Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN MINI PROJECT

HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG HIPERTENSI DENGAN TEKANAN


DARAH PADA KELOMPOK SENAM LANSIA DI KELURAHAN SEKAR
MAWAR WILAYAH KERJA PUSKESMAS AIR MOLEK KECAMATAN PASIR
PENYU KABUPATEN INDRAGIRI HULU

Oleh :
dr. Karina

Pembimbing :
dr. Lani Puspawati Handoko

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


PUSKESMAS AIR MOLEK KECAMATAN PASIR PENYU
KABUPATEN INDRAGIRI HULU
PROVINSI RIAU
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Hipertensi adalah keadaan dimana didapatkan peningkatan tekanan
darah sistolik seseorang lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih
dari 90mmHg, dalam 2 kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam
keadaan istirahat.1 Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu
hipertensi primer atau esensial dimana penyebabnya tidak diketahui dengan jelas,
dan hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang terjadi disebabkan oleh keadaan
lain dalam tubuh, seperti pada penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit
jantung, dan lain-lain.2
Faktor resiko pemicu dari hipertensi sendiri dapat dibedakan atas faktor
yang tidak dapat dimodifikasi seperti keturunan, jenis kelamin, dan usia.
Sedangkan faktor lain yang dapat dimodifikasi seperti obesitas, gaya hidup
sandentary, kebiasaan merokok, dan konsumsi garam yang belebihan.3
Hipertensi kini menjadi masalah global karena prevalensi yang terus
meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup seperti merokok, obesitas,
aktivitas yang menurun, dan stres psikososial yang kian meningkat. Hampir
disetiap negara, hipertensi menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang
paling sering dijumpai.4 Diseluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau 26,4%
penghuni bumi mengidap hipertensi dengan perbandingan 26,6% pria dan 26,1%
wanita. Dari seluruh kejadian hipertensi didiunia, duapertiga kasus ditemukan
pada negara-negara berkembang seperti Indonesia.2
Permasalahan utama dari hipertensi pada negara berkembang, termasuk
Indonesia adalah rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat dalam
pengontrolan tekanan darah, sehingga menimbulkan berbagai komplikasi yang
berakibat pada peningkatan jumlah kematian akibat berbagai penyakit dari
komplikasi tekanan darah yang tidak terkontrol ini.5
Selain itu, dari ambaran latar belakang penderita hipertensi yang sangat
heterogen membuktikan bahwa penyakit ini bagaikan mosaik, diderita oleh
orang banyak yang datang dari berbagai subkelompok berisiko di

2
dalam masyarakat. Hal tersebut juga berarti bahwa hipertensi dipengaruhi oleh
berbagai faktor resiko, termasuk faktor resiko yang dapat dimodifikasi seperti
dijelaskan sebelumnya. Bagi para penderita tekanan darah tinggi, penting
mengenal hipertensi dengan membuat perubahan gaya hidup positif yang dapat
menurunkan kesempatan dari faktor resiko yang dapat dimodifikasi tersebut
dalam menyebabkan hipertensi. Sehingga hipertensi dapat dikontrol dengan
pengobatan yang sesuai, serta pengaturan pola makan yang baik dan aktivita fisik
yang cukup.6
Dari rendahnya pengetahuan masyarakat tentang hipertensi dan berbagai
komplikasi yang dapat ditimbulkan dari tidak terkontrolnya tekanan darah secara
benar, perlu dilakukan penyuluhan serta skrining terhadap keadaan hipertensi
pada lansia peserta senam lansia di kelurahan Sekar Mawar wilayah kerja
Puskesmas Air Molek.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang tersebut diatas rumusan masalah penelitian ini adalah
“Bagaimana Hubungan Pengetahuan Tentang Hipertensi Dengan Tekanan
Darah Pada Kelompok Senam Lansia di Kelurahan Sekar Mawar Wilayah
Kerja Puskesmas Air Molek”.

1.3 Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui karakteristik kejadian hipertensi dan tingkat
pengetahuan masyarakat terhadap hipertensi pada kelompok lansia pada senam
lansia di kelurahan Sekar Mawar wilayah kerja Puskesmas Air Molek.

3
1.4 Manfaat Penelitian
1. Mengetahui gambaran karakteristik dan tingkat pengetahuan masyarakat
terhadap hipertensi pada kelompok lansia pada anggota senam lansia di
kelurahan Sekar Mawar wilayah kerja Puskesmas Air Molek.
2. Memberikan wawasan pengetahuan baru bagi kelompok lansia pada
anggota senam lansia di kelurahan Sekar Mawar wilayah kerja Puskesmas
Air Molek.
3. Menambah pengetahuan dan pengalaman sebagai dokter intenship dalam
memecahkan sebuah masalah dan memberikan penyuluhan di masyarakat.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hipertensi


Hipertensi adalah keadaan dimana seseorang mengalami
peningkatan tekanan darah diatas normal secara persisten di dalam arteri dengan
pengukuran didapatkan peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg
dan tekanan darah diastolik lebih dari 90mmHg, dalam 2 kali pengukuran dengan
selang waktu lima menit dalam keadaan istirahat.1
Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana
tekanan darah yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan
meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan
jantung dan kerusakan ginjal. Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya
tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat,
diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi.2

2.2 Klasifikasi Hipertensi


The Seventh Report of the Joint National Committee on the Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) mengklasifikasikan
tekanan darah pada orang dewasa (usia > 18 th) didasarkan pada rata-rata 2 atau
lebih tekanan darah yang diukur secara tepat dari 2 kali atau lebih pengukuran
di klinik.7 Prehipertensi tidak dianggap sebagai kategori penyakit tetapi
mengidentifikasi pasien-pasien yang tekanan darahnya cendrung meningkat ke
klasifikasi hipertensi dimasa yang akan datang. Ada dua tingkat (stage)
hipertensi dan semua pasien pada kategori ini harus diberi terapi obat.
JNC 7 mengklasifikasikan tekanan darah dalam 4 kategori yaitu tekanan
darah normal, pre hipertensi, hipertensi grade 1, dan hipertensi grade 2.7

5
Gambar 2.1 Klasifikasi Hipertensi menurut JNC 7 (JNC 7,2003).7

Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh


tekanan darah yang sangat tinggi yang kemungkinan dapat menimbulkan atau
telah terjadinya kelainan organ target. Biasanya ditandai oleh tekanan darah
>180/120 mmHg; dikategorikan sebagai hipertensi emergensi atau hipertensi
urgensi. Pada hipertensi emergensi tekanan darah meningkat ekstrim disertai
dengan kerusakan organ target akut yang bersifat progresif, sehingga
tekanan darah harus diturunkan segera (dalam hitungan menit – jam)
untuk mencegah kerusakan organ target lebih lanjut. Contoh gangguan
organ target akut: encephalopathy, pendarahan intrakranial, gagal ventrikel
kiri akut disertai edema paru, dissecting aortic aneurysm, angina pectoris
tidak stabil, dan eklampsia atau hipertensi berat selama kehamilan.2
Hipertensi urgensi adalah tingginya tekanan darah tanpa disertai kerusakan
organ target yang progresif. Tekanan darah diturunkan dengan obat antihipertensi
oral ke nilai tekanan darah pada tingkat 1 dalam waktu beberapa jam sampai
beberapa hari.2

6
2.3 Etiologi Hipertensi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan
besar, yaitu :8
1. Hipertensi esensial (Hipertensi primer)
Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih
belum dapat diketahui. Namun, berbagai faktor diduga turut berperan sebagai
penyebab hipertensi primer, seperti bertambahnya umur, stres psikologis, dan
hereditas (keturunan). Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi
primer sedangkan 10% tergolong hipertensi sekunder.9
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain yang dapat diketahui.
Sekitar 5 - 10 % penderita hipertensi sekunder disebabkan oleh adanya penyakit
ginjal, dan 1 - 2 % lainnya disebabkan oleh kelainan hormonal atau pemakaian
obat tertentu (misalnya penyakit kelenjar adrenal / hiperaldosteronisme,
penggunaan pil KB). Berikut adalah beberapa penyakit yang menjadi penyebab
terjadinya hipertensi sekunder :9
Tabel 2.1 Beberapa faktor penyebab hipertensi sekunder.10
No Penyebab Contoh penyakit
1. Penyakit Ginjal -Stenosis arteri renalis
-Pielonefritis
-Glomerulonefritis
-Tumor-tumor ginjal
-Penyakit ginjal polikista
-Trauma Ginjal
2. Kelainan hormonal -Hiperaldosteronisme
-Sindroma Cushing
-Feokromositoma
3. Obat-obatan -Pil KB
-Kortikosteroid
-Siklosporin
-Penyalahgunaan Alkohol
4. Penyebab Lainnya -Koartasio Aorta

7
-Preeklamsi
-Keracuann Timbal Akut

2.5 Patofisiologi Hipertensi


Ada berbagai mekanisme yang mengatur keadaan tekanan darah, sehingga
dalam keadaan hipertensi, ada beberapa mekanisme yang terlibut, sehingga
menimbulkan keadaan tekanan darah menjadi tinggi, yaitu :11
1. Mekanisme Humoral
Mekanisme humoral meliputi abnormalitas Sistem Renin-
Angiotensin-Aldosteron (SRAA), hormone natriuretik, dan hiperinsulinemia.
a. Abnormalitas SRAA
SRAA adalah sistem endogen kompleks yang telibat pada
hampir sebagian besar komponen tekanan darah arterial. Aktivasi
dan regulasi SRAA diperintah oleh ginjal. SRAA mengatur natrium,
kalium, dan keseimbangan cairan. Untuk itu sistem ini secara
signifikan mempengaruhi tonus vaskuler dan aktivitas sistem saraf
simpatik serta paling berpengaruh terhadap pengaturan homeostatis
tekanan darah. Secara ringkas mekanisme hipertensi karena gangguan
SRAA dapat dilihat di gambar dibawah ini.

8
Gambar 2.2 Gangguan pada Sistem Renin Angiotensin Aldosteron yang dapat
meningkatkan tekanan darah.11

Renin adalah enzim yang disimpan di dalam sel


juxtaglomerular yang berada di arteriol aferen ginjal. Pelepasan renin
dimodulasi oleh faktor intrarenal (seperti angiotensin II, katekolamin,
dan tekanan perfusi ginjal), dan juga faktor ekstrarenal (seperti
natrium, klorida, dan kalium). Sel juxtaglomerular berfungsi sebagai
alat sensor, dimana pada penurunan tekanan ateri ginjal dan aliran
darah ginjal dapat dikenali oleh sel ini, dan kemudian
menstimulasi pelepasan renin. Begitu juga dengan peristiwa
menurunnya kadar natrium dan klorida yang ditranspor ke tubulus
distal, peningkatan katekolamin, serta penurunan kalium
dan/atau kalsium intrasel dapat memicu sel juxtaglomerular
untuk melepaskan renin. Renin mengkatalisis perubahan
angiotensinogen menjadi angiotensin I di dalam darah. Angiotensin I
akan diubah menjadi angiotensin oleh angiotensin converting
enzyme (ACE). Setelah berikatan dengan reseptor spesifik (yang
diklasifikasikan sebagai subtipe AT 1 dan AT 2), angiotensin II
menyebabkan respon biologis pada beberapa jaringan. Reseptor AT 1

9
terletak di ginjal, otak, miokardium, pembuluh darah perifer,
dan kelenjar adrenal. Reseptor ini memediasi sebagian besar
respon penting bagi fungsi ginjal maupun kardiovaskuler,
sementara reseptor AT 2 tidak mempengaruhi pengaturan tekanan
darah. Sirkulasi Angiotensin II dapat meningkatkan tekanan darah
melalui efek pressor dan volume. Efek pressor termasuk
diantaranya adalah vasokonstriksi langsung, stimulasi pelepasan
katekolamin dari medulla adrenal, dan peningkatan aktivitas saraf
simpatik yang diperantarai oleh saraf pusat. Angiotensin II juga
menstimulasi sintesis aldosteron dari korteks adrenal yang
menyebabkan reabsorpsi air dan natrium yang mengakibatkan
peningkatan volume plasma, tahanan perifer total, dan tentu saja
tekanan darah.11

b. Hormon Natriuretik
Hormon natriuretik menghambat ATPase sodium dan
potassium, sehingga mempengaruhi transpor sodium melewati
membrane sel. Secara teoritis peningkatan konsentrasi hormon
natriuretik dalam sirkulasi darah akan meningkatkan sekresi sodium
dan potassium melalui urin. Defek pada kemampuan ginjal
mengeliminasi sodium dapat menyebabkan peningkatan volume
darah.11

c. Resistensi insulin dan Hiperinsulinemia


Resistensi insulin dan hiperinsulinemia dihubungkan dengan
perkembangan hipertensi karena kejadian tersebut berkaitan dengan
sindrom metabolik. Secara hipotesis, peningkatan konsentrasi
hormon insulin dapat menyebabkan hipertensi akibat retensi
sodium dan meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik, lebih
jauh lagi insulin memiliki aksi mirip growth hormon yang dapat
menginduksi hipertrofi sel-sel otot polos vaskuler. Insulin dapat
meningkatkan tekanan darah dengan meningkatkan kalsium

10
intraseluler, yang menyebabkan peningkatan tahanan vaskuler.
Mekanisme pasti dari hipertensi akibat resistensi insulin dan
hiperinsulinemia belum diketahui.11

2. Pengaturan Neuronal
Sistem saraf pusat dan otonom terlibat banyak dalam pengaturan tekanan
darah arteri. Sejumlah reseptor baik yang meningkatkan atau menghambat
pelepasan norepinefrin berada di permukaan presinaps ujung syaraf simpatis.
Reseptor presinaps dan berperan dalam umpan balik negatif dan positif pada
vesikel yang mengandung norepinefrin yang berada di dekat ujung neuronal.
Stimulasi presinaps menyebabkan penghambatan negatif pada pelepasan
norepinefrin.11
Sistem refleks baroreseptor adalah mekanisme umpan balik negatif yang
mengontrol aktivitas simpatis. Baroreseptor adalah ujung saraf yang berada di
dinding arteri besar, khususnya arteri karotid dan arkus aortik. Perubahan
tekanan arteri dengan cepat mengaktivasi baroreseptor, yang
mentransmisikan impuls ke batang otak melalui saraf kranial pertama dan
nervus vagus. Pada sistem refleks, penurunan tekanan darah arteri menstimulasi
baroreseptor, menyebabkan vasokontriksi dan peningkatan cardiac output dan
memacu kontraksi jantung.11
Mekanisme reflek baroreseptor ini bisa mengalami kemunduran pada
lansia dan pada penderita diabetes. Tujuan mekanisme neuronal ini adalah untuk
mengatur tekanan darah dan menjaga homeostasis. Gangguan patologis pada salah
satu dari empat komponen utama (serat saraf otonom, reseptor adrenergik,
baroreseptor, atau sistem saraf pusat) dapat menyebabkan peningkatan tekanan
darah secara kronis. Defek pada salah satu komponen juga akan
mengubah fungsi normal yang lainnya dan sekumpulan abnormalitas
tersebut bisa menjelaskan perkembangan hipertensi primer.2

3. Elektrolit Dan Zat Kimia Lain


Konsumsi makanan tinggi natrium berpeluang besar untuk menyebabkan
hipertensi. Mekanisme pastinya belum diketahui, akan tetapi diduga berkaitan

11
dengan sirkulasi hormon natriuretik yang menghambat transport Na intraseluler,
menyebabkan peningkatan reaktivitasvaskuler dan peningkatan tekanan darah.
Perubahan homeostasis Ca juga berperan penting pada pathogenesis
hipertensi. Rendahnya konsumsi Ca secara hipotesis dapat mengganggu
keseimbangan konsentrasi Ca intraseluler dan ekstraseluler, menyebabkan
perubahan fungsi otot polos vaskuler dengan meningkatnya tahanan vaskuler
perifer. Percobaan menunjukan konsumsi suplemen Ca menyebabkan
penurunan hipertensi pada pasien. Hiperurikemia telah diasosiasikan dengan
meningkatkan risiko kejadian kardiovaskuler pada penderita hipertensi namun hal
ini masih menjadi kontroversi karena terbatasnya data.11

4. Mekanisme Endotelial Vaskuler


Endotelium vaskuler dan otot polos memegang paranan penting dalam
mengatur tonus pembuluh darah dan tekanan darah. Fungsi regulasi ini
diperantarai oleh substansi nasoaktif yang disintesis oleh sel-sel endotelial. Hal ini
telah dipostulatkan yaitu defisiensi sintesis lokal dari susbtansi vasodilatasi
(contoh : Prostacyclin, dan bradikinin) atau kelebihan substansi
vasokontriksi (contoh : angiotensin II dan endothelin I) berkontribusi terhadap
terjadinya hipertensi primer, arterosklerosis, dan sebagainya. Nitric oxide
diproduksi di endotelium, merelaksasi epitel vaskuler dan merupakan vasodilator
poten. Sistem nitric oxide penting sebagai pengatur tekanan darah
arteri. Penderita hipertensi dapat mengalami defisiensi intrinsic pada
pelepasan nitric oxide sehingga menyebabkan vasodilatasi yang inadekuat.11

2.6 Tanda dan Gejala Hipertensi


Tanda dan gejala hipertensi dibedakan menajadi :
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang
memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika
tekanan arteri tidak terukur.2

12
2. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi
nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim
yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.2

2.7 Faktor Resiko Hipertensi


Faktor resiko hipertensi dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor resiko yang
dapat di kontrol dan faktor resiko yang tidak dapat dikontrol.2
a. Faktor resiko yang dapat dikontrol :
1. Konsumsi garam
Garam dapur merupakan faktor yang sangat berperan dalam
patogenesis hipertensi. Garam dapur mengandung 40% natrium
dan 60% klorida. Orang-orang yang peka terhadap natrium akan
lebih mudah mengikat natrium sehingga menimbulkan resistensu
cairan dan meningkatkan tekanan darah. Garam memiliki sifat
menahan cariran, sehingga mengonsumsi garam berlebih atau
makan-makanan yang diasinkan dapat menyebabkan peningkatan
tekanan darah. Sumber natrium yang juga perlu diwaspadai selain
garam dapur adalah penyedap masakan atau monosodium
glutamat (MSG) yang mempertinggi resiko terjadinya hipertensi.1
2. Konsumsi Lemak
Kebiasaan mengonsumsi lemak jenuh berkaitan dengan
peningkatan berat badan yang beresiko terjadinya hipertensi.
Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan resiko aterosklerosis
yan berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Penggunaan
minyak goreng lebih dari satu kali pakai dapat merusak ikatan
kimia pada minyak, dan hal tersebut dapat meningkatkan
pembentukan kolesterol yang berlebihan sehingga dapat
menyebabkan aterosklerosis dan hal yang memicu terjadinya
hipertensi dan penyakit jantung.1

13
3. Kebiasaan merokok
Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan
hipertensi, sebab rokok mengandung nikotin. Di otak, nikotin akan
memberikan sinyak pada kelenjar adrenal untuk melepaskan
epinefrin atau adrenalin yang akan menyempitkan pembuluh darah
dan memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan
darah yang lebih tinggi. Tembakau memiliki efek cukup besar
dalam peningkatan tekanan darah karena dapat menyebabkan
penyempitan pembuluh darah.1
4. Obesitas
Obesitas merupakan suatu keadaan dimana indeks massa tubuh
lebih dari atau sama dengan 30. Obesitas meningkatkan resiko
terjadinya hipertensi karena beberapa sabab. Makin besar massa
tubuh, makin banyak pula suplai darah yang dibutuhkan untuk
memasok oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Hal ini
mengakibatkan volume darah yang beredar melalui pembuluh
darah akan meningkat sehingga tekanan pada dinding arteri
menjadi lebih besar.1
5. Kurangnya aktivitas fisik
Aktivitas fisik sangat mempengaruhi stabilitas tekanan darah. Pada
orang yang tidak aktif melakukan kegiatan fisik cenderung
mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi. Hal
tersebut mengakibatkan otot jantung bekerja lebih keras pada
setiap kontraksi. Makin keras usaha otot jantung dalam memompa
darah, makin besar pula tekanan yang dibebankan pada dinding
arteri sehingga meningkatkan tahanan perifer yang menyebabkan
kenaikan tekanan darah.1

14
b. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol :
1. Usia
Insiden hipertensi yang makin meningkat dengan bertambahnya
usia, disebabkan oleh perubahan alamiah dalam tubuh yang
mempengaruhi jantung, pembuluh darah,dan hormon. Hipertensi
pada usia kurang dari 35 tahun akan menaikkan insiden penyakit
arteri koroner. Arteri kehilangan elastisitasn atau kelenturan serta
tekanan darah meningkat seiring dengan bertambahnya usia.1
2. Jenis kelamin
Pengaruh jenis kelamin dalam menimbulkan kejadian hipertensi
disebabkan oleh mekanisme hormonal seperti esterogen yang
melindungi wanita dari hipertensi dan komplikasinya termasuk
penebalan dinding pembuluh darah atau aterosklerosis.1
3. Riwayat Keluarga
Keluarga dengan riwayat hipertensi akan menigkatkan resiko
hipertensi sebesar empat kali lipat.1

2.8 Tatalaksana Hipertensi


Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu
pengobatan non farmakologik dan pengobatan farmakologik.2
1. Pengobatan Non Farmakologik
Meskipun faktor keturunan memegang peranan penting, namun cara dan
pola hidup sangat esensial dalam menghindari hipertensi. Misalnya makan
berlebihan dengan terlalu banyak lemak dan garam (serta gula), terlampau sedikit
gerak badan, dan merokok, dapat mendorong terjadinya hipertensi.
Terapi non farmakologis harus dilaksanakan oleh semua pasien hipertensi
dengan tujuan menurunkan tekanan darah dan mengendalikan faktor-faktor resiko
serta penyakit penyerta lainnya. Pengobatan non farmakologis terdiri dari : 2
1. Menurunkan berat badan berlebih
2. Mengurangi konsumsi alkohol berlebih
4. Membatasi minum kopi
5. Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak

15
6. Menghentikan merokok
7. Cukup istirahat dan tidur
8. Latihan fisik

2. Pengobatan Farmakologik
Pemilihan terapi obat awal tergantung pada tingkat kenaikan tekanan
darah dan ada atau tidaknya compelling indication. Umumnya pasien hipertensi
tahap 1 diberikan terapi awal dengan thiazide. Penggunaan thiazid sebagai lini
pertama adalah pada kondisi tanpa compelling indication dan didasarkan pada
angka keberhasilan terapi yang menunjukkan penurunan mortalitas dan
morbiditas. Pada pasien dengan kenaikan tekanan darah yang lebih berat
(hipertensi grade 2) diberikan terapi obat kombinasi (JNC 7,2003). Berbagai
golongan obat antihipertensi dapat dilihat pada gambar dibawah ini :7

Pengobatan dengan antihipertensi harus selalu dimulai dengan


dosis rendah agar tekanan darah tidak menurun terlalu drastis secara mendadak.
Kemudian setiap 1-2 minggu dosis berangsur-angsur dinaikkan sampai tercapai
efek yang diinginkan. Begitu pula penghentian terapi harus secara berangsur
pula. Antihipertensi hanya menghilangkan gejala TD tinggi dan tidak

16
penyebabnya. Maka obat pada hakikatnya harus diminum seumur hidup, tetapi
setelah beberapa waktu dosis pemeliharaan pada umumnya dapat diturunkan (JNC
7,2003). Terdapat 9 kelas obat antihipertensi, dan 5 kelas berikut
paling umum digunakan (antihipertensif primer) yaitu: diuretika, β-blocker (BB),
ACE-inhibitor (ACEI), Angiotensin II reseptor blocker (ARB), dan Calcium
Channel Blocker (CCB).12 Dibawah ini merupakan algoritma tatalaksana pasien
dewasa dengan Hipertensi dalam JNC 7 :

Gambar 2.3 Algoritma Tatalaksana Hipertensi Pasien Dewasa Dalam JNC 7

2.9 Komplikasi hipertensi


Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Beberapa penelitian menemukan bahwa
penyebab kerusakan organ-organ tersebut dapat melalui akibat langsung dari
kenaikan tekanana darah pada organ, atau karena efek tidak langsung, antara lain
adanya autoantibodi terhadap reseptor angiotensin II, stress oksidatif, down

17
regulation, dan lain-lain.2 Beberapa target organ dan penyakit yang dapat
berimbas oleh keadaan hipertensi adalah :
1. Stroke
2. Myokardial Infark
3. Gagal Jantung Kongestif
4. Gagal Ginjal Kronis
5. Retinopati

18
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Penelitian ini menggunakan desain studi observational cross sectional
untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang hipertensi dengan tekanan darah
pada kelompok senam lansia di kelurahan Sekar Mawar wilayah kerja Puskesmas
Air Molek.

3.2 Variabel Penelitian


3.2.1 Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang dipenuhi atau yang
menjadi akibat adanya variabel independen. Dalam penelitian ini
adalah tekanan darah pada kelompok senam lansia di kelurahan Sekar
Mawar wilayah kerja Puskesmas Air Molek.
3.2.2 Variabel Independen
Variabel Independen adalah variabel yang menjadi sebab
timbulnya atau berubahnya variabel dependen. Dalam Penelitian ini
yaitu pengetahuan tentang hipertensi pada kelompok senam lansia di
kelurahan Sekar Mawar wilayah kerja Puskesmas Air Molek.

3.3 Definisi Operasional


Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Operasional Ukur
Pengetahuan Pemahaman Kuisioner yang Kriteria Ordinal
Tentang tentang hipertensi terdiri dari 15 nilai
Hipertensi melalui pertanyaan pertanyaan kuisioner
yang diajukan menurut
dalam kuisioner Arikunto
yang meliputi (2006):
pengertian a. Tingkat
hipertensi, pengetahuan

19
penyebab, faktor kategori
resiko, dan baik jika
pencegahan nilainya
(Salman,2014) 76%-100%
b. Tingkat
pengetahuan
kategori
cukup jika
nilainya 56-
75%
c. Tingkat
pengetahuan
kategori
kurang jika
nilainya
kurang dari
55%
Tekanan Tekanan yang Stetoskop dan Pre Ordinal
Darah dikeluarkan oleh sphygmomanometer hipertensi:
volume darah yang Sistolik
bersirkulasi pada 120-139
dinding arteri, mmHg,
vena, dan ruang diastol 80-
jantung yang 89 mmHg.
didapatkan dari Hipertensi
hasil pengukuran derajat 1 :
tekanan darah Sistolik
dengan 140-159
menggunakan mmHg,
sphygnomanometer diastolik 90-
(Rohaendi,2008) 99mmHg.
Hipertensi

20
derajat 2:
Sistolik
≥160
mmHg,
diastolik
≥100 mmHg
(JNC VII)
Tabel 3.1 Definisi Operasional

3.4 Lokasi Penelitian Dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di senam lansia pada kelurahan Sekar Mawar wilayah
kerja Puskesmas Air Molek bulan Desember 2018.

3.5 Populasi Penelitian


Penelitian ini mengambil populasi yaitu seluruh peserta senam lansia di
kelurahan Sekar Mawar wilayah kerja Puskesmas Air Molek.

3.6 Besar Sampel Penelitian


Cara pengambilan sampel melalui total sampling dengan teknik non
probability sampling yaitu consecutive sampling dimana semua subjek yang
datang untuk senam lansia dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam
penelitian sampai jumalah subjek yang diperlukan terpenuhi.

3.7 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


3.7.1 Kriteria inklusi
1. Laki-Laki dan Wanita dewasa usia >45 tahun yang menjadi peserta
senam lansia di kelurahan Sekar Mawar wilayah kerja Puskesmas
Air Molek.
2. Bersedia menjadi responden
3.7.2 Kriteria eksklusi
1. Tidak bersedia menjadi responden

21
3.8 Prosedur Pengumpulan Data
3.8.1 Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data pada penelitian ini adalah :
a. Sphygmomanometer dan stetoskop untuk mengukur tekanan darah
b. Kuisioner untuk responden yang menggambarkan karakteristik dan
pengetahuan responden tentang hipertensi.

3.8.2 Pelaksanaan Pengumpulan Data


Dalam penlitian ini pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu :
a. Data primer yaitu data yang diambil dengan cara survei langsung kepada
sampel dengan menggunakan kuisioner.
b. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari catatan medis berupa
karakteristik pasien hipertensi pada Puskesmas Air Molek.

3.8.3 Pengolahan Data


Agar analisa penelitian menghasilkan informasi yang benar, ada empat
tahapan dalam pengolahan data yang harus dilalui terlebih dahulu :
a. Editing (pemerikasaan data)
Data yang sudah terkumpul diperkasa isian kuisioner, apakah jawaban
sudah tertulis dan sesuai dengan pertanyaan.
b. Coding (pemberian kode)
Data yang telah terkumpul dikoreksi kelengkapannya kemudian diberi
kode dari bentuk huruf menjadi bentuk data dalam bentuk bilangan atau
angka, untuk mempermudah saat analisis data dan juga mempercepat pada
saat entry data.
c. Entry (pemasukan data ke komputer)
Setelah data terkumpul dan kuisioner terisi penuh dan benar maka
dilakukan pemasukan data kekomputer. Program yang digunakan untuk
pengolahan data adalah SPSS 16.0 for windows.

22
d. Data cleaning
Pembersihan data merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang
sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak. Cara pembersihan data dengan
mengetahui missing data, variasi data, dan konsistensi data.

3.9 Analisis Data


Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
komputerisasi. Data yang telah diolah akan dianalisis uji Spearman rank untuk
melihat kuat lemahnya hubungan, arah hubungan dua variabel, mengetahui
koefisian korelasi, dan mengetahui kontribusi X terhadap Y dalam persen yang
dalam penelitian ini yang ingin diketahui tentang hubungan pengetahuan tentang
hipertensi dengan tekanan darah pada kelompok senam lansia di kelurahan Sekar
Mawar wilayah kerja Puskesmas Air Molek.

23
BAB IV
HASIL PENELITIAN

Berdasarkan data yang diperoleh melalui kuisioner yang dibagikan pada


peserta senam lansia pada kelurahan Sekar Mawar selama bulan Desember 2018,
maka didapatkan hasil sebagai berikut :

4.1 Karakteristik Jenis Kelamin


Berdasarkan kuisioner yang dikumpulkan dari 22 responden diperoleh data
tentang jenis kelamin peserta senam lansia kelurahan Sekar Mawar. Adapun
secara lengkap distribusi jenis kelamin responden dilihat pada tabel 4.1 :
Tabel 4.1 Karakteristik jenis kelamin responden
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
Laki-Laki 3 13
Perempuan 19 87
Total 22 100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden pada
peserta senam lansia di Kelurahan Sekar Mawar adalah perempuan, sebanyak 19
orang (87%) dan laki-laki sebanyak 3 orang (13%).

4.2 Karakteristik Usia responden


Berdasarkan kuisioner yang dikumpulkan dari 22 responden diperoleh data
tentang usia peserta senam lansia kelurahan Sekar Mawar. Adapun secara lengkap
distribusi usia responden dilihat pada tabel 4.2 :
Tabel 4.2 Karakteristik usia responden
Usia (Tahun) Frekuensi Persentase (%)
40-50 5 22,7
51-60 9 40,9
61-70 5 22,7
>71 3 13,6
Total 22 100

24
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden pada
peserta senam lansia di Kelurahan Sekar Mawar berusia antara 51-60 tahun
sebanyak 9 orang (40,9%),sedangkan yang berusia 40-50 tahun dan 61-70 tahun
memiliki frekuensi yang sama, yaitu masing-masing 5 orang (22,7%), dan usia
>71 tahun sebanyak 3 orang (13,6%).

4.3 Karakteristik pendidikan responden


Berdasarkan kuisioner yang dikumpulkan dari 22 responden diperoleh data
tentang tingkat pendidikan peserta senam lansia kelurahan Sekar Mawar. Adapun
secara lengkap distribusi usia responden dilihat pada tabel 4.3 :
Tabel 4.3 Karakteristik tingkat pendidikan responden
Tingkat pendidikan Frekuensi Persentase (%)
SD 12 54,5
SMP 7 31,8
SMA 3 13,6
Perguruan Tinggi 0 0
Total 14 100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden pada
peserta senam lansia di Kelurahan Sekar Mawar berependidikan terakhir setingkat
SD yaitu 12 orang (54,5%), kemudian tingkat SMP sebanyak 7 orang (31,8%) dan
setingkat SMA sebanyak 3 orang (13,6%), dan tidak didapatkan yang
berpendidikan hingga perguruan tinggi.

4.4 Karakteristik sumber informasi kesehatan responden


Berdasarkan kuisioner yang dikumpulkan dari 22 responden diperoleh data
tentang sumber informasi peserta senam lansia kelurahan Sekar Mawar. Adapun
secara lengkap distribusi usia responden dilihat pada tabel 4.4

25
Tabel 4.4 Karakteristik sumber informasi kesehatan responden
Sumber Informasi Frekuensi Persentase (%)
Kesehatan
Keluarga 3 13,6
Pelayanan kesehatan 19 86,4
Media Massa TV 0 0
Lainnya 0 0
Total 22 100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden pada
peserta senam lansia di Kelurahan Sekar Mawar mendapatkan informasi
kesehatan dari pelayanan kesehatan yang ada, yaitu sebanyak 19 orang (86,4%),
dan dari keluraga sebanyak 3 orang (13,6%).

4.5 Karakteristik kebiasaan merokok responden


Berdasarkan kuisioner yang dikumpulkan dari 22 responden diperoleh data
tentang kebiasaan merokok peserta senam lansia kelurahan Sekar Mawar. Adapun
secara lengkap distribusi usia responden dilihat pada tabel 4.5 :
Tabel 4.5 Karakteristik kebiasaan merokok responden
Kebiasaan Merokok Frekuensi Persentase (%)
Merokok 3 13,6
Tidak Merokok 19 86,4
Total 22 100
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden pada
peserta senam lansia di Kelurahan Sekar Mawar tidak memiliki kebiasaan
merokok dengan persentase 86,4%, yaitu sebanyak 19 orang. Sedangkan peserta
senam lansia yang memiliki kebiasaan merokok hanya 3 orang (13,6%) yaitu
sebanyak 1 bungkus/hari.

26
4.6 Karakteristik tekanan darah responden
Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan pada 22 responden diperoleh
data tentang tekanan darah peserta senam lansia kelurahan Sekar Mawar. Adapun
secara lengkap distribusi usia responden dilihat pada tabel 4.6 :
Tabel 4.6 Karakteristik tekanan darah responden
Tekanan Darah Frekuensi Persentase (%)
Normal 6 27,3
Prehipertensi 6 27,3
Hipertensi derajat 1 5 22,7
Hipertensi derajat 2 5 22,7
Total 22 100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa responden pada peserta senam lansia
di Kelurahan Sekar Mawar memiliki karakteristik tekanan darah yang bervariasi.
Tekanan darah responden yang dapat dikatakan normal berdasarkan klasifikasi
WHO memiliki besaran yang sama dengan responden yang memiliki tekanan
darah prehipertensi, yaitu sebanyak masing-masing 6 orang (27,3%). Sedangkan
responden yang memiliki keadaan hipertensi, baik derajat 1 maupun derajat 2 juga
memiliki jumlah yang sama besar, yaitu 4 orang dengan persentase sebesar
22,7%.

4.7 Karakteristik tingkat pengetahuan responden


Berdasarkan kuisioner yang dikumpulkan dari 22 responden diperoleh data
tentang tingkat pengetahuan peserta senam lansia kelurahan Sekar Mawar tentang
hipertensi. Adapun secara lengkap distribusi usia responden dilihat pada tabel 4.7
Tabel 4.7 Karakteristik tingkat pengetahuan responden
Tingkat Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)
Baik 5 22,7
Cukup 5 22,7
Kurang 12 54,5
Total 22 100

27
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden pada
peserta senam lansia di Kelurahan Sekar Mawar masih memiliki pengetahuan
yang kurang terhadap hipertensi, yaitu sebanyak 12 orang (54,5%). Namun juga
didapatkan pengetahuan responden yang baik dan cukup terhadap hipertensi
dengan jumlah yang sama, yaitu masing-masing sebesar 22,7% dengan jumlah 5
orang.

4.7 Hubungan pengetahuan tentang hipertensi dengan tekanan darah pada


kelompok senam lansia kelurahan Sekar Mawar
Pada penelitian ini dilakukan uji analisa non parametrik dengan
menggunakan uji Spearman Rank. Dalam penelitian ini dilihat hubungan tingkat
pengetahuan dan tekanan darah responden. Adapun secara lengkap hubungan
tersebut dapat dilihat pada tabel 4.7 dibawah ini
Tabel 4.7 Hubungan tingkat pengetahuan dan tekanan darah responden
Correlations

Tekanan Darah Pengetahuan

Spearman's rho Tekanan Darah Correlation Coefficient 1.000 -.658**

Sig. (2-tailed) . .001

N 22 22

Pengetahuan Correlation Coefficient -.658** 1.000

Sig. (2-tailed) .001 .

N 22 22

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).


Berdasarkan hasil uji statistik diatas diperoleh nilai signifikansi sebesar
0.001, dimana nilai ini kurang dari 0.05 yang menggambarkan bahwa hipotesis
kerja dapat diterima. Artinya terdapat hubungan antara pengetahuan responden
terhadap tekanan darah. Hubungan ini ditunjukkan dengan nilai korelasi sebesar -
0.658, yang bermakna bahwa semakin rendah tingkat pengetahuan, maka semakin
tinggi tekanan darah responden, dan memiliki kekuatan korelasi yang kuat.

28
BAB V
PEMBAHASAN

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang paling umum ditemukan


dalam kedokteran primer. Komplikasi hipertensi dapat mengenai berbagi target
organ, seperti jantung, otak, ginjal, mata, dan arteri perifer. Kerusakan berbagai
organ tersebut tergantung pada seberapa tinggi tekanan darah dan seberapa lama
tekanan darah tinggi tersebut tidak terkontrol dan tidak diobati.5
Banyak faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan seseorang, seperti
faktor gaya hidup dan pengetahuan seseorang tentang penyakit tersebut.
Hipertensi sendiri merupakan suatu penyakit multifaktorial yang mempunyai
berbagai faktor resiko, baik faktor resiko yang dapat diubah seperti gaya hidup
dan kebiasaan masyarakat yang mampu meningkatkan resiko hipertensi, dan
faktor resiko yang tidak dapat diubah seperti usia dan jenis kelamin.13
Berdasarkan hasil penelitian ini, dari faktor resiko yang tidak dapat diubah
yaitu jenis kelamin didapatkan sebagian besar responden, yaitu 87% responden
merupakan wanita,dan 13% responden merupakan pria. Wanita yang memasuki
masa premenopause lebih cenderung mengalami kenaikan tekanan darah akibat
kehilangan hormon estrogen yang melindungi pembuluh darah dari kerusakan.14
Hal ini juga dijelaskan oleh Marliani et al, dimana Hipertensi lebih banyak terjadi
pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda.15 Tetapi lebih banyak menyerang
wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. Hal
ini sering dikaitkan dengan perubahan hormone estrogen setelah menopause.
Hal ini berkaitan dengan rentang usia responden pada penelitian ini.
Rentang usia terbanyak dari responden penelitian ini adalah pada usia 51-60
tahun(middle age), yaitu sebesar 40,9%, disusul usia 61-70 tahun (elderly) 22,7%,
dan >71 tahun (Old age) 13,6%. Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi
tekanan darahnya, hal ini disebabkan oleh keadaan arteri yang kehilangan
elastisitas atau kelenturan nya, yang berpengaruh pada tekanan darah yang
cenderung akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia tersebut.
Disamping itu seiring pertambahan usia, kemampuan jantung dalam
memompa darah menjadi berkurang 1% tiap tahunnya.16

29
Peningkatan kasus hipertensi akan berkembang pada umur lima puluhan
dan enam puluhan. Prevalensi di kalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40
% dengan kematian sekitar 50 % diatas umur 60 tahun.
Selain berbagai faktor resiko hipertensi yang telah dijabarkan sebelumnya,
tingkat pendidikan seseorang yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan
terhadap penyakit, akan ikut mempengaruhi kejadian hipertensi. Menurut
Sugiharto et al, tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan dan
pengetahuan seseorang dalam menerapkan perilaku hidup sehat, terutama
mencegah penyakit hipertensi.17 Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin
tinggi pula kemampuan seseorang dalam menjaga pola hidupnya agar tetap
sehat.18 Pada penelitian ini didapatkan tingkat pendidikan terbanyak dari
responden adalah tingkat SD sebesar 54,5%, disusul dengan tingkat SMP sebesar
31,8%. Hal ini mempengaruhi tingkat pengetahuan masing-masing koresponden
terhadap tekanan darah tinggi.
Dari berbagai faktor resiko dan keadaan yang dapat mempengaruhi
kejadian hipertensi ini, dalam penelitian ini dinilai hubungan dari tingkat
pengetahuan responden terhadap tekanan darah yang diukur menggunakan
kuisioner dengan 15 pertanyaan. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai
signifikansi sebesar 0.001, yang artinya terdapat hubungan antara pengetahuan
responden terhadap tekanan darah. Hubungan ini ditunjukkan dengan nilai
korelasi sebesar -0.658, yang bermakna bahwa semakin rendah tingkat
pengetahuan, maka semakin tinggi tekanan darah responden, dan memiliki
kekuatan korelasi yang kuat. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian
sebelumnya oleh Ragot et al yang menyatakan bahwa pengetahuan dan kesadaran
pasien mengenai tekanan darah memegang peranan penting dalam kemampuan
untuk mencapai kesuksesan pengendalian tekanan darah pada hipertensi. 19 Hasil
penelitian ini juga didukung oleh Alexander et al yang mengungkapkan bahwa
pengetahuan dan kesadaran pasien mengenai hipertensi merupakan faktor penting
dalam mencapai kontrol tekanan darah serta peranan penting dalam kemampuan
mengontrol hipertensi.20

30
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai “Hubungan Pengetahuan
Tentang Hipertensi Dengan Tekanan Darah Pada Kelompok Senam Lansia
Kelurahan Sekar Mawar”, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
a. Sebagian besar responden pada peserta senam lansia di Kelurahan
Sekar Mawar masih memiliki pengetahuan yang kurang terhadap
hipertensi, yaitu sebanyak 12 orang (54,5%). Hal ini bisa dipengaruhi
oleh beberapa faktor yang diantaranya adalah pendidikan, usia ,
pengalaman dan informasi.
b. Responden pada peserta senam lansia di Kelurahan Sekar Mawar
memiliki karakteristik tekanan darah yang bervariasi. Dengan jumlah
terbanyak didapatkan pada tekanan darah prehipertensi, yaitu sebanyak
masing-masing 6 orang (27,3%). Sedangkan responden yang memiliki
keadaan hipertensi, baik derajat 1 maupun derajat 2 juga memiliki
jumlah yang sama besar, yaitu 4 orang dengan persentase sebesar
22,7%
c. Bedasarkan hasil penelitian diatas diperoleh dari 22 responden
didapatkan korelasi negatif antara pengetahuan responden terhadap
tekanan darah, yang bermakna bahwa semakin rendah tingkat
pengetahuan, maka semakin tinggi tekanan darah responden, dan
memiliki kekuatan korelasi yang kuat.

6.2 Saran
1. Bagi responden
Diharapkan responden dapat mematuhi dan mengikuti anjuran yang sudah
ditentukan oleh petugas kesehatan agar patuh dalam menjalankan terapi minum
obat anti hipertensi dan modifikasi gaya hidup yang sesuai sehingga komplikasi
dari hipertensi ke berbagai organ dapat dikurangi.

31
2. Bagi pihak puskesmas
Diharapkan bagi pihak puskesmas untuk selalu memberikan penyuluhan
tentang penyakit Hipertensi dan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk
lebih patuh terhadap terapi Hipertensi serta perlunya peningkatan pengetahuan
pasien tentang bahaya penyakit hipertensi.

32
LAMPIRAN
1. Korelasi antar Variabel
Correlations

Tekanan Darah Pengetahuan

Spearman's rho Tekanan Darah Correlation Coefficient 1.000 -.658**

Sig. (2-tailed) . .001

N 22 22

Pengetahuan Correlation Coefficient -.658** 1.000

Sig. (2-tailed) .001 .

N 22 22

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

33
2. Lembar Kuisioner
Lembar kuisioner
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin : ⃝ Laki-Laki ⃝ Perempuan
Pendidikan : ⃝ SD ⃝ SMP ⃝ SMA ⃝ Perguruan Tinggi
Pekerjaan :
Mendapat informasi tentang hipertensi dari :
⃝ Keluarga ⃝ Pelayanan Kesehatan ⃝ Media
Massa TV
⃝ Tidak Pernah ⃝ Lain-lain,...................
Kebiasaan merokok : ⃝ Ya, ............. bungkus/hari ⃝ Tidak
Tekanan Darah : ....................mmHg
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan meliingkari jawaban yang
dianggap paling benar.
1. Apa yang dimaksud dengan
hipertensi ?
a. penyakit peningkatan tekanan 3. Berikut ini merupakan tanda dan
darah yang menetap dalam jangka gejala yang tepat tentang hipertensi
waktu yang lama adalah....
b. penyakit peningkatan tekanan a. Setiap sakit kepala merupakan
darah yang tidak menetap dalam tanda dan gejala hipertensi
jangka waktu yang lama b. Tanda dan gejala hipertensi
c. penyakit peningkatan tekanan jarang ada yang menyadarinya
darah yang menetap dalam jangka c. Tanda dan gejala hipertensi
waktu pendek mudah diketahui
2. Hipertensi merupakan suatu 4. Berikut ini, merupakan makanan
penyakit dimana tekanan darah lebih yang harus dibatasi oleh penderita
dari.... hipertensi
a. 120/80 mmHg a. Makanan yang berserat
b. 140/90 mmHg b. Makanan yang asin-asin
c.130/70 mmHg c.Makanan yang dikukus

34
5. Yang merupakan alat untuk a. menjaga kebersihan lingkungan
mengukur tekanan darah adalah dan rumah
a. Tensimeter b.minum obat anti hipertensi
b. Termometer c.olahraga teratur, mengurangi
c. Spyrometer konsumsi makanan asin &
6. Kapan sebaiknya penderita berlemak
hipertensi meminum obat ? 11. Pemeriksaan apakah yang
a. Jika muncul gejala seperti dilakukan untuk mengetahui
kepala terasa berat hipertensi ?
b. Minum obat setiap hari a.Gula Darah
c. Jika sedang emosi b.Tekanan darah
7. Yang merupakan komplikasi dari c.Foto Rontgen
hipertensi adalah... 12. Berikut, adalah olahraga yang
a. Gagal Ginjal Kronis sesuai dengan penderita hipertensi
b. Kebutaan adalah
c. Asma a.Tinju
8. Yang benar mengenai hipertensi b.Aerobik
adalah... c.Angkat Besi
a. Hanya terjadi pada orang usia 13. Kebiasaan yang dapat
lanjut menyebabkan hipertensi adalah....
b. Apabila tekanan darah normal, a. Mandi malam hari
maka tidak perlu minum obat b. Sering bekerja berat
c. Salah satu penyebab hipertensi c. Sering konsumsi makanan asin
adalah faktor keturunan 14. Mengapa Tekanan darah bisa
9.Hipertensi dapat dibedakan meningkat pada keadaan hipertensi ?
menjadi 2 jenis, yaitu : a. Karena Pembuluh darah besar
a.Hipertensi biasa dan tidak biasa b. Karena ada penyempitan
b.Hipertensi primer dan sekunder pembuluh darah
c.Hipertensi tinggi dan rendah c. Karena ada pembuluh darah
10. Apakah pencegahan dari yang pecah
hipertensi ? 15. Menurut anda, manakah dari
pilihan dibawah ini yang bukan

35
merupakan faktor resiko dari
hipertensi ?
a. Merokok
b. Obesitas
c. Kecelakaan

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Kemenkes.RI. (2014). Pusdatin Hipertensi. Infodatin, (Hipertensi), 1 – 7.


http://doi.org/10.1177/109019817400200403

2. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. (2016). Panduan


Praktik Klinis (PPK) dan Clinical Pathway (CP) Penyakit Jantung dan
Pembuluh Darah.

3. Yogiantoro, M., (2006), Hipertensi Esensial, dalam: Sudoyo, A.W.,


Setiyohadi, B., Alwi, I., dkk, (eds): Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid
II, Edisi IV, Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pp: 1079-85.

4. Riskesdas. (2007). Hipertensi di Indonesia.


http://www.litbang.depkes.go.id/Simnas4/Day_2/HIPERTENSI.pdf, 8
Maret 2018.

5. Muhadi. (2016). JNV 8 : Evidence-based Guideline Penanganan Pasien


Hipertensi Dewasa. Cdk, 43(1), 54–59.

6. Mikrajab, M. A. (2012). Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Jurnal


Manajemen Pelayanan Kesehatan, 15(4), 185–191.
http://doi.org/10.9774/jmk.13.1.61-75

7. JNC-7. (2003). The Seventh Report of the Joint National Committee on


Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure.
JAMA 289:2560 - 2571

8. JNC-8. (2014). The Eight Report of the Joint National Committee.


Hypertension Guidelines: An In-Depth Guide. Am J Manag Care

37
9. Shep, S. G. (2005). Hipertensi : mengatasi tekanan darah tinggi, 246.

10. Setyan, U. (2009). Konsep Dasar Hipertensi, 5. Retrieved from


http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/140/jtptunimus-gdl-upiksetyan-
6984-3-babii.pdf

11. Guyton AC, Hall JE. (2010). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 12.
Jakarta: EGC

12. Laurence, L.B., Lazo J.R., dan Parker K.L., (2008). Goodman & Gilma’s;
Manual Pharmacologyand Therapeutics, Seventh Edition, Mc Graw Hill,
546-60.

13. Mulyani, Y., Arifin, Z., & Hipertensi, D. (2014). Korelasi perilaku
merokok dengan derajat hipertensi pada penderita hipertensi di puskesmas
wilayah kerja dinas kesehatan banjarbaru. Jurnal Skala Kesehatan, 5(2).

14. Report, T. S. (2003). Prevention , Detection , Evaluation , and Treatment


of. Blood Pressure, 289(19), 1206–52.
http://doi.org/10.1161/01.HYP.0000107251.49515.c2

15. Ridwan, E. S., & Nurwanti, E. (2013). Gaya Hidup dan Hipertensi Pada
Lanjut Usia di Kecamatan Kasihan Bantul Yogyakarta. Journal Ners and
Midwifery Indonesia, 2, 67–70.

16. Manawan, A. a, Rattu, a J. M., & Punuh, M. I. (2016). Hubungan Antara


Konsumsi Makanan dengan Kejadian Hipertensi di Desa Tandengan Satu
Kecamatan Eris Kabupaten Minahasa. Jurnal Ilmiah Farmasi, 5(1), 340–
347.

38
17. Mamahit, M. L. (2017). Hubungan Pengetahuan Tentang Diet Garam
Dengan Tekanan Darah Pada Lansia Di Puskesmas Bahu Kota Manado. E-
Journal Keperawatan, 5, 1–4.

18. Katzung, B.G. (2007). Basic and Clinical Pharmacology 10th edition.
USA : Mc Graw Hill

19. Kartika, L. A., Afifah, E., & Suryani, I. (2017). Asupan lemak dan
aktivitas fisik serta hubungannya dengan kejadian hipertensi pada pasien
rawat jalan. Jurnal Gizi Dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of
Nutrition and Dietetics), 4(3), 139.
http://doi.org/10.21927/ijnd.2016.4(3).139-146

20. Budisetio, M. (2007). Pencegahan dan Pengobatan Hipertensi pada


Penderita Usia Dewasa. Jurnal Fakultas Kedokteran Trisakti, 2(2), 101–
107. Retrieved from http://www.univmed.org/wp-
content/uploads/2011/02/Vol.20_no.2_6.pdf

39