Anda di halaman 1dari 20

PROPOSAL PENELITIAN EKSPERIMEN

PENGARUH ATTENTION RESTORATION THEORY


TERHADAP TINGKAT ATENSI MAHASISWA FAKULTAS
PSIKOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Metode Penelitian dan Analisis Data Kuantitatif

Anggota Kelompok:
Ardiana Meilinawati 111611133038
Daniswari Hartika 111611133038
Anggita Kesumaputri 111611133096
Haztika Jihadania Asdhar 111611133098
Pragiwaka Manggala Adji Masnur Alif 111611133201

Kelas: D-1

UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Dewasa ini penggunaan gadget menjadi sebuah bagian penting dalam
aktivitas sehari-hari seorang individu. Bagi mereka gadget sangat diperlukan
sebagai alat berkomunikasi dengan orang lain, menghubungi keluarga dan teman,
mengirim pesan singkat, terhubung dengan internet, bermain games,
mendengarkan musik, ataupun sekadar bersantai (Leena, Tomi, & Arja, 2005
dalam Ozkan & Solmaz, 2015). Pengguna gadget terbanyak adalah usia muda
yang mana mereka lebih mampu mengoperasikan berbagai fitur di dalamnya
(Choliz, 2012).
Generasi yang paling memiliki keunggulan dalam bidang informasi dan
teknologi ialah Generasi Z atau yang sering disebut dengan net generation
(Purnomo, Ratnawati, & Aristin, 2016). Pengelompokan usia antar generasi
menurut Asril & Hudrasyah (2013) menyatakan bahwa gen next yang berada pada
usia kelahiran 1999-2012 diidentifikasi sebagai Generasi Z yang merupakan
generasi lanjutan dari Generasi Y. Mereka memiliki kemampuan digital literature
yang baik, selalu terhubung dengan dunia luar melalui koneksi internet, selalu
menginginkan kecepatan dalam memperoleh informasi, menyukai eksplorasi, dan
merasa lebih nyaman dengan informasi yang bersifat visual (Oblinger & Oblinger,
2005). Net generation atau yang biasa disebut juga dengan iGeneration (internet
generation) juga mampu melakukan multitasking atau mengaplikasikan beberapa
fitur gadget dalam satu waktu (Putra, 2016). Dalam hal ini menandakan bahwa
Generasi Z memiliki ketergantungan yang cukup besar dengan teknologi dan
informasi yang salah satunya berupa alat komunikasi gadget. Akan tetapi,
Mendoza, dkk (2018) menyebutkan bahwa atensi seseorang akan bekerja optimal
apabila seseorang melakukan satu tugas dalam satu waktu.

2
Fenomenena ketakutan dan ketidaknyamanan karena tidak dapat
mengakses gadget ini disebut sebagai nomophobia (King et al., 2014; Yildrim &
Correia, 2015 dalam Mendoza, Pody, Lee, Kim, & McDonough, 2018). Dalam
penelitian eksperimen yang dilakukan oleh Mendoza, Pody, Lee, Kim, &
McDonough (2018) untuk menguji dampak penggunaan gadget terhadap atensi
dan pembelajaran di kelas didapatkan hasil bahwa semakin tinggi tingkat
nomophobia individu maka semakin tinggi pula tingkat kesalahan dalam
mengerjakan soal perkuliahan. Ini berarti nomophobia berpengaruh terhadap
atensi seseorang.
Atensi yang berasal dari kata attention atau perhatian memiliki arti yaitu
adanya pemusatan upaya mental pada peristiwa-peristiwa sensorik atau peristiwa-
peristiwa mental (Solso, Maclin, & Maclin, 2008). Dari pemaparan di atas dapat
disimpulkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan dapat berdampak
terhadap atensi suatu individu. Generasi Z mencerminkan kelompok kelahiran
yang paling sukar untuk jauh dari gadget karena mengingat salah satu
karakteristik yang menonjol dari generasi ini ialah ketergantungannya terhadap
teknologi dan informasi. Oleh karena itu, rencana penelitian eksperimen yang
akan kami lakukan bertujuan untuk melihat sejauh mana tingkat atensi dapat
berubah pada individu yang memiliki ketergantugan dengan gadget. Kami
memilih subjek mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan usia
kisaran 17-19 tahun yang tidak lain adalah Generasi Z.
Mengenai treatment yang akan kami berikan dalam kelompok eksperimen
ialah penerapan dari Attention Restoration Theory (ART). Tujuan treatment
tersebut adalah melihat sejauh mana tingkat atensi dapat berubah. Menurut Kaplan
(dalam Valtchanov, Barton, & Ellard, 2010), ART adalah sebuah teori yang
menyatakan bahwa ketika individu berinteraksi dan menghabiskan waktu di
lingkungan alam, interaksi tersebut dapat merestorasi atensi individu sehingga
atensi meningkat.
Dalam jurnal yang berjudul Restorative Effects of Virtual Nature Settings
oleh Valtchanov, Barton, & Ellard (2010) menyatakan bahwa setting alam buatan
3
melalui Virtual Reality memberi dampak positif yang mirip dengan gambar atau
video alam, mengurangi stres, kelelahan kognitif, dan meningkatkan pengaruh
positif pada individu yang mengalami peristiwa yang membuat stres. Namun,
dalam jurnal yang berjudul Evaluating Visual and Auditory Contributions to The
Cognitive Restoration Effect oleh Emfield & Neider (2014) menyatakan bahwa
pemaparan terhadap stimulus gambar dan suara yang menenangkan (relaxing)
seperti gambar dan suara alam tidak cukup untuk meningkatkan kinerja kognitif.
Selain itu, dari jurnal yang berjudul A comparison of the restorative effect of a
natural environment with that of a stimulated natural environment oleh Kjellgren
& Buhrkall (2010) menyatakan bahwa relaksasi di lingkungan alami yang nyata
dengan stimulasi lingkungan alami sama-sama mengurangi stres. Akan tetapi,
stimulasi lingkungan alami tidak memberikan manfaat yang sama dengan
lingkungan alami nyata sehingga muncul hipotesis bahwa konsep kehadiran nyata
memainkan pengaruh yang besar dalam pengalaman.
Dari berbagai hasil penelitian di atas, rencana penelitian eksperimen kami
juga ingin membuktikan sejauh mana pengaruh penerapan ART terhadap tingkat
atensi individu.

1.2 Identifikasi Masalah


Remaja saat ini yang termasuk ke dalam Generasi Z hampir selalu
menggunakan gadget di mana pun dan kapan pun, tidak bisa lepas dari gadget
dalam berkegiatan sehari-hari dan lebih terfokus pada gadget. Ini menyebabkan
remaja memiliki tingkat atensi yang lebih rendah ketika melakukan pekerjaan,
seperti mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, berdiskusi, bahkan berkendara.
Hal tersebut berdampak pada pekerjaan yang dilakukan membuahkan hasil akhir
yang kurang maksimal.
Untuk menanggulangi hal ini, ada banyak macam intervensi yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan atensi mahasiswa. Salah satunya melalui
penerapan ART. Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan mendukung

4
penerapan teori ini sebagai sarana untuk meningkatkan atensi dengan cara
memberikan stimulasi berupa pemaparan terhadap pemandangan alam dengan
durasi waktu tertentu.

1.3 Batasan Masalah


Dari penelitian ini, terdapat batasan-batasan masalah sebagaimana
penjelasan berikut:
a. Attention Restoration Theory (ART)
Menurut Kaplan (dalam Valtchanov, Barton, & Ellard, 2010), Attention
Restoration Theory adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa ketika
individu berinteraksi dan menghabiskan waktu di lingkungan alam,
interaksi tersebut dapat merestorasi atensi individu sehingga atensi
meningkat.
b. Atensi
Atensi yang berasal dari kata attention atau perhatian memiliki arti yaitu
adanya pemusatan upaya mental pada peristiwa-peristiwa sensorik atau
peristiwa-peristiwa mental (Solso, Maclin, & Maclin, 2008).
c. Mahasiswa
Dalam penelitian ini mahasiswa adalah laki-laki dan perempuan yang
sedang menjalani studi di perguruan tinggi berusia 17 hingga 19 tahun.

1.4 Rumusan Masalah


Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
a. Apakah penerapan ART dapat memengaruhi tingkat atensi pada
mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan usia 17-19
tahun?
b. Seberapa besar pengaruh penerapan ART terhadap atensi mahasiswa
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan usia 17-19 tahun?

5
1.5 Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh ART terhadap tingkat atensi pada
mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan usia 17-19
tahun.
b. Untuk menguji sejauh mana penerapan ART dapat merubah tingkat atensi
pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan usia 17-
19 tahun.

1.6 Manfaat Penelitian


Manfaat dari penelitian ini adalah diharapkan para pembaca dapat
memperoleh wawasan mengenai ART serta dapat menerapkan ART ketika merasa
membutuhkan sarana untuk merestorasi atensi yang dapat diterapkan oleh semua
kalangan. Selain itu dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian lanjutan
mengenai penerapan ART dalam mengubah atensi individu.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konteks dan Ruang Lingkup Penelitian


Konteks yang kami ambil dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas
Psikologi Universitas Airlangga dengan usia 17-19 tahun. Alasan mengapa kami
menggunakan subjek tersebut yaitu untuk efektivitas penelitian. Selain itu,
sebagian besar mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga tergolong
dalam Generasi Z yang memiliki kecenderungan nomophobia sehingga memiliki
tingkat atensi yang lebih rendah. Ruang lingkup pada penelitian ini adalah atensi
dari para subjek penelitian yang kemudian dikaitkan dengan ART.

2.2 Teori tentang Variabel Y (Variabel Terikat)


2.2.1 Definisi Atensi
Atensi yang berasal dari kata attention atau perhatian memiliki arti yaitu
adanya pemusatan upaya mental pada peristiwa-peristiwa sensorik atau mental
(Solso, Maclin, & Maclin, 2008). Dimana kejadian-kejadian yang ditangkap
tersebut menjadi suatu informasi yang ditangkap oleh panca indera dan kemudian
diproses di otak. Donald Broadbent (1953) seorang psikolog berkebangsaan
Inggris menjelaskan bahwa atensi adalah hasil atas keterbatasan sistem
pemrosesan informasi sebab di dunia ini banyak sekali sensasi-sensasi yang tidak
terhitung jumlahnya. Oleh karena itu, untuk mengolah informasi-informasi
tersebut diperlukannya selektivitas untuk memproses informasi yang diterima.
Atensi seseorang akan bekerja optimal apabila seseorang melakukan satu tugas
dalam satu waktu (Mendoza, Pody, Lee, Kim, & McDonough, 2018).
2.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Atensi
Beberapa faktor yang memengaruhi atensi (Solso, Maclin, & Maclin, 2008)
yaitu:

7
a. Kesadaran, yaitu segala stimulus yang ditangkap akan disaring atensi ke
alam kesadaran.
b. Persepsi subliminal, yakni stimulus-stimulus yang dapat dideteksi dan
berada diatas limen (batas yang mendeteksi adanya suatu stimulus).
c. Lokasi filter, yaitu stimulus-stimulus yang diterima ketika atensi telah
melewati sejumlah keputusan atau penyeleksian. Sebab manusia akan
cenderung untuk tidak menyadari stimulus-stimulus yang datang di tahap
awal.

2.2.3 Indikator Atensi


Atensi memiliki indikator atau karakteristiknya yakni:
a. Aktivitas mental yang selektif. Atensi merupakan proses menerima suatu
informasi dengan menahan informasi yang lain.
b. Atensi mendorong aktivitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain
ketika memperhatikan sesuatu.
c. Atensi mendorong individu untuk fokus pada suatu benda tertentu.
d. Atensi menghasilkan penyesuaian motorik dalam memperhatikan sesuatu.

2.3 Teori tentang Variabel X (Variabel Bebas)


2.3.1 Definisi ART
Teori ini kerap kali digunakan untuk menjelaskan mengenai potensi
lingkungan alam yang dapat meningkatkan kesehatan well-being manusia dan cara
berpikir yang positif. Beberapa manfaat yang didapatkan dari implementasi teori
ini diantaranya yaitu memberikan kesempatan bagi para individu untuk:
a. Terhindar dari stres di kehidupan sehari-hari
b. Memperluas pengalaman
c. Memiliki aktivitas yang sesuai dengan motivasi intrinsik
d. Memiliki rangsangan untuk memiliki pengalaman yang menakjubkan
Selain itu, hasil observasi antara interaksi manusia dengan lingkungan
alam dan analisis data kualitatif menjadikan ART ini semakin luas
8
perkembangannya. Kaplan (1995) menghubungkan antara ART dengan teori
atensi yang kemudian ditujukan pada masalah-masalah seperti problem solving,
membuat keputusan dan iritabilitas (Ohly, dkk., 2016).
2.3.2 Karakteristik ART
Kaplan (1995) menjelaskan ada empat karakteristik penting dalam menilai
suatu lingkungan yang dimaksud oleh ART, yakni:
a. Being away, yaitu lingkungan yang dapat membuat keadaan individu
seakan-akan melarikan diri, lolos, atau pergi dari lingkungan yang
biasa.
b. Fascination, yakni lingkungan yang membuat individu terpesona
dengan keadaan di lingkungan tersebut.
c. Extent, yaitu lingkungan yang memberikan perasaan berada dalam
lingkungan yang berbeda.
d. Compatibility, yaitu lingkungan yang memberikan keadaan sesuai
dengan keinginan individu.

2.4 Tinjauan Pustaka tentang Keterikatan Antar Variabel


Atensi yang juga dapat disebut sebagai perhatian merupakan sarana
dimana kita secara aktif memproses sejumlah kecil informasi dari sejumlah besar
informasi yang tersedia melalui indra kita, ingatan kita yang tersimpan, dan proses
kognitif kita yang lain (De Weerd, 2003; Rao, 2003) dalam (Sternberg, 2011).
Terkadang seorang individu bisa saja mengalami penurunan ataupun gangguan
atensi. Hal tersebut bisa diakibatkan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah
kelelahan, kebosanan atau rasa jenuh yang di alami individu. Lingkungan
berperan penting sebagai salah satu penyebab terjadinya kebosanan dalam diri
individu. Seperti misalnya kondisi ruang perkuliahan konvensional yang
cenderung monoton dengan kondisi pemandangan yang kurang akan stimulus
rangsangan yang menarik, serta pencahayaan yang buruk sedikit banyak
mempengaruhi timbulnya penurunan terhadap atensi mahasiswa. Oleh sebab itu,

9
diperlukan suatu cara untuk mencegah penurunan atensi pada pembelajaran yang
terjadi dalam ruang perkuliahan.
ART adalah suatu teori yang menyatakan bahwa seseorang akan dapat
berkonsentrasi lebih baik ketika menghabiskan waktu di alam atau bahkan hanya
dengan melihat pemandangan alam. Hal ini disebabkan karena lingkungan alam
kaya akan rangsangan menarik (Valtchanov, Barton, & Ellard, 2010). Atensi
individu secara sederhana tertangkap oleh stimulus dengan cara bottom-up. Dalam
suatu penelitian oleh Berto, dkk (2008) dengan memeriksa pergerakan mata ketika
melihat gambar dengan setting kota dan setting alam menunjukkan hasil bahwa
fixation (hambatan) lebih sedikit terjadi pada adegan dengan setting alam
(Valtchanov, Barton, & Ellard, 2010). Hal inilah yang yang kemudian menjadi
fokus dari penelitian ini dimana peneliti berusaha membuktikan pengaruh
penerapan ART terhadap atensi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas
Airlangga dengan usia 17-19 tahun yang pada umumnya merupakan Generasi Z
yang memiliki kecenderungan atensi lebih rendah.

10
2.5 Kerangka Konseptual

Mahasiswa
Fakultas Psikologi
Unair (17-19th)
Tingkat atensi
cenderung
rendah
Generasi Z

Ketergantungan
terhadap gadget

Atensi
Mahasiswa
Generasi Z

Treament ART Non-Treatment

Uji Atensi Uji Atensi

(Stroop Test) (Stroop Test)

Perbandingan Atensi
Mahasiswa yang di-
Treatment & tidak di-
Treatment

11
2.6 Hipotesis
Berdasarkan landasan teori yang digunakan, hipotesis yang disusun dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. H0: Tidak terdapat pengaruh peningkatan atensi pasca penerapan ART
pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan usia 17-
19 tahun
b. H1: Terdapat pengaruh peningkatan atensi pasca penerapan ART pada
mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan usia 17-19
tahun

12
BAB III
METODE

3.1 Tipe Penelitian


Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang menekankan pada
analisis menggunakan angka dan data-data numerik yang diolah dengan metode
statistik (Azwar, 1996). Selain itu, penelitian ini menggunakan format penelitian
eksperimen untuk melihat adanya pengaruh variabel bebas terhadap variabel
terikat dalam situasi yang sudah direncanakan. Variabel bebas atau variabel
independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah ART sedangkan variabel
terikat atau variabel dependen dalam penelitian adalah tingkat atensi mahasiswa
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan usia 17-19 tahun.

3.2 Desain Penelitian


Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh ART terhadap
tingkat atensi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan usia
17-19 tahun. Penelitian diawali dengan randomisasi dari sampel yang digunakan
untuk membagi subjek ke dalam dua kelompok yakni kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol.
Kelompok eksperimen mendapatkan treatment dengan menampilkan 25
foto alam. Subjek ditempatkan pada kursi dengan jarak kira-kira 2 meter dari layar
lebar. Interval antar foto yang diberikan adalah 15 detik. Sedangkan, kelompok
kontrol tidak mendapatkan treatment. Setelah itu, kedua kelompok melakukan
post-test menggunakan Inquisit Stroop Test versi Millisecond melalui komputer.

Desain Penelitian
X O1 Kelompok Eksperimen
P S R
O2 Kelompok Kontrol

13
Keterangan:
P = Populasi
S = Sampel
R = Randomisasi
On = Pengukuran terhadap variabel terikat
X = Perlakuan yang diberikan/intervensi

3.3 Identifikasi Variabel Penelitian


Variabel X atau variabel bebas dari penelitian ini adalah ART. Variabel ini
memengaruhi variabel Y atau variabel terikat yakni tingkat atensi mahasiswa
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga dengan usia 17-19 tahun.

3.4 Definisi Operasional


3.4.1 Attention Restoration Theory
Attention Restoration Theory atau ART merupakan hasil analisis yang
dilakukan oleh William James (dalam Kaplan, 1995) mengenai pengalaman yang
mengarahkan pada pemulihan kelelahan. Teori ini menjelaskan bahwa individu
yang berinteraksi dengan suatu lingkungan akan memberikan pengalaman
restorative. Keadaan ini memberikan perasaan rileks yang dapat meningkatkan
atensi individu. Berman, Jonides, dan Kaplan (2008) juga menyebutkan bahwa
interaksi dapat berupa interaksi langsung maupun pemberian stimulus berupa
gambar atau video.
Teori ini kerap kali digunakan untuk menjelaskan mengenai potensi
lingkungan alam yang alami yang dapat meningkatkan kesehatan well-being
manusia dan cara berpikir yang positif. Beberapa manfaat yang didapatkan dari
implementasi teori ini diantaranya yaitu memberikan kesempatan bagi para
individu untuk:
a. Terhindar dari stres dikehidupan sehari-hari
b. Memperluas pengalaman
14
c. Memiliki aktivitas yang sesuai dengan motivasi intrinsik
d. Memiliki rangsangan untuk memiliki pengalaman yang menakjubkan
Selain itu, hasil observasi antara interaksi manusia dengan lingkungan
alam dan analisis data kualitatif menjadikan ART ini semakin luas
perkembangannya. Kaplan (1995) menghubungkan antara ART dengan teori
atensi yang kemudian ditujukan pada masalah-masalah seperti problem solving,
membuat keputusan dan iritabilitas (Ohly, dkk., 2016).
3.4.2 Atensi
Atensi yang berasal dari kata attention atau perhatian memiliki arti yaitu
adanya pemusatan upaya mental pada peristiwa-peristiwa sensorik atau peristiwa-
peristiwa mental (Solso, Maclin, & Maclin, 2008). Dimana kejadian-kejadian
yang ditangkap tersebut menjadi suatu informasi yang ditangkap oleh panca
indera yang kemudian di proses di otak. Donald Broadbent (1953) seorang
psikolog berkebangsaan Inggris menjelaskan bahwa atensi adalah hasil atas
keterbatasan sistem pemrosesan informasi sebab di dunia ini banyak sekali
sensasi-sensasi yang tidak terhitung jumlahnya. Oleh karena itu, untuk mengolah
informasi-informasi tersebut diperlukannya selektif untuk memproses informasi
yang diterima.
Atensi seseorang akan bekerja optimal apabila seseorang melakukan satu
tugas dalam satu waktu (Mendoza, Pody, Lee, Kim, & McDonough, 2018).
Terdapat dua indikator dari atensi diantaranya yaitu faktor eksternal sebagai
penarik perhatian dan faktor internal yang sebagai penaruh perhatian. Beberapa
faktor yang mempengaruhi atensi (Solso, Maclin, & Maclin, 2008) yaitu:
a. Kesadaran, yaitu segala stimulus yang ditangkap akan disaring atensi ke
alam kesadaran.
b. Persepsi subliminal, yakni stimulus-stimulus yang dapat dideteksi yang
berada diatas limen (batas dapat dideteksi atau tidaknya suatu stimulus).
c. Lokasi filter, yaitu stimuli-stimuli yang diterima ketika atensi telah
melewati sejumlah keputusan atau penyeleksian. Sebab manusia akan

15
cenderung untuk tidak menyadari stimuli-stimuli yang dating di tahap
awal.

3.5 Subjek Penelitian


Dalam penelitian ini, sampel yang akan diambil berasal dari populasi yang
memiliki kategori sebagai berikut:
a. Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
b. Laki-laki atau perempuan berusia 17-19 tahun
Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yakni teknik pemilihan
sampel dengan mempertimbangkan kesamaan karakteristik pada populasi tertentu.

3.6 Teknik Pengumpulan Data


Penelitian ini dilakukan dengan mengontak subjek dengan karakteristik
mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga yang berusia 17-19 tahun.
Selain itu, Inquisit Stroop Test versi Millisecond digunakan untuk melihat hasil
dari pemberian treatment ART ataupun hasil dari kelompok yang tidak diberikan
treatment melalui post-test. Neuman (2007) menyebutkan bahwa teknik ini
disebut dengan classical experimental design atau the post-test control group
comparison.

3.7 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur


Terdapat berbagai macam jenis Stroop test karena tidak ada versi standar
baik dalam segi material, administrasi, maupun skoring (Jensen & Rohwer Jr.,
1966). Killian (n.d.) menyebutkan bahwa Stroop test tergolong ke dalam tes yang
valid dan reliabel berdasarkan pengukuran pada tiga aspek dasar fungsi kognitif-
persepsi. Versi yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Millisecond,
sebuah provider yang menyediakan berbagai macam tes psikologis. Manual
Stroop test yang digunakan pun berdasar pada studi yang dilakukan John Ridley
Stroop (Millisecond, 2017).
16
Jensen (dalam Jensen dan Rohwer, 1966) melakukan uji validitas dengan
korelasi product-moment dari skor subtes congruent (W), incongruent (CW), dan
kontrol (C). Hasil korelasi antara W dan C sebesar 0.52, W dan CW sebesar 0.43,
serta C dan CW sebesar 0.66. Hal ini menunjukkan adanya korelasi yang
tergolong cukup kuat. Dari berbagai macam manual skoring dalam Stroop test,
ditemukan bahwa rumus B (W/C) memiliki reliabilitas sebesar 0.88 yang
tergolong tinggi (Jensen A. R., 1965). Penelitian ini menggunakan rumus N yakni
W(CW – C)/C yang memiliki tingkat reliabilitas cukup. Rumus ini digunakan
karena menggunakan ketiga skor dasar Stroop test.

3.8 Teknik Analisa Data


Penelitian ini menggunakan teknik analisis korelasi. Sebelum menentukan
teknik korelasi yang digunakan, peneliti melakukan statistik deskriptif dan uji
asumsi terlebih dahulu melalui uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji homogenitas
Levene’s dengan bantuan program Jamovi for Windows. Uji normalitas digunakan
untuk mengetahui normal atau tidaknya sebaran data yang diteliti sedangkan uji
homogenitas digunakan untuk mengetahui kecenderungan persebaran data. Hasil
dari uji normalitas akan mengarahkan kami pada pemilihan teknik korelasi yang
digunakan. Jika asumsi normalitas terpenuhi maka teknik yang digunakan adalah
parametrik, sedangkan jika asumsi normalitas tidak terpenuhi maka teknik yang
digunakan adalah non-parametrik.

17
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Subjek Penelitian

18
DAFTAR PUSTAKA

Asril, A., & Hudrasyah, H. (2013). Media Indonesia Marketing Strategy to


Increase Their Gen Y Readers. The Indonesian Journal of Business
Administration, Vol. 2, No. 8, 890-898.

Azwar, S. (1996). Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi


Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Berman, M. G., Jonides, J., & Kaplan, S. (2008). The Cognitive Benefits of
Interacting With Nature. Psychological Science, 1207-1212.

Choliz, M. (2012). Mobile-phone addiction in adolescence: The Test of Mobile


Phone Dependence (TMD). Prog Health Sci, 2, 33-44.

Jensen, A. R. (1965). Scoring the Stroop Test. Acta Psychologica, Vol. 24, 398-
408.

Jensen, A. R., & Rohwer Jr., W. D. (1966). The Stroop Color-Word Test: A
Review. Acta Psychologica, Vol. 25, 36-93.

Kaplan, S. (1995). The Restorative Benefits of Nature: Toward An Integrative


Framework. Journal of Environmental Psychology, Vol. 15, 169-182.

Killian, G. A. (n.d.). Stroop Color and Word Test. Illinois: Stoelting Company.

Linnman, C., Carlbring, P., Ahman, A., Andersson, H., & Andersson, G. (2006).
The Stroop effect on the internet. Computers in Human Behavior, Vol. 22,
448-455.

19
Mendoza, J. S., Pody, B. C., Lee, S., Kim, M., & McDonough, I. M. (2018). The
Effect of Cellphones on Attention and Lerning: The Influences of Time,
Distraction. and Nomophobia. Elsevier, 52-60.

Millisecond. (2017, October 24). User Manual for Inquisit's Color Word Stroop
with Keyboard Responding (English). Retrieved from Millisecond:
https://www.millisecond.com/download/library/v5/stroop/stroop/stroopwit
hcontrolkeyboard.manual

Neuman, W. L. (2007). Basics of Social Research: Qualitative and Quantitative


Approach (2nd Edition). Pearson Education.

Oblinger, D., & Oblinger, J. (2005). Is It Age or IT: First Steps Toward
Understanding the Net Generation. Retrieved September 13, 2018, from
EDUCAUSE.edu: http://www.educause.edu/educatingthenetgen

Ohly, H., White, M. P., Wheeler, B. W., Bethel, A., Ukoumunne, O. C., Nikolaou,
V., & Garside, R. (2016). Attention Restoration Theory: A Systematic
Review of The Attention Restoration Potential of Exposure to Natural
Environments . Journal of Toxicology and Environmental Health, 305-343.

Purnomo, A., Ratnawati, N., & Aristin, N. F. (2016). Pengembangan


Pembelajaran Blended Learning pada Generasi Z. Jurnal Teori dan
Praksis Pembelajaran IPS, 1, 70-77.

Putra, Y. S. (2016). Theoritical Review: Teori Perbedaan Generasi. Jurnal Ilmiah


Among Makarti, 9, 123-134.

Solso, R. L., Maclin, O. H., & Maclin, M. K. (2008). Psikologi Kognitif. Jakarta:
Penerbit Erlangga.

Sternberg, R. J. (2011). Cognitive Psychology Sixth Edition. Cengage Learning; 6


edition.

Valtchanov, D., Barton, K. R., & Ellard, C. (2010). Restorative Effects of Virtual
Nature Settings. Volume 13, Number 5.

Weiten, W. (2010). Psychology: Themes and Variation, 8th Edition. California:


Cengage Learning.

20