Anda di halaman 1dari 6

KASUS DISKUSI

REVOLUSI NAPSTER

Shawn “Napster” Fanning yang berusia 16 tahun, mahasiswa baru di Northern University,
keluar dari sekolah dan mendirikan Napster Inc.di San Mateo, California, bulan Mei 1999.
Dua bulan sebelumnya, sembari bekerja di dormitorium sekolahnya, dia mengembangkan
sebuah website yang memungkinkan pengguna menemukan pengguna lain yang ingin
berbagi file musik dalam format MP3 pada hard drive komputer mereka maupun program
perangkat lunak yang memperbolehkan pengguna saling menyalin file musik melalui
internet. Ketika versi awal program gratis yang dia alamatkan pada Download.com menerima
lebih dari 300.000 hits dan dijuluki “Download Minggu Ini”, dia memutuskan mencurahkan
diri seenuhnya untuk mengembangkan program webitenya . Versi akhir programnya
iluncurkan bulan Agustus 1999, dan pada bulan Mei 2000, dengan lebih dari 10 juta orang
terutama sebagian besar mahasiswa kampus di mana Napster terkenal mengontrak website
itu, dan perusahaan Shawn menerima $15 juta dana awal dari perusahaan pemodal di “Silicon
Valley” California.
Fanning tumbuh di Brockton, Massauchettes, anak pembantu perawat dan anak
angkat sopir truk, dalam keluarga dengan empat saudara dan saudari tiri. Ia mendapatkan
nama belakang “Napster” selama pertandingan basket ketika seorang pemain mengomentari
rambut kepala kumalnya yang berkeringat. Fanning mempelajari sendiri pemrograman dan
mengikuti pekerjaan pemrograman musim panas.
Perusahaan yang didirikan Shawn memberikan program Napster secara gratis dan
tidak memungut biaya apapun dari pengguna yang menggunakan website itu untuk
mengirimkan alamat URL di mana copy musik pribadi dapat didownload. Namun demikian,
sebulan kemudian Shawn terjebak dalam kontroversi legal dan etis ketika dua nama rekaman,
dua musisi (Metallica dan Distress risk.Dre) dan dua kelompok dagang perusahaan musik
(National Music Publishers Association dan Recording Industry Association of America)
menggugat perusahaan berusia muda itu dengan mengklaim bahwa Software Napster
memungkinkan orang lain membuat dan mendistribusikan kopian musik yang telah memiliki
hak cipta yang dimiliki oleh musikus dan perusahaan.
Pada bulan Juni tanggal 12, dua kelompok dagang industri memberikan peringatan
awal terhadap perusahaan tersebut yang menuntut agar perusahaan itu menghapus semua lagu
yang dimiliki oleh anggota perusahaan mereka dari direktori lagu Napster. Menurut kedua
kelompok itu, sebuah survei terhadap 2555 mahasiswa menunjukkan korelasi antara
pemakaian lagu-lagu oleh Napster dan penjualan CD yang menurun. Mahasiswa marah,
terutama para fans Metallica dan Distress risk.Dre. Para pendukung Napster berdalih bahwa
Napster memperbolehkan orang mendengarkan musik yang mereka keluarkan dan mereka
beli sehingga Napster sebenarnya membantu perusahaan-perusahaan musik. Penjualan musik
meningkat lebih dari $500 juta setiap tahunnya sejak Napster mulai beroperasi, namun
perusahaan musik mengklaim bahwa itu merupakan hasil booming ekonomi. Pendukung
Napster juga berdalih individu mempunyai hak moral dan legal untuk meminjamkan kepada
individu lain rekaman musik dalam CD yang mereka beli. Di samping itu, mereka
berargumen, hukum secara eksplisit menyatakan bahwa individu dapat membuat salinan dari
dari musik berhak-cipta yang telah mereka beli untuk didengarkan dengan pengguna player
lain. Lagipula menurut Fanning, Napster tidak melakukan sesuatu yang ilegal, dan
perusahaan tidak lebih bertanggung jawab jika orang lain menggunakan perangkat lunak dan
websitenya untuk menyalin musik dengan melanggar hak cipta daripada perusahaan mobil
yang bertanggung jawab ketika mobilnya digunakan oleh maling untuk merampok bank.
Sebagian besar musik yang didownload menggunakan Napster, klaim mereka, ada pada
wilayah publik (yaitu, secara legal tidak dimiliki oleh siapa pun) dan secara legal dapat
disalin.
Jika setiap orang diperbolehkan menyalin musik tanpa membayar, tuduh mereka,
akhirnya perusahaan musik akan berhenti memproduksi musik dan musisi akan berhenti
menciptakannya. Akan tetapi, musisi lain menyatakan bahwa Napster dan webnya membuat
mereka mendermakan musik mereka di hadapan jutaan fans potensial tanpa meminta
perusahaan musik untuk mensponsori mereka. Di bulan Maret 2000, band Metallica
menyewa konsultan PDNet secara elektronik untuk “melacak” pengguna yang beranggapan
mereka secara anonim mengakses website Napster. Minggu berikutnya pengacara band itu
memberikan 300.000 daftar nama kepada Napster yang diklaim Metallica melanggar hak
ciptanya dengan menggunakan jasa Napster dan yang diminta oleh Metallica untuk
dihapuskan dari jasa Napster. Fanning mengikui tuntutan Metallica, yang drummernya, Lars
Ulrich, merupakan salah satu idolanya. “Jika mereka ingin mencuri musik kami,” kata Ulrich,
“mengapa mereka tidak pergi saja ke Tower Records dan mengambil rekamannya dari rak?”.
Banyak orang muda memprotes kalau band-band hendaknya tidak mengasingkan fansnya
sendiri dengan cara itu. Salah satu fansnya mengirimkan komentar di sebuah chat room MP3:
“Biarkan saya istirahat! Saya telah menghabiskan 16 sapi untuk album musik Metallica sejak
saya berusia belasan tahun. Mereka mengambil keuntungan dari kita dan sekarang mereka
menuduh kita mencuri dari mereka. Sungguh menakutkan!”. Howard King, seorang penacara
Los Angeles untuk Metallica dan Distress risk.Dre, menyatakan bahwa “saya tidak mengenal
Shawn Fanning, tetapi dia anak yang sangat hebat yang muncul dengan program yang
sensasional. Namun program sensasional itu telah mnyebabkan orang mengambil musik
tanpa membayar. Shawn barangkali tidak memikirkan delik-delik legal dari apa yang telah
dia ciptakan. Saya yakin pikiran tentang hal itu tidak pernah melintas di benaknya.”
Dalam bulan Agustus 2000, seorang hakim federal di San Fransisco, Marilyn Patel,
menangani gugatan terhadap Napster. Hakim Patel menyebut perusahaan Shawn “Monster”
dan menuduh bahwa tujuan Napster adalah menyalin musik bajakan tanpa membayarnya.
Hakim memerintahkan Napster untuk menghapuskan seluruh URL dari website berkaitan
dengan materi yang mempunyai hak cipta.
Putusan Hakim Patel itu akan menutup website perusahaan dengan segera. Namun
beberapa hari kemudian, pengadilan banding membatalkan putusan Hakim Patel dan
memperbolehkan perusahaan itu terus beroperasi. Pengampunan itu hanya bersifat sementara.
Pada hari Senin 12 Februari 2001, Pengadilan Banding di San Fransisco memperkuat putusan
Hakim Patel. Perusahaan itu berupaya untuk mengubah putusan dengan menegosiasikan
kesepakatan dengan perusahaan musik bahwa Napster akan membayarkan bonus tahunan
sebagai imbalan pembatalan tuntutan itu.
Napster bukan satu-satunya perangkat lunak yang memungkinkan individu-individu
saling bertukar file melalui internet. Program perangkat lunak yang bernama “Gnutella”
memungkinkan individu saling bertukar sembarang file musik, teks, atau visual melalui
internet, tetapi Gnutella tidak beroperasi pada indeks tertentu seperti website yang dibuat
Napster. Pengamat memprediksi bahwa jika Napster berhenti berbisnis, banyak website gelap
akan dibuat yang menyediakan jasa layanan yang semula disediakan oleh perusahaan Napster
pada websitenya. Benar, website bernama zeropaid.com menyedian copy-an gratis dari
Gnutella dan banyak klon Napster lainnya yang dapat digunakan user untuk mendownload
dan saling membagikan file musik digital. Tidak seperti Napster, produk perangkat lunak ini
tidak meminta website sentral menghubungkan pengguna dengan pengguna lainnya, yang
membuat perusahaan musik tidak mungkin menemukan dan menentukan entitas tunggal yang
dapat mereka tuntut. Banyak pengamat memprediksi bahwa Napster hanya sebuah awal dari
gejolak yang akan melakukan revolusi dalam industri musik, yang memaksa indutri musik
menurunkan harganya, akan membuat musik mereka dengan mudah tersedia di internet dan
akan mengubah model bisnis mereka secara menyeluruh.

PERTANYAAN
1. Apakah permasalahan legal yang ada dalam kasus ini dan apakah persoalan
moralnya?
Bagaimanakah perbedaan kedua masalah itu dan bagaimanakah hubungannya?
Identifikasikan dan bedakanlah persoalan (isu-isu) sistemik, korporat, dan individual
yang ada dalam kasus ini.
2. Dalam penilaian Anda, apakah secara moral Shawn Fanning bersalah
mengembangkan dan meluncurkan teknologi jika mengetahui konsekuensi yang
mungkin timbul? Apakah secara moral salah jika individu menggunakan website dan
perangkat lunak Napster untuk menyalin dengan gratis musik yang berhak-cipta yang
ada pada hard drive orang lain? Jika menurut Anda itu salah, maka jelaskanlah secara
tepat mengapa salah. Jika Anda percaya hal itu tidak salah, lalu bagaimanakah Anda
mempertahankan pendapat Anda terhadap klaim bahwa penyalinan semacam itu
adalah pencurian? Anggaplah tidak ilegal bagi individu menyalin musik dengan
menggunakan Napster. Apakah ada sesuatu yang imoral jika melakukannya?
Jelaskanlah.
3. Anggap adalah salah secara moral jika seseorang menggunakan website dan
perangkat lunak Napster untuk menyalin musik yang berhak-cipta. Siapakah
kemudian yang akan bertanggung jawab secara moral untuk tindakan orang yang
salah ini? Apakah hanya orang itu sendiri yang secara moral bertanggung jawab?
Apakah Napster, perusahaan itu secara moral bertanggung jawab? Apakah Shawn
Fanning secara moral bertanggung jawab? Apakah operator server atau karyawan
internet yang digunakan secara moral bertanggung jawab? Bagaimanakah jika
seseorang tidak mengetahui bahwa musik itu berhak-cipta atau tidak berpikir bahwa
adalah ilegal menyalin musik yang berhak-cipta?
4. Apakah perusahaan musik berbagi tanggung jawab moral atas apa yang terjadi?
Bagaimanakah pendapat Anda tentang teknologi seperti Napster yang mungkin
mengubah industri musik? Dalam penilaian Anda, apakah perubahan-perubahan
tersebut secara etis baik atau buruk?

JAWABAN

1. Permasalahan legal yang ada adalah terjebaknya Shawn dalam kontroversi kelegalan
dan keetisan perusahaan Napster yang dituduh telah memungkinkan orang lain untuk
meng-copy dan mendistribusikan copy-an musik yang telah memiliki hak cipta
musikus dan perusahaan. Untuk persoalan moral mengenai benar tidaknya layanan
yang diberikan oleh website Napster, Fanning selaku pemilik website Napster
menjelaskan bahwa Napster tidak melakukan sesuatu yang ilegal karena website ini
secara tidak langsung telah membantu fans untuk mengetahui terlebih dahulu lagu-
lagu di dalam CD idolanya sebelum membeli CD tersebut. Sedangkan menurut pihak
penggugat, yakni Metallica dan Distress risk.Dre serta perusahaan musik National
Music Publishers Association dan Recording Industry Association of America
menuduh perusahaan Napster telah mencuri lagu yang memiliki hak cipta yang
dilakukan oleh anggota perusahaan.
Perbedaan di sini adalah antara masalah etis dan moral yang dialami oleh
kedua belah pihak. Melihat dari maksud etika, pihak penggugat memegang aturan
bahwa suatu karya yang telah memiliki hak cipta adalah karya yang tidak dapat
disebarluaskan dengan sembarangan tanpa izin musikus dan perusahaan yang
menaungi musikus. Serta dari sisi moral penggugat, mereka merasa kehadiran Napster
sudah salah karena telah menurunkan jumlah penjualan CD musikus.
Selanjutnya melihat dari sisi moral, pihak Napster merasa langkahnya untuk
membuat suatu website yang menghubungkan pengguna untuk bertemu dengan
pengguna lain untuk saling berbagi musik MP3 dari hard drive pengguna adalah tidak
salah karena mereka memiliki tujuan untuk mempermudah pengguna dalam
mengakses lagu-lagu idola bagi yang tidak dapat membeli atau belum sempat
membeli CD lagu idola dan masalah moral ini juga disampaikan oleh pengguna yang
mana mereka yang awalnya sangat kesulitan untuk sekedar membeli CD idola yang
begitu mahal harganya dan kemudian merasa dipermudah dengan adanya website
Napster ini. Jadi mengakibatkan adanya hubungan antara masalah etika dan moral
yang berbelit-belit antara sikap yang benar atau yang salah sehingga kedua belah
pihak sangat kuat dengan pemikiran dan keputusan masing-masing atas tindakan yang
telah mereka lakukan.
Persoalan sistemik, korporat, dan individual dalam kasus:
a. Persoalan sistemik yang muncul dalam kasus adalah adanya gugatan yang
membawa nama Napster ke arah pengadilan untuk dituntut atas tindakan
pencurian musik yang dituduhkan oleh penggugat kepada Napster.
b. Persoalan korporat yang terjadi adalah kemungkinan adanya pengguna atau
anggota perusahaan Napster yang memiliki niatan untuk menjual copy-an CD
asli yang telah memiliki hak cipta dan mendistribusikan CD copy-an tersebut.
c. Persoalan individu adalah persoalan antara masing-masing pihak, yakni pihak
penggugat yang merasa dirugikan atas munculnya website Napster dan pihak
Napster yang merasa tidak bersalah atas tuduhan yang diberikan oleh
penggugat serta perbuatan pengguna yang dimungkinkan telah menyalin
musik.
2. Menurut penilaian kami, Shawn Fanning tidak bersalah dalam mengembangkan dan
meluncurkan suatu teknologi dan inovasi yang justru membantu pengguna dalam
mengakses lagu-lagu idola meskipun dengan adanya konsekuensi seperti tuduhan
pencurian musik karena pada tujuan dibentuknya website Napster ini sendiri adalah
untuk mempermudah pengguna dalam menikmati lagu, bukan untuk menyalin dan
mendistribusikan lagu dengan ilegal secara luas.
Untuk persoalan moral pengguna yang memanfaatkan kehadiran website
Napster untuk menyalin dengan gratis musik yang telah memiliki hak cipta (bukan
menyimpan di memori handphone yang biasa orang-orang saat ini lakukan) itu salah
apabila dalam artian mendistribusikan kembali yang dapat diartikan seperti penjualan
bebas dan hak cipta yang dihapus dari musik yang telah didistribusikan tersebut
karena dapat merugikan penjualan pihak industri musik. Namun apabila pengguna
hanya menyimpan musik atau sekedar bertukar musik dari hard drive pengguna lain,
hal tersebut tidak salah karena pengguna tidak memanfaatkan kehadiran website
Napster dengan cara yang salah. Justru dengan menyimpan lagu dan saling bertukar
musik seperti itu, pengguna akan semakin dimudahkan dalam mengaskes musik-
musik idola yang ingin dimiliki atau setidaknya sebagai spoiler sebelum membeli CD
idola.
Perbuatan seperti menyalin sebuah karya yang mana telah memiliki hak cipta
pasti akan mengecewakan pemilik karya dan tentunya merugikan diri pemilik dan
perusahaan penaung. Musisi pasti telah bekerja keras dalam menciptakan sebuah
musik yang apik untuk penikmatnya, namun tiba-tiba karya yang telah diciptakan
dengan kerja keras tersebut telah disalin dengan semena-mena oleh pihak yang tidak
bertanggung jawab pasti hal tersebut adalah perbuatan yang tidak menghormati karya
orang lain sama sekali. Jadi perbuatan menyalin karya tanpa izin pemilik adalah
perbuatan yang imoral.
3. Menurut kami, individu yang berbuat kesalah dengan menyalin musik itu lah yang
harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Tidak mungkin Napster ikut bertanggung
jawab karena pihak Napster hanyalah pihak website yang bertujuan untuk
mempermudah akses dalam menikmati musik-musik apik, bukan untuk akses
menyalin musik secara ilegal. Apabila seseorang yang melakukan keslaahan tersebut
tidak mengetahui bahwa musik disalin telah memiliki hak cipta atau berpikir
perbuatan menyalin musik berhak-cipta adalah ilegal, mungkin seseorang tersebut
dapat diberikan keringanan dan pendistribusian musik yang telah dilakukan oleh
pelaku harus ditarik dari masyarakat yang telah membeli.
4. Perusahaan musik harus bertanggung jawab moral apabila tuduhan yang diberikan
kepada Napster terbukti salah dan tanggung jawab itu juga harus dibagi kepada
seluruh penggugat yang memberikan tuduhan pencurian tersebut.
Menurut pendapat kami, kemunculan teknologi seperti Napster dalam industri
musik membawa perubahan etis yang baik. Sejujurnya, apabila pengguna
menggunakan teknologi dalam segi cara yang benar yakni tidak menyalin an
menyebarluaskan apalagi mendistribusikan kembali tanpa hak cipta pastinya
teknologi seperti Napster ini sangat membantu pengguna dalam menikmati lagu-lagu
dalam CD atau Album idola yang belum bisa dimiliki. Jadi tidak ada satu pun
penggemar yang merasa terasingkan karena tidak mengetahui lagu-lagu terbaru yang
dikeluarkan oleh idola.