Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN ALKALOIDA

(Ekstrak Piper nigrum L.)

Anggota Kelompok :

Septia Alfionika (201210410311045)


Ratna Puspita Sari (201310410311062)
Khairun Nisa (201310410311100)
M. Rizky Mukhlis (201310410311165)
Primadona P. Ogawa (201310410311257)
Risa Puspita Iswandari (201310410311266)

KELOMPOK V / FARMASI E

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016
TUGAS I

IDENTIFIKASI SENYAWA GOLONGAN ALKALOIDA

A. TUJUAN
Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan alkaloida dalam tanaman

B. TINJAUAN PUSTAKA

1. Tanaman Lada (Piper nigrum L.)


Tanaman Lada ditemukan pertama kali didaerah Western Ghast, India.
Tanaman Lada ditemukan tumbuh liar didaerah pegunungan Arsam (India) dan utara
Burma. Tanaman ini kemudian mulai dibudidayakan dan menjadi barang berharga
ketika mulai diintroduksi ke Eropa dan dikenal oleh bangsa Yunani dan Romawi
kuno. Lada kemudian menyebar dari Malabar ke daerah Eropa dan Asia termasuk
Indonesia. Lada masuk di Indonesia dibawa oleh masyarakat Hindu ke Jawa
(Purseglove et al., 1981).
Rasa pedas lada diakibatkan oleh adanya zat piperin dan chavicin yang
merupakan persenyawaan dari piperin sama seperti alkaloida. Chavicin banyak
terdapat dalam daging biji Lada (mesocarp) dan tidak akan hilang walaupun biji yang
masih berdaging di jemur hingga lebih pedas dibanding Lada Putih. Aroma biji
berasal dari minyak atsiri yang terdiri dari beberapa jenis minyak Terpen (Terpentin)
Lada hitam dan Lada putih dengan senyawa kimia kadar air, zat protein, zat
karbohidrat, minyak atsiri dan piperin (Rismundar, 2003). Piperin termasuk golongan
alkaloid yang merupakan senyawa amida basa lemah yang dapat membentuk garam
dan asam mineral kuat.
Tumbuhan yang termasuk jenis piperin selain mengandung 5 – 9 % piperin
juga mengandung minyak atsiri berwarna kuning berbau aromatis senyawa berasa
pedas (kavisin), amilum, resin dan protein. Piperin berupa kristal berbentuk 8 jarum
berwarna kuning, tidak berbau, tidak berasa, lama kelamaan pedas. Piperin bila
dihidrolisis dengan KOH akan menghasilkan kalium piperinat da piperidin (Bruneton,
1999).
Klasifikasi Lada hitam menurut Tjitrosoepomo (2007), yaitu :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Piperales
Familia : Piperaceae
Genus : Piper
Spesies : Piper nigrum L.

2. Alkaloida
Alkaloida adalah senyawa organik yang mengandung nitrogen (biasanya
berbentuk siklik) dan bersifat basa. Hampir semua Alkaloidamengandung paling
sedikit sebuah atom nitrogen yang merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Ada
yang sangat beracun dan ada pula yang berguna dalam pengobatan, misalnya kuinin,
morfin dan striknin adalah Alkaloida yang terkenal dan mempunyai efek fisiologis
dan psikologis (Rangke, L. Tobing, 1989).
Alkaloida dapat dibedakan dari beberapa sebagian besar komponen tumbuhan
lain berdasarkan sifat basanya dan biasanya terdapat dalam tumbuhan sebagai garam
dengan berbagai asam organik. Garam ini merupakan senyawa padat berbentuk
kristal tanpa warna meskipun ada juga yang berwarna, contohnya berberina dan
serpentine berwarna kuning. Alkaloid tidak mempunyai nama yang sistematik,
sehingga nama dinyatakan dengan nama trivial misalnya kodein, morfin, heroin,
kinin, kofein, nikotin. Hampir semua nama trivial diberi akhiran –in yang mencirikan
Alkaloid.
Sistem klasifikasi Alkaloid yang banyak diterima adalah pembagian alkaloid
menjadi 3 golongan yaitu Alkaloid sesungguhnya, protoalkaloid dan pseudoalkaloid.
Suatu cara mengklasifikasikan Alkaloid adalah cara yang didasarkan jenis cincin
heterosiklik nitrogen yang merupakan bagian dari struktur molekul. Jenisnya yaitu
pirolidin, piperidin, kuinolin, isokuinolin, indol, piridin dan sebagainya
Secara umum golongan Alkaloida mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
a. Biasanya merupakan kristal tak berwarna, tidak mudah menguap, tidak larut
dalam air, larut dalam pelarut-pelarut organik seperti etanol, etel dan kloroform.
Beberapa Alkaloida seperti nikotin berwujud cair dan larut dalam air. Ada juga
alkaloida yang berwarna misalnya berberin (kuning).
b. Bersifat basa, pada umumnya berasa pahit, bersifar racun, mempunyai efek
fisiologis serta optic aktif.
c. Dapat membentuk endapan dengan larutan asam fosfowolframat, asam
fosfomolibdat, asam pikrat, kalium merkuriiodida dan lainnya.
Kegunaan Alkaloid antara lain sebagai berikut :
a. Alkaloid berfungsi sebagai hasil buangan nitrogen seperti urea dan asam urat
hewan
b. Alkaloid dapat mengganti basa mineral dalam mempertahankan kesetimbangan
ion dalam tumbuhan
c. Alkaloid dapat melindungi tumbuhan dari serangan parasit atau pemangsa
tumbuhan
Cara mengidentifikasi tanaman golongan alkaloida :
1. Prosedur Wall
Melakukan ekstraksi sekitar 20 gram bahan tanaman kering yang direfluks dengan
80% etanol. Setelah dingin dan disaring, residu dicuci dengan 80% etanol dan
kumpulan filtrat diuapkan. Residu yang tertinggal dilarutkan dalam air, disaring,
diasamkan dengan asam klorida 1% dan alkaloid diendapkan baik dengan
pereaksi Mayer atau dengan Siklotungstat. Bila hasil tes positif, maka konfirmasi
tes dilakukan dengan cara larutan yang bersifat asam dibasakan, alkaloid
diekstrak kembali ke dalam larutan asam. Jika larutan asam ini menghasilkan
endapan dengan pereaksi tersebut di atas, ini berarti tanaman mengandung
alkaloid. Fasa basa berair juga harus diteliti untuk menentukan adanya alkaloid
quartener.
2. Prosedur Kiang-Douglas agak berbeda terhadap garam alkaloid yang terdapat
dalam tanaman (lazimnya sitrat, tartrat atau laktat). Bahan tanaman kering
pertama-tama diubah menjadi basa bebas dengan larutan encer amonia. Hasil
yang diperoleh kemudian diekstrak dengan kloroform, ekstrak dipekatkan dan
alkaloid diubah menjadi hidrokloridanya dengan cara menambahkan asam klorida
2 N. Filtrat larutan berair kemudian diuji terhadap alkaloidnya dengan menambah
pereaksi mayer, Dragendorff atau Bauchardat. Perkiraan kandungan alkaloid yang
potensial dapat diperoleh dengan menggunakan larutan encer standar alkaloid
khusus seperti brusin. Beberapa pereaksi pengendapan digunakan untuk
memisahlkan jenis alkaloid. Pereaksi sering didasarkan pada kesanggupan
alkaloid untuk bergabung dengan logam yang memiliki berat atom tinggi seperti
merkuri, bismuth, tungsen, atau jood. Kromatografi dengan penyerap yang cocok
merupakan metode yang lazim untuk memisahkan alkaloid murni dan campuran
yang kotor. Untuk mendeteksi alkaloid secara kromatografi digunakan sejumlah
pereaksi. Pereaksi yang sangat umum adalah pereaksi Dragendorff, yang akan
memberikan noda berwarna jingga untuk senyawa alkaloid.
Reaksi Pengendapan yang dapat dilakukan, yaitu :
a. Reaksi Dragendrof
Pereaksi dragendrof mengandung bismuth nitrat dan merkuri klorida dalam
nitrit berair. Ketika suatu alkaloida ditambahkan pereaksi dragendrof maka
akan menghasilkan endapan jingga.
b. Reaksi Mayer
Pereaksi mayer mengandung kalium iodide dan merkuri klorida. Ketika
sampel ditambah pereaksi mayer akan menimbulkan endapan kuning atau
larutan kuning bening lalu ditambah alkohol endapannya akan larut. Tidak
semua Alkaloid mengendap dengan reaksi mayer, pengendapan yang terjadi
akibat reaksi Mayer bergantung pada rumus bangun Alkaloida.
c. Reaksi Bauchardat
Pereaksi bauchardat mengandut kalium iodide dan iood. Sampel ditambah
pereaksi bauchardat menghasilkan warna kuning atau merah.
C. KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa
menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya yang menggunakan.
Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik
penyerap maupun cuplikannya. KLT dapat dipakai dengan dua tujuan. Pertama, dipakai
selayaknya sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif, kuantitatif, atau preparatif.
Kedua, dipakai untuk menjajaki system pelarut dan system penyangga yang akan dipakai
dalam kromatografi kolom atau kromatografi cair kinerja tinggi.
KLT dapat digunakan untuk memisahkan senyawa – senyawa yang sifatnya
hidrofobik seperti lipida – lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan
kromatografi kertas. KLT juga dapat berguna untuk mencari eluen untuk kromatografi
kolom, analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom, identifikasi senyawa
secara kromatografi, dan isolasi senyawa murni skala kecil. Pelarut yang dipilih untuk
pengembang disesuaikan dengan sifat kelarutan senyawa yang dianalisis. Bahan lapisan
tipis seperti silika gel adalah senyawa yang tidak bereaksi dengan pereaksi – pereaksi
yang lebih reaktif seperti asam sulfat.
Data yang diperoleh dari KLT adalah nilai Rf yang berguna untuk identifikasi
senyawa. Nilai Rf untuk senyawa murni dapat dibandingkan dengan nilai Rf dari
senyawa standar. Nilai Rf dapat didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh oleh senyawa
dari titik asal dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik asal. Oleh karena
itu bilangan Rf selalu lebih kecil dari 1,0.

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑠𝑜𝑙𝑢𝑡𝑒


Rf = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑠𝑜𝑙𝑣𝑒𝑛𝑡
D. PROSEDUR KERJA
a. Preparasi sampel
1. Ekstrak sebanyak 0.9 gram di tambah etanol ad larut, di tambah 5 ml HCl 2N,
dipanaskan di atas penangas air selama 2-3 menit, sambil di aduk.
2. Setelah dingin di tambah 0.3 gram NaCl, diaduk rata kemudian di saring.
3. Filtrate ditambah 5 ml HCl 2N, filtrate di bagi tiga bagian dan disebut sebagai
larutan IA, IB dan IC.
b. Reaksi pengendapan
1. Larutan IA ditambah pereaksi Mayer, larutan IB ditambah dengan Pereaksi
Wagner dan Larutan IC dipakai sebagai blanko.
2. Adanya kekeruhan atau endapan menunjukkan adanya alkohol.
c. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
1. Larutan IC ditambah NH4OH pekat 28% sampai larutan menjadi basa, kemudian
diekstraksi dengan 5 ml kloroform (dalam tabung reaksi)
2. Filtrat (fase CHCL3) diuapkan sampai kering, kemudian dilarutkan dalam metanol
(1 mL) dan siap untuk pemeriksaan KLT.
Fase diam : Kiesel gel GF 254
Fase gerak : CHCL3 – Etil asetat (1 :1 )
Penampak noda :Pereaksi Dragendorf
3. Jika timbul warna jingga menunjukkan adanya alkaloid dalam ekstrak.
E. SKEMA KERJA

Ekstrak 0.9 gram etanol

5 ml HCl 2 N

Dipanaska diatas penangas air selama 2-3 menit sambil diaduk

Setelah dingin Ditambah NaCl 0.3 gram kemudian disaring

5 ml Hcl 2 N

Larutan IA Larutan IIA Larutan IIIA

Ditambah pereaksi mayer Ditambah pereaksi Wagner Ditambah NH4OH 28% sampai basa

Ekstraksi dengan 5 ml kloroform

Fase kloroform diuapkan

Ditambah 1 ml methanol

Ditotolkan pada plat KLT


dan dieluasi
F. HASIL PENGAMATAN

Hasil Pengamatan Reaksi


Pengendapan

Bercak noda pada Bercak noda setelah eluasi Bercak noda setelah eluasi +
penotolan awal diamati diamati dengan sinar UV pereaksi Dragendrof diamati
dengan sinar UV 245 254 dengan sinar UV 365
G. PEMBAHASAN
Senyawa golongan Alkaloida pada tanaman Piper nigrum dapat dapat dilakukan
identifikasi dengan menggunakan metode pengendapan dan metode kromatografi lapis
tipis. Alkaloid merupakan senyawa yang bersifat basa yang mengandung satu atau lebih
atom nitrogen dan biasanya berupa sistem siklis. Alkaloid mengandung atom karbon,
hidrogen, nitrogen dan pada umumnya mengandung oksigen. Senyawa Alkaloid banyak
terkandung dalam akar, biji, kayu maupun daun dari tumbuhan dan juga dari hewan.
Senyawa Alkaloid merupakan hasil metabolisme dari tumbuhan dan digunakan
sebagai cadangan bagi sintesis protein. Alkaloid digunakan pada tumbuhan sebagai
pelindung dari serangan hama, penguat tumbuhan dan pengatur kerja hormon. Bukti
kualitatif untuk menunjukkan adanya senyawa golongan alkaloida dapat digunakan
beberapa pereaksi antara lain pereaksi Mayer, Wagner, Asam Silikotungsat 5 %, asam
Tanat 5 %, Dragendrof, Iodoplatinat dan larutan asam Pikrat jenuh. Pada praktikum yang
dilakukan yaitu mengidentifikasi golongan senyawa Alkaloid dengan menggunakan 2
cara yaitu Reaksi Pengendapan dan Kromatografi Lapis Tipis.
a. Reaksi Pengendapan
Ekstrak sebanyak 0,9 gram ditambah etanol sampai larut, kemudian ditambahkan
0,5 ml HCL 2 N. Penambahan HCL 2 N bertujuan untuk menarik alkaloid dari dalam
simplisia. Alkaloida bersifat basa, sehingga dengan penambahan asam seperti HCL
akan terbentuk garam. Setelah itu dilakukan pemanasan selama 3 menit diatas
penangas air, kemudian didinginkan lalu disaring. Pemanasan yang dilakukan
bertujuan untuk memecah ikatan antara Alkaloida dengan asam klorida sehingga
diperoleh Alkaloida yang bukan dalam bentuk garamnya. Didinginkan dan disaring
lalu diambil filtratnya. Penambahan NaCL dilakukan setelah dingin, bertujuan untuk
mengendapkan protein yang dapat menyebabkan terjadinya positif palsu. Dalam
penambahan NaCL sering terjadi salting out dari protein. Dalam reaksi pengendapan
ini digunakan 2 macam pereaksi untuk mengidentifikasi Alkaloid, yaitu :
1. Pereaksi Mayer, mengandung kalium iodide dan merkuri klorida, ketika sampel
ditambahkan pereaksi Mayer maka akan timbul endapan putih kekuningan jika
mengandung Alkaloid.
2. Pereaksi Wagner, mengandung iodium dalam kalium iodide, ketika sampel
ditambahkan pereaksi Wagner akan timbul endapan coklat kemerahan.
Kromatografi Lapis Tipis merupakan salah satu metode pemisahan yang
cukup sederhana yaitu dengan menggunakan plat – plat kaca yang dilapisi silika gel dan
menggunakan pelarut tertentu. Kromatografi Lapis Tipis dapat digunakan dengan dua
tujuan yang pertama digunakan selayaknya sebagai metode untuk mencapai hasil
kualitatif, kuantitatif dan preparatif, kedua digunakan untuk menjajaki sistem pelarut da
system penyangga yang akan digunakan dalam kromatografi kinerja tinggi. Fase diam
adalah lempeng kiesel gel GF 254 yang bersifat polar. Fase gerak adalah campuran etit
asetat CHCL3 yang bersifat non polar.
Larutan sampel yang akan ditotolkan pada lempeng KLT yaitu berasal dari
hasil preparasi sampel ditmabhkan NH4OH sampai larut menjadi basa, kemudian
ditambahkan 5 ml kloroform. Penambahan NH4OH untuk memberikan suasana basa
pada sampel, kemudian larutan dipisahkan antara kloroform dan air. Filtrat yang berada
pada fase kloroform digunakan untuk KLT. Setelah sampel ditotolkan pada plat KLT
kemudian dilihat pada sinar UV 254, plat dieluasi dengan eluen CHCL3 : Etil Asetat
(1:1) kemudian dilakukan penyemprotan pada plat KLT dengan pereaksi Dragendrof.
Pereaksi Dragendrof digunakan untuk mengamati alkaloid. Jika mengandung Alkaloid
maka pada plat KLT didapatkan noda berwarna jingga.
Pada plat KLT didapatkan nilai Rf :
5.1
Rf = = 0.64
8
H. KESIMPULAN
1. Sampel Piper nigrum atau Lada pada saat penambahan pereaksi Mayer sebanyak 8
tetes memberikan perubahan warna menjadi putih kekuningan atau terdapat endapan,
menunjukkan bahwa larutan IA potitif mengandung Alkaloid yang dibandingkan
dengan blanko.
2. Sampel Piper nigrum atau Lada pada saat penambahan pereaksi Wagner sebanyak 3
tetes memberikan perubahan warna menjadi coklat kemerahan atau terdapat endapan,
menunjukkan bahwa larutan IB positif mengandung Alkaloid yang dibandingkan
dengan blanko.
3. Pada plat KLT (Kromatigrafi Lapis Tipis) didapatkan hasil bahwa sampel Piper
nigrum atau Lada mengandung Alkaloid dengan ditandai warna jingga setelah
dilakukan eluasi dan ditambahkan pereaksi Dragendrof.
F. DAFTAR PUSTAKA

 Harborne,
J.B., 1987, Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan, Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwan Sudiro, Penerbit ITB,
Bandung.

 DepkesRI. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Cetakan Keenam. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.