Anda di halaman 1dari 5

http://jurnal.fk.unand.ac.

id 685

Artikel Penelitian

Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Etanol Umbi Bawang Dayak


(Eleutherine americana (Aubl.) Merr. Ex K. Heyne.) terhadap
Trichophyton mentagrophytes secara In Vitro

1 2 3
Woris Christoper , Diana Natalia , Sari Rahmayanti

Abstrak
Dermatofitosis adalah suatu infeksi pada jaringan berkeratin yang disebabkan karena adanya kolonisasi dari
jamur jenis dermatofita. Salah satu spesies dermatofita yang paling banyak menginfeksi yaitu Trichophyton
mentagrophytes. Tanaman bawang dayak (Eleutherine americana (Aubl.) Merr. Ex K. Heyne) merupakan tanaman
yang biasa digunakan masyarakat untuk mengobati penyakit kulit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas
antijamur ekstrak etanol umbi bawang terhadap pertumbuhan Trichophyton mentagrophytes,
mentagrophytes, mengetahui kandungan
metabolit sekunder dan untuk mengetahui konsentrasi efektif larutan uji yang dapat menghambat pertumbuhan
Trichophyton mentagrophytes. Metodologi penelitian ini merupakan eksperimental
eksperimental murni secara in-vitro dengan
rancangan acak lengkap posttest only control group design.
design. Aktivitas antijamur ekstrak diuji dengan metode difusi
cakram Kirby-Bauer.
Bauer. Kontrol positif yang digunakan adalah itrakonazol 8 µg dan kontrol negatif adalah Tween 80 10%.
Hasil penelitian adalah ekstrak etanol umbi bawang dayak memiliki aktivitas antijamur pada konsentrasi 600; 300;
150 mg/mL, KHM pada 150 mg/mL dengan zona hambat 9,15 mm, hasil skrining fitokimia didapatkan fenol,
flavonoid,, tanin, saponin, dan kuinon. Simpulan studi ini ialah ekstrak etanol umbi bawang dayak memiliki aktivitas
antijamur terhadap Trichophyton mentagrophytes
Kata kunci: antijamur,, ekstrak etanol umbi bawang dayak, Trichophyton mentagrophytes

Abstract
Dermatophytoses are an infection on keratinized cell cause by dermatophytes. Dermatophyte that often
infected was Trichophyton mentagrophytes. One of the plants that was usually used as medicine by the society were
Eleutherine
utherine americana. The objective of this study was to determine the antifungals activity of ethanol extract
of Eleuthrine americana bulbus against Trichophyton mentagrophytes in vitro, the secondary metabolite compounds ,
and the minimum inhibitory concentration (MIC). This study is an in vitro laboratory experimental study with complete
randomized design and post-test
test only control group design. The antifungal activity was determined in the extracts
using Kirby-Bauer
Bauer Disc Diffusion methods against Trichophyton mentagrophytes. Itraconazole 8 μg/disc was used as
positive control while Tween
n 80 10% ad aquadest was used as negative control. Based on the study result, ethanolic
extract of Eleutherine americana bulbus has an antifungal activity at concentration of 600; 300; 150; mg/mL, MIC at
150 mg/mL with zone of inhibition 9,15 mm, phytochemical screening test, contains phenol, flavonoid, tannin,
saponin, and quinone. The conclusion is Ethanolic extract of Eleutherine americana bulbus has an antifungal activity
against Trichophyton mentagrophytes.
Keywords: antifungal,, ethanolic extract of Eleuthrine americana bulbus, Trichophyton mentagrophytes

Affiliasi penulis: 1. Program Studi Pendidikan Dokter, FK Untan Korespondensi: Woris Christoper,Email : Worizzz@gmail.com Telp:
(Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura). 2. Departemen 085750169088
Parasitologi FK Untan.. 3. Departemen Mikrobiologi FK Untan.

Jurnal Kesehatan Andalas. 2017;


201 6(3)
http://jurnal.fk.unand.ac.id 686

PENDAHULUAN METODE
Jamur (fungi) adalah mikroorganisme yang Penelitian telah dilakukan di Laboraturium
termasuk golongan eukariotik dan tidak termasuk Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas
1
golongan tumbuhan. Jamur dapat menyebabkan Tanjungpura dari Agustus sampai Oktober 2014. Studi
terjadinya infeksi pada manusia. Salah satu infeksi ini bersifat eksperimental dengan desain postest only
akibat jamur dengan insidensi tertinggi yaitu control group design. Variabel bebas adalah ekstrak
2
dermatofitosis. Dermatofitosis adalah suatu infeksi etanol umbi bawang dayak (Eleutherine americana
pada jaringan berkeratin (rambut, kulit, dan kuku) yang (Aubl.) Merr. ex K. Heyne) dengan berbagai
disebabkan karena adanya kolonisasi dari jamur konsentrasi yaitu 3,75%, 7,5%, 15%, 30% dan 60%
jenis dermatofita. Infeksi akibat jamur dermatofita dan variabel terpengaruh adalah jamur Trichophyton
dapat ditemukan di seluruh dunia, diperkirakan 20- mentagrophytes. Data hasil penelitian diolah dengan
25% dari populasi dunia telah terinfeksi oleh jamur uji Anova satu arah dengan derajat kepercayaan 95%
dermatofita. Salah satu spesies dermatofita yang (=0,05), bila didapat perbedaan nyata antar perlakuan
paling banyak menginfeksi yaitu Trichophyton maka akan dilanjutkan dengan uji korelasi Pearson
2
mentagrophytes. untuk menentukan korelasi antara peningkatan
Dermatofitosis akibat Trichophyton menta- konsentrasi ekstrak dan diameter zona hambat yang
grophytes dapat ditangani dengan pemberian obat terbentuk.
antijamur baik melalui jalur sistemik maupun topikal.
Penggunaan obat antijamur tersebut memiliki HASIL
3,4
beberapa efek samping yang tidak diinginkan. Oleh Aktivitas antijamur ekstrak etanol umbi bawang
sebab itu perlu dicari agen pengobatan yang baru dayak dapat diamati melalui diameter zona hambat
dengan aktivitas antijamur yang lebih baik dengan yang terbentuk pada media uji yang telah diletakkan
4
toksisitas, serta efek samping yang lebih minimal. dengan kertas cakram. Hasil pengamatan uji aktivitas
Salah satu implementasi pengobatan alternatif antijamur ekstrak etanol umbi bawang dayak terhadap
sekarang ini adalah penggunaan tumbuh-tumbuhan Trichophyton mentagrophytes setelah diinkubasi
5
sebagai obat herbal. selama 5 hari pada suhu 25℃ pada Tabel1.
Bawang dayak (Eleutherine americana (Aubl.)
Merr. ex K. Heyne) merupakan salah satu jenis Tabel 1. Hasil uji aktivitas antijamur ekstrak etanol
tumbuhan yang memiliki potensi sebagai obat umbi bawang dayak (Eleutherine americana (Aubl.)
6,7,8
herbal. Secara empiris umbi bawang dayak Merr. ex K. Heyne) terhadap pertumbuhan
digunakan untuk mengatasi bisul. Umbi bawang dayak Trichophyton mentagrophytes
memiliki kandungan senyawa aktif yaitu naftokuinon, Konsen- Diameter Zona Hambat (mm)
eleutherin, eleutherol dan isoeleutherine. Naftokuinon trasi I II III IV Rerata
yang terkandung dalam umbi bawang dayak
60% 23,35 29,48 27,75 26,23 26,70
merupakan golongan kuinon yang memiliki efek
± 1,31
sebagai antimikroba, antijamur, antiviral, dan
30% 14,75 10,45 10,58 12,83 12,15
9
antiparasit. Ekstrak etanol dari umbi bawang dayak ± 1,02
dilaporkan memiliki kemampuan dalam menghambat 15% 12,28 8,65 9,50 8,58 9,75
pertumbuhan Staphylococcus aureus dan ± 0,87
Trichophyton rubrum, sehingga ekstrak etanol umbi 7,5% 0 0 0 0 0

bawang dayak juga diduga memiliki aktivitas dalam 3,75% 0 0 0 0 0


menghambat pertumbuhan Trichophyton Kontrol + 11,85 11,55 14,70 12,15 12,56
10
mentagrophytes. Oleh sebab itu perlu dilakukan
± 0,72
penelitian mengenai aktivitas antijamur dari ekstrak
Kontrol - 0 0 0 0 0
etanol umbi bawang dayak terhadap jamur
Trichophyton mentagrophytes.

Jurnal Kesehatan Andalas. 2017; 6(3)


http://jurnal.fk.unand.ac.id 687

Hasil skrining fitokimia pada ekstrak etanol sensitif terhadap jamur golongan dermatofita. Kontrol
umbi bawang dayak mengandung senyawa metabolit negatif yang digunakan dalam penelitian adalah
sekunder yaitu fenol, flavonoid, tanin, saponin, dan persentase Tween ad aquadest. Konsentrasi kontrol
kuinon. Hasil skrining fitokimia pada ekstrak etanol negatif disesuaikan dengan yang digunakan pada
umbi bawang dayak dapat dilihat pada Tabel 2. pembuatan konsentrasi larutan uji.Kontrol positif yang
digunakan adalah itrakonazol 8µg/disk. Tween
Tabel 2. Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol umbi digunakan sebagai kontrol negatif karena tween
bawang dayak (Eleutherine americana (Aubl.) Merr. ex digunakan untuk melarutkan ekstrak dalam
K. Heyne) pembuatan larutan uji yang digunakan untuk pengujian
Pemeriksaan Pereaksi Hasil aktivitas antijamur ekstrak etanol umbi bawang dayak,
1. Fenol FeCl3 1% + oleh karena itu harus bersifat negatif dan tidak
2. Flavonoid Mg + HCl pekat + memberikan aktivitas antijamur.
3. Tanin FeCl3 5% + Hasil uji aktivitas antijamur menunjukkan
4. Saponin Aquades + kontrol negatif tidak memiliki aktivitas sebagai
5. Alkaloid HCl 2N antijamur yang ditunjukkan dengan tidak adanya zona
ditambahkan: - hambat di sekitar cakram. Kontrol positif itrakonazol
Pereaksi Meyer - memberikan hasil rerata diameter zona hambat 12,56
Pereaksi - mm, zona hambat tersebut dikategorikan sensitif
Dragendorf apabila dosis obat ditingkatkan. Obat ini dikatakan
Pereaksi sensitif apabila memilki zona hambat ≥16 mm; sensitif
Wagner apabila dosis ditingkatkan 10-15 mm; dan resisten <9
6. Kuinon NaOH 15% + mm. Uji aktivitas antijamur dilakukan dengan variasi
7. Steroid/Triterpenoid CH3COOH - konsentrasi larutan uji600; 300; 150; 75; 37,5 mg/mL,
glasial + H2SO4 dari konsentrasi tersebut didapatkan adanya zona
pekat hambat pada konsentrasi 600; 300; 150; mg/mL.
Berdasarkan hasil pengamatan uji aktivitas antijamur
PEMBAHASAN dari ekstrak etanolumbi bawang dayak terhadap
Uji aktivitas antijamur pada penelitian ini telah pertumbuhan Trichophyton mentagrophytes diperoleh
dilakukan dengan menggunakan metode cakram nilai reratadiameter zona hambat yang berkisar antara
kertas Kirby-Bauer. Metode ini dilakukan dengan cara 9,75 – 26,70 mm. Hal ini sejalan dengan penelitian
merendam kertas cakram pada ekstrak yang akan yang dilakukan pada jamur uji lainnya yang
diujikan ke Medium agar saboraud dekstrosa untuk menyatakan bahwa ekstrak etanol umbi bawang
o dayak dapat menghambat pertumbuhan jamur
kemudian diinkubasi pada suhu 25 C selama 5 hari.
Kemudian diamati zona bening di sekitar kertas Trichophyton rubrumpada konsentrasi 150 mg/mL
cakram.Apabila terdapat zona bening di sekitar kertas dengan diameter zona hambat sebesar 15,06
11
cakram, hal itu menunjukkan adanya penghambatan mm.
pada pertumbuhan jamur yang disebut sebagai zona Hasil analisis Post-Hoc menunjukkan
hambat. terdapatnya perbedaaan bermakna antara konsentrasi
Uji Aktivitas antijamur dilakukan melalui 600 mg/ml dengan konsentrasi; 300; 150; mg/ml hal
beberapa tahapan yaitu; peremajaan jamur uji, tersebut dikarenakan nilai signifikansinya <0,05.
pembuatan suspensi jamur uji, pembuatan variasi Perbedaan besarnya daerah hambatan untuk masing-
konsentrasi ekstrak etanol umbi bawang dayak dan masing konsentrasi dapat diakibatkan antara lain
persiapan kontrol negatif dan positif. perbedaan besar kecilnya konsentrasi atau sedikitnya
Itrakonazol 8 µg/disk digunakan sebagai kandungan zat aktif antimikroba yang terkandung di
kontrol positif karena merupakan antijamur yang dalam ekstrak, kecepatan difusi bahan antimikroba ke

Jurnal Kesehatan Andalas. 2017; 6(3)


http://jurnal.fk.unand.ac.id 688

dalam medium, kepekaan pertumbuhan bakteri/jamur, penting untuk pembentukan dinding sel.19 Tanin
reaksi antara bahan aktif dengan medium dan memiliki aktivitas antijamur dengan cara menghambat
temperatur inkubasi, pH lingkungan, komponen media, sintesis kitin yang digunakan untuk pembentukan
waktu inkubasi dan aktivitas metabolik dinding sel pada jamur dan merusak membran sel
mikroorganisme.11 Diameter zona hambat yang sehingga pertumbuhan jamur terhambat. Saponin
menunjukkan peningkatan seiring dengan semakin yang termasuk dalam senyawa golongan terpen,
meningkatnya konsentrasi ekstrak yang diberikan. memiliki mekanisme kerja seperti deterjen. Setelah
Pada hasil analisis Pearson didapatkan nilai sebesar berikatan dengan kolesterol senyawa lipofilik dari
0,897 terhadap uji korelasi yang dilakukan antara saponin akan berikatan dengan bagian lipofilik dari
peningkatan konsentrasi ekstrak dan diameter zona membran sel yang akan mengakibatkan rusaknya
hambat yang terbentuk. Kekuatan korelasi lebih dari struktur fosfolipid dari membran sel. Naftokuinon yang
0,7 – 1 memiliki interpretasi bahwa hubungan antar merupakan senyawa golongan kuinon diduga
11
variabel tersebut sangat kuat. Peningkatan zona merupakan kompenen antijamur utama dalam ektrak
hambat ini dapat terjadi karena semakin tinggi etanol umbi bawang dayak. Senyawa golongan
konsentrasi suatu obat maka akan semakin banyak naftokuinon telah dilaporkan memiliki efek antijamur
molekul obat yang dapat menduduki reseptor tempat terhadap beberapa jamur seperti Trichophyton rubrum
kerja obat sehingga respon yang dihasilkan suatu obat dan Candida albicans.10,14 Mekanisme kerja dari
juga akan terus meningkat hingga semua reseptor naftokuinon adalah dengan cara mengganggu
4
obat telah diduduki. Konsentrasi terkecil yang masih permeabilitas membran dari sel jamur, permeabiltas
dapat menghambat pertumbuhan Trichophyton yang terganggu ini mengakibatkan terjadinya
+
mentagrophytes yaitu 150 mg/mL dengan rerata kebocoran ion K dari dalam sel jamur dan juga
diameter zona hambat yang terbentuk 9,15 mm. mengakibatkan terjadinya kebocoran pada substansia
Aktivitas antijamur diduga disebabkan adanya intraseluler yang penting bagi pertumbuhan sel
14
efek sinergisme dari setiap metabolit sekunder yang jamur.
terkandung dalam ekstrak etanol umbi bawang dayak.
Metabolit sekunder tersebut adalah fenol, flavonoid, SIMPULAN
tanin, saponin, dan kuinon yang memiliki potensi Konsentrasi Ekstrak etanol umbi bawang dayak
13,14
sebagai senyawa antijamur. Senyawa golongan yang menghasilkan zona hambat paling besar adalah
fenolik seperti fenol, flavonoid dan tanin, menghasilkan konsentrasi 60% namun pada konsentrasi 15% sudah
efek antijamur dengan cara menggangu permeabilitas merupakan konsentrasi yang efektif dalam
membran, menghambat pembentukan di dinding sel menghambat pertumbuhan Trichophyton
dan mengganggu aktivitas dari mitokondria sel mentagrophytes
15-19
jamur. Senyawa flavonoid memiliki mekanisme
antijamur dengan mengganggu homeostasis SARAN
mitokondria dan juga dengan mengganggu integritas Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk
18,19
membran sel jamur. Sedangkan senyawa fenol mengetahui apakah senyawa naftokuinon yang
efek antijamurnya dikarenakan dapat membuat diisolasi (tunggal) memiliki kemampuan lebih baik
terhentinya siklus sell pada jamur yaitu pada fase sebagai antijamur dibandingkan dengan bentuk
replikasi, hal ini dapat mengakibatkan terganggunya sediaan ekstrak dengan aktivitas senyawa yang saling
proses pembelahan sel yang akan menghambat bersinergi.
20
pertumbuhan dari sel jamur. Fenol mempunyai efek Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan
antijamur dengan cara menyebabkan kerusakan pada menggunakan hewan coba untuk melihat toksisitas
mitokondria yang akan menyebabkan penimbunan dan efek farmakodinamik dari ekstrak etanol umbi
ROS,mekanisme antijamur lain dari fenol adalah bawang dayak.
bekerja dengan menghambat sintesis kitin yang

Jurnal Kesehatan Andalas. 2017; 6(3)


http://jurnal.fk.unand.ac.id 689

DAFTAR PUSTAKA
1. Sutanto I, Suhariah I, Pudji KS, dan Saleha S. 11. Santoso S. Aplikasi spss pada statistik
Parasitologi kedokteran. Edisi ke-4. Jakarta: Balai parametrik. Jakarta: Elex Media Komputindo.2012.
Penerbit FKUI; 2008. 12. Freiesleben SH, Jäger AK. Correlation between
2. Brutel GF, dan Morse JS. Mikrobiologi kedokteran plant secondary metabolites and their antifungal
Jawetz, Melnick, & Adelberg (terjemahan). Edisi mechanisms–a review. Med Aromat Plants. 2014;
ke-23. Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 2008. 3:154.
3. Barros MEDS, Santos DDA, Hamdan JS. 13. Ferreira MdPSBC, Cardoso MFdc, da Silva FdC,
Evaluation of susceptibility of Trichophyton Ferreira VF, Lima ES, Souza JVB. Antifungal
mentagrophytes and Trichophyton rubrum clinical activity of synthetic naphthoquinones against
isolates to antifungal drugs using a modified CLSI dermatophytes and opportunistic fungi: preliminary
microdilution method (M38-A). J Med Microbiol. mechanism of action tests. Ann Clin Microbiol
2007; 56:514–18. Antimicrob. 2014;13:26.
4. Rang HP, Dale MM, Ritter JM, Moore PK. 14. Tian J, Huang B, Luo X, Zeng H, Ban X. The
Pharmacology. Edisi ke-7. London: Churchill control of Aspergillus flavus with Cinnamomum
Livingstone; 2011. jensenianumHand.-Mazz essential oil and its
5. Rivera JO, Loya AM, Ceballos R. Use of herbal potential use as a food preservative. Food
medicine and implications for conventional drug Chemistry. 2012; 130: 520-27.
theraphy medical sciences. Altern Integ Med. 2013; 15. Tian J, Ban X, Zeng H, He J, Chen Y. The
2:130. mechanism of antifungal action of essential oil from
6. Ifesan BOT, Hamtasin C, Mahabusar W, dill (Anethum graveolens l.) on Aspergillus flavus.
Voravuthikunchai SP. Inhibitory effect of PLoS One. 2012;7:e30147.
Eleutherine Americana Merr. Extract on 16. Pinto E, Vale-Silva L, Cavaleiro C, Salgueiro L.
Staphylococcus aureusisolated from food. JFS. Antifungal activity of the clove essential oil from
2009;74:1. Syzygium aromaticum on Candida, Aspergillus and
7. Chansukh K, Charoensup R, Palanuvej C, dermatophyte species. J Med Microbiol.2009;58:
Ruangrungsi N. Antimicrobial activities of selected 1454-62.
thai medicinal plants bearing quinonoids. Res J 17. Wu XZ, Cheng AX, Sun LM, Sun SJ, Lou HX.
Pharm Biol Chem Sci. 2014;5:425. Plagiochin E, an antifungal bis (bibenzyl), exerts its
8. Limsuwan S, Voravuthikunchai SP. Boesenbergia antifungal activity through mitochondrial
pandurata (Roxb.) Schltr. Eleutherine Americana dysfunction induced reactive oxygen species
Merr. and Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk. accumulation in Candida albicans. Biochim
as antibiofilm producing and antiquorum sensing in Biophys Acta. 2009;1790:770-7.
Streptococcus pyogenes. Thailand: Prince of 18. Kang K, Fong WP, Tsang PW. Antifungal activity of
Songkla University; 2008. baicalein against Candida krusei does not involve
9. Kuntorini EM, dan Nugroho HL. Structural apoptosis. Mycopathologia. 2010;170: 391-6.
development and bioactive content of red bulb 19. Wu XZ, Cheng AX, Sun LM, Lou HX. Effect of
plant (Eleutherine americana); a traditional Plagiochin E, an antifungal macrocyclic bis
medicines for local Kalimantan people. (bibenzyl), on cell wall chitin synthesis in Candida
Biodiversitas. 2010;11:102-6. albicans. Acta Pharmacol Sin. 2008;29:1478-1485.
10. Puspadewi R, Adirestuti P, Menawati R. Khasiat 20. Ashour ML,Wink M. Genus bupleurum: a review of
umbi bawang dayak (Eleuthrine palmifolia (L.) its phytochemistry, pharmacology and modes of
Merr.) sebagai herbal antimikroba kulit. KJIF. 2013; action. J Pharma Pharmacol. 2011;63:305-321
1:31-7.

Jurnal Kesehatan Andalas. 2017; 6(3)