Anda di halaman 1dari 5

Periode-periode Kritis Perkembangan Otak

Ada lima aspek perkembangan otak yang mengalami periode-periode kritis:

a. Motorik Indrawi
b. Auditori
c. Visual
d. Emosional
e. Bahasa

Perkembangan Motorik Indrawi . Sistem-sistem yang berhubungan dengan penglihatan,


pendengaran dan gerakan-gerakan motorik berkembang secara luas melalui pengalaman-
pengalaman yang dilalui dalam dua tahun pertama pertumbuhan Sistem vestibular pada telinga
mempengaruhi indra-indra geraj dan kesimbangan, selain juga mempengaruhi sistem-sistem
indrawi lainnya

Perkembangan Auditori. Dua tahun pertama anak-anak sangat penting bagi perkembangan
auditori. Sistem-sistem auditori berkembang dalam cakupan bunyi-bunyi yang mereka dengar
dan kemampuan mereka membedakan bunyi satu bunyi dengan bunyi yang lain. Masalah
perkembangan auditori dapat menyebabkan gangguan dalam mempelajari bahasa karena
keterampilan berbahasa bergantung dari kesempatan mendengarkan perkataan orang lain.

Penglihatan. Penglihatan berkembang pada tahun pertama kehidupan yaitu setelah bulan ke-
4 ditandai dengan kepadatan sinaptik dalam sistem visual meningkat pesar, termasuk koneksi-
koneksi saraf yang mengatur persepsi terhadap warna, kedalamaan gerakan dan corak warna.
Diperlukan lingkungan yang kaya akan stimulasi visual sehingga bayi dapat mengeksplorasi
objek-objek dan gerakan.

Dua tahun pertama kehidupan manusia itu sangat penting bagi perkembangan sistem motorik
indrawi, visual dan auditori. Perkembangan sistem akan terbantu ketika lingkungannya kaya
akan stimulasi.

Perkembangan Kemampuan Berbahasa

Perbedaan potensi yang terkait dengan peristiwa dapat diklasifikasikan dalam ketegori dibawah
rata-rata, rata-rata dan diatas rata-rata (Molfese et al,2006). Anak-anak yang berkembang
dengan normal memperlihatkan aktivitas korteks bilateral dan anterior (depan) yang luas dan
menonjolkan aktivitas belahan otak kiri dalam daerah-daerah otak yang terkait dengan bahasa
dan ucapan. Perkembangan kemampuan membaca juga bergantung pada aktivasi anterior dan
barangkali pada kedua belahan otak (Vellutino & Denckla, 1996).Penelitian lain menunjukan
anak-anak yang sedang berkembang mengalami difungsi otak kiri dan bisa diatasi dengan
belajar membaca dengan otak kanan. Belahan otak kanan dapat mendukung dan
mempertahankan tingkat keterampilan membaca tetapi harus melewati transisi sebelum
perkembangan kompetensi berbahasa berlangsung.
Periode kritis perkembangan kemampuan berbahasa terjadi antara usia baru lahir dan 5 tahun.
Otak anak-anak mengembangkan sebagian besar kemampuan berbahasa mereka. Ada
peningkatan pesat penambahan kosakata antara usia 19 dan 31 bulan (Jensen,2005).
Perkmbangan bahasa anak meningkat ketika anak-anak berada dalam lingkungan yang kaya
akan bahasa, dimana orang tua dan orang-orang disekitarynya berbicara kepada anak-anak.
Periode kritis perkembangan berbahasa bersinggungn dengan periode kritis dari perkembangan
auditori yaitu antara usia baru lahir dan 2 tahun.

Perkembangan kemampuan berbahasa merupakan bagian dari proses alami dengan jadwal-
jadwal tertentu. Sistem auditori dan visual juga mengembangkan kapasitas untuk menyuplai
input perkembangan bahasa. Sebuah proses pararel dapat terjadi dalam perkembangan
kemampuan berbahasa terkait dengan mengenal fonem-fonem yang merupakan unit terkecil
dari bunyi-bunyi tuturan (misalnya bunyi “b” dan ”p” dalam “bet” dan “pet”. Anak – anak
belajar ketika mereka menjumpai bunyi-bunyi tersebut dalam lingkungan mereka.
Kemungkingan ada periode kritis ketika koneksi-koneksi sinaptik terbentuk dengan baik, tetapi
hanya jika lingkungannya memberikan input-input. Otak anak-anak mungkin siap untuk
mempelajari berbagai aspek bahasa dalam waktu yang berbeda-beda seiring dengan tingkat-
tingkat perkembangan otak mereka (National Research Council, 2000).

Pengajaran dapat membantu memfasilitasi perkembangan berbahasa. Penugasan dan


penggunaan bahasa merupakan aktivitas yang terkoordinir. Aktivitas terkoordinir inii
menyiratkann bahwa perkembangan kemampuan berbahasa ditunjang dengan pengajaran yang
mengkoordinasikan fungsi-fungsi seperti pengalaman yang melibatkan penglihatan,
pendengaran, perkataan dan aktivitas berpikir. Daerah otak yang berbeda-beda berpengaruh
dalam perkembangan kemampuan berbahasa pada anak walaupun peran otak belahan kiri lebih
menonjol.

Penguasaan keterampilan berbahasa dicerminkan antara interaksi factor keturunan dan factor
lingkungan. Jika balita dihadapkan pada lingkungan yang kaya secara linguistic yang
menonjolka bahasa dan tulisan , maka penguasaan kemampuan berbahasa lebih cepat daripada
kemampuan berbahasa anak-anak yang berada dalam lingkungan yang miskin stimulasi
lingustik. Implikasi dari pemfasilitasan perkembangan otak usia dini adalah pentingnya
menyediakan pengalaman-pengalaman yang kaya bagi bayi dan balita, terutama pengalaman
yang mementingkan fungsi perceptual, motorik dan bahasa. Ini sangat penting diperhatikan
pada tahun-tahun pertama pertumbuhan. Pengalaman ini dapat meningkatkan formasi koneksi
dan jaringan sinaptik.

MOTIVASI DAN EMOSI

Motivasi

Motivasi didefinisikan sebagai proses dimana aktivitas-aktivitas yang berorentasi target dibuat
terjadi dan dipertahankan kelangsungannya. Tindakan yang dilandasi motivasi meliputi pilihan
atas tugas-tugas, upaya (fisik dan mental), ketekunan dan prestasi. Teori-teori kontemporer
menggambarkan motivasi dengan lebih banyak menggunakan istilah-istilah kognitif. Efikasi diri
merupakan keyakinan kognitif yang memiliki representasi saraf. Proses motivasional lainnya
juga direpresentasikan dalam jaringan sinaptik demikan pula proses yang terlibat dalam
pengaturan diri (self-regulation). Banyak penelitian neurofisiologi yang berkenaan dengan
variabel – variabel motivasi dna pengaturan diri dapt membantu menjembatani celah antara
pendidikan dan neurosains (Byrnes & Fox,1998). Menurut perspektif neurosains kognitif,
terdapat dua macam padanan saraf untuk motivasi yaitu:

1. Imbalan

Imbalan merupakan komponen utama dari teori-teori pengkondisian yang berpandangan


bahwa perilaku-perilaku yang diperkuat (mendapatkan imbalan) cenderung akan diulangi
dimasa mendatang. Teori koginisi dan konstruktivitas tentang motivasi menyatakan bahwa
harapan terhadap imbalanlah yang memotivasi suatu perilaku. Otak memiliki sistem untuk
memproses imbalan (Jensen, 2005). Banyak struktur otak yang terlibat didalamnya,
diantaranya hypothalamus, korteks prefrontal dan amygdala.

Otak memproduksi imbalan-imbalannya sendiri semacam candu. Efek ini menunjukan


bahwa otak dapat diatur sebelumnya untuk mengalami dan mempertahankan hasil-hasil
yang menyenangkan. Harapan seseorang memperoleh imbalan menyenangkan ini
menghasilkan neurotransmitter dopamine. Dopamin dapat diproduksi dari harapan atas
sesuatu yang menyenangkan dan meningkat ketika ada perbedaaan antaran imbalan yang
diharapkan dan imbalan yang terealisasi (misalnya; orang-orang yang mengharapkan
imbalan yang besar, tetapi menerima imbalan yang kecil). Sistem dopamine ini dapat
membantu sesorang menyesuaikan harapannya dan ini merupakan satu tipe pembelajaran.
Akan tetapi, otak juga bisa jenuh oleh imbalan-imbalan sehingga harapan terhadap imbalan
tidak menghasilkan rasa senang sebesar sebelumnya. Maka dibutuhkan imbalan yang lebih
besar untuk memproduksi dopamine agar efeknya tidak hilang. Ini dapat membantu
menjelaskan mengapa imbalan-imbalan tertentu kehilangan pengaruhnya untuk memotivasi
seiring dengan waktu.

Hal ini dibutuhkan penelitian tentang apakah motivator-motivator kognitif seperti target-
target dan persepsi terhadap kemajuan pembelajaran juga dapat memicu respon-respon
dopamine dan memilki acuan-acuan neurofisiologis. Tetapi perlu diperhatikan bahwa
produksi dopamine bervariasi untuk masing-masing individu. Level imbalan atau harapan
terhadap imbalan yang sama tidak akan memotivasi semua siswa dengan cara yang sama
yang berarti ada proses-proses tambahan dalam otak yang terlibat dalam motivasi.
Pemikiran ini memberikan implikasi praktis bagi pengajaran karena menunjukan bahwa
guru-guru yang berencana menggunakan imbalan harus mengenali apa saja yang
memotivasi masing-masing siswa dan menciptakan sebuah sistem imbalan yang dapat
mengakomodir perubahan-perubahan dalam kencenderungan-kecenderunga siswa.

2. Kondisi-kondisi Motivasional
Kondisi-kondisi motivasional dari perspektif neurosains kognitif merupakan koneksi-
koneksii saraf yang kompleks yang meliputi emosi, kognisi dan perilaku (Jensen, 2005).
Kondisi akan berubah sesuai dengan situasi misal kita mungkin akan berada dalam kondisi
cemas jika banyak permasalahan yang membebani kita. Kondisi motivasional adalah
kombinasi yang menyeluruh dari pikiran tubuh dan perilaku yang pada akhirnya berkaitan
dengan jaringan koneksi-koneksi sinaptik yang mirip jala. Kondisi bersifat cair dan terus
berubah berdasarkan peristiwa-peristiwa internal dan eksternal. Semua kondisi motivasional
dapat memperkuat, memperlemah dan berubah ke tipe kondisi lainnya. Sifat koneksi
sinaptik selalu berubah sesuai sifat motivasi . Motivasi merupakan sebuah proses daripada
sebuah objek dan bersifat tidak tetap. Kunci pendidikan dan pembelajaran adalah
mempertahankan motivasi dalam sebuah jangkuan yang yang optimal.

Guru memahami gagasan kondisi motivasional untuk mendukung pembelajaran. Siswa


mengalami kondisi yang berbeda-beda baiknya guru memperhatikan dahulu kondisi yang
sedang dihadapi kemudian berusaha memfokuskan perhatian siswa terhadap tugas yang
mereka hadapi. Keterpaduan antara emosi dan perilaku yang dikemukan oleh neurosains
adalah hal yang penting. Masing-masing komponen saling terkait dan tidak dapat berdiri
sendiri.

Emosi

Reaksi-reaksi emosional terdiri dari 4 tahapan yang saling bersinggungan yaitu kompleks
orientasi, integrasi peristiwa emosional, seleksi respon dan konteks emosional yang
berkelanjutan. Emosi terlihat lebih kompleks karena peristiwa yang sama memiliki potensi
membangkitkan emosi yang berbeda. Kemungkinan juga aktivitas emosional di dalam otak
berbeda-beda untuk emosi primer dan untuk emosi yang berlatar belakang cultural. Emosi
primer memiliki dasar saraf bawaan yang terpusat di otak kanan dan emosi melibatkan cultural
lebih dikendalikan otak kiri dengan fungsi pendukung kemampuan berbahasanya. Emosi dapat
membantu mengarahkan perhatian yang dibutuhkan pembelajaran (Phelps,2006). Informasi
dari lingkungan bergerak menuju thalamus lalu ke amygala dan korteks frontal. Amygala
menentukan pentingya stimulus berdasarkan emosi (Wolfe, 2001).

Emosi juga mempengaruhi pembelajaran dan memori (Phelps, 2006). Hormon epinefrin dan
norepinefrin yang dikeluarkan menghasilkan respon otonomi yang terlibat dalam emosi dan
meningkatkan memori. Kaitannya emosi dapat meningkatkan pembelajaran sebaiknya jangan
interprestasikan sebagai anjuran bagi para pendidik untuk membuat pembelajaran yang penuh
tekanan. Guru terlalu banyak menerangkan tidak akan banyak menarik keterlibatan emosional
siswanya. Aktivitas-aktivitas seperti permainan peran, diskusi dan demonstrasi menimbulkan
motivasi dan emosi yang lebih baik dibanding dengan pembelajaran dengan metode
menerangkan.

Emosi yang meningkat selama pembelajaran hanya efektif sampai pada tingkatan tertentu.
Terlalu banyak emosi (misal: stress) meningkatkan efek negative yang ditimbulkan . Siswa yang
mengalami situasi penuh tekanan dalam jangka waktu lama akan cemas secara berlebihan dan
pemikiran berkaitan dengan kecemsan dapat mempengaruhi pembelajaran. Hal ini dipengaruhi
oleh hormone kartisol karena mengurangi jumlah sinapsis dan membuat neuron-neuron rentan
terhadap kerusakan.

Motivasi dan emosi terhubung secara menyeluruh dengan proses kognitif dan aktivitas saraf.
Bukti-bukti yang ada memperjelas bahwa ketika dikendalikan dengan benar , motivasi dan
emosi mempengaruhi perhatian , pembelajaran dan memori secara positif.