Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH ILMU BEDAH UMUM

“PREMEDIKASI DAN ANASTESI”

OLEH :

KELOMPOK A2

YULIANA CITRA IE (1609010004)

ALEXANDRA P. SUNGGA (1609010018)

YUSTINA INDRAWATI (1609010030)

MARIA INOCENSIA TULASI (1609010040)

ANDIANUS F. SURAK (1609010044)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-
Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ilmu bedah umum “Premedikasi dan Anastesi” ini
tepat pada waktunya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah ilmu
bedah umum yang telah memberikan tugas makalah ini sebagai penambah nilai dan juga sebagai
bahan belajar.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, segala
kritikan serta masukan yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan pembuatan makalah-
makalah berikutnya. Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca.

Kupang, Desember 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


1.2 RUMUSAN MASALAH
1.3 TUJUAN
BAB II PEMBAHASAN

2.1 PREMEDIKASI

2.1.1 Tujuan Premedikasi

2.1.2 Faktor-Faktor Dalam Pemulihan Agen Premedikasi

2.2.3 Jenis Agen Premedikasi Dan Efek Farmakologinya

2.2 ANASTESI

2.2.1 Penilaian Status Pasien Berdasar ASA

2.2.2 Stadium Anastesi

2.2.3 Agen Dan Dosis Anastetika

BAB III PENUTUP

3.1 SIMPULAN
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Dalam menangani kesehatan hewan, tidak jarang para dokter hewan memerlukan
transqualizer (penenang) dan anestetik (obat bius) yang erat kaitannya dengan
pembedahan. Obat bius adalah sejenis obat yang digunakan dalam proses
pembedahan atau prosedur lain yang dilakukan oleh dokter. Kegunaan obat bius atau
manfaat obat bius adalah untuk menghilangkan rasa nyeri sehingga mengurangi rasa
sakit saat pasien sedang menjalani proses pembedahan. Obat bius sangat diperlukan
dalam proses anestesi yang dilakukan sebelum operasi (Agustianingsih, 2012).
Anestesi sebelum operasi sangat penting dilakukan pada hewan untuk
menghilangkan rasa sakit dan mempermudah pekerjaan dalam operasi. Tujuan hewan
dianestesi sebelum operasi adalah untuk memastikan hewan tidak merasakan nyeri
ataupun sakit sehingga dapat mengurangi penderitaan bagi hewan tersebut. Salah satu
cara yang dapat digunakan adalah dengan penggunaan anestesi umum. Anestesi
umum adalah hilangnya rasa sakit disertai hilangnya kesadaran (Sardjana dan
Kusumawati,2011).
Istilah anestesi dimunculkan pertama kali oleh oleh dokter Oliver Wendell Holmes
(1809-1894) berkebangsaan Amerika, diturunkan dari dua kata Yunani : An berarti
tidak, dan Aesthesis berarti rasa atau sensasi nyeri. Secara harfiah berarti ketiadaan
rasa atau sensasi nyeri (Mentari, 2013). Obat-obatan anestesi yang digunakan dan
yang diberikan kepada hewan akan membuat hewan tersebut tidak lagi merasakan
sakit atau sudah tidak peka terhadap rasa sakit sehingga hewan dapat menjadi lebih
tenang. Dengan demikian maka pembedahan pun dapat dilaksanakan dengan baik.
Sebelum melakukan pembedahan, pasien perlu diberikan dosis anestesi yang sesuai,
sehingga mengurangi resiko yang berat.
Pengetahuan yang sudah cukup maju dan mutakhir yang terjadi dibidang
kedokteran, termasuk kedokteran hewan, terutama pada bidang anestetik membuat
beragam jenis obat bermunculan. Penggunaan obat-obatan tersebut perlu diperhatikan
terutama efek samping, indikasi, maupun kontraindikasi pada pasien, sehingga
diperoleh kondisi anestesi sesuai yang diharapkan. Pemilihan obat anestesi umum
harus didasarkan atas beberapa pertimbangan, yaitu jenis operasi, lamanya operasi,
temperamen hewan, fisiologis hewan, dan spesies hewan (Erwin, 2009). Anestesi
secara injeksi lebih sering digunakan, selain karena lebih praktis alatnya juga cukup
terjangkau dan mudah ditemukan. Anestesi yang dilakukan secara injeksi melalui
intramuskular atau pun intravena umumnya digunakan pada operasi yang memerlukan
waktu pendek.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dari pembuatan makalah ini adalah :
1.2.1 Apa saja tujuan dari premedikasi ?
1.2.2 Bagaiman faktor-faktor dalam pemilihan agen premedikasi ?
1.2.3 Apa saja jenis agen premedikasi serta bagaimana efek farmakologinya ?
1.2.4 Bagaimana penilaian status pasien berdasar ASA ?
1.2.5 Apa saja stadium anastesi, agen dan dosis anastetika ?
1.2.6 Bagaimana penggolongan anastetika berdasarkan rute pemberian maupun efek
farmakologinya (anastesi lokal, anastesi regional, anastesi umum, anastesi
parenteral, anastesi inhalasi)?
1.3 TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.3.1 Untuk mengetahui tujuan dari premedikasi
1.3.2 Untuk mengetahui faktor-faktor dalam pemilihan agen premedikasi
1.3.3 Untuk mengetahui jenis agen premedikasi serta efek farmakologinya
1.3.4 Untuk mengetahui penilaian status pasien berdasar ASA
1.3.5 Untuk mengetahui stadium anastesi, agen dan dosis anastetika
1.3.6 Untuk mengetahui penggolongan anastetika berdasarkan rute pemberian
maupun efek farmakologinya (anastesi lokal, anastesi regional, anastesi umum,
anastesi parenteral, anastesi inhalasi)
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PREMEDIKASI
2.1.1 Tujuan Premedikasi
Dua tujuan umum premedikasi yang diajukan oleh Beecher pada tahun 1955 adalah
sebagai berikut:
(1) Untuk memberi kenyamanan pada pasien saat bedah dan
(2) Untuk mencegah terjadinya masalah-masalah pada saat diberi anestesi, membantu
proses anestesi dan pembedahan.
Tujuan lain dari premedikasi anestesi, seperti yang ditemukan dalam literatur, adalah
untuk:
(1) Mencegah nyeri pasca operasi,
(2) Memberikan profilaksis yang efektif terhadap PONV (Mual dan muntah pasca
operasi),
(3) Mengurangi menggigil perioperatif,
(4) Menurunkan pruritus pasca operasi,
(5) Menurunkan sekresi lambung,
(6) Mencegah reaksi alergi,
(7) Menekan respons refleks terhadap rangsangan bedah, dan
(8) Menurunkan kebutuhan anestesi untuk prosedur pembedahan (Sheen M. J., et al.
2014).
2.1.2 Faktor-Faktor Dalam Pemulihan Agen Premedikasi
Faktor-faktor dalam pemilihan agen premedifikasi bergantung pada:
 Umur pasien
 Berat badan
 Status fisik
 Derajat kecemasan
 Riwayat hospitalisasi sebelumnya (terutama pada anak)
 Riwayat reaksi terhadap obat premedikasi sebelumnya (bila pasien pernah diberi
anestesi sebelumnya)
 Riwayat penggunaan obat-obat tertentu yang kemungkinan dapat berpengaruh
pada jalannya anestesi (misalnya pada pemberian kortikosteroid, antibiotika
tertentu)
 Perkiraan lamanya operasi
 Macam dan jenis operasi (misalnya terencana atau darurat, pasien rawat inap atau
rawat jalan serta rencana obat anestesi yang akan digunakan.
2.1.3 Jenis Agen Premedikasi Dan Efek Farmakologinya

Obat-obat yang bersifat sedatif dan anxiolitik berperan besar dalam


meningkatkan kualitas anestesi dan pemulihan, serta meminimalisir efek samping
dari obat-obat anestesi yang tidak diinginkan (Lee, 2006a). Obat-obat premedikasi
yang umum diberikan untuk anjing adalah (a) tranquilliser seperti acepromazin,
diazepam, midazolam, xilazin dan medetomidin, (b) narkotik seperti morfin,
oksimorfon, meperidin dan (c) antikolinergik seperti atropin dan glikopirolat.

1. Atropin

Atropin merupakan agen antimuskarinik yang menghambat asetilkolin atau


stimulan kolinergik lain. Dengan dosis yang tinggi atropin dapat memblokir
reseptor nikotin. Penggunaan dengan dosis rendah atropin akan menghambat
produksi saliva, menghambat sekresi bronkus serta keringat. Pada dosis medium
atropin menyebabkan dilatasi pupil mata dan meningkatkan denyut jantung.
Penggunaan dosis tinggi akan mengurangi motilitas gastrointestinal dan saluran
urinaria, sedangkan untuk dosis yang sangat tinggi atropin akan menghambat
sekresi lambung (FKH IPB, 2012).

Atropin dapat diabsorbsi dengan baik apabila diberikan secara oral, injeksi dan
inhalasi. Jika atropin diberikan secara injeksi intravena, efek terhadap denyut
jantung akan tampak dalam 3 – 4 menit setelah pemberian, lalu akan diikuti
dengan blokade kolinergik. Atropin terdistribusi dengan baik di dalam tubuh dan
melalui sistem saraf pusat, dimetabolisme di hati dan diekskresikan melalui urin
(Plumb, 2008).

2. Xilazin
Xilazin sering digunakan pada anjing untuk tujuan sedasi dengan periode
analgesia yang lebih singkat, juga digunakan sebagai obat premedikasi sebelum
anestesi lokal atau anestesi umum. Xilazin memberikan relaksasi otot, dan pada
anjing obat ini dapat menyebabkan muntah. Xilazin juga menekan mekanisme
pengaturan suhu sehingga kemungkinan bisa menyebabkan hypothermia atau
hyperthermia, tergantung pada temperatur udara sekitar, berpengaruh terhadap
sistem kardiovaskuler yang meliputi tekanan darah, ritme jantung dan frekuensi
denyut jantung. Pada anjing xilazin dapat memberikan efek samping seperti
tremor otot, bradikardia dengan blokade A-V dan mengurangi frekuensi respirasi
(FKH IPB, 2012).
Mulai kerja xilazin yang diberikan pada anjing secara intramuskuler mencapai
10 – 15 menit dan 3 – 5 menit apabila diberikan secara intravena. Efek analgesik
xilazin bisa bertahan selama 15 – 30 menit, namun efek sedasinya bisa bertahan
hingga 1 – 2 jam tergantung pada dosis yang diberikan, sedangkan waktu
pemulihan sempurna setelah pemberian xilazin pada anjing membutuhkan waktu
antara 2 – 4 jam (Plumb, 2008).
2.2.2 ANASTESI
2.2.1 Penilaian Status Pasien Berdasar ASA
 Klasifikasi ASA
Klasifikasi status fisik yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik
seseorang ialah yang berasal dari The American Society of Anesthesiologist
(ASA). Klasifikasi ASA antara lain :
a. ASA I : pasien dalam kondisi sehat
b. ASA II : pasien dengan kelainan sistemik ringan – sedang yang tidak
berhubungan dengan pembedahan, dan pasien masih dapat melakukan
aktivitas sehari-hari.
c. ASA III : pasien dengan gangguan sistemik berat sehingga aktivitas rutin
terbatas
d. ASA IV : pasien dengan kelainan sistemik berat tidak dapat melakukan
aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat
(mengancam jiwa dengan atau tanpa pembedahan).
e. ASA V : pasien tidak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun dioperasi
atau tidak.
f. ASA VI : brain-dead
Tabel 1. Klasifikasi ASA (Grace A. Pierce, Borley R. Neil, 2006)

KELAS STATUS FISIK CONTOH


I Pasien normal yang sehat. Pasien bugar dengan hernia
inguinal.
II Pasien dengan penyakit sistemik ringan. Hipertensi esensial,
diabetes ringan.
III Pasien dengan penyakit sistemik berat yang Angina, insufisiensi
tidak melemahkan (incapacitating). pulmoner sedang sampai
berat.
IV Pasien dengan penyakit sistemik yang Penyakit paru stadium
melemahkan dan merupakan ancaman lanjut, gagal jantung.
konstan terhadap kehidupan.
V Pasien sekarat yang diperkirakan tidak Ruptur aneurisma aorta,
bertahan selama 24 jam atau tanpa operasi emboli paru masif.
E Kasus-kasus emergensi diberi tambahan
huruf E ke angka

Jika akan dilakukan operasi darurat dapat mencantumkan tanda darurat E.


Klasifikasi ASA (The American Society Of Anesthesiologists) dan skor ASA (the
American Society of Anesthesiologists) telah digunakan bertahun-tahun sebagai
indikator risiko perioperatif. Panitia ASA pertama kali mengemukakan konsep skor
tersebut pada tahun 1941, sebagai metoda untuk standarisasi status fisik di rekam medis
rumah sakit untuk kajian statistik di bidang anestesia. Hanya serangkaian perubahan
kecil telah dikenakan selama bertahun-tahun dan versi mutakhir dari klasifikasi ini yang
diselesaikan pada tahun 1974 oleh the House of Delegates of the ASA, pasien diberi
skor menurut kebugaran fisik mereka dan hurup E ditambahkan jika prosedur yang
direncanakan bersifat darurat (emergensi). Walaupun skor mudah dan praktis digunakan,
skor ini kurang ketepatan ilmiah dalam penerapannya. Dokter anestesi mungkin tidak
setuju terhadap kalsifikasi yang tepat untuk pasien-pasien tertentu.

Di samping itu, risiko pembedahan dan pembiusan tergantung pada faktor-faktor


lain yang tidak dipertimbangkan atau dicakup dengan skor. Ini mencakup usia, berat
badan, jenis kelamin, dan kehamilan. Grade dokter spesialis bedah dan spesialis
anestesi, fasilitas untuk perawatan pasca bedah dan bantuan untuk tim bedah juga
tidak diperhitungkan.

Skor ASA telah digunakan dalam kajian NCEPOD dan penggunaannya tersebar
luas pada banyak audit pembedahan dan anestesia. Telah diketahui bahwa risiko
perioperatif meninggi dengan skor ASA pasien. Akan tetapi walaupun berguna,
keterbatasan skor ini mencegahnya untuk berperan lebih dari penuntun kasar pada
masing-masing pasien. Ada beberapa sistem penentu skor prognostik yang lebih baik
yang diuraikan dalam buku ini dan berkenaan dengan kondisi-kondisi medis spesifik.

2.2.2 Stadium Anastesi

Semua zat anestetik menghambat SSP secara bertahap, yang mula-mula dihambat
adalah fungsi yang kompleks, dan yang paling akhir dihambat adalah medula
oblongata tempat pusat vasomotor dan pernapasan. Anestesi umum dibagi menjadi 4
stadium, yaitu stadium I (anelgesia), stadium II (eksitasi), stadium III (pembedahan),
dan stadium IV (depresi medulla oblongata).

Stadium I (Anelgesia)

Stadium anelgesia dimulai sejak pemberian anestetik sampai hilangnya


kesadaran. Pada stadium ini pasien tidak lagi merasakan nyeri (anelgesia), tetapi
masih sadar. Pernapasan masih dipengaruhi kemauan dan keras, frekuensi nafas, dan
pulsus meningkat, pupil melebar, terjadi urinasi, dan defekasi.

Stadium II (Eksitasi)

Stadium ini dimulai sejak hilangnya kesadaran sampai munculnya pernapasan


yang teratur yang merupakan tanda dimulainnya stadium pembedahan. Pada stadium
ini, hewan tampak mengalami delirium (sensasi) dan eksitasi dengan gerakan diluar
kehendak (meronta-ronta). Pernapasan tidak teratur, kadang-kadang apnea dan
hiperpnea, tonus otot rangka meningkat, kadang sampai mengalami inkontinesia, dan
muntah. Hal ini terjadi karena hambatan pada pusat inhibisi. Pada stadium ini dapat
terjadi kematian, maka pada stadium ini harus diusahakan cepat dilalui. Pada tahap ini
kehilangan kesadaran, respon terhadap stimulasi meningkat (hewan masih berteriak di
bawah sadar), gerakan kaki ke belakang masih keras, nafas singkat dan tidak teratur,
reflek menelan, dan muntah, masih ada dan reflek batuk masih ada.
Stadium III (Pembedahan)

Stadium III dimulai dengan tumbulnya kembali pernapasan yang teratur dan
berlangsung sampai pernapasan spontan hilang. Pada stadium ini dibagi lagi menjadi
4 tingkat dan tiap tingkatan dibedakan dari perubahan pada gerakan bola mata, refleks
bulu mata dan konjungtiva, tonus otot dan lebar pupil yang menggambarkan semakin
dalamnya pembiusan.

a. Tingkat 1: Pernapasan teratur, spontan, dan seimbang antara pernapasan dada dan
perut, gerakan bola mata terjadi di luar kehendak, miosis, sedangkan tonus otot
rangka masih ada. Stadium III tingkat I ditandai dengan pernafasan bebas dari
kemauan gerakan kaki ke belakang terhenti, bola mata bergerak dari sisi satu ke
sisi lainnya, makin lama anestesi bola mata bergerak lemah, dan berhenti bila
masuk ke tingkat II, reflek palpabre, konjungtiva, dan kornea segera hilang setelah
masuk ke tingkat I. Pada anjing dan hewan reflek pedal masih ada dan cepat.
Anestesi tingkat I digunakan untuk pemeriksaan foto Rontgen (X-ray), operasi
membuka abses dan operasi kecil lainnya.
b. Tingkat 2: Pernapasan teratur sampai frekuensinya lebih kecil, bola mata tidak
bergerak, pupil mata melebar, otot rangka mulai melemas, dan refleks laring
hilang, sehingga pada tahap ini dapat dilakukan intubasi. Adanya sedikit
perubahan pada sifat respirasinya sampai tingkat berikutnya, frekuensi nafas
meningkat sedangkan amplitudonnya menurun, reflek laring masih ada hingga
pertengahan tingkat ini. Pada kuda, sapi, domba, dan babi bola mata terfixir di
tengah, pada anjing dan hewan bola mata pada ventrocantus (sudut medial)
menggeser ke bawah. Relaksasi otot lebih nyata kecuali otot abdomen, reflek
pedal pada anjing dan hewan masih ada tetapi lemah. Pada tingkat 2 dan 3 ini
prosedur pembedahan yang paling memuaskan.
c. Tingkat 3: Ditandai dengan adanya respirasi otonom, frekuensi meningkat,
amplitudo menurun, ada jeda yang jelas pada inspirasi dan ekspirasi (kelihatan
berhenti sebentar), inspirasi thorak ringan, ritme pernafasan terganggu jika masuk
stadium selanjutnya, pada anjing dan hewan bola mata menuju ke tengah, reflek
pedal hilang, otot abdomen relaksasi. Pernapasan perut lebih nyata dari
pernapasan dada karena otot interkostal mulai lumpuh, relaksasi otot rangka
sempurna, pupil mata lebar tetapi belum maksimal. Pada stadium inilah optimal
dilakukan operasi.
d. Tingkat 4: Pernapasan perut sempurna karena otot interkostal lumpuh total,
tekanan darah mulai menurun, pupil sangat lebar, dan refleks cahaya hilang.
Pembiusan hendaknya jangan sampai ke tingkat 4 ini sebab hewan akan sangat
mudah sekali masuk ke stadium IV yaitu ketika pernapasan spontan melemah.
Untuk mencegah ini, harus diperhatikan secara benar sifat dan dalamnya
pernapasan, lebar pupil dibandingkan dengan keadaan normal, dan turunnya
tekanan darah.
Stadium IV (Depresi medulla oblongata)
Stadium IV ini, dimulai dengan melemahnya pernapasan perut dibanding stadium
III tingkat 4. Tekanan darah tidak dapat diukur karena pembuluh darah kolaps, dan
jantung berhenti berdenyut. Keadaan ini dapat segera disusul dengan kematian,
kelumpuhan napas di sini hanya dapat diatasi dengan alat bantu napas dan sirkulasi.
Stadium ini ditandai dengan paralisa otot thorak sempurna, hanya diafragma yang
masih aktif selama inspirasi, dinding thorak mengempes kedalam sehingga hewan
tersengal-sengal, pulsus meningkat cepat, pupil menggembung, bola mata seperti
mata ikan (sekresi air mata terhenti), pernafasan melemah akhirnya hewan mati,
warna mukosa mulut, mata, dan lidah menjadi abu-abu.
2.2.3 Agen Dan Dosis Anastetika
 Agen dan dosis anestetika
Agen Anestesi
Pre-anestesi dan analgesik
Antikolinergik
1. Atropine
Mode aksi, Memblock aksi asetilkolin di ujung terminal sistem saraf
parasimpatik, sehingga membalikkan efek parasimpatik. Efek Peningkatan
denyut jantung, Mengurangi aktivitas GI, Penurunan sekresi air mata dan
saliva. Dapat diberikan IV, IM atau SC. Durasi efek: 45-90 menit.
Tindakan pencegahan , Kardiac: Hindari dg tachycardia (HR> 140 pada
K9, 180 pada hewan ) atau tanda klinis gagal jantung; GI: konstipasi atau
obstruksi. Dapat menghasilkan produksi mukus yang kental lendir tebal di
saluran pernapasan , terutama pada hewan.
2. Glycopyrrolate
Turunan sintetik atropin dengan efek serupa. Dimana Onset dan durasi efek
lebih lama dari atropin - tidak untuk digunakan dalam situasi darurat.Mungkin
lebih sedikit menyebabkan takikardia dan aritmia jantung daripada atropin.
Dapat menyebabkan paradoksial bradikardia awal dan blok AV ketika
diberikan IV. Efek ini biasanya diatasi karena kadar plasma menjadi terapeutik
Opioids
Kelompok obat alami dan sintesis yang digunakan dalam aktivitas analgesik.
Butorphanol (Torbugesic®)
Mode aksi, Agonis campuran / antagonis (agonis kappa, antagonis mu).
Efek Analgesia ringan hingga sedang, obat penenang sedang-kuat. Metode
Penggunaan Dapat diberikan IV, IM atau SQ. Durasi efeknya adalah 30-60
menit pada anjing dan 1-3 jam pada hewan . Tindakan pencegahan Durasi aksi
yang pendek mungkin memerlukan penambalan ulang tambahan pasca
analgesik tambahan.

Phenothiazines

Acepromazine
Nama lain acetylpromazine biasanya diberikan pada anjing, hewan dan kuda. Efek
penggunaan APZ pada anjing dapat menurunkan tekanan darah 3 menit setelah
pemberian 1 mg/kg melalui injeksi IM, setelah 2 jam terjadi peningkatan kembali
tekanan darah dan bertahan selama 1.5 jam. Bekerja pada reseptor epinerphin dengan
memblok atau mencegah arytmia dan aksi fiblatory ventrikular . Reseptor dopamine.
Pada kuda : APZ menurunkan tekanan jantung, menghasilkan sedasi ringan hingga
moderat , tidak ada efek analgesik , memiliki efek : Antiemetic, antispasmodic.
Penggunaan Klinik , Handling dan restrain hewan dan APZ : diberikan secara oral,
IM dan IV baik dosis tunggal atau dikombinasikan dengan ketamine, atropin dan
kloral hidart . Tidak dapat dikombinasikan dengan diazepam, glycopirrolate. Dosis
anjing premedikasi 0.03-0.05 mg/Kg (IM), restraint/ sedasi : 0.025 -0.2 mg/Kg ,
hewan – restraint 0.05- 0.1 mg/Kg (IV). Toksisitas: pada hewan besar— protrusion
penis (memanjangnya penis pada kuda) dan prolaps pada membran nictitans pada
kuda dan anjing.
APZ tidak direkomendasikan opda hewan konsumsi karena berpotensi resiko
untuk terjadinya residu dalam danging dan pruduk susu . Kematian dapat terjadi pada
sapi dengan penggunaan APZ utk transit jarak jauh dengan kondisi lingkungan
(perpindahan dari daerah bersuhu dingin ke panas, tanpa diberi pakan dan minum).
NSAIDS (Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs)
Ketoprofen
Mode aksi , Menghambat kaskade inflamasi dengan memblokir enzim
cyclooxygenase (COX). Efek antipiretik, analgesik dan anti-inflamasi melalui
penghambatan cyclooxygenase-2 (COX-2). Efek penghambatan COX-1 fungsi
trombosit dan integritas mukosa gastrointestinal. Metode Penggunaan dapat diberikan
PO, IM atau IV, durasi efeknya adalah 12-18 jam.
Tindakan pencegahan hindari pada hewan dengan penyakit hati atau ginjal dan
pada pasien dehidrasi atau hipotensi.Jangan gabungkan dengan obat lain yang
diketahui dapat mengubah hemostasis atau menyebabkan erosi gastrointestinal
(aspirin, kortikosteroid, dll)
Umumnya dihindari untuk penggunaan jangka panjang karena risiko besar efek
samping GI dengan penggunaan jangka panjang.Catatan Obat lain di kelas ini
kadang-kadang digunakan termasuk carprofen, etodolac, dan meloxicam
Alpha-2 agonists
Dexmedetomidine (DexDomitor®)
Mode aksi Alpha-2 adrenoreceptor agonists - Stimulasi dari reseptor-
reseptor ini menyebabkan penurunan level norepinefrin yang dilepaskan di
otak sehingga terjadi sedasi dan analgesia. Efek sedasi mendalam dan aksi
ansiolitik. Analgesia sedang sampai berat. Vasokonstriksi perifer
menghasilkan peningkatan tahanan vaskular sistemik dan meningkat tekanan
darah. Denyut jantung menurun untuk mengkompensasi peningkatan tekanan
darah dan mempertahankan curah jantung. Menurunkan laju pernapasan dan
penurunan suhu tubuh.
Metode Penggunaan, Dapat diberikan IM atau IV. Onset aksi setelah injeksi
IM adalah 5 menit dan 1 menit setelah dosis IV. Durasi sedasi adalah 30-90
menit.
Biasanya digunakan pada dosis yang lebih rendah dari dosis yang
direkomendasikan.Tindakan pencegahan Dapat berpotensi menyebabkan
komplikasi kardiovaskular dan pernapasan yang parah. Standar dosis obat ini
hanya diberikan kepada pasien muda yang sehat . Pembalikan agen tersedia
dan dapat digunakan jika efek samping terlihat.
Dissociatives (Cyclohexamines)
Ketamin
Merupakan larutan larutan yang tidak berwarna, stabil pada suhu kamar dan
relatif aman. Ketamin mempunyai sifat analgesik, anestetik dan kataleptik
dengan kerja singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk system somatik,
tetapi lemah untuk sistem visceral. Tidak menyebabkan relaksasi otot lurik,
bahkan kadang-kadang tonusnya sedikit meninggi. Ketamin akan
meningkatkan tekanan darah, frekuensi nadi dan curah jantung sampai ± 20%.
Ketamin menyebabkan reflek faring dan laring tetap normal. Sebagian besar
ketamin mengalami dealkilasi dan dihidrolisis dalam hati, kemudian diekskresi
terutama dalam bentuk utuh. Untuk induksi ketamin secara intravena dengan
dosis 2 mm/kgBB dalam waktu 60 detik, stadium operasi dicapai dalam 5-10
menit. Untuk mempertahankan anestesi dapat diberikan dosis ulangan
setengah dari semula. Ketamin intramuscular untuk induksi diberikan 10
mg/kgBB, stadium operasi terjadi dalam 12-25 menit.
Benzodiazepines
Diazepam
Menyebabkan tidur dan penurunan kesadaran yang disertai nistagmus dan
bicara lambat, tetapi tidak berefek analgesik. Juga tidak menimbulkan
potensiasi terhadap efek penghambat neuromuscular dan efek analgesik obat
narkotik. Diazepam digunakan untuk menimbulkan sedasi basal pada
anesthesia regional, endoskopi dan prosedur dental, juga untuk induksi
anestesia terutama pada penderita dengan penyakit kardiovascular.
Dibandingkan dengan ultra short acting barbiturate, efek anestesi diazepam
kurang memuaskan karena mula kerjanya lambat dan masa pemulihannya
lama. Diazepam juga digunakan untuk medikasi preanestetik dan untuk
mengatasi konvulsi yang disebabkan obat anestesi lokal.
Dapat diberikan PO atau IV. Umumnya digunakan untuk anestesi dalam
kombinasi dengan ketamine, opioid atau propofol. Tidak larut dalam air.
Tindakan pencegahan, gunakan dengan hati-hati pada hewan dengan penyakit
hati atau ginjal.
Agen lainnya
Propofol
secara kimia tak ada hubungannya dengan anestetik intravena lain. Zat ini
berupa minyak pada suhu kamar dan disediakan sebagai emulsi 1%. Efek
pemberian anestesi umum intravena propofol (2 mg/kg) menginduksi secara
cepat seperti tiopental. Rasa nyeri kadang terjadi ditempat suntikan, tetapi
jarang disertai dengan thrombosis. Propofol menurunkan tekanan arteri
sistemik kira-kira 80% tetapi efek ini lebih disebabkan karena vasodilatasi
perifer daripada penurunan curah jantung. Tekanan sistemik kembali normal
dengan intubasi trakea. Propofol tidak merusak fungsi hati dan ginjal. Aliran
darah ke otak, metabolism otak, dan tekanan intracranial akan menurun.
Biasanya terdapat kejang.
Inhalant anesthetics

Anestesi cair dalam mesin anestesi diuapkan, dicampur dengan oksigen dan
dibawah ke pasien melalui masker atau tabung endotrakeal. Perjalanan
anestesi ke alveoli paru-paru, di mana ia berdifusi ke aliran darah. Karena
kelarutan lipid yang relatif tinggi, agen inhalasi siap meninggalkan sirkulasi
dan memasuki otak, mendorong anestesi. Anestesi dipertahankan selama
jumlah yang cukup dari agen dikirim ke alveoli sehingga konsentrasi darah,
alveolar dan otak tetap terjaga. Anestesi inhalasi menginduksi ketidaksadaran,
amnesia, relaksasi otot, menumpulkan refleks otonom dan imobilitas.

Isoflurane

Mode aksi, Hidrokarbon terfluorinasi. Metabolisme = 99% respirasi (baik


untuk pasien neonatal. Efek Relaksasi otot yang baik, sedikit atau tanpa
analgesia. Depresi pusat termoregulasi (hati-hati untuk menghindari hipo-/
hipertermia).

Metode Penggunaan Diberikan melalui masker atau tabung endotrakeal.


Paling sering digunakan untuk mempertahankan anestesi setelah pemberian
agen induksi suntik. Kembali ke kesadaran dengan isoflurane sendiri dapat
terjadi secepat 1-2 menit.
Induksi isoflurane hanya membutuhkan waktu beberapa menit dan dapat
cukup menegangkan bagi hewan. Ini teknik umumnya disediakan untuk pasien
yang sangat muda atau hewan agresif (diberikan via ruang induksi).

 Penggolongan anestetika berdasarkan rute pemberian maupun efek farmakologinya


 Anestesi lokal
Adalah substansi yang dapat menghilangkan rasa sakit (sensibilitas) secara
lokal dengan penghambatn impuls saraf perifer secara reversibel tanpa disertai
hilangnya kesadaran. Umumnya, anestesi lokal digunakan dalam teknik regional
dan paling efektif bila diberikan sebelum stimulasi bedah. Beberapa teknik
anestesi regional, termasuk anestesi topikal, infiltrasi lokal, blok saraf perifer,
injeksi intraartikular, blok tulang belakang, dan blok epidural, efektif dalam
mengurangi rasa sakit.
Anestesi lokal yang umum sering digunakan ialah lidocaine and bupivacaine.
Anestesi lokal memblokir saluran natrium dari dalam sel saraf, sehingga
mencegah aktivasi saluran natrium dan depolarisasi membran
 Anestesi Topikal
Anestesi topikal salah satunya ialah LMX4 (Ferndale Healthcare, Ferndale,
Mich.) LMX4 ialah krim lidokain 4% membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit
untuk menghasilkan efek.
Anestesi topikal ini dapat diterapkan untuk membantu dalam penutupan luka
kecil, pemasangan IV Catether , atau penempatan pada tulang belakang / epidural
pada pasien yang sadar . Perlu dilakukan pencukuran atau menghilangkan rambut
untuk meletakkan LMX4 ke kulit.
Lidoderm patches (Endo Pharmaceuticals, Chadds Ford, Pa.) mengandung 5%
lidocaine. Telah berhasil digunakan pada anjing untuk analgesia pasca operasi
setelah amputasi pada kaki depan.
a) Infiltrasi lokal
Infiltrasi lokal ini dilakukan pemblokiran pada daerah tertentu dan dapat
dilakukan sebelum insisi atau setelahnya penutupan luka insisional. Sebelum
melakukan sayatan bedah makan perlu menyuntikkan anestesi lokal secara
subkutan.
 Anestesi regional
Adalah substansi yang dapat menghilangkan rasa sakit (sensibilitas) pada suatu
daerah atau regio tertentu secara reversibel tanpa disertai hilangnya kesadaran.
Anestesi regional berupa epidural anestesi, spinal anestesi dan para vertebral
anestesi.
a) Anestesi Epidural
Adalah suatu substansi lokal anestesi yang dideposisikan di antara
durameter dan periosteum dari Canalis Spinalis (Epidural space)
Anestesi ini tidak langsung mengenai medula spinalis, sehingga efek
anestesi terajdi setelah 15-20 menit pemberian. Anestesi ini biasanya
digunakan untuk Laparatomy, pelvis limb surgery, undder amputation.
Pada hewan kecil dilakukan antara Lumbar terakhir dan Os Sacral 1.
Sedangkan pada hewan besar dilakukan antara Coccigia 1 dan 2. Anestesia
yang digunakan sama dengan anestesi lokal, misalnya lidocaine 2% atau
Mepivacaine 2% (dosis ringan 0,5-1,0 ml/100 Ib BB; dosis tinggi 1 ml/10 Ib
BB ). Secara umum digunakan dosis 1 ml/10 kg BB- 1ml/ 5 kg BB.

Gambar 1. Tampak Dorsal (Modified from Gaynor JS,


Muir WW III: Handbook of veterinary pain management, ed 2, St Louis, 2009, Mosby.)
Gambar 2. Tampilan lateral dari daerah lumbosakral anjing. Perhatikan penempatan jarum

b) Spinal Anestesi
Anestesi ini sama dengan anestesi epidural tetapi langsung mengenai saraf
spinal, sehingga efek yang terjadi segera/ langsung. Anestesi ini akan
mengakibatkan resiko berontak dan rasa sakit yang memerlukan kesembuhan
lebih lama.
c) Para-Vertebral Anestesi
Anestesi ini juga sama dengan anestesi diatas tetapi tempat aplikasinya tidak
sama yaitu antara Os. V Thorax terakhir dan V. Lumbar 1 indikasinya
biasanya untuk didaerah Thoraco lumbar seperti pada operasi Gastrotomy.
 Anestesi Umum
Anestesi umum adalah substansi yang dapat mendepres susunan saraf pusat
(SSP) secara reversibel sehingga hewan kehilangan rasa sakit (sensibilitas)
diseluruh tubuh, reflek otot hilang dan disertai dengan hilangnya kesadaran.
Anestesi ini terdiri dari dua jenis yaitu diberikan secara inhlasi (Volatil) dan
Injeksi/parenteral (Nonvolatil). a.NonVolatileAnestetik, -Barbiturat (Ketamin,
Alphaxalone, Khloralhidrat) dan –NonBarbiturat b.VolatileAnestetik (Halothan,
Metoxyfluran, Trichoroethylen, Enfluran, Choroform, Ether)
Tanda-tanda anestesi umum telah bekerja adalah hilangnya koordinasi
anggota gerak, hilangnya respon saraf perasa dan pendengaran, hilangnya tonus
otot, terdepresnya medulla oblongata sebagai pusat respirasi dan vosomotor, bila
terjadi overdosis hewan akan mati.
Proses kerja anestesi umum melewati beberapa stadium anestesi, yaitu:
1. Stadium I (Stadium Analgesia/eksitasi bebas/ stadium induksi)
2. Stadium II (Stadium eksitasi tidak bebas/ stadium induksi)
3. Stadium III (Stadium operasi), terjadi dari 3 tingkat/plane: plane 1(
dangkal) , plane 2 (medium) dan plane 3(dalam)
4. Stadium IV (stadium overdosis)

Tanda-tanda dari masing-masing stadium anestesi umum tersebut adalah


sebagai berikut :

Stadium I (Stadium Analgesia/eksitasi bebas/ stadium induksi)

Hewan masih sadar,masih dapat melawan pemberian anestesi, pernafasan


masih dipengaruhi kemauan dan keras, frekuensi nafas dan pulsus meningkat,
pupil melebar, biasanya terjadi urinasi dan defekasi.

Stadium II (Stadium eksitasi tidak bebas/ stadium induksi)

Kehilangan kesadaran, respon terhadap stimulasi meningkat (hewan


berteriak teriak dibawah sadar), gerakan kaki belakang masih keras, nafas singkat
tidak teratur, reflek menelan dan muntah masih ada, reflek batuk masih ada.

Stadium III (Stadium operasi), terjadi dari 3 tingkat/plane

Plane I ditandai dengan pernafasan bebas dari kemauan, gerakan kaki


belakang terhenti, bola mata bergerak dari sisi satu ke sisi lainnya, makin lama
anestesi bola mata bergerak lemah dan berhenti bila masuk plane II , reflek
palpebra, congjungtiva, cornea segera hilang setelah masuk plane I. Anestesi
plane I digunakan untuk pemeriksaan foto Rontgen (X-ray), operasi membuka
abses, operasi-operasi kecil lainnya.

Plane II (medium) ditandai dengan adanya sedikit perubahan pada sifat


respirasinya sampai tingkat berikutnya frekuensi nafas meningkat sedangkan
amplitudonya menurun, reflek laring masih ada hingga pertengahan plane ini.
Plane III (dalam) ditandai dengan respirasi otonom ada, frekuensi
meningkat, amplitudo menurun, ada antara yang jelas pada inspirasi dan ekspirasi
(kelihatan berhenti sebentar).

Stadium IV (stadium overdosis)

Ditandai dengan paralisa otot yang sempura, hanya diafrgma yang masih
aktif selama inpirasi, dinding torak mengempes ke dalam sehingga hewan
terlihat tersengal-sengal, pulsus meningkat cepat, pupil menggembung, bola
mata seperti mata ikan (sekresi air mata terhenti), pernafasan melemah
akhirnya hewan mati, warna mukosa mulut, mata dan lidah menjadi abu-
abu.

 Anestesi Inhalasi
Anestesi ini diberikan dengan cara memasukkan uap ke dalam paru-paru hewan,
karenanya disebut juga sebagai “Anestesi Inhalasi”. Terjadi anestesi karena uap
yang dihirup masuk dari alveoli mendifusi membran alveoli dan melarut ke dalam
darah paru-paru yang selanjutnya dari paru-paru mendifusi masuk ke jaringan
tubuh terutama otak.
Anestesi inhalasi terdiri dari 1) Anestesi Inhalasi mayor (Methoxyfurance,
Halothane, nitous oxide) , 2) anestesi inhalasi minor (Ether, chloroform,
Cyclupropan, Trichloroethyline), 3) Anestesi inhalasi lain (Ethyl Chloride, Carbon
dioxide)
Cara pemberian anestesi inhalasi adalah
1. Auto Inhalasi
Udara dihirupkan melewati permukaan anestetikum atau melewati suatu
bantalan yang dibasahi dengan anestetikum.
2. Metode umpan balik
Udara atau oksigen dicampur dengan 5% CO2 dihembuskan diatas permukaan
anestetika. Campuran gas ini akan dibawa ke masker atau pipa endotracheal.
Metode umpan balik posotof dapat diterapkan dengan empat cara : 1. Metode
terbuka: 2. Metode Semi terbuka : 3. Metode tertutup dan 4. Metode semi
tertutup.
BAB III
PENUTUP
3.1 SIMPULAN
 Dua tujuan umum premedikasi yang diajukan oleh Beecher pada tahun 1955 adalah
untuk memberi kenyamanan pada pasien saat bedah dan untuk mencegah terjadinya
masalah-masalah pada saat diberi anestesi, membantu proses anestesi dan
pembedahan.
 Obat-obat yang bersifat sedatif dan anxiolitik berperan besar dalam meningkatkan
kualitas anestesi dan pemulihan, serta meminimalisir efek samping dari obat-obat
anestesi yang tidak diinginkan (Lee, 2006a).
 Klasifikasi status fisik yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang
ialah yang berasal dari The American Society of Anesthesiologist (ASA).
 Semua zat anestetik menghambat SSP secara bertahap, yang mula-mula dihambat
adalah fungsi yang kompleks, dan yang paling akhir dihambat adalah medula
oblongata tempat pusat vasomotor dan pernapasan. Anestesi umum dibagi menjadi 4
stadium, yaitu stadium I (anelgesia), stadium II (eksitasi), stadium III (pembedahan),
dan stadium IV (depresi medulla oblongata).
 Agen dan dosis anastestika antara lain Antikolinergik, Opioids, Phenothiazines,
NSAIDS (Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs), Agen lainnya , Benzodiazepines,
Dissociatives (Cyclohexamines), Alpha-2 agonists, Inhalant anesthetics
 Penggolongan anestetika berdasarkan rute pemberian maupun efek farmakologinya
- Anestesi lokal
- Anestesi Topikal
- Infiltrasi lokal
- Anestesi regional
 Anestesi Epidural
 Spinal Anestesi
 Para-Vertebral Anestesi
- Anestesi Umum
- Anestesi Inhalasi
DAFTAR PUSTAKA

Agustianingsih N. 2012. Obat bius. [Jurnal Penelitian] [ internet] [diunduh tanggal 9


Desember 2018]. Tersedia pada: http://www.scribd.com/doc/212258337/ Anestesi.

Beecher lK. Preanesthetic medication. JAMA 1955;157:242-3.

Erwin. 2009. Dampak Anestesi Ketamin Pada Caesar. [nternet] [diunduh 9 Desember 2018].
Tersedia pada http: //erwinklinik.blogspot.com/2009/07/dampak-anestesi-ketaminpada-
caesar.html

Grace A. Pierce and Borley R. Neil. 2006. Et a glance Ilmu Bedah Ed.3. penerbit erlangga,
Jakarta. Hlm.69.

Mentari, Novia. 2013. Efektivitas Anestetikum Kombinasi Zoletil-ketamin-Xylazin pada babi


lokal (Suis domestica) [internet].[Skripsi] [diunduh tanggal 9 Desember 2018]. Tersedia
pada: https://www.scribd.com/ doc/171442712/fisiologi-anestesi

Nugraha,S. dan Sugiharto, D. 2009. Obat-obat anestesi local. Bagian anestesiologi Fakultas
Kedokteran. Universitas Kristen Indonesia. Jakarta.

Plumb, D. C., 2008. Plumb’S Veterinary Drug Handbook 6th edition. The IOWA State
University Press. Ames

Raymer.K.Understanding Anesthesia 1ST EDITION. Clinical Professor, Department of


Anesthesia, Faculty of Health Sciences, McMaster University.

Sardjana IKW, Kusumawati D. 2011. Bedah veteriner. Cetakan 1.Surabaya (ID):Pusat


Penerbitan dan Percetakan Unair (AUP).

Sheen M. J., et al. 2014. Anesthetic premedication: New horizons of an old practice. Acta
Anaesthesiologica Taiwanica 52 (2014) 134-142.
http://dx.doi.org/10.1016/j.aat.2014.08.001.

White PF. Pharmacologic and clinical aspects of preoperative medication. Anesth Analg
1986; 65:963-74.
Winklear,D and Hildebrand, E. 2016. Cat and dog anesthesia. Institutional animal care and
use committee. Cornell university