Anda di halaman 1dari 11

Tugas OM terapi obat

Nama : Dilla Novia Amrilani


Nim : 04074881517014

ANAMNESA UNTUK MENEGAKKAN DIAGNOSA

Penegakan diagnosis dan rencana perawatan merupakan hal yang sangat penting
dilakukan oleh dokter gigi karena hal tersebut akan mempengaruhi ketetapan dan
keberhasilan pada pasien. Dalam menegakkan diagnosis ada 4 tahap yang harus dijaga yaitu
disingkat dengan “SOAP” (pemeriksaan subjektif, objektif, assessmen dan treatment
planning).
Ø Pemeriksaan subyektif setidaknya ada 7 hal yakni identitas pasien, keluhan
utama, present illnes, riwayat medik, riwayat dental, riwayat keluarga dan riwayat sosial.
a. Identitas pasien diperlukan sebagai pasca tindakan dapat pula sebagai data
mortem (dental forensic), data identitas pasien meliputi :
1. Nama lengkap panggilan 5. Status pernikahan
2. Tempat dan tanggal lahir 6. pekerjaan
3. Alamat tinggal 7. Pendidikan kewarganegaraan
4. Golongan darah 8. No. Telfon pasien
b. Keluhan utama (Chief Complaint CC)
Berkaitan dengan keluhan oleh pasien datang kedokter gigi keluhan utama pasien
akan berpengaruh terhadap pertimbangan dokter dalam menentukan tindakan yang akan
dilakuhkan kepada pasien. Contoh rasa sakit ataupun ngilu rasa tidak nyaman,
pembengkakan, perdarahan, halitosis, rasa malu karena penampilan.
c. Present illness (Present Illness PI)
Mengetahui keluhan utama saja tidak cukup, maka perlu dilakukan pengembangan
masalah yang ada dalam keluhan utama dan lain - lain. Mencari tahu kapan pasien merasakan
sakit/ rasa tidak nyaman sejak pertama kali terasa, apakah bersifat berselang atau terus
menerus, dilihat apakah terlalu pasien merasakan sakit, dilihat faktor pemicunya contoh
lokasi, faktor pemicu, karakter, keparahan, penyebaran.
 Anamnesa
Pemeriksaan secara anamnesa dengan mengajukan pertanyaan yang terarah
sehinnga didapatkan faktor penting dalam menegakkan diagnosa.
Jenis pertanyaan yang bisa diajukan antara lain:
o Sakit gigi:
 Sakit pada waktu kapan (siang atau malam)?
 Apakah ada hubungan dengan makanan yang manis, asam,
panas,dingin?
 Sakit terus menerus atau kambuh-kambuhan?
 Apakah masih dapat menunjukkan dengan tepat gigi mana yang sakit?
 Apakah sakit timbul spontan atau bila kemasukan makanan?
 Apakah sakit bila bersentuhan dengan gigi lawan?
 Sakitnya menjalar atau tidak?
o Pembengkakan
 Sejak kapan terjadi pembengkakan?
 Apakah membesar secara cepat atau lambat?
 Terasa sakit atau tidak?
 Berhubungan dengan gigi yang sakit atau tidak?
 Apakah terasa parasthesi/mati rasa?
d. Riwayat medik (medikal history/ PMH)
Apakah pasien pernah rawat inap dirumah sakit karena dengan gejala umum demam,
penurunan berat badan serta gejala umum lainnya. Perawatan bedah, radiologi, alergi obat
dan makanan, anestesi, dan rawat inap dirumah sakit karena penyakit riwayat umum. Jika
pasien pernah rawat inap.
e. Riwayat dental (Post Medical History PDH)
Apakah pasien pernah datang kedokter gigi karena akan mempengaruhi seseorang
dokter gigi dalam meninjau tindakan perawatan pada pasien yaitu pasien rutin kedokter gigi
apa tidak, sikap pasien datang kedokter gigi saat dilakuhkan perawatan, keluhan gigi pasien,
perawatan restorasi, dll. Jika pasien pernah datang kedokter gigi.
f. Riwayat keluarga (Famili History FH)
Ini berkaitan dengan problem herediter yang berkaitan dengan riwayat penyakit
keluarga, seperti ayah ibu pernah rawat inap dirumah sakit, ayah ibu pernah berkunjung
kedokter gigi memeriksakan keluhan.
g. Riwayat sosial (Sosial History SH)
Riwayat sosial yang dapat dipertimbangkan
1. Apakah pasien masih memiliki keluarga
2. Keadaan sosial ekonomi pasien
3. Pasien pergi kekeluar negeri
4. Riwayat seksual pasien
5. Kebiasaan merokok, minum alkohol, pengguna obat-obatan
6. Informasi tentang diet makan pasien

Ø Pemeriksaan Obyektif
Pemeriksaan objektif yang dilakuhkan secara umum ada dua macam yaitu
pemeriksaan ekstraoral dan pemeriksaan intra oral.
a. Pemeriksaan ekstra oral
1. Pemeriksaan Limfonodi
2. Pemeriksaan otot mastikasi
3. Pemeriksan temporo mandibullar joint (TMJ)
 Pembengkakan ada atau tidak, jika ada maka dilakukan pemeriksaan:
o Regio pembengkakan
o Besarnya pembengkakan
o Nyeri tekan atau tidak
o Konsistensi lunak atau keras
o Fluktuasi (+/-) Inti (+/-)
o Warna pembengkakan
o Suhu ditempat pembengkakan
o Pinggiran rahang teraba atau tidak
o Crepitasi
 Konsistensi kelenjar regional
o Kelenjar membengkak, keras, perabaan tidak sakit  Proses kronis
o Kelenjar membengkak, lunak dan perabaan sakit  Akut
o Kelenjar membesar, keras, dan sakit  Eksaserbasi akut
b. Pemeriksaan Intra oral
1. Bentuk bibir 5. Palatum (keras dan lunak)
2. Mukosa labial 6. Ginggiva
3. Mukosa bukal 7. Gigi Geligi
4. Dasar mulut an bagian ventral lidah 8. Frenulum

Pemeriksaan obyektif gigi dapat dilakuhkan dengan pemeriksaan beberapa cara antara
lain sebagai berikut:
1. Inspeksi 5. Tes mobilitas
2. Sondasi 6. Tes suhu
3. Perkusi 7. Tes elektrik
4. Palpasi 8. transimulasi

Ø Diagnosis
Diagnosis adalah cara menentukan jenis penyaki berdasarkan gejala (simtom) dan
tanda (sign) yang ada. Macam macam diagnosis:
a. Diagnosis medis, yaitu proses penentuan jenis penyakit berdasarkan tanda dan
gejala menggunakan cara dan alat penunjang seperti laboratorium, foto dan klinik.
b. Diagnosis banding/ differential diagnostik (DD) yaitu diagnosis yang dilakuhkan
dengan membandingkan tanda klinis suatu penyakit dengan tanda klinis penyakit lain.
Ø Pemeriksaan penunjang
a. Radiografi
Dental radiografi memegang peranan penting dalam menegakkan diagnosis dan
merencanakan perawatan dan mengevaluasi hasil perawatan untuk melihat keaadaan gigi
secara utuh. Dalam mempelajari bidang radiologi oral ada 2 hal yang perlu diketahui, yakni
1. Tehnik dan cara mendapatkan hasil yang optimal
2. Interprestasi dan menafsirkan radiogram yang telah dibuat
Ada dua macam dalam radiologi kedokteran gigi
1. Radiologi intra oral : tehnik periapikal, tehnik bite wing atau saya gigit, tehnik
oklusal
2. Radiografi ekstra oral : panoramik, oblique lateral, postero anterior PA jaw, reversi
town’s projection
Radiografi intraoral dibagi menjadi kedalam 3 kategori, yaitu
1. Proyeksi periapikal memperlihatkan gambaran suatu gigi berikut tulang sekitarnya
Radiografi periapikal
Ada dua cara dalam radiografi periapikal yaitu :
a. tehnik kesejajaran (pararel)
b. tehnik bidang bagi (bisecting)
2. Proyeksi sayap gigit (bitewing)
Proyeksi ini akan memperlihatkan bberapa mahkota gigi dan mahkota gigi –
gigi serta kista alveooralnya.
3. Proyeksi oklusal
Menunjukan bagian lengkung gigi relatif luas, sementara diantaranya adalah
palatum, dan struktur jaringan keras pada lateral.
Indikasi:
1. Mencari dengan tepat letak akar, gigi supernumery, gigi tidak tumbuh dan impaksi
2. Mencari benda asing dalam rahang, batu alam duktus glandula sublingualis dan
submandibularis.
3. Memperlihatkan dan mengevaluasi keutuhan sinus maksilari bagian anterior medial
dan lateral
4. Membantu pemeriksaan pasien dalam ksus trimus.
5. Menyediaan informasi tentang lokasi, sifat, perluasan dan perpindahan mandibula
maksila yang fraktur
6. Menentukan perluasan penyakit kearah media dan lateral
Radiografi ekstra oral
Salah satunya adalah rongsen panoramik memperlihatkan maksila dan
mandibula secara luas.

Letak pasien
Untuk melihat gambar pada hasil lengkung maksila, kepala pasien ditegakkan dengan
bidang sagital arah vrtikal dan bidang oklusal horisontal. Untuk mandibulla sedikit menengah
untuk mengimbangi perubahan bidang oklusal pada saat bibir atas dab bawah terbuka untuk
melihat hasil.
Ø Prognosis
Prakiraan ramalan tentang jalannya penyakit. (sesudah diberikan pengobatan/
perawatan tertentu). Jenis prognosis :
1. Prognosis bona : ramalan baik
2. Prognosis dubia ad bona : ramalan ragu – ragu condong ke baik
3. Prognosis dubia ad mala : ramalan ragu – ragu condong keburuk
4. Prognosis mala : ramalan buruk
Ø Assessment
Assessment penilaian terhadap status yang diperlukan pasien, baik dalam hal stastus
gizi dan jaringan periodontal apakah bisa dirawat apa tidak, melihat pasien dengan kondisi
yang bisa mempengaruhi rencana perawatan dengan situasi dan keadaan pasien apakah bisa
dilakukan.
Ø Rencana perawatan
Rencana perawatan sangat perlu oleh seorang dokter gigi untuk membuat jadwal kerja
dan prioritas perawatan. Prinsip rencana perawatan yang dapat diaplikasikan sebagai berikut :
1. Mengilangkan keluhan pada pasien.
2. Memberi edukasi
3. Ekstraksi gigi yang tidak dapat dirawat
4. Meningkatkan kondisi periodontal
5. Restorasi gigi yang mengalami karies
6. Prosedur perawatan yang lebih lanjut : endodontik, prostodontik, orthodontik,
dan fase pemeliharaan.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi keuntungan dan kekurangan yaitu pasien,
dokter, keuangan, faktor ketersediaan alat dan bahan yang bisa atau dapat untuk digunakan
dalam berbagai macam kebutuhan penaganan.

HUBUNGAN HORMONAL DAN STRESS SEBAGAI FAKTOR


PREDISPOSISI TERJADINYA SAR

A. Siklus Menstruasi (hormonal)


Siklus menstruasi dapat dibagi menjadi beberapa fase, yaitu: a. Fase menstruasi
adalah fase meluruhnya lapisan endometrium yang ditandai dengan perdarahan dari uterus
dikarenakan kehamilan tidak terjadi. Fase ini berlangsung kira-kira dari hari pertama sampai
kelima siklus menstruasi. b. Fase folikuler/ proliferasi adalah fase yang dimulai pada akhir
fase menstruasi dan berakhir pada saat ovulasi. Pada fase ini akan terdapat beberapa folikel
antral yang berkembang namun hanya ada satu folikel dominan. Endometrium akan menebal
dan terjadi pematangan folikel ovarium yang dikontrol oleh estrogen. Fase ini berlangsung
kira-kira dari hari kelima sampai 15 siklus menstruasi c. Fase sekresi/ luteal adalah fase yang
dimulai pada saat ovulasi dan berlangsung sampai hari ke 28 siklus menstruasi. Pada fase ini,
kadar hormon yang sebelumnya meningkat akan menurun secara bermakna jika tidak terjadi
pembuahan. Hal tersebut diiringi dengan meluruhnya lapisan endometrium yang dikontrol
oleh progesteron. Fase luteal terjadi ketika ovulasi selesai. Fase ini berlangsung kira-kira dari
hari ke 15 sampai 28 siklus menstruasi.
Hubungan Siklus Menstruasi dengan terjadinya SAR
Perubahan kadar hormon pada siklus menstruasi dapat menyebabkan SAR. Di rongga
mulut terdapat reseptor hormon seks steroid yang dipengaruhi oleh kadar hormon seks steroid
dalam darah sehingga perubahan kadar hormon yang terjadi dapat menimbulkan efek pada sel
atau jaringan yang lain termasuk pada rongga mulut. Siklus menstruasi dapat menyebabkan
SAR disebabkan penurunan kadar progesteron. Progesteron yang meningkat lalu menurun
secara bermakna saat fase luteal pada siklus menstruasi akan mengaktivasi gejala SAR.
Kadar progesteron menurun tersebut dapat menyebabkan faktor self limiting disease
berkurang, polymorphonuclear leukocytes menurun, proses maturasi sel epitel mulut
terhambat, dan permeabilitas vaskuler meningkat. Perubahan permeabilitas vaskuler ini
menyebabkan penipisan mukosa sehingga mudahnya terjadi invasi bakteri yang menjadi
penyebab iritasi dalam rongga mulut, dan akhirnya menyebabkan SAR setiap siklus
menstruasi. Pada beberapa wanita tanda akan datang siklus bulanannya dapat diprediksi juga
dengan munculnya SAR pada rongga mulutnya. Oleh karena itu, SAR hampir tidak pernah
diderita oleh wanita hamil kerena peningkatan kadar progesteron selama kehamilan.
B. Stress
Stres Beberapa kejadian tertentu dalam kehidupan seseorang dapat beraksi sebagai
aktivator atau stimulus untuk timbulnya respons stres. Respons stres dapat mengubah status
kesehatan seseorang. Namun, setiap individu akan memilih cara atau strategi untuk mengatasi
stres yang sedang dihadapinya. Faktor–faktor psikososial lingkungan pada tahap kehidupan
kritis memberikan dampak terhadap kesehatan. Stres adalah ketegangan atau tekanan yang
berdampak pada kejiwaan, stres tiap individu tidak sama tergantung pada berapa besar
dukungan sosial yang dapat diterimanya. Salah satu penelitian menyebutkan perubahan
psikoneuroimunologik, perubahan perilaku menunjukkan ditemukan kadar kortisol tinggi
pada saliva pada individu dengan masalah finansial yang berat dan rendahnya kemampuan
penanggulangan masalahnya. Ada korelasi antara tingginya kortisol saliva dengan
periodontitis serta kerusakan tulang alveolar. Tingginya ansietas memberikan kontribusi
terhadap inisiasi atau rekurensi penyakit. Stres sebagai jalur untuk terjadinya penyakit, karena
stres dapat meregulasi fungsi neuroendokrin dalam sistem psikoneuroimunologi. Stres
dialami oleh hampir setiap orang, reaksi setiap individu berbeda tergantung pada tipe
kepribadian individu. Penanggulangan stres yang tidak baik, akan dirasakan oleh susunan
saraf pusat (Hipotalamus) sebagai respons yang mengakibatkan dikeluarkan corticotropic
releasing hormone (CRH) dan berjalan kronis. Corticotropic releasing hormone (CRH)
menstimulasi kelenjar pituitari, mensekresi hormon adreno-kortikotropik (ACTH), ACTH
menstimulasi korteks adrenal mengeluarkan kortisol, kortisol menurunkan fungsi imun
termasuk SigA, IgG dan neutrofil. Akibatnya mudah terjadi infeksi.
Hubungan stres dengan imunitas tubuh
Stres yang dirasakan oleh otak berupa suatu respons. Respons ini sebagai hasil
perubahan perilaku, atau ditransmisikan ke hipotalamus- pituitari- adrenal (HPA-axis).
Akibatnya hipotalamus memproduksi hormon kortikotropik (Corticotropik-releasing
hormone/ CRH) yang dikeluarkan ke dalam sistem hipofiseal portal. Kemudian CRH
mengaktifkan kelenjar pituitari untuk mengeluakan hormon adrenokortikotropik
(Adrenacorticotropic hormone/ACTH). Adrenocorticotropic hormone (ACTH) menginduksi
pelepasan kortikosteroid dari korteks adrenal. Hipotalamus mempunyai peran sentral dalam
fungsi neuroendokrin, fungsi ini merupakan respons tubuh terhadap peningkatan kebutuhan
fisiologis. Dari beberapa area di hipotalamus dikeluarkan beberapa hormon yang mengontrol
kelenjar pituitari, hormon–hormon tersebut menstimulasi dan menginhibisi sekresi,
bergantung pada pusat- pusat yang lebih tinggi di dalam otak seperti korteks, pusat limbik
dan pembentukan retikulat.

Gambar 1. Pengaruh stres terhadap fisiologi tubuh

Hipotalamus mempunyai ikatan dengan semua pusat tersebut. Neurotransmiter dari


semua pusat tersebut mempunyai pengaruh penting dalam memodulasi rungsi regulator
hipotalamik. Ada tiga neurotransmiter yang berhubungan dengan stres yaitu β-endorfin,
substansi P dan bombesin. Semua peptida ditemukan dalam berbagai bagian dari otak
termasuk dalam hipotalamus, bahkan ada dalam limfosit T dan B. Hal ini menunjukkan
bahwa sistem regulator untuk fungsi–fungsi endokrin dan imunitas adalah melalui
hipotalamus dan kelenjar pituitari. Glukokortikoid dari korteks adrenal memberikan efek
supresif mayor melalui mekanisme spesifik pada banyak tingkatan. Glukokortikoid dapat
menurunkan jumlah limfosit, monosit, menghambat akumulasi eosinofil, makrofag dan
neutrofil di sisi yang mengalami inflamasi. Pada tingkat molekuler glukokortikoid
menghambat fungsi penting dari sel–sel inflamasi termasuk makrofag, neutrofil, eosinofil, sel
mast dalam fungsi–fungsi seperti kemotaksis dan fagositosis, sekresi dan degranulasi.
Glukokortikoid menghambat respons imun dengan menghambat presentasi antigen oleh
makrofag, proliferasi limfosit dan diferensiasi limfosit menjadi sel efektor seperti limfosit T
helper (Th), T cytotoxic (Tc), Natural Killer (NK) dan sel B. Kortikosteroid juga
menghambat produksi sitokin yaitu IL-1, IL-2, IL-3, IL-6, TNF, IFN -6 serta granulocyte dan
monocyte colony stimulating factors, kortikosteroid suatu mediator endogen stres yang
berpengaruh menghambat aktivitas sel inflamasi (termasuk sitokin inflamasi diatas).
Hambatan terhadap inflamasi menyebabkan kerusakan jaringan dan tulang. Interleukin-1β
adalah mediator inflamasi multifungsi yang mampu memodulasi resorpsi tulang alveolar
melalui aktivasi osteoklas dan prostaglandin E (PGE). Kadar IL-6 tinggi menginduksi
resorpsi tulang. Glukokortikoid menghambat mediator proinflamasi yang berasal dari asam
arakidonat seperti prostaglandin dan leukotrien. Glukokortikoid juga menginduksi protein
anti inflamasi endogen dan lipokortin mampu menghambat fosfolipase A, sehingga
menghambat pembentukan eikosanoid. Jalur ini disebut major effector arm dari aksis SSP
hormonal. Stimulasi aksis HPA oleh stres menyebabkan diproduksinya glukokortikoid,
memberikan aksi imuno supresif dan memberikan respons inflamasi. Glukokortikoid
termasuk kortisol akan menekan fungsi imun seperti fungsi SigA, IgG dan fungsi neutrofil.
Stres juga mengakibatkan respons yang akan ditransmisikan ke sistem saraf otonom, lalu ke
medula adrenal, yang akan disekresikan katekolamin berupa epinerin dan norepinefrin.
Katekolamin menginduksi pelepasan prostaglandin dan protease, jika keduanya kadarnya
tinggi dapat menyebabkan distruksi jaringan.
Hubungan Stress dengan terjadinya SAR
Respons stres mengakibatkan hipotalamus mengeluarkan CRH kemudian CRH
stimulasi kelenjar pituitari melepas ACTH, ACTH stimulasi korteks adrenal memproduksi
kortisol. Glukokortikoid termasuk kortisol menekan fungsi imun seperti fungsi SIgA, IgG
dan fungsi neutrofil. IgA dirangkaian dengan sekretori yang di produksi oleh sel lokal,
komponen sekretori bertindak sebagai reseptor untuk memudahkan IgA menembus epitel
mukosa. Fungsi IgA adalah mengikat virus maupun bakteri sehingga mencegah
mikroorganisme tersebut melekat pada permukaan mukosa. IgA mengaktivasi komplemen
melalui jalur alternatif sehingga mikroorganisme mudah difagositosis. Penurunan fungsi IgA
pada stres akan mempermudah perlekatan mikroorganisme ke mukosa sehingga
mikroorganisme mudah invasi ke mukos ,mikroorganisme juga sulit di fagosit menyebabkan
mudah terjadi infeksi. IgG merupakan imunoglobulin utama yang dibentuk atas rangsangan
antigen. IgG paling mudah berdifusi ke dalam jaringan ekstravaskuler dan melakukan
aktivitas antibodi di jaringan. IgG melapisi mikroorganisme sehingga partikel itu lebih mudah
difagositosis, disamping itu IgG juga mampu menetralisasi toksin dan virus. IgG dapat
melekat pada reseptor Fc yang terdapat pada permukaan sel sasaran dan memungkinkan
terjadinya proses ADCC. Penurunan fungsi IgG pada stres akan memudahkan terjadinya
kondisi patologis, karena penurunan fagositosis, toksin dan virus tidak bisa dinetralisir.
Neutrofil bereaksi cepat terhadap rangsangan, dapat bergerak menuju daerah inflamasi karena
dirangsang oleh faktor kemotaktik antara lain dilepaskan oleh komplemen dan limfosit
teraktivasi. Seperti halnya makrofag, fungsi neutrofil yang utama adalah memberikan respon
imun non spesifik dengan melakukan fagositosis serta membunuh dan menyingkirkan
mikroorganisme. Fungsi ini didukung dan ditingkatkan oleh komplemen atau antibodi.
Neutrofil juga mempunyai granula yang berisi enzim perusak dan berbagai protein yang
merusak mikroorganisme pada kondisi stres fungsi neurtofil mengalami penurunan,
fagositosis menurun, penurunan dalam membunuh mikroorganisme. Respons dari stres
mengeluarkan glukokortikoid termasuk kortisol, glukokortikoid termasuk kortisol efek
terhadap sistem imun, yaitu imunosupresi dan efek anti- inflamasi. Efek ini lebih banyak
melibatkan respos imun selular, efek anti inflamasi yaitu menekan penimbunan sel–sel lekosit
pada daerah radang. Kortisol menekan SigA, IgG dan sel neutrofil akan menyebabkan mudah
terjadi infeksi. Banyaknya mediator IL-1 dan matrik metaloproteinase menyebabkan
terjadinya penyakit SAR. Terjadinya SAR tidak hanya disebabkan mikroorganisme tetapi
juga disebabkan oleh sistem psiko-neuroimunologis, termasuk stres,sehingga terapinya harus
mempertimbangkan penanganan secara psikososial.

OBAT-OBATAN YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK ULSER RONGGA


MULUT

Penatalaksanaan ulser rongga mulut adalah mengatasi atau menghilangkan faktor


predisposisi dan medikasi topikal seperti steroid topikal dan antiseptik topikal untuk
menghilangkan gejala, selain itu juga dapat diberikan vitamin C. Obat yang dapat digunakan
antara lain: anestetikum (benzocaine 4% dalam borax glycerine), obat kumur antibiotika
(chlorhexidine gluconate 0,2%, larutan tetrasiklin 2%), anti inflamasi (sodium hyaluronat),
dan kortikosteroid topikal (triamcinolone in orabase). Kortikosteroid tidak hanya
mempercepat penyembuhan lesi, tetapi dapat mengurangi rasa sakit pada ulser. Pada
triamcinolone in orabase, kortikosteroid dicampur dengan media Orabase sehingga dapat
melekat pada mukosa mulut yang selalu basah. Obat ini memiliki sifat anti inflamasi. Selain
itu, obat kumur tetrasiklin dapat menurunkan frekuensi dan keparahan ulser. Obat kumur
chlorhexidine 0,2% juga dapat digunakan untuk meredakan durasi dan ketidaknyamanan
pada ulser. Pemberian vitamin C secara oral berfungsi dalam pembentukan kolagen. Kolagen
merupakan senyawa protein yang mempengaruhi intergritas struktur di semua jaringan ikat
sehingga berperan dalam penyembuhan luka. Selain itu, juga dapat mencegah infeksi karena
meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi dan meningkatkan absorpsi serta
metabolisme Fe.
Selain itu obat lain yang sering digunakan saat ini yaitu:
 Aloclair
Kandungan aloclair antara lain: Polyvinylpypyrrolidone (PVP), Aloe vera (aloe
barbadensis), Glycyrrhetinic acid, sodium hyaluronate. PVP bekerja membentuk suatu
lapisan pelindung terhadap ulkus dimukosa mulut yang bertahan selama beberapa jam dan
tidak diserap tubuh. Aloe vera mengandung komponen aktif: carboxypeptidase dan salicylate
yang bersifat sebagai antiinflamasi, antiseptik, dan analgesik. Glycyrrhetinic acid merupakan
derivat licorice (licorice root extract) yang merupakan sweeting agent dan juga sebagai
antiinflamasi pada kulit dengan menghambat sitokin pre-inflamasi. Sodium hyaluronate/
asam hialuronat adalah glikosaminoglikan yang merupakan substansi dasar jaringan ikat dan
secara normal ditemukan dalam tubuh. Memiliki efek hidrasi dan berfungsi sebagai pelembab
dan healing wound effect.
Aloclair memiliki pH fisiologis sehingga tidak menyebabkan rasa terbakar atau perih
saat digunakan dan juga tidak mengandung alkohol atau pelarut lain yang dapat mengiritasi
membran mukosa. Aloclair gel juga mudah dalam penggunaan dan juga belum ditemukan
efek samping yang timbul selama pemakaian. Aloclair juga aman digunakan pada anak-anak.