Anda di halaman 1dari 18

HAKIKAT MANUSIA

MENURUT ISLAM

DISUSUN OLEH :

1. Afriani Bahtiar

2. Andi Nadya Utami

3. Dewi Khaeril

4. Selvi Novita

POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR


Tahun Ajaran 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt. Atas berkah dan rahmat-Nya
sehingga penyusunan makalah Agama Islam ini dapat terselesaikan dengan baik.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit masalah yang kita dapatkan.
Namun berkat kerjasama, do’a restu dan bantuan dari berbagai pihak sehingga
penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makanya dari itu kami
mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak
membantu dalam penyusunan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari bahwa makalah ini masih
terdapat banyak kekurangan. Maka dari itu, kritik dan saran sangat kami harapkan
dari pihak-pihak yang telah membacanya. Atas kritik dan sarannya, kami
mengucapkan banyak terima kasih.

Makassar, 25 September 2018

Penyusun,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................4


A. Latar Belakang ........................................................................................4
B. Rumusan Masalah....................................................................................4
C. Tujuan ......................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................6


A. Hakikat Manusia Menurut Islam .............................................................6
B. Konsep Manusia Dalam Al-Qur’an .........................................................6
C. Eksistensi dan Martabat Manusia Dalam Islam.......................................8
D. Tanggung Jawab Manusia Sebagai Hambah dan Khalifah Allah .........15

BAB III PENUTUP ...............................................................................................17


A. Kesimpulan ............................................................................................17
B. Saran ......................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................18


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbicara tentang manusia dan agama dalam Islam adalah membicarakan
sesuatu yang sangat klasik namun senantiasa aktual. Berbicara tentang kedua hal
tersebut sama saja dengan berbicara tentang kita sendiri dan keyakinan asasi kita
sebagai makhluk Tuhan.
Pemikiran tentang hakikat manusia sejak zaman dahulu kala sampai zaman
modern sekarang ini juga belum berakhir dan mungkin tak akan pernah berakhir.
Ternyata orang menyelidiki manusia itu dari berbagai sudut pandang.
Kehadiran manusia tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta.
Manusia hakihatnya adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Pada diri manusia
terdapat perpaduan antara sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Dalam
pandangan Islam, sebagai makhluk ciptaan Allah SWT manusia memiliki tugas
tertentu dalam menjalankan kehidupannya di dunia ini. Untuk menjalankan
tugasnya manusia dikaruniakan akal dan pikiran oleh Allah SWT. Akal dan
pikiran tersebut yang akan menuntun manusia dalam menjalankan perannya.
Dalam hidup di dunia.
Memikirkan dan membicarakan hakikat manusia inilah yang menyebabkan
orang tak henti-hentinya berusaha mencari jawaban yang memuaskan tentang
pertanyaan yang mendasar tentang manusia itu sendiri.
Oleh karena itu pada makalah ini kami akan membahas tentang hakikat
manusia menurut islam. Semoga dengan pembhasan ini dapat menambah
wawasan bagi kita dalam memahami hakikat diri kita sebagai manusia di muka
bumi ini.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah sebagai berikut:
a) Apa pengertian hakikat manusia menurut islam?
b) Bagaimana konsep manusia dalam Al-Qur’an?
c) Bagaimana eksistensi dan martabat manusia dalam islam?
d) Bagaimana tanggungjawab manusia sebagai hamba dan khalifah Allah?

C. Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dalam penyusunan makalah ini diantaranya:
a) Mengetahui pengertian hakikat manusia menurut islam.
a) Mengetahui Konsep manusia dalam Al-Qur’an.
b) Mengetahui eksistensi dan martabat manusia dalam islam.
c) Mengetahui seberapa besar Tanggungjawab kita (manusia) sebagai Hamba
dan Khalifah Allah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Manusia Menurut Islam
Hakikat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia di artikan inti sari atau dasar
juga diartikan kenyataan yang sebenarnya (sesungguhnya). Hakikat juga bisa
dikatakan inti dari segala sesuatu.atau yang menjadi jiwa sesuatu. Di kalangan
tasawuf orang mencari hakikat diri manusia yang sebenarnya karena itu muncul
kata-kata diri mencari sebenar-benarnya. Jadi Sama halnya dengan pengertian
dalam mencari suatu hakikat roh, nyawa dan lain-lain.
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah
swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi
dan tugas mereka sebagai khalifah di muka dumi ini. Al-Quran menerangkan
bahwa manusia berasal dari tanah.
Jadi, hakikat manusia adalah peran ataupun fungsi yang harus dijalankan oleh
setiap manusia.

B. Konsep Manusia Dalam Al-Qur’an


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘manusia’ diartikan sebagai ‘makhluk
yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain); insan; orang’ (1989:558).
Menurut pengertian ini manusia adalah makhluk Tuhan yang diberi potensi akal
dan budi, nalar dan moral untuk dapat menguasai makhluk lainnya demi
kemakmuran dan kemaslahatannya. Sedangkan dalam bahasa Arab, kata
‘manusia’ ini bersepadan dengan kata-kata al-nas, basyar, insan, mar’u, ins dan
lain-lain. Kata “Basyar” dalam Al-Qur’an disebut 27 kali, memberikan referensi
pada manusia sebagai mahkluk Biologis. Adapun acuan pendapat ini adalah surat
Ali Imran [3]:47; Al-Kahfi[18]:110; Fushshilat [41]:6; Al-Furqan [25]:7; dan 20;
dan Yusuf [12]:31.
Sebagai mahkluk biologis, manusia dapat dililhat dari perkataan Maryam
kepada Allah: “Tuhanku, bagaimana mungkinaku mempunyai anak, padahal aku
tidak disentuh basyar” (Ali Imran [31]:47).[1] Dan pertanyaan Maryampun
terjawab, Nabi Muhammad SAW diutus Allah menegaskan bahwa secara biologis
ia sepeti manusia lain. Allah berfirman, “Katakanlah,Aku (Muhammad saw) ini
manusia biasa (basyar) seperti kamu,hanya saja aku diberi wahyu bahwa
Tuhanmu adalah Tuhan yang satu”. (Q.S. al-Kahfi [18]:110 dan Fushshilat
[41]:6).[1]
Manusia diciptakan Allah Swt. Berasal dari saripati tanah, lalu menjadi
nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk yang paling
sempurna yang memiliki berbagai kemampuan. Al-Quran menerangkan bahwa
manusia berasal tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti :
Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah. Hal ini dapat diartikan bahwa jasad
manusia diciptakan Allah dari bermacam-macam unsur kimiawi yang terdapat
dari tanah. Adapun tahapan-tahapan dalam proses selanjutnya, al-Quran tidak
menjelaskan secara rinci.[1] Manusia yang sekarang ini, prosesnya dapat diamati
meskipun secara bersusah payah. Berdasarkan pengamatan yang mendalam dapat
diketahui bahwa manusia dilahirkan ibu dari rahimnya yang proses penciptaannya
dimulai sejak pertemuan antara permatozoa dengan ovum.
Tentang Konsep Manusia ini sendiri menjadi perbincangan dikalangan Para
ahli, dan untuk mencari makna manusia dilakukan melalui ilmu pengetahuan. Para
ahli berusaha mendefenisikannya sesuai dengan bidang kajian (objek materia)
ilmu yang digelutinya.[2] Membicarkan tentang manusia dalam pandangan ilmu
pengetahuan sangat tergantung pada metodologi yang digunakan dan terhadap
filosofis yang mendasari.
Para penganut teori behaviorisme menyabut manusia sebagai Homo
Mehanicus (manusia mesin). Menurut teori ini segala tingkah laku manusia
terbantuk sebagai hasil proses pembelajaran terhadap lingkungan.
Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai homo sapiens (manusia
berfikir). Menurut teori ini manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang
beraksi secara pasif pada lingkungan,tetapi sebagai makhluk yang selalu berfikir.
Sedangkan para penganut teori humanisme menyebut manusis ssebagai homo
ludens (manusia bermain). Menurut humanisme manusia berperilaku untuk
mempertahankan, meningkatkan dan mengatualisasikan diri.
Konsep manusia dalam Al-Qur’an dipahami dengan memperhatikan kata-kata
yang saling menunjuk pada makna manusia pada basyar,insan, dan al-anas.
Seperti yang telah dipaparkan sedikit diawal tadi. Basyar adalah makhluk yang
sekedar berada (being) yang statis seperti hewan.
Kata insan disebut dalam Al –Qur’an sebanyak 65 kali, Konsep insan selalu
dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk yang
berfikir,diberi ilmu,dan memikul amanah (Al-Ahzab : 72). Insan adalah manusia
yang menjadi (becoming) dan terus bergerak maju kearah kesempurnaan. Kata al-
anas disebut sebanyak 240 kali, Konsep al-anas menunjuk pada semua manusia
sebagai makhluk sosial atau kolektif.
Degan demikian Al-Qur’an memangdang manusia sebagai makhluk biologis,
psikologis, sosial. Manusia sebagai basyar tunduk kepada Allah,sama dengan
makhluk lain. Manusia sebagai insan dan al-anas bertalian dengan hembusan roh
Allah yang memiliki kebebasan dengan memilih untuk tunduk atau menentang
takdir Allah.

C. Eksistensi dan Martabat Manusia Dalam Islam

1. Pengertian Eksistensi martabat manusia


Bahwasanya manusia diciptakan kedunia ini oleh Allah melaui berbagai
rintangan tentunya tiada lain untuk mengabdi kepadaNya, sehingga dengan
segala kelebihan yang tidak dimiliki mahluk Allah lainya tentunya kita dapat
memanfaatkan bumi dan isinya untuk satu tujuan yaitu mengharapkan ridho dari
Allah SWT. dan dengan segala potensi diri masing-masing kita berusaha untuk
meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan kita sehingga dapat selamat Dunia dan
Akhirat.
“Dan aku tidak ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi
kepadaku” (Q.S. Adz-Dzariyaat : 56)
Ayat diatas tersebut merupakan dalil yang berkenaan tentang keberadaan
manusia di dunia. Manusia di dunia untuk mengabdi kepada Allah SWT. Bentuk
pengabdiannya tersebut berupa pengakuan atas keberadaan Allah SWT,
melaksanakan perintahNya serta menjauhi laranganNya. Sebagai bentuk
mengakui keberadaan Allah adalah dengan mengikuti Rukun Iman dan Rukun
Islam. Rukun Iman terdiri dari enam perkara, yakni percaya kepada Allah SWT,
Malaikat, Nabi-nabi Allah, Kitab-kitab Allah, percaya kepada Hari Kiamat dan
percaya terhadap Takdir (Qadha dan Qadar) Allah SWT. Sebagai wujud keimanan
terhadap Allah SWT, Allah SWT menyatakan bahwa manusia tidak cukup hanya
meyakini didalam hati dan diucapkan oleh mulut, tetapi manusia harus
melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Tujuan Penciptaan manusia
Sebagai bagian dari mengabdi kepada Allah SWT adalah menunaikan Rukun
Islam, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai karcis masuk Islam,
melakukan shalat, membayar zakat, melakukan puasa serta menunaikan ibadah
haji. Dengan demikian dapat disimpulkan keberadaan manusia diciptakan Allah
untuk menjadi manusia yang Islami (Islam yang benar). Menjadi Islam yang benar
adalah dengan mengerti, memahami dan melaksanakan dalam kehidupan apa yang
telah dilarangNya, dengan kata lain secara konsisten melaksanakan Rukun Iman
dan Rukun Islam.
Eksistensi manusia di dunia adalah sebagai tanda kekuasaan Allah SWT
terhadap hamba-hambaNya, bahwa dialah yang menciptakan, menghidupkan dan
menjaga kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan diciptakannya manusia
dalam konteks hubungan manusia dengan Allah SWT adalah dengan mengimani
Allah SWT dan memikirkan ciptaanNya untuk menambah keimanan dan
ketakwaan kepada Allah SWT. Sedangkan dalam konteks hubungan manusia
dengan manusia serta manusia dengan alam adalah untuk berbuat amal, yaitu
perbuatan baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap sesama manusia, serta
tidak merusak alam. Terkait dengan tujuan hidup manusia dengan manusia lain
dapat dijelaskan sebagai berikut :
 Tujuan Umum Adanya Manusia di Dunia
Dalam al-qur’an Q.S. Al-Anbiya ayat 107 yang artinya :
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk Rahmat bagi semesta
alam”
Ayat ini menerangkan tujuan manusia diciptakan oleh Allah SWT dan berada
didunia ini adalah untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Arti kata rahmat
adalah karunia, kasih sayang dan belas kasih. Jadi manusia sebagai rahmah adalah
manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk menebar dan memberikan kasih saying
kepada alam semesta.
 Tujuan Khusus Adanya Manusia di Dunia
Tujuan khusus adanya manusia di dunia adalah sukses di dunia dan di akhirat
dengan cara melaksanakan amal shaleh yang merupakan investasi pribadi manusia
sebagai individu. Allah berfirman dalam Q.S. An-Nahl ayat 97 yang artinya :
“Barang siapa mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya Allah SWT akan memberikan kepadanya
kehidupan yang baik dan akan diberi balasan kepada mereka dengan pahala yang
lebih baik dengan apa yang telah mereka kerjakan”.
 Tujuan Individu Dalam Keluarga
Manusia di dunia tidak hidup sendirian. Manusia merupakan makhluk sosial
yang mempunyai ifat hidup berkelompok dan saling membutuhkan satu sama
lain.. Hampir semua manusia, pada awalnya merupkan bgian dari anggota
kelompok sosial yang dinamakan keluarga. dalam Ilmu komunukasi dan sosiologi
kelurga merupakan bagian dari klasifikasi kelompak sosial dan termasuk dalam
small group atau kelompok terkecil di karnakan paling sedikit anggotanya terdiri
dari dua orang. Nanun keberadaan keluraga penting karena merupakan bentuk
khusus dalm kerangka sistem sosial secara keseluruhan. Small group seolah-olah
merupakan miniatur masyarakat yang juga memiliki pembagian kerja, kodo etik
pemerintahan, prestige, ideologi dan sebagainya. Dalam kaitannya dengan tujuan
individu daln keluarga adalah agar individu tersebut menemukan ketentraman,
kebahagian dan membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah. Manusia
diciptakan berpasang-pasangan. Oleh sebab utu, sudah wajar manusia baik laki-
laki dan perempuan membentuk keluarga. Tujuan manusia berkelurga menurut
Q.S. Al-Ruum ayat 21 yang artinya:
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-
istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram, dan dijadikan-Nya
diantara kamu rasa kasih sayang . Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat tanda-tanda bagi kaaum yang mau berfikir."
Tujuan hidup berkeluarga dari setiap manusia adalh supaya tentram. Untuk
menjadi keluarga yang tentram, Allah SWT memberikan rasa kasih sayang. Oleh
sebab itu, dalam kelurga harus dibangun rasa kasih sayang satu sama lain.
 Tujuan Individu Dalam Masyarakat
Setelah hidup berkeluarga, maka manusia mempunyai kebutuhan untuk
bermasyarakat. Tujuan hidup bermasyarakat adalah keberkahan dalam hidup yang
melimpah. Kecukupan kebutuhan hidup ini menyangkut kebutuhan fisik seperti
perumahan, makan, pakaian, kebutuhan sosial (bertetangga), kebutuhan rasa
aman, dan kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat mudah
diperoleh apabila masyarakat beriman dan bertakwa. Apabila masyarakat tidak
beriman dan bertakwa, maka Allah akan memberikan siksa dan jauh dari
keberkahan. Oleh sebab itu, apabila dalam suatu masyarakat ingin hidup damai
dan serba kecukupan, maka kita harus mengajak setiap anggota masyarakat untuk
memelihara iman dan takwa. Allah berfirman :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al-
Araaf : 96)
Pada dasarnya manusia memiliki dua hasrat atau keinginan pokok, yaitu:
a. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya yaitu
masyarakat
b. Keinginan untuk menjadi satu dengan suasan alam di sekelilingnya
Istilah masyarakat dalam Ilmu sosiologi adalah kumpulan individu yang
bertempat tinggal di suatu wilayah dengan batas-batastertntu, dimana factor
utama yang menjadi dasarnya adalh interaksi yang lebih besar diantara anggot-
anggotanya.
 Tujuan Individu Dalam Bernegara
Sebagai makhluk hidup yang selalu ingin berkembang menemukan jati diri
sebagai pribadi yang utuh, maka manusia harus hidup bermasyarakat/bersentuhan
dengan dunia sosial. Lebih dari itu manusia sebagai individu dari masyarakat
memiliki jangkauan yang lebih luas lagi yakni dalam kehidupan bernegara. Maka,
tujuan individu dalam bernegara adalah menjadi warganegara yang baik di dalam
lingkungan negara yang baik yaitu negara yang aman, nyaman serta makmur.
 Tujuan Individu Dalam Pergaulan Internasional
Setelah kehidupan bernegara, tidak dapat terlepas dari kehidupan
internasional / dunia luar. Dengan era globalisasi kita sebagai makhluk hidup yang
ingin tetap eksis, maka kita harus bersaing dengan ketat untuk menemukan jati
diri serta pengembangan kepribadian. Jadi tujuan individu dalam pergaulan
internasional adalah menjadi individu yang saling membantu dalam kebaikan dan
individu yang dapat membedakan mana yang baik dan buruk dalam dunia
globalisasi agar tidak kalah dan tersesat dalam percaturan dunia.
2. Fungsi dan Peran Manusia
Allah SWT berfirman bahwa fungsi dan peran manusia adalah sebagai
khalifah atau pemimpin di muka bumi. Allah berfirman dalam Q.S. 2 : 30 yang
artinya :
“Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya aku
hendak menjadikanmu sebagai khalifah di muka bumi”, mereka berkata :
“Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau?”. Allah berfirman :
“Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Dalam kamus Bahasa Indonesia, khalifah berarti pimpinan umat. Menjadi
pemimpin adalah fitrah setiap manusia. Namun karena satu dan lain hal, fitrah ini
tersembunyi, tercemar bahkan mungkin telah lama hilang. Akibatnya, banyak
orang yang merasa dirinya bukan pemimpin. Mereka telah lama menyerahkan
kendali hidupnya pada orang lain dan lingkungan sekitarnya. Mereka perlu
“dibangunkan” dan disadarkan akan besarnya potensi yang mereka miliki.
Kepemimpinan adalah suatu amanah yang diberikan Allah yang suatu ketika
nanti harus kita pertanggungjawabkan. Karena itu siapa pun anda, di mana pun
anda berada, anda adalah seorang pemimpin, minimal memimpin diri sendiri.
Kepemimpinan adalah mengenai diri sendiri. Kepemimpinan adalah perilaku kita
sehari-hari. Kepemimpinan berkaitan dengan hal-hal sederhana seperti berbakti
kepada orang tua, tidak berbohong, mengunjungi kawan yang sakit,
bersilahturahmi dengan tetangga, mendengar keluh kesah sahabat, dan
sebagainya.
Kepemimpinan (Leadership) adalah kemampuan dari seseorang (yaitu
pemimpin atau leader) untuk mempengaruhi orang lain (yaitu yang dipimpin atau
pengikut-pengikutnya), sehingga orang lain tersebut bertingkah laku sebagaimana
dikehendaki oleh pemimpin tersebut. Kadangkala dibedakan antara
kepemimpinan sebagai kedudukan dan kepemimpinan sebagai suatu proses sosial.
Sebagai kedudukan, kepemimpinan merupakan suatu kompleks dari hak-hak dan
kewajiban-kewajiban yang dapat dimiliki oleh seseorang atau suatu badan.
Sebagai suatu proses sosial, kepemimpinan meliputi segala tindakan yang
dilakukan seseorang atau suatu badan, yang menyebabkan gerak dari warga
masyarakat.
Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 58-59 yang artinya :
“Sesungguhnya Allah SWT menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang
berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan suatu hukum
diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman taatlah Allah
dan RasulNya, dan orang-orang yang memegang kekuasaan diantara kamu,
kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalilah kepada
Al-Qur’an dan Hadits. Jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya bagimu”.
Di dalam Surat An-Nisa ayat 58-59 tersebut dijelaskan kriteria pemerintahan
(kepemimpinan) yang baik, yaitu :
a. Pemerintah yang pemimpinnya menyampaikan amanat kepada yang berhak
dan berlaku adil.
b. Musyawarah pada setiap persoalan dan apabila terjadi perselisihan maka
hendaklah kembali kepada sumber hukum Islam.
c. Pemerintahan yang memiliki sifat kooperatif antara rakyat dan pemerintah,
rakyat harus patuh dan taat pada peraturan yang dibuat oleh pemerintah dalam
hal ini baik dan benar dan pemerintah harus benar-benar menjalankan
pemerintahan untuk kepentingan rakyat.
Setiap orang sebenarnya pemimpin. Setiap orang dapt mengatur dirinya
sendiri. Sayangnya, banyak yang tidak sadar akan kemampuannya tersebut. Maka
untuk menjadi sadar ada tiga hal yang perlu dilakukan agar kita semua sadar akan
kemampuan kita sebagai pemimpin, yaitu :
a. Memahami diri sendiri (Self Understanding)
Proses ini kita harus memahami dan mengenal diri kita. Untuk menjadi
pemimpin kita harus sadar siapakah kita sebenarnya. Nabi Muhammad SAW
bersabda :
"Siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya"
tanpa mengenali diri kita dengan benar ,maka sulit untuk menemukan makna
kehidupan hidup adalah sebuah perjalanan melingkar, kita harus tahu siapa kita
dan bagaimana kita seharusnya?
b. Kesadaran diri (Self Awareness)
Kesadran diri berarti sadar akan perasaan kita . Untuk menjadi pemompim
kita harus melek emosi dan kita harus mampu mengenali dan mengindentifikasi-
kan perasaan apapun yang sedang kita rasakan.
c. Pengendaalian diri (self Control)
Pengendalian diri berarti sadar sepenuhnya akan apa yang akak kita lakukan
Ini adalh hasil dari kecerdasan emosi yang tinggi. Pengendalian diri baru dapat
terlihat ketika situsi yang sulit dan melibatkan emosi, sebagai pemimpin kita harus
bisa mengendalikannya. Pemimpin yang mampu mengendalikan diri tidak akan
tergoda untuk melakukan dan memgambil sesuatu yang bukan haknya.
Pengendalian duru juga ditunjukkan oleh keberanian seseorang untuk membuat
komotmen dan melaksanakan komitmen tersebut.
3. Keunggulan dan potensi manusia
Potensi diri adalah kekuatan dari individu yang masih terpendam di dalam,
yang dapat di wujudkan menjadi suatu kekuatan nyata dalam kehidupan manusia.
Apabila pengrtian potensi diri dikaitkan dengan penciptaan manusias oleh Allah
SWT, maka potensi diri manusia adalah: kekutan manusia yang di berikan oleh
Alah SWT sejak dalm kandungan ibunya sampai akhir hayatnya yang masih
terpendam dalam dirinya , menunggu untuk diwujudkan menjadi sesuatu yang
bermanfaat dalam kehidupan diri manusia di dunia dan di akhirat sesuai dengan
tujuan diciptakannya manusia oleh Allah SWT untuk mengabdi kepadanya.
Potensi diri manusia terdiri dari potensi fisik yaitu tubuh manusia sebagai
sebuah sistem yang paling sempurna bila dibandingkan dengan makhlik Allah
lainnya seperti: binatang, jin, malaikat. Sedangkan potensi non fisik adalah hati,
ruh, indera dan akal pikiran. Potensi apapun yang dimiliki manusia masing-
masing memiliki fungsi dan perannya, oleh karenanya harus dimanfaatkan dngan
sebaik-baiknya agar dapat berguna bagi diri dan lingkungannya.
Secara umum manisia yang dilahirkan normal kedunia ini telah dilengkapi
dengan otak. Para ahli Psikologi sepakat bahwa otak manusia adalah sumber
kekuatan yang luar biasa. Tugas otak selain mengendalikan aktifitas fisik bagian
bagian didalam tubuh seperti ; paru-paru , jantung dan sebagainya. Juga berfungsi
sebagai untuk menghafal. Kegiatan-kegiatan yang memerlukan logika seperti :
berhitunh, menganalisa, bahasa. Aktivitas imajinasi, intuisi kreativitas, inovasi
dan sebagainya. Tugas otak melahirkan kegiatan berfikir yang pada gilirannya
dapat menghasilkan karya nyata. Jadi otak adalah sumber kekuatan manusia untuk
menghasilkan karya melalui proses berfikir

D. Tanggung Jawab Manusia Sebagai Hamba dan Khalifah Allah


SWT
1) Tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah SWT
Makna yang esensial dari kata abd’ (hamba) adalah ketaatan, ketundukan, dan
kepatuhan manusia hanya layak diberikan kepada Allah SWT yang dicerminkan
dalam ketaatan, kepatuhan dan ketundukan pada kebenaran dan keadilan, Oleh
karena itu, dalam al-quran dinyatakan dengan “quu anfusakun waahlikun naran”
(jagalah dirimu dan keluargamu dengan iman dari api neraka).
2) Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah Allah SWT.
Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat dan harus
dipertanggungjawabkan dihadapannya. Tugas hidup yang di muka bumi ini adalah
tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta
pengolaan dan pemeliharaan alam. Khalifah berarti wakil atau pengganti yang
memegang kekuasaan. Manusia menjadi khalifah memegang mandat tuhan untuk
mewujud kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan manusia bersifat
kreatif yang memungkinkan dirinya mengolah serta mendayagunakan apa yang
ada di muka bumi untuk kepentingan hidpnya. Oleh karena itu hidup manusia,
hidup seorang muslim akan dipenuhi dengan amaliah. Kerja keras yang tiada henti
sebab bekerja sebagai seorang muslim adalah membentuk amal saleh.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manusia ialah makhluk ciptaan Allah yang luar biasa. Pada hakekatnya,
manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna di bumi dengan segala
kelebihan akal, hati nurani dan daya pikir serta memiliki kemampuan untuk
mengelola segala macam karunia dari Allah di bumi ini. Akan tetapi manusia juga
sebagai makhluk social yang tidak di pungkiri dalam menjalankan kehidupannya
pasti memerlukan bantuan orang lain.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah tentunya harus tunduk dan patuh
terhadap segala peraturan Allah, menjalankan perintahNya dan menjahui segala
laranganNya. Karena pada dasarnya semua peraturan yang Allah ciptakan untuk
mengatur segala kehidupan bertujuan untuk menciptakkan kehidupan yang damai,
tentram dan membahagiakan.
Manusia dalam islam memiliki peran dan fungsi yaitu sebagai khalifah serta
tanggung jawab sebagai hamba Allah yang harus selalu tunduk kepadaNya dan
tanggung jawab sebagai khalifah.

B. Saran
Sebagai aktivitas akademik yang berpendidikan, sebaiknya mahasiswa
memahami pengertian hakikat manusia dan dapat menerapkan hakikat manusia
did dunia pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.makalah.co.id/2013/06/hakikat-manusia-menurut-islam.html

http://asnirasyid.blogspot.com/2013/10/makalah-agama-hakikat-manusia-
dalam_7.html

https://konsepblackbook.blogspot.com/2012/03/hakikat-manusia-menurut-
islam.html