Anda di halaman 1dari 2

BAB 4

PEMBAHASAN

Berdasarkan kasus, pasien tumor mediastinum merupakan pasien laki-laki berusia


28 tahun mengalami tanda dan gejala yaitu batuk dan dipsnea atau sesak napas. Pasien
tidak ada penurunan berat badan, disfagia maupun suara serak.Menurut jurnal Aroor, et
al (2014) bahwa tumor mediastinum memiliki karakteristik yaitu penderita berusia 17
hingga 68 tahun dengan rata-rata usia 45,4 tahun, paling banyak pada laki-laki,
mengalami penurunan berat badan, batuk dan dipsnea. Pada obstruksi mediastinum,
tanda paling umum adalah terdapat suara serak yang diikuti dengan disfagia dan
obstruksi vena kava superior. Kelompok berpendapat bahwaterdapat kesesuaian antara
fakta dan teori, dimana pasien memiliki karakteristik klinis dari tumor mediastinum
yaitu jenis kelamin laki-laki, usia 28 tahun, batuk dan dipsnea. Pasien tidak mengalami
penurunan berat badan karena tidak adanya kesulitan menelan yang menyebabkan
penurunan nafsu makan. Hal ini memperjelas bahwa pasien tidak megalami obstruksi
mediastinum akibat tumor.
Menurut fakta dalam kasus yang ada, pasien tidak dilakukan X-ray namun hanya
CT scan saja. Hasil CT Scan menunjukkan bahwa terdapat massa di paratrakhea kanan,
suspect suatu limfoma, terdapat efusi minimal dan penebalan pleura kanan. Menurut
jurnal Aroor, et al (2014) bahwa pemeriksaan CT Scan paling banyak menunjukkan
massa mediastinum adalah jenis limfoma. Pemeriksaan X-ray dada menunjukkan
pelebaran mediastinum, efusi pleura dan massa dalam paru-paru. Menurut kelompok,
terdapat kesesuaian antara fakta dan teori yaitu CT scan mampu menunjukkan adanya
suatu limfoma dalam mediastinum pasien, massa terdapat di saluran pernafasan yaitu
paratrakhea kanan dan mampu menunjukkan adanya efusi pleura minimal.
Berdasarkan kasus, pasien belum mendapat pengobatan kemoterapi namun pasien
menunjukkan perbaikan pada tanda-tanda klinisnya. Menurut jurnal Aroor, et al (2014)
bahwa pasien dengan limfoma yang diobati dengan kemoterapi menunjukkan resolusi
tanda klinis dan radiologi, sedangkan pasien yang menolak atau tidak mendapat
pengobatan mengalami kematian karena kelanjutan dari penyakit dan terjadinya sepsis.
Kelompok berpendapat bahwa terdapat ketidak sesuaian antara fakta dengan teori. Hal
ini kemungkinan disebabkan karena faktor yang tidak dapat diperkirakan oleh kelompok
dan karena pasien juga tidak dilakukan pemeriksaan radiologi ulang. Pasien hanya
menunjukkan tanda klinis yang semakin membaik yaitu RR dalam batas normal, pasien
hari kedua catatan perkembangan sudah mulai winning dengan oksigen masker, tidak
menunjukkan sesak atau adanya otot bantu nafas dan nafas cuping hidung serta batuk
sudah bisa efektif.