kewarganegaraan;
8. perempuan negara indonesia yang kawaindenganlakilakiwarga negara asing
9. laki laki negara indoseia yang kawindenganperempuan negara asing
10. kehilangan kewarganegaraanbagisuamiistri yang terikatperkawinan yang sah
L. Kewarganegaraancina peranakan

Kewarganegaraan orang ‘cina’ peranakan Orang-orang ‘Cina’ peranakan yang tinggal


menetap turun temurun di Indonesia, sejak masa reformasi sekarang ini, telah berhasil
memperjuangkan agar tidak lagi disebut sebagai orang ‘Cina’, melainkan disebut sebagai
orang Tionghoa. Di samping itu, karena alasan hak asasi manusia dan sikap non-
diskriminasi, sejak masa pemerintahan B.J. Habibie melalui Instruksi Presiden No. 26 Tahun
1998 tentang Penghentian Penggunaan Istilah Pribumi dan Non-Pribumi, seluruh aparatur
pemerintahan telah pula diperintahkan untuk tidak lagi menggunakan istilah pribumi dan
non-pribumi untuk membedakan penduduk keturunan ‘Cina’ dengan warga negara Indonesia
pada umumnya. Kalaupun ada perbedaan, maka perbedaan itu hanyalah menunjuk pada
adanya keragaman etinisitas saja, seperti etnis Jawa, Sunda, Batak, Arab, Manado, Cina, dan
lain sebagainya.
Karena itu, status hukum dan status sosiologis golongan keturunan ‘Tionghoa’ di
tengah masyarakat Indonesia sudah tidak perlu lagi dipersoalkan. Akan tetapi, saya sendiri
tidak begitu ‘sreg’ dengan sebutan ‘Tionghoa’ itu untuk dinisbatkan kepada kelompok
masyarakat Indonesia keturunan ‘Cina’. Secara psikologis, bagi kebanyakan masyarakat
Indonesia, istilah ‘Tionghoa’ itu malah lebih ‘distingtif’ atau lebih memperlebar jarak antara
masyarakat keturunan ‘Cina’ dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Apalagi,
pengertian dasar istilah ‘Tionghoa’ itu sendiri terdengar lebih tinggi posisi dasarnya atau
bahkan terlalu tinggi posisinya dalam berhadapan dengan kelompok masyarakat di luar
keturunan ‘Cina’. ‘Tiongkok’ atau ‘Tionghoa’ itu sendiri mempunyai arti sebagai negara
pusat yang di dalamnya terkandung pengertian memperlakukan negara-negara di luarnya
sebagai negara pinggiran.Karena itu, penggantian istilah ‘Cina’ yang dianggap cenderung
‘merendahkan’ dengan perkataan ‘Tionghoa’ yang bernuansa kebanggaan bagi orang ‘Cina’
justru akan berdampak buruk, karena dapat menimbulkan dampak psikologi bandul jam yang
bergerak ekstrim dari satu sisi ekstrim ke sisi ekstrim yang lain. Di pihak lain, penggunaan
istilah ‘Tionghoa’ itu sendiri juga dapat direspons sebagai ‘kejumawaan’ dan mencerminkan
arogansi cultural atau ‘superiority complex’ dari kalangan masyarakat ‘Cina’ peranakan di
mata masyarakat Indonesia pada umumnya. Anggapan mengenai adanya ‘superiority
complex’ penduduk keturunan ‘Cina’ dipersubur pula oleh kenyataan masih diterapkannya
sistem penggajian yang ‘double standard’ di kalangan perusahaan-perusahaan keturunan
‘Cina’ yang mempekerjakan mereka yang bukan berasal dari etnis ‘Cina’. Karena itu,
penggunaan kata ‘Tionghoa’ dapat pula memperkuat kecenderungan ekslusivisme yang
menghambat upaya pembauran tersebut. Oleh karena itu, mestinya, reformasi perlakuan
terhadap masyarakat keturunan ‘Cina’ dan warga keturunan lainnya tidak perlu diwujudkan
dalam bentuk penggantian istilah semacam itu. Yang lebih penting untuk dikembangkan
adalah pemberlakuan sistem hukum yang bersifat nondiskriminatif berdasarkan prinsip-
prinsip hak asasi manusia, diiringi dengan upaya penegakan hukum yang tegas dan tanpa
pandang bulu, dan didukung pula oleh ketulusan semua pihak untuk secara sungguh-sungguh
memperdekat jarak atau gap social, ekonomi dan politik yang terbuka lebar selama ini.
Bahkan, jika mungkin, warga keturunanpun tidak perlu lagi menyebut dirinya dengan
etnisitas yang tersendiri. Misalnya, siapa saja warga keturunan yang lahir di Bandung, cukup
menyebut dirinya sebagai orang Bandung saja, atau lebih ideal lagi jika mereka dapat
mengidentifikasikan diri sebagai orang Sunda, yang lahir di Madura sebut saja sebagai orang
Madura. Orang-orang keturunan Arab yang lahir dan hidup di Pekalongan juga banyak yang
mengidentifikasikan diri sebagai orang Pekalongan saja, bukan Arab Pekalongan. Proses
pembauran itu secara alamiah akan terjadi dengan sendirinya apabila medan pergaulan antar
etnis makin luas dan terbuka. Wahana pergaulan itu perlu dikembangkan dengan cara
asimiliasi, misalnya, melalui medium lembaga pendidikan, medium pemukiman, medium
perkantoran, dan medium pergaulan social pada umumnya. Karena itu, di lingkungan-
lingkungan pendidikan dan perkantoran tersebut jangan sampai hanya diisi oleh kalangan
etnis yang sejenis. Lembaga lain yang juga efektif untuk menyelesaikan agenda pembauran
alamiah ini adalah keluarga. Karena itu, perlu dikembangkan anjuran-anjuran dan dorongan-
dorongan bagi berkembangnya praktek perkawinan campuran antar etnis, terutama yang
melibatkan pihak etnis keturunan ‘Cina’ dengan etnis lainnya. Jika seandainya semua orang
melakukan perkawinan bersilang etnis, maka dapat dipastikan bahwa setelah satu generasi
atau setelah setengah abad, isu etnis ini dan apalagi isu rasial, akan hilang dengan sendirinya
dari wacana kehidupan kita di persada nusantara ini.

M. Pembaruan undang-undang kewarganegaraan

UU No. 12 tahun 2006 dikeluarkan untuk menggantikan UU kewarganegaraan


sebelumnya karena dinilai dari berbagai sudut pandang sangat bertentangan dengan
persamaan kedudukan warga negara Indonesia. Didalam UU ini banyak di masukan
kebijakan baru guna menghapuskan diskriminasi dan mencegah terjadinya pelanggaran hak
warga negara Indonesia. Dalam UU No.12 tahun 2006 terdapat beberapa asas
kewarganegaraan yang diberlakukan, diantaranya sebagai berikut:

1. Asas ius sanguinis, merupakan asas yang menentukan status kewarganegaraan


seseorang dengan berdasarkan berdasarkan pertalian darah atau keturunan.
2. Asas ius soli, merupakan asas yang cara menentukan kewarganegaraan seseorang
dengan berdasarkan negara tempat kelahiran seseorang tersebut, ini diberlakukan
secara terbatas untuk anak-anak sesuai peraturan yang ada pada UU No. 12 Tahun
2006.
3. Asas kewarganegaraan tunggal, merupakan asas yang memberlakukan bahwa
setiap orang hanya memiliki satu status kewarganegaraan.
4. Asas kewarganegaraan ganda(dwi) terbatas, merupakan asas yang memberlakukan
dwi kewarganegaraan untuk anak-anak berdasarkan ketentuan yang tercantum
pada UU No. 12 Tahun 2006.berdasarkan sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam UU nomor 12 tahun 2006
BAB V
HAK DAN KEWAJIBAN
A. Pendahuluan

Persoalan yang paling mendasar hubungan antara Negara dan warga Negara adalah
masalah hak dan kewajiban.Negara dan demikian pula warga negara sama-sama memiliki
hak dan kewajiban masing-masing.Sesungguhnya dua hal ini sangat terkait, karena berbicara
hak Negara itu berarti berbicara tentang kewajiban warga Negara, demikian pula sebaliknya
berbicara kewajiban Negara adalah berbicara tentang hak warga Negara.
B. Pengertian Hak

Istilah hak memiliki banyak arti, hak dapat diartikan sesuatu yang benar,kewenangan,
kekuasaan untuk berbuat sesuatu atau kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut
sesuatu. Kebebasan, kemerdekaan dan hak sering digunakan dalam pengertian yang dapat
saling dipertukarkan.Disamping itu, banyak para pakar lebih suka membuat perbedaan secara
cermat antara ketiga istilah ini.Kebebasan adalah istilah yang paling umum. Kemerdekaan
adalah biasanya mengacu pada kebebasa sosial politik, sedangkan hak mengacu kebebasan
yang mendapat jaminan hukum alam. Hak atau wewenang diartikan sebagai izin atau
kekuasaan yang diberikan oleh hukum. Hak dan wewenang dalam bahasa latin disebut
dengan istilah ‘ius’, dan dalam bahasa belanda dipakai dengan istilah ‘reacht’ dan dalam
bahasa perancis disebut ‘droit’. Dalam bahasa inggris perkataan ‘law’ mengandung arti
‘hukum atau undang-undang’ dan perkataan ‘right’ mengandung arti ‘hak atau
wewenang’.L.J. Van Apeldoom mengemukakann bahwa hak adalah hukum yang
dihubungkan dengan seseorang manusia atau subyek hukum tertentu dan dengan demikian
menjelma menjadi suatu kekuasaan’ dan suatu hak timbul apabila hukum mulai bergerak.
Misalnya menurut hukum si A berhak atas suatu ganti rugi (dalam CST Kansil, 1980: 120-
121).
Pokok hak itu dapat dibedakan antara hak mutlak atau absolut dan hak nisbi atau relatif.
Adaun hak mutlak dan hak nisbi (CST Kansil, 1980) yakni :
1. Hak Mutlak adalah hak yang memberikan wewenang kepada seseorang untuk
melakukan suatu perbuatan, hak mana yang dapat dipertahankan terhadap siapapun
juga dan sebaliknya setiap orang juga harus menghormati hak tersebut.
2. Hak Nisbi adalah hak yang memberikan wewenang kepada seseorang atau beberapa
orang tertentu untuk menuntut agar supaya seseorang atau beberapa orang lain
memberikan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.
C. Pengertian Kewajiban

Kewajiban warga Negara menjadi suatu yang penting bagi Negara dalam
melaksanakan tujuan Negara. Dengan melaksanakan kewajiban terhadap Negara,selain hak-
hak itu dilaksanakan oleh warga Negara menurut aturan yang tidak melanggar hak asasi
orang lain juga diarahkan kepada pencapaian kehidupan yang baik dan telah disepakati dalam
kehidupan bernegara.
Secara umum, perwujudan tanggung jawab warga Negara terhadap bangsa dan negaranya
terutama dalam pelaksanaan hak dan kewajibannya dalam mewujudkan kepentingan nasiona
diatas kepentingan pribadi. Dalam usaha mewujudkan kepentingan nasional (cholisin, 2003a:
20), misalnya seseorang warga Negara berkewajiban:
1. Menjunjung tinggi hukum/peraturan baik yang tertulis mauppun tidak tertulis, baik
peraturan pemerintah pusat maupun daerah, baik hukum privat maupun hukum public.
2. Menjunjung tinggi pemerintah, baik dalam arti sempit maupun dalam arti luas,
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
3. Memberikan suara dalam pemilu, meskipun merupakan hak politik, tetapi jika dilihat
dari kepentingan kelangsungan hidup bernegara menjadi kewajiban politis
(demokrasi) bagi setiap warga Negara.
4. Menjaga dan membela kemerdekaan, nama baik dan kehormatan bangsa dan Negara
5. Menuntut pelajaran/ilmu pengetahuan, tanpa kewajiban ini mustahil warga Negara
yang baik dan bertanggung jawab dapat dikembangkan.
6. Mengembangkan iman dan taqwa (IMTAQ) bagi setiap warga Negara.

Menurut Margareth C. Branson bahwa melihat tanggung jawab warga Negara sesungguhnya
tercermin dalam karakter privat dan karakter public warga Negara dalam masyarakat
demokratis yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Menjadi anggota masyarakat yang independen
2. Memenuhi tanggung jawab personal kewarganegaraan dibidang ekonomi dan politik.
3. Menghormati harkat dan martabat kemanusiaan tiap-tiap individu.
4. Berpartisipasi dalam urusan-urusan kemanusiaan tiap individu.
5. Mengembangkan berfungsinyademokrasi konstitusi secara sehat.
D. Konsep Hak dan Kewajiban

Sebelum berbicara hak dan kewajiban alangkah baiknya kita pahami dulu konsep adil.
Kata adil bukan makhluk asing yang tidak pernah kita dengar, tetapi makhluk yang semua
orang inginkan dalam semua kehidupan,jika kita pergi kepengadilan tampak gambar
timbangan yang sejajar terlihat untuk mencoba menggambarkan bahwa adil itu seperti
timbangan yang tidak berat sebelah, atau kalau kita lihat keperguruan tinggi yang ada jurusan
ilmu hukum tamppak juga bahwa jurusan itu ikut andil menggunakan symbol timbangan
sejajar sebagai gambaran kalau hukum harus adil. Dari ilustrasi tersebut bahwa adil
digambarkan dengan timbangan yang sejajar/rata/seimbang/tidak berat antara hak dan
kewajiban.
E. Konsep Warga Negara

Sebagai anggota Negara, warga Negara mempunyai hubungan yang khusus, yatu
hubungan hak dan kewajiban yang sifatnya timbal balik satu sama lainya dimanapun ia
berada baik didalam atau diluar Negara. Konsep warga Negara berawal dari hamba atau
kawula Negara. Tetapi denga menyebut istilah warga Negara mereka menjadi orang merdeka,
ia bukan lagi hamba raja melainkan peserta dari suatu Negara. Konsep kewarganegaraan
masuk keindonesia dikarenakan :
1. Penjajahan(imperialisme)
2. Kerja sama dengan Negara lain
3. Diterima secara sukarela

Ada dua cara untuk memperoleh stsatus kewarganegaraan pada sebuah Negara, yaitu :
1. Aktif, artinya untuk mendapatkan status kewarganegaraan dengan cara penegajuan
2. Pasif, artinya untuk mendapat kewarganegaraan tidak perlu adanya usaha atau
pemohonan dari dirinya tetai Negara telah memberikanya.

Hak menentukan status sebagai warga Negara biasanya pada seseorang yang mempunyai jasa
yang berharga kepada sebuah Negara sehingga kepada seseorang tersebut diberikan hak:
1. Hak opsi adalah hak seseorang untuk memilih atau menerima tawaran
kewarganegaraan suatau Negara
2. Hak repudiasi adalah hak seseorang untuk menolak tawaran kewarganegaraan suatu
Negara.

Dalam menentukan warga Negara, sebuah Negara dalam memiliki asas dapat dijadikan
pedoman, yaitu:
a. Segi Kelahiran
a. Asas Ius Soli, artinya tempat/daerah kelahiran
b. Asas Ius Sanguinis, artinya keturunan/darah
b. Segi Perkawinan
1. Kesatuan Hukum
2. Persamaan Derajat
F. Asas Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia

Hak dan kewajiban warga Negara Indonesia diatur dalam UUD 1945 yang tetuang dalam
pasal 27,28,29,30,31 dan 34
BAB VI
HAKIKAT KONSTITUSI
A. KONSTITUSI
1. Arti Konstitusi
Konstitusi berasal dari kata constituer (Perancis), yang artinya membentuk. Dalam
bahasa latin, merupakan gabungan dari kata, yaitu cume artinya “bersama-sama” dengan …”
dan stature yang berarti berdiri, membuat sesuatu berdiri atau menetapkan. Jadi konstitusi
menetapkan sesuatu bersama-sama.
2. Definisi Konstitusi Menurut Para Ahli
Berdasarkan pendapat Herman Heller, K.C. Wheare, C.F. Strong, dan Prof. Prayudi
dapat disimpulkan bahwa konstitusi merupakan suatu kumpulan kaidah yang memberikan
pembatasan-pembatasan kekuasaan kepada penguasa, suatu dokumen tentang pembagian
tugas dan sekaligus petugasnya dari suatu sistem politik, suatu gambaran tentang dai
lembaga-lembaga negara beserta tugas dan kewenangannya, suatu gemabaran yang
menyangkut hak-hak asasi manusia, suatu gambaran tentang hak dan kewajiban warga
negara, sistem sosial, ekonomi, dan lagu kebangsaan, lambang negara dan bahasa nasional.
3. Kedudukan Konstitusi
Pada umumnya, konstitusi dalam setiap negara di dunia memiliki kedudukan formal yang
sama, yaitu:
a. Konsitusi sebagai hukum dasar, karena berisi aturan dan ketetntuan tentang
hal-hal yang mendasar dalam kehidupan suatu negara.
b. Konstitusi sebagai hukum tertinggi, aturan-aturan yang terdapat dalam
konstitusi, secara hirarkis mempunyai kedudukan lebih tinggi terhadap aturan-
aturan lainnya.
4. Sifat Konstitusi
Konstitusi yang ada pada suatu negara memiliki sifat membatasi kekuasaan
pemerintah dan menjamin hak-hak dasar warga negara. Sifat konstitusi biasanya dikaitkan
dengan pembahasan sifat-sifatnya yang lentur (fleksibel), atau kaku (rigid), tertulis atau tidak
tertulis, dan sifatnya yang formal atau materil.
5. Tujuan Konstitusi
a. Memberi pembatas sekaligus pengawasan terhadap kekuasaan politik
b. Melepaskan kontrol kekuasaan dari penguasa sendiri
c. Memberi batasan-batasan ketetapan bagi para penguasa negara dalam menjalankan
kekuasaannya.
6. Fungsi Konstitusi
a. Sebagai penentu atau pembatas kekuasaan negara
b. Sebagai pengatur hubungan kekuasaan antarorgan negara
c. Sebagai pengatur hubungan kekuasaan antara organ negara dengan warga
negara
d. Sebagai pemberi atau sumber legitimasi terhadap kekuasaan negara ataupun
kegiatan penyelenggaraan kekuasaan negara
e. Sebagai penyalur atau pengalih kewenangan dari sumber kekuasaan yang asli
kepada organ negara
f. Sebagai sarana pemersatu, sebagai rujukan identitas dan keagungan
kebangsaaan serta sebagai centerofceremony
g. Sebagai sarana pengendalian masyarakat, baik di bidang politik maupun
bidang sosial-ekonomi
h. Sebagai sarana perekayasaan dan pembaruan masyarakat
7. Nilai Konstitusi
Terdapat tiga nilai konstitusi yaitu: nilai normatif, nilai nominal, dan nilai semantik.

B. Konstitusi Indonesia
1. Undang-Undang Dasar
UUD atau konstitusi adalah sejumlah aturan-aturan dasar dan ketentuan-ketentuan
hukum yang dibentuk untuk mengatur fungsi dan struktur lembaga pemerintah termasuk
dasar hubungan kerjasama antar negara dan masyakarakat dalam konteks kehidupan
berbangsa dan bernegara.
2.UUD 1945 Sebagai Konstitusi Negara Republik Indonesia
Konstitusi adalah dasar hukum dasar tertulis, yaitu UUD 1945 yang disahkan oleh
PPKI pada 18 agustus 1945, dengan beberapa kali perubahan yang disesuaikan dengan
kondisi perubahan dan perkembangan sejarah ketatanegaraan yang terus mengalami
dinamika.
3. Konstitusi yang Pernah Berlaku di Indonesia
a. UUD 1945: Periode 18 Agustus 1945 sampai dengan 27 Desember 1945
b. UUD RIS : Priode 27 Desember 1949 sampai dengan 17 Agustus 1950
c. UUDS 1950: Periode 17 Agustus 1950 sampai 5 Juli 1959
d. UUD 1945 tahun 1966 sampai dengan 21 Mei 1998
e. Periode 21 Mei 1998 sampai dengan 19 Oktober 1999
f. Periode UUD 1945 Amandemen sampai sekarang
4. Perubahan UUD 1945
Dalam UUD 1945, pasal yang berkenaan dengan cara perubahan adalah pasal 37, yang
mengandung tiga norma, yaitu:
a. Wewenang untuk mengubah UUD ada pada MPR
b. Mengubah UUD, kuorum yang harus dipenuhi sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah
anggota MPR hadir
c. Putusan perubahan disetujui 2/3 daru jumlah yang hadir.
5. Kelembagaan Negara
Berdasarkan perubahan UUD 1945 tidak mengenal lembaga tertinggi dan tinggi
negara, melainkan lembaga kekuasaan negara yang terdiri atas:
a. Lembaga legislatif, yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang terdiri atas Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPR)
b. Lembaga eksekutif, yaitu Presiden dan Wakil Presiden
c. Lembaga yudikatif yang memegang kekuasaan hukum, terdiri atas Mahkamah Agung
(MA), Mahkamah Konstitusi (MK), dan Komisi Yudisial (KY)
d. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
C. Sifat, Tujuan dan Fungsi Konstitusi
1. Sifat Konstitusi
a. Fleksibel, artinya UUD/ konstitusi tersebut dapat mengikuti perkembangan
zaman.
b. Riqid atau kaku, artinya UUD/ konstitusi tersebut sukar mengikuti
perkembangan zaman.
2. Tujuan Undang-Undang Dasar/ Konstitusi
a. Konstitusi bertujuan untuk memberikan pembatasan sekaligus pengawasan
terhadap kekuasaan politik
b. Konstitusi bertujuan untuk melepaskan kontrol kekuasaan dari penguasa
sendiri
c. Konstitusi bertujuan untuk memberikan batasan-batasan ketetapan bagi para
penguasa dalam menjalankan kekuasaannya
3. Fungsi Undang-Undang Dasar Konstutusi
a. Membagi kekuasaan dalam negara
b. Membatasi kekuasaan pemerintah atau penguasa dalam negara
D. Kedudukan Undang-Undang Dasar
Undang-Undang Dasar dianggap sebagai hukum tertinggi dibandingkan dengan
aturan lainnya. Karena kedudukannya sebagai hukum yang tertinggi itulah, Undang-Undang
Dasar dapat dibedakan dengan aturan-aturan lain yang sering disebut dengan istilah Undang-
Undang (UU).
E. Ciri Utama dan Perbedaan dengan Konstitusi
1. Pernyataan mengenai cita-cita dan Asas Ideologi Negara, Cita-cita dan asas
idiologi pada umumnya dituangkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar
yang sangat menjiwai batang tubuh Undang-Undang Dasar tersebut.
2. Organisasi Negara, Undang-Undang Dasar selalu menjelaskan kekuasaan-
kekuasaan apa saja yang dimiliki oleh lembaga-lembaga pemerintah.
3. Hak Asasi Manusia (Jika berbentuk naskah tersendiri, disebut Bill ofRights),
Terdapat dua cara yang biasanya digunakan untuk memberikan jaminan atas
hak-hak asasi yakni melimpahkan kewajiban-kewajiban kepada pemerintah
tetapi dengan memberikan pembatasan-pembatasan atas kekuasaan yang
diberikan kepada pemerintah.
F. Undang-Undang Dasar di Indonesia
1. Sejarah Lahirnya UUD 1945 di Indonesia
a. Periode 1945-1949. Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada tanggal 16
Oktober 1945 memutuskan bahwa KNIP diserahi kekuasaan legislatif, karena
MPR dan DPR belum terbentuk. Tanggal 14 Nopember 1945 dibentuk
Kabinet Parlementer yang pertama, sehingga peristiwa ini merupakan
penyimpangan UUD 1945.
b. Periode 1959-1966. Tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan
Dekrit Presiden yang salah satu isinya memberlakukan kembali UUD 1945
sebagai UUD, menggantikan UUDS 1950.
c. Peiode 1966-1998. Pada masa Orde Baru, Pemerintah menyatakan kembali
menjalankan UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen. Namun
dalam pelaksanaannya terjadi juga penyelewengan UUD 1945 yang
mengakibatkan terlalu besarnya kekuasaan pada Presiden.
2. Kedudukan Pembukaan UUD 1945
Pembukaan UUD 1945 merupakan pokok atau kaidah negara yang bersifat
fundamental, mempunyai kedudukan yang tetap, dan melakat bagi negara RI, maka
pembukaan UUD 1945 tidak dapat diubah oleh siapapun, termasuk DPR dan MPR sesuai
dengan sifat konstitusinya pasal 3 dan pasal 37 UUD 1945.
3. Perubahan (Amandemen) Konstitusi di Indonesia
Latar belakang tuntutan perubahan UUD 1945 antara lain karena pada masa Orde
Baru, kekuasaan tertinggi di tangan MPR (dan kenyataannya buka pada tangan rakyat),
kekuasan yang terbesar pada Presiden, adanya pasal yang terlalu luwes sehingga dapat
menimbulkan multitafsir, serta kenyataan rumusan UUD 1945 tentang semangat
penyelenggaraan negara yang belum cukup didukung ketentuan konstitusi.
4. Tujuan Amandemen UUD 1945
a. Untuk mengembalikan UUD 1945 berderajat tinggi dan menjiwai
konstitusional serta negara berdasarkan atas hukum dan keadilan seosial bagi
seluruh rakyat Indonesia
b. Menyempurnakan UUD 1945
c. Menciptakan era baru dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsam dan
bernegara yang lebih baik dalam arti dekomratis, lebih berkedilan sosial dan
lebih berkemanusiaan sesuai dengan komitmen pendiri negara ini.
5. Alasan Perlunya Amandemen UUD 1945
BAB VII
DEMOKRASI DAN PENDIDIKAN DEMOKRASI
A. Pengertian Demokrasi
Kata “demokrasi” yang berasal dari bahasa latin “demos” dan “cratein” atau “cratos” dan
dalam bahasa inggris menjadi “democracy”. Menurut Abraham Lincon, demokrasi adalah
suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat. Menurut konsep demokrasi,
kekuasaan menyiratkan arti politik dan pemerintahaan, sedangkan rakyat beserta warga
masyarakat didefenisikan sebagai warga negara. Kenyataannya, baik dari segi konsep
mauoun praktek, demos menyiratkan diskriminatif dan ambigu.
Dalam wikipedia orang dijabarkan tentang ciri-ciri suatu pemerintahan deokrasi
adalah sebagai berikut :
1. Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan politik,
baik langsung mupun tidak langsung.
2. Adanya pengakuan, penghargaan, dan perlindugan terhadap hak-hak asasi rakyat.
3. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang.
4. Adanya lembaga peradilan dan kekuasaan kehkiman yang idenpenden sebagai alat
penegakan hukum
5. Adanya kebebasan dan kemerdekan bagi seluruh rakyat warga negara.
6. Adanya pers yang bebas untuk menyampaikan informasi dan mengontrol perilaku
dan kebijakan pemerintah.
7. Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga
perwakilan rakyat.
8. Adanya pemilihan umum yang bebas, jujur, adil, untuk menentukan pemimpin
negara dan pemerintah serta anggota lembaga perwakilan rakyat.
9. Adanya pengakuan terhadap perbedaan keragaman (suku, agama, golongan, dan
sebagainya).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas tentang ciri-ciri demokrasi kiranya jelas bahwa
secara konseptual, demokrasi menempatkan rakyat sebagai pemegang keadaulatan tertinggi
dalam negara. Namun demikian dalam praktiknya tergantung pada banyak hal seperti
kemauan dan kemampuan wakil rakyat atau penyelenggara negara untuk menjalankan amanat
rakyat dengan sebaik-baiknya atau hanya menjadikan rakyat sebagai “topeng” kekuasaan.
Pilar demokrasi berdasarkan konsep role of law menurut A.V. Dicey sebebagai
berikut :
1. Tidak adanya kekuasaan yang sewenang-wenang
2. Kedudukan yang sama dalam hukum
3. Terjaminnya hak-hak manusia dan undang-undang
Kekuasaan menurut Budiarjo (2005) merupakan kemampuan seseorang atau
kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai keinginan dari
pelaku. Kebebasan pribadi merupakan hal yang harus dijamin oleh konstitusi dan pemerintah.
Meskipun demikian, kebebasan pribadi tidak boleh bertentangan dengan kepentingan yang
lebih besar yaitu kepentingan bangsa dan negara. Kebebasan pribadi dalam demokrasi
pancasila pada hakikatnya adalah disertai tanggungjawab yang besar. Keadilan adalah
perbuatan atau perlakuan yang adil. Keadilan harus dirasakan oleh setiap warga negara. Baik
keadilan pada bidang politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, agama dan bahkan dalam
berbagai aspek kehidupan.
B. Bentuk-Bentuk Demokrasi
Dilihat dari sistem pemerinntahannya, demokrasi ada dua macam yakni sistem
presidensil dan sistem parlementer. Sistem presidensil menekankan pentingnya pemilihan
presiden secara langsung sehingga presiden terpilih mendapatkan mandat secara langsung
dari rakyat. Presiden merupakan kepala negara sekaligus kepala kepemerintahaan. Kekuasaan
presiden dibatasi oleh hukum atau konstitusi.
Menurut Hague sistem presidensil memiliki tiga unsur pokok, yaitu :
1. Presiden yang dipilih rakyat memimpin pemerintahanan dan mengangkat pejabat-
pejabat pemerintahan yang terkait.
2. Presiden dan dewan perwakilan rakyat memiliki masa jabatan tetap dan tidak bisa
saling menjatuhkan
3. Tidak ada ststus tumpang tindih antara badan eksekutif dan badan legislatif
Selain sistem presidensil, ada juga yang disebut sebagai sistem parlementer sistem ini
menerapkan model hubungan yang menyatu antara kekuasaan eksekutif dan legislatif.
Parlemen adalah pemegang peran utama dalam sistem pemerintahan di negara-negara yang
menerapkannya. Dilihat dari cara menyampaikan pendapatnya menurut Chamin,dkk (2003)
demokrasi dibagi dua yaitu demokrasi langsung dan demokrasi tidak langsung.
Dilihat dari prinsip ideologinya, indonesia terbagi dua yaitu demokrasi rakyat dan
demokrasi konstitusional menekankan bahwa demokrasi harus berdasar kepada konstitusi.
Demokrasi rakyat menghendaki tidak adanya perbedaan berdasr kepada kelas sosial
sedangkan demokrasi konstitusional menekankan bahwa demokrasi harus berdasrkan kepada
konstitusi. Ciri-ciri pemerintahan parlementer dikemukakan oleh jafar bahwa pemerintahan
parlementer memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. DPR lebih kuat dari pemerintah.
2. Menteri bertanggungjawab kepada DPR
3. Program kebijaksanaan kabinet disesuaikan dengan tujuan politik anggota parlemen
4. Kedudukan kepala negara sebagai simbol tidak dapat diganggu gugat.
Menurut Asshidiqie dalam Damanhuri (2014 : 56), secara umum parlemen sebagai
lembaga atau lembaga perwakilan memiliki fungsi yang menyangkut empat bentuk kegiatan,
yaitu:
1. Prakarsa pembuatan undang-undang
2. Pembahasan rancangan undang-undang
3. Persetujuan atas pengesahaan rancangan undang-undang
4. Pemberian persetujuan pengikatan atau ratifikasi atas persetujuan internasional dan
dokumen-dokumen hukum yang mengikat lainnya.
Dalam berbagai perundang-undangan di Indonesia fungsi legislasi ini biasanya memang
dianggap paling penting. Lembaga parlemen biasa dibedakan kedalam tiga fungsi yaitu a)
legislasi, b) fungsi pengawasan, c) fungsi anggaran. Berdasarkan pendapat tersebut, fungsi
kontrol parlemen terhadap eksekutif jika berjalan dengan baik maka akan terhindar dari
penyalahgunaan kekuasaan oleh eksekutif.
Jika dilihat dari bentuk pemerintahannya demokrasi terbagi dua yaitu monarki dan
republik yang dapat diartikan sebagai pemerintahan yang dijalankan oleh dan untuk
kepentingan rakyat. Menurut sumarsono dkk bentuk demokrasi dalam sistem pemerintahan
negara anatara lain :
1. Pemerintahan monarki, mutlak (absolut).
2. Pemerintahan republik berasal dari bahasa latin yang berarti pemerintahan yang
dijalankan oleh dan untuk kepentingan orang banyak (rakyat).
Pada pemerintah republik, penyelenggaraan negara hanya ditunjukkan untuk kepentingan
rakyat. Namun demikian, dalam praktiknya kedaulatan rakyat di negara republik
disalahguanakan oleh oknum penyelenggara negara. Padahal menurut demokrasi
konstitusional yang dianut oleh Indonesia bahwa pemerintahan dan kekuasaan itu terbatas
dan tidak diperkenankan bertindak seweang-wenang terhadap rakyat. Sebagai bentuk
pemerintahan, demokrasi meliputi unsur-unsur sebagai berikut ;
1. Adanya partisipasi masyarakat secra aktif dalam kehidupan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
2. Adanya pengakuan akan supermasi hukum
3. Adanya kebebasan diantaranya : kebebasan berekspresi, dan berbicara atau
berpendapat kebebasan untuk berkumpul dan berorganisasi, kebebasan beragama dan
berkeyakinan, kebebasan untuk menggugat pemerintah, kebebasan untuk mengurus
nasib sendiri.
4. Adanya pengakuan supermasi sipil atas militer.
Berdasarkan kutipan diatas jelas kiranya bahwa sebagai bentuk pemerintahaan,
demokrasi memerlukan partisipasi aktif warga negara dalam pelaksanaannya. Tidak ada
satupun negara di dunia yang mencapai puncak kejayaannya jika tidak ada partisipasinya.
Partisipasi warga negara dalam negara bisa berupa menaati peraturan negara, membayar
pajak, ikut serta memberikan suara dalam pemilihan umum, mencalonkan diri dalam
pemilihan pejabat publik di tingkat lokal maupun nasional, serta menyampaiakan aspirasi
melalui penyampaian pendapat bisa dilakukan dengan protes yang tertib dan cerdas.
Pada aspek supermasi hukum, pemerintah harus mampu menjalankan hukum dan
menegakkkan setegak-tegaknya, hukum harus diteggakkan tanpa pandang bulu, tegak bagi
rakyat miskin san tumpul ketika berhadapan dengan elit. Hal ini penting mengingan
Indonesia merupakan negara hukum sebagaimana dijelaskan dalam batang tubuh UUD 1945.
C. Prinsip – Prinsip Demokrasi
Menurut Winarmo (2009 : 25) adapun prinsip-prinsip dari sistem politik demokrasi
sebagai berikut :
1. Pembagian kekuasaan
2. Pemerintahan konstitusional
3. Pemerintahan yang berdasarkan hukum
4. Pemerintahan mayoritas
5. Pemerintahan dengan diskusi
6. Pemilihan umum yang bebas
7. Partai politik lebih dari satu dan mampu melkasanakan fungsinya
8. Manajemen yang terbuka
9. Pers yang bebas
10. Pengakuan terhadap hak-hak minoritas
11. Perlindungan terhadap hak asasi manusia
12. Peradilan yang bebas dan tidak memihak
13. Pengawasan terhadap administrasi negara
14. Mekanisme politik yang berubah antara kehidupan politk masyarakat dengan
kehidupan polotik pemerintah
15. Kebijakan pemerintah dibuat oleh badan perwakilan tanpa paksaan dari lembaga
manapun
16. Penempatan pejabat pemerintah dengan menrit system
17. Penyesuaiaan secara damai bukan kompromi
18. Jaminan terhadap kebebasan individu
19. Konstitusi
20. Prinsip persetujuan
Dalam negara demokratis diperlukan kebebasan pers sebagai media kontrol atas jalannya
pemerintah dan akses publik untuk mendapatkan informasi tentang penyelenggaraan negara
secara terbuka. Pengakuan terhadap hak-hak minoritas seperti diskriminasi rasial pada etnis
tertentu dan sebagainya.
Sebagai prinsip demokrasi diatas, kiranya perlu dijabarkan mengenai prasyarat kondidi
pemerintahaan yang demokratis, prasyarat itu adalah sebagai berikut
1. Pertumbuhan ekonomi
2. Pluralisme
3. Hubungan yang seimmbang antara negara dan rakyat
4. Tingkat pendidikan.
Selain prasyarat kondisi demokrasi, perlu tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai
demokrasi guna mewujudkan pemerintahaan yang demokratis dan bersih. Menurut cipto
dalam Tanireja nilai-nilai demokrasi meliputi
1. Kebebasan menyatakan pendapat
2. Kebebasan berkelompok
3. Kebebasan berpartisipasi
4. Kebebasan antar warga
5. Kebebasan rasa percaya
6. Kerjasama
Nilai-nilai demokrasi perlu didukung oleh pemerintahan yang demokratis. Adapun yang
menjadi ciri-ciri pemerintahan yang demikratis adalah sebagai berikut ;
1. Adanya pemilihan umum secara langsung
2. Adanya keterlibatan warga negara dalam pengambilan keputusan politik
3. Pemerintahan berdasarkan kehendak dan kepentingan rakyat banyak
4. Adanya pemisah atau pembagian kekuasaan
5. Adanya tanggungjawab dari pelaksanaan kegitan pemerintah.
Tanpa nilai-nilai demokratis diatas, suatu negara yang menganut sistem demokrasi tidak
dapat dikatakan pemerintahan yang demokratis.banyak alasan yang dikemukakan para ahli
tentang kelebihan demokrasi namun demikian alasan mengapa demokrasi harus dijunjung
tinggi, perlu kiranya dilakukan telaah kritis, terlebih dalam konteks praktik ketatanegaraan
kekinian. Dengan demikian demokrasi memerlukan adanya partispasi aktif dari rakyat dalam
proses pengambilan kebijkan politik.
Agar kehendak umum dapat dilaksanakan oleh pemerintah, maka dalam suatu negara
demokrasi yaitu warga negara yang mampu menerapkan nolai-nilai demokrasi dalam
kehidupan sehari-hari seperti toleransi, kesetaraan gender, bertanggungjawab, berpatisispasi
aktif dalam kegiatan, bekerjasama, bermusyawarah dalam memecahkan persoalan,
menghormati kebebasan berpendapat. Berkelompok dan sebagainya.
D. Demokrasi di Indonesia
Dinamika pemahaman demokrasi di Indonesia sangatlah dinamis. Rakyat dan
penyelenggara negara dimasanya sering menafsirkan dan melaksanakaan nilai-nilai
demokrasi yang beragam. Keberagaman ini dapat dipahami sesuai dengan kondisi dan
konteks yang terjadi pada masanya. Demokrasi Indonesia sebgaimana termuat dalam UUD
1945 beserta penjelasannya mengandung suatu pengertian bahwa rakyat adalah sebagai
unsur sentral, oleh karena itu pembinaan dan pengembangan harus ditunjang oleh adanya
orientasi baik pada nilai-nilai universal yakni rasionalisasi hukum yaitu tuntutan dan
kehendak yang berkembang dalam masyarakat.
Mekanisme demikrasi di Indonesia pada dasarnya adalah keseluruhan langkah
pelakasanaan kekuasaan pemerintah rakyat yang dijiwai oelh nilai-nilai falsafah pancasila
dan yang berlangsung menurut hukum yang berkiblat pada aspirasi dan kesejateraan rakyat
banyak.
1. Demokrasi Terpimpin
Demokrasi terpimpin lahir sebgai reaksi terhadap demokrasi parlemen yang
dianggap tiak menjaminya tercapaian tujuan nasional Indonsia. Demokrasi terpimpin
yang dimaksud sebgai demokrasi yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusayawaratan dan perwakulan. Ciri dari demokrasi terpimpin adalah dominasi
politik presiden dan berkembangnya pengaruh komunis dari peranan tentara dalam
panggung politik nasional.
Akhir dari demokrasi terpimpin adalah terjadinya perseteruan politik ideologis
antara PKI dengan Tentara yang lebih dikenal dengan peristiwa G30-S/PKI
2. Demokrasi Pancasila
Demokrasi pancasila yang dianut oleh bangsa Indonesia tidak terlepas dari Ideologi
dan dasar negaranya yaitu pancasila., dengan demikian demokrasi yang ada harus
berdasarkan pada pancasila. Demokrasi pancasila bersumber kepada kepribadian dan
falsafah hidup bangsa Indonesia, dalam pemerintahaan rakyat ikut serta menentukan
keinginan dan pelaksanaannya serta menganut kebebasan yang bertanggungjawab.
Demokrasi pancasila memiliki ciri-ciri seperti : bersifat kekeluargaan dan
kegotongroyongan, bersandar pada nilai-nilai KeTuhanan, menghargai HAM,
mengambil keputusan sebisa mungkin melalui jalur musyawarah mufakat. Demokrasi
pancasila diterapkan Indonesia sejak 11 maret 1966 yaitu pada awal pemerintahan
soeharto yang dikenal dengan istilah orde baru.
3. Demokrasi Era Reformasi
Demokrasi pancasila masa orde baru yang semula berjalan normal pasca pelaksanaan
demokrasi terpimpin era soekarno berakhir dengan tindakan otoriter dari soeharto.
Reformasi di Indonesia menuntut adanya pembenahaan kehidupan berbegara dan
tercapainya tujuan negara sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945.
E. Sistem pemerintahan di Indonesia
Dalam UUD 1945 menegaskan perlunya pemisah kekuasaan secra horizontal. Masing-
masing kekuasaan dan fungsi lembaga negara berkedudukan sederajat, sehingga dapat saling
mengawasi dan mengimbangi. Presiden meupakan pemegang kekuasaan eksekutif, DPR
yang para anggotanya juga merupakan anggota MPR adalah pemegang kekuasaan legislatif
sedangkan kekuasaan yudikatif dipegang oleh tiga lembaga tinggi negara yaitu MK, KY, dan
MA serta lembaga pemeriksa keungan yaitu BPK.
F. Pendidikan Demokrasi
Pemahaman tentang demokrasi dan nilai-nilai demokrasi yang keliru menyebabkan
bterjadinya kekeliruan cara berfikir, cara bersikap dan bertinak dari warga negara. Menurut
sebagian para ahli pendidikan kewarganegaraan memberikan penekanana pada proses-proses
demokrasi, partispatif aktif, dan keterlibatan warga negara pada masyarakat madani. Azra
berpendapat bahwa pendidikan kewarganegaraan merupakan kebutuhan yang mendesak
karena beberapa alasan yaitu :
1. Meningkatnya gejala kecendrungan politikcal illeteracy
2. Meningkatnya apatisme politik
Dengan demikian pendidikan kewarganegraan harus menjalankan perannya dengan baik
sesuai dengan visi dan misinya penidikan kewarganegaraan.
BAB VIII
RULE OF LAW DAN HAK ASASI MANUSIA
A.Pengertian Rule of Law
Munculnya rule of law pada abad ke-19 di Eropa bersamaan dengan munculnya ide
tentang demokrasi dan negara konstitusi. Ini adalah reaksi terhadap kekuasaan absolut dari
para raja dan bangsawan juga pihak gereja,yang dikenal sebagai ancient regime. Menurut
Martini,dkk (2013:137) secara formil, Rule of low diartikan sebagai kekuasaan umum yang
terorganisir (organized public power). Hal ini dapat diartikan bahwa setiap negara
mempunyai aparat penegak hukum. Sedangkan secara hakiki,rule of law terkait dengan
penegakkan hukum yang menyangkut ukuran hukum yang baik dan buruk (just and unjust
law). Berdasarkan pengertian ini maka setiap negara hukum harus memberikan
keadilan,kemanfaatan dan kepastian bagi masyarakat warga negaranya.
B. Prinsip Material dan Formal Rule of Law
Berdasarkan pengertiannya,Friedman (1959) membedakan Rule of Law menjadi dua.
Secara formal,rule of law diartikan sebagai kekuasaan umum yang terorganisasi (organized
public power),misalnya negara. Sedangkan secara hakiki, rule of law terkait dengan
penegakkan rule of law, karena menyangkut ukuran hukum yang baik dan buruk (just and
unjust law). Ini sangat tergantung dengan masyarakat yang beraneka ragam. Sehingga
keberadaan rule of law tidak hanya di tentukan oleh hukum tapi juga oleh ada tidaknya
keadilan dalam masyarakat (Sugito,2007:219).
Menurut A.V Dicey dalam Kaelan (2007:97) terdapat 3 unsur yang fundamental
dalam rule of law yakni: 1.supremasi aturan-aturan hukum 2. Equality before of the law 3.
Terjaminya hak-hak asasi manusia oleh undang-undang serta keputusan-keputusan
pengadilan. RULE OF LAW memberikan perlindungan hukum bagi warga negara oleh
Negara melalui pelembagaan peradilan yang bebas dan tidak memihak dan adanya penjamin
hak asasi manusia. Komisi Internasional Ahli Hukum dalam konferensinya di Bangkok tahun
1965 merumuskan syarat-syarat dasar penyelenggarakan pemerintah yang demokratis di
bawah Rule of law sbb:
1.Perlindungan konstitusional yang menjamin hak-hak individu dan menentukan prosedur
untuk memperoleh perlindungan hak-hak yang dijamin.
2.Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak.
3.pemilihan umum yang bebas.
4.kebebasan untuk menyatakan pendapat.
5.kebebasan berserikat dan beroposisi.
6.pendidikan kewarganegaraan (civic education).(chamim,dkk,2003)
1.prinsip secara formal
2.prinsip secara hakiki (materil)
C.Pelaksanaan Rule of Law di Indonesia
Masyarakat sebagai pendukung UUD 1945. Kesadaran dan kepatuhan masyarakat
termasuk para penegak hukum (polisi,hakim,jaksa,pengacara)pada hukum yang berlaku maka
akan terlihat suksesnya penegakkan hukum. Yang terkait dengan etika,moral,mental,akhlak
manusia Indonesia. Satjipto Raharjo menawarkan ide penegakkan hukum progresife yang
sesuai konteks indonesia yaitu dengan mengangkat pancasila sebagai prinsip rule of
law.(Sugito,2007:225).
D.Pengertian Hak Asasi Manusia
Hak asasi adalah hak yang dimiliki manusia sejak lahir sebagai manusia yang
merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hak asasi adalah hak yang melekat pada diri
manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai anugerah Tuhan yang harus
dihormati,dijaga dan dilindungi oleh setiap individu,masyarakat atau bangsa. Penjelasan UU
Nomor 39/1999 Tentang HAM yang menyatakan bahwa hak asasi manusia harus benar-benar
dihormati,dilindungi,dan ditegakkan dan untuk itu pemerintah,aparatur negara dan pejabat
publik lainnya mempunyai kewajiban dan tanggungjawab menjamin terselenggaranya
penghormatan,perlindungan,dan penegakan hak asasi manusia.
Menurut Miriam Budiarjo (2005:120),hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki
manusia yang telah diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kelahiran atau kehadirannya
di dalam kehidupan masyarakat. Menurut Soemantri (Depdiknas,2002:304) Hak asasi
manusia menyangkut kehidupan manusia,yang dimulai dengan kelahirannya sampai dengan
meninggalnya. Bahkan orang yang sudah meninggal dimakamkan dalam liang lahat
mempunyai hak. Upaya menghormati,melindungi dan menjunjung tinggi HAM menjadi
kewajiban dan tanggungjawab bersama antara individu,masyarakat,pemerintah dan negara.
E.Sejarah Perkembangan Hak Asasi Manusia
Munculnya perjuangan hak Asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
merupakan reaksi terhadap kesewenangan-wenangan penguasa yang menginjak-injak harkat
dan martabat manusia. Kekuasaan absolut (mutlak) para raja dan kaisar yang menindas hak
rakyat atau daerah, pola kekuasaan imperalisme dan kolonialisme, aneka diskriminasi.
Adanya negara kuat dan lemah menuntut jaminan hak asasi manusia dalam negara maupun
secara internasional. Perjuangan untuk membela hak asasi manusia sebelum abad Masehi
antara lain:
a. Hukum Mammurabi di Babylonia (2000 tahun SM) yang menetapkan adanya aturan
yang menjamin keadilan bagi semua warga negara. Hukum tersebut terkenal sebagai
jaminan hak-hak asasi manusia.
b. Solon (600 tahun SM) di Athena, yang mengajarkan bahwa orang-orang yang
diperbudak karena tidak mampu melunasi utangnya harus dibebaskan.
c. Flavius Anicius Justinian (Kaisar Romawi,tahun 527 SM), merumuskan peraturan
yang memuat jaminan atas keadilan dan hak asasi manusia. Peraturan ini menjadi
dasar dan pola sistem hukum modern di negara Barat.
d. Aristoteles (428-348) yang mengajarkan bahwa pemerintahan harus berdasarkan atas
kemauan dan cita-cita mayoritas warga negaranya. Perkembangan dan perjuangan
tentang hak-hak asasi manusia pada masa sesudah Masehi ternyata lebih tegas dan
berpengaruh terhadap praktik kehidupan bernegara. Peristiwa atau dokumen yang
sesudah abad Masehi yang menunjukkan adanya jaminan hak asasi manusia,antara
lain:
1. Magna Charta
2. Declarations des Droits de L’ homme et du Citoyen
3. Abraham Lincoln
4. F.D. Roosevelt (1941)
5. Universal Declaration of Human Rights (10 Desember 1948)
6. Tahun 1966 PBB secara aklamasi menyetujui dua perjanjian:
1.perjanjian tentang hak-hak ekonomi,sosial,dan budaya (convenant on
economic,social and culture rights).
2. Perjanjian tentang hak-hak sipil dan publik (convenant on civil and political
rights).

Memasuki abad ke 21 kesadaran warga negara dan negara-negara di dunia akan hak
asasi manusia dan pengakuannya serta perlindungannya mengalami peningkatan. Hak-hak
asasi manusia melekat pada diri setiap individu sehingga tidak dapat dirampas dan
dihilangkan daripadanya tanpa merendahkan kedudukan dan martabatnya sebagai manusia.
Sejak abad ke 13,perjuangan mengkukuhkan ide HAM sudah dimulai yaitu pada tahun 1215
ditandatanganinya Magna Charta oleh Raja Jhon Lackland. Meskipun piagam ini sebenarnya
hanya melindungi kaum tertentu, dan tidak termasuk perlindungan pada kaum budak. Namun
hal ini dianggap merupakan tonggak perjuangan hak asasi manusia, bahkan dalam faham
negara hukum,pengakuan dan perlindungan HAM merupakan keniscayaan dan dianggap
sebagai ciri mutlak dari negara hukum.

F. Perkembangan Pemikiran HAM di Dunia


Perkembangan pemikiran HAM di dunia bermula dari beberapa pandangan,meliputi
Magna Charta,The American Declaration, The French Declaration dan The Four Freedom.
Magna Charta adalah suatu dokumen yang ditandatangani antara Raja John dengan kaum
aristokrat di Inggris tahun 1215. Magna Charta berisi pembatasan kekuasaan raja dan dapat
dimintai pertanggungjawabannya di depan hukum. Ini berarti Magna Charta telah
menghilangkan hak absolutisme raja (Raja menciptakan hukum tetapi tidak terikat pada
hukum yang dibuatnya). Perkembangan selanjutnya ditandai dengan naskah The American
Declaration OF independence tahun 1776 di America Serikat. Seusai PD II timbul keinginan
untuk merumuskan hak asasi yang diakui di seluruh dunia sebagai standar bagi perilaku
manusia secara universal. Tahun 1948 lahirlah Universal Declaration of Human Right
(Pernyataan Deklarasi hak Asasi Sedunia) oleh PBB secara yuridis tetapi ini adalah pedoman
sekaligus komitmen moral dari dunia internasional dan juga acuan tentang hak asasi oleh
negara-negara PBB (Budiardjo,1981 : 148).
Pemikiran selanjutnya generasi ketiga yang menjanjikan adanya kesatuan hak
ekonomi,sosial budaya,politik dan hukum yaitu berupa hak-hak melaksanakan pembangunan
(The right of development). Keadilan dan pemenuhan HAM harus dimulai sejak dimulainya
pembangunan itu sendiri.
Pemikiran generasi keempat lahir sebagai reaksi dari the right of development karena
peranan negara yang lebih dominan dan pembangunan yang terfokus pada pembangunan
ekonomi sehingga mengabaikan aspek kesejahteraan rakyat. Pemikiran generasi keempat
dipelopori oleh negara-negara di Asia yang pada tahun 1983 melahirkan Declaration of The
Basic Duties of Asia People and Goverment. Deklarasi ini juga berbicara mengenai
kewajiban asasi dan mengukuhkan keharusan imperatif dari negara untuk patuh pada HAM.
Negara-negara Afrika juga merumuskan HAM nya sendiri sesuai ciri khasnya dan
menggabungkannya dengan dua konvenant PBB (Hak politik dan ekonomi)yaitu Banjul
Charter 1987. Asia juga merumuskan piagam HAM nya tahun 1993 berupa Bangkok
Declaration.

G. Perkembangan Pemikiran HAM di Indonesia


1. Perkembangan Pemikiran HAM Sebelum Kemerdekaan (1908-1945)
Pemikiran HAM pada periode ini dapat ditemui dalam organisasi-organisasi
pergerakan seperti Budi Utomo, perhimpunan Indonesia, sarekat Islam,Indische Partij,
Kongres Pemuda yang melahirkan sumpah pemuda dan pada perdebatan dalam sidang
BPUPKI.
Perdebatan mengenai HAM terjadi dalam sidang BPUPKI 1945 antara Ir.Soekarno
dan Prof.Soepomo disatu pihak dengan M.Hatta dan Prof.Yamin di pihak lain, Ir. Soekarno
mengatakan bahwa sebaiknya dihilangkan paham liberalisme dan individu bila hendak
mendirikan negara berdasarkan paham kekeluargaan,gotong royong, dan keadilan sosial.
2. Periode setelah kemerdekaan (1945-sekarang)
a.periode 1945-1950
b.periode 1950-1959
c.periode 1959-1966
d.periode 1966-sekarang
3.Penjabaran Hak Asasi Manusia dalam UUD 1945
Undang-Undang Dasar 1945 Ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945, tiga tahun
lebih dahulu dari Universal Declaration of Human Rights (1948). Ini membuktikan bahwa
pengakuan HAM lebih dulu Indonesia dibandingkan dunia. Tetapi walaupun demikian
nyatanya pelaksanaan HAM di Indonesia,Khususnya dalam masa Orde Baru, pelaksanaanya
kurang memuaskan. Didalam pembukaan Undang-Undang 1945 banyak memuat hak asasi
manusia,mulai alinea pertama sampai dengan alinea terakhir. Uraian Kewajiban menurut
UUD 1945 Konsep kewajiban manusia (human obligations) disadari dan diakui sebagai
penyeimbang atas pemahaman mengenai kebebasan dan tanggungjawab. Dalam sistem
Demokrasi, setiap orang diberikan kebebasan yang dilakukan secara konstitusional, selain itu
setiap orang juga harus mau dan mampu bertanggungjawab atas kebebasan yang dimilikinya
juga secara konstitusional. Dengan lain perkataan,tidak ada kebebasan tanpa
pertanggungjawaban.

H. Hak Asasi Manusia Dalam Perundang-Undangan Nasional.


Pengaturan HAM dalam ketatanegaraan RI merupakan acuan normatif dalam
pemajuan dan perlindungan HAM dan dicantumkan dalam UUD 1945 serta peraturan
perundangan lainnya. Dalam Undang-Undang 1945naskah asli maupun yang telah
diamandemen terdapat beberapa ketentuan yang berkaitan dengan HAM, yang secara
langsung maupun tidak langsung menjabarkan nilai-nilai kemanusiaan yang terdapat dalam
falsafah pancasila.

B. ANALISIS BUKU
Analisis buku bukan mencari yang benar dan yang salah tetapi
menjalskan/menggambarkan kualitas buku, dalam hal ini pereview juga menjadikan proses
dalam belajar. Adapun aspek-aspek yang menjadi dasar penilaian buku adalah dilihat dari
kelebihan dan kekurangan buku.
a) Kelebihan Buku

Mahasiswa yang belajar pendidikan kewarganegaraan sebagai aspek yang dituju pada
materi buku pendidikan kewarganegraan ini menurut pereview buku ini sudah mencakup
materi tentang pendidikan kewarganegraan yang memuat materi tentang hakikat pendidikan
kewarganegaraan, dimensi dan subsatansi pendidikan kewarganegaraan, paradigma baru
pendidikan kewarganegaraan, materi tentang warga, negara dan kewarganegaraan, materi hak
dan kewajiban, materi hakikat konstitusi, materi demokrasi dan pensisikan demokrasi sercara
garis besar menurut periview buku ini mencakup sebagian besar tentang pendidikan
kewarganegaraan yang dapat membantu mahasiswa mengetahui dan memahami bagaiamana
muatan-muatan materi pendidikan kewarganegaraan.

Pembahasan materi dan pendalaman materi yang disajikan pada buku pendidikan
kewarganegaraan ini sangat diharapkan bahwa substansi pada materi bahasan harus
mencakup secara mendalam. Menurut pereview pada buku pendidikan kewarganegaraan ini
substansi materi sudah cukup mendalam bagi kalangan mahasiswa.

Dilihat dari segi ketrekaitan antara bab pada materi ini dapat dilihat dari bahasan setiap
bab pada awal bab membahas tentang hakikat pedidikan kewarganegaraan yang berkaitan
dengan bab bahasan berikutnya tentang bagian pendidikan kewarganegaraan baik itu dari segi
status kewarganegaraan, politik dan hukum yang mencakup pada bagian kewarganegaraan.
Gagasan-gagasan yang digunakan pada buku ini didukung oleh beberapa pendapat ahli
sehingga mahasiswa dapat mendapat gambaran tentang pendidikan kewarganegaraan.

Diihat dari segi penulisan buku ini menurut pereview penulisan sudah menggunakan
bahasa yang baik dan benar, menggunakan pengutiapan penulisan yang benar,
mencantumkan daftar pustaka sebagai referensi penulisan buku. Buku pendidikan
kewarganegaraan ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang belajar tentang pendidikan
kewarganegaraan karena isi dari buku memerikan lugasan serta diprkuat dengan teori-teori
dari beberapa ahli sehingga dapat dijadikan sebagai sumber belajar pendidian
kewarganegaraan yang yang baik karena dapat membahntu mahasiswa untu mengetahui serta
memahami bagaimana cakupan yang luas tentang pendidikan kewrganegaraan dari beberapa
aspek yang disajikan pada buku pendididkan kewarganegaraan.
b) Kelemahan Buku
Walaupun dalam buku ini sudah cukup bagus tetapi masih ada hal-hal penting yang
tidak dicantumkan, diantaranya ada beberapa kata yang tidak dimengerti dan bahasa yang
digunakan kurang mudah dipahami untuk pemula. Kemudian bahasan pada buku ini
materinya cukup banyak/ luas.
Dilihat dari segi kemuktahiran isi buku maka dapat disimpulkan bahwa kelemahan buku-
buku ini adalah tidak terlalubanyak memiliki kelemahan hanya saja pada kajian teori-teori
pada buku ini kurang dalam penyajian contoh atu kaitan dengan isu kewarganegaraan saat ini
pada bab materi bahasan.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pendidikan kewarganegaraan merupakan bagian penting bagi warga negara Indonesia,
hal ini dapat membantu mahasiswa mengatahui hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Sebagai generasi muda berpartisipasi aktif dalam bidang kewarganegaraan merupakan ujung
tombak harapan negara. Warga negara yang cerdas, yang bertanggungjawab bukan hanya
memiliki kemampuan intelektual saja tapi mampu bersosialisasi melayani dan menjalankan
tanggungjawabnya sebagai warga negara merupakan suatu kebagaanggan bagi negara.
Sebagai pereview buku ini sangat bermanfaat sebagai pengantar mata kuliah pendidikan
kewarganegaraan mahasiswa diharapkan bukan hanya memahami san mengetahui tetapi ada
aksi (pengabdian) untuk negara yang sudah dibahas pada materi bab tiga tentang bagaimana
paradigma baru pendidikan kewarganegaraan yang dapat membantu mahasiswa mendalami
materi pendidikan kewarganegaraan.
B. SARAN
Setelah saya melakukan critical book report pada ini saya menyarankan perlunya sedikit
revisi pada penjelasannya ataupun perbaikan yang lebih bagus lagi seperti penambahan
gambar-gambar pendukung dari isi buku tersebut maka semakin maksimal digunakan dan
semakin lengkap bagi para pembaca maupun kaum pendidik dan juga apabila dalam
penulisan makalah critical book ini masih ada kekurangan-kekurangan atau penulisan yang
slaah saya mohon maaf dan saya meminta masukan-masukan kritik dan saran dari para
pembaca demi perbaikan penulisan kedepannya sekian dan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Husin, Suady. (2013). Ilmu Kewarganegaraan. Medan : FIS Universitas Negeri Medan
Setiawan, Deny. (2019). Pendidikan Kewarganegaraan. Medan : Madenatra

Anda mungkin juga menyukai