Anda di halaman 1dari 24

BIAYA BERDASARKAN AKTIVITAS

Oleh
Kelompok I

1. NUR RAHMI C 301 17 041


2. NUR AFTITA C 301 17 047
3. INGRID MONIKA C 301 17 049
4. SALWA KATRUN NADA C 301 17 126
5. TRI NADA EKA ZAH C 301 17 126
6. MUTIARA PUTRI L C 301 17 138
7. HAIRUNNISA C 301 17 159
8. DEBI KUSNADI C 301 17 210
9. ENO FAHIRA C 301 17 318

PROGRAM STUDI EKONOMI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TADULAKO
2019

i
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa
memberikan nikmat-Nya yang tidak terhitung sehingga kami dapat menyelesaikan
tugas Makalah ini. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas (ABC) Dan Manajemen Berdasarkan
Aktivitas (ABM) yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber
informasi dan referensi. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai
rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang
lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para
mahasiswa.
Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna. Karenanya kami meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah
kami di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Palu, 25 Februari 2019

Penulis,

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i


KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang……............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 2
1.3 Tujuan Pembahasan.............................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN................................................................................ 4
2.1 Pengertian Activity Based Costing ( ABC ) ........................................... 4
2.2 Pengertian Activity Based Management (ABM)..................................... 8
2.3 Hubungan antara ABM dan ABC .......................................................... 9
2.4 Berbagai ukuran efisiensi aktivitas ........................................................ 10
1. Perhitungan Biaya Per Unit .............................................................. 16
2. Perhitungan Biaya Produk Berdasarkan Fungsi …............................ 17
3. Keterbatasan Sistem Akuntansi Biaya .............................................. 19
4. Perhitungan Biaya Produk Berdasarkan Aktivitas ............................ 20
5. Pengelompokan Aktivitas ................................................................. 21
6. Perhitungan Biaya Pelanggan dan Pemasok Berdasarkan Aktivitas 23
BAB III Kesimpulan .................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 26

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Untuk dapat mencapai kualitas produk yang baik dan sesuai dengan kebutuhan
pelanggan perusahaan harus mampu hanya menghasilkan produk yang sesuai dengan
keinginan pelanggan. Untuk mewujudkan perlu suatu filosofi untuk menghilangkan
pemborosan. Selain itu, usaha menghasilkan produk yang bermutu hanya dapat dicapai
bila proses bermutu dapat dicapai. Perbaikan-perbaikan yang dapat dilakukan
penghematan di berbagai bidang hanya dapat dilakukan dalam suatu proses yang
berlangsung panjang dan terus menerus dan berkesinambungan.

Metode ABC (Activity Based Costing ) merupakan system tive lain terhadap
metode pembiayaan tradisional atas biaya overhead. Konsep ini muncul karena
dianggap metode tradisional tidak tepat dalam mengalokasikan biaya overhead ke
produksi hanya dengan mengandalkan dasar bahan langsung, upah langsung ataupun
unit produksi saja. Menurut konsep ini pembebanan seperti itu tidak adil dan akan dapat
memberikan informasi keliru dalam pemberian informasi mengenai biaya produksi,
oleh karena itu ABC menawarkan agar pembebanan overhead ini juga didasarkan pada
presentase proporsional kepada biaya lain atau kepada produk. Tetapi kepada kegiatan
yang dilaksanakan untuk memproduksi barang itu, yang diperhatikan adalah system
yang men “drive” biaya itu (cost driver) bukan produknya. Kalau konsep ini diterapkan
maka keputusan yang diambil akan lebih tepat dan perusahaan tidak mengalami
kerugian hanya karena kesalahan unit cost.
Permintaan akan informasi akuntansi manajemen yang lebih akurat dan relevan
telah mengarah pada perkembangan manajemen berdasarkan aktivitas. Manajemen
berdasarkan aktivitas adalah suatu pendekatan di seluruh system dan terintegrasi, yang
memfokuskan perhatian manajemen pada berbagai aktivitas, dengan tujuan
meningkatkan nilai untuk pelanggan (customer value) dan laba sebagai hasilnya.
Manajemen berdasarkan aktivitas menekankan pada biaya berdasarkan
aktivitas/Activity Based Costing (ABC) dan analisis nilai proses. Biaya berdasarkan

1
aktivitas meningkatkan keakuratan mengalokasikan biaya dengan pertama-tama
menelusuri biaya berbagai aktivitas, dan kemudian sampai pada produk atau pelanggan
yang menggunakan berbagai aktivitas tersebut. Analisis nilai proses, di lain pihak,
menekankan pada analisis aktivitas, yaitu mencoba untuk menetapkan mengapa
melakukan aktivitas yang diperlukan secara lebih efisien, dan untuk menghapus
aktivitas yang tidak memberikan nilai bagi pelanggan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas maka berikut rumusan


masalah yang dapat ditarik yaitu :
1. Bagaimana Perhitungan Biaya Per unit
2. Bagaimana Perhitungan Biaya Produk Berdasarkan Fungsi
3. Apa Keterbatasan Sistem Akuntasi Biaya
4. Bagaimana Perhitungan Biaya Produk Berdasarkan Aktivitas
5. Bagaimana Pengelompokan Aktivitas
6. Bagaimana Perhitungan Biaya Pelanggan dan Pemasok Berdasarkan Aktivitas

1.3 Tujuan Pembahasan

a. Untuk mengetahui bagaimana menghitung biaya per unit


b. Untuk mengetahui perhitungan biaya produk berdasarkan fungsinya
c. Untuk mengetahui keterbatasan sistem akuntasi biaya
d. Untuk mengetahui perhitungan biaya produk berdasarkan aktivitas
e. Untuk mengetahui pengelompokan aktivitas
f. Untuk mengetahui perhitungan biaya pelanggan dan pemasok berdasarkan aktivitas

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Activity Based Costing ( ABC )

Sebelum mengetahui apa itu yang dimaksud dengan Activity Based Costing
(ABC), telebih dahulu kita mengenal istilah-istilah yang disebut dengan aktivitas,
sumber daya, objek biaya, cost poll, elemen biaya, dan cost driver.

Aktivitas merupakan tindakan, gerakan, atau rangkaian dari suatu pekerjaan


yang dilakukan. Aktivitas juga dapat diartikan sebagai kumpulan dari tindakan yang
dilakukan dalam organisasi yang berguna untuk tujuan penentuan biaya berdasarkan
aktivitas yang ada. Misalnya pemindahan bahan merupakan suatu aktivitas dari
pergudangan.
Sumber daya merupakan unsur yang dibebankan atau yang digunakan dalam
pelaksaan suatu aktivitas. Misalnya : gaji dan bahan merupakan sumber daya yang
digunakan untuk melakukan suatu aktivitas.
Objek biaya merupakan bentuk akhir dimana pengukuran biaya itu diperlukan.
Misalnya, pelanggan, produk, jasa, kontrak , atau unit kerja lainnya dimana manajemen
menginginkan pengukuran biaya secara terpisah merupakan objek biaya.
Elemen biaya merupakan jumlah yang dibayarkan untuk sumber daya yang
dikonsumsi aktvitas dan yang terkandung di dalam cost poll. Misalnya untuk hal-hal
yang berkaitan dengan mesin mungkin mengandung elemen biaya untuk tenaga,
elemen biaya teknik, dan elemen biaya depresiasi.
Cost driver merupakan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan biaya
aktivitas, juga merupakan faktor yang dapat diukur yang dapat digunakan untuk
membebankan biaya ke aktivitas dan dari aktivitas ke aktivitas lainnya, produk atau
jasa. Ada dua jenis cost driver, yaitu
1. Driver sumber daya adalah ukuran kuantitas sumber daya yang dikonsumsi oleh
aktivitas. Driver sumber daya ini digunakan untuk membebankan biaya sumber
daya yang dikonsumsi oleh aktivitas ke cost poll tertentu. Contohnya adalah
presentase dari luas total yang digunakan oleh suatu aktivitas.

3
2. Driver aktivitas adalah ukuran frekuensi dan intensitas permintaan terhadap suatu
aktivitas terhadap objek biaya. Driver aktivitas digunakan untu membebankan
biaya dari cost poll ke objek biaya. Contohnya, jumlah suku cadang yang berbeda
yang digunakan dalam produk akhir untuk mengukur konsumsi aktivitas
penanganan bahan untuk setiap produk.
Activity Based Costing adalah metode pembebanan aktivitas-aktivitas
berdasarkan besarnya pemakaian sumber daya, dan membebankan biaya pada objek
biaya, seperti produk atau pelanggan, berdasarkan besarnya aktivitas, serta untuk
mengukur biaya dan kinerja dari aktivitas yang terkait dengan proses dan objek biaya.
Pengertian mendasar dari sistem ABC adalah adanya analisa terhadap keseluruhan
aktivitas-aktivitas yang bertujuan untuk mengidentifikasi adanya hal-hal sebagai
berikut :
a. Aktivitas yang ada dalam tiap-tiap dapartemen dan sebab timbulnya aktivitas
b. Dalam kondisi yang bagaimana setiap aktivitas tersebut dilaksanakan.
c. Bagaimana frekuensi masing-masing aktivitas dalam pelaksanaannya.
d. Sumber-sumber yang dikonsumsi untuk melakasanakan masing-masing aktivitas.
e. Faktor-faktor apa yang menjadi penyebab timbulnya aktivitas tersebut atau
pembenahan atas sumber daya yang dimiliki perusahaan.
Dalam Activity Based Costing (ABC) semua biaya dibebankan ke produk yang
menimbulkan aktivitas atau apabila ada alasan yang mendasar bahwa biaya tersebut
dipengaruhi oleh produk yang dibuat, baik biaya produksi, maupun biaya non-
produksi. ABC atau penentu harga pokok produk berbasis aktivitas merupakan sistem
informasi tentang pekerjaan atau kegiatan yang mengkonsumsi sumber daya dan
menghasilkan nilai bagi konsumen. Defenisi lain ABC adalah suatu informasi yang
dapat menyajikan secara akurat dan tepat waktu mnegenai pekerjaan atau aktvitas yang
mengkonsumsi sumber biaya aktivitas untuk mencapai tujuan pekerjaan produk dan
pelanggan. ABC dirancang untuk mengukur harga pokok produk melalui aktivitas-
aktivitas. Biaya-biaya akan diukur dari aktivitas ke produk berdasarkan permintaan
tiap-tiap produk terhadap aktivitas selama proses produksi, sehingga biaya yang timbul
masing-masing jenis produk akan terlihat lebih jelas. Sistem tersebut menerapkan

4
sistem akuntansi aktivitas untuk menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang
lebih akurat.
Alokasi Biaya Secara tradisional, akuntan membebankan biaya kepada produk
hanya berpedoman pada banyak sedikitnya jumlah unit yang dihasilkan sebagai satu-
satunya faktor yang menyebabkan biaya dan aktivitas muncul. Akuntan menggunakan
volume related cost driver untuk membebankan biaya. Setelah ditelusuri ternyata
beberapa biaya dan aktivitas yang muncul bukan dipicu oleh jumlah unit yang
diproduksi sehingga tidak semua biaya overhead yang muncul dipicu oleh jumlah unit
yang diproduksi. Dalam hal ini akuntan harus mengetahui dasar apa yang bisa
digunakan untuk mengalokasikan biaya atas aktivitas dan mengetahui cost driver yang
rasional (Cost Driver merupakan faktor-faktor yang menimbulkan timbulnya biaya).
Dalam ABC, proses identifikasi aktivitas merupakan salah satu bagian yang penting
dari tahapan tahapan pembebanan biaya overhead pabrik.
Tahap pertama pada identifikasi aktivitas, aktivitas yang luas dikelompokkan
ke dalam 4 kategori aktivitas, yaitu :
1. Unit Level Activities
Berupa aktivitas atau kegiatan yang dilakukan yang dilakukan sekali untuk
setiap unit sehingga biaya produk yang berhubungan dengan aktivitas yang dibebankan
berdasarkan jumlah unit yang diproduksi. Misalnya : jam tenaga kerja langsung.
Semakin banyak jumlah unit yang diproduksi maka semakin banyak juga tenaga kerja
langsung dibutuhkan.
2. Bacth Level Activity
Berupa ativitas atau kegiatan yang dilakukan untuk mendukung produksi
sejumlah order tertentu (batch). Aktivitas ini dilakukan sekali untuk setiap batch
sehingga biaya produksi yang berhubungan dengan aktivitas ini dibebankan berdasrkan
jumlah batch yang diproduksi misalnya : biaya set-up mesin. Semakin banyak unit yang
diproduksi tidak mempengaruhi biaya pada aktivitas set-up, tetapi semakin sering set-
up dilakukan maka semakin besar pula biaya set-up mesin.

3. Product Sustaining Activities

5
Berupa aktivitas atau kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan
eksistensi suatu produk, pemeliharaan produk, pengembangan produk dan inovasi
produk. Beban biaya yang terjadi pada aktivitas ini dapat ditelusuri pada setiap jenis
produk yang dihasilkan, tetapi sumber daya yang dikonsumsi tidak tergantung pada
jumlah unit ataupun batch dari produk yang dihasilkan perusahaan. Semakin banyak
jenis produk yang dihasilkan maka semakin sering aktivitas ini dilakukan sehingga
semakin besar biaya yang dibutuhkannya.
4. Facility Sustaining Activities.
Berupa aktivitas atau kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi
perusahaan, seperti pemasaran, sumber daya manusia, pengembangan sistem,
pemeliharaan fasilitas dan lain- lain. Tetapi aktivitas ini tidak berhubungan dengan
jumlah produk, batch maupun jenis produk. Sedangkan pada saat melakukan
pembebanan biaya dari tiap kelompok tersebut, biaya yang muncul tersebut
diklasifikasikan sesuai dengan kelompok aktivitasnya, sehingga dalam membebankan
biaya sistem ABC dapat digambarkan dengan dua tahapan, yaitu :
a. Aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi keinginan customer mengkonsumsi
sumber daya dalam sejumlah uang tertentu.
b. Biaya setiap sumber daya yang dikonsumsi oleh setiap aktivitas harus dibebankan
objek biaya atas dasar unit aktivitas yang dikonsumsi oleh objek biaya itu sendiri.
2.2 Pengertian Activity Based Managenent (ABM)
ABM merupakan suatu konsep yang mengerahkan perhatian pada konsumsi
sumber daya terhadap aktivitas yang dilakukan oleh suatu perusahaan, sehingga untuk
dapat mengetahui bagaimana suatu perusahaan menggunakan sumber dayanya, maka
terlebih dahulu haruslah dipahami mengenai aktivitas-aktivtas apa sajakah yang telah
terjadi didalam perusahaan tersebut. Aktivitas-aktivitas tersebut merupakan aktivitas
yang telah mengkonsumsi sumber daya melalui pengidentifikasian pemicu biayanya
dimana biaya-biaya ini timbul karena dilaksanakannya aktivitas-aktivitas tersebut.

Pengertian dan pemahaman yang baik mengenai berbagai aktivitas yang telah
dilaksanakan akan dapat memberikan pandangan yang baik tentang bagaimana
menggunakan, mengelola, dan mengendalikan sumber daya perusahaan, dan dapat pula
digunakan untuk mengetahui peluang yang ada untuk meningkatkan kinerja

6
perusahaan serta memberi pedoman yang baik untuk menilai kinerja tersebut dalam
rangka untuk mendukung perbaikan berkesinambungan.

Activity Based Management merupakan pendekatan yang terintegrasi yang


memfokuskan perhatian manajemen pada aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan
nilai yang diterima oleh pelanggan dan meningkatkan laba perusahaan melalau
penyediaan nilai pelanggan tersebut dengan menggunakan informasi yang diperoleh
dari Activity Based System, dimana antara ABM dan ABC saling berkaitan satu sama
lain.

2.3 Hubungan antara ABM dan ABC

Manajemen Activity Based Costing (ABC) membutuhkan informasi yang


berkualitas tinggi dengan tepat waktu, yang berhubungan dengan pekerjaan yang
dilakukan atau activity dan sasaran pekerjaan itu sendiri atau produk dan customer agar
dicapai apa yang disebut dengan continues improvement atau perbaikan yang
berkesinambungan. Setelah manajer mempunyai informasi akurat dan tepat waktu,
manajer akan menggunakan informasi tersebut untuk menetapkan strategi yang tepat,
mendesign ulang produk dan menekan pemborosan-pemborosan yang terdapat pada
aktifitas operasi dengan menggunakan cara-cara yang digunakan pada sistem ABC ini
agar dicapai suatu perbaikan yang disebut Activity Based Managemen (ABM).

Hubungan ABC dengan ABM terjadi karena ABM membutuhkan informasi


dari ABC untuk melakukan analisis yang berhubungan dengan perbaikan yang
berkesinambungan ABM untuk standar pemasaran. Biaya pemasaran adalah biaya
yang timbul karena terjadinya pertukaran dantara perusahaan dengan konsumen.

Berbagai ukuran efisiensi aktivitas

1. Aktivitas Bernilai Tambah (Value Added Activity) Aktivitas bernilai tambah


adalah aktivitas yang harus dilaksanakan dalam proses bisnis atau menciptakan
nilai yang dapat memuaskan para konsumennya (Supriyono, 1999: 377). Aktivitas
ini jika dieliminasi akan mengurangi pelayanan produk kepada konsumen dalam
jangka panjang. Artinya, apabila perusahaan mengeliminasi aktivitas ini maka kecil
kemungkinan perusahaan dapat bertahan karena produk yang dihasilkan tidak dapat

7
memuaskan pelanggan lagi, sehingga banyak pelanggan tidak akan membeli atau
mengkonsumsi produk perusahaan tersebut dan akan menyebabkan kekalahan
dalam persaingan di dalam pasar.. Aktivitas dapat disebut aktivits bernilai tambah
apabila secara bersamaan memenuhi ketiga kondisi berikut ini (Hansen dan
Mowen, 2004: 489):
1. Aktivitas yang menghasilkan perubahan
2. Perubahan tersebut tidak dapat dicapai oleh aktivitas sebelumnya, dan
3. Aktivitas tersebut memungkinkan aktivitas lain untuk dilakukan

aktivitas bernilai tambah adalah suatu aktivitas yang berkontribusi terhadap


pelanggan (customer value) dan kepuasan pelanggan (customer satisfaction) atau
memuaskan kebutuhan organisasi. Yang dimaksud dengan nilai pelanggan adalah
selisih antara pengorbanan yang dilakukan oleh pemakai dan manfaat yang
diterima bagi perusahaan. Jadi ini memberikan pengertian bahwa perusahaan ingin
memberikan timbal balik kepada pelanggan dengan memberikan kepuasan kepada
pelanggan karena mau mengorbankan sesuatu untuk mengkonsumsikan hasil
produksi dari perusahaan sehingga perusahaan mendapatkan manfaatnya.

2. Aktivitas Tidak Bernilai Tambah (Non Value Added Activity) Menurut Hansen
dan Mowen (2004: 490) : “ Aktivitas tidak bernilai tambah adalah aktivitas yang
dapat dikurangi biayanya tanpa mengurangi pelayanan produsen kepada konsumen,
sehingga perusahaan tetap dapat memuaskan pelayanan walaupun menghilangkan
aktivitas ini karena tidak akan berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan. Selain
itu, aktivitas tidak bernilai tambah juga mempunyai arti.”Menurut Supriyono
(2004: 377): “aktivitas tidak bernilai tambah adalah aktivitas – aktivitas yang tidak
perlu atau aktivitas – aktivitas yang perlu namun tidak dilaksanakan secara efisien
dan dapat disempurnakan.”
Berdasarkan beberapa definisi aktivitas tidak bernilai tambah tersebut,tentunya
perusahaan berusaha untuk mengeleminasi aktivitas tidak bernilai tambah karena
hanya menambah biaya yang tidak berguna dan menghalangi kinerja penuh.
Perusahaan juga bekerja keras untuk mengoptimalkan aktivitas yang bernilai
tambah. Suatu aktivitas dapat dikategorikan sebagai aktivitas tidak bernilai tambah

8
apabila aktivitas tersebut tidak memenuhi satu dari ketiga kondisi kriteria aktivitas
bernilai tambah yang telah disebutkan sebelumnya. Perusahaan mengklasifikasikan
aktivitas bernilai tambah dan aktivitas tidak bernilai tambah dengan tujuan supaya
biaya perusahaan dapat diminimumkan dengan mengeleminasi biaya yang telah
terjadi karena aktivitas tidak bernilai tambah yang tidak dieliminasi secara otomatis
akan menyebabkan meningkatnya biaya produksi pada perusahaan.
Suatu aktivitas tidak bernilai tambah tidak mempunyai kontribusi pada customer
value atau terhadap kebutuhan – kebutuhan organisasi. Dalam operasional
manufaktur, ada lima aktivitas utama yang sering disebut sebagai suatu yang sia –
sia dan tidak perlu (Hansen dan Mowen, 2004: 491):
1. Penjadwalan
Penjadwalan adalah suatu aktivitas yang menggunakan waktu dan sumber daya
untuk menentukan kapan produk yang berbeda memiliki akses untuk
pemrosesan (atau kapan dan berapa banyak persiapan harus dilakukan) dan
berapa banyak akan diproduksi.
2. Pemindahan
Pemindahan adalah suatu aktivitas yang mengunakan waktu dan sumber daya
untuk memindahkan bahan, barang dalam proses dan barang jadi dari satu
departemen ke departemen lainnya.
3. Penantian
Penantian adalah suatu aktivitas di mana suatu bahan atau barang dalam proses
menggunakan waktu dan sumber daya dengan menunggu proses selanjutnya.
4. Pengawasan
Pengawasan adalah suatu aktivitas di mana waktu dan sumber daya dikeluarkan
untuk memastikan bahwa produk memunuhi spesifikasi.
5. Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu aktivitas yang menggunakan waktu dan sumber
daya ketika suatu barang atau bahan disimpan dalam persediaan.

3. Benchmarking

9
Benchmarking merupakan penggunaan praktik terbaik sebagai standar untuk
mengukur kinerja aktivitas. Praktik terbaik dapat berasal dari dalam perusahaan
maupun dari perusahaan lain dalam industry. Apabila praktik terbaik berasal dari dalam
perusahaan, aktivitas unit tertentu yang dipandang terbaik ditetapkan sebagai standar,
dan aktivitas yang sama di dalam unit organisasi lain menjadikan standar tersebut
sebagai acuan kinerja aktivitas.

Sebagai contoh, misalnya dalam aktivitas pembelian akan diukur kinerjanya


berdasarkan benchmark yang diterapkan berdasarkan persatuan transaksi pembelian
yang dilaksanakan oleh fungsi pembelian. Jumlah transaksi pembelian (yang terdapat
dalam dokumen surat order pembeliaan) merupakan ukuran kinerja aktivitas
pembelian. Misalnya biaya fungsi pembelian unit organisasi tertentu (yang dipandang
terbaik aktivitas pembeliannya) dianggarkan untuk tahun anggaran tertentu sebesar Rp
250.000 dan transaksi pembeliaan diperkirakan sebanyak 50 kali. Dengan demikian,
setiap surat order pembeliaan yang dibuat oleh fungsi pembelian tersebut memerlukan
biaya Rp 5.000 per surat order pembelian sebagai benchmark. Apabila terdapat
organisasi yang masih mengkonsumsi biaya per satuan surat order pembelian sebesar
Rp 6.000, pihak manajemen organisasi tersebut perlu merancang untuk melakukan
improvement terhadapaktivitas pembelian di organisasinya.

Dengan melakukan benchmarking, unit organisasi dapat memperoleh praktik


terbaik dan standar ini dapat digunakan untuk memotivasi improvement terhadap
aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan nilai bagi customer.

Dimensi Activity Based Management Manajemen berdasarkan aktivitas


memiliki dua dimensi yaitu sebagai berikut :

a. Dimensi biaya (cost dimension)


memberikan informasi biaya mengenai sumberdaya, aktivitas, produk dan
pelanggan (serta biaya-biaya lain yang diperlukan), dimana biaya-biaya sumber
daya dapat ditelusuri ke aktivitas- aktivitas dan kemudian di aktivitas tersebut
dibebankan ke pelanggan. Dengan demikian, dimensi ini merefleksikan kebutuhan
untuk membagi sumber daya biaya terhadap aktivitas dan biaya aktivitas terhadap
objek biaya seperti pelanggan dan produk agar dapat menganalisis keputusan

10
critical. Keputusan tersebut termasuk penetapan harga, pengadaan produk dan
penetapan prioritas untuk usaha perbaikan.
b. Dimensi Proses (Process dimension)
Memberikan informasi mengenai aktivitas apa saja yang dilaksanakan, mengapa
aktivitas tersebut dilaksanakan dan seberapa baik pelaksanaannya. Dimensi ini
menjelaskan mengenai akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas dan
lebih memfokuskan pertanggung jawaban aktivitas bukan pada biaya, dan
menekankan pada maksimalisasi kinerja sistem secara menyeluruh bukan pada
kinerja secara individu. Dengan demikian dimensi ini merefleksikan kebutuhan
untuk suatu kategori informasi yang baru mengenai kinerja aktivitas. Informasi ini
menunjukkan apa yang menyebabkan pemicu biaya dan bagaimana pengukuran
kinerjanya.

Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan Activity Based Management


adalah :

a. Budaya organisasi Mencerminkan kerangka berfikir dari karyawan termasuk


perilaku, nilai, keyakinan yang dianut karyawan. Budaya organisasi menunjukkan
keterlibatan, kerja sama, serta partisipasi yang tinggi dari seluruh karyawan.
Budaya organisasi sangatlah mendukung keberhasilan dari penerapan ABM di
suatu organisasi.
b. Top Management Support and Commitment Penerapan suatu sitem manajemen
biaya yang baru seperti ABM dan ABC membutuhkan waktu dan sumber daya,
oleh karena itu dukungan dan peran serta top manajer sangatlah diperlukan untuk
keberhasilan penerapannya
c. Change Process Perubahan bisa terjadi apabila diterapkannya suatu proses yang
sudah dirancang menghasilkan perubahan tersebut. Perbaikan dari proses yang
sudah ada sangatlah mendukung keberhasilan penerapannya. Elemen-elemen dari
proses diantaranya daftar dari aktivitas, sekumpulan tujuan, dan tingkatan lanjutan.
d. Continuing Education Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengikuti
pelatihan serta meningkatkan keahlian mereka terhadap lingkungan kerja yang

11
cepat sangatlah penting. Keberhasilan penerapan dari program manajemen biaya
yang baru membutuhkan keahlian, peran serta dan kerjasama dari karyawan suatu
organisasi.

Berdasarkan pengertian diatas maka pembahasan selanjutnya adalah :

1. PERHITUNG BIAYA PER UNIT


Perhitungan biaya berdasarkan fungsi dan aktivitas membebankan biaya pada
objek biaya seperti produk, pelanggan, pemasok, bahan baku, dan jalur pemasaran.
Ketika biaya dibebankan kepada objek biaya, biaya perunit dihitung dengan membagi
biaya total yang dibebankan dengan jumlah unit dari objek biaya tertentu. Biaya perunit
adalah total biaya yang berkaitan dengan unit yang diproduksi dibagi dengan jumlah
unit yang diproduksi.

Biaya produksi yaitu jumlah dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung
dan overhead produksi. Jumlah biaya produksi harus diukur selanjutnya harus dapat
dikaitkan dengan unit yang diproduksi.
Pengukuran biaya ( cost measurement ) meliputi :
- jumlah dolar ( uang yang dikeluarkan ) dari bahan baku langsung,
- tenaga kerja langsung dan
- overhead yang digunakan produksi.

Nilai biayanya dapat berupa biaya aktual yang dibebankan pada input produksi
atau berupa angka perkiraan yang nantinya akan digunakan untuk memastikan
ketepatan waktu informasi biaya untuk pengendalian biaya.

Proses menghubungkan biaya dengan unit yang diproduksi setelah diukur


disebut pembebanan biaya ( cost assigment ).

Pentingnya Biaya Perunit


Biaya perunit adalah bagian penting dari informasi bagi perusahaan
manufaktur. Biasanya digunakan sebagai dasar penawaran maupun pembuatan
keputusan untuk menerima pesanan, membeli atau bahkan membuat pesanan suatu

12
produk. Keakuratan biaya perunit sangatlah penting dan distorsi biaya produksi perunit
tidak dapat diterima.

Cara Mendapatkan Informasi Biaya Perunit


Ada dua cara untuk mendapatkan informasi biaya perunit yaitu
1. Perhitungan Biaya Aktual.
Membebankan biaya aktual bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan
overhead pada produk. Kelemahannya tidak dapat menyediakan biaya perunit yang
akurat secara tepat waktu
2. Perhitungan Biaya Normal
Membebankan biaya aktual bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung
sedangkan overhead dibebankan dengan menggunakan tarif perkiraan. Tarif
perkiraan overhead adalah tarif yang didasarkan pada data yang diperkirakan dan
dihitung dengan rumus berikut :

Biaya yang diperkirakan


Tarif Perkiraan Overhead =
Penggunaan aktivitas yang diperkirakan

2. PERHITUNGAN BIAYA PRODUK BERDASARKAN FUNGSI


Perhitungan biaya produk berdasarkan fungsi membebankan biaya dari bahan
baku langsung dan tenaga kerja langsung ke produk dengan menggunakan penelusuran
langsung. Secara spesifik, perhitungan biaya berdasarkan fungsi menggunakan
penggerak aktivitas tingkat unit untuk membebankan biaya ovehead ke produk.
Penggerak aktivitas tingkat unit adalah faktor yang menyebabkan perubahan dalam
biaya seiring dengan perubahan jumlah unit yang diproduksi.
Contoh dari penggerak tingkat unit : Unit yang diproduksi ; Jam tenaga kerja
langsung ; Biaya tenaga kerja langsung ; Jam mesin ; Biaya bahan baku langsung.
Langkah selanjutnya adalah menentukan kapsitas aktivitas yang diukur penggerak :

13
1. Kapasitas aktivitas yang : Output aktivitas yang diharapkan perusahaan
diharapkan dapat tercapai pada tahun yang akan datang.
2. Kapasitas aktivitas normal : Output aktivitas rata-rata perusahaan alami
dalam jangka panjang
3. Kapasitas aktivitas teoritis : Output aktivitas maksimum secara absolut
yang dapat direalisasikan dengan berasumsi
bahwa semua beroperasi sempurna
4. Kapasitas aktivitas praktis : Output maksimum yang dapat diwujudkan jika
semuanya berjalan dengan efisien.

Tarif Keseluruhan Pabrik


Perhitungan ini terdiri dari dua tahap, pertama, biaya overhead yang dianggarkan akan
diakumulasi menjadi satu kesatuan untuk keseluruhan pabrik. Terakhir, biaya overhead
dibebankan ke produk, melalui cara mengalikan tarif tersebut dengan jumlah total jam
tenaga kerja langsung aktual yang digunakan masing-masing produk.
Overhead yang dibebankan adalah jumlah total overhead yang dibebankan ke produksi
aktual pada titik tertentu dalam suatu waktu.
Rumus :
Overhead yang dibebankan = Tarif Overhead x Output aktivitas aktual

Perbedaan antara overhead aktual dan overhead yang dibebankan disebut variasi
overhead. Jadi kemungkinan akan tercipta overhead yang terlalu rendah dibebankan
(underapplied overhead) atau ovehead yang terlalu tinggi dibebankan (overapplied
overhead).
Biaya per unit dihitung dengan menjumlahkan total biaya utama produk ke biaya
overhead yang dibebankan, dan kemudian membagi biaya total ini dengan unit yang
diproduksi.

Tarif Departemen

14
Ada 2 tahap bagi tarif overhead departemen. Pada tahap pertama, biaya overhead
keseluruhan pabrik dibagi dan dibebankan ke tiap departeman produksi, dan
membentuk kesatuan biaya overhead departemen.
Selanjutnya, pada tahap kedua, overhead dibebankan ke produk dengan mengkalikan
tarif departemen dengan jumlah penggerak yang digunakan dalam departemen terkait.
Total overhead yang dibebankan ke produk secara sederhana adalah jumlah dari
banyaknya overhead yang dibebankan dalam setiap departemen.
Overhead yang dibebankan adalah total dari banyaknya overhead yang dibebankan
dalam tiap deprtemen.

3. KETERBATASAN SISTEM AKUNTANSI BIAYA


Apabila perusahaan yang beroperasi dalam lingkungan yang kompetitif
mengadaptasi strategi baru untuk mencapai kesempurnaan dalam bersaing, sistem
akuntasi biaya mereka sering kali harus berubah agar dapat sejalan.
Sering kali organisasi mengalami gejala tertentu yang menunjukkan bahwa
sistem akuntansi biaya mereka telah ketinggalan jaman. Contoh gejala sistem biaya
yang ketinggalan jaman : hasil dari penawaran sulit dijelaskan, harga pesaing tampak
tidak wajar rendahnya ; margin laba sulit untuk dijelaskan. ; produk yang sulit
diproduksi menunjukka laba yang tinggi ; pelanggan tidak mengeluh atas naiknya
harga.
Biaya Overhead yang tidak berkaitan dengan Unit.
Dengan hanya menggunakan penggerak biaya aktivitas berdasarkan unit untuk
membebankan biaya ovehead yang tidak berkaitan dengan unit, akan menciptakan
distorsi banyak produk. Tingkat keparahannya tergantung pada berapa proporsi
keseluruhan biaya overhead yang ditunjuk oleh biaya tingkat non unit ini.

Keanekaragaman Produk
Keanearagaman produk berarti bahwa produk mengkonsumsi aktivitas
overhead dalam proporsi yang berbeda – beda. Proporsi setiap aktivitas yang
dikonsumsi oleh suatu produk didefinisikan sebagai rasio konsumsi.

15
4. PERHITUNGAN BIAYA PRODUK BERDASARKAN AKTIVITAS
Pembebanan overhead tradisional melibatkan dua tahap : pertama, baya
overhead dibebankan ke unit organisasi (pabrik atau departemen) dan kedua, biaya
overhead kemudian dibebankan ke produk. Seperti dalam sistem biaya berdasarkan
aktivitas, pertama-tama menelusuri biaya aktivitas dan kemudian produk. Akan tetapi,
dalam sistem biaya ABC menekankan penelusuran langsung dan penelusuran
penggerak (menekankan hubungan sebab-akibat), sedangkan sisem biaya tradisional
cenderung intensif lokasi (sangat mengabaikan hubungan sebab-akibat)
Pengidentifikasian Aktivitas dan Atributnya
Kamus aktivitas mendaftar aktivitas-aktivitas dalam sebuah organisasi
bersamaan dengan atribut aktivitas yang penting. Atribut aktivitas adalah informasi
keuangan dan non keuangan yang menggambarkan aktivitas individual.
Aktivitas primer adalah aktivitas yang dikonsumsi produk atau pelanggan
Aktivitas sekunder adalah aktivitas yang dikonsumsi oleh aktivitas primer.

Pembebanan Biaya ke Aktivitas


Begitu aktivitas diidentifikasikan dan dijelaskkan, tugas berikunya adalah
menentukan berap banyak biaya untuk melakukan tiap aktivitas. Hal ini membutuhkan
identifikasi sumber daya yang dikonsumsi oleh tiap aktivitas. Penggerak sumber daya
adalah faktor-faktor yang mengukur pemakaian sumber daya oleh aktivitas.

Pembebanan Biaya Aktivitas pada Aktivitas Lain.


Pembebanan biaya pada aktivitas menlengkapi tahap awal perhitungan biaya
berdasarkan aktivitas. Pada tahap berikutnya, aktivitas diklasifikasikan sebagai primer
dan sekunder. Jika terdapat aktivitas sekunder, maka tahap berikutnya muncul. Pada
tahap berikutnya, biaya aktivitas sekunder dibebankan pada aktivitas-aktivitas yang
memakai outputnya.

Pembebanan Biaya Pada Produk


Setelah biaya dari aktivitas primer ditentukan, maka biaya tersebut dapat
dibebankan pada produk dalam suau proporsi sesuai dengn aktivitas penggunaannya,

16
seperti dengan diukur oleh penggerak aktivitas. Pembebanan ini diselesaikan dengan
penghitungan suatu tarif aktivitas yang ditentukan terlebih dahulu dan menglikan tarif
ini dengan penggunaan aktual aktivitas.

5. PENGELOMPOKAN AKTIVITAS
Pembebanan biaya pada aktivitas lain (tahap lanjutan atau pembebanan biaya
pada produk dan pelanggan (tahap akhir) membutuhkan penggunaan tarif aktivitas.
Pada prinsipnya terdapat tarif aktivitas yang dihitung untuk tiap aktivitas.
Proses Mengurangi Jumlah Tarif
Pengelompokan overhead didasarkan pada : mereka secara logis berhubungan
dan mereka meiliki rasio konsumsi yang sama terhadap semua produk. Kumpulan dari
biaya overhead yang berhubungan dengan masing-masing kelompok aktivitas disebut
kesatuan biaya sejenis.

Klasifikasi Secara Rinci Aktivitas


Pada pembentukan kumpulan aktivitas yang berhubungan, aktivitas
diklasifikasikan menjadi salah satu dari 4 kategori umum aktivitas berikut :

1. Tingkat unit, adalah adalah aktivitas yang dilakukan setiap ali suatu unit
diproduksi.
2. Tingkat batch, adalah aktivitas yang dilakukan setiap suatu batch produk
diproduksi.
3. Tingkat Produk, adalah aktivitas yang dilakukan bila diperlukan untuk mendukung
berbagai produk yang diproduksi oleh perusahaan.
4. Tingkat fasilitas, adalah aktivitas yang menopang proses umum produksi suatu
pabrik.

Perbandingan dengan Perhitungan Biaya Berdasarkan Fungsi


Sistem berdasarkan aktivitas memperbaiki keakuratan perhitungan biaya
produk dengan mengakui bahwa banyak dari biaya overhead tetap, ternyata bervariasi
secara proporsional dengan perubahan selain volume produksi.

17
6. PERHITUNGAN BIAYA PELANGGAN DAN PEMASOK
BERDASARKAN AKTIVITAS
Sistem ABC juga dapat digunakan untuk menentukan keakuratan biaya
pelanggan dan pemasok. Pengetahuan akan biaya pelanggan dan pemasok dapat
menjadi informasi vital untuk memperbaiki tingkat laba suatu perusahaan.

Perhitungan Biaya Pelanggan Berdasarkan Aktivitas


Para pelanggan dapat memakai aktivitas penggerak pelanggan dalam proporsi
yang berbeda. Sumber-sumber dari keanekaragaman pelanggan meliputi beberapa hal
seperti frekuensi pesanan, frekuensi pengiriman, jarak geografis, dukungan penjualan
dan promosi.

Perhitungan Biaya Pelanggan versus Perhitunganh Biaya Produk


Pembebanan biaya dari cutomer service pada pelanggan, dilakukan dengan cara
yang sama untuk biaya produksi yang dibebankan pada produk.mbiaya sumber daya
yang dipakai dibebankan ke aktivitas, dan biaya aktivitas di bebankan ke tiap
pelanggan.

Perhitungan Biaya Pemasok Berdasarkan Aktivitas


Pemasok dapat mempengaruhi banyak aktivitas internal suatu perusahaan dan
secara signifikan meningkatkan biaya pembelian. Perhitungan biaya berdasarkan
aktivitas adalah kunci penelusuran biaya yang berhubungan dengan pembelian ,
kualitas, keandalan, dan kinerja pengiriman hingga ke para pemasok.

Metodologi Perhitungan Biaya Pemasok


Aktivitas penggerak pemasok seperti pembelian, penerimaan , pemerikasaan
komponen, pengerjaan ulang, dll dicatat dalam kamus aktifitas. Biaya sumber daya
yang dipakai dibebankan pada aktivitas ini, dan biaya aktivitas dibebankan pada
pemasok individual.

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Manajemen berdasarkan aktivitas berfokus pada aktivitas dengan tujuan
berfokus memperbaiki nilai bagi pelanggan dan meningkatkan profitabilitas yang
kokoh. Analisis nilai proses melibatkan analisis penggerak biaya, analisis aktivitas, dan

19
pengukuran kinerja. Dimensi ini lah yang menghubungkan analisis volume proses
dengan konsep perbaikan lanjutan. Kinerja aktivitas dievaluasi dengan menggunakan
tiga dimensi: efesiensi, kualitas dan waktu. Penulusuran biaya yang digerakkan
pelanggan kepada pelanggan dapat menyediakan informasi penting untuk
manajer.Keakuratan biaya pelanggan memungkinkan para manajer untuk membuat
keputusan penentuan harga, keputusan bauran pelanggan, dan keputusan yang
berhubungan dengan pelanggan secara lebih baik, sehingga dapat memperbaiki
profitabilitas. Sama halnya, penulusuran biaya yang digerakkan pemasok kepada
pemasok akan memungkiinkan manajer untuk memilih pemasok yang benar-benar
berbiaya rendah sehingga menghasilkan keunggulan bersaing yang lebih tinggi dan
meningkatkan profitabilitas.

DAFTAR PUSTAKA

- Ahmad, Kamaruddin. 2009. Akuntansi Manajemen : Dasar-dasar Konsep Biaya


& Pengambilan Keputusan. Jakarta :Rajawali Pers.
- Blocher, Edward J. 2007.Menejemen Biaya. Salemba Empat. Jakarta.
- Hansen Don R, Mowen Marryanne M. 2006. Management Accounting, Seventh
Edition. Jakarta : Salemba Empat.

20
- Mulyadi, 2000.Akuntansi Biaya, Edisi Lima, Cetakan Kedelapan, Aditya Media,
Yogyakarta.
- Mulyadi dan Setyawan Jhony. 2001. Sistem Perencanaandan Pengendalian
manajemen : Sistem Pelipatgandaan Kinerja Keuangan Perusahaan, Salemba
Empat : Jakarta.
- Supriyono, R.A, 2000. Akuntansi Biaya : Perencanaandan Pengendalian Biaya
serta Pembuatan Keputusan, Edisi Kedua, Buku Kedua, BPFE, Yogyakarta.
- http//yullitrisnawati.blogspot.com books.google.co.id
- https://accountingcenter.wordpress.com/2010/01/28/perhitungan-biaya-
berdasarkan-aktivitas/

21