Anda di halaman 1dari 1

1.

Nitrasi aromatik terhadap bromobenzena dan fenol merupakan jenis reaksi


substitusi kedua, dimana suatu benzena tersubstitusi dapat mengalami
substitusi gugus kedua. Dalam kasus ini sebagai gugus kedua yaitu gugus –
NO2. Cepat atau lambat jalannya substitusi kedua (nitrasi aromatik)
bergantung dari gugus yang telah berada pada cincin. Adapun untuk
bromobenzena memiliki gugus halida yaitu gugus –Br, sedangkan fenol
memiliki gugus alkohol yaitu gugus −OH. Sehingga senyawa yang
diharapkan menjalani nitrasi aromatik lebih cepat adalah senyawa fenol.
Hal ini dikarenakan gugus −OH merupakan gugus pengaktivasi yang
menyebabkan cincin benzena lebih terbuka terhadap substitusi lebih lanjut,
pada kasus ini adalah substitusi gugus −NO2 sebagai gugus kedua. Sedangkan
gugus −Br merupakan gugus pendeaktivasi yang menyebabkan cincin
benzena lebih tertutup terhadap substitusi lebih lanjut.
2. Alkena yang diharapkan menunjukan selisih energi antara isomer cis dan trans
yang lebih kecil adalah CH3CH=CHBr. Hal ini dikarenakan kedua Atom Br
pada cis-BrCH=CHBr akan mengalami saling tolak-menolak dipol-dipol
yang besar dan mengakibatkan cis-BrCH=CHBr sangat tidak stabil
(mempunyai energi besar). Sedangkan pada CH3CH=CHBr memiliki 1 gugus
alkil pada karbon berikatan-pi (ikatan rangkap) dibandingkan pada
BrCH=CHBr yang tidak memiliki gugus alkil. Secara umum alkena yang
memiliki lebih banyak gugus alkil pada karbon berikatan-pi, akan memiliki
energi yang lebih rendah (lebih stabil). Oleh karena itu, CH3CH=CHBr
memiliki energi yang lebih kecil dibandingkan BrCH=CHBr.