Anda di halaman 1dari 37

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AGREGAT

WANITA DEWASA

Disusun Oleh:

Insyafiatul A 1410711090

Davita Aprilia P 1610711107

Vabella Widitiar 1610711114

Vera Septiana 1610711115

Amelia Mustika 1610711116

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN “VETERAN” JAKARTA

2019
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada penyusun sehingga akhirnya penyusun dapat
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Makalah yang berjudul Program Promosi Kesehatan ini ditulis untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Komunitas II.

Pada kesempatan yang baik ini, kami menyampaikan rasa hormat dan ucapan
terima kasih kepada semua pihak yang dengan tulus ikhlas telah memberikan bantuan dan
dorongan kepada kami dalam pembuatan makalah ini terutama kepada :
1. Orang tua kami yang telah memberikan semangat, dukungan serta doa untuk
menyelesaikan makalah ini
2. Semua aspek yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini

Depok, 25 Februari 2019

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa lima besar kanker di dunia
adalah kanker paru-paru, kanker payudara, kanker usus besar, kanker lambung dan
kanker hati. Sementara data dari pemeriksaan patologi di Indonesia menyatakan bahwa
urutan lima besar kanker adalah kanker leher rahim, kanker payudara, kanker getah
bening, kulit dan kanker nasofaring. Kanker payudara merupakan kanker terbanyak yang
diderita oleh wanita. Angka kematian akibat kanker payudara mencapai 5 juta pada
wanita. Kanker payudara merupakan penyebab kematian karena kanker tertinggi pada
wanita yaitu sekitar 19%. Lima data terakhir menunjukkan bahwa kema tian akibat
kanker payudara pada wanita menunjukkan angka ke 2 tertinggi (WHO).

Payudara di miliki oleh setiap orang, lelaki maupun wanita. Pada lelaki payudara
mengalami rudimeter dan tidak penting, sedangkan wanita menjadi berkembang dan
penting. Payudara merupakan salah satu organ paling penting bagi wanita yang erat
kaitannya dengan fungsi reproduksi dan kewanitaan (kecantikan). Karena itu gangguan
payudara tidak sekedar memberikan gangguan kesakitan sebagaimna penyakit pada
umumnya, tetapi juga akan mempunyai efek estetika dan psikologis khusus.

Menurut World Health Organization (WHO), 8-9 % perempuan akan


mengalami cancer mammae. Setiap tahun, lebih dari 250.000 kasus cancer
mammae terdiagnosis di Eropa dan kurang lebih 175.000 di Amerika Serikat, sedangkan
pada tahun 2000 diperkirakan 1,2 juta perempuan terdiagnosis cancer mammae dan lebih
dari 700.000 meninggal karena cancer mammae. (Mulyani & Nuryani, 2013).

Berdasarkan data dari Medical Record Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Mohammad Hoesin Palembang, jumlah pasien cancer mammae tahun 2011 sebanyak
872. Kemudian meningkat 14,7 % menjadi 1000 orang. Kemudian pada tahun 2012
menurun 16,4 % menjadi 846 orang. Cancer mammae di Rumah Sakit Umum Pusat
Dr. Moehammad Hoesin Palembang menduduki peringkat pertama setelah
kanker serviks. (RSUP. Dr. Mohammad Hoesin Palembang, 2014).

Amerika Serikat tercatat lebih dari lebih dari 190.000 kasus baru dan 40.000
kematian.

Data WHO menunjukkan bahwa 78% kanker payudara terjadi pada wanita usia 50
keatas, sedangkan 6% nya pada usia kurang dari 40 tahun.

Di Negara Indonesia jumlah kanker payudara didapatkan kurang lebih 200 juta
populasi atau 23.140 kasus baru setiap tahun (Emir & Suyatno,2010).

Menurut Ramli dkk (2010), di dapatkan jumlah penderita kanker payudara


stadium IIIA dan IIIB sebanyak 43,4%, Stadium IV sebanyak 14,3 %, berbeda dengan
negara maju dimana kanker payudara ditemukan lebih banyak dalam stadium dini.
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II

Tinjauan Teori

A. Konsep Keperawatan Komunitas

1) Definisi
Menurut WHO, keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang
merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat
dan bantuan sosial, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara
keseluruhan guns meningkatkan kesehatan, penyempumaan kondisi sosial,
perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi, pence-gahan penyakit dan bahaya yang
lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, yang mempunyai masalah
dimana hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan.
Keperawatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang
ditujukan pada masyarakat dengan penekanan kelompok risiko tinggi dalam
upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit, pemeliharaan rehabilitasi dengan menjamin keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagi mitra dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan keperawatan (menurut CHN).
Di Indonesia dikenal dengan sebutan perawatan kesehatan masyarakat
(PERKESMAS) yang dimulai sejak permulaan konsep Puskesmas diperkenalkan
sebagai institusi pelayanan kesehatan profesional terdepan yang memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara komprehensif.

2) Paradigma Keperawatan Komunitas


Paradigma keperawatan komunitas terdiri dari empat komponen pokok, yaitu
manusia, keperawatan, kesehatan dan lingkungan (Logan & Dawkins, 1987).
Sebagai sasaran praktik keperawatan klien dapat dibedakan menjadi individu,
keluarga dan masyarakat.
1. Individu Sebagai Klien
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh
dari aspek biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada
individu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya yang
mencakup kebutuhan biologi, sosial, psikologi dan spiritual karena adanya
kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurangnya
kemauan menuju kemandirian pasien/klien.

2. Keluarga Sebagai Klien


Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat
secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara
perorangan maupun secara bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri
atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya
mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan
fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan
aktualisasi diri.
Beberapa alasan yang menyebabkan keluarga merupakan salah satu fokus
pelayanan keperawatan yaitu :
a. Keluarga adalah unit utama dalam masyarakat dan merupakan
lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat.
b. Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah,
memperbaiki ataupun mengabaikan masalah kesehatan didalam
kelompoknya sendiri.
c. Masalah kesehatan didalam keluarga saling berkaitan. Penyakit
yang diderita salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh
anggota keluarga tersebut.

3. Masyarakat Sebagai Klien


Masyarakat memiliki cirri-ciri adanya interaksi antar warga, diatur
oleh adat istiadat, norma, hukum dan peraturan yang khas dan memiliki
identitas yang kuat mengikat semua warga.
Kesehatan dalam keperawatan kesehatan komunitas didefenisikan
sebagai kemampuan melaksanakan peran dan fungsi dengan efektif.
Kesehatan adalah proses yang berlangsung mengarah kepada kreatifitas,
konstruktif dan produktif. Menurut Hendrik L. Blum ada empat faktor
yang mempengaruhi kesehatan, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan
kesehatan dan keturunan. Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan
lingkungan sosial. Lingkungan fisik yaitu lingkungan yang berkaitan
dengan fisik seperti air, udara, sampah, tanah, iklim, dan perumahan.
Contoh di suatu daerah mengalami wabah diare dan penyakit kulit akibat
kesulitan air bersih.
Keturunan merupakan faktor yang telah ada pada diri manusia
yang dibawanya sejak lahir, misalnya penyakit asma. Keempat faktor
tersebut saling berkaitan dan saling menunjang satu dengan yang lainnya
dalam menentukan derajat kesehatan individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
Keperawatan dalam keperawatan kesehatan komunitas dipandang
sebagai bentuk pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat kepada
individu, keluarga, dan kelompok dan masyarakat yang mempunyai
masalah kesehatan meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative
dengan menggunakan proses keperawatan untuk mencapai tingkat
kesehatan yang optimal. Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan
professional sebagai bagian integral pelayanan kesehatan dalam bentuk
pelayanan biologi, psikologi, sosial dan spiritual secara komprehensif
yang ditujukan kepada individu keluarga dan masyarakat baik sehat
maupun sakit mencakup siklus hidup manusia.
Lingkungan dalam paradigm keperawatan berfokus pada
lingkungan masyarakat, dimana lingkungan dapat mempengaruhi status
kesehatan manusia. Lingkungan disini meliputi lingkungan fisik,
psikologis, sosial dan budaya dan lingkungan spiritual.

3) Sasaran Keperawatan Komunitas

Sasaran keperawatan komunitas adalah seluruh masyarakat termasuk


individu, keluarga, dan kelompok yang beresiko tinggi seperti keluarga penduduk
di daerah kumuh, daerah terisolasi dan daerah yang tidak terjangkau termasuk
kelompok bayi, balita dan ibu hamil. Menurut Anderson (1988) sasaran
keperawatan komunitas terdiri dari tiga tingkat yaitu

1. Tingkat Individu.

Perawat memberikan asuhan keperawatan kepada individu yang


mempunyai masalah kesehatan tertentu (misalnya TBC, ibu hamil d1l)
yang dijumpai di poliklinik, Puskesmas dengan sasaran dan pusat
perhatian pada masalah kesehatan dan pemecahan masalah kesehatan
individu

2. Tingkat Keluarga.

Sasaran kegiatan adalah keluarga dimana anggota keluarga yang


mempunyai masalah kesehatan dirawat sebagai bagian dari keluarga
dengan mengukur sejauh mana terpenuhinya tugas kesehatan keluarga
yaitu mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan untuk mengatasi
masalah kesehatan, memberikan perawatan kepada anggota keluarga,
menciptakan lingkungan yang sehat dan memanfaatkan sumber daya
dalam masyarakat untuk meningkatkan kesehatan keluarga.

Prioritas pelayanan Perawatan Kesehatan Masyarakat difokuskan


pada keluarga rawan yaitu :

a. Keluarga yang belum terjangkau pelayanan kesehatan, yaitu


keluarga dengan: ibu hamil yang belum ANC, ibu nifas yang
persalinannya ditolong oleh dukun dan neo¬natusnya, balita
tertentu, penyakit kronis menular yang tidak bisa diintervensi
oleh program, penyakit endemis, penyakit kronis tidak menular
atau keluarga dengan kecacatan tertentu (mental atau fisik).

b. Keluarga dengan resiko tinggi, yaitu keluarga dengan ibu


hamil yang memiliki masalah gizi, seperti anemia gizi be-rat
(HB kurang dari 8 gr%) ataupun Kurang Energi Kronis (KEK),
keluarga dengan ibu hamil resiko tinggi seperti perdarahan,
infeksi, hipertensi, keluarga dengan balita dengan BGM,
keluarga dengan neonates BBLR, keluarga dengan usia lanjut
jompo atau keluarga dengan kasus percobaan bunuh diri.

c. Keluarga dengan tindak lanjut perawatan

3. Tingkat Komunitas

Dilihat sebagai suatu kesatuan dalam komunitas sebagai klien.


a. Pembinaan kelompok khusus

b. Pembinaan desa atau masyarakat bermasalah.

4) Ruang Lingkup Keperawatan Komunitas

Keperawatan komunitas mencakup berbagai bentuk upaya pelayanan


kesehatan baik upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, maupun
resosialitatif.

Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu,


keluarga, kelompok dan masyarakat dengan melakukan kegiatan penyuluhan
kesehatan, peningkatan gizi, pemeliharaan kesehatan perorangan, pemeliharaan
kesehatan lingkungan, olahraga teratur, rekreasi dan pendidikan seks.

Upaya preventif untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan


kesehatan terhadap individu, keluarga kelompok dan masyarakat melalui kegiatan
imunisasi, pemeriksaan kesehatan berkala melalui posyandu, puskesmas dan
kunjungan rumah, pemberian vitamin A, iodium, ataupun pemeriksaan dan
peme¬liharaan kehamilan, nifas dan menyusui.

Upaya kuratif bertujuan untuk mengobati anggota keluarga yang sakit atau
masalah kesehatan melalui kegiatan perawatan orang sakit dirumah, perawatan
orang sakit sebagai tindaklanjut dari Pukesmas atau rumah sakit, perawatan ibu
hamil dengan kondisi patologis, perawatan buah dada, ataupun perawatan tali
pusat bayi baru lahir.

Upaya rehabilitatif atau pemulihan terhadap pasien yang dirawat dirumah


atau kelompok-kelompok yang menderita penyakit tertentu seperti TBC, kusta
dan cacat fisik lainnya melalui kegiatan latihan fisik pada penderita kusta, patch
tulang dan lain sebagai¬nya, kegiatan fisioterapi pada penderita stroke, batuk
efektif pada penderita TBC, dll.

Upaya resosialitatif adalah upaya untuk mengembalikan pen¬derita ke


masyarakat yang karena penyakitnya dikucilkan oleh masyarakat seperti,
penderita AIDS, kusta dan wanita tuna susila.

B. Usia Dewasa sebagai Kelompok Resiko

Masa dewasa awal dan tengah adalah periode yang penuh tantangan,
penghargaan dan krisis. Tantangan ini meliputi tuntunan kerja dan membentuk keluarga,
meskipun orang dewasa juga dapat diberi penghargaan karena kesuksesan karier mereka
dan kehidupan pribadi mereka. Orang dewasa juga menghadapi krisis seperti merawat
orang tua mereka yang telah lanjut usia. Kemungkinan kehilangan pekerjaan dengan
berubah lingkungan ekonomi dan menghadapi kebutuhan perkembangan mereka sendiri
seperti juga kebutuhan anggota keluarga mereka.

Peran orang dewasa (usia produktif) di masyarakat menjadi sangat urgent sesuai
dengan tugas perkembangan yang menunjukkan bahwa mereka memiliki pengaruh yang
besar pada taraf kesehatan di lingkungan tempat tinggalnya. Jumlah yang mendominasi di
masyarakat juga menjadi sebuah alas an yang tepat untuk menjadikan kelompok khusus
usia produktif mendapatkan perhatian lebih dalam asuhan keperawatan di komunitas.

C. Pengertian Wanita Dewasa

1. Pengertian Wanita
Wanita adalah kata yang umum digunakan untuk menggambarkan
perempuan dewasa. Perempuan yang sudah menikah juga biasa dipanggil dengan
sebutan ibu. Untuk perempuan yang belum menikah atau berada antara umur 16
hingga 21 tahun disebut juga dengan anak gadis.

2. Pengertian Dewasa
Istilah adult atau dewasa berasal dari kata kerja latin yang berarti tumbuh
menjadi dewasa. Oleh karena itu orang dewasa adalah seseorang yang telah
menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukannya di dalam
masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya (Elizabeth Hurlock,
Developmental Psychology, 1991). Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa
remaja. Hurlock (1986) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada usia 18
tahun sampai kira-kira usia 40 tahun. Secara umum, mereka yang tergolong
dewasa awal ialah mereka yang berusia 20-40 tahun.
Santrock (1999), orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik secara
fisik, transisi secara intelektual serta transisi peran sosial. Perkembangan sosial
masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa.
Masa dewasa awal adalah masa beralihnya pandangan egosentris
menjadi sikap yang empati. Pada masa ini, penentuan relasi sangat
memegang peranan penting. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana
seseorang mulai menjalin hubungansecara intim dengan lawan jemisya. Hurlock
(1986) mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu
initinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri
dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya.

3. Ciri-ciri Umum Masa Dewasa Awal

Dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian terhadap pola-pola


kehidupan yang baru dan harapan-harapan sosial yang baru. Masa dewasa
awal adalah kelanjutan dari masa remaja, sehingga ciri-ciri masa dewasa awal
tidak jauh berbeda dengan masa remaja. Ciri-ciri masa dewasa awal menurut
Hurlock :

1) Masa dewasa awal sebagai usia reproduktif.

Masa dewasa awal adalah masa usia reproduktif. Masa ini ditandai
dengan membentuk rumah tangga. Pada masa ini khususnya wanita,
sebelum usia 30 tahun, merupakan masa reproduksi, dimana seorang
wanita siap menerima tanggung jawab sebagai seorang ibu. Pada masa ini,
alat-alat reproduksi manusia telah mencapai kematangannya dan sudah
siap untuk melakukan reproduksi.

2) Masa dewasa awal sebagai masa bermasalah.


Setiap masa dalam kehidupan manusia, pasti mengalami
perubahan, sehingga seseorang harus melakukan penyesuaian diri kembali
terhadap diri maupun lingkungannya. Demikian pula pada masa dewasa
awal ini, seseorang harus banyak melakukan kegiatan penyesuaian diri
dengan kehidupan perkawinan, peran sebagai orang tua dan sebagai warga
negara yang sudah dianggap dewasa secara hukum.

3) Masa dewasa awal sebagai masa yang penuh dengan ketegangan


emosional.
Ketegangan emosional seringkali ditampakkan dalam
ketakutan-ketakutan atau kekhawatiran-kekhawatiran. Ketakutan atau
kekhawatiran yang timbul ini pada umumnya bergantung pada tercapainya
penyesuaian terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi pada suatu saat
tertentu atau sejauh mana sukses atau kegagalan yang dialami dalam
penyelesaian persoalan.

4) Masa dewasa awal sebagai masa ketergantungan dan perubahan


nilai.
Ketergantungan disini mungkin ketergantungan kepada orang tua,
lembaga pendidikan yang memberikan beasiswa atau pada pemerintah
karena mereka memperoleh pinjaman untuk membiayai pendidikan
mereka. Sedangkan masa perubahan nilai masa dewasa awalterjadi karena
beberapa alasan seperti ingin diterima pada kelompok orang dewasa,
kelompok-kelompok sosial dan ekonomi orang dewasa.

4. Pengertian Wanita Dewasa

Secara etimologis (istilah) fiqih seorang wanita dianggap dewasa


apabila sudah memasuki masa haid, biasanya saat usia 13 – 14 tahun.
Setelah memasuki masa inilah berlaku kewajiban dan larangan agama
seperti kewajiban salat lima waktu dan larangan bergaul dengan pria yang
bukan muhrim.

Menurut hukum negara, wanita baru dianggap dewasa saat berusia 17


tahun saat di mana dia mulai memiliki hak dan kewajiban sebagai warga
negara penuh seperti hak untuk mengenyam pendidikan, berpartisipasi
dalam pemilu, hak untuk menikah, memiliki KTP atau SIM serta
kewajiban untuk menaati peraturan pemerintah yang berlaku.
Dewasa dalam pengertian di atas adalah definisi dewasa yang formal
yang terkait dengan hukum tertentu baik hukum islam maupun hukum
negara.

Sedangkan dewasa dalam tinjauan umum, termasuk dalam tinjauan


psikologi, adalah sempurnanya pertumbuhan fisik dan mental seseorang.
Pertumbuhan fisik yang normal mudah diketahui karena dapat dilihat oleh
pancaindra. Akan tetapi pertumbuhan mental yang sempurna dan matang
merupakan hal yang berbeda.

D. Perkembangan pada Usia Dewasa

Proses perkembangan itu berlangsung secara bertahap, dalam arti sebagai berikut.

1. Bahwa perubahan yang terjadi bersifat maju meningkat dan atau mendalam/
meluas, baik secara kuantitatif maupun kualitatif (prinsip progressif)

2. Bahwa perubahan yang terjadi antar bagian dan atau fungsi organisme itu
terdapat interpedensi sebagai kesatuan integral yang harmonis (prinsip
sitematik).

3. Bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara
beraturan dan berurutan dan tidak secara kebetulan dan meloncat-loncat
(prinsip berkesinambungan).

Memerhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan perilaku dan pribadi


individu itu maka untuk keperluan studi yang saksama, para ahli telah mencoba
mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai proses perkembangan tersebut
sehingga memungkinkan pilihan fokus observasi pada aspek atau fase tertentu, baik
secara longitudinal maupun cross sectional. Beberapa contoh model tersebut antara lain
dikembangka oleh beberapa ahli sebagai berikut ini.

1. Aristoteles (384-233 SM)

Ia membagi masa perkembangan individu sampai menginjak dewasa dalam tiga


tahapan berdasarkan perubahan ciri fisik tertentu.

No Nama Tahapan Waktu Indikator

1 Masa kanak-kanak 0,0-7,0 Pergantian Gigi

2 Masa Anak Sekolah 7,0-14,0 Gejala pubertas

3 Masa remaja 14,0-21,0 Ciri-ciri primer dan


sekunder

2. Hurlock (1952)

Ia membagi fase-fase perkembangan inndividu secara lengkap secara berikut ini.


No Nama Tahapan Waktu Indikator
1 Prenatal Conception-280 Days
Perubahan-perubahan
2 Infancy 0-10 to 144 days
psikofisis
3 Babyhood 2 weeks-2 years
4 Childhood 2 years- adolescence
5 Adolescence 13-21 years (girls)
14-21 years (boys)
6 Adulthood 21-25 years
7 Middle age 25-30 years
8 Old Age 30 years-death

3. Piaget (1961)
Dengan mengobservasi aspek perkembangan intelektual, Piaget
mengembangkan model pentahapan perkembangan individu sebagai berikut
ini.

No Tahapan Waktu
1 Sensorimotor 0-2 years
2 Preoperational 2-7 years
a. Preconceptual 2-4 years
b. Intutive 4-7 years
3 Concrete operations 7-11 years
4 Formal operations 11.15 years

4. Witherington (1952)

Ia mengobservasi penonjolan aspek perkembangan psikofisik yang selaras


dengan jenjang praktik pendidikan, ia membagi tahapan perkembangan yang
lamanya masing-masing tiga tahun sampai menjelang dewasa.

No Tahapan Indikator

1 0,0-3,0 Perkembangan fisik yang pesat

2 3,0-6,0 Perkembangan mental yang pesat

3 6,0-9,0 Perkembangan sosial yang pesat

4 9,0-12,0 Perkembangan sikap individualistis


5 12,0-15,0 Awal penyessuaian sosial

Awal pilihan kecenderungan pola hidup yang akan


6 15,0-18,0
diikuti sampai dewasa

5. Penjelasan Teori Hurlock

Pembagian masa-masa perkembangan sekarang ini seperti yang


dikemukakan oleh Harvey A. Tilker, PhD dalam Developmental Psycology to
day(1975) dan Elizabeth B. Hurlock dalam Developmental Psycology(1980)
tampak sudah lengkap mencakup sepanjang hidup manusia sesuai dengan
hakikat perkembangan manusia yang berlangsung sejak konsepsi sampai mati
dengan pembagian periodisasinya.Berikut periodisasi berdasarkan didaktis
menurut Elizabeth B. Hurlock:

1. Masa sebelum lahir (pranatal): 9 bulan

2. Masa bayi baru lahir (new born): 0-2 minggu

3. Masa bayi (babyhood): 2 minggu- 2 th

4. Masa kanak-kanak awal (early childhood):2-6 th

5. Masa kanak-kanak akhir (later chilhood): 6-12 th

6. Masa puber (puberty) 11/12 – 15/16 th

7. Masa remaja ( adolesence) : 15/16 – 21 th

8. Masa dewasa awal (early adulthood) : 21-40 th

9. Masa dewasa madya(middle adulthood): 40-60 th

10. Masa usia lanjut (later adulthood) : 60-…..

Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai klasifikasi periode/fase


perkembangan manusia yang paling luas digunakan:

– Periode prakelahiran (prenatal period), ialah saat dari pembuahan hingga


kelahiran. Periodeini merupakan masa pertumbuhan yang luar biasa dari satu
sel tunggal hingga menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak
dan perilaku, yang dihasilkan kira-kira dalam periode 9 bulan.

– Masa bayi (infacy), ialah periode perkembangan yang merentang dari


kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa yang sangat
bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi hanya
sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi
sensorimotor, dan belajar sosial.
– Masa awal anak-anak (early chidhood), yaitu periode pekembangan yang
merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini
biasanya disebut dengan periode prasekolah. Selama masa ini, anak anak kecil
belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan
keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi
huruf), dan meluangkan waktu berjam jam untuk bermain dengan teman-teman
sebaya. Jika telah memasuki kelas satu sekolah dasar, maka secara umum
mengakhiri masa awal anak-anak.

– Masa pertengahan dan akhir anak-anak (middle and late childhood), ialah
periode perkembangan yang merentang dari usia kira-kira enam hingga sebelas
tahun, yang kira-kira setara dengan tahun-tahun sekolah dasar, periode ini
biasanya disebut dengan tahun-tahun sekolah dasar. Keterampilan-
keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah
dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan
kebudayaan. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan
pengendalian diri mulai meningkat.

– Masa remaja (adolescence), ialah suatu periode transisi dari masa awal anak-
anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10 hingga
12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja
bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan
yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik
seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis,
dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan
identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan
semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.

– Masa awal dewasa (early adulthood), ialah periode perkembangan yang


bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia dua puluhan tahun dan
yang berakhir pada usia tiga puluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan
kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak
orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab,
memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.

– Masa pertengahan dewasa (middle adulthood), ialah periode perkembangan


yang bermula pada usia kira-kira 35 hingga 45 tahun dan merentang hingga
usia enam puluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan
tanggung jawab pribadi dan sosial seperti membantu generasi berikutnya
menjadi individu yang berkompeten, dewasa dan mencapai serta
mempertahankan kepuasan dalam berkarir.

– Masa akhir dewasa (late adulthood), ialah periode perkembangan yang


bermula pada usia enam puluhan atau tujuh puluh tahun dan berakhir pada
kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan
kesehatan, menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian diri
dengan peran peran sosial baru.

6. Tugas Perkembangan Masa Dewasa Awal (21-40)


 Memilih pasangan.
 Belajar hidup dengan pasangan.
 Memulai suatu kehidupan berkeluarga.
 Memelihara anak.
 Mengelola rumah tangga.
 Memulai bekerja.
 Mengambil tanggung jawab sebagai warga negara.
 Menemukan suatu kelompok yang serasi.

E. Konsep Kanker Payudara

1. Anatomi Payudara

Kata payudara berasal dari bahasa Sansekerta payau yang artinya air dan
dara yang artinya perempuan. Dalam bahasa Latin, payudara disebut
glandhula mammae. Salah satu fungsi payudara adalah untuk menyusui.
(Suryaningsih & Sukaca, 2009).
Kelenjar mama atau payudara adalah perlengkapan pada organ
reproduksi perempuan yang mengeluarkan air susu. Payudara terletak di
dalam fasia superfisialis di daerah pektoral antara sternum dan aksila dan
melebar dari kira-kira iga kedua atau ketiga sampai iga keenam atau iga
ketujuh. Berat dan ukuran payudara berlain-lainan, pada masa pubertas
membesar, dan bertambah besar selama hamil dan sesudah melahirkan, dan
menjadi atrofik pada usia lanjut.
Bentuk payudara cembung ke depan dengan puting di tengahnya, yang terdiri
atas kulit dan jaringan erektil dan berwarna tua. Puting ini dilingkari daerah
yang berwarna cokelat yang disebut areola. Dekat dasar puting terdapat
kelenjar sebaseus, yaitu kelenjar Montgomery, yang mengeluarkan zat lemak
supaya puting tetap lemas. Puting berlubang-lubang 15-20 buah, yang
merupakan saluran dari kelenjar susu.
Payudara terdiri atas bahan kelenjar susu atau jaringan aleolar, tersusun
atas lobus-lobus yang saling terpisah oleh jaringan ikat dan jaringan lemak.
Setiap lobulus terdiri atas sekelompok aleolus yang bermuara ke dalam duktus
laktiferus (saluaran air susu) yang bergabung dengan duktus-duktus lainnya
untuk membentuk saluran yang lebih besar dan berakhir dalam saluran
sekretorik. Ketika saluran-saluran ini mendekat puting, membesar untuk
membentuk wadah penampungan air susu, yang disebut sinus laktiferus,
kemudian saluran itu menyempit lagi dan menembus puting dan bermuara di
atas permukaannya.
Sejumlah besar lemak ada di dalam jaringan pada permukaan payudara,
dan juga di antara lobulus. Saluran limfe banyak dijumpai. Saluran limfe
mulai sebagai pleksus halus dalam ruang interlobuler jaringan kelenjar,
bergabung dan membentuk saluran lebih besar, yang berjalan ke arah
kelompok pektoral kelenjar aksiler, yaitu kelenjar mammae bagian dalam dan
kelenjar supraklaikuler. Persediaan darah diambil dari cabang arteria aksilaris,
interkostalis, dan mama interna, dan pelayanan persarafan dari saraf-saraf
kutan dada. (Pearce, 2011).
Gambar 2.1 Anatomi Payudara
2. Fisiologi Payudara
Organ payudara merupakan bagian dari organ reproduksi yang
fungsi utamanya menyekresi susu untuk nutrisi bayi yang dimulai pada
minggu keenam belas. Sesudah bayi lahir, dari payudara akan keluar
sekret yang berupa cairan bening yang disebut kolostrum yang kaya
protein, dan dikeluarkan selama 2-3 hari pertama; kemudian air susu
mengalir lebih lancar dan menjadi air susu sempurna. Sebuah hormon
dari lobus anterior kelenjar hipofisis, yaitu prolaktin penting dalam
merangsang pembentukan air susu. (Pearce, 2011).

3. Definisi Cancer mammae


Cancer mammae disebut juga dengan Carcinoma Mammae adalah
sebuah tumor ganas yang tumbuh dalam jaringan payudara.
Tumor ini dapat tumbuh dalam susu, jaringan lemak, maupun pada
jaringan ikat payudara. (Suryaningsih & Sukaca 2013).

Cancer mammae adalah keganasan yang berasal dari kelenjar,


saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kullit
payudara. (Romauli & indari, 2013).
Cancer mammae adalah pertumbuhan sel yang tidak terkontrol
lantaran perubahan abnormal dari gen yang bertanggung-jawab atas
pengaturan pertumbuhan sel. Secara normal, sel payudara yang tua akan
mati, lalu digantikan oleh sel baru yang lebih ampuh. Regenerasi sel
seperti ini berguna untuk mempertahankan fungsi payudara, gen yang
bertanggung-jawab terhadap pengaturan pertumbuhan sel termutasi.
Kondisi itulah yang disebut cancer mammae. (Satmoko, 2012).
Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa
cancer mammae adalah suatu keadaan dimana terjadi pertumbuhan sel
yang tidak terkendali pada payudara, sehingga menyebabkan terjadinya
benjolan atau kanker yang ganas.
4. Faktor Resiko Cancer Mammae
Menurut Mulyani & Nuryani (2013), Sukaca & Suryaningsih
(2009) terdapat beberapa faktor yang mempunyai pengaruh terhadap
terjadinya cancer mammae, diantaranya:
1. Gender
Perempuan memiliki risiko terkena cancer mammae lebih
besar dibanding pria. Perbandingannya seratus banding satu
perempuan yang terkena cancer mammae dibandingkan pria.
2. Pemakaian hormon
Laporan dari Harvard School of Public Health menyatakan
bahwa terdapat peningkatan bermakna pada pengguna terapi
Estrogen Replacement.
Suatu metaanalisis menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat
risiko cancer mammae pada pengguna kontrasepsi oral, perempuan
yang menggunakan obat ini untuk mengalami kanker ini sebelum
menopause. Oleh sebab itu jika kita bisa menghindari adanya
penggunaan hormon ini secara berlebihan maka akan lebih aman.

3. Kegemukan (obesitas) setelah menopause


Seorang perempuan yang mengalami obesitas setelah
menopause akan beresiko 1,5 kali lebih besar untuk terkena
cancer mammae dibandingkan dengan perempuan yang berat
badannya normal.
4. Radiasi payudara yang lebih dini
Sebelum usia 30 tahun, seorang perempuan yang harus
menjalani terapi radiasi di dada (termasuk payudara) akan memiliki
kenaikan risiko terkena cancer mammae. Semakin muda ketika
menerima pengobatan radiasi, semakin tinggi risiko untuk terkena
cancer mammae di kemudian hari.
5. Riwayat cancer mammae
Seorang perempuan yang mengalami cancer mammae pada satu
payudaranya mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk
menderita kanker baru pada payudara lainnya atau pada bagian lain
dari payudara yang sama. Tingkat risikonyo bisa tiga sampai empat
kali lipat.
6. Riwayat keluarga
Risiko dapat berlipat ganda jika ada lebih dari satu anggota
keluarga inti yang terkena cancer mammae dan semakin mudah ada
anggota keluarga yang terkena kanker maka akan semakin besar
penyakit tersebut menurun.
7. Periode menstruasi
Perempuan yang mulai mempunyai periode awal (sebelum usia
12 tahun) atau yang telah melalui perubahan kehidupan (fase
menopause) setelah usia 55 tahun mempunyai risiko terkena
cancer mammae yang sedikit lebih tinggi. Mereka yang mempunyai
periode menstruasi yang lebih sehingga lebih banyak hormon
estrogen dan progesteron.
8. Umur atau usia
Sebagian besar perempuan penderita cancer mammae berusia 50
tahun ke atas. Resiko terkena cancer mammae meningkat seiring
bertambahnya usia.
9. Ras
Cancer mammae lebih umum terjadi pada perempuan berkulit
putih. Kemungkinan terbesar karena makanan yangmereka makan
banyak mengandung lemak. Ras seperti Asia mempunyai bahan
pokok yang tidak banyak mengandung lemak yang berlebih.
10. Perubahan payudara
Jika seorang perempuan memiliki perubahan jaringan payudara
yang dikenal sebagai hiperplasia atipikal (sesuai hasil biopsi), maka
seorang perempuan memiliki peningkatan risiko cancer mammae.
11. Aktivitas fisik
Penelitian terbaru dari Women’s Health Initiative menemukan
bahwa aktivitas fisik pada perempuan menopause yang berjalan
sekitar 30 menit per hari dikaitkan dengan penurunan 20 persen
resiko cancer mammae. Namun, pengurangan risiko terbesar adalah
pada perempuan dengan berat badan normal. Dampak aktivitas
fisikk tidak ditemukan pada perempuan dengan obesitas. Jika
aktivitas fisik dikombinasikan dengan diet dapat menurunkan berat
badan sehingga menurunkan risiko cancer mammae dan berbagai
macam penyakit.
12. Konsumsi alkohol

Perempuan yang sering mengkonsumsi alkohol akan beresiko


terkena cancer mammae karena alkohol menyebabkan perlemakan
hati, sehingga hati bekerja lebih keras sehingga sulit memproses
estrogen agar keluar dari tubuh dan jumlahnya akan meningkat.
13. Merokok
Merokok dapat meningkatkan resiko berkembangnya cancer
mammae, apalagi bagi perempuan yang memiliki riwayat keluarga
yang mengidap cancer mammae.

5. Manifestasi Klinis
Romauli & Vindari (2011) menyebutkan bahwa pada tahap awal
tidak terdapat tanda dan gejala yang khas. Tanda dan gejala dapat
terlihat pada tahap lanjut antara lain :
1. Adanya benjolan di payudara,
2. Adanya borok atau luka yang tidak sembuh,
3. Keluar cairan abnormal dari puting susu, cairan dapat berupa
nanah, darah, cairan encer atau keluar air susu pada perempuan
yang tidak hamil dan menyusui.
4. Perubahan bentuk dan besarnya payudara,
5. Kulit puting susu dan areola melekuk ke dalam atau berkerut.
6. Nyeri di payudara.
Menurut Mulyani & Nuryani (2013), jika metastase (penyebaran)
luas, maka tanda dan gejala yang biasa muncul adalah:
1) Pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula dan
servikal.
2) Hasil rontgen toraks abnormal dengan atau tanpa efusi
pleura.
3) Gejala penyebaran yang terjadi di paru-paru ditandai
dengan batuk yang sulit untuk sembuh, terdapat
penimbunan cairan antara paru- paru dengan dinding
dada sehingga akan menimbulkan kesulitan dalam
bernafas.
4) Nyeri tulang dengan penyebaran ke tulang.
5) Fungsi hati abnormal.
6. Jenis Cancer mammae

Mulyani & Nuryani (2013); Suryaningsih & Sukaca (2009);


Santoso (2009) menjelaskan bahwa terdapat beberapa jenis
cancer mammae yang sering terjadi :

1. Ductul Carcinoma In Situ (DCIS)


DCIS merupakan tipe cancer mammae noninvasif yang sering
terjadi. DCIS terdeteksi pada mamogram sebagai
microcalsifications (tumpukan kalsium dalam jumlah kecil). DCIS
muncul dari ductal epithelium dan masuk ke duktus.
2. Lobular Carcinoma In Situ (LCIS)
LCIS merupakan kanker yang tidak menyebar. Pada LCIS,
pertumbuhan jumlah sel terlihat jelas dan berada di dalam kelenjar
susu (lobulus).
3. Invasive (infiltrating) Ductal Carcinoma (IDC)
IDC terjadi di dalam saluran susu payudara lalu menjebol
dinding saluran dan menyerang jaringan lemak payudara. Bila
dipalpasi akan terasa benjolan yang keras. Biasanya terjadi
metastasis ke nodus lympha aksila.
4. Invasive (Infiltrating) Lobular Carcinoma (ILC)
ILC mulai terjadi di dalam lobulus (kelenjar) payudara, tetapi
sering mengalami metastase (penyebaran) ke bagian tubuh yang
lain.
Berikut adalah beberapa jenis cancer mammae yang jarang terjadi :
a. Medullary Carcinoma
Medullary carcinoma ialah jenis cancer mammae inasif
yang membentuk satu batas yang tidak lazim antara jaringan
tumor dan jaringan normal.
b. Mucinous Carcinoma
Mucinous Carcinoma terbentuk oleh sel kanker yang
memiliki mukus (lendir) dan biasanya mucul bersama tipe
kanker lainnya. Pertumbuhannya lambat, namun lama-lama
dapat meluas.
c. Tubular Carcinoma
Tubular carcinoma adalah tipe khusus dari cancer mammae
invasif.
d. Inflammatory Breast Cancer (IBC)
Inflammatory breast cancer ialah kondisi payudara yang
terlihat meradang (merah dan hangat) dengan cekungan dan
pinggiran tebal yang disebabkan oleh sel kanker yang
menyumbat pembuluh limfe kulit pembungkus payudara.
Pertumbuhannya cepat.
e. Paget’s Disease of The Nipple
Paget’s disease of the nipple ialah jenis cancer mammae
yang berawal dari saluran susu, lalu menyebar ke areola dan
puting payudara. Gejala yang tampak seperti kulit payudara
akan pecah-pecah, memerah, timbul borok, dan mengeluarkan
cairan.
f. Phylloides Tumor
Phylloides tumor ialah jenis kanker yang dapat bersifat
jinak ataupun ganas dan berkembang di dalam jaringan konektif
payudara yang dapat ditangani dengan operasi pengangkatan.

7. Stadium Cancer mammae

Stadium Keterangan
Cancer mammae non-invasif. Ada 2 tipe, yaitu DCIS
0
(ductal carcinoma in situ) dan LCIS (lobular carcinoma in
situ).
Kanker invasif kecil, ukuran tumor kurang dari 2 cm dan
I
tidak menyerang kelenjar getah bening.
Kanker invasif, ukuran tumor 2-5 cm dan sudah
II
menyerang kelenjar getah bening.
Kanker invasif besar, ukuran tumor lebih dari 5 cm dan
III
benjolan sudah menonjol ke permukaan kulit, pecah,
berdarah, dan bernanah.
Sel kanker sudah bermetastasis atau menyebar ke organ
IV
lain, seperti paru-paru, hati, tulang, atau otak.

Dijelaskan lebih rinci tentang stadium cancer mammae, yaitu :


• Stadium 0
Disebut Ductal Carcinoma In Situ atau Noninvasive Cancer yaitu
kanker yang tidak menyebar keluar dari pembuluh/ saluran payudara
dan kelenjar-kelenjar (lobulus) susu pada payudara.
• Stadium 1
Tumor masih sangat kecil dan tidak menyebar serta tidak ada titik
pada pembuluh getah bening.
• Stadium IIA
Diameter tumor lebih kecil atau sama dengan 2 cm dan telah
ditemukan pada titik-titik saluran getah bening di ketiak.
• Stadium IIB
Diameter tumor lebih lebar dari 2 cm tetapi tidak melebihi 5 cm,
telah menyebar pada titik-titik di pembuluh getah bening ketiak, dan
diameter tumor lebih lebar dari 5 cm tapi belum menyebar.
• Stadium IIIA
Diameter tumor lebih kecil dari 5 cm dan telah menyebar pada titik-
titik di pembuluh getah bening ketiak.
• Stadium IIIB
Tumor telah menyebar ke dinding dada atau menyebabkan
pembengkakan bisa juga luka bernanah di payudara dapat
didiagnosis sebagai infalammatory breast cancer. Dapat juga sudah
atau bisa juga belum menyebar ke titik-titik pada pembuluh getah
bening di ketiak dan lengan atas, tetapi tidak menyebar ke bagian
lain dari organ tubuh.
• Stadium IIIC
Seperti stadium IIIB, tetapi telah menyebar ke titik-titik pada
pembuluh getah bening dalam group N3.
• Stadium IV
Ukuran tumor dapat berapa saja, tetapi telah menyebar pada lokasi
yang jauh, seperti tulang, paru-paru, liver atau tulang rusuk.

8. Program Deteksi Cancer mammae

Menurut Mulyani & Nuryani (2013); Suryaningsih & Sukaca


(2009) terdapat beberapa proses deteksi cancer mammae, yaitu :
1. Periksa Payudara Sendiri (SADARI) :
Cara pemeriksaan:
a. Berdirilah di depan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan
pada payudara. Biasanya payudara tidak sama, putingnya juga
tidak terletak pada ketinggian yang sama. Perhatikan apakah
terdapat keriput, lekukan, atau puting susu tertarik ke dalam.
Bila terdapat kelainan atau keluar cairan atau darah dari puting
susu, segeralah pergi ke dokter.
b. Letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali
kedua payudara. Kemudian bungkukkan badan hingga
payudara tergantung ke bawah dan periksa lagi.
c. Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di
belakang kepala, dan sebuah bantal di bahu kiri. Rabalah
payudara kiri dengan telapak jari-jari kanan. Periksalah apakah
ada benjolan pada payudara. Kemudian periksa juga apakah ada
benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri.
d. Periksa dan rabalah puting susu dan sekitarnya. Pada umumnya
kelenjar susu bila diraba dengan telapak jari-jari tangan akan
terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor, maka
akan terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat
dipindahkan dari tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjolan
sebesar 1 cm atau lebih, segeralah ke dokter. Makin dini
penanganan, semakin besar kemungkinan untuk sembuh secara
sempurna.
2. Thermografi Payudara
Thermografi payudara adalah suatu prosedur diagnosis yang
menggambarkan payudara sebagai langkah deteksi dini
cancer mammae. Prosesnya akan menghasilkan peningkatan suhu
di dalam payudara.
Thermografi payudara dapat dilakukan dengan :
a. Kamera inframerah ultra sensitif (ultra-sensitive infrared
cameras),
b. Komputer.

Cara penggunaan :
a. Pasien berdiri di depan kamera dengan melepas pakaian dari
pinggang ke atas.
b. Posisi berdiri tegak dengan mengangkat kedua telapak tangan
di belakang kepala.

Hasil dengan thermografi payudara :


a. Citra inframerah yang abnormal merupakan tanda penting
adanya resiko tinggi terjadinya cancer mammae.
b. Ketidaknormalan yang tetap tertangkap pada pemeriksaan
thermografi berikutnya menandakan risiko terkena
cancer mammae di masa mendatang 22 kali lipat lebih tinggi.
c. Ketika perempuan dengan ketidaknormalan tersebut menjalani
perawatan kesehatan payudara, maka tingkat bertahan
hidupnya naik sekitar 61 %.

3. Mamografi
Mamografi adalah suatu metode pendeskripsian dengan
menggunakan sinar X berkadar rendah. Tes dalam mamografi
disebut mammogram.
Cara menggunakan mammogram :

Tahap 1
a. Pasien diminta menanggalkan pakaian dari pinggang ke atas
dan diganti pakaian rumah sakit.
b. Berdiri di depan mesin mamografi.
c. Penyinaran dilakukan satu per satu pada payudara dengan
meletakkannya di atas penjepit lembar film dari plastik atau
metal.
d. Tekan payudara sedatar mungkin di antara penjepit film dan
kotak plastik yang disebut paddle, yang menekan payudara dari
atas ke bawah.
e. Pancarkan sinar x beberapa detik.

Tahap 2
a. Berposisi di samping mesin mamografi.
b. Penjepit film akan dinaikkan sehingga sisinya persis dengan
posisi luar payudara, sedangkan sudutnya menyentuh ketiak.
c. Melakukan oblique position, yaitu menekan kembali paddle
beberapa detik saat sinar x dipancarkan. Prosedur ini akan
diulang pada payudara satunya.
d. Totalnya empat sinar x, dua untuk masing-masing payudara.

4. Ductography
Ductography merupakan bagian dari mamografi.
Fungsi ductography adalah :
a. Memperlihatkan saluran air susu yang ada di dalam payudara.
b. Membantu dalam mendiagnosis penyebab keluarnya cairan
abnormal pada putting.
Cara melakukan mamografi :
a. Membersihkan dan mensterilkan payudara dengan alkohol
untuk membersihkan sisa cairan yang kering dan menempel
pada puting.
b. Pijat payudara untuk mendapatkan cairan.
c. Tempatkan satu jarum pada putting sementara pasien
memegang putting dengan telunjuk dan ibu jarinya.
d. Puting diarahkan ke bawah agar kanula dapat masuk saluran air
susu pasien.
e. Cairan radiopaque disuntikkan ke dalam payudara melalui
suntikan yang telah disambungkan dengan canula.
f. Payudara kemudian dicitrakan ke mamografi.
g. Tempelkan puting plester untuk menghindari keluarnya cairan
ke pakaian pasien.
5. Biopsi payudara
Biopsi payudara adalah sebuah tindakan untuk mengambil
contoh jaringan payudara dengan lensa mikroskop. Dengan begitu
maka dapat diketahui adanya sel cancer mammae yang bersarang.
Cara penggunaan biopsi payudara :
a. Fine-Needle Aspiration Biopsy (FNA)
Alat : menggunakan jarum kecil
Cara : Jarum kecil dimasukkan dalam payudara. Dari ujung
jarum tersebut, contoh jaringan diambil untuk kemudian
diperiksa.
b. Core Needle Biopsy
Alat : menggunakan jarum berbentuk khusus dan lebih besar.
Cara : Jarum dimasukkan hingga menembus kulit sampai ke
benjolan.
c. Open biopsy
Alat : menggunakan jarum atau kabel khusus.
Cara : Mengiris kulit dan mengambil sebagian atau seluruh
benjolan. Jika tidak ada benjolan, jarum atau kabel
khusus akan dimasukkan ke daerah yang dicurigai saat
mammogram sebelum pembedahan dilakukan. Gambar
jarum atau kabel tersebut akan membantu menentukan
daerah benjolan dan menentukan lokasi sayatan.
6. USG
USG merupakan kelanjutan pemeriksaan mamography atau uji
klinis payudara. USG sering digunakan untuk memerksa
abnormalitas payudara.
Cara pemeriksaan :
a. Pasien berbaring pada tempat khusus.
b. Olesi payudara dengan gel.
c. Geser transduser pada payudara.
d. Bentuk dan intensitas pantulan bergantung pada kepadatan
jaringan payudara.
e. Jika sebuah kista, hampir seluruh gelombang suara akan
melewati kista serta menghasilkan pantulan yang lemah.
f. Jika tumor payudara, gelombang suara akan memantul dari
benda padat tersebut. Sehingga diterjemahkan komputer
menjadi gambar yang diindikasikan sebagai massa.
g. USG tidak menggunakan radiasi dan bebas rasa sakit.

9. Pencegahan Cancer Mammae


Menurut Mulyani & Nuryani (2013); Suryaningsih & Sukaca ,
(2009) terdapat beberapa cara mencegah cancer mammae, yaitu :
a. Strategi Pencegahan
1. Pencegahan Primer
Merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan karena
dilakukan pada orang yang sehat untuk menghindarkan diri dari
keterpaparan pada berbagai resiko. Pencegahan primer dapat
berupa deteksi dini dan melakukan pola hidup sehat untuk
mencegah cancer mammae.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan ini dilakukan terhadap individu yang memiliki
risiko untuk terkena cancer mammae. Pada setiap perempuan
yang normal serta memiliki siklus haid normal merupakan
populasi at risk cancer mammae. Pencegahan ini dilakukan
dengan melakukan deteksi dini berupa skrining melalui
mammografi yang memiliki akurasi 90% tetapi paparan yang
terus-menerus dapat menjadi risiko cancer mammae.
3. Pencegahan Tertier
Pencegahan ini diarahkan pada individu yang telah positif
menderita cancer mammae. Dengan penanganan yang tepat
dapat mengurangi kecacatan dan memperpanjang harapan
hidup.

b. Terapkan pola hidup sehat


1. Menjaga berat badan ideal;
2. Pemberian ASI;
3. Konsumsi sayuran, buah, dan kacang-kacangan;
4. Mengurangi konsumsi makanan dan gula yang diproses;
5. Kurangi konsumsi daging merah kurang dari 3 ons per hari;
6. Menghindari gorengan serta makanan yang banyak
mengandung lemak;
7. Hindari makanan yang terkontaminasi jamur;
8. Menyimpan makanan yang cepat rusak dalam lemari es;
9. Mengurangi makanan yang diasap;
10. Metode memasak dengan suhu rendah;
11. Menghentikan konsumai alkohol;
12. Olahraga yang teratur;
13. Hindari merokok;
14. Menghindari stress.

c. Konsumsi makanan pencegah cancer


Terdapat beberapa jenis makanan yang diteliti ahli dapat
mencegah cancer mammae, yaitu tomat, alpukat, blueberry, kunyit,
teh hijau, brokoli, kembang kol, bawang putih, bayam, buah
delima, rumput laut, sayuran, gandum, ikan salmon dan tuna,
yoghurt, olahan kedelai, dan jus jeruk.

d. Makanan Penderita Cancer Mammae


Makanan yang dianjurkan untuk penderita cancer mammae
adalah sayuran seperti wortel, lobak, pisang raja, belimbimg manis,
seledri, kubis, apel, bawang, susu kedelai, dan tempe.
F. Asuhan Keperawatan

I. Pengkajian
A. Data inti komunitas (core inti)
1. Demografi: jumlah kelompok dewasa, golongan umur, pengalaman

sebelumnya. Etnis terdiri dari suku bangsa dan ras.


2. Tipe keluarga: keluarga/ bukan keluarga, kelompok.
3. Status perkawinan: kawin, janda/duda, single.
4. Statistik vital: kelahiran, kematian kelompok usia dewasa dan penyebab

kematian.
5. Nilai-nilai keyakinan dan agama: nilai agama dan keyakinan yang

dianut oleh kelompok dewasa berkaitan dengan nilai dan norma yang

dianut.

B. Data Subsistem Komunitas


Delapan data subsistem yang perlu dikumpulkan dalam pengkajian

komunitas meliputi:
1. Lingkungan fisik
Dilihat di lingkungan kelompok usia dewasa, kebersihan lingkungan

kualitas air, pembuangan limbah, kualitas udara, kualitas makanan,

akses dan aktifitas kelompok dewasa dalam pemenuhan kebutuhan.

Data dapat dikumpulkan dengan winshield survey dan observasi.


2. Pelayanan kesehatan dan sosial
Ketersediaan pelayanan kesehatan khusus kelompok dewasa melalui

puskesmas, pengobatan tradisional atau fasilitas pelayanan kesehatan.


3. Ekonomi
Dilihat dari jumlah pendapatan keluarga, jenis pekerjaan

penanggungjawab, jumlah penghasilan dan pengeluarannya.

4. Transportasi dan keamanan


Dilihat dari jenis transportasi yang digunakan kelompok dewasa untuk

mendapatkan pelayanan kesehatan dan adanya rasa aman dan dukungan

dari anggota keluarga untuk kelompok usia dewasa.


5. Politik dan pemerintahan
Pemerintahan: kelompok pelayanan masyarakat seperti PKK, tahlil,

kumpulan bapak-bapak, dll. Terdapat kebijakan yang mendukung

optimalnya peran ibu dalam memberikan ASI. Politik: kegiatan politik

yang ada diwilayah tersebut dan peran peserta partai politik dalam

pelayanan kesehatan.
6. Komunikasi
a. Komunikasi formal: media komunikasi yang digunakan oleh

kelompok dewasa untuk memperoleh informasi pengetahuan

tentang kesehatan melalui buku dan sosialisasi dari tenaga

kesehatan.
b. Komunikasi informal
Komunikasi/ diskusi yang dilakukan kelompok dewasa dengan

tenaga kesehatan, orang yang berpengalaman dan lingkungan dalam

masyarakat dalam menyelesaikan masalah kelompok dewasa.


7. Pendidikan
Tingkat pendidikan yang mempengaruhi pengetahuan dan sikap dalam

meningkatkan derajat kesehatan.


8. Rekreasi
Tempat rekreasi yang digunakan oleh kelompok dewasa.

II. Diagnosa

Menurut Nurarif & Kusuma (2013), diagnosa yang


mungkin muncul pada pasien cancer mammae adalah :
a. Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa
tumor. b. Cemas berhubungan dengan perubahan gambaran
tubuh.
c. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta
pengobatan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya
informasi.
d. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan
mastektomi.
e. Gangguan gambaran tubuh berhubungan dengan mastektomi.
f. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan hipermetabolisme ke jaringan.
III. Perencanaan
Perencanaan merupakan bagian proses keperawatan yang
mengidentifikasi masalah/ kebutuhan pasien, tujuan/ hasil
perawatan, dan intervensi untuk mencapai hasil yang diharapkan
dan menangani masalah/ kebutuhan pasien. (Doenges, Moorhouse,
& Burley, 2000).
Menurut Nurarif & Kusuma (2013); Geissler, Doenges &
Moorhouse (1999); Wijaya & Putri (2013) menjelaskan bahwa
perencanaan yang dapat diberikan pada pasien dengan
cancer mammae adalah :
a. Diagnosa 1 nyeri berhubungan dengan adanya penekanan
massa tumor
Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam
diharapkan nyeri berkurang atau dapat mentolerir nyeri.
Kriteria hasil :
1. Klien mampu mengontrol rasa nyeri.
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri.
3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan
tanda nyeri).
4. Menyatakan merasa nyaman setelah nyeri berkurang
Rasional
Intervensi

1. Lakukan pengkajian nyeri 1. Informasi memberikan data


secara komprehensif, dasar untuk mengevaluasi
termasuk lokasi, kebutuhan/ keefektifan
karakteristik, durasi, intervensi.
frekuensi, maupun kualitas.
2. Berikan pengalihan seperti 2. Memungkinkan pasien untuk
reposisi dan aktivitas berpartisipasi secara aktif
menyenangkan seperti dan meningkatkan rasa
mendengarkan music atau control.
menonton TV.
3. Evaluasi keefektifan control 3. Evaluasi dilakukan setelah
nyeri. mengajarkan teknik
pengalihan, sehingga
mengetahui kebutuhan klien.
4. Kolaborasi dalam 4. Nyeri adalah komplikasi
pemberian analgetik. sering dari kanker, meskipun
respons individual berbeda.
Saat perubahan penyakit/
pengobatan terjadi, penilaian
dosis dan pemberian akan
diperlukan.

b. Diagnosa 2 Cemas berhubungan dengan perubahan gambaran


tubuh
Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam
diharapkan cemas berkurang.
Kriteria hasil :
1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala
cemas.
2. Mengidentifikasi, mengungkapkan, dan menunjukkan
teknik mengontrol cemas.
3. Vital sign dalam batas normal.
4. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat
aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.

Intervensi Rasional

1. Gunakan pendekatan yang 1. Pasien yang cemas


menenangkan. memerlukan teman dan
ketenangan dalam
mengungkapkan
kecemasannya.

2. Jelaskan prosedur 2. Prosedur, dampak dan segala


semua
dan apa yang dirasakan yang berkaitan dengan terapi
selama prosedur. diberikan. Hal ini membuat
pasien tahu mengenai
dampaknya, dan dapat
mengambil keputusan yang
tepat.
3. Memberikan kesempatan
3. Dorong pasien untuk
untuk memeriksa rasa takut
mengungkapkan perasaan,
realistis serta kesalahan
ketakutan, persepsi.
konsep tentang diagnosis.

c. Diagnosa 3 Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan


pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam
diharapkan pasien dapat mengetahui tentang penyakitnya. Kriteria
hasil :
1. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang
penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan.
2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar.
3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/ tim kesehatan lainnya.
Intervensi Rasional
1. Berikan penilaian tentang 1. Memvalidasi tingkat
tingkat pengetahuan pasien pemahaman saat ini, dan
tentang proses penyakit memberikan dasar
yang spesifik. pengetahuan diamana pasien
membuat keputusan
berdasarkan informasi.
2. Jelaskan patofisiologi dari 2. Informasi akurat
penyakit dan hubungannya
dengan anatomi fisiologi dan mendetil dapat
dengan cara yang tepat. membantu
menghilangkan
ansietas dan
mebmbuat keputusan.
3. Diskusikan perubahan 3. Gaya hidup
gaya hidup yang mungkin
diperlukan untuk member pengaruh
mencegah komplikasi di yang penting dalam
masa yang akan datang.
mencegah komplikasi.

d. Diagnosa 4 Kerusakan integritas Kulit berhubungan dengan


pengangkatan bedah kulit/ jaringan.
Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam
waktu penyembuhan kulit meningkat.
Kriteria hasil :
1. Perfusi jaringan baik.
2. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan
mencegah terjdinya cedera berulang.
3. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban
kulit dan perawaatan alami.
Intervensi Rasional
1. Kaji balutan/ luka untuk 1. Penggunaan balutan
karakteristik drainase. tergantung luas pembedahan
Monitor jumlah edema, dan penutupan luka.
kemerahan, dan nyeri pada Drainase terjadi ketika
insisi dan lengan, serta trauma prosedur dan
suhu. manipulasi banyak
pembuluh darah dan limfatik
pada area tersebut.
Pengenalan dini terjadi
ketika infeksi dapat
memampukan pengobatan
dengan cepat.
2. Tempatkan pada posisi 2. Membantu drainase cairan
semifowler. melalui gravitasi.
3. Jangan melakuka 3. Meningkatkan potensial
pengukuran TD, injeksi konstriksi , infeksi, dan
obat, atau memasukkan IV limfedema pada posisi yang
pada lengan ynag sakit. sakit.
4. Anjurkan untuk memakai 4. Menurunkan tekanan pada
pakaian yang tidak sempit/ jaringan yang terkena, yang
ketat, perhiasan atau jam dapat memperebaiki
tangan pada tangan yang sirkulasi/ penyembuhan.
sakit.

e. Diagnosa 5 Gangguan gambaran tubuh berhubungan dengan


mastektomi
Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam
citra tubuh kembali efektif.
Kriteria hasil :
1. Gambaran tubuh positif.
2. Mampu mengidentifikasi kekuatan personal.
3. Mendiskripsikan secara factual perubahan fungsi tubuh.
4. Mempertahankan interaksi sosial.
Intervensi Rasional

1. Kaji secara verbal dan non- 1. Dapat menyatakan


verbal respon klien terhadap bagaimana pandangan diri
tubuhnya. pasien pada perubahan.
2. Jelaskan tentang 2. Dapat menyatakan masalh
pengobatan, perawatan, penyakit sehingga membantu
kemajuan dan prognosis dalam mengambil
penyakit. keputusan.
3. Dorong klien 3. Kehilangan bagian tubuh,
mengungkapkna menerima kehilanga hasrat
perasaannya. seksual sehingga pasien
membuat rencana untuk
masa depan.
4. Fasilitasi kontak dengan 4. Memberikan tempat untuk
individu lain dalam pertukaran masalah dan
kelompok keci. perasaan dengan orang lain
yang mengalami pengalaman
yang sama dan
mengidentifikasi cara orang
terdekat dapat memudahkan
penyembuhan pasien.

f. Diagnosa 6 ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan


tubuh berhubungan dengan hipermetabolisme pada jaringan Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selam 3 x 24 jam,
diharapkan nutrisi terpenuhi atau adekuat.
Kriteria hasil :
1. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
2. Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari
menelan.
3. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.
Intervensi Rasional

1. Pantau masukan makanan 1. Mengidentifikasi kekuatan/


seiap hari. defisiensi nutrisi.
2. Ukur tinggi badan, berat 2. Membantu dalam identifikasi
badan, dan ketebalan malnutrisi protein-kalori,
lipatan kulit trisep. khususnya bila berat badan
dan hasil antropometrik
kurang dari normal.
3. Ciptakan suasana makan 3. Membuat waktu makan lebih
yang menyenangkan. menyenangkan, yang dapat
meningkatkan masukan.
4. Dorong komunikasi terbuka 4. Sering sebagai distress emosi,
mengenai masalah khususnya untuk orang
anoreksia. terdekat yang menginginkan
member makan pasien
dengan sering.
5. Kolaborsi denga ahli gizi 5. Memberikan rencana diet
untuk menentukan jumlah khusus untuk memenuhi
kalori dan nutrisi yang kebutuhan individu dan
dibutuhkan pasien. menurunkan masalah
berkenaan dengan malnutrisi
protein/ kalori dan defisiensi
mikronutrien.

IV. Implementasi
Implementasi merupakan tahap keempat dari proses perawatan
diamana rencana perawatan dilaksanakan, melaksanakan intervensi/
aktivitas yang telah ditentukan. (Doenges, Moorhouse, & Burley,
2000).

V. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, yakni
proses yang dilakukan secara terus-menerus dan penting untuk
menjamin kualitas serta ketepatan perawatan yang diberikan dan
dilakukan dengan meninjau respon untuk menentukan keefektifan
rencana perawatan dalam memenuhi kebutuhan pasien. (Doenges,
Moorhouse, & Burley, 2000).
DAFTAR PUSTAKA

Depkes. 2013. Angka Kejadian Kanker Payudara Masih Tinggi.


http://www.depkes.go.id/index.php?vw=2&id=2233. 2013. Jakarta.

Doenges, Marilynn E, dkk. 2000. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa


Keperawatan. Jakarta : EGC.

Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardhi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
berdasarkan Diagnosis Medis & NANDA. Yogyakarta : Medi Action
Publishing.

Pearce, Evelyne C. 2011. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT


Gramedia Pustaka Utama.

Wijaya, Andra Saferi & Putri, Yessie Mariza. 2013. Keperawatan Medikal Bedah.
Bengkulu : Nuha Medika.

https://id.wikipedia.org/wiki/Wanita

https://www.fatihsyuhud.net/wanita-dewasa/

Hurlock, Elizabeth. (1980). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga