Anda di halaman 1dari 29

REFERAT

ANATOMI, FISIOLOGI, DAN PATOLOGI PAYUDARA

Disusun Oleh:
Deynarazy Adhi Sunjaya., dr.

Pembimbing:
Fransisca B., Sp.B(K)Onk

Departemen Ilmu Bedah


Sub Bagian Bedah Onkologi
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
2018
Referat Sub Bagian Bedah Onkologi
SMF Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran UNPAD
Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung
Oleh: Deynarazy Adhi Sunjaya., dr.

ANATOMI, FISIOLOGI, DAN PATOLOGI PAYUDARA

I. Perkembangan
Payudara mengalami perkembangan melalui berbagai tahapan dari mulai masa
embrional, post natal dan mengalami perubahan seiring dengan perkembangan seksual. Pada
masa perkembangan fungsional, pertumbuhan payudara sangat dipengaruhi faktor hormonal.
Pada minggu ke lima atau enam embrional kehamilan, terdapat dua ventral band dari
penebalan ektoderm (mammary ridges, milk lines). Pada mammalia, penebalan ini terbentang
bilateral dari axila ke vulva.
Pada minggu kesembilan, milk lines ini menjadi atrofi, kecuali di daerah pectoralis dan
mulai tampak tunas puting susu (primordium payudara). Pada minggu ke duabelas tunas
puting susu diinvasi oleh epitel skuamosa ektodermis. Pada bulan ke lima, jaringan ikat
mesenkim menginfiltrasi primordium payudara dan berdiferensiasi menjadi l5 sampai 20
filamen padat yang terdistribusi simetris dibawah kulit tunas puting susu. Ductulus mamma
berkembang sebagai pertumbuhan ke dalam ventral dari sisa embriologi ini, yang terbagi ke
dalam duktus susu primer dan berakhir dalam tunas lobulus. Tunas puting susu akan terbuka
dan membentuk mammary pit, yang selanjutnya akan terelevasi dan membentuk puting susu.
II. Anatomi
Untuk dapat mengenal perjalanan penyakit kanker payudara dan memahami dasar-dasar
tindakan operasi pada kanker payudara maka sangat penting mengetahui anatomi payudara itu
sendiri.
Payudara terletak pada hemithoraks kanan dan kiri dengan batas-batas sebagai berikut:
1. Batas-batas payudara yang tampak dari luar :
- superior : iga II atau III
- inferior : iga VI atau VII
- medial : pinggir sternum
- lateral : garis aksilaris anterior / linea mid axillae
2. Batas-batas payudara yang sesungguhnya :
- superior : hampir sampai ke klavikula
- medial : garis tengah
- lateral : m. latissimus dorsi
Sekitar 2/3 bagian payudara terletak pada m. pektoralis mayor, dan 1/3 nya pada m.
latissimus dorsi. Pada sekitar 95% wanita, terdapat perpanjangan batas kuadran lateral atas
payudara sampai ke axilla, yaitu “axillary tail of spence”. Pada daerah ini jaringan payudara
memasuki suatu rongga pada fascia axillaris yang disebut “Foramen of Langer”; sehingga
payudara pada daerah ini terletak di bawah fascia axillaris, dan bukan superfisial dari fascia
axillaris.
Struktur Payudara
Payudara terdiri dari berbagai struktur :
- parenkim epitelial
- lemak, pembuluh darah, saraf, dan saluran getah bening
- otot dan fascia
Parenkim epitelial dibentuk oleh kurang lebih 15 – 20 lobus, yang masing-masing
mempunyai saluran tersendiri untuk mengalirkan produknya, dan bermuara pada puting susu.
Tiap lobus dibentuk oleh lobulus-lobulus yang masing-masing terdiri dari 10 – 100 asini grup.
Lobulus-lobulus ini merupakan struktur dasar dari glandula mamma.
Payudara dibungkus oleh fascia pektoralis superfisialis dimana permukaan anterior dan
posterior dihubungkan oleh ligamentum Cooper. Ligamentum “suspensory” Cooper ini
bekerja sebagai jaringan penunjang yang kuat diantara lobus dan parenkim, dan diantara
dermis kulit dengan bagian dalam fascia pektoralis superfisilais.
Pada invasi keganasan, bagian ligamen ini dapat terkontraksi, membentuk fiksasi dan
retraksi kulit.
Papilla mammae dan areola mammae
Epidermis pada puting susu dan areola adalah berpigmen; yang dilapisi keratinisasi
dari epitel stratified aquamous. Pada pubertas, puting semakin berpigmen dan menonjol.
Terdapat kumpulan serabut otot polos yang radier dan sirkumferensial, serta longitudinal pada
daerah duktus laktiferus.
Pada daerah areola terdapat kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan kelenjar areola
asesorius. Kelenjar asesori ini membentuk penonjolan-penonjolan kecil pada permukaan
areola yang disebut glandula areola “Montgomery tubercles”
Pada puncak puting terdapat banyak akhiran sel-sel saraf dan Meissner’s Corpuscles
pada dermis puting. Areola mengandung sedikit struktur ini.
Pada keadaan normal, komponen glandular tampak renggang; mengandung banyak elemen duktus.
Pada awal siklus menstruasi, duktulus tampak seperti tali dengan lumen yang sempit. Pada saat ovulasi, dengan
stimulasi estrogen, lumen membesar, dan terdapat penumpukan sekresi kelenjar; sehingga cairan dan lemak
tertimbun di jaringan penunjang. Jika proses stimulasi ini berhenti, komponen glandular ini akan kembali regresi.

Vaskularisasi Payudara
1. Arteri
Payudara mendapat pendarahan terutama dari dua sumber utama, yaitu cabang-cabang
perforantes anterior arteri mamaria interna dan arteri thorakalis lateralis:
a. Cabang-cabang perforantes a. mammaria interna. Cabang-cabang I, II, III, dan IV
dari a. mammaria interna menembus dinding dada dekat pinggir sternum pada
interkostal yang sesuai, menembus m. pektoralis mayor dan memberi pendarahan
tepi medial glandula mamma.
b. Cabang-cabang dari a. axillaris:
Rami pectoralis a. thorako-akromialis
Arteri ini berjalan turun diantara m. pektoralis minor dan m. pektoralis mayor.
Pembuluh ini merupakan pembuluh utama m. pektoralis mayor. Setelah
menembus m. pektoralis mayor, arteri ini akan mendarahi glandula mamma
bagian dalam (deep surface).

Arteri thorakalis lateralis (a. mammaria eksterna)


Pembuluh darah ini jalan turun menyusuri tepi lateral m. pektoralis mayor
untuk mendarahi bagian lateral payudara

Arteri thorako-dorsalis
Pembuluh darah ini merupakan cabang dari a. subskapularis. Arteri ini
mendarahi m. latissimus dorsi dan m. serratus magnus. Walaupun arteri ini
tidak memberikan pendarahan pada glandula mamma, tetapi sangat penting
artinya. Karena pada tindakan radikal mastektomi, perdarahan yang terjadi
akibat putusnya arteri ini sulit dikontrol, sehingga daerah ini dinamakan “the
bloody angle”.
2. Vena
Pada daerah payudara, terdapat tiga grup vena :
a. Cabang-cabang perforantes V. mammaria interna
Vena ini merupakan vena terbesar yang mengalirkan darah dari payudara. Vena
ini bermuara pada v. mammaria interna yang kemudian bermuara pada v.
innominata.
b. Cabang-cabang v. aksilaris yang terdiri dari v. thorako-akromialis, v. thorakalis
lateralis dan v. thorako dorsalis
c. Vena-vena kecil yang bermuara pada v. interkostalis.
Vena interkostalis bermuara pada v. vertebralis, kemudian bermuara pada v.
azygos (melalui vena-vena ini metastase dapat langsung terjadi di paru).
Persarafan
Persarafan kulit payudara bersifat segmental dan berasal dari segmen dermatom T2
sampai T6. Sela iga pertama terutama dipersarafi oleh saraf ke musculus subclavius. Segmen
dermatom area ini bisa didenervasi total atau sebagian setelah elevasi flap kulit untuk
mastektomi radikal atau modifikasi. Dengan pemotongan flap kulit dalam axilla, maka suatu
cabang utama nervus intercostobrachiales bisa dikenali dan dikorbankan. Saraf ini terutama
terdiri dari serabut dari cabang cutaneus lateralis nervi intercostales kedua dan ketiga serta
berjalan tegak lurus dan anterior terhadap musculus latissimus dorsi.

Nervus thoracodorsalis
Nervus thoracodorsalis terdapat pada m. subscapularis, mempersarafi m. latissimus
dorsi dan muncul dari fasciculus posterior plexus branchialis (C5, C6, dan C7). Ia lewat di
belakang fasciculus medialis dan pembuluh axillaries untuk berjalan lateral terhadap nervus
thoracicus longus dan memasuki batas anterior musculus latissimus dorsi.
Bila terpotong, rotasi interna dan abduksi akan melemah, walaupun tidak mengakibatkan
deformitas. Gangguan fungsionalnya adalah oposisi kuat lengan atas ke dinding dada lateral,
terutama bila penderita perlu membawa sesuatu yang dijepit diantara lengan atas dan dinding
dadanya.

Nervus thoracalis longus


Nervus thoracalis longus terdapat pada m. serratus anterior yang dipersarafinya. Cedera
pada nervus ini menyebabkan morbiditas fungsional yang jauh lebih besar akibat kelemahan
bahu dan menimbulkan deformitas ‘winged scapula’

Nervus pectoralis lateralis


Nervus pectoralis lateralis berasal dari fasciculus lateral plexus branchialis untuk
mempersarafi m. pectoralis mayor dan minor. Saraf ini berjalan medial terhadap m. pectoralis
minor dan harus dilindungi sewaktu melakukan modifikasi mastektomi radikal untuk
mencegah atrofi musculus pectoralis mayor.

Nervus pectoralis medialis


Dalam pembedahan, nervus pectoralis medialis yang berasal dari fasciculus medialis
plexus brachialis, berjalan lateral terhadap musculus pectoralis minor dan mensarafi musculus
pectoralis mayor dan minor. Saraf ini biasanya dikorbankan sewaktu membuang musculus
pectoralis minor sebagai bagian modifikasi mastektomi radikal. Jika nervus pestoralis lateralis
dilindungi, maka musculus pectoralis major tidak akan atrofi dan setelah operasi bentuk
dinding dada akan sesuai dengan m. pectoralis mayor dan tidak dengan sangkar iga.

Sistem Limfatik Payudara


Pengaliran pembuluh limfatik terutama bersifat unidireksional (searah), kecuali di
daerah subareolar dan daerah sentral payudara, atau pada keadaan dimana terjadinya obstruksi
limfatik menyebabkan terjadinya aliran balik bidireksional. Hal ini dapat terjadi karena
pembuluh limfe tidak berkatup; sehingga aliran balik ini memungkinkan terjadinya
metastasis.
Pengaliran limfatik dibagi 3 bagian:
1. Drainase Kulit
Mengalirkan pembuluh limfe dari kulit sekitarnya, dan tidak termasuk areola dan papilla.
Terdapat komunikasi antara pembuluh dermis dengan pembuluh dermis pada payudara
kontralateral, sehingga memungkinkan terjadinya penyebaran tumor ke KGB dan
payudara kontralateral
2. Drainase Areolar
Yaitu pleksus subareolar dari Sappey; selanjutnya akan bergabung dengan KGB aksilla.
3. Drainase Aksiler
Terdapat enam grup kelenjar getah bening aksila :
1. KGB mammaria eksterna. Untaian kelenjar ini terletak di bawah tepi lateral m.
pektoralis mayor, sepanjang tepi medial aksila. Grup ini dibagi dalam dua kelompok :
- Kelompok superior. Kelompok KGB ini terletak setinggi interkostal II-III
- Kelompok imferior. Kelompok KGB ini terletak setinggi interkostal IV-V-VI
2. KGB Skapula
KGB terletak sepanjang vasa subskapularis dan thorako-dorsalis, mulai dari
percabangan v. aksilaris menjadi v. subskapuralis, sampai ke tempat masuknya v.
thorako-dorsalis ke dalam m. latissimus dorsi.
3. KGB sentral (central nodes)
KGB ini terletak di dalam jaringan lemak di pusat ketiak. Kadang-kadang beberapa
diantaranya terletak sangat superficial, di bawah kulit dan fasia pada pusat ketiak,
kira-kira pada pertengahan lipat ketiak depan dan belakang. KGB ini adalah kelenjar
yang relatif paling mudah diraba. Dan merupakan kelenjar aksila yang terbesar dan
terbanyak jumlahnya.
4. KGB interpektoral (Rotter’s nodes)
KGB ini terletak diantara m. pektoralis mayor dan minor, sepanjang rami pektoralis v.
thorako-akromialis. Jumlah satu sampai empat.
5. KGB v. aksilaris
Kelenjar-kelenjar ini terletak sepanjang v. aksilaris bagian lateral, mulai dari white
tendon m. latissimus dorsi sampai ke sedikit medial dari percabangan v. aksilaris – v.
thorako-akromialis
6. KGB subklavikula
Kelenjar-kelenjar ini terletak sepanjang v. aksilaris, mulai dari sedikit medial
percabangan v. aksilaris – v. thorako-akromialis sampai di mana v. aksilaris
menghilang di bawah tendo m. subklavius. Kelenjar ini merupakan kelenjar aksila
yang tertinggi dan termedial letaknya. Semua getah bening yang berasal dari kelenjar-
kelenjar getah bening aksila masuk ke dalam kelenjar ini. Seluruh KGB aksila ini
terletak di bawah fasia kostokorakoid

Kelompok kelenjar ini kemudian dibagi lagi dalam 3 level atau tingkat, berdasarkan
hubungannya dengan m. pectoralis minor.
a. Level I
Terletak lateral / dibawah batas bawah m. pectoralis minor. Termasuk:
- KGB mamaria eksterna
- KGB vena aksilaris
- KGB grup scapular
b. Level II
Terletak didalam (deep) atau dibelakang dari m. pectoralis minor; yaitu grup sentral.
c. Level III
Terletak medial atau diatas dari batas atas m. pectoralis minor; yaitu grup subclavicular.
Perkembangan Payudara Berdasarkan Usia
III. Patologi Payudara
A. Anomali
Yang termasuk anomali adalah
1. Amastia
2. Jaringan mamma aksesoris (supernumerary breast) atau mamma aberrant
3. Bentuk abnormal dari payudara

1. Amastia
Amastia artinya tidak ada payudara sebelah atau dua-duanya atau tinggal payudara
sedikit saja. Anomali tersebut jarang di temukan. Kebanyakan pada wanita, tapi ada juga pada
pria, kelainan tersebut biasanya disertai tidak adanya otot pektoralis.

2. Mamma aberrant (aksesoris, supernumerary)


Terdapat payudara atau papillae mamma yang lebih dari dua. Letaknya pada garis susu
dari axilla sampai ke inguinal tapi kebanyakan di axilla. Kelainan ini sering di dapat. Dalam
praktek sehari-hari akan di temukan kasus tersebut.
Menurut Haagensen mamma aberan ditemukan 2 X lebih banyak pada wanita dari pada
laki-laki, yang ditemukan di Bandung hampir selalu wanita. Anomalis tersebut ada
hubungannya dengan keturunan. Terdapat pada keluarga-keluarga tertentu. Klinkaefuss
melaporkan adannya polymastia pada 4 genarasi.
Ada 3 unsur terdapat pada mamma aberrant tersebut :
1. Parenkim kelenjar susu
2. Areola dan
3. Papilla mama
Kadang-kadang ketiga unsur tersebut ditemukan secara histopatologik, tapi kadang-
kadang hanya satu unsur saja.
Pada anomali tersebut bisa ditemukan segala penyakit yang bisa menghinggapi
payudara, misalnya karsinoma mamma, dsb. Juga bila waktu mens dimana payudara normal
suka mengeras, dia ikut mengeras dan pada waktu laktasi terdapat pengeluaran air susu juga.
Bila anomali tersebut mengganggu atau adanya kekuatiran bila terjadi karsinoma tidak
mudah diketahui, maka dapat dilakukan extirpasi. Operasi tersebut harus dilakukan dengan
tenang dan sebaliknya dengan narkosa agar yang diangkat benar-benar jaringan kelenjar
payudara yang dimaksud, bukan jaringan lemak subkutan.
3. Bentuk abnormal payudara
Misalnya areola mamma yang menonjol sehingga merupakan tumor. Kelainan ini jarang
sekali. Sekali-sekali ditemukan dalam gradasi yang ringan. Polythelia adalah dimana sebuah
payudara mempunyai lebih dari satu putting susu, baik pada satu areola maupun pada
beberapa areola dari satu payudara.

B. Kelainan pertumbuhan payudara.


 Bila wanita, jadi dewasa, tapi payudara tidak berkembang mungkin sebabnya agenesis
ovarium tapi ada juga yang terlambat akil balik.
 Ada pula yang akil balik terlalu cepat, semua tanda-tanda kelamin sekunder timbul
kemungkinan terdapat tumor ovarium, kebanyakan idiopatik.
 Hipertrofi payudara dewasa.
 Ginekomastia pada pria, suatu hipertrofi payudara sebelah atau dua-duanya. Etiologi tak
di ketahui, tapi ada yang disebabkan oleh kelainan hormon, kelainan pada testis yang
biasanya bilateral.

C. Infeksi pada payudara


 Mastitis akut biasanya pada wanita menyusui, tapi kadang-kadang bisa pada wanita yang
tidak menyusui. Sebabnya ialah tertahannya air susu dan masuknya kuman-kuman kulit
melalui papilla mamma yang biasanya mengalami laserasi. Bila tidak diobati akan
menjadi abses dan perlu diinsisi. Terapi mastitis adalah antibiotika biasanya eritromisin
atau antibiotika lain yang cocok terhadap bakteri coccus. Bila perlu penghentian laktasi
atau di hindarkan menyusui secara sementara dan air susu diisap dan di buang.
 Mastitis tbc: pada waktu yang lalu di luar negeri sekali-kali ditemukan penyakit ini. Di
Indonesia pernah ditemukan, walaupun jarang.
 Galaktokel: suatu kantong berisi air susu yang tertinggal, lama kelamaan galaktokel
tersebut menjadi terinfeksi.
D. Tumor mamma.
Tumor mamma ada yang ganas dan ada yang jinak, dimana termasuk kelainan-kelainan
pembentukan kelenjar mamma dan akibat-akibat peradangan dan laktasi.
Insidensi tumor ganas mamma di berbagai negara berbeda - beda, di Amerika Serikat
merupakan ¼ dari jumlah kanker pada wanita. Di RSHS merupakan  20% dari tumor ganas
pada wanita, ini merupakan frekuensi terbanyak kedua setelah tumor ganas serviks uteri. Di
Belanda, insidensinya 26 kasus tumor ganas mamma per 100.000 penduduk, sedang Jepang 5
per 100.000 penduduk.
Tumor ganas mamma pada pria terdapat satu di antara 100 tumor ganas mamma pada
wanita.
Usia penderita tumor ganas mamma diatas 25 tahun sampai 65 tahun, terbanyak 40-45
tahun untuk Jepang dan negara-negara yang rendah insidensinya, sedang yang insidensinya
tinggi meningkat, makin tua usia maka > age adjusted incidency.
Etiologi
 Keturunan : pada statistik ternyata jika seorang ibu mempunyai kanker payudara, maka
kemungkinan anaknya menderita kanker payudara 2 sampai 3 kali lebih besar dari
wanita-wanita lain.
 Hormonal : tikus bisa dibuat menderita karsinoma mamma dengan penyuntikan
estrogen. Estrogen dan estradiol adalah karsinogenik. Estriol “ protective” terhadap
karsinoma mamma. Ovarektomi <35 tahun “protective”
 Virus : dalam air susu wanita ditemukan partikel-partikel yang sama dengan partikel-
partikel didalam air susu tikus yang menderita karsinoma mamma. 60 % dari wanita
Amerika mempunyai air susu yang mengandung pertikel-partikel tersebut. Sedangkan
wanita-wanita Parsi di India air susunya mengandung 39 % dan pada wanita-wanita
tersebut karsinoma mamma,  50% dari semua kanker pada wanitan. Virus “mammary
tumor virus” mesti ada kerentanan + faktor endokrin. Pada manusia belum terbukti
penularan dengan virus ini. “ Exposure” terhadap radioterapi meninggikan “ risk-factor “
misalnya puerpueral mastitis.
 Mutasi pada gen, yaitu pada gen supresor p-53, gen supresor BRCA-1, BRCA-2 dan
HER-2 yang meningkatkan resiko keganasan
 Hamil muda menurunkan kemungkinan wanita menderita kanker payudara. Wanita yang
tidak menikah, janda atau yang cerai lebih banyak menderita kanker payudara dari yang
menikah.
 Laktasi : pernyataan di atas ada hubungannya juga dengan laktasi, wanita yang
multipara yang banyak menyusui kurang kemungkinan menderita kanker payudara,
tetapi hal tersebut ada yang membantahnya.
 Hubugan tumor-tumor jinak fibrokistik dengan kemungkinan tumbuhnya kanker
payudara dikemudian hari masih dalam perdebatan. Katanya kemungkinan 2 X normal.
 Perkawinan : single 2 x kemungkinan dari pada yang kawin. Infertil lebih besar
kemungkinan karsinoma mamma daripada fertil.
 Faktor diet lemak meninggikan kemungkinan karsinoma mama, karena peninggian
estrogen di kutis/subkutis.
 Hypothyroidism.
 Keadaan sosial ekonomi yang meningkat.
 Menarche yang semakin muda usianya, bersamaan dengan meningkatnya insidensi
karsinoma di beberapa negara. Apakah ini ada hubungan langsung sedang diselidiki.

Patologi
Tumor Jinak
 Fibrous dysplasia adalah suatu proliferasi stroma kelenjar mamma yang merupakan
tonjolan tidak berkapsul, batasnya tidak tegas
 Mastitis kronika sistika, yang tidak selalu “cystic” dan bukan suatu peradangan sehingga
nama ini sebenarnya tidak tepat. Istilah ini merupakan kumpulan penyakit-penyakit
tumor jinak pada mamma. Sinonimnya, fibrocystic, diease, fibroadenosis, mastopathy,
nodular hyperplasia, cyclomastopathy, adenofibromatosis, cystiphorous epithelial
hyperplasia, adenocystic disease dan mammary dysplasia. Fibrous dysplasia yang
dipergunakan oleh bagian patologi FKUP sebenarnya masuk dalam rombongan
tersebut.
 Kista retensi : suatu kista yang berisi air susu yang kadang-kadang terinfeksi.
 “ Sclerosing adenosis” suatu fibrosis dalam kelenjar mamma yang keras dimana
gambaran hispatologisnya bisa dikelirukan menjadi karsinoma.
 Fibroadenoma suatu tumor yang terbatas tegas, tidak berkapsul, tapi tampaknya seperti
berkapsul mikroskopik terdiri dari dua komponen, yaitu komponen stroma jaringan
lunak yang berproliferasi dan komponen “acini” dari duktus yang berkembang secara
atipik.
Tumor Ganas
 Malignant phylloides tumor ,cepat membesar dan mendesak jaringan sekitarnya, serta
menginfiltrasi ke kelenjar getah bening.
 Golongan sarkoma dan limfoma maligna.
 Karsinoma.
o Berasal dari duktus (intraduktal karsinoma)
o Karsinoma infiltratif, misalnya karsinoma medulare skirrhous, adenokarsinoma.
o Karsinoma dari lobules-lobules “lobular ca in situ”- “infiltrating lobuler Ca”.
o Paget’s disease of the nipple” mula-mula mirip dermatitis pada putting susu.
o Inflammatory Ca, merupakan metastase sel kanker ke limfe di daerah kulit sekitar
mammae sehingga menimbulkan obstruksi saluran limfe.

Gejala gejala klinik / diagnostik.


 Sebagian besar merupakan benjolan yang tidak nyeri.
 Fibroadenoma biasa pada perabaan bulat, atau lonjong kadang-kadang berbenjol-benjol,
licin, mudah bergerak dari jaringan sekitarnya. Usia biasanya muda dibawah 30 tahun.
Fibrous dysplasia biasa tak tegas kadang-kadang disertai nyeri seolah-olah penebalan
jaringan kelenjar.

 Benjolan ganas pada mulanya sama seperti jinak tapi bila membesar, maka benjolan
tersebut mulai tidak mudah digerakkan dari sekitarnya, tanda adanya infiltrasi. Bila
menginfiltrasi ke kulit, maka akan tampak lekukan dan bila benjolannya besar dan
seluruhnya melekat pada kulit dan mengadakan tanda-tanda peradangan pada saluran
limfe di kulit, maka tampak kulit tersebut seperti kulit jeruk.
 Payudara dibagi 4 kuadran dengan 1 sentral yakni:
1. kuadran lateral atas, bawah, medial atas dan medial bawah.
2. sentral, sekitar puting susu.

Letak tumor disebutkan berada di kuadran mana. Diagnosis ditegakkan atas dasar
anamnesis (usia, cepat lambat pertumbuhan), pemeriksaan benjolan dan biopsi. Pemeriksaan
radiologik berupa mammografi bisa membantu.
Ada tanda-tanda penyebaran bisa membantu diagnostik pada yang sudah terlambat.
Biopsi merupakan pemeriksaan yang terakhir setelah anamnesis dan pemerikaan fisik-
diagnostik. Arah insisi biopsi harus disesuaikan dengan arah insisi mastektomi yang akan
dikerjakan, bila hasilnya ganas, agar daerah biopsi dan insisinya masuk ke dalam preparat
mastektomi.

Arah insisi pada payudara


Penyebaran
Stasiun pertama adalah kelenjar limfe axilla bagi tumor-tumor yang letaknya di lateral,
dan kelenjar-kelenjar intermammaria bagi yang letaknya medial dan sentral. Lalu ke
supraklavikula dan leher. Selanjutnya metastase jauh (hematogen) ke tulang-tulang (vertebra,
pelvis, leher, femur, humerus, tengkorak), atau ke paru-paru ke hepar, ginjal. Juga ke
payudara sebelahnya, kelenjar supraklavikula kontralateral, aksila kontralateral dan ke kulit
dada (setelit-satelit).

Klasifikasi TNM
Klasifikasi tumor mamma dibuat menurut TNM:
T : Tumor primer ( luasnya ditentukan secara klinis)
TIS : Pre-invasiva carcinoma : karsinoma in situ infiltrating intraductal ca dan
penyakit paget pada papilla tanpa teraba tumor.
TO : Tidak ada bukti adanya tumor primer
TX : Tumor primer tidak dapat di tentukan
T1 : Tumor 2 cm atau kurang pada ukuran terbesar
T1a. 0,5 cm atau kurang pada ukuran terbesar
T1b lebih dari 0,5 cm , tapi tidak lebih dari 1 cm pada ukuran terbesar.
T1c lebih dari 1 cm tapi tidak lebih dari 2 cm pada ukuran terbesar
T2 : Tumor >2 cm tapi < 5 cm pada ukuran terbesar
T3 : Tumor > 5 cm pada ukuran terbesar
Ket : Lekukan pada kulit, retraksi papilla atau perubahan lain pada kulit, kecuali
yang disebut T4b dan T4d bisa terdapat T1, T2 atau T3 tanpa merubah
klasifikasi.
T4 : Tumor ukuran berapa saja dengan penyebaran langsung ke dinding toraks
atau kulit pada payudara bersangkutan.
Dinding toraks adalah iga, otot-otot interkostal dan m. seratus anterior, tapi
tidak termasuk m. pektroalis.
T4a. dengan pelekatan pada dinding anterior.
T4b. dengan oedema pada payudara infiltrasi atau ulserasi kulit payudara
(termasuk peau d’orange = kulit jeruk) atau satelit kulit pada payudara yang
bersangkutan.
T4c = T4a dan T4b.
T4d karsinoma inflamatori
N : Kelenjar regioner yang berada di axilla dan infra klavikular
NX : Kelenjar tidak dapat ditentukan (misalnya telah diangkat sebelumnya)
N0 : Tidak teraba kelenjar aksila homorateral
N1 : Kelenjar aksila homolateral yang tidak melekat (movable)
N2 : Kelenjar aksila homolateral yang melekat sama lain atau pada jaringan
sekitarnya
N3 : Kelenjar mamaria interna homolateral
KET : edema pada pada lengan bisa disebabkan obstruksi saluran limfe, kelenjar bisa
tidak teraba. Kelenjar supraklavikula sekarang masuk M1 (Lym).
M : Metastase jauh
MX : Metastase jauh tidak dapat ditentukan
M0 : Tidak ada metastase jauh
M1 : Metastase jauh termasuk kelainan kulit diluar daerah payudara dan kelenjar
supraklavikula
Untuk M1 dapat ditambah keterangan lokalisasi metastase, misalnya M1
PUL (=di paru-paru) M1 HEP(= di hepar); OSS = tulang ; BRA = otak ; LYM
= KGB ; PLE = pleura ; MAR = sumsum tulang SKI = kulit ; EYE = mata ;
OTH = lain-lain

Didepan TNM tersebut dapat ditambah huruf p yang artinya klasifikasi tersebut telah
diperbaiki oleh penemuan hasil pemeriksaan histopatologik pada terapi definitif (bedah),
misalnya pT2pN1pMO.
Awalan y bila terapi definitif didahului terapi lain (misalnya radiasi). Awalan p berarti
klasifikasi setelah residif.

Tingkat penyakit :
Stage 0 T1s N0 } M0
Stage I T1 N0 }
Stage IIA T0 N1 }
T1 N1 }
T2 N0 }
IIB T2 N1 } M0
T3 N0 }

Stage IIIA T0 N2 }
T1 N2 } M0
T2 N2 }
T3 N1,N2 }
IIIB T4 setiap N }
setiap T N3 }
Stage IV setiap T setiap N dengan M1
Daftar Pustaka

1. Haskell CM, Casciato DA, Breast Cancer, in Manual of Oncology, 4ed, Lippincott
Williams & Wilkins,Philadelphia, 2000
2. Brunicardi, F.Charles dkk. Chapter 17 – The Breast. Dalam Schwartz’s Principles of
Surgery, 9th ed. McGraw-Hill, 2010.
3. Bland, Kirby I. Souba, Willey W. Surgery for Benign and Malignant Disease of the
Breast: Indication and Techniques. In: Atlas of Surgical Oncology. WB. Saunders
Company, 1995.
4. Skandalakis, John, Panajoitis and Lee. Breast. In: Surgical Anatomy and Technique.
Springer Verlag, 2000.
5. Zollinger, Robert M andRobert M jr. Atlas of Surgical Operations, 7th edition. McGraw-
Hill, 1993
6. Browse NL, Symptoms and Signs of Surgical Disease, 3 ed, Arnold, 1997.
7. Sadler, T.W. Langman’s Medical Embryology 10th edition. Vishal. 2008.
8. Standring, Susan. Chapter 58 Breast. Dalam Gray’s Anatomy, 39th edition. Elsevier. 2008.