Anda di halaman 1dari 9

EFEKTIFITAS BLADDER TRAINING SEJAK DINI DAN SEBELUM PELEPASAN KATETER

URIN TERHADAP TERJADINYA INKONTINENSIA URINE PADA PASIEN PASKA


OPERASI DI SMC RS TELOGOREJO

Lucky Angelia Shabrini*), Ismonah**), Syamsul Arif***)

*) Mahasiswa Program Studi S.1Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang


**) Dosen Program Studi S.1Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang
***) Dosen Program studi S.1Ilmu Keperawatan POLTEKES Kota Semarang

ABSTRAK

Pasien yang dilakukan kateter urine pada paska operasi dapat mengalami kesulitan
untuk berkemih baik terjadi inkontinensia ataupun retensi urine. Tujuan bladder
training adalah untuk memperpanjang interval antara urinasi klien, menstabilkan
kandung kemih dan menghilangkan urgensi. Umumnya bladder training dilakukan
dengan cara kateter diklem selama dua jam dan dilepas setelah satu jam dan bladder
training tersebut dilakukan sebelum kateter urin dilepas. Penelitian ini mengukur
tingkat efektivitas bladder training sejak dini dan sebelum pelepasan kateter urin
terhadap terjadinya inkontinensia urine. Penelitian ini adalah penelitian quasi
eksperimen dengan rancangan post test only control group design. Sampel penelitian
ini adalah pasien paska operasi yang terpasang kateter urine di SMC RS. Telogorejo
sebanyak 30 responden. Berdasarkan hasil uji beda dengan Mann Whitney pada table
diatas dapat dilihat nilai p= 0.004, karena nilai p ≤ 0.05, maka terdapat perbedaan
yang antara bladder training sejak dini dengan bladder training sebelum pelepasan.
Dapat dilihat juga pada perbandingan nilai rerata, pada nilai rerata bladder training
sejak dini 10.93 dengan bladder training sebelum pelepasan 20.07 terbukti bahwa
latihan bladder training sejak dini lebih baik daripada dengan bladder training
sebelum pelepasan. Saran dalam penelitian ini diharapkan agar rumah sakit dapat
memasukkan tindakan bladder training kedalam Standar Operasional Prosedur untuk
mencegah terjadinya inkontinensia urine pada pasien paska operasi.

Kata kunci: bladder training, kateter urin, inkontinensia


ABSTRACT

The patients who were conducted urine catheter post surgery can experience trouble
in micturition. It occurs both urine incontinence and retention. The purpose of
bladder training is lengthened the interval between the clients’ interval and urinate,
stabilize the bladder and relieve urgency. In general, bladder training is conducted by
clamming the catheter for two hours and releasing it after an hour and bladder
training will be done before urine catheter is released. The research measures the
effectiveness of early bladder training and before urine catheter is released towards
urine incontinence. This research is quasi experiment with design research posttest
only control group design. The research samples are post surgery patients with urine
catheter in SMC Telogorejo Hospital. They are 30 respondents. Based on the test
result it is different from Mann Whitney on the table above, we can see value p =
0.004, because value p < 0.05, so that there is a difference between early bladder
training from bladder training before relieving. It can be seen also the comparison
the average value, on the early bladder training average value 10.93 with bladder
training before relieving proved that practice in early bladder training is better than
Efektifitas bladder Training sejak dini.............................(L. Angelia Shabrini, 2015) 1
before relieving. Suggestion in this paper is hospitals are expected to include the
bladder training action into Standard Operational Procedure to prevent urine
incontinence on post surgery patients.

Keyword : bladder training, urine catheter, incontinence

2 Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan (JIKK)


PENDAHULUAN terjadi akibat pemasangan kateter dalam
Pembedahan atau operasi adalah semua waktu yang lama sehingga dapat
tindakan pengobatan yang menggunakan mengakibatkan kandung kemih tidak akan
cara invasif dengan membuka atau terisi dan berkontraksi selain itu juga dapat
menampilkan bagian tubuh yang akan mengakibatkan kandung kemih akan
ditangani. Tindakan pembedahan atau kehilangan tonusnya. Otot detrusor tidak
operasi dapat menimbulkan berbagai dapat berkontraksi dan pasien tidak dapat
keluhan dan gejala. Keluhan dan gejala yang mengontrol pengeluaran urinnya, atau
sering adalah nyeri. Tindakan operasi inkontinensia urine (Smelzter & Bare,2013,
menyebabkan terjadinya perubahan hlm.1390).
kontinuitas jaringan tubuh. Sehingga untuk
menjaga homeostasis, tubuh melakukan Pada tahun 2010 Asia Pacific Continence
mekanisme yang bertujuan sebagai Advisory Board (APCAB) menyatakan
pemulihan pada jaringan tubuh yang prevalensi inkontinensia urine pada wanita
mengalami perlukaan. Pada proses Asia sekitar 14,6%. Prevalensi inkontinensia
pemulihan inilah terjadi reaksi kimia dalam urine bervariasi di setiap negara yang
tubuh sehingga nyeri dirasakan oleh pasien. disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya
Oleh karena itu, setiap pembedahan perbedaan definisi, populasi, sampel
diperlukan upaya untuk menghilangkan penelitian, dan metodologi penelitian. Di
nyeri (Jong, 2010, hlm.314). Anestesi dalam Indonesia prevalensi angka kejadian
tindakan bedah banyak macamnya salah inkontinensia urine belum dapat terdeteksi
satunya adalah anestesi spinal dan anestesi secara pasti dikarenakan banyak orang yang
umum. Menurut Potter & Perry (2010, menganggap inkontinensia urine merupakan
hlm.378) dampak dari prosedur bedah yang hal yang wajar. Meski tidak berbahaya,
dilakukan anestesi mempengaruhi namun gangguan ini sangat mengganggu dan
pengeluaran urine dan kemih itu sendiri. membuat malu, sehingga menimbulkan rasa
rendah diri atau depresi pada penderitanya.
Anestesi dapat mempengaruhi kesadaran Salah satu usaha yang dilakukan untuk
pasien termasuk tentang kebutuhan berkemih mengatasi keadaan ini adalah dengan
sehingga berdampak pada pengeluaran urine, melakukan program latihan kandung kemih
oleh karena itu selama prosedur pembedahan atau bladder training (Smelzter &
pasien dilakukan kateterisasi urine (Potter & Bare,2013, hlm.1390).
Perry, 2010, hlm 378). Kateterisasi urine
adalah pemasangan kateter melalui uretra ke Bladder training adalah latihan kandung
kandung kemih. Tindakan pemasangan kemih yang bertujuan untuk
kateter dilakukan pada pasien dengan mengembangkan tonus otot dan otot spingter
indikasi yaitu: untuk menentukan jumlah kandung kemih agar bertujuan maksimal.
urin sisa dalam kandung kemih setelah Bladder training biasanya digunakan untuk
pasien buang air kecil, untuk memintas suatu stress inkontinensia, desakan inkontinensia
obstruksi yang menyumbat aliran urin, untuk atau kombinasi keduanya atau yang disebut
menghasilkan drainase pascaoperatif pada inkontinensia campuran. Pelatihan kandung
kandung kemih, daerah vagina atau prostat, kemih yang mengharuskan klien menunda
atau menyediakan cara-cara untuk berkemih, melawan atau menghambat
memantau pengeluaran urin setiap jam pada sensasi urgensi dan berkemih sesuai dengan
pasien yang sakit berat (Smelzter & waktu yang telah ditetapkan dan bukan
Bare,2013, hlm. 1388). sesuai dengan desakan untuk berkemih.
Tujuan bladder training adalah untuk
Tindakan pemasangan kateter dilakukan memperpanjang interval antara urinasi klien,
membantu pasien yang tidak mampu menstabilkan kandung kemih dan
mengontrol perkemihan atau pasien yang menghilangkan urgensi (Suharyanto, 2008,
mengalami obstruksi pada saluran kemih. hlm.203).
Namun tindakan ini bisa menimbulkan
masalah lain seperti infeksi, trauma pada Umumnya bladder training dilakukan
uretra, dan menurunnya rangsangan berkemih. dengan cara kateter diklem selama dua jam
Menurunnya rangsangan berkemih dan dilepas setelah satu jam dan bladder

Efektifitas bladder Training sejak dini.............................(L. Angelia Shabrini, 2015) 3


training tersebut dilakukan sebelum kateter dilepas kateter. Pada kelompok kontrol
urin dilepas. Fenomena tersebut berakibat dilakukan bladder training sebelum
pasien yang dilakukan katerter urine dapat pelepasan.
mengalami kesulitan untuk berkemih baik
terjadi inkontinensia ataupun retensi urine, Populasi adalah wilayah generalisasi
walaupun pada saat dilakukan bladder yang terdiri atas responden yang
training pasien merasakan keinginnan untuk mempunyai kuantitas dan karakteristik
berkemih. tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik
Beberapa penelitian yang terkait dengan
bladder training adalah penelitian yang
kesimpulannya (Sugiyono, 2004, dalam
dilakukan oleh Betti (2009) dengan judul Hidayat, 2009, hlm.68). Populasi
"Efektifitas bladder training secara dini pada penelitian ini adalah pasien yang
pasien yang terpasang douwer kateter terhadap terpasang kateter urin paska operasi di
kejadian inkontinensia urine di ruang Umar SMC RS. Telogorejo sebanyak 36 orang.
dan ruang Khotijah RS Roemani Semarang"
diperoleh nilai p > 0,05 yang Sampel merupakan bagian populasi yang
menunjukkan tidak ada pengaruh diteliti atau sebagian jumlah dari
pelaksanaan bladder training secara dini karakteristik yang dimiliki oleh populasi
pada pasien yang terpasang dower kateter (Hidayat, 2009, hlm.68). Sampel pada
terhadap kejadian inkontinensia urine . penelitian ini menggunakan sampel
Sedangkan penelitian yang dilakukan Wulan jenuh. Menurut Sarmanu (2009, dalam
(2013) dengan judul "Pengaruh pemberian Nasir, 2011, hlm.228-229) dikatakan
bladder training sebelum pelepasan dower jenuh apabila jumlah sampelnya lebih
kateter terhadap terjadinya inkontinensia
dari setengah populasi. Penelitian ini
urine pada pasien di IRNA C Sanglah
Denpasar didapatkan nilai p 0,04 atau nilai p menggunakan cara observasi dan
<0,05 dapat disimpulkan ada pengaruh wawancara. Peneliti ikut terlibat pada
pemberian bladder training sebelum kelompok yang diobservasi dan
pelepasan dower kateter terhadap terjadinya berhubungan dengan subyek secara
inkontinensia pada pasien IRNA C Sanglah khusus terhadap kegiatan yang
Denpasar”. berhubungan dengan masalah penelitian.

Melihat perbedaan pada dua penelitian Pada penelitian ini dilakukan analisis
tersebut, maka peneliti tertarik untuk melihat univariat yaitu umur jenis kelamin,
efektifitas bladder training sejak dini dan pekerjaan. Hasil analisis berupa data
sebelum pelepasan kateter urin terhadap numerik dimna berdistribusi tidak
terjadinya inkontinensia urine pada pasien normal disajikan dalam bentuk median,
paska operasi di SMC RS Telogorejo. nilai minimum dan nilai maksimum.
Selain itu data kategorik disajikan dalam
METODE PENELITIAN
bentuk distribusi frekuensi berupa
Penelitian ini adalah penelitian quasi jumlah (frekuensi) dan persentase (%)
eksperimen dengan rancangan post test yang terdiri dari jenis kelamin dan
only control group design yaitu satu tingkat inkontinensi
kelompok adalah kelompok perlakuan Analisis bivariat yaitu analisis yang
sedangkan kelompok lain adalah dilakukan untuk melihat perbedaan
kelompok kontrol sebagai pembanding. antara bladder training terhadap
Peneliti melakukan penilaian dengan inkontinensia pada kelompok kontrol
cara membandingkan data post test dan perlakuan. Sebelum dilakukan uji
antara kelompok perlakuan dan statistik pada variabel bebas dan variabel
kelompok kontrol. Pada kelompok terikat dilakukan uji kenormalan data
perlakuan dilakukan bladder training dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk
sejak dipasang kateter sampai dengan

4 Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan (JIKK)


karena jumlah responden sebanya 30 2. Usia responden
orang, dan didapatkan p value = 0.000, Tabel 2
karena p value < 0.05 maka Distribusi frekuensi responden
menunjukkan data berdistribusi tidak berdasarkan usia
diSMC RS Telogorejo Semarang
normal. Setelah dilakukan transformasi
(n = 30)
data didapatkan p value = 0.000 karena p
value < 0.05 maka data berdistribusi Dewasa F P (%)
tidak normal. Oleh karena itu dilakukan awal 7 23.3
uji Mann Whitney perbedaan antara menengah 11 36.7
bladder training sejak dini dan bladder akhir 12 40.0
training sebelum pelepasan. Berdasarkan
Total 30 100.0
hasil uji beda dengan Mann Whitney
pada table diatas dapat dilihat nilai p=
0.004, karena nilai p ≤ 0.05, maka
terdapat perbedaan yang antara bladder Pada tabel 2 dapat diketahui bahwa
paling banyak dalam kategori usia
training sejak dini dengan bladder dewasa akhir yaitu 12 (40.0 %).
training sebelum pelepasan, maka Ha
diterima dan Ho ditolak. Dengan 3. Respon Berkemih
demikian dapat disimpilkan bahwa
bladder training sejak dini lebih efektif Tabel 3
untuk mencegah inkontinensia pada Distribusi frekuensi responden
pasien yang terpasang kateter urin paska berdasarkan respon berkemih
operasi di SMC RS Telogorejo. diSMC RS Telogorejo Semarang
(n = 30)

Respon F (%)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bladder training sejak
PENELITIAN dipasang kateter
Pada analisis univariat disajikan frekuensi 1. Spontan 1 46.7
responden berdasarkan:
2. Saat 1 3.3
1. Jenis kelamin batuk,tertawa,ber
Responden berdasarkan jenis sin
kelamin Tabel 1 3. Inkontinensia 0 0
Distribusi frekuensi responden spontan
berdasarkan jenis kelamin Bladder training
di SMC RS Telogorejo Semarang sebelum
(n = 30) pelepasan kateter
1. Spontan 5 16.6
Jenis Kelamin F (%) 2.Saat,batuk,tertawa,b 8 26.6
1. Laki- Laki 18 60 ersin
3. Inkontinensia 2 6.67
2. Perempuan 12 40 spontan
Total 30 100.0
Berdasarkan tabel 5.3 dapat diketahui
bahwa paling banyak responden
Berdasar tabel diketahui bahwa sebagian memiliki respon spontan saat berkemih.
besar respondenberjenis kelamin laki-laki
yaitu 18 orang (60%). Analisis Bivariat
Berdasarkan hasil uji normalitas
menunjukan bahwa kedua data
berdistribusi tidak normal dibuktikan
dengan hasilp value= 0.000, karenap

Efektifitas bladder Training sejak dini.............................(L. Angelia Shabrini, 2015) 5


value< 0.05. Setelah dilakukan antara laki-laki dan perempuan pada
transformasi data didapatkan p value = struktural otot destrusor kandung kemih
0.000 karena p value < 0.05 maka data (Nursalam, 2006, hlm.148).
berdistribusi tidak normal. Oleh karena
itu dilakukan uji Mann Whitney Adanya perbedaan struktural serabut /
perbedaan antara bladder training sejak otot destrusor kandung kemih antara
dini dan bladder training sebelum laki laki dan perempuan, dimana
pelepasan. struktur otot destrusor dan spingter
Tabel 4 tersusun oleh sebagian otot polos
Hasil uji Mann Whitney perbedaan kandung kemih sehingga bila
antara bladder training sejak dini berkontraksi akan menyebabkan
dan bladder training sebelum pengosongan kandung kemih. Spingter
pelepasan uretra pada laki laki terletak pada
(n = 30) bagian distal prostat sehingga pada laki
laki lebih lama merasakan rangsangan
berkemih dibandingkan perempuan
Perlakuan N ( ± SD) p value(Nursalam, 2006,Zscorehlm .148).
BD sejak 15 10.93±0.626 0 .004 -3.350
dini Hasil penelitian ini didukung oleh
BD 15 20.07±0.626 penelitian yang dilakukan oleh Jaswadi
sebelum (2008) tentang efektifitas terapi
pelepasan behavioral terhadap inkontinensia urine
pada usila di PSTW Budi Luhur
Berdasarkan hasil uji beda dengan Yogyakarta, pada penelitian tersebut
menunjukkan bahwa jenis kelamin
Mann Whitney pada table diatas dapat berpengaruh dengan keluhan berkemih.
dilihat nilai p= 0.004, karena nilai p≤
0.05, maka terdapat perbedaan yang
antara bladder training sejak dini 2. Usia
dengan bladder training sebelum Hasil penelitian berdasarkan usia
pelepasan. Dapat dilihat juga pada responden didominasi oleh usia dewasa
perbandingan nilai rerata, pada nilai akhir sebanyak 12 responden (40%).
rerata bladder training sejak dini 10.93 Hasil penelitian ini menunjukkan
dengan bladder training sebelum bahwa responden rentan terhadap
pelepasan 20.07 terbukti bahwa latihan kejadian inkontinensia. Hasil penelitian
bladder training sejak dini lebih baik ini juga sesuai dengan konsep semakin
daripada dengan bladder training tua usia maka semakin menurun respon
sebelum pelepasan. berkemihnya, sesuai dengan konsep
yang ada dimana semakin tua
PEMBAHASAN seseorang, semakin menurun fungsi dan
struktur tubuhnya. Setelah usia lebih
1. Jenis kelamin dari 50 tahun fungsi dan ukuran ginjal
menurun semakin tua seseorang
Hasil penelitian didapatkan responden
semakin menurun fungsi dan struktur
dengan jenis kelamin laki laki 18
sistem tubuhnya (Perry & Potter, 2010,
responden (60%) dan 12 responden
hlm 1682).
(40%). Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa bladder training Hasil penelitian ini didukung pada
memberikan dampak yang berbeda
penelitian yang dilakukan oleh
pada jenis kelamin laki-laki dan
Bayhakki (2008) yang meneliti tentang
perempuan. Jenis kelamin merupakan
bladder training pada pasien paska
salah satu faktor yang mempengaruhi
bedah ortopedi pada usia dewasa awal
kemampuan berkemih hal tersebut
yang terpasang kateter urine pada
terjadi karena adanya perbedaan
penelitian tersebut didapatkan hasil
struktur anatomi sistem perkemihan

6 Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan (JIKK)


bahwa umur berpengaruh pada waktu yang optimal sesuai dengan kondisi.
berkemih. Tujuan dari bladder training adalah
untuk meningkatkan jumlah waktu
3. Respon Berkemih pengosongan kandung kemih, secara
Hasil penelitian berdasarkan respon nyaman tanpa adanya urgensi,atau
berkemih pada kelompok perlakuan inkontinensia atau kebocoran. Bladder
sebanyak 14 responden yang berkemih training dapat digunakan untuk salah
secara spontan, sedangkan kelompok satu terapi inkontinensia dan untuk
kontrol terdapat 5 responden yang melatih kembali tonus kandung kemih
mampu berkemih spontan. Hasil setelah pemasangan kateter dalam
penelitian ini menunjukkan pengaruh jangka waktu lama dalam mencegah
bladder training dapat meningkatkan inkontinensia. Keduanya menggunakan
kontrol pada dorongan atau rangsangan penjadwalan berkemih secara teratur.
dalam berkemih. Pada saat terpasang Ketika mempersiapkan pelepasan
kateter urin kandung kemih tidak kateter yang sudah terpasang dalam
dirangsang untuk merasakan sensasi waktu lama, latihan kandung kemih
berkemih, sehingga tonus otot dan atau bladder training harus dimulai
spingter menjadi melemah (Suharyanto, dahulu untuk mengembangkan tonus
2009, hlm.103). kandung kemih. Ketika kateter
terpasang, kandung kemih tidak akan
Selain itu sesuai dengan konsep dari terisi dan berkontraksi, pada akhirnya
Suharyanto (2009, hlm.103) juga kandung kemih akan kehilangan
menyatakan bahwa pelaksanaan tonusnya (atonia) atau kekuatan dan
bladder training yang bertujuan untuk kapasitas kandung kemih menurun.
mengembalikan tonus otot kandung Apabila atonia terjadi dan kateter
kemih dan melatih kandung kemih dilepas, otot destrusor mungkin tidak
untuk mengeluarkan urin secara dapat berkontraksi dan pasien tidak
periodik, berdampak positif, sehingga dapat mengeluarkan urinnya, sehingga
pada pasien yang terpasang terjadi inkontinensia. Untuk itu perlu
kateter urin agar mampu berkemih dilakukan bladder training sebelum
secara spontan perlu dilakukan melepas kateter urinari (Smeltzer &
bladder training. Bare, 2013,hlm.1390).

Hasil penelitian ini didukung oleh Bladder training merupakan upaya


penelitian Wulan (2013) dengan yang efektif untuk mengembalikan
menunjukkan adanya pengaruh bladder kemampuan sfingter uretra pada
training yang dilakukan pada pasien individu yang terpasang kateter.
yang terpasang kateter urin. Menurut Guyton (2006) eliminasi urin
membutuhkan tonus otot kandung
Analisis bivariat kemih, otot abdomen,dan pelvis untuk
Pada uji statistik antara bladder berkontraksi. Pada saat awal bladder
training dengan kemampuan berkemih training terjadi kontraksi otot-otot
pada kelompok perlakuan dan kontrol perineum dan sfingter eksterna dapat
didapatkan nilai p = 0.004 (nilai p ≤ dilakukan secara volunter sehingga
0.05) dari hasil penelitin dapat mampu mencegah urin mengalir
disimpulkan ada perbedaan signifikan melewati uretra atau menghentikan
antara kemampuan berkemih responden aliran urin saat sedang berkemih. Urin
pada kelompok perlakuan dan kontrol. yang memasuki kandung kemih tidak
begitu meningkatkan tekanan
Latihan kandung kemih adalah salah intravesika sampai terisi penuh. Pada
satu cara untuk mengatasi masalah yang kandung kemih ketegangan akan
berkaitan dengan urinasi. Bladder meningkat dengan meningkatnya isi
training adalah salah satu upaya untuk organ tersebut, tetapi jari-jaripun
mengembalikan fungsi kandung kemih bertambah, oleh karena itu peningkatan
yang mengalami gangguan ke fungsi tekanan hanya akan sedikit saja, sampai

Efektifitas bladder Training sejak dini.............................(L. Angelia Shabrini, 2015) 7


organ tersebut relatif penuh. Jika sudah 3. Bagi Peneliti selanjutnya
tiba saat ingin berkemih, pusat cortical Pada penelitian yang akan datang lebih
dapat merangsang pusat berkemih ditingkatkan jumlah sampel pada
sacral untuk membantu mencetuskan seluruh pasien yang menggunakan
refleks berkemih dan dalam waktu yang kateter urin.
bersamaan menghambat sfingter
eksternus kandung kemih sehingga
peristiwa berkemih dapat terjadi. DAFTAR PUSTAKA
Selama proses berkemih otot-otot
perinium dan sfingter uretra eksterna Aryani, R. (2009). Prosedur Klinik
relaksasi, otot detrusor berkontraksi dan Keperawatan Pada Mata Ajar
urin akan mengalir melalui uretra. Kebutuhan Dasar Manusia.
Jakarta : TIM
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa
pelaksanaan bladder training yang
dilakukan setiap hari diharapkan dapat Baradero, M. (2008). Klien Gangguan
meningkatkan tonus otot kandung Ginjal. Jakarta : EGC
kemih daripada yang dilakukan
sebelum pelepasan. Pemasangan kateter Bayhakki. (2008). Bladder training
urine menetap tidak fisiologis dimana modifikasi cara kozier pada pasien
kandung kemih selalu kosong akibatnya paska bedah
kandung kemih kehilangan potensi ortopedi. Jurnal Keperawatan
sensasi berkemih dan penurunan tonus Indonesia diperoleh tanggal 10 Mei 2015
otot kandung kemih. Dan untuk
merangsang otot destrusor kandung
Dahlan, M.S. (2014). Statistik Untuk
kemih saat terpasang kateter urin perlu
dilakukan bladder training. Kedokteran dan Kesehatan. Edisi
6. Jakarta : Epidemiologi
Hasil penelitian ini didukung oleh Indonesia
penelitian yang dilakukan Maruti
(2005) dengan hasil penelitian Dharma, K.K. (2011). Metodologi
menunjukkan bahwa bladder training Penelitian Keperawatan. Jakarta : TIM
yang dilakukan setiap hari lebih efektif
daripada sebelum pelepasan kateter.
Elveen, et al. (2010). Factors predicting
for urinary incontinence after
SARAN prostate brachytherapy.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pub
1. Bagi ilmu keperawatan
med/1527572 diperoleh tanggal 2
Sebagai tambahan referensi dalam
mengembangkanteknikbladder November 2014
training pada pasien dengan
pemasangan kateter. Gruenderman, J.B., & Fernsebrer, B.
2. Bagi Institusi Pelayanan Keperawatan (2006). Buku Ajar Perawatan
sebagai informasi dan bisa menjadi Perioperatif. Volume 1. Jakarta :
salah satu pendorong bagi perawat EGC
untuk melakukan bladder training
untuk meminimalkan terjadinya Hidayat, Alimul Aziz. (2008).
inkontinensia pada pasien yang Riset
terpasang kateter. Khususnya dalam
Keperawatan & Teknik
pembuatan Standart Operasional
Prosedur (SOP) bladder training Penulisan Ilmiah. Jakarta:
sehingga kualitas pelayanan yang Salemba Medika
diberikan diharapkan dapat lebih
meningkat. . (2011).
Metode
Penelitian Kebidanan & Teknik

8 Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan (JIKK)


Analisa Data. Jakarta: Salemba Smeltzer, S.C., &Bare, B.B. (2013).
Medika Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Volume 1. Jakarta : EGC
Jong, W.D., & Syamsuhidajat, R.
(1997). Buku Ajar Ilmu Bedah IA. . (2013). Buku Ajar
Jakarta : EGC Keperawatan Medikal Bedah.
Volume 3. Jakarta : EGC
Krisnawati, Beti. (2009). Efektifitas
bladder training secara dini
pada pasien yang terpasang Suharyanto, T. (2009).
douwer Asuhan
kateter terhadap kejadian Keperawatan pada Klien dengan
inkontinensia urine di ruang Gangguan Sistem
Umar dan ruang Khotijah RS Perkemihan.
Roemani Semarang Jakarta : TIM
http://Keperawatan.undip.ac.id/
diperoleh tanggal 10 Agustus Sugiono. (2013). Statistika Untuk
2014 Penelitian. Bandung : Alfabeta

Wulandari, Sri. (2012). Pengaruh


Martuti, Y. (2005). Perbedaan kejadian latihan bladder training
inkontinensia urin pada klien terhadap penurunan
menggunakan inkontinensia pada lanjut usia di
kateter menetap antara yang Panti Wreda Dharma Bakti
dilakukan bladder training setiap hari Surakarta.
dengan http://eprints.ums.ac.id/19599/20/
bladder training sehari sebelum 12._NASKAH_PUBLIKASI.pdfAN
kateter dilepas. Semarang diperoleh %20 B
tanggal LADDER%20RETENTION%20
10 Mei 2015 TRAINING.pdf diperoleh 10 Mei 2015

Nasir, Abd et. al. (2011). Metodologi


Penelitian Kesehatan.
Yogyakarta: Nuha Medika

Nursalam. (2006). Asuhan Keperawatan


pada Pasien dengan Gangguan
Sistem Perkemihan. Jilid 1.
Jakarta: Salemba Medika

Potter & Perry. (2010). Buku Ajar


Fundamental Keperawatan. Jakarta :
EGC

Saryono & Setiawan, Ari. (2010).


Metodologi Penelitian Kebidanan DIII,
DIV, S1, S2. Yogyakarta:
Nuha Medika

Efektifitas bladder Training sejak dini.............................(L. Angelia Shabrini, 2015) 9