Anda di halaman 1dari 6

A.

Latar Belakang

Salam kehidupan sosial terkadang kita memerlukan suatu kemampuan untuk menunjang
suatu kepentingan tertentu dengan memprediksi perilaku terntentu dari seseorang. Hal ini
biasanya berkaitan dengan pemasaran atau upaya intervensi dalam dunia kesehatan yang
mencoba dan mengarahkan pola perilaku kita menjadi yang lebih baik. Namun kebanyakan
orang memiliki anggapan bahwa sikap akan menentukan perilaku kita secara keseluruhan
(Long-Crowell, t.thn.). Hal ini menyebabkan banyak orang berpikir bahwa dengan merubah
sikap maka kita akan dapat merubah atau mempengarhi perilaku terntentu. Namun menurut
Theory of Planned Behavior kita dapat menggunakan cara yang lebih baik dalam memprediksi
perilaku seseorang ketimbang kita harus berupaya mengetahui sikap seseorang terlebih dahulu.
Hal ini dapat mengefisienkan pemahaman kita serta metode yang akan kita gunakan dalam
menangani berbagai gangguan psikologis yang berhubungan dengan kesehatan mental. Maka
dari itu berikut ini akan kita bahas mengenai Theory of Planned Behavior.

B. Sejarah

Pada mulanya Theory of Planned Behavior sendiri tercipta dari pengembangan teori lain
yaitu Theory of Reasoned Action (TRA). Teori ini dikembangkan oleh Martin Fishbein dan
Icek Azjen pada tahun 1967. Pada awalanya TRA juga merupakan pengembangan dari teori
lain yaitu Information Integration Theory. Ini menunjukkan adanya tahapan perbaikan dan
pengembangan teori yang diawali dengan terciptanya Information Integration Theory
kemudian dilanjutkan dengan pengemabangan serta perbaikan menjadi Theory of Reasoned
Action (TRA) dan disempurnakan lagi menjadi Theory of Planned Behavior (TPB).
Sebelumnya dalam perbaikan dari Information Integration Theory menjadi TRA terdapat
beberapa perubahan seperti misalnya pada saat Reasoned Action menggunakan dua unsur
dalam penjelasan teorinya yaitu berupa sikap dan norma (atau harapan orang lain) untuk
memprediksi niat perilaku yang pada mulanya ini tidak ada dalam teori sebelumnya.
Sedangkan arti dari dua unsur itu sendiri dapat kita ambil contoh semisal setiap kali kita
memiliki niatan untuk melakukan satu hal, kita akan terbayangi oleh norma-norma yang ada
disekitar kita dan akan lebih menyarankan kita untuk melakukan suatu hal lain yang sekiranya
tidak bertentangan dengan norma, serta beberapa faktor lain yang akan mempengaruhi niatan
perilaku kita. Secara garis besar teori menjelaskan bahwa intensi seseorang dipengaruhi oleh
sikap dan norma subjektif yang diyakininya, kemudian yang terjadi selanjutnya adalah tingkah
laku akan dibuat berdasarkan intensi individu tersebut (Azjen, 1992). Hal ini menunjukkan
bahwa semakin besar intensi seseorang maka akan semakin meningkatkan usahanya untuk
melakukan suatu perilaku sehingga hal tersebut dapat terlaksana. Bentuk pengaplikasian TRA
pada saat ini digunakan untuk meneliti tingkah laku spesifik seperti communication behavior,
customer behavior dan sexual behavior. Pada tahun 1985 TRA kemudian dikembangkan lagi
menjadi Theory of Planned Behavior (TPB) dengan menambahkan satu faktor lagi yaitu
perceived behavioral control. Sebelumnya dalam konsep TRA menganggap bahwa determinan
langsung yang paling penting bagi tingkah laku adalah behavioral intention (Lezin, t.thn.). Dari
sini dapat kita lihat bahwa suksesnya teori ini dalam menjelaskan tentang perilaku tergantung
seberapa besarnya kontrol individu tersebut terhadap perilaku. Namun belum jelas komponen
TRA yang mana yang cukup untuk memprediksi perilaku yang kontrolnya hendak dikurangi.
Sehingga, Ajzen dan kawan-kawannya menambahkan perceived behavioral control kedalam
TRA untuk menghitung faktor kontrol individual yang sedapat mungkin mempengaruhi suatu
tujuan dan tingkah laku (Lezin, t.thn.). Dengan tambahan ini terbentuklah TPB (Theory of
Planned Behavior) seperti yang kita kenal saat ini.

C. Definisi dan Komponen

Theory of planned behavior merupakan pengembangan dari konsep teori sebelumnya


yaitu TRA, yang kemudian disempurnakan kembali dengan beberapa unsur baru. Oleh Ajzen
dijelaskan bahwa konsep ini merupakan konsep yang mendefinisikan atau memprediksi
pemahaman perilaku tertentu dan dalam kejadian atau konteks tertentu (Lezin, t.thn.).
Kemudian konsep ini selanjutnya akan memberikan suatu bentuk pemahaman bahwa niatan
berperilaku (behavioral intention) dapat dengan mungkin dipengaruhi oleh berbagai hal.
Seperti halnya sikap, norma subyektif, serta suatu kendali terhadap perilaku itu sendiri. Ajzen
juga menjelaskan bahwa suatu intensi (intention) atau niatan yang ada dalam diri individu dapat
menimbulkan perilaku yang berperan penting dalam memprediksi sebuah perilaku individu
yang akan terjadi kemudian (M. Conner, 2005). Kemudian niatan melakukan sebuah perilaku
ini dapat diprediksi dari beberapa akurasi seperti sikap terhadap perilaku (attitude toward the
behavior), norma subyektif (subjective norms), dan persepsi control perilaku (perceived
behavior control). Penjelasan mengenai sikap terhadap perilaku (attitude toward the behavior)
merupakan bentuk penilaian perilaku oleh seseorang yang mana perilaku itu akan
menguntungkan atau tidak bagi dirinya bilamana dilakukan atau tidak dilakukan. Lalu
kemudian terdapat norma subyektif (subjective norms) yang merupakan faktor sosial,
didefinisikan sebagai suatu tekanan sosial yang dirasakan individu ketika melakukan atau tidak
melakukan perilaku tersebut. Lalu yang terakhir adalah persepsi control perilaku (perceived
behavior control) yaitu persepsi seseorang dalam melihat kemudahan atau kesulitan dalam
melakukan perilaku tersebut, serta melihat hambatan dan antisipasi dari perilaku tersebut.
Theory of Planned Behavior sendiri berpendapat bahwa suatu perilaku dapat terprediksi dari
intensi dan persepsi terhadap perilaku tersebut.

D. Aplikasi Penerapan

Pengaplikasian penerapan theory of planned behavior dapat kita lihat pada contoh orang
yang melakukan perilaku diet (Sciences, 1991). Pola diet yang dilakukan biasanya dengan cara
mengurangi makanan berkalori tinggi dan hanya memakan sayuran dan buah-buahhan tertentu
bahkan ada yang sampai sangat menghindari makanan yang tidak ada hubungannya dengan
sayuran ataupun buah. Seperti contoh kasus berikut. Reno memiliki suatu keyakinan tentang
makan bahwa memkaan sayur dan buah-buahan setiap hari akan membuat berat badan dan
posturnya menjadi sehat dan ideal. Sebenarnya tidak hanya reno yang rutin mengkonsumsi
buah dan sayur didalam keluarganya. Ibu dan ayah reno juga sangat senang mengkonsumsi
buah-buahan dan hampir setipa hari selalu membeli buah-buahan serta sayuransegar di pasar
untuk dikonsumsi bersama setiap harinya. Perilaku yang dilakukan oleh orang tua reno ini
sedikit banyak mempengaruhi keyakinannya akan pola hidup sehat hanya dengan makan
sayuran dan buah-buahan seperti apa yang telah menjadi kebiasaan dalam keluarganya. Selain
itu reno juga sangat memperhatikan kondisi orangtuanya yang badannya masih sangat sehat
bugar bahkan jelas terlihat masih sangat prima walaupun usianya sudah hampir berkepala lima.
Selain itu orangtua reno juga hampir tidak pernah terserang penyakit sekecil apapun. Hal ini
melahirkan persepsi tersendiri bagi reno bahwa kebiasaan memakan buah dan sayur seperti
yang dilakukan kedua orangtuanya adalah suatu yang sangat bermanfaat dan akan membuat
bentuk tubuh jauh lebih ideal dan tidak gampang sakit ketimbang makan-makanan yang
berminyak ataupun lemak jenuh lainnya (Sciences, 1991). Inilah yang menjadi mindset reno
bahwa seperti inilah sebenarnya pola hidup sehat itu.

Apabila dilihat dari bagan TPB terhadap kasus diatas ringkasnya adalah sebagai berikut:
 Behavioral beliefs: Reno berdiet dan hanya ingin makan sayur dan buah-buahan
 Normative beliefs: Orangtua reno menkonsumsi bersama buah-buahan ataupun sayuran
setiap hari
 Control beliefs: Orangtua reno selalu membelikan buah maupun sayuran untuk
dimakan setiap hari
 Attitude toward behavior: Reno mempunyai keyakinan makan sayuran ataupun buah
dapat membuat tubuh sehat dan memnjadikan badan jadi lebih ideal
 Subjective norms: Adanya dukungan dari orangtua untuk makan sayuran dan buah
setiap hari
 Percieved behavioral control: Reno mempunyai persepsi tinggi bahwa dia dapat makan
sayurannya setiap hari.

E. Kelebihan dan Kelemahan

Dalam setiap teori pasti memiliki beberapa kekurngan dan dan kelebihannya tersendiri.
Dengan mengetahui kekurangan dan kelebihan dari teori ini maka kita akan lebih memahami
dan mengerti apa yang harus kita lakukan bila ingin menggunakan teori ini sebagai acuan.
Berikut merupakan beberapa kekurangan dan kelebihan dari teori ini :

- Kelebihan :
1. TPB dapat diaplikasikan ke dalam banyak bidang
2. Teori ini bersifat objektif
3. Dapat kita gunakan untuk memprediksi tingkah laku
4. Teori ini masih relevan sehingga bisa digunakan sebagai model rancangan pelatihan.

- Kelemahan :
1. Belum dapat digunakan sebagai intervensi
2. Kebanyakan penelitian hanya menggunakan teori ini sebagai dasar teori dan belum
banyak dikembangkan
3. Penelitian yang sudah dilakukan dengan menggunakan teori tersebut kebanyakan
berhenti hanya sampai intensi tingkah laku
4. Memerlukan kontrol dari orang lain untuk mengaplikasikan
Daftar Pustaka

Azjen, I. M. (1992). A Comparasion of the Theory of Planned Behavior and the Theory of
Reasoned Action. Personality and Social Psychology, 1-9.

Lezin, N. (t.thn.). Theory of Reasoned Action. Diambil kembali dari ReCAPP:


http://recapp.etr.org/recapp/index.cfm?fuseaction=pages.TheoriesDetail&PageID=51
7

Long-Crowell, E. (t.thn.). Diambil kembali dari study.com:


http://study.com/academy/lesson/theory-of-planned-behavior-definition-examples-
usefulness.html

Ajzen, Icek. (1991). The Theory of Planned Behavior. Organizational Behavior And Human
Decision Processes 50, 179-211. Retrieved from
https://pdfs.semanticscholar.org/6256/ca4853f44ab9acb98f91f0d7848c54185ca7.pdf

M. Conner, &. P. (2005, 2005). Research and Practice with Social Cognition Models Second
Edition. Predicting Health Behaviour, Berkshire: McGraw Hill.

Sciences, L. (1991). Control Beliefs. An application of the Theory of planned behavior,


VOL.13 185-204.

Sparks, P., Shepherd, R. (1992). Self-Identity and the Theory of Planned Behavior: Assesing
the Role of Identification with "Green Consumerism. Social Psychology Quarterly, 55(4), pp
388-399
TUGAS ESSAI INDIVIDUAL

MODEL PEMBENTUK PERILAKU SEHAT ‘THEORY OF PLANNED BEHAVIOR’

Oleh :

Pragiwaka Manggala Adji M. A. 111611133201

Kelas B-1

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

2017