Anda di halaman 1dari 31

ETIKA DAN BISNIS

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
ETIKA BISNIS DAN PROFESI
Yang dibina oleh Ibu Rizka Furqorina

Oleh:
Devi Izza (150422605621)
Ida Meilisa (160422608232)
Juwaihiriah (160422608253)
Stephanie Santoso (160422608269)
Yesica Sari Utami (160422608268)
Offering O

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
Januari 2019
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji bagi Allah swt. yang Maha Pengasih dan
Penyayang yang selalu memberikan kemudahan dan kasih sayang terhadap
hambanya serta syukur alhamdulillah saya panjatkan kepada Nabi Muhammad
saw. yang selalu menuntun umatnya menuju jalan yang dirahmati Allah swt. Tak
lupa juga, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada Ibu
Rizka Furqorina selaku dosen pengampu Mata Kuliah Etika Bisnis dan Profesi
yang telah memberikan tugas tentang pengenalan mahasiswa terhadap dunia etika
bisnis.
Kelompok kami berharap dengan disajikannya materi pengenalan awal
tentang etika bisnis dan moralitas dalam bisnis, dapat membantu teman-teman dan
diri kami sendiri untuk lebih paham terhadap materi di awal bab semester ini.
Serta semoga dengan penyampaian materi oleh kelompok kami ini, akan
mendatangkan manfaat berupa ilmu yang dapat dipelajari oleh seluruh mahasiswa
offering O di Mata Kuliah Etika Bisnis dan Profesi ini.

Kelompok 1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
1.2.Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
1.1.Hakikat Etika Bisnis
1.1.1. Moralitas
1.1.2. Etika
1.1.3. Etika Bisnis
1.1.4. Perusahaan Multi Nasional dan Etika Bisnis
1.1.5. Teknologi dan Etika Bisnis
1.2. Perkembangan Moral dan Penalaran Moral
1.2.1. Perkembangan Moral
1.2.2. Penalaran Moral
1.2.3. Menganalisis Penalaran Moral
1.3. Argumen yang Mendukung dan yang Menentang Etika Bisnis
1.3.1. Tiga Keberatan atas Penerapan Etika ke dalam Bisnis
1.3.2. Kasus Etika dalam Bisnis
1.4. Tanggung Jawab dan Kesalahan Moral
1.4.1. Tanggung Jawab Korporasi
1.4.2. Tanggung Jawab Bawahan
BAB III PENUTUP
DISKUSI KASUS
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Etika bisnis adalah studi khusus mengenai moral benar dan salah yang
berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan,
institusi, dan perilaku bisnis (Velasques, 2005:12). Sedangkan menurut Badroen
(2006:15) etika bisnis adalah seperangkat nilai tentang baik, buruk, benar, dan
salah dalam dunia bisnis berdasarkan prinsip-prinsip moralitas. Dalam arti lain,
etika bisnis harus komit padanya dalam bertransaksi, berperilaku, dan berelasi
guna mencapai “daratan” atau tujuan-tujuan bisnisnya dengan selamat.
Berdasarkan dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa etika bisnis
merupakan sebuah standar etika atau moral yang berkaitan dengan benar atau
salah dalam sebuah pengambilan keputusan, kebijakan, institusi, dan perilaku
bisnis. Dalam dunia bisnis yang berkembang secara cepat dan dinamis, banyak
terdapat permasalahan-permasalahan etis yang perlu dihadapi oleh para pebisnis.
Terdapat banyak kasus pelanggaran mengenai etika bisnis saat ini, diantaranya
adalah kasus suap Moge kepada auditor BPK terkait opini wajar tanpa
pengecualian atas laporan keuangan PT. Jasa Marga. Atas tindakannya, salah satu
eks auditor BPK ini dituntut 9 tahun penjara (Hidayat:2018). Hal ini menunjukkan
bahwa tindakan tidak etis apa pun dapat memberikan konsekuensi yang buruk
terhadap kelangsungan hidup seseorang maupun sebuah organisasi. Oleh karena
itu, tindakan yang etis merupakan strategi bisnis jangka panjang terbaik bagi
seseorang, organisasi, maupun perusahaan. Banyak kode etik dan standar yang
telah dibuat untuk mencegah adanya tindakan yang tidak etis namun, hal ini juga
harus diimbangi dengan kesadaran masing-masing individu yang bersangkutan.
Berdasarkan paparan di atas, dalam makalah ini akan dibahas hal-hal
terkait dengan prinsip-prinsip dasar etika bisnis diantaranya adalah hakikat dari
etika bisnis itu sendiri, bagimana perkembangan moral dan penalaran moral
seseorang, argumen yang mendukung dan yang menentang etika bisnis, tanggung
jawab dan kesalahan moral, serta kasus revolusi Napster.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
a. Bagaimana hakikat dari etika bisnis?
b. Bagaimana perkembangan moral dan penalaran moral seseorang?
c. Bagaimana argumen yang mendukung dan menentang etika bisnis?
d. Bagaimana tanggung jawab dan kesalahan moral terjadi?
BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Hakikat Etika Bisnis


Menurut kamus, istilah etika memiliki beragam makna yang berbeda. Salah
satu maknanya adalah: “ prinsip tingkah laku yang mengatur individu atau
kelompok .” Kadang kita menggunakan istilah etika personal, misalnya, ketika
mengacu pada aturan – aturan dalam lingkup dimana orang per orang menjalani
kehidupan pribadinya. Kita menggunakan istilah etika akuntansi ketika mengacu
pada seperangkat aturan yang mengatur tindakan professional akuntan.
Makna kedua- dan lebih penting- mengenai etika menurut kamus adalah: Etika
adalah “ kajian moralitas “. Para ahli etika menggunakan istilah etika untuk
mengacu terutama pada pengkajian moralitas, sama seperti ahli kimia
menggunakan istilah kimia untuk mengacu pada pengkajian unsur – unsur
subtansi kimiawi. Meskipun etika berkaitan dengan moralitas, namun tidak sama
persis dengan moralitas. Etika adalah semacam penelaahan- baik aktivitas
penelaahan maupun hasil-hasil penelaahan itu sendiri – sedangkan moralitas
merupakan subjek.
1.1.1. Moralitas
Moralitas dapat didefinisikan sebagai pedoman yang dimiliki individu atau
kelompok mengenai apa itu benar dan salah, atau baik dan jahat. Untuk
memperjelas apakah maksudnya, marilah kita melihat kasus konkret.
1.1.2. Etika
Etika merupakan ilmu yang mendalami standar moral perorangan dan standar
moral masyarakat. Ia mempertanyakan bagaimana standar-standar diaplikasikan
dalam kehidupan kita dan apakah standar ini masuk akal atau tidak masuk akal-
standar yaitu, apakah didukung dengan penalaran yang bagus atau yang jelek.
Etika bukan hanya cara untuk memelajari moralitas. Ilmu-ilmu sosial
semacam antropologi, sosiologi dan psikologi juga memelajari moralitas, namun
melakukannya dengan cara yang sangat berbeda dari pendekatan moralitas yang
merupakan ciri etika. Meskipun etika merupakan studi normatief mengenai etika,
ilmu-ilmu social terlibat dalam studi deskriptif etika. Sebuah studi normatif
merupakan penelusuran yang mencoba mencapai kesimpulan-kesimpulan
normatif yaitu, kesimpulan tentang hal-hal yang baik dan buruk atau tentang
tindakan apa yang benar atau salah. Ringkasnya, studi normatif bertujuan
menemukan apa yang seharusnya.
1.1.3. Etika Bisnis
Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar
dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan
dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis.
Institusi yang paling berpengaruh di dalam masyarakat sekarang ini adalah
institusi ekonomi. Institusi ini didesain untuk mencapai dua tujuan: (a) produksi
barang dan jasa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat, dan (b) distribusi
barang dan jasa ke beragam anggota masyarakat.
Perusahaan bisnis merupakan institusi ekonomi yang utama yang digunakan
orang dalam masyarakat modern untuk melaksanakan tugas memproduksi dan
mendistribusikan barang dan jasa. Perusahaan merupakan struktur fundamental
yang di dalamnya anggota masyarakat mengombinasikan sumber daya langkah
tanah, tenaga kerja, modal dan teknologi menjadi barang yang berguna dan
perusahaan menyediakan saluran-saluran untuk mendistribusikan barang-barang
dalam produk consumer, gaji karyawan, pengembalian investor dan pajak
pemerintah. Pertambangan dan pemanufakturan, eceran, perbankan, pemasaran,
pengiriman, asuransi, konstruksi dan iklan semua merupakan bagian yang
berbeda dari proses produktif dan distributive institusi bisnis modern.

Apakah Standar Moral Juga Diterapkan pada Korporasi, ataukah pada


Individu?
Ada pandangan atas muncul masalah ini, yang extreme adalah padangan yang
berpendapat bahwa, karna aturan yang mengikat, organisasi memperbolehkan kita
untuk mengatakan bahwa korporasi bertindak sebagai individu dan memiliki “
tujuan yang disengaja “ atas apa yang mereka lakukan, kita juga dapat
mengatakan mereka “ bertanggung jawab secara moral “ untuk tindakan mereka
dan bahwa tindakan mereka adalah “ bermoral “ atau “ tidak bermoral “ dalam
pengertian yang sama seperti apa yang dilakukan manusia.
1.1.4. Perusahaan Multi Nasional dan Etika Bisnis
Sebagian besar korporasi massa kini merupakan perusahaan multinasional :
Perusahaan-perusahaan yang menjalankan pemanufakturan, pemasaran, jasa dan
operasi administrative dibanyak negara.Sebenarnya, secara virtual 500 korporasi
industry terbesar Amerika Serikat menjalankan operasi dilebih dari satu negara.
Karena beoperasi di Negara Negara yang berbeda,korporasi multinasional
semacam itu menghadapi sejumlah permasalahan etis yang layak mendapatkan
penjelasan khusus.
Dengan kehadirannya di selurh dunia, korporasi multinasional cenderung
menjadi sangat besar: mengambil modal, bahan mentah, dan tenaga kerja dari
manapun di dunia yang murah, ahli dan mencukupi, dan menggabungkan serta
memasarkan produk mereka di Negara mana pun yang menawarkan keuntungan
usaha dan pasar terbuka.

Apakah Standar Moral yang Sama Diterapkan untuk Perusahaan


Multinasional di Semua Tempat?
Relativisme etis adalah teori bahwa, karena masyarakat yang berbeda
memiliki keyainan etis yang berbeda memiliki keyakinan etis yang berbeda, tidak
ada cara yang rasioanal untuk menentukan apakah orang dari masyarakat ini atau
itu percaya bahwa tindakan itu secara moral benar atau salah. Dengan kata lain,
relativesme moral adalah pandangan bahwa tidak ada standar etis yang secara
absolute benar dan yang diterapkan atau harus diterapkan terhadap perusahaan
atau orang dari semua masyarakat. Di samping itu, relativisme percaya bahwa
sesuatu kadang-kadang benar bagi orang atau perusahaan di suatu masyarakat
tertentujika sesuai dengan standar moral mereka, dan salah bagi mereka jika
melanggar standarmoral mereka.
1.1.5. Teknologi dan Etika Bisnis
Teknologi terdiri atas metode, proses, dan alat yang ditemukan manusia untuk
memanipulasi lingkungan mereka. Sejauh yang tidak pernah direalisasikan dalam
sejarah, bisnis kontemporer secara terus menerus dan radikal diubah oleh evolusi
teknologi baru yang cepat yang memunculkan persoalan etis baru bagi bisnis.
Bukan pertama kalinya bahwa teknologi baru mempunyai dampak
revolusioner terhadap bisnis dan masyarakat. Beberapa ribu tahun yang lalu,
selama masa yang disebut Revolusi Agrikultur, manusia mengembangkan
teknologi pertanian yang memungkinkan mereka berhenti mengandalkan
perburuan dan keuntungan berburu.

1.2 Perkembangan Moral dan Penalaran Moral


1.2.1. Perkembangan Moral

Nilai seseorang kadangkala dapat diasumsikan dibentuk selama masa kanak-


kanak dan tidak akan berubah sesudah itu. Kenyataannya, sebagian riset psikologi
juga pengalaman moral seseorang, menunjukkan bahwa nilai mereka akan diubah
dengan cara yang sangat mendalam dan mendasar ketika seseorang mulai dewasa.
Seperti kemampuan fisik seseorang, kemampuan emosional dan kognitif
berkembang sejalan dengan usia mereka, demikian juga kemampuan mereka
untuk menghadapi isu moral yang berkembang sepanjang hidupnya. Sebagaimana
ada tingkatan-tingkatan pertumbuhan yang teridentifikasi dalam perkembangan
fisik, kemampuan untuk membuat penilaian moral yang masuk akal juga
berkembang dalam tingkatan-tingkatan yang teridentifikasi. Saat masih anak-
anak, seseorang akan secara jujur mengatakan apa yang benar dan apa yang salah,
dan juga patuh untuk menghindari huukuman. Ketaatan anak-anak terhadap
standar moral secara esensial berdasarkan usaha menghindari rasa sakit yang
mereka persepsi. Sebagaimana seseorang tumbuh menjadi remaja, standar moral
konvensional secara bertahap diinternalisasikan. Kesetiaan terhadap standar moral
pada tahap ini didasarkan pada pemenuhan harapan keluarga, teman, dan
masyarakat sekitar. Seseorang melakukan sesuatu yang benar karena itulah yang
diharapkan oleh kelompoknya. Hanya sebagai manusia dewasa yang rasional dan
berpengalamanlah seseorang memiliki kemampuan untuk merefleksikan secara
kritis standar konvensional yang diwariskan oleh keluarga, teman, budaya, atau
agamanya. Seseorang kemudian mulai mengevaluasi secara kritis standar moral
tersebut dan konsekuensinya, serta mengevaluasi ketika tidak memadai, tidak
konsisten, atau tidak masuk akal.

Ada banyak riset psikologi yang memperlihatkan bahwa pandangan moral


seseorang kurang lebih berkembang seperti itu. Psikolog Lawrence Kohlberg
misalnya, yang memelopori riset dalam bidang ini menyimpulkan berdasarkan
riset selama lebih dari 20 tahun bahwa ada enam tingkatan yang teridentifikasi
dalam perkembangan kemampuan moral seseorang untuk berhadapan dengan isu-
isu moral. Kohlberg mengelompokkan tahapan perkembangan moral menjadi tiga
tingkat, masing-masing berisi dua tahap, yang kedua adalah bentuk yang lebih
maju dan terorganisasi dari perspektif umum masing-masing tahap. Urutan enam
tahapan dapat disimpulkan sebagai berikut :

A. Level Satu : Tahap Prakonvensional


Pada dua tahap pertama, seorang anak dapat merespon peraturan dan
ekspektasi sosial serta dapat menerapkan label-label baik, buruk, benar,
dan salah. Aturan ini, bagaimanapun dilihat sebagai suatu yang diharuskan
secara eksternal pada dirinya. Benar dan salah diinterpretasikan dalam
pengertian konsekuensi tindakan yang menyenangkan atau menyakitkan
atau dalam pengertian kekuatan fisik diri mereka yang membuat aturan.
Misalnya, jika seseorang menanyai seorang anak berumur lima tahun
apakah mencuri itu salah, dia akan menjawab ya; jika seseorang menanyai
anak itu mengapa salah, jawabannya akan muncul seperti “ karena ibu
akan menghukum saya jika saya mencuri.” Hal ini berarti, anak itu masih
melihat sesuatu dari sudut pandangnya dan belum mempunyai kemampuan
mengidentifikasi dengan orang lain pada cakupan yang lebih luas,
motivasi utamanya berpusat pada dirinya.
1) Tahap Satu : Orientasi Hukuman dan Ketaatan.
Pada tahap ini, konsekuensi fisik sebuah tindakan sepenuhnya
ditentukan oleh kebaikan atau keburukan tindakan itu. Alasan anak
melakukan hal yang baik adalah untuk menghindari hukuman atau
menghormati kekuatan otoritas fisik yang lebih besar. Ada sedikit
kesadaran bahwa orang lain memerlukan atau menginginkan hal
yang sama dengan dirinya.
2) Tahap Dua : Orientasi Instrumen dan Relativitas.
Pada tahap ini, tindakan yang benar adalah yang dapat berfungsi
sebagai instrumen untuk memuaskan kebutuhan anak itu sendiri .
anak sekarang sadar bahwa orang lain mempunyai kebutuhan dan
keinginan yang sama dengan dirinya dan mulai menghormati
mereka agar melakukan yang dia inginkan.
B. Level Dua: Tahap Konvensional
Mempertahankan ekspektasi keluarganya sendiri, kelompok sebaya dan
negaranya sekarang dilihat sebagai sesuatu yang bernilai, tanpa
memedulikan akibatnya. Orang pada level perkembangan ini tidak hanya
berdamai dengan harapan, tetapi menunjukkan loyalitas terhadap
kelompok beserta norma-normanya. Remaja pada tahap ini, sekarang
dapat melihat situasi dari sudut pandnag ornag lain, tetapi persepektif yang
diambilnya merupakan pandangan umum orang-orang yang termasuk
dalam kelompok sosialnya seperti keluarga, teman sebaya, organisasi,
negar, dan kelas sosial serta berasumsi setiap orang sepertinya. Orang
dimotivasi untuk menyesuaikan dengan norma-norma kelompok dan
mengesampingkan kebutuhan individual demi kebutuhan kelompok.
1) Tahap Tiga : Orientasi Kesesuaian Interpersonal.
Perilaku yang baik pada tahap konvensional awal ini memenuhi
ekspektasi mereka dari mana dia merasakan loyalitas, afeksi, dan
kepercayaan seperti keluarga dan teman. Tindakan yang benar
merupakan konformitas terhadap apa yang secara umum
diharapkan dari perannya sebagai anak, saudara, teman yang baik
dan sebagainya. Melakukan sesuatu yang baik dimotivasi oleh
kebutuhan untuk dilihat sebagai pelaku yang baik dalam
pandangannya sendiri dan pandangan orang lain.
2) Tahap Empat : Orientasi Hukum dan Keteraturan.
Benar dan salah pada tahap konvensional yang lebih dewasa kini
ditentukan olwh loyalitas terhadap negara atau masyarakat
sekitarnya yang lebih besar. Hukum dipatuhi kecuali tidak sesuai
dengan kewajiban sosial lain yang sudah jelas. Seseorang sekarang
dapat melihat orang lain sebagai bagian dari sistem sosial lebih
besar yang mendefinisikan peran dan kewajiban individual, dan
dapat memisahkan norma-norma yang berasal dari sistem ini dari
relasi interpersonal dan motif-motif pribadi.
3) Level Tiga : Tahap Postkonvensional, Otonom, atau Berprinsip.
Pada tahap ini, seseorang tidak lagi secara sederhana menerima
nilai dan norma kelompoknya. Seseorang justru berusaha melihat
situasi dari sudut pandang yang secara adil mempertimbangkan
kepentingan setiap orang. Seseorang pada tahap ini, akan
mempertanyakan hukum dan nilai yang diadopsi oleh masyarakat
dan mendefinisikan kembali dalam pengertian prinsip moral yang
dipilih sendiri yang dapat dijustifikasi secara rasioanal. Hukum dan
nilai yang pantas adalah sesuai dengan prinsip-prinsip yang
memotivasi orang yang rasional untuk menjalankannya.
4) Tahap Lima : Orientasi Kontrak Sosial
Pada tahap ini, seseorang menjadi sadar bahwa mempunyai
beragam pandangan dan pendapat personal yang bertentangan dan
menekankan cara yang adil untuk mencapai konsensus dengan
kesepahaman, kontrak dan proses yang matang. Seseorang percaya
bahwa nilai dan norma bersifat relatif, dan terlepas dari konsensus
demokratis ini, semua hendaknya diberi toleransi.
5) Tahap Enam : Orientasi Prinsip Etis Universal.
Pada tahap terakhir ini, tindakan yang benar didefinisikan dalam
pengertian prinsip moral yang dipilih karena komprehensivitas,
universalitas, dan konsistensinya. Prinsip etis ini tidak sekonkret
Sepuluh Perintah Allah, tetapi merupakan prinsip umum yang
abstrak yang berkaitan dengan keadilan, kesejahteraan masyarakat,
kesetaraan hak asasi manusia, rasa hormat terhadap martabat
manusia individual, dan ide bahwa manusia bernilai pada dirinya
dan harus diperlakukan demikian. Alasan seseorang melakukan
sesuatu yang benar berdasarkan pada komitmen terhadap prinsip-
prinsip moral tersebut dan melihatnya sebagai kriteria untuk
mengevaluasi semua aturan dan tatanan moral yang lain.

Teori Kohlberg walaupun demikian, mendapatkan sejumlah kritik.


Pertama, Kohlberg dikritik karena mngklaim bahwa tahap-tahap yang lebih tinggi
secara moral lebih diutamakan daripada tahap-tahap yang lebih rendah. Kritik ini
memang benar, meskipun level-level Kohlberg yang lebih tinggi memasukkan
perspektif yang lebih luas dan justifikasi yang dapat diterima teorinya tidak
menganut bahwa perspektif yang lebih tinggi secara moral lebih baik daripada
perspektif yang lebih rendah. Kritik kedua muncul dari karya Carol Gilligan,
seorang ahli psikologi. Dia berpendapat bahwa, meskipun teori Kohlberg dengan
benar mengidentifikasi tahap-tahap yang dilalui orang ketika mereka berkembang,
teori itu gagal melacak pola-pola perkembangan perempuan secara memadai.

Sebagian besar subjek Kohlberg adalah laki-laki, Gilligan berpendapat


teori Kohlberg telah gagal memperhitungkan pola-pola pemikiran moral
perempuan. Gilligan mengklaim ada dua cara berbeda terhadap pendekatan isu-isu
moral. Pertama ada pendekatan “laki-laki” yang ditekankan oleh teori Kohlberg.
Kedua, ada pendekatan “perempuan” terhadap isu-isu moral yang tidak diketahui
Kohlberg. Menurut Gilligan, perempuan cenderung melihat dirinya sebagai
bagian dari jaringan hubungan dengan keluarga dan teman, ketika perempuan
berhadapan dengan isu-isu moral akan cenderung mempertahankan hubungan ini
dan berusaha tidak melukai hubungan serta peduli dengan kebaikan mereka. Bagi
perempuan, moralitas terutama merupakan persoalan “peduli” dan “bertanggung
jawab” terhadap orang lain di mana dia terlibat dalam hubungan personal, dan
tidak mempermasalahkan ketaatan aturan-aturan imparsial dan impersonal. Untuk
mendefinisikan lebih lanjut pendekatan moralitas “perempuan” yang baru ini,
Gilligan mengklaim bahwa perempuan yang mengambil pendekatan terhadap
moralitas ini mengikuti tahap-tahap yang agak berbeda ketika mereka tumbuh
dewasa dan mengembangkan pandangan moral mereka. Perkembangan moral
perempuan ditandai dengan perkembangan menuju cara-cara memerhatikan dan
bertanggung jawab yang lebih memadai terhadap dirinya dan orang lain.
Dalam teorinya, level perkembangan moral prakonvensional atau awal
bagi perempuan ditandai oleh kepedulian hanya pada dirinya. Perempuan
bergerak ke level kedua atau konvensional ketika menginternalisasikan norma-
norma tentang kepedulian terhadap orang lain, dan dalam melakukannya mereka
mengabaikan dirinya sendiri. Ketika perempuan bergerak menuju level
postkonvensional atau level yang paling dewasa, walaupun begitu mereka menjadi
kritisterhadap norma-norma konvensional yang awalnya mereka terima, dan
mereka sampai pada keseimbangan antara memedulikan orang lain dan
memedulikan diri sendiri. Prinsip-prinsip moral yang dihasilkan oleh analisis dan
refleksi yang memadai tahap-tahap akhir perkembangan moral baik dalam
pandangan Kohlberg maupun Gilligan , dengan demikian “lebih baik” namun
bukan sekadar karena prinsip-prinsip tersebut muncul pada tahap akhir.
Seperangkat prinsip moral adalah “lebih baik” daripada yang lain hanya ketika
secara hati-hati telah diuji dan didukung oleh alasan yang lebih baik dan lebih
kuat sebuah proses diperkuat melalui diskusi dan perdebatan orang lain. Prinsip
moral yang tampak pada tahap akhir perkembangan moral lebih baik karena ada
sejauh prinsip tersebut merupakan produk pemeriksaan dan diskusi yang masuk
akal dengan orang lain yang cenderung muncul ketika orang mengembangkan
keahlian penalaran mereka, tumbuh dalam pemahaman dan pengetahuan mereka
tentang kehidupan manusia, dan berinteraksi dengan orang lain untuk
mengembangkan perspektif moral yang lebih kuat dan dewasa.

1.2.2. Penalaran Moral

Penalaran moral mengacu pada proses penalaran di mana perilaku, institusi,atau


kebijakan dinilai sesuai atau melanggar standar moral. Penalaran moral selalu
melibatkan dua komponen mendasar : (a) pemahaman tentang yang dituntut,
dilarang, dinilai atau disahkan oleh standar moral yang masuk akal; dan (b) bukti
atau informasi yang menunjukkan bahwa orang, kebijakan, institusi, atau perilaku
tertentu mempunyai ciri-ciri standar moral yang menuntut, melarang, menilai,
atau menyalahkan. Dalam banyak kasus, satu atau lebih dari ketiga komponen
yang terlibat dalam penalaran moral seseorang, tidak diekspresikan.
Kenyataannya, lebih sering orang akan gagal memperjelas standar moral yang
merupakan dasar penilaian moral mereka. Alasan utama mengapa standar tidak
dibuat jelas adalah pada umumnya standar itu dianggap sudsh jelas. Orang
cenderung mencari bukti bahwa kebijakan, institusi, atau tindakan tertentu sesuai
dengan melanggar standar moral mereka yang tidak diekspresikan daripada
mengidentifikasi atau menjelaskan standar moral mereka yang menjadi tumpuan
penilaian mereka. Kegagalan membuat standar moral yang jelas menyebabkan
seseorang tidak berdaya berhadapan dengan problem-problem yang dimunculkan
oleh pendasaran keputusan penting pada asumsi-asumsi yang tidak diteliti terlebih
dahulu. Asumsi mungkin bersifat inkonsisten, mungkin tidak memiliki dasar yang
rasional dan mungkin menyebabkan pembuat keputusan mengambil keputusan
secara kebetulan yang konsekuensinya tidak diinginkan. Untuk menyingkap
standar moral yang implisit yang merupakan dasar penilaian moral seseorang,
orang harus melacak kembali penalaran moralnya ke dasar-dasarnya. Hal ini
dilakukan dengan menanyakan (a) standar informasi faktual apa yang diterima
seseorang sebagai bukti penilaian moral ini? (b) standar moral apakah yang
diperlukan untuk menghubungkan informasi faktual ini (secara logis) dengan
penilaian moral?

Menurut Kurniawan (2016) , dalam meningkatkan perkembangan penalaran


moral, hendaknya keluarga melakukan tindakan sebagai berikut :

1. Jangan terlalu sering memerintah kebaikan moral dengan ancaman, sebab


akan membuat anak tertekan. Cara ini hanya tepat untuk hal-hal yang
bersifat prinsip, misalnya menyuruh anak untuk beribadah.
2. Berilah hadiah saat memerintah anak untuk melakukan kebaikan. Hal ini
lebih baik daripada memerintah kebaikan dengan ancaman hukuman.
Dengan cara ini anak-anak akan lebih senang dan bergembira saat
melakukan kebaikan, karena akan mendapatkan hadiah.
3. Jika cara kedua dilakukan secara terus-menerus, hal itu akan memberikan
dampak ketergantungan anak pada hadiah. Oleh karena itu, perlu
ditingkatkan dengan cara yang ketiga, yaitu anak berbuat baik karena
ingin disebut anak baik atau dipuji sebagai anak baik.
1.2.3. Menganalisis Penalaran Moral
Ada beragam kriteria ysng digunakan para ahli etika untuk mengevaluasi
kelayakan penalaran moral. Pertama dan terutama, penalaran moral harus logis.
Analisis penalaran moral menuntut logika argumen yang digunakan untuk
menyusun penilaian moral telah diteliti secara ketat, asumsi moral dan faktual
yang tidak dikatakan telah dibuat secara eksplisit, dan baik asumsi maupun
premis-premisnya diperlihatkan dan terbuka terhadap kritik. Kedua, bukti faktual
yang dikutip untuk mendukung penilaian harus akurat, relevan, dan lengkap.
Ketiga, standar moral yang melibatkan penalaran moral seseorang harus
konsisten. Standar-standar itu harus konsisten satu sama lain dan dengan standar
dan keyakinan lain yang diyakini seseorang. Inkonsistensi antar standar moral
seseorang dapat disingkap dan dikoreksi dengan mencermati situasi di mana
standar moral tersebut menghadapi hal-hal yang bertentangan. Ketika
inkonsistensi standar moral disingkap dengan cara demikian, salah satu (atau
kedua) standar moral harus dimodifikasi. Dalam menentukan modifikasi macam
apa yang diperlukan, seseorang harus meneliti alasan-alasan yang dimiliki
seseorang untuk menerima standar yang inkonsisten dan menimbang alasan-
alasan untuk melihat apakah lebih penting dan berharga untuk bertahan dan
apakah kurang penting dan terbuka terhadap modifikasi.
Ada jenis konsistensi lain yang mungkin lebih penting dalam penalaran
etis. Konsistensi juga mengacu pada tuntutan bahwa seseorang harus suka rela
menerima konsekuensi penerapan standar moral seseorang secara konsisten
terhadap semua orang dalam lingkungan yang serupa. Tuntutan konsisten ini
dapat diungkap sebagai berikut:
Jika saya menilai orang tertentu secara moral dibenarkan
(atau tidak dibenarkan melakukan tindakan A dalam
lingkungan C, maka saya harus menerima bahwa hal itu
secara moral dibenarkan (atau tidak dibenarkan) untuk orang
lain manapun.
(a) Untuk melakukan tindakan apa pun yang secara relevan mirip
dengan A
(b) Dalam lingkungan mana pun yang secara relevan mirip dengan
C.

Seseorang harus menerapkan standar moral yang sama terhadap sebuah situasi
yang diterapkan pada situasi yang lain secara relevan mirip. Tuntutan konsistensi
merupakan dasar metode penting yang menunjukkan bahwa standar moral tertentu
harus dimodifikasi atau ditolak.

1.3 Argumen yang Mendukung dan yang Menentang Etika Bisnis


1.3.1. Tiga Keberatan atas Penerapan Etika ke dalam Bisnis

Pertama, beberapa berpendapat bahwa di pasar bebas kompetitif yang sempurna,


pencarian keuntungan dengan sendirinya menekankan bahwa anggota masyarakat
berfungsi dengan cara-cara yang paling menguntungkan secara sosial. Agar
beruntung, masing-masing perusahaan harus memproduksi hanya apa yang
diinginkan oleh anggota masyarakat dan harus melakukannya dengan cara yang
paling efisien yang tersedia. Anggota masyarakat akan sangat beruntung jika
manajer tidak memaksakan nilai-nilainya pada bisnis, namun mengabdikan
dirinya untuk memproduksi secara efisiein apa dianggap berharga oleh anggota
masyarakat. Beberapa asusmsi yang menjadi argumen:

a.) Sebagian besar industry tidak “kompetitif secara sempurna” seperti yang
diasumsikan oleh argumen tersebut, dan sejauh perusahaan tidak harus
berkompetisi, mereka dapat memaksimalkan keuntungan sekalipun
produksi tidak efisien.
b.) Argumen itu mengasumsikan bahwa langkah manapun yang diambil
untuk meningkatkan keuntungan, perlu menguntungkan secara sosial,
sekalipun dalam kenyatannya ada beberapa cara untuk meningkatkan
keuntungan yang sebenarnya merugikan masyarakat : memberikan polusi
yang berbahaya tidak terkontrol, iklan yang menipu, menyembunyikan
cacat produk, kecurangan, penyuapan, menghindari pajak, penetapan
harga, dan sebagainya.
c.) Argumen itu mengasumsikan bahwa dengan memproduksi apa pun yang
diinginkan oleh seluruh anggota masyarakat, ketika kenyataanya keinginan
sebagian besar masyarakat (yang miskin dan tidak diuntungkan) tidak
perlu dipenuhi karena mereka tidak dapat sepenuhnya berpartisipasi dalam
pasar.
d.) Argumen itu secara esensial membuat penilaian normative (‘’manajer
seharusnya mengabdikan diri mereka pada pencarian keuntungan yang
terfokus’’) dengan dasar standar moral yang diasumsikan, namun belum
terbukti (‘’orang hendaknya melakukan apa pun yang akan
menguntungkan mereka yang berpartisipasi di dalam pasar”).
Dengan demikian ,meskipun argumen itu berusaha menunjukkan
bahwa etika bukan suatu masalah, argumen tersebut hanya dapat
melakukannya dengan mengasumsikan standar moral yang belum terbukti
yang setidaknya tampak salah. Argumen dapat dan acap kali digunakan
untuk membenarkan tindakan tidak etis atau tindakan illegal manajer.

Argumen agen loyal mengandalkan beberapa asumsi yang dapat dipertanyakan:

a.) Argumen itu berusaha memperlihatkan bahwa etika bukan suatu masalah,
yakni dengan mengasumsikan standar moral yang tidak terbukti (‘’manajer
hendaknya mengabdi kepada majikannya dengan cara apa pun yang
diinginkanmajikannya’’).
b.) Argumen agen yang loyal mengasumsikan bahwa tidak ada batasan
kewajiban manajer melayani majikannya, namun keyatannya batas
semacam itu diekspresikan oleh institusi legal dan sosial dari mana
kewajiban tersebut muncul. Kewajiban agen didenifisikan oleh apa yang
disebut hukum agensi.
c.) Argumen agen yang loyal mengasumsikan bahwa jika manajer setuju
untuk mengabdi kepada perusahaan, maka persetujuan tersebut secara
otomatis membenarkan apapun yang dilakukan manajer demi perusahaan.

Jika tindakan itu secara moral salah, maka meskipun manajer tidak
melakukannya demi kepentingan perusahaan meskipun dia telah sepakat
untuk mengabdi perusahaan. Asumsi argumen agen yang loyal dengan
demikian keliru. Bukan berarti etika tidak mempuyai kaitan dengan
hukum. Standar moral kita kadang dimasukkan ke dalam hukum ketika
kebanyakan dari kita merasa bahwa standar moral harus ditegakkan
dengan kekuatan sistem hukum. Sebaliknya, hukum dikritik dan dihapus
ketika jelas-jelas melanggar standar moral.

1.3.2. Kasus Etika dalam Bisnis

Salah satu cara berpendapat bahwa etika seharusnya diterapkan dalam bisnis
dengan menunjukkan bahwa etika mengatur semua aktivitas manusia yang
disengaja dan karena bisnis merupakan aktivitas manusia yang disengaja, etika
hendaknya juga berperan dalam bisnis. Argumen lain untuk pandangan bahwa
etika hendaknya menjadi bagian dari bisnis menunjukkan bahwa aktivitas bisnis,
seperti aktivitas manusia lainnya, tidak dapat eksis kecuali orang yang terlibat
dalam bisnis dan komunitas sekitarnya taat terhadap standar minimal etika.

Cara persuasif lain berpendapat bahwa etika hendaknya diterapkan dalam


bisnis adalah dengan menunjukkan bahwa pertimbangan etika konsisten dengan
tujuan bisnis, khususnya dengan pencarian keuntungan. Etika konsisten dengan
pencarian keuntungan secara sederhana dapat ditunjukkan dengan menemukan
contoh-contoh perusahaan di mana sejarah etika yang bagus telah hidup
berdampingan dengan sejarah operasi bisnis yang menguntungkan. Namun
dengan menunjukkan perusahaan-perusahaan individual dimana etika hidup
berdampingan dengan pencarian keuntungan, tidak sepenuhnya memperlihatkan
bahwa ketika konsisten dengan pencarian keuntungan.

Dengan demikian, ada sejumlah argumen kuat yang mendukung


pandangan bahwa etika hendaknya diterapkan dalam bisnis. Secara serempak,
argumen-argumen tersebut sebagian filosofis dan sebagian empiris menunjukkan
bahwa bisnis berwawasan sempit ketika mereka gagal mempertimbangkan aspek
etis aktivitas mereka.

1.4 Tanggung Jawab dan Kesalahan Moral

Penilaian tentang tanggung jawab moral seseorang atau kerugian yang


ditimbulkan merupakan penilaian tentang sejauh mana seseorang pantas
disalahkan atau dihukum, atau harus membayar ganti rugi kepada pihak yang
dirugikan. Kapankah seseorang secara moral bertanggung jawab—atau
disalahkan—karena melakukan sesuatu?
Seseorang secara moral bertanggung jawab atas tindakannya dan efek-efek
merugikan yang telah diketahui:

a. Dilakukan atau dilaksanakan seseorang dengan sengaja dan secara bebas;


atau
b. Gagal dilakukan atau dicegah dan yang secara moral keliru karena orang
itu dengan sengaja atau secara bebas gagal melaksanakan atau
mencegahnya.

Seseorang juga dinilai bertanggung jawab karena gagal bertindak atau


gagal mencegah bahaya jika kelalaian seorang disengaja dan jika seseorang dapat
dan seharusnya bertindak, atau dapat dan seharusnya mencegah bahaya.

Ada kesepakatan umum bahwa ada dua kondisi yang sepenuhnya


menghilangkan tanggung jawab moral seseorang karena menyebabkan kerugian:

a. Ketidaktahuan; dan
b. Ketidakmampuan.

Sebagai tambahan atas dua kondisi yang memaklumkan itu, ada juga
beberapa faktor yang meringankan tanggung jawab moral seseorang yang
tergantung pada kejelasan kesalahan. Faktor yang memperingan mencakup:

a. Lingkungan yang mengakibatkan orang tidak pasti, namun juga tidak


yakin tentang apa yang sedang ia lakukan (hal tersebut mempengaruhi
pengetahuan seseorang);
b. Lingkungan yang menyulitkan, namun bukan tidak mungkin untuk
menghindari melakukannya (hal ini memengaruhi kebebasan seseorang);
c. Lingkungan yang mengurangi namun tidak sepenuhnya menghilangkan
keterlibatan seseorang dalam sebuah tindakan (hal ini mempengaruhi
tingkatan sampai di mana seseorang benar-benar menyebabkan kerugian);
d. Keseriusan kesalahan. Cakupan sejauh mana ketiga lingkungan yang
meringankan di atas dapat memperkecil tanggung jawab seseorang
tergantung pada tingkat keseriusan kesalahan, semakin besar
keseriusannya, semakin kecil ketiga faktor pertama tadi dapat
memperingan.
1.4.1. Tanggung Jawab Korporasi

Di dalam korporasi modern, tanggung jawab atas tindakan korporasi sering


didistribusikan kepada sejumlah pihak yang bekerja sama. Misalnya, sebuah tim
manajer mendesain sebuah mobil,tim lain mengujinya, dan tim ketiga

membuatnya, satu orang memberi perintah, memberi saranatau memastikan

sesuatu, yang lainnya melaksanakan perintah, saran dan kepastian tersebut


satukelompok membohongi pembeli dan kelompok lainnya tahu namun diam-
diam menikmati keuntungannya, satu orang menunjukkan caranya dan orang yang
lain melaksanakannya, satu kelompok melakukan kesalahan dan kelompok
lainnya menyembunyikan kesalahan itu. Variasi kerja sama itu tanpa ujung.

1.4.2. Tanggung Jawab Bawahan

Dalam sebuah korporasi, karyawan sering bertindak berdasarkan perintah


atasan mereka. Korporasi biasanya memiliki struktur otoritas hierarkis di mana
perintah dan arahan berlangsung dari struktur yang lebih tinggi ke beragam agen
pada level yang lebih rendah. Seorang wakil direktur mengatakan kepada
beberapa manajer madya bahwa mereka harus mencapai tujuan produksi tertentu
dan para manajer menengah berusaha untuk mencapainya. Siapakah yang secara
moral bertanggung jawab ketika seorang atasan memerintahkan bawahannya
untuk melaksanakan tindakan yang mereka ketahui salah?

Orang berpendapat bahwa ketika seorang bawahan bertindak sesuai dengan


perintah atasannya yang sah, dia dibebaskan dari tanggung jawab atas tindakan
yang keliru, bahkan jika bawahan adalah agen yang melakukannya. Misalnya,

para manajer pabrik semi konduktor nasional memerintahkan karyawannya untuk

menulis laporan pemerintah yang secara bohong menyatakan bahwa komponen


komputer tertentu yang dijual kepada pemerintah menjalani uji kelayakan.
BAB III

PENUTUP

Simpulan

Etika adalah “ kajian moralitas “.Meskipun etika berkaitan dengan moralitas,


namun tidak sama persis dengan moralitas. Etika adalah semacam penelaahan-
baik aktivitas penelaahan maupun hasil-hasil penelaahan itu sendiri – sedangkan
moralitas merupakan subjek. Moralitas dapat didefinisikan sebagai pedoman yang
dimiliki individu atau kelompok mengenai apa itu benar dan salah, atau baik dan
jahat. Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar
dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan
dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis.
Seperti kemampuan fisik seseorang, kemampuan emosional dan kognitif
berkembang sejalan dengan usia mereka, demikian juga kemampuan mereka
untuk menghadapi isu moral yang berkembang sepanjang hidupnya. Sebagaimana
ada tingkatan-tingkatan pertumbuhan yang teridentifikasi dalam perkembangan
fisik, kemampuan untuk membuat penilaian moral yang masuk akal juga
berkembang dalam tingkatan-tingkatan yang teridentifikasi.
Penalaran moral mengacu pada proses penalaran di mana perilaku,
institusi,atau kebijakan dinilai sesuai atau melanggar standar moral. Penalaran
moral selalu melibatkan dua komponen mendasar : (a) pemahaman tentang yang
dituntut, dilarang, dinilai atau disahkan oleh standar moral yang masuk akal; dan
(b) bukti atau informasi yang menunjukkan bahwa orang, kebijakan, institusi, atau
perilaku tertentu mempunyai ciri-ciri standar moral yang menuntut, melarang,
menilai, atau menyalahkan.
Salah satu cara berpendapat bahwa etika seharusnya diterapkan dalam bisnis
dengan menunjukkan bahwa etika mengatur semua aktivitas manusia yang
disengaja dan karena bisnis merupakan aktivitas manusia yang disengaja, etika
hendaknya juga berperan dalam bisnis. Cara persuasif lain berpendapat bahwa
etika hendaknya diterapkan dalam bisnis adalah dengan menunjukkan bahwa
pertimbangan etika konsisten dengan tujuan bisnis, khususnya dengan pencarian
keuntungan.
Faktor yang memperingan tanggung jawab moral mencakup: (a)
Lingkungan yang mengakibatkan orang tidak pasti, namun juga tidak yakin
tentang apa yang sedang ia lakukan; (b) Lingkungan yang menyulitkan, namun
bukan tidak mungkin untuk menghindari melakukannya; (c) Lingkungan yang
mengurangi namun tidak sepenuhnya menghilangkan keterlibatan seseorang
dalam sebuah tindakan; dan (d) Keseriusan kesalahan.

Di dalam korporasi modern, tanggung jawab atas tindakan korporasi sering


didistribusikan kepada sejumlah pihak yang bekerja sama. Orang berpendapat
bahwa ketika seorang bawahan bertindak sesuai dengan perintah atasannya yang
sah, dia dibebaskan dari tanggung jawab atas tindakan yang keliru, bahkan jika
bawahan adalah agen yang melakukannya.

KASUS DISKUSI

REVOLUSI NAPSTER
Shawn “Napster” Fanning yang berusia 16 tahun, mahasiswa baru di Northern
University, keluar dari sekolah dan mendirikan Napster Inc. di San Mateo,
California, bulan Mei 1999. Dua bulan sebelumnya, sembari bekerja di
dormitorium sekolahnya, dia mengembangkan sebuah website yang
memungkinkan pengguna menemukan pengguna lain yang ingin berbagi file
musik dalam format MP3 pada hard drive komputer mereka maupun program
perangkat lunak yang memperbolehkan pengguna saling menyalin file musik
melalui internet. Ketika versi awal program gratis yang dia alamatkan pada
Download.com menerima lebih dari 300.000 hits dan dijuluki “Download Minggu
Ini”, dia memutuskan mencurahkan diri seenuhnya untuk mengembangkan
program webitenya . Versi akhir programnya diluncurkan bulan Agustus 1999,
dan pada bulan Mei 2000, dengan lebih dari 10 juta orang terutama sebagian besar
mahasiswa kampus di mana Napster terkenal mengontrak website itu, dan
perusahaan Shawn menerima $15 juta dana awal dari perusahaan pemodal di
“Silicon Valley” California.

Fanning tumbuh di Brockton, Massauchettes, anak pembantu perawat dan


anak angkat sopir truk, dalam keluarga dengan empat saudara dan saudari tiri. Ia
mendapatkan nama belakang “Napster” selama pertandingan basket ketika
seorang pemain mengomentari rambut kepala kumalnya yang berkeringat.
Fanning mempelajari sendiri pemrograman dan mengikuti pekerjaan
pemrograman musim panas.

Perusahaan yang didirikan Shawn memberikan program Napster secara


gratis dan tidak memungut biaya apapun dari pengguna yang menggunakan
website itu untuk mengirimkan alamat URL di mana copy musik pribadi dapat
didownload. Namun demikian, sebulan kemudian Shawn terjebak dalam
kontroversi legal dan etis ketika dua nama rekaman, dua musisi (Metallica dan
Distress risk.Dre) dan dua kelompok dagang perusahaan musik (National Music
Publishers Association dan Recording Industry Association of America)
menggugat perusahaan berusia muda itu dengan mengklaim bahwa Software
Napster memungkinkan orang lain membuat dan mendistribusikan kopian musik
yang telah memiliki hak cipta yang dimiliki oleh musikus dan perusahaan.

Pada bulan Juni tanggal 12, dua kelompok dagang industri memberikan
peringatan awal terhadap perusahaan tersebut yang menuntut agar perusahaan itu
menghapus semua lagu yang dimiliki oleh anggota perusahaan mereka dari
direktori lagu Napster. Menurut kedua kelompok itu, sebuah survei terhadap 2555
mahasiswa menunjukkan korelasi antara pemakaian lagu-lagu oleh Napster dan
penjualan CD yang menurun. Mahasiswa marah, terutama para fans Metallica dan
Distress risk.Dre. Para pendukung Napster berdalih bahwa Napster
memperbolehkan orang mendengarkan musik yang mereka keluarkan dan mereka
beli sehingga Napster sebenarnya membantu perusahaan-perusahaan musik.
Penjualan musik meningkat lebih dari $500 juta setiap tahunnya sejak Napster
mulai beroperasi, namun perusahaan musik mengklaim bahwa itu merupakan
hasil booming ekonomi. Pendukung Napster juga berdalih individu mempunyai
hak moral dan legal untuk meminjamkan kepada individu lain rekaman musik
dalam CD yang mereka beli. Di samping itu, mereka berargumen, hukum secara
eksplisit menyatakan bahwa individu dapat membuat salinan dari musik berhak-
cipta yang telah mereka beli untuk didengarkan dengan pengguna player lain.
Lagipula menurut Fanning, Napster tidak melakukan sesuatu yang ilegal, dan
perusahaan tidak lebih bertanggung jawab jika orang lain menggunakan perangkat
lunak dan websitenya untuk menyalin musik dengan melanggar hak cipta daripada
perusahaan mobil yang bertanggung jawab ketika mobilnya digunakan oleh
maling untuk merampok bank. Sebagian besar musik yang didownload
menggunakan Napster, klaim mereka, ada pada wilayah publik (yaitu, secara legal
tidak dimiliki oleh siapa pun) dan secara legal dapat disalin.

Jika setiap orang diperbolehkan menyalin musik tanpa membayar, tuduh


mereka, akhirnya perusahaan musik akan berhenti memproduksi musik dan musisi
akan berhenti menciptakannya. Akan tetapi, musisi lain menyatakan bahwa
Napster dan webnya membuat mereka mendermakan musik mereka di hadapan
jutaan fans potensial tanpa meminta perusahaan musik untuk mensponsori
mereka. Di bulan Maret 2000, band Metallica menyewa konsultan PDNet secara
elektronik untuk “melacak” pengguna yang beranggapan mereka secara anonim
mengakses website Napster. Minggu berikutnya pengacara band itu memberikan
300.000 daftar nama kepada Napster yang diklaim Metallica melanggar hak
ciptanya dengan menggunakan jasa Napster dan yang diminta oleh Metallica
untuk dihapuskan dari jasa Napster. Fanning mengikui tuntutan Metallica, yang
drummernya, Lars Ulrich, merupakan salah satu idolanya. “Jika mereka ingin
mencuri musik kami,” kata Ulrich, “mengapa mereka tidak pergi saja ke Tower
Records dan mengambil rekamannya dari rak?”. Banyak orang muda memprotes
kalau band-band hendaknya tidak mengasingkan fansnya sendiri dengan cara itu.
Salah satu fansnya mengirimkan komentar di sebuah chat room MP3: “Biarkan
saya istirahat! Saya telah menghabiskan 16 sapi untuk album musik Metallica
sejak saya berusia belasan tahun. Mereka mengambil keuntungan dari kita dan
sekarang mereka menuduh kita mencuri dari mereka. Sungguh menakutkan!”.
Howard King, seorang penacara Los Angeles untuk Metallica dan Distress
risk.Dre, menyatakan bahwa “saya tidak mengenal Shawn Fanning, tetapi dia
anak yang sangat hebat yang muncul dengan program yang sensasional. Namun
program sensasional itu telah menyebabkan orang mengambil musik tanpa
membayar. Shawn barangkali tidak memikirkan delik-delik legal dari apa yang
telah dia ciptakan. Saya yakin pikiran tentang hal itu tidak pernah melintas di
benaknya.”

Dalam bulan Agustus 2000, seorang hakim federal di San Fransisco,


Marilyn Patel, menangani gugatan terhadap Napster. Hakim Patel menyebut
perusahaan Shawn “Monster” dan menuduh bahwa tujuan Napster adalah
menyalin musik bajakan tanpa membayarnya. Hakim memerintahkan Napster
untuk menghapuskan seluruh URL dari website berkaitan dengan materi yang
mempunyai hak cipta.

Putusan Hakim Patel itu akan menutup website perusahaan dengan segera.
Namun beberapa hari kemudian, pengadilan banding membatalkan putusan
Hakim Patel dan memperbolehkan perusahaan itu terus beroperasi. Pengampunan
itu hanya bersifat sementara. Pada hari Senin 12 Februari 2001, Pengadilan
Banding di San Fransisco memperkuat putusan Hakim Patel. Perusahaan itu
berupaya untuk mengubah putusan dengan menegosiasikan kesepakatan dengan
perusahaan musik bahwa Napster akan membayarkan bonus tahunan sebagai
imbalan pembatalan tuntutan itu.

Napster bukan satu-satunya perangkat lunak yang memungkinkan


individu-individu saling bertukar file melalui internet. Program perangkat lunak
yang bernama “Gnutella” memungkinkan individu saling bertukar sembarang file
musik, teks, atau visual melalui internet, tetapi Gnutella tidak beroperasi pada
indeks tertentu seperti website yang dibuat Napster. Pengamat memprediksi
bahwa jika Napster berhenti berbisnis, banyak website gelap akan dibuat yang
menyediakan jasa layanan yang semula disediakan oleh perusahaan Napster pada
websitenya. Benar, website bernama zeropaid.com menyedian copy-an gratis dari
Gnutella dan banyak klon Napster lainnya yang dapat digunakan user untuk
mendownload dan saling membagikan file musik digital. Tidak seperti Napster,
produk perangkat lunak ini tidak meminta website sentral menghubungkan
pengguna dengan pengguna lainnya, yang membuat perusahaan musik tidak
mungkin menemukan dan menentukan entitas tunggal yang dapat mereka tuntut.
Banyak pengamat memprediksi bahwa Napster hanya sebuah awal dari gejolak
yang akan melakukan revolusi dalam industri musik, yang memaksa indutri musik
menurunkan harganya, akan membuat musik mereka dengan mudah tersedia di
internet dan akan mengubah model bisnis mereka secara menyeluruh.

PERTANYAAN

1. Apakah permasalahan legal yang ada dalam kasus ini dan apakah
persoalan moralnya?
Bagaimanakah perbedaan kedua masalah itu dan bagaimanakah
hubungannya? Identifikasikan dan bedakanlah persoalan (isu-isu)
sistemik, korporat, dan individual yang ada dalam kasus ini.
2. Dalam penilaian Anda, apakah secara moral Shawn Fanning bersalah
mengembangkan dan meluncurkan teknologi jika mengetahui konsekuensi
yang mungkin timbul? Apakah secara moral salah jika individu
menggunakan website dan perangkat lunak Napster untuk menyalin
dengan gratis musik yang berhak-cipta yang ada pada hard drive orang
lain? Jika menurut Anda itu salah, maka jelaskanlah secara tepat mengapa
salah. Jika Anda percaya hal itu tidak salah, lalu bagaimanakah Anda
mempertahankan pendapat Anda terhadap klaim bahwa penyalinan
semacam itu adalah pencurian? Anggaplah tidak ilegal bagi individu
menyalin musik dengan menggunakan Napster. Apakah ada sesuatu yang
imoral jika melakukannya? Jelaskanlah.
3. Anggap adalah salah secara moral jika seseorang menggunakan website
dan perangkat lunak Napster untuk menyalin musik yang berhak-cipta.
Siapakah kemudian yang akan bertanggung jawab secara moral untuk
tindakan orang yang salah ini? Apakah hanya orang itu sendiri yang secara
moral bertanggung jawab? Apakah Napster, perusahaan itu secara moral
bertanggung jawab? Apakah Shawn Fanning secara moral bertanggung
jawab? Apakah operator server atau karyawan internet yang digunakan
secara moral bertanggung jawab? Bagaimanakah jika seseorang tidak
mengetahui bahwa musik itu berhak-cipta atau tidak berpikir bahwa
adalah ilegal menyalin musik yang berhak-cipta?
4. Apakah perusahaan musik berbagi tanggung jawab moral atas apa yang
terjadi? Bagaimanakah pendapat Anda tentang teknologi seperti Napster
yang mungkin mengubah industri musik? Dalam penilaian Anda, apakah
perubahan-perubahan tersebut secara etis baik atau buruk?

JAWABAN

1. Permasalahan legal yang ada adalah terjebaknya Shawn dalam kontroversi


kelegalan dan keetisan perusahaan Napster yang dituduh telah
memungkinkan orang lain untuk meng-copy dan mendistribusikan copy-an
musik yang telah memiliki hak cipta musikus dan perusahaan. Untuk
persoalan moral mengenai benar tidaknya layanan yang diberikan oleh
website Napster, Fanning selaku pemilik website Napster menjelaskan
bahwa Napster tidak melakukan sesuatu yang ilegal karena website ini
secara tidak langsung telah membantu fans untuk mengetahui terlebih
dahulu lagu-lagu di dalam CD idolanya sebelum membeli CD tersebut.
Sedangkan menurut pihak penggugat, yakni Metallica dan Distress
risk.Dre serta perusahaan musik National Music Publishers Association
dan Recording Industry Association of America menuduh perusahaan
Napster telah mencuri lagu yang memiliki hak cipta yang dilakukan oleh
anggota perusahaan.
Perbedaan di sini adalah antara masalah etis dan moral yang
dialami oleh kedua belah pihak. Melihat dari maksud etika, pihak
penggugat memegang aturan bahwa suatu karya yang telah memiliki hak
cipta adalah karya yang tidak dapat disebarluaskan dengan sembarangan
tanpa izin musikus dan perusahaan yang menaungi musikus. Serta dari sisi
moral penggugat, mereka merasa kehadiran Napster sudah salah karena
telah menurunkan jumlah penjualan CD musikus.
Selanjutnya melihat dari sisi moral, pihak Napster merasa
langkahnya untuk membuat suatu website yang menghubungkan pengguna
untuk bertemu dengan pengguna lain untuk saling berbagi musik MP3 dari
hard drive pengguna adalah tidak salah karena mereka memiliki tujuan
untuk mempermudah pengguna dalam mengakses lagu-lagu idola bagi
yang tidak dapat membeli atau belum sempat membeli CD lagu idola dan
masalah moral ini juga disampaikan oleh pengguna yang mana mereka
yang awalnya sangat kesulitan untuk sekedar membeli CD idola yang
begitu mahal harganya dan kemudian merasa dipermudah dengan adanya
website Napster ini. Jadi mengakibatkan adanya hubungan antara masalah
etika dan moral yang berbelit-belit antara sikap yang benar atau yang salah
sehingga kedua belah pihak sangat kuat dengan pemikiran dan keputusan
masing-masing atas tindakan yang telah mereka lakukan.
Persoalan sistemik, korporat, dan individual dalam kasus:
a. Persoalan sistemik yang muncul dalam kasus adalah adanya
gugatan yang membawa nama Napster ke arah pengadilan untuk
dituntut atas tindakan pencurian musik yang dituduhkan oleh
penggugat kepada Napster.
b. Persoalan korporat yang terjadi adalah kemungkinan adanya
pengguna atau anggota perusahaan Napster yang memiliki niatan
untuk menjual copy-an CD asli yang telah memiliki hak cipta dan
mendistribusikan CD copy-an tersebut.
c. Persoalan individu adalah persoalan antara masing-masing pihak,
yakni pihak penggugat yang merasa dirugikan atas munculnya
website Napster dan pihak Napster yang merasa tidak bersalah atas
tuduhan yang diberikan oleh penggugat serta perbuatan pengguna
yang dimungkinkan telah menyalin musik.
2. Menurut penilaian kami, Shawn Fanning tidak bersalah dalam
mengembangkan dan meluncurkan suatu teknologi dan inovasi yang justru
membantu pengguna dalam mengakses lagu-lagu idola meskipun dengan
adanya konsekuensi seperti tuduhan pencurian musik karena pada tujuan
dibentuknya website Napster ini sendiri adalah untuk mempermudah
pengguna dalam menikmati lagu, bukan untuk menyalin dan
mendistribusikan lagu dengan ilegal secara luas.
Untuk persoalan moral pengguna yang memanfaatkan kehadiran
website Napster untuk menyalin dengan gratis musik yang telah memiliki
hak cipta (bukan menyimpan di memori handphone yang biasa orang-
orang saat ini lakukan) itu salah apabila dalam artian mendistribusikan
kembali yang dapat diartikan seperti penjualan bebas dan hak cipta yang
dihapus dari musik yang telah didistribusikan tersebut karena dapat
merugikan penjualan pihak industri musik. Namun apabila pengguna
hanya menyimpan musik atau sekedar bertukar musik dari hard drive
pengguna lain, hal tersebut tidak salah karena pengguna tidak
memanfaatkan kehadiran website Napster dengan cara yang salah. Justru
dengan menyimpan lagu dan saling bertukar musik seperti itu, pengguna
akan semakin dimudahkan dalam mengaskes musik-musik idola yang
ingin dimiliki atau setidaknya sebagai spoiler sebelum membeli CD idola.
Perbuatan seperti menyalin sebuah karya yang mana telah memiliki
hak cipta pasti akan mengecewakan pemilik karya dan tentunya merugikan
diri pemilik dan perusahaan penaung. Musisi pasti telah bekerja keras
dalam menciptakan sebuah musik yang apik untuk penikmatnya, namun
tiba-tiba karya yang telah diciptakan dengan kerja keras tersebut telah
disalin dengan semena-mena oleh pihak yang tidak bertanggung jawab
pasti hal tersebut adalah perbuatan yang tidak menghormati karya orang
lain sama sekali. Jadi perbuatan menyalin karya tanpa izin pemilik adalah
perbuatan yang imoral.
3. Menurut kami, individu yang berbuat kesalah dengan menyalin musik itu
lah yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Tidak mungkin
Napster ikut bertanggung jawab karena pihak Napster hanyalah pihak
website yang bertujuan untuk mempermudah akses dalam menikmati
musik-musik apik, bukan untuk akses menyalin musik secara ilegal.
Apabila seseorang yang melakukan keslaahan tersebut tidak mengetahui
bahwa musik disalin telah memiliki hak cipta atau berpikir perbuatan
menyalin musik berhak-cipta adalah ilegal, mungkin seseorang tersebut
dapat diberikan keringanan dan pendistribusian musik yang telah
dilakukan oleh pelaku harus ditarik dari masyarakat yang telah membeli.
4. Perusahaan musik harus bertanggung jawab moral apabila tuduhan yang
diberikan kepada Napster terbukti salah dan tanggung jawab itu juga harus
dibagi kepada seluruh penggugat yang memberikan tuduhan pencurian
tersebut.
Menurut pendapat kami, kemunculan teknologi seperti Napster
dalam industri musik membawa perubahan etis yang baik. Sejujurnya,
apabila pengguna menggunakan teknologi dalam segi cara yang benar
yakni tidak menyalin an menyebarluaskan apalagi mendistribusikan
kembali tanpa hak cipta pastinya teknologi seperti Napster ini sangat
membantu pengguna dalam menikmati lagu-lagu dalam CD atau Album
idola yang belum bisa dimiliki. Jadi tidak ada satu pun penggemar yang
merasa terasingkan karena tidak mengetahui lagu-lagu terbaru yang
dikeluarkan oleh idola.
DAFTAR PUSTAKA

Kurniawan, H. 2016. Meningkatkan Penalaran Moral Anak. (Online),


(https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/m/index.php?r=tpost/xview&id=3511),
diakses tanggal 25 Januari 2019
Hidayat, F. 2018. Kasus Suap Moge, Eks Auditor BPK Dituntut 9 Tahun Bui.
(Online), (https://m.detik.com/news/berita/4019915/kasus-suap-moge-eks-auditor-
bpk-dituntut-9tahun-bui), diakses tanggal 25 Januari 2019
Badroen, F., et al. 2006. Etika Bisnis dalam Islam, Kencana Prenada Group,
Jakarta.