Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sesuai dengan sistem kesehatan nasional, salah satu program kerja
puskesmas adalah program gizi. Didalam program gizi terdapat penanggulangan
kekurangan energi maka salah satu program yang dilaksanakan yaitu peningkatan
status gizi ibu hamil.
Ibu hamil merupakan salah satu kelompok rawan kekurangan gizi, karena
terjadi peningkatan kebutuhan gizi untuk memenuhi kebutuhan ibu dan janin yang
dikandung. Pola makan yang salah pada ibu hamil membawa dampak terhadap
terjadinya gangguan gizi antara lain anemia, pertambahan berat badan yang
kurang pada ibu hamil dan gangguan pertumbuhan janin.1 Salah satu masalah gizi
yang banyak terjadi pada ibu hamil adalah anemia gizi, yang merupakan masalah
gizi mikro terbesar dan tersulit diatasi di seluruh dunia.2 World Health
Organization (WHO) melaporkan bahwa terdapat 52% ibu hamil mengalami
anemia di negara berkembang.
Di negara-negara berkembang, meskipun terdapat penyakit tidak menular
dan kelebihan gizi, jumlah penyakit kurang gizi dan menular masih mendominasi.
Secara khusus, malnutrisi dan kekurangan gizi masih menjadi beban bagi negara-
negara ini. Bahkan, ketika kekurangan gizi tidak ditangani, maka itu dapat
meningkatkan risiko kematian, terutama pada bayi dan wanita hamil.
Selain itu, tingkat kematian ibu di Indonesia selama dekade terakhir sangat
tinggi, sekitar 359 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2012 (2). Diyakini
bahwa kematian ibu dan anak serta masalah gizi pada anak, seperti stunting dan
wasting, sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu, terutama Kekurangan Energi
Kronis (KEK) yang terjadi pada periode sebelum kehamilan. KEK pada ibu hamil
dapat meningkatkan risiko kematian ibu (3). Untuk menurunkan kejadian KEK
pada ibu hamil pemerintah telah membuat program Pemberian Makanan
Tambahan (PMT) pada ibu hamil KEK. Adapun isi dari program tersebut yaitu

1
pemberian makanan tambahan pada ibu hamil selama minimal 90 hari makan ibu
(HMI) bertut-turut.
Berdasarkan data RISKESDAS tahun 2018 proporsi ibu hamil yang
mendapat PMT sebanyak 25,2% sementara rencana strategis Kementrian
Kesehatan tahun 2015-2019, menargetkan di tahun 2018 dan 2019 jumlah ibu
hamil yang mendapat PMT sebesar 80% dan 95%. Angka ini harus mengingatkan
pemerintah karena sejumlah besar wanita hamil berisiko selama kehamilan
mereka.
Pada dasarnya, KEK adalah hasil dari ketidakseimbangan energi di mana
asupan energi lebih rendah dari kebutuhan tubuh. Akibatnya, KEK menghasilkan
berat badan rendah dan deposit lemak (5). Pada wanita hamil, malnutrisi mungkin
berdampak pada kualitas hidup mereka dan juga pada hasil kehamilan, seperti
berat lahir rendah, gangguan perkembangan fisik janin, dan risiko kematian bayi
yang tinggi (6). Prevalensi stunting mencapai puncaknya pada tahun 2013
(37,2%) (4), mungkin disebabkan oleh kekurangan gizi sebelum kehamilan (7).
Ada beberapa faktor penentu gizi buruk di antara wanita hamil, seperti rendahnya
kualitas makanan, interval antar-kehamilan pendek, infeksi berulang, serta
beberapa faktor sosial ekonomi (tingkat pendidikan, pendapatan, usia, dan
pekerjaan) (8).
Berdasarkan profil kesehatan kota Pontianak tahun 2017 persentase ibu
hamil kurang energi kronik sebesar 5,78 % sedangkan capaian ibu hamil kurang
energi kronik yang mendapat makanan tambahan sebesar 60,53% sedangkan
targetnya sebesar 65%. Untuk wilayah UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Tenggara persentase ibu hamil yang mengalami KEK tahun 2018 sebesar 8,35%,
angka tersebut masih tinggi dari target pencapain yaitu sebesar kurang dari 5%.
Dan sebanyak 34,14% dari Ibu hamil KEK di wilayah UPTD Puskesmas
Kecamatan Pontianak Tenggara pada tahun 2018 mengalami anemia. Sedangkan
ibu hamil dengan KEK di wilayah Puskesmas tersebut yang mendapat makanan
tambahan sebesar 58,53 %. Hal tersebut sangat jauh dari capaian target puskesmas
yaitu 80 %. Oleh karena itu kami ingin melakukan evaluasi program terkait ibu

2
hamil kurang energi kronik yang mendapat makanan tambahan di UPTD
Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggara pada Tahun 2018.
1.2 Permasalahan Program
Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan program yang diangkat
adalah: “Bagaimana evaluasi program ibu hamil kurang energi kronik yang
mendapat makanan tambahan di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Tenggara pada Tahun 2018?”

1.3 Tujuan Evaluasi


1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui program terkait ibu hamil kurang energi kronik yang mendapat
makanan tambahan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Tenggara Tahun 2018.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya masalah dalam pelaksanaan program terkait ibu hamil
kurang energi kronik yang mendapat makanan tambahan di wilayah kerja
UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggara Tahun 2018.
2. Diketahuinya prioritas estimasi penyebab masalah dalam pelaksanaan
program terkait ibu hamil kurang energi kronik yang mendapat makanan
tambahan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Tenggara Tahun 2018.
3. Dirumuskannya alternatif penyelesaian masalah bagi pelaksanaan
program terkait ibu hamil kurang energi kronik yang mendapat makanan
tambahan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Tenggara Tahun 2018.

1.4 Manfaat Evaluasi


1.4.1 Manfaat bagi Penulis
Sebagai sarana pembelajaran mengenai cara melakukan evaluasi program
puskesmas. Selain itu, kegiatan ini dapat melatih kemampuan dalam menilai suatu
pelaksanaan program, menambah kemampuan, dan kecermatan dalam

3
mengindentifikasi, menganalisa dan menetapkan prioritas permasalahan, mencari
alternatif penyelesaian dari suatu masalah dan memutuskan penyelesaiannya.
1.4.2 Manfaat bagi Puskesmas
Sebagai suatu bahan evaluasi program pembinaan kesehatan ibu hamil
terkait pemberian makanan tambahan, sehingga dapat lebih efektif dan memberi
alternatif penyelesaian masalah pelaksanaan program dan diharapkan dapat
membantu dalam meningkatkan pencapaian program serta mencegah dampak
yang akan timbul akibat permasalahan tersebut.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Kehamilan


Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan
didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum,
dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Dihitung dari saat fertilisasi sampai
kelahiran bayi, kehamilan normal biasanya berlangsung dalam waktu 40 minggu.
Usia kehamilan tersebut dibagi menjadi 3 trimester yang masing-masing
berlangsung dalam beberapa minggu. Trimester 1 selama 12 minggu, trimester 2
selama 15 minggu (minggu ke- 13 sampai minggu ke-27), dan trimester 3 selama
13 minggu (minggu ke- 28 sampai minggu ke-40).
Menurut BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional) kehamilan adalah proses yang diawali dengan keluarnya sel telur
matang pada saluran telur yang kemudian bertemu dengan sperma, lalu keduanya
menyatu membentuk sel yang akan tumbuh (BKKBN, 2014).

2.2 Kekurangan Energi Kronis (KEK)


2.2.1 Definisi
Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi. Kebutuhan
energi dan zat gizi lainnya meningkat selama hehamilan. Peningkatan energi dan
zat gizi tersebut diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin,
pertambahan besarnya organ kandungan, serta perubahan komposisi dan
metabolisme tubuh ibu. Sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan
saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna.
Kekurangan energi kronis atau yang selanjutnya disebut dengan KEK
merupakan suatu keadaan dimana status gizi seseorang buruk yang disebabkan

5
kurangnya konsumsi pangan sumber energi yang mengandung zat gizi makro.
Kebutuhan wanita akan meningkat dari biasanya jika pertukaran dari hampir
semua bahan itu terjadi sangat aktif terutama pada trimester III. Peningkatan
jumlah konsumsi makan perlu ditambah terutama konsumsi pangan sumber energi
untuk memenuhi kebutuhan ibu dan janin, maka kurang mengkonsumsi kalori
akan menyebabkan malnutrisi.
Tiga faktor utama indeks kualitas hidup yaitu pendidikan, kesehatan dan
ekonomi. Faktor-faktor tersebut erat kaitannya dengan status gizi masyarakat yang
dapat digambarkan terutama pada status gizi anak balita dan ibu hamil. Kualitas
bayi yang dilahirkan sangat dipengaruhi oleh keadaan ibu sebelum dan selama
hamil. Jika zat gizi yang diterima dari ibunya tidak mencukupi maka janin
tersebut akan mempunyai konsekuensi yang kurang menguntungkan dalam
kehidupan berikutnya (Misaroh & Praverawati, 2010).
Golongan yang paling rentan terhadap kekurangan gizi adalah bayi, balita,
dan ibu hamil. Ibu hamil yang menderita KEK dan anemia mempunyai resiko
kesakitan yang lebih besar terutama pada trimester III kehamilan dibandingkan
dengan ibu hamil normal. Akibatnya ibu hamil mempunyai resiko lebih besar
untuk melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), kematian saat
persalinan, perdarahan, persalinan yang sulit karena lemah dan mudah mengalami
gangguan kesehatan (DepKes RI, 2017).
Pengetahuan ibu terhadap gizi dan permasalahannya sangat berpengaruh
terhadap status gizi keluarga. Ibu hamil yang memiliki pengetahuan gizi yang baik
akan mampu memilih jenis makanan yang tepat untuk dirinya dan janinnya baik
dari segi kuantitas dan kualitas. Selain pengetahuan gizi, pengetahuan kesehatan
kehamilan juga perlu bagi ibu hamil. Dengan demikian, pengetahuan gizi dan
kesehatan merupakan salah satu faktor protektif dalam mempertahankan kualitas
kehamilan. Pengetahuan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap
kesehatan.
2.2.2 Kriteria KEK
Ambang batas Lingkar Lengan Atas (LILA) pada Wanita Usia Subur
(WUS) dengan resiko KEK di Indonesia adalah 23,5cm.

6
Jadi:
a. KEK apabila LILA < 23,5 cm atau dibagian merah pita LILA
b. Tidak KEK apabila LILA ≥ 23,5 cmdan diperkirakan akan melahirkan berat
bayi lahir rendah (BBLR). BBLR mempunyai resiko kematian, kurang gizi,
gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan anak (Supariasa, 2013).
Ibu KEK adalah ibu yang ukuran LILAnya < 23,5 cm dan dengan salah satu
atau beberapa kriteria sebagai berikut:
a. Berat badan ibu sebelum hamil < 42 kg.
b. Tinggi badan ibu < 145 cm.
c. Berat badan ibu pada kehamilan trimester III < 45 kg.
d. Indeks masa tubuh (IMT) sebelum hamil < 17,00.
e. Ibu menderita anemia (Hb < 11 gr %) (Weni, 2013).
2.2.3 Penyebab KEK
Penyebab utama terjadinya KEK pada ibu hamil yaitu sejak sebelum hamil
ibu sudah mengalami kekurangan energi, karena kebutuhan orang hamil lebih
tinggi dari ibu yang tidak dalam keadaan hamil. Kehamilan menyebabkan
meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi
lainnya meningkat selama hamil. Menurut Sediaoetama (2011), penyebab dari
KEK dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Penyebab Langsung
Penyebab langsung terdiri dari asupan makanan atau pola konsumsi dan
infeksi.
2. Penyebab Tidak Langsung
a) Hambatan utilitas zat-zat gizi, ialah hambatan penggunaan zat-zat gizi karena
susunan asam amino didalam tubuh tidak seimbang yang dapat menyababkan
penurunan nafsu makan dan penurunan konsumsi makan.
b) Hambatan absorbsi karena penyakit infeksi atau infeksi cacing.
c) Ekonomi yang kurang.
d) Pendidikan umum dan pendidikan gizi kurang.
e) Produksi pangan yang kurang mencukupi kubutuhan.

7
f) Kondisi hygiene yang kurang baik.
g) Jumlah anak yang terlalu banyak.
2.2.3 Dampak KEK
Menurut Irianton (2015) dampak dari kurang energi kronik dapat terjadi
pada janin, ibu dan saat persalinan.
a. Dampak pada Ibu
Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada
ibu, antara lain: anemia, perdarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara
normal, dan terkena penyakit infeksi. Sehingga akan meningkatkan angka
kematian ibu
b. Dampak pada Persalinan
Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan
persalinan sulit dan lama, persalinan prematur atau sebelum waktunya, perdarahan
post partum, serta persalinan dengan tindakan operasi caesar cenderung
meningkat.
c. Dampak pada Janin
Kurang gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin
dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal,
cacat bawaan dan lahir dengan BBLR.
2.2.4 Resiko KEK Pada Ibu Hamil
Kondisi kesehatan bayi yang dilahirkan sangat dipengaruhi oleh keadaan
gizi ibu selama hamil. KEK pada ibu hamil perlu diwaspadai kemungkinan ibu
melahirkan bayi BBLR, pertumbuhan dan perkembangan otak janin terhambat
sehingga mempengaruhi kecerdasan anak dikemudian hari dan kemungkinan
prematur (Depkes, 2017). Ibu hamil yang berisiko KEK adalah ibu hamil yang
mempunyai ukuran LILA kurang dari 23,5 cm. LILA ibu hamil berkorelasai
positif dengan IMT ibu hamil, sehingga pengukuran IMT ibu hamil sama
akuratnya dengan pengukuran LILA ibu hamil.
Menurut Moehji (2013) menyatakan bahwa gizi buruk karena kesalahan
dalam pengaturan makanan membawa dampak yang tidak menguntungkan bukan
hanya bagi ibu tetapi juga bagi bayi yang akan lahir. Dampak gizi buruk terhadap

8
ibu dapat berupa hiperemesis, keracunan kehamilan (eklampsi), kesulitan saat
kelahiran, perdarahan, bahkan dapat membawa kematian. Bagi bayi yang ada
dalam kandungan, gizi ibu yang buruk dapat menyebabkan terjadinya keguguran
(abortus), bayi lahir sebelum waktunya (premature), BBLR, kematian neonatus
dan kematian dibawah satu tahun.
Selain itu adanya masalah gizi timbul karena perilaku gizi yang salah.
Perilaku gizi yang salah adalah ketidakseimbangan antara konsumsi zat gizi dan
kecukupan gizi. Jika seseorang mengkonsumsi zat gizi kurang dari kebutuhan
gizinya, maka orang itu akan menderita gizi kurang (Syarifudin, 2013).
2.2.5 Pencegahan KEK
Menurut Irianton (2015), ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya
KEK, antara lain:
a) Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan
hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan nabati (sayur
berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe).
b) Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C
(seperti daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan nanas)
sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.
c) Menambah pemasukan zat besi dalam tubuh dengan meminum tablet
penambah darah. Guna mencegah terjadinya resiko KEK pada ibu hamil
sebelum kehamilan sudah harus mempunyai gizi yang baik, misalnya dengan
LILA tidak kurang dari 23.5 cm. Beberapa kriteria ibu KEK adalah berat badan
ibu sebelum hamil <42 kg, tinggi badan ibu <145 cm, berat badan ibu pada
kehamilan trimester III <45 kg, Indeks Masa Tubuh (IMT) sebelum hamil <
17,00 dan ibu menderita anemia (Hb <11 gr%).
2.3 Kebutuhan Gizi Pada Ibu Hamil
Nutrisi selama kemilan adalah salah satu faktor penting dalam menentukan
pertumbuhan janin. Dampaknya adalah berat badan lahir, status nutrisi dari ibu
yang sedang hamil juga mempengaruhi angka kematian perinatal, keadaan
kesehatan neonatal, dan pertumbuhan bayi setelah kelahiran. Selain itu, kesehatan

9
dan banyaknya ibu reproduksi mungkin mempengaruhi status gizi ibu selama
hamil, secara signifikan berhubungan dengan outcome kehamilan (Weni, 2013).
Kebutuhan gizi ibu hamil menurut Irianton (2015) adalah: cukup kalori,
protein yang bernilai biologi tinggi, vitamin, mineral dan cairan untuk memenuhi
kebutuhan zat gizi ibu, janin serta plasenta.
a. Makan padat kalori dapat membentuk lebih banyak jaringan tubuh tetapi
bukan lemak.
b. Cukup kalori dan zat gizi untuk memenuhi pertambahan berat badan selama
hamil.
c. Perencanaan perawatan gizi yang memungkinkan ibu hamil untuk
memperoleh dan mempertahankan status gizi optimal sehingga dapat
menjalani kehamilan dengan aman dan berhasil, melahirkan bayi dengan
potensi fisik dan mental yang baik.
d. Perawatan gizi yang dapat mengurangi atau menghilangkan reaksi yang tidak
diinginkan seperti mual dan muntah.
e. Perawatan gizi yang dapat membantu pengobatan penyulit yang terjadi selama
kehamilan misalnya diabetes mellitus, hipertensi.
f. Mendorong ibu hamil sepanjang waktu untuk mengembangkan kebiasaan
makan yang baik (gizi seimbang).
Bagi ibu hamil, pada dasarnya semua zat gizi memerlukan tambahan, namun
yang seringkali menjadi kekurangan adalah energi protein dan beberapa mineral
seperti zat besi dan kalsium. Kebutuhan energi untuk kehamilan yang normal
perlu tambahan kira-kira 84.000 kalori selama masa kurang lebih 280 hari. Hal ini
perlu tambahan ekstra sebanyak kurang lebih 300 kalori setiap hari selama hamil.
Ibu hamil diajurkan mengkonsumsi makanan yang beraneka ragam, kekurangan
zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh zat gizi dari makanan
lainnya.
Berikut beberapa nutrisi yang hendak diperhatikan bagi ibu hamil, agar
nantinya janin yang dikandung lahir dengan sehat dan cerdas.
a. Energi

10
Umumnya ibu hamil perlu tambahan energi sebesar 285 kkal/hari dari rata-
rata kebutuhan wanita dewasa tidak hamil sebesar 1.900 – 2.400 kkal/hari.
Kebutuhan akan energi diperoleh dari makanan yang mengandung sumber
karbohidrat (padi-padian, umbi-umbian, dan gula murni) dan lemak (merupakan
energi berkonsentrat tinggi, bisa diperoleh dari minyak, kacang-kacangan dan biji-
bijian).
Penelitian membuktikan, ibu hamil yang mengalami KEP (Kurang Energi
dan Protein) akan melahirkan BBLR, ukuran otak yang kecil dan jumlah sel otak
yang kurang. Namun ibu hamil tidak boleh kelebihan kalori karena menyebabkan
kegemukan. Ia bisa menderita preeklamsia (hipertensi dalam kehamilan),
sedangkan bayinya bisa lahir premature atau pertumbuhannya terhambat karena
suplai makanan ke janin berkurang akibat terjadinya penyempitan pembuluh
darah sang ibu.
b. Protein
Ibu hamil memerlukan tambahan protein rata-rata 12 gram, dapat diperoleh
dari protein hewani (telur, ikan, daging, susu sapi, unggas dan kerang) dan protein
nabati (kacang kedelai: tahu, tempe dan susu kedelai). Petumbuhan janin akan
terhambat bila ibu hamil kekurangan protein. Bayi akan lahir dengan berat badan
rendah. Protein berfungsi sebagai pembentuk kecedasan otak, pertumbuhan
plasenta, plasma protein, cairan amnion, jaringan uterus, hemoglobin, serta
cadangan material saat melahirkan dan pemberian ASI.
Janin yang kekurangan protein akan mengambilnya dari protein sang ibu,
akibatnya sang ibu akan menderita anemia. Kelebihan protein membuat ginjal
bekerja ekstra keras menyaring makanan yang mengandung protein sebelum
disalurkan ke seluruh tubuh. Bila keadaan seperti ini belangsung lama, maka
ginjalpun akan rusak. Selain itu, protein yang berlebih akan disimpan dalam
bentuk lemak. Jika terus bertumpuk akan menimbulkan kegemukan. Sedangkan
kegemukan tidak baik bagi kehamilan.
c. Kalsium
Kalsium dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang dan gigi yang kuat,
kesehatan saraf, jantung dan otot. Kalsium juga dibutuhkan untuk

11
mengembangkan irama jantung dan pembekuan darah. Kalsium diperlukan
terutama pada trimester III kehamilan, yaitu saat pertumbuhan tulang dan
pembentukan gigi. Kalsium dibutuhkan sebanyak 1.000 miligram per hari.
Kekurangan kalsium akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan tulang
dan gigi pada janin. Sementara bagi ibu akan mengalami kerapuhan tulang, karena
janin yang kekurangan kalsium akan mengambil persendian kalsium dari tulang
ibu. Terdapat pada susu, yoghurt, tahu, ikan teri dan sarden. Kalsium berguna
untuk pertumbuhan tulang janin dan mencegah osteoporosis pada ibu hamil dan
menyusui.
d. Asam Folat
Zat ini diperlukan untuk mencegah resiko cacat saat bayi lahir, misalnya
cacat tabung saraf. Asam folat juga diperlukan untuk memproduksi DNA
sehingga semua gen bisa diproduksi yang menjamin kualitas hidup anak di masa
memdatang. Kebutuhan awalnya 50 mikrogram, selama kehamilan meningkat
menjadi 800 mikrogram - 1 miligram per harinya.
Dampak kekurangan asam folat bagi ibu hamil yakni akan mengalami
anemia megaloblastik. Gejalanya tidak beda dengan anemia pada umunya, yakni
lesu, mudah lelah, kurang darah, mudah capek, napas pendek, peradangan pada
lidah, mual, nafsu makan hilang, sakit kepala, pingsang, pucat, dan agak
kekuningan. Asam folat yang berfungsi untuk mengurangi resiko terjadinya
neutral tube defect (spina bifida, anencephaly) pada janin dan anemia
megaloblastik pada ibu. Makanan yang mengandung asam folat adalah kol,
kangkung, daging, kacang-kacangan, gandum dan jeruk.
e. Zat Besi
Zat besi berperan dalam produksi hemoglobin, yang berguna untuk
menangkap oksigen. Kecukupan hemoglobin menjamin oksigen tersedia dalam
jumlah cukup di dalam tubuh anak. Sehingga anak bisa tumbuh sempurna tanpa
merasa lekas letih dan lelah. Zat besi juga berperan dalam membangun jaringan
ikat seperti tulang dan tulang rawan, untuk memastikan kekuatan struktur tubuh.
Ibu hamil sebaiknya mengkonsumsi tambahan 9 miligram tambahan zat besi tiap
hari pada trimester kedua. Jumlah ini meningkat menjadi 13 miligram pada

12
trimester ketiga. Zat besi yang berguna untuk mencegah anemia dan
meningkatkan kadar hemoglobin (Hb) Ibu. Makanan kaya zat besi terdapat dalam
daging, hati, ikan, telur, bayam dan brokoli.
f. Magnesium
Magnesium pada ibu hamil sebaiknya dikonsumsi 270-300 miligram setiap
harinya. Zat ini berperan dalam memperbaiki sel yang rusak, membangun tulang
dan gigi yang kuat, mengatur kadar insulin, serta gula dalam darah. Sumber
makanan yang mengandung banyak magnesium meliputi tahu, gandum utuh,
sayuran berdaun hijau, dll.
g. Fosfor
Kecukupan konsumsi fosfor akan membangun tulang dengan struktur lebih
kuat. Fosfor juga mengembangkan fungsi pembekuan darah, ginjal, dan mengatur
irama jantung. Fosfor dibutuhkan 600 miligram per hari pada ibu hamil. Dapat
diperoleh dari kacang tanah, terigu, kacang mede, hati, dll.
h. Vitamin (A, B6, C, D) dan Zinc
Vitamin A penting untuk pembentukan mata, kulit, dan selaput lendir.
Vitamin ini juga penting untuk resistensi infeksi, pertumbuhan tulang, dan
metabolisme lemak. Vitamin A dibutuhkan sebanyak 800 mcg RAE (retinol
activity equivalent) atau 2,565 international units (IU). Vitamin A terdapat kuning
telur, susu, pada sayuran dan buah yang berwarna-warni.
Vitamin B6 ini membantu metabolisme lemak, protein, dan karbohidrat.
Selain itu vitamin ini juga meregenerasi sel darah merah dan mengembangkan
sistem otak dan saraf. Vitamin ini dibutuhkan sebanyak 1,7-1,9 miligram per hari.
Terdapat dalam hati, daging, ikan, susu sapi, biji-bijian yang tidak dibuang semua
kulitnya dan kacang tanah.
Vitamin C penting untuk perbaikan jaringan dan produksi kolagen, yang
merupakan komponen tulang rawan, tendon, tulang, dan kulit sebanyak 85
miligram. Menurut penelitian, kekurangan vitamin C pada ibu hamil bukan hanya
berhubungan dengan terjadinya pre eklamsia, tetapi juga menyebabkan keguguran
yang didahului dengan ketuban pecah sebelum waktunya.8 Terdapat dalam

13
buahbuah segar seperti jeruk, anggur, tomat dan semua jenis buah-buahan yang
masam.
Untuk vitamin D dibutuhkan sebanyak 5 mcg atau 200 IU yang berguna
dalam membantu membentuk tulang dan gigi. Dapat diperoleh secara alamiah dari
sinar matahari di waktu pagi hari, selain itu juga dapat diperoleh dari minyak hati
ikan cod, jamur, kedelai, susu, dll.
Sedangkan Zinc dibutuhkan sebanyak 10,5 miligram, untuk pertumbuhan
sel dan pembentukan DNA. Terdapat dalam kuning telur, hati, ikan dan terbentuk
di bawah jaringan kulit yang langsung terkena sinar matahari pagi.
i. Mengkonsumsi Susu
Susu penting bagi kesehatan ibu dan janin karena didalamnya terkandung
asam folat yang befungsi untuk membantu pembentukan tabung syaraf otak janin,
tinggi kalsium untuk pembentukan tulang dan gigi. Selain itu ramah lemak karena
kandungan lemaknya lebih rendah dibanding susu murni sehingga mengurangi
resiko kegemukan. Vitamin dan mineral berfungsi untuk melengkapi gizi dan
nutrisi selama masa persiapan kehamilan. Dalam segelas susu terdapat protein
yang berperan untuk pembentukan janin, plasenta, meningkatkan daya tahan
tubuh ibu, agar tidak terserang penyakit, meningkatkan kualitas ASI, memelihara
tubuh ibu dan pembentukan kembali sel-sel tubuh yang rusak karena kehamilan
maupun melahirkan.

2.4 Makanan Tambahan


2.4.1 Definisi
Salah satu program perbaikan gizi masyarakat yang dilakukan adalah
program penanganan KEK pada ibu hamil yang bertujuan untuk meningkatkan
status gizi pada ibu hamil. Salah satu upaya yang dilakukan berdasarkan Standar
Pelayanan Minimal (SPM) yang dilakukan dinas kesehatan di tingkat kabupaten /
kota untuk penanggulangan ibu hamil KEK adalah Pemberian Makanan
Tambahan (PMT) pada ibu hamil. Makanan tambahan adalah makanan bergizi
sebagai tambahan selain makanan utama bagi kelompok sasaran guna memenuhi
kebutuhan gizi.

14
Makanan Tambahan (MT) Ibu Hamil adalah suplementasi gizi berupa
biskuit lapis yang dibuat dengan formulasi khusus dan difortifikasi dengan
vitamin dan mineral yang diberikan kepada ibu hamil dengan kategori Kurang
Energi Kronis (KEK) untuk mencukupi kebutuhan gizi. Makanan tambahan ibu
hamil adalah makanan bergizi yang diperuntukan bagi ibu hamil sebagai makanan
tambahan untuk pemulihan gizi.
PMT ibu hamil berbasis pangan lokal adalah pemberian makanan bergizi
untuk ibu hamil yang berasal dari bahan pangan atau makanan yang tersedia dan
mudah diperoleh di wilayah setempat dengan harga yang terjangkau. PMT ibu
hamil pabrikan adalah pemberian makanan bergizi untuk ibu hamil dari hasil
olahan pabrik.

Gambar 2.1. Makanan Tambahan Pada Ibu Hamil KEK

2.4.2 Prinsip Pemberian


1. MT diberikan pada ibu hamil KEK yaitu ibu hamil yang memiliki ukuran
LILA dibawah 23,5 cm
2. Pemberian MT pada ibu hamil terintegrasi dengan pelayanan Antenatal
Care (ANC)
3. Tiap bungkus MT ibu hamil berisi 3 keping biskuit lapis (60 gram)
4. Pada kehamilan trimester I diberikan 2 keping per hari hingga ibu hamil
tidak lagi berada dalam kategori Kurang Energi Kronis (KEK) sesuai
dengan pemeriksaan LILA
5. Pada kehamilan trimester II dan III diberikan 3 keping per hari hingga ibu
hamil tidak lagi berada dalam kategori Kurang Energi Kronis (KEK) sesuai
dengan pemeriksaan LiLA

15
6. Pemantauan pertambahan berat badan sesuai standar kenaikan beratbadan
ibu hamil. Apabila berat badan sudah sesuai standar kenaikan berat badan
selanjutnya mengonsumsi makanan keluarga gizi seimbang.
2.4.3 Karakteristik Makanan Tambahan
Adapun karakteristik produk adalah sebagai berikut:
a. Bentuk Persegi panjang
b. Konsistensi
1. Biskuit: kering dan renyah
2. Krim: padat dan lembut
c. Rasa
1. Biskuit: manis berasa kacang
2. Krim: manis berasa buah
d. Wama
Sesuai hasil proses pengolahan bahan.
e. Kedaluwarsa
Biskuit lapis (sandwich) aman dikonsumsi dalam waktu 24 bulan setelah
tanggal produksi.
2. Pengemasan
a. Produk harus dikemas dalam wadah yang dapat menjaga hygiene serta mutu
produk.
b. Wadah, termasuk bahan kemasan, hams terbuat dan bahan yang aman dan
sesuai dengan maksud penggunaannya serta sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
c. Jenis kemasan primer adalah alumunium foil food grade yang dapat
menjamin mutu produk sampai 24 bulan.
d. Berat bersih tiap kemasan primer 100 gram yang berisi 5 biskuit lapis
(sandwich) yang disusun dalam tray sesuai dengan ukuran biskuit lapis
(sandwich).
e. Kemasan primer harus diberi label sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.
69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.

16
2.4.4 Persyaratan Makanan Tambahan
a. Dapat diterima, makanan tambahan untuk ibu hamil sebaiknya dapat
diterima dalam hal bentuk, rasa, dan biasa dikonsumsi sehari-hari. Salah
satu sifat dari ibu hamil adalah cepat bosan dengan makanan yang sama bila
disajikan berulang kali. Ibu hamil mempunyai kecenderungan mencoba
sesuatu yang baru. Oleh karena itu bentuk dan rasa makanan hendaknya
dibuat bervariasi dan disesuaikan dengan selera ibu hamil, sehingga tidak
menimbulkan kebosanan.
b. Mudah dibuat, makanan tambahan untuk ibu hamil hendaknya mudah
dibuat/ dikerjakan dengan menggunakan peralatan masak yang tersedia
dirumah tangga atau yang tersedia dimasyarakat dan pembuatannya tidak
memerlukan waktu terlalu lama.
c. Memenuhi kebutuhan zat gizi, makanan tambahan ibu hamil sebaiknya
memenuhi kebutuhan zat gizi ibu hamil. Kebutuhan zat gizi ibu hamil lebih
besar dibandingkan dengan kelompok sasaran lainnya.
d. Terjangkau, hendaknya makanan tambahan untuk ibu hamil dapat diolah
dari bahan-bahan yang harganya terjangkau oleh masyarakat berkemampuan
ekonomi rendah dengan tetap dapat memenuhi kebutuhan gizi.
e. Mudah didapat, bahan makanan yang digunakan sebagai makanan tambahan
untuk ibu hamil hendaknya mudah didapat.
f. Aman, selain harus bergizi lengkap dan seimbang makanan harus juga layak
konsumsi sehingga aman bagi kesehatan.
g. Makanan aman adalah makanan yang bebas dari kuman dan bahan kimia
yang berbahaya serta tidak bertentangan dengan keyakinan masyarakat
(halal).
2.4.5 Kandungan Gizi Biskuit Makanan Tambahan Ibu Hamil
PMT Ibu Hamil setiap 100 gram mengandung 520 kalori. Setiap keping
biskuit PMT Bumil mengandung 104 kalori. Tiap sajian PMT Bumil mengandung
520 kalori, 56 gram karbohidrat, 16 gramprotein, dan 26 gram lemak. PMT Bumil
mengandung 9 macam vitamin (A,B1,B2, B3, B6, B12, C, D dan E) serta 8
mineral (Asam Folat, Zat Besi, Selenium, Kalsium, Natrium, Zink, Iodium, dan

17
Fosfor). Ketentuan pemberian PMT Bumil pada kehamilan trimester I diberikan 2
keping per hari. Pada kehamilan trimester II dan III diberikan 3 keping per hari.
Pemberian PMT Bumil diberikan hingga Ibu hamil tidak lagi berada dalam
kategori kurang energi kronis KEK sesuai dengan pemeriksaan LILA. Apabila
berat badan sudah sesuai standar, dilanjutkan dengan mengonsumsi makanan
keluarga gizi seimbang (Kemenkes RI, 2016). Makanan tambahan adalah
makanan bergizi sebagai tambahan selain makanan utama bagi kelompok sasaran
guna memenuhi kebutuhan gizi. Makanan tambahan ibu hamil adalah makanan
bergizi yang diperuntukan bagi ibu hamil sebagai makanan tambahan guna
mencukupi kebutuhan gizi. Bentuk penambahan energi 500 kkal dapat berupa
pemberian makanan tambahan (PMT) pada ibu hamil KEK sebesar 500 kkal.
PMT dapat berupa pangan lokal atau pabrikan dan minuman padat gizi.

Tabel 2.1 Kandungan Gizi PMT


No Zat Gizi Satuan Kadar
1 Energi kkal minimum 500
2 Protein (kualitas protein tidak kurang dari 65% G minimum 15
kasein standar)
3 Lemak (kadar asam linoleat minimal 300 mg per 100 G minimum 25
kkal atau 1,5 gram per 100 gram produk)
4 Karbohidrat:
Sukrosa G 15-17
Serat G minimum 5
5 Vitamin A meg minimum 800
6 Vitamin D meg minimum 5
7 Vitamin E Mg minimum 15
8 Thiamin Mg minimum 1,3
9 Riboflavin Mg minimum 1,4
10 Niasin Mg minimum 18
11 Vitamin B12 meg minimum 2,6
12 Asam folat meg minimum 600
13 Vitamin B6 Mg minimum 1,7
14 Asam Pantotenat Mg minimum 7
15 Vitamin C Mg minimum 85
16 Besi (as ferro fumarat) Mg maksimum 15
17 Kalsium (as Ca laktat) Mg minimum 250
18 Natrium Mg maksimum 500
19 Seng Mg maksimum 7,5
20 Iodium meg minimum 100
21 Fosfor mg maksimum 208
22 Selenium meg minimum 35

18
23 Fluor mg minimum 2,7
24 “Air “ % maksimum 5
(Sumber: Kemenkes RI, 2016)

Berikut beberapa PMT yang dapat diberikan kepadaa ibu hamil KEK :
1. PMT yang dibuat berbasis pangan lokal dapat berupa makanan selingan padat,
sebagai contoh :
a. 200 gr pempek kapal selam + es kacang merah
b. 1 porsi siomay lengkap + jus jeruk
c. 1 porsi bubur kacang hijau + 2 iris roti tawar
d. 1 porsi bubur sagu kenari
e. 3 buah lontong / arem-arem + 4 potong tahu goreng
2. PMT ibu hamil pabrikan 500 kkal, 15 gr protein, diberikan 90 hari.
a. Biskuit lapis (100 gr)
3. Minuman padat gizi, dapat berupa formula susu dan formula non susu:
a. Formula susu (1,5 kkal/ mL) terdiri dari susu + gula + minyak ditambah
mineral mix
b. Formula non susu (1,5 kkal/ mL) yang terdiri dari kacang + telur + gula +
minyak
2.4.6 Penyimpanan di Puskesmas
a. Tempat penyimpanan harus selalu higienis, tidak berdebu dan bebas dari tikus,
kecoa dan binatang pengerat lainnya;
b. Tempat penyimpanan tidak bocor dan lembab ruangan mempunyai ventilasi
dan pencahayaan yang baik;
c. Makanan tambahan hendaknya tidak diletakkan langsung di lantai;
d. Penyusunan/peletakan/penumpukan makanan tambahan sedemikian rupa
sehingga barang tetap dalam kondisi baik.
e. Makanan tambahan yang masuk ke tempat penyimpanan yang lebih awal
dikeluarkan terlebih dahulu (First in First Out = FIFO);
f. Penyimpanan makanan tambahan tidak dicampur dengan bahan pangan lain
dan bahan bukan pangan;

19
g. Makanan tambahan yang rusak selama penyimpanan, diambil dan dipisahkan
dari makanan tambahan yang masih baik;
h. Makanan tambahan yang telah dinyatakan rusak perlu dibuatkan Berita Acara
Penghapusan oleh Kepala Puskesmas setempat;
i. Makanan tambahan dinyatakan rusak apabila kemasan berlubang, robek,
pecah, kempes dan teksturnya berubah.
2.4.7 Persentase Ibu Hamil KEK yang mendapatkan Makanan Tambahan
Indikator persentase ibu hamil KEK yang mendapatmakanan tambahan
adalah ibu hamil dengan lingkar lengan atas (LiLA) kurang dari 23,5 cm yang
mendapat makanantambahan. Makanan tambahan ini merupakan makanan
yangdikonsumsi sebagai tambahan asupan zat gizi diluar makanan utama, dalam
bentuk makanan tambahan pabrikan atau makanan tambahan bahan pangan lokal
yang diberikan minimal selama 90 hari makan ibu (HMI) berturut-turut. Upaya
pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil KEK merupakan realisasi dari
upaya kesehatan dalam bentuk kuratif sekaligus preventif guna meningkatkan
status gizi ibu hamil, agar melahirkan anak yang tidak mempunyai masalah gizi.
1. Faktor Pendukung Tercapainya Indikator
Terdapat beberapa faktor yang mendukung pencapaian targetyaitu:
1) Pemberian PMT pada ibu hamil KEK tidak hanyaberbentuk MP-ASI
pabrikan saja, namun juga PMT lokal.
2) Ketersediaan logistik makanan tambahan bagi ibu hamilKEK yang diadakan
oleh APBD I dan APBD II, sangatmembantu mengurangi ketergantungan
daerah kepadalogistik dari pusat.
3) Kesadaran pengelola gizi daerah dalam pencatatan danpelaporan yang
sangat tinggi.
2. Permasalahan Terkait Pencapaian Indikator
Belum tercapainya target ibu hamil KEK yang mendapat makanan
tambahan disebabkan oleh beberapa hal antara lain:
1) Dikarenakan indikator ibu hamil KEK mendapat makanantambahan
merupakan indikator baru dengan sosialisasiyang belum maksimal, hal ini

20
mengakibatkan masihbanyak daerah yang belum terpapar dan berimbas
kepadasistem pelaporan.
2) Indikator ini sesungguhnya merupakan kegiatan yangsudah biasa
dilaksanakan di lapangan. Namunmekanisme pencatatan dan pelaporan
belum dipahamihingga tingkat Puskesmas. Menjadikan kegiatan-
kegiatanyang dilaksanakan tersebut tidak terlaporkan, sehinggatidak tercatat
dan berpengaruh terhadap cakupan setiapdaerah.
3) Indikator persentase ibu hamil KEK mendapat makanantambahan,
berhubungan dengan proses pengadaan PMT.
4) Keterlambatan dalam pengadaan mengakibatkanterlambatnya proses
distribusi hingga ke sasaran.
5) Kurangnya sosialisasi Pedoman Penanggulangan KurangEnergi Kronik
(KEK) pada ibu hamil oleh Pusat.

2.5 Definisi Evaluasi


Pengertian evaluasi menurut Hornby dan Parnwell adalah sebagai suatu
tindakan pengambilan keputusan untuk menilai suatu objek, keadaan, peristiwa
atau kegiatan tertentu yang sedang diamati. Pengertian tersebut juga dikemukakan
oleh Soumelis (1983) yang mengartikan evaluasi sebagai proses pengambilan
keputusan melalui kegiatan membanding-bandingkan hasil pengamatan terhadap
suatu obyek.
Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan, terdapat beberapa pokok
pikiran yang terkandung dalam pengertian “evaluasi” sebagai kegiatan terencana
dan sistematis yang meliputi sebagai berikut:
a. Pengamatan untuk mengumpulkan data dan fakta,
b. Penggunaan “pedoman” yang telah ditetapkan,
c. Pengukuran atau membandingkan hasil pengamatan dengan pedomanpedoman
sudah ditetapkan terlebih dahulu,
d. Pengambilan keputusan atau penilaian,
Ada lima ciri dalam evaluasi meliputi:

21
a. Kualitas: apakah program baik atau tidak baik, kualitas isi program, kegiatan
pendidik, media yang digunakan, penampilan pelaksana program.
b. Kesesuaian (suitability): pemenuhan kebutuhan dan harapan masyarakat.
Program tidak menyulitkan atau membebani masyarakat, sesuai dengan
tingkat teknis, sosial dan ekonomis masyarakat,
c. Keefektifan: seberapa jauh tujuan tercapai,
d. Efisiensi: penggunaan sumber daya dengan baik, dan
e. Kegunaan (importance): kegunaan bagi masyarakat yang ikut terlibat dalam
program.
2.6 Puskesmas
2.6.1 Definisi Puskesmas
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama,
dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya di wilayah kerjanya.
2.6.2 Fungsi Puskesmas
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk
mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka
mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Untuk itu puskesmas memiiki fungsi:
1. Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya.
Puskesmas berwenang untuk:
a) Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan
masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan;
b) Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;
c) Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi dan pemberdayaan
masyarakat dalam bidang kesehatan;
d) Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang
bekerjasama dengan sektor lain terkait;
e) Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya
kesehatan berbasis masyarakat;

22
f) Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Puskesmas.
Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan;
g) Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu,
dan cakupan Pelayanan Kesehatan
h) Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk
dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggulangan
penyakit (Permenkes RI No.75 tahun 2014).
2. Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya.
Puskesmas berwenang untuk:
a) Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dasar secara komprehensif,
berkesinambungan dan bermutu;
b) Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan upaya
promotif dan preventif;
c) Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang berorientasi pada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat;
d) Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan yang mengutamakan keamanan
dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung;
e) Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan dengan prinsip koordinatif dan
kerja sama inter dan antar profesi;
f) Melaksanakan rekam medis;
g) Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan akses
Pelayanan Kesehatan;
h) Melaksanakan peningkatan kompetensi Tenaga Kesehatan;
i) Mengoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya; dan
j) Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan Sistem
Rujukan
2.6.3 Tujuan Puskesmas
Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan
untuk mewujudkan masyarakat yang:

23
1. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat.
2. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu.
3. Hidup dalam lingkungan sehat,
4. Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat.
2.6.4 Upaya Kesehatan Puskesmas
Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama
dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama. Upaya kesehatan Puskesmas
dilaksanakan secara terintegrasi dan berkesinambungan.
1. Upaya Kesehatan Masyarakat
Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama meliputi upaya kesehatan
masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan.
a) Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial, meliputi:
1. Pelayanan promosi kesehatan
2. Pelayanan kesehatan lingkungan
3. Pelayanan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana
4. Pelayanan gizi
5. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit
b) Upaya Kesehatan Masyarakat Pengembangan, yaitu upaya kesehatan
masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya yang sifatnya inovatif
dan/atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi pelayanan, disesuaikan dengan
prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja, dan potensi sumber
daya yang tersedia di masing-masing Puskesmas.
2. Upaya Kesehatan Perseorangan
Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dilaksanakan dalam bentuk:
1. Rawat jalan
2. Pelayanan gawat darurat
3. Pelayanan satu hari (one day care)
4. Home care
5. Rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan.

24
BAB III
METODE EVALUASI

Evaluasi program dilakukan di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak


Tenggara pada tanggal 28 Januari 2019 sampai dengan 12 Februari 2019. Metode
evaluasi yang digunakan dalam laporan evaluasi program Ibu Hamil Kurang
Energi (KEK) yang mendapatkan makanan tambahan ini terbagi dalam beberapa
tahap. Berikut adalah uraian dari tahap-tahap dalam evaluasi program tersebut.

3.1. Penetapan Tolok Ukur dari Unsur Keluaran


Evaluasi dilakukan pada Program Ibu Hamil Kurang Energi (KEK) yang
mendapatkan makanan tambahan di UPTD Puskesmas Pontianak Tenggara
periode Januari – Desember 2018. Rujukan tolak ukur penilaian yang digunakan
adalah:
1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
HK.02.02/MENKES/52/2015 Tentang Rencana Strategis Kementrian
Kesehatan Tahun 2015-2019
2. Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Nomor 8416.1 Tahun
2014 Tentang Penetapan Rencana Strategis Dinas Kesehatan Kota
Pontianak Tahun 2015-2019

25
3. Profil Kesehatan UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggara pada
tahun 2017 dan 2018
4. Standar Pelayanan Minimal Dan Indikator Kinerja Upaya UPTD Puskesmas
Kecamatan Pontianak Tenggara Tahun 2018.
Adapun indikator dan tolok ukur program persentase Ibu Hamil Kurang
Energi Kronis (KEK) mendapatkan pelayanan kesehatan Puskesmas Januari –
Desember tahun 2018 disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 3.1 Capaian keberhasilan program persentase ibu hamil Kurang Energi
Kronik (KEK) pada tahun 2018

No Indikator Jumlah ibu Target Capaian


hamil (orang) (%) (%)

1 Ibu hamil Kurang


491 <5 8,35
Energi Kronik (KEK)

Sumber: SPM IKU UPTD Puskesmas Kec.Pontianak Tenggara, 2018

Berikut adalah indikator dan tolok ukur program Ibu Hamil Kurang Energi
(KEK) yang mendapatkan makanan tambahan di UPTD Puskesmas Pontianak
Tenggara Januari – Desember tahun 2018 disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 3.1 Capaian keberhasilan program persentase ibu hamil Kurang Energi
Kronik (KEK) yang mendapatkan Makanan Tambahan pada tahun 2018

No Indikator Jumlah ibu


Target Capaian
hamil KEK
(%) (%)
(orang)
1 Ibu hamil Kurang
Energi Kronik (KEK)
41 80 58,53 %
yang mendapatkan
makanan tambahan
Sumber: SPM IKU UPTD Puskesmas Kec.Pontianak Tenggara, 2018

26
3.2. Pengumpulan Data
3.2.1. Data Primer
Data primer dikumpulkan dengan menggunakan observasi dan wawancara
langsung terhadap penanggung jawab program, kepala puskesmas dan dokter
puskesmas di wilayah kerja UPTD Puskesmas Pontianak Tenggara.
3.2.2. Data Sekunder
Data sekunder dikumpulkan dengan mempelajari laporan dan dokumentasi
Puskesmas yaitu Profil Kesehatan UPTD Puskesmas Pontianak Tenggara periode
tahun 2018.

3.3. Identifikasi Masalah


Identifikasi masalah dilakukan dengan membandingkan data indikator
program persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK) yang mendapatkan
makanan tambahan di UPTD Puskesmas Pontianak Tenggara dengan tolok ukur
keberhasilan unsur-unsur program untuk mencari adanya kesenjangan.

3.4. Menetapkan Prioritas Masalah


Untuk lebih mudah kita menganalisis permasalahan yang menjadi prioritas,
terdapat beberapa alat analisis yang dapat digunakan. Diantara alat analisis
tersebut adalah matriks urgency, seriousness, and growth atau yang sering
disingkat Matriks USG. Pentingnya suatu masalah dibandingkan masalah lainnya
dapat dilihat dari tiga aspek berikut:
1. Bagaimana gawatnya masalah dilihat dari pengaruhnya sekarang ini
terhadap produktivitas, orang, dan / atau sumber dana dan daya?
2. Bagaimana mendesaknya dilihat dari waktu yang tersedia?
3. Bagaimanakah perkiraan yang terbaik mengenai kemungkinan
berkembangnya masalah?
Pada penggunaan Matriks USG, untuk menentukan suatu masalah yang
prioritas, terdapat tiga faktor yang perlu dipertimbangkan. Ketiga faktor tersebut
adalah urgency, seriuosness dan growth.

27
Urgency berkaitan dengan mendesaknya waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan masalah tersebut. Semakin mendesak suatu masalah untuk
diselesaikan maka semakin tinggi urgensi masalah tersebut.
Seriousness berkaitan dengan dampak dari adanya masalah tersebut
terhadap organisasi. Dampak ini terutama yang menimbulkan kerugian bagi
organisasi seperti dampaknya terhadap produktivitas, keselamatan jiwa manusia,
sumber daya atau sumber dana. Semakin tinggi dampak masalah tersebut terhadap
organisasi maka semakin serius masalah tersebut.
Growth berkaitan dengan pertumbuhan masalah. Semakin cepat
berkembang masalah tersebut maka semakin tinggi tingkat pertumbuhannya.
Suatu masalah yang cepat berkembang tentunya makin prioritas untuk diatasi
permasalahan tersebut.
Demi mengurangi tingkat subyektivitas dalam menentukan masalah prioritas,
maka perlu menetapkan kriteria untuk masing-masing unsur USG tersebut.
Umumnya digunakan skor dengan skala tertentu. Misalnya penggunaan skor skala
1-5. Semakin tinggi tingkat urgensi, serius, atau pertumbuhan masalah tersebut,
maka semakin tinggi skor untuk masing-masing unsur tersebut.

3.5. Pembuatan Kerangka Konsep dari Masalah yang Diprioritaskan


Tujuan pembuatan kerangka konsep adalah menentukan penyebab masalah
yang telah diprioritaskan. Hal ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor
penyebab masalah yang telah diprioritaskan. Faktor-faktor tersebut berupa
komponen input (man, material, money, method dan lingkungan). Kerangka
konsep disusun dengan menggunakan pendekatan fish bone. Kerangka konsep
tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi semua faktor penyebab.

3.6. Identifikasi Penyebab Masalah


Kemungkinan-kemungkinan penyebab masalah diidentifikasi dengan
mengelompokkan faktor-faktor dalam unsur input (man, material, money,
method), proses (method), dan lingkungan yang diperkirakan berpengaruh
terhadap prioritas masalah. Kemudian indikator faktor tersebut dibandingkan

28
dengan tolak ukurnya. Suatu faktor ditetapkan menjadi penyebab masalah jika ada
kesenjangan antara pencapaian indikator dan tolak ukurnya. Jumlah penyebab
masalah bisa lebih dari satu.

3.7. Perencanaan Penyelesaian Masalah


Perencanaan penyelesaian masalah disusun berupa rancangan program yang
diharapkan dapat menyelesaikan masalah program di masa yang akan datang.
Perencanaan penyelesaian masalah dibuat dengan memperhatikan kemampuan,
situasi, dan kondisi Puskesmas. Perencanaan penyelesaian masalah dibuat secara
rinci meliputi tujuan, sasaran, target, metode, jadwal kegiatan serta rincian dana.

3.8. Penentuan Prioritas Penyelesaian Masalah


Penentuan prioritas penyelesaian masalah dilakukan untuk memilih
alternatif penyelesaian masalah yang paling menjanjikan. Sebelum melakukan
pemilihan sebaiknya dicoba memadukan berbagai alternatif penyelesaian masalah
terlebih dahulu. Bila tidak dapat dilaksanakan barulah dilakukan pemilihan. Cara
pemilihan dapat dilakukan dengan metode CARL. Metode ini baik digunakan bila
pengelola program memiliki hambatan keterbatasan dalam menyelesaikan
masalah. Metode ini didasarkan pada serangkaian kriteria yang harus diberi nilai
0-10. Kriteria yang dimaksud adalah:
C = Capability yaitu ketersediaan sumber daya (dana, sarana dan peralatan)
A = Accessibility yaitu kemudahan, masalah yang ada mudah diatasi atau tidak.
Kemudahaan dapat didasarkan pada ketersediaan metode / cara / teknologi
serta penunjang pelaksanaan seperti peraturan atau juklak.
R = Readiness yaitu kesiapan dari tenaga pelaksana maupun kesiapan sasaran,
seperti keahlian atau kemampuan dan motivasi.
L = Leverage yaitu seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan yang lain
dalam pemecahan masalah yang dibahas.
Nilai total merupakan hasil perkalian C x A x R x L, urutan ranking atau
prioritas adalah nilai tertinggi hingga nilai terendah.

29
BAB IV
PENYAJIAN DATA

4.1. Gambaran Umum Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kecamatan


Pontianak Tenggara
4.1.1 Luas dan Batas Wilayah
UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggara memiliki 2 wilayah bina
yaitu Kelurahan Bansir Laut dan Kelurahan Bangka Belitung Laut, dengan luas
wilayah 528.02 km2. Adapun batas-batas wilayah binaan UPTD Puskesmas
Kecamatan Pontianak Tenggara adalah:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pontianak Timur.
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Bansir Darat dan Bangka
Belitung Darat.
c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Benua Melayu Darat atau
Kecamatan Pontianak Selatan.
d. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Kubu Raya.
4.1.2 Demografi/Kependudukan
Jumlah penduduk wilayah bina UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Tenggara tahun 2018 adalah 25.958 jiwa. Kepadatan tertinggi berada pada
Kelurahan Bangka Belitung Laut dengan besaran 14.996 jiwa disusul Kelurahan
Kelurahan Bansir laut dengan kepadatan 10.962 jiwa.
Berdasarkan data proyeksi di dua kelurahan, penduduk UPTD Puskesmas
Kecamatan Pontianak Tenggara berjumlah 25.958 jiwa dengan pembagian
dimana Laki- laki 12.965 perempuan 12.990.

Tabel 4.1. Luas Kelurahan dan Jumlah Penduduk


Luas Wilayah Jumlah
No. Kelurahan
(Ha) Penduduk
1 Bangka 233 14.996
Belitung Laut
2 Bansir Laut 295 10.962
Jumlah 25.958
Sumber : Profil Kecamatan Pontianak Tenggara Tahun 2018

30
Tabel 4.2 Persentase Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Wilayah Kerja
UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggara Tahun 2018
Bangka Belitung Bansir
No. Jenis Mata Pencaharian Jumlah
Laut Laut
1 PNS 757 646 1.403
2 TNI & POLRI 67 48 115
3 Karyawan Swasta 2.732 1.161 3.893
4 Buruh 298 285 583
5 Wiraswasta 783 454 1.237
6 Lain-lain 10.357 6.598 16.955
Jumlah 14.994 9.192 24.186
Sumber : Profil Kecamatan Pontianak Tenggara Tahun 2018

Tabel 4.3 Cakupan Ibu Hamil Yang Mengalami Kurang Energi Kronik (KEK)
Januari - Desember 2018 Di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Tenggara
No Indikator Jumlah ibu Target Capaian
hamil (orang) (%) (%)
1 Ibu hamil Kurang
491 <5 8,35
Energi Kronik (KEK)
Sumber: SPM IKU UPTD Puskesmas Kec.Pontianak Tenggara, 2018

Tabel 4.4 Jumlah Ibu Hamil Mengalami KEK Yang Melakukan Kunjungan Di
Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggara
Januari - Desember 2018
No Bulan Jumlah Kunjungan (orang)
1 Januari 6
2 Februari 3
3 Maret 8
4 April 4
5 Mei 1
6 Juni 4
7 Juli 0
8 Agustus 4
9 September 5
10 Oktober 2
11 November 3

31
12 Desember 1
Jumlah 41
Sumber: SPM IKU UPTD Puskesmas Kec.Pontianak Tenggara, 2018

Tabel 4.5 Cakupan Ibu Hamil yang Mengalami KEK Mendapatkan Makanan
Tambahan Januari - Desember 2018 Di UPTD Puskesmas
Kecamatan Pontianak Tenggara
No Indikator Jumlah ibu
Target Capaian
hamil KEK
(%) (%)
(orang)
1 Ibu hamil Kurang
Energi Kronik (KEK)
41 80 58,53%
mendapat makanan
tambahan
Sumber: SPM IKU UPTD Puskesmas Kec.Pontianak Tenggara, 2018

Tabel 4.6 Jumlah Ibu Hamil Mengalami KEK Yang Mendapatkan Makanan
Tambahan Di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggara
Januari - Desember 2018

No Bulan Ibu Hamil KEK Mendapatkan


Makanan Tambahan (orang)
1 Januari 0
2 Februari 3
3 Maret 8
4 April 2
5 Mei 2
6 Juni 2
7 Juli 1
8 Agustus 1
9 September 2
10 Oktober 1
11 November 1
12 Desember 1
Jumlah 24
Sumber: SPM IKU UPTD Puskesmas Kec.Pontianak Tenggara, 2018

32
4.2. Analisa Situasi dan Sumber Daya UPTD Puskesmas Kecamatan
Pontianak Tenggara
4.2.1 Program Kesehatan
Sesuai dengan visi Kementrian Kesehatan RI, maka program kesehatan di
UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggaralebih dititik beratkan pada
upaya preventif namun tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Untuk
itu UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggaramelaksanakan program
pokok yang meliputi: Poli Umum, Poli Gigi, KIA/KB/IMS, Imunisasi, Konsultasi
Gizi, Klinik Remaja, Poli Bayi dan Balita dan Klinik Sanitasi/ Kesehatan
Lingkungan.
4.2.2 Fasilitas Kesehatan
Fasilitas kesehatan yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kecamatan
Pontianak Tenggaratahun 2018 meliputi:

Tabel 4.7 Distribusi Fasilitas Kesehatan yang Ada di Wilayah Kerja UPTD
Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggara Tahun 2018
No Jenis Sarana/Prasarana Jumlah
1 UPTD/Puskesmas 1 buah
2 Posyandu 16 buah
3 Balai Pengobatan 1 buah
4 Apotek 1 buah
Total 19 buah
Sumber: Profil Puskesmas Kec.Pontianak Tenggara, 2018

4.2.3 Situasi Sumber Daya Kesehatan


4.2.3.1. Ketenagaan
UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggaradibawah pembinaan Dinas
Kesehatan Kota Pontianak yang dipimpin oleh seorang kepala Puskesmas
Kecamatan Pontianak Tenggara dan dibantu oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha
serta seluruh staf-staf puskesmas. Sampai dengan akhir tahun 2018 UPTD
Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggaramemiliki ketenagaan sebanyak 29
orang, yang terdiri dari:

33
Tabel 4.8 Ketenagakerjaan UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
TenggaraTahun 2018
No Jenis Tenaga Kesehatan Jumlah
1 Dokter Spesialis -
2 Dokter 2
3 Dokter Gigi 1
4 Perawat 4
5 Perawat Gigi 2
6 Bidan 5
7 Tenaga Kesmas 1
8 Tenaga Kesling 1
9 Tenaga Gizi 2
10 Ahli Tehnologi Laboratorium Medik 2
11 Tenaga Kefarmasian 2
12 Tenaga Administrasi 3
13 Tenaga Loket 2
14 Petugas Keamanan 1
15 Petugas Kebersihan 1
Jumlah 29
Sumber: Profil Puskesmas Kec.Pontianak Tenggara, 2018

4.2.3.2. Sarana dan Prasarana


Sarana dan prasarana yang ada di wilayah UPTD Puskesmas Kecamatan
Pontianak Tenggaraadalah sebagai berikut:

Tabel 4.8 Sarana dan Prasarana UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak


Tenggara Tahun 2018
Keterangan
Jenis Sarana/Prasarana Jumlah
No
1 Bangunan Puskesmas Induk 1 buah Baik
2 Ambulan 1 buah Baik
3 Kendaraan Roda Dua 2 buah Baik
Sumber: Profil Puskesmas Kec.Pontianak Tenggara, 2018

4.2.4 Pembiayaan
Sumber daya kesehatan lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah
pembiayaan yang tersedia. Pada tahun 2018 pembiayaan program Ibu Hamil KEK

34
yang mendapatkan Makanan Tambahan di UPTD Puskesmas Kecamatan
Pontianak Tenggaraterdiri dari dana bantuan operasional kesehatan (BOK).

35
BAB V
HASIL PENILAIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Indikator daan Tolak Ukur Keluaran Program


Pentingnya dilakukan evaluasi program puskesmas untuk mengevaluasi
kinerja suatu program di puskesmas demi mencapai target kinerja yang
diharapkan. Pengukuran kinerja dilakukan dengan cara membandingkan satuan
target kinerja yang telah ditetapkan dari masing-masing indikator kinerja sasaran
dengan realisasi atau capaaian target kinerja yang diperoleh/dicapai melalui
pelaksanaan program/kegiatan serta penggunaan anggaran yang telah ditetapkan
dalam dokumen penetapan kinerja dan dokumen pelaksanaan anggaran.
Pengukuran kinerja dilakukan dengan berorientasi pada hasil (outcome).
Evaluasi program ini dilakukan terhadap UPTD Puskesmas Kecamatan
Pontianak Tenggara tahun 2018. Identifikasi masalah dimulai dengan melakukan
pengkajian terhadap semua indikator kinerja (output) UPTD Puskesmas
Kecamatan Pontianak Tenggara tahun 2018. Kemudian dipilih indikator program
yang tidak mencapai target sasaran.
Berdasarkan indikator kinerja utama (outcome) atau indikator kinerja
(output) di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggara pada taahun 2018
terdapat 6 indikator yang belum mencapai target. Berikut indikator dan tolak ukur
program tersebut :

Tabel 5.1 Indikator dan Tolok Ukur Program


No Indikator Target Capaian (%)
(%)
1 Ibu hamil yang Kurang Energi Kronik 5 8,35
(KEK)
2 Ibu hamil yang kurang energi kronis 80 58,53
(KEK) yang mendapatkan makanan
tambahan
3 Angka Bebas Jentik (ABJ) 95 80,41
6 Persentase anak usia 0 – 11 bulan yang 92,5 90
mendapat imunisasi dasar lengkaap
7 Bayi kurang dari 6 bulan yang 75 64,35

36
mendapatkan ASI Ekskusif
8 Persentase Tempat Pengolahan Makanan 35 30,8
(TPM) yang memenuhi syarat kesehatan
Sumber: SPM IKU Puskesmas Kec.Pontianak Tenggara, 2018

5.2. Identifikasi Prioritas Masalah


Banyaknya masalah yang ditemukan dalam program puskesmas, dan tidak
memungkinkannya untuk diselesaikan sekaligus atau seluruhnya, sehingga perlu
dilakukan pemilihan prioritas masalah yang merupakan masalah terbesar.
Penentuan prioritas masalah kami lakukan ialah dengan menggunakan metode
USG (Urgency, Seriousness, Growth) dengan metode teknik scoring 1-5.

Tabel 5.2 Prioritas Masalah


No Indikator U S G Total Rangking
1 Ibu hamil yang kurang energi 4 5 5 14 1
kronis (KEK) yang mendapatkan
makanan tambahan
2 Ibu hamil yang Kurang Energi 4 5 4 13 2
Kronik (KEK)
3 Angka Bebas Jentik (ABJ) 4 4 4 12 3
4 Persentase anak usia 0 – 11 bulan 4 4 2 10 4
yang mendapat imunisasi dasar
lengkap
5 Bayi kurang dari 6 bulan yang 3 3 3 9 5
mendapatkan ASI Eksklusif
6 Persentase Tempat Pengolahan 2 4 2 8 6
Makanan (TPM) yang memenuhi
syarat kesehatan

Indikator persentase ibu hamil yang Kurang Energi Kronik (KEK) yang
mendapatkan makanan tambahan menjadi salah satu indikator yang
dipertimbangkan dalam evaluasi program ini. Berdasarkan metode USG diberikan
nilai 4 pada indikator Urgency (U) dikarenakan hal ini cukup mendesak untuk
ditangani dengan segera karena makan tambahan yang di berikan pada ibu hamil
KEK dapat memenuhi kebutuhan gizi pada ibu hamil yang lebih besar karena
makanan tambahan tersebut mengandung protein dan energy yang lebih banyak

37
sehingga diharapkan dapat mencegah terjadinya dampak atau komplikasi dari
KEK. Apabila terjadi keterlambatan, akan berpengaruh pada ibu hamil dan
perkembangan janin. Pada indikator Seriously (S), diberikan nilai 5 yang mana
apabila tidak ditangani akan menimbulkan dampak pada ibu hamil dan janin
diantaranya anemia, keguguran, resiko Berat Badan Lahir Rendah (BBLR),
keguguran bahkan sampai kematian. Hal ini sangat berpengaruh pada kualitas
hidup ibu dan bayi. Nilai 5 diberikan untuk Growth (G) karena apabila tidak di
selesaikan permasalahan ini maka semakin cepat pertumbuhan masalah, hal
tersebut dapat dilihat dari persentase penyaluran PMT pada ibu hamil pada tahun
2018 di Indonesia sebesar 25,2% sedangkan target Kementrian Kesehatan sebesar
80%. Kesadaran masyarakat atau pengetahuan masyarakat yang kurang maupun
pengabaian dari instansi-instansi terkait terhadap masalah tersebut maka masalah
tersebut berpeluang semakin besar.
Berdasarkan metode USG di atas, diperoleh prioritas masalah utama yaitu
pada indikator persentase ibu hamil yang Kurang Energi Kronik (KEK) yang
mendapatkan makanan tambahan. Oleh sebab itu, kami mengangkat program
tersebut sebagai bahan evaluasi.

5.3. Identifikasi Penyebab Masalah


Sesuai dengan pendekatan sistem, pencapaian persentase sistem tersebut
meliputi man, material, method, money, dan environment. Kami berupaya
menemukan dan menganalisa penyebab masalah berdasarkan aspek man,
material, method, money dan environment untuk mengidentifikasi penyebab
masalah yang mempengaruhi keberhasilan persentase ibu hamil Kurang Energi
(KEK) mendapat makanan tambahan. Identifikasi masalah dapat kami susun
setelah kami mendapatkan data yang bersumber dari wawancara dengan
penanggung jawab program ibu hamil kurang energi (KEK) yang mendapatkan
makanan tambahan, kepala puskesmas, petugas puskesmas (dokter, perawat dan
bidan), masyarakat, dan observasi langsung ke lapangan. Daftar masalah yang
mempengaruhi keberhasilan persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK)
yang mendapatkan makanan tambahan yaitu :

38
Tabel 5.3 Daftar Permasalahan yang Mempengaruhi Persentase Ibu Hamil dengan
Kurang Energi Kronis (KEK)
No Faktor Masalah Tolok Ukur Keterangan
Penyebab
Manusia
1. Masyarakat  Masih rendahnya Wawancara  Masyarakat masih
pengetahuan tentang dengan banyak tidak
pentingnya PMT penanggung mengetahui tentang
untuk perbaikan gizi jawab PMT pada ibu hamil
ibu KEK selama program, KEK.
hamil. masyarakat  Masyarakat masih
 Kurangnya kesadaran setempat dan banyak yang masih
masyarakat akan hasil observasi belum sadar
pentingnya gizi bagaimana
seimbang terutama pentingnya asupan
selama kehamilan nutrisi selama
kehamilan.
2. Pasien  Tidak memakan PMT Wawancara  Bebeapa pasien
yang sudah diberikan dengan mengaku mual
petugas. masyarakat memakan PMT
 Kurangnya setempat dan karena merasa tidak
pengetahuan tentang hasil observasi. enak dan ibu hamil
penambahan pola merasa bosan karena
makan/gizi selama harus memakan
kehamilan biskuit PMT selama
9 bulan.
 Ibu hamil
menerapkan pola
makan yang sama
dengan sebelum
hamil sehingga
nutrisi bagi ibu dan
janin selama
kehamilan tidak
didapatkan secara
optimal
3. Petugas Kurangnya tenaga Wawancara  Menurut pemegang
Kesehatan kesehatan khususnya dengan program tenaga gizi
bagian gizi sehingga pemegang di UPTD Puskesmas
pemberian konseling program. Kec. Pontianak
mengenai gizi selama Tenggara hanya 2
kehamilan menjadi tidak orang dan salah
efektikf satunya biasanya
melakukan kegiatan
lapangan sehingga
pemeberian edukasi
dan konseling yang
diberikan kepada
Ibu hamil KEK
mengenai gizi dan
PMT kurang dan
tidak terlalu efektif
Material  Kurangnya fasilitas

39
1. Media Promkes pendukung media Wawancara Kurangnya media
informasi mengenai dengan promosi kesehatan
gizi selama penanggung seperti brosur, poster
kehamilan serta jawab program dan spanduk tentang
manfaat PMT pada dan masyarakat asupan gizi saat
Ibu hamil KEK dan hasil kehamilan serta
 Media praga jarang observasi manfaat PMT pada ibu
digunakan untuk hamil KEK
menjelaskan
pemenuhan makan
yang seimbang
sertai nilai gizinya.
 Kurangnya
penyuluhan tentang
makan tambaahan
pada ibu hamil KEK
Metode
1. PMT dari  Tidak adanya Wawancara PMT yang tidak
pemerintah variasi rasa pada dengan bervariasai dari bentuk
PMT masyarakat dan dan rasa sehingga
 Kurangnya kegiatan hasil observasi pasien bosan memakan
untuk meningkatkan PMT yang diberikan
kreativitas dalam
pemberian PMT Ibu
hamil KEK seperti
membuat inovasi
menu untuk PMT
lokal yang
diberikan kepada
ibu hamil KEK

2 Konseling  Kurangnya respon Ibu Wawancaara Konseling mengenai


hamil KEK terhadap dengan PMT pada ibu hamil
konseling/ penjelasan penanggung KEK dilakukan oleh
yang diberikan oleh jawab program petugas, namun
petugas tentang PMT kepedulian Ibu hamil
pada ibu hamil KEK mengenai hal ini masih
serta gizi selama kurang dalam hal
kehamilan kontrol dini dan
kontrol selanjutnya

Money
1. Penyediaan Terbatasnya anggaran Wawancara Anggaran PMT dalam
PMT untuk PMT dengan bentuk susu terbatas
penanggungjaw dari dana APBD
ab program sehingga dipenuhi
dengan pemberian
biscuit dari Dinas
Kesehatan Provinsi

Terdapat kurangnya
2. Pembiayaan Tidak ada pendanaan kepedulian masyarakat
kunjungan khusus untuk kunjungan Wawancara mengenai skrining

40
demi kontrol ibu hamil dengan awal dan kontrol ulang
dengan KEK yang tidak penanggung ke Puskesmas
kontrol ke Puskesmas jawab program mengenai pemenuhan
gizi yang cukup
Lingkungan Keluarga kurang Wawancara  Tidak ada yang
1. Kurangnya memberikan motivasi dengan mengingatkan
dukungan dari pada ibu hamil KEK keluarga dan untukmengkonsumsi
keluarga untuk patuh pasien PMT setiap hari
memngkonsumsi PMT sehingga pasien
yang diberikan oleh terkadang lupa
petugas Puskesmas untuk
mengkonsumsi
PMT yang sudah
diberikan karena
rasanya tidak enak
dan merasa bosan
memakan biscuit
PMT selama 9 bulan
kehamilan
2 Dukungan dari Kurang peran dari Wawancara  Tokoh-tokoh
Tokoh-tokoh tokoh-tokoh masyarakat dengan masyarakat (camat,
masyarakat (camat, lurah, ketua masyarakat lurah, ketua
RT/RW) terhadap setempat dan RT/RW) tidak
kesehatan warga kepala memiliki dana
khusunya ibu hamil puskesmas khusus sehingga
yang mengalami KEK terkadang lambat
dalam menanggapi
masalah-masalah
kesehatan, terutama
mengenai Bumil
KEK

Identifikasi dengan menggunakan tabel seperti yang tercantum di atas dapat


mempermudah penjabaran masalah bagi tiap-tiap bidang diharapkan juga dapat
mempermudah dalam menyimpulkan suatu solusi bagi permasalahan yang ada.
Setelah mengetahui masalah-masalah yang ada, langkah selanjutnya ialah
mengidentifikasi akar permasalahan, dalam hal ini kami menggunakan diagram
fishbone:

41
SARANA DANA LINGKUNGAN

Kurangnya anggaran
Kurangnya dukungan keluarga
Kurangnya media promkes PMT
Kurangnya
penggunaan
Persentase Bumil
alat peraga
KEK capaian=8,3 %

PMT tidak berkelanjutan oleh pasien Target= <5%


Pengetahuan pentingnya gizi pada
kehamilan Kurangnya inovasi
Sifat ibu hamil yang membuat menu PMT
mudah bosan baru
PMT yang tidak dimakan PMT tidak bervariasi
oleh ibu hamil

MANUSIA METODE

Gambar 5.1 Diagram Fishbon

42
5.4. Perencanaan dan Alternatif Penyelesaian Masalah
Beberapa alternatif penyelesaian masalah dapat diajukan untuk menyelesaikan
permasalahan mengenai rendahnya persentase ibu hamil Kurang Energi Kronis
(KEK) yang mendapatkan makanan tambahan dikaitkan dengan masalah-masalah
yang berhasil diidentifikasi sebelumnya. Alternatif penyelesaian masalah dapat
diajukan untuk menyelesaikan permasalahan adalah sebagai berikut:
5.4.1 Penyediaan Media Promosi Kesehatan dan Publikasi Program
a. Tujuan
Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya PMT pada ibu
hamil KEK serta meningkatkan kepatuhan dalam mengkonsumsi PMT. Media
promosi kesehatan ini juga bertujuan untuk menjelaskan KEK pada ibu hamil
seperti penyebab, pencegahan, dampak KEK serta asupan nutrisi selama
kehamilan.
b. Waktu dan Tempat
Waktu : Minimal 3 kali dalam setahun
Tempat : Puskesmas, posyandu, kelas ibu hamil.
c. Pelaksana
Petugas gizi bekerjasama dengan petugas kesehatan ibu dan anak serta kader
posyandu.
d. Sasaran
Masyarakat di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Tenggara.
e. Target
1) Masyarakat menjadi lebih tahu tentang Kurang Energi Kronik (KEK)
pada ibu hamil beserta cara pencegahannya sehingga meningkatkan angka
remaja pra-nikah dan ibu hamil yang melakukan deteksi dini.
2) Masyarakat dapat mengetahui faktor-faktor risiko KEK sehingga dapat
menerapkan pola hidup sehat sebagai upaya pencegahannya.

43
3) Masyarakat menjadi lebih mengerti tentang pentingnya PMT untuk
memperbaiki gizi ibu hamil KEK dan menjadi lebih patuh dalam
mengkonsumsi PMT.
4) Ibu hamil menjadi lebih termotivasi memakan PMT yang diberikan oleh
puskesmas
f. Pelaksanaan
1) Melakukan penyuluhan terkait pentingnya PMT untuk ibu hamil KEK
2) Menayangkan media informasi seperti video promosi terkait program
KEK pada saat kegiatan dalam gedung maupun kegiatan lapangan
sehingga penerimaan informasi menjadi lebih menarik dan mudah
dipahami.
3) Memberikan penjelasan kepada ibu hamil KEK mengenai pemenuhan
gizi selama kehamilan serta manfaat PMT melalui diaglog interaktif
4) Memberikan penjelasan menggunakan media praga untuk menarik minat
masyarakat.
5) Melakukan integrasi dengan program lain seperti melakukan penyulah
pada saat kelas ibu hamil dan program posyandu.
6) Menambah jumlah leaflet mengenai manfaat PMT serta gizi hamil untuk
ibu.
5.4.2 Memberikan PMT Lokal Sebagai Selingan PMT yang di berikan
Pemerintah
a. Tujuan
1) Memberikan variasi PMT sehingga ibu hamil tidak merasa bosan dengan
PMT yang tersedia
2) Menambah pengetahuan gizi pada ibu hamil dengan pemberian PMT dari
bahan pangan lokal sehingga dapat menjadi selingan untuk PMT dari
pemerintah
b. Waktu dan Tempat
Waktu : 1 kali seminggu selama minimal 3 bulan

44
Tempat : Puskesmas dan posyandu

c. Pelaksana
Petugas gizi bekerjasama dengan kader puskesmas dalam menyediakan
PMT lokal.
d. Sasaran
Ibu hamil KEK di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Tenggara.

e. Target
1) Pengetahuan ibu hamil tentang sumber gizi berdasarkan bahan pangan
lokal meningkat
2) Terpenuhinya jumlah energi dan zat gizi tambahan yang diperlukan ibu
hamil KEK
f. Pelaksanaan
1) Membuat perencanan jadwal kegiatan pemberian PMT lokal yang tetap
2) Melakukan pelatihan kader mengenai pembuatan menu PMT lokal serta
memberikan pengetahuan tentang kandungan gizi yang ada pada makanan
3) Kader memasak dan mengolah panganan lokal menjadi PMT lokal
4) Pembagian PMT lokal sebagai selingan dari PMT yang disediakan oleh
pemerintah sehingga ibu hamil termotivasi untuk memakan PMT
5.4.3 Skrining Calon Pengatin (Catin) Perempuan Terkait KEK
a. Tujuan
1) Mendapatkan persentase perempuan yang akan menikah mengalami KEK
2) Meningkatkan pengetahuan pasangan catin terkait gizi pada kehamilan
dan KEK
3) Meningkatkan kesiapan catin dalam mempersiapkan kehamilan.
b. Waktu dan Tempat
Waktu : Selama setahun
Tempat : Puskesmas

45
c. Pelaksana
Petugas gizi bekerja sama dengan petugas promkes.
d. Sasaran
Seluruh calon pengantin perempuan di UPTD Puskesmas Kecamatan
Pontianak Tenggara.
e. Target
1) Catin menjadi lebih siap dalam mempersiapkan serta menghadapi
kehamilan dan dapat mencegah terjadinya KEK selama kehamilan
2) Pengetahuan tentang KEK pada catin meningkat
f. Pelaksanaan
1) Pemegang program dan petugas mengukur dan mendata lingkar lengan
catin perempuan dan melakukan pendataan khusus
2) Melakukan pengukuran IMT pada catin perempuan
3) Memberikan konseling gizi pada catin yang mengalami KEK

5.5. Penentuan Prioritas Penyelesaian Masalah


Penentuan prioritas penyelesaian masalah dilakukan untuk memilih alternatif
penyelesaian masalah yang paling menjanjikan. Pemilihan/ penentuan prioritas cara
pemecahan masalah ini dilakukan dengan memakai teknik kriteria matriks. Dari
berbagai alternatif cara pemecahan masalah yang telah dibuat maka akan dipilih satu
cara pemecahan masalah yang dianggap paling baik dan memungkinkan.

46
Tabel 5.5 Penetapan Prioritas Alternatif Penyelesaian Masalah dengan
Metode CARL
CARL
Alternatif Penyelesaian
No. Total Ranking
Masalah
C A R L

1. Skrining Catin Perempuan


4 3 5 4 240 III
Terkait KEK

2. Penyediaan PMT Lokal 4 5 5 4 400 I

3. Penyediaan Media Promkes dan


4 4 5 4 320 II
Publikasi

Kami memilih penambahan PMT lokal karena dengan distribusi PMT yang
mencapai target, angka kejadian KEK tiap tahun justru meningkat. Hal ini dapat
mengindikasikan bahwa terdapat masalah pada PMT yang diberikan, apakah PMT
tersebut dimakan atau tidak oleh ibu hamil. Rasa PMT yang tidak bervariasi dan tidak
terlalu disukai ibu hamil akan memberikan rasa bosan, terutama pada ibu hamil
sehingga PMT hanya akan diambil namun tidak untuk dimakan.
Apabila PMT yang diberikan berupa PMT lokal yang tentunya bahan bakunya
juga merupakan bahan lokal, maka kemungkinan ibu hamil untuk memakan PMT
yang diberikan akan lebih besar dan rasa PMT dapat disesuaikan dengan keinginan
pada ibu hamil sehingga dengan adanya program tersebut diharapkan kejadian KEK
dapat dikurangi mengingat dampak dari ibu hamil yang mengalami Kurang Energi
Kronik (KEK) sangatlah besar berupa keguguran, bayi lahir mati, kematian neonatal,
cacat bawaan, dan bayi lahir dengan berat badan dibawah 2500 gram atau Bayi
BBLR, bisa terjadi juga pada ibu yang kekurangan nutrisi akan menyebabkan
produksi ASI berkurang bila kelak menyusui

47
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Indikator persentase ibu hamil dengan Kurang Energi Kronik melebihi batas
maksimal target yaitu hingga 8,35% di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Tenggara pada 2018 dari batas target tahunan yaitu < 5%. Dan Ibu hamil KEK yang
mendapatkan makanan tambahan di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Tenggara pada 2018 sebanyak 58,53% nilai tersebut masih rendah dari capaian target
Pusekesmas yaitu sebesar 80%.
1. Penyebab masalah antara lain : (1) kurangnya kesadaran dan pengetahuan
mengenai pentingnya PMT pada ibu hamil KEK sertai pentingnya gizi selama
kehamilan; (2) tidak melakukan anjuran petugas gizi walaupun sudah diberikan
PTM; (3) kurangnya fasilitas pendukung atau media informasi yang memberikan
pengetahuan mengenai pentingnya asupan nutrisi saat kehamilan serta pentingnya
PMT; (4) kurangnya respon serta minat masyarakat terhadap konseling gizi yang
telah dilakukan oleh petugas; (5) Ibu hamil yang mudah merasa bosan terhadap
PMT yang diberikan karena tidak bervariasi
2. Prioritas pemecahan masalah yang diajukan adalah melakukan selingan PMT yang
diberikan pemerintah dengan PMT lokal, meningkatkan penyuluhan dan
menambah leaflet mengenai KEK.

6.2 Saran
6.2.1 Bagi UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Tenggara
1. Mengadakan penyuluhan secara berkala kepada Ibu hamil mengenai manfaat
PMT sebagai makanan untuk pemenuhan kebutuhan gizi pada ibu hamil
KEK

48
2. Menmbah media promosi kesehatan (seperti leafleat) dan publikasi tentang
PMT pada ibu hamil KEK serta pencegahan dan dampak dari KEK pada ibu
hamil
3. Memberikan PMT lokal pada ibu hamil KEK sebagai selingan PMT
Pemerintah
4. Melatih kader membuat PMT lokal
5. Melakukan skrining catin perempuan terkait KEK untuk menurunkan nilai
persentase ibu hamil yang mengalami KEK di Puskesmas serta melakukan
konseling gizi pada catin yang mengalami KEK
6.2.3 Bagi Dinas Kesehatan Kota Pontianak
1. Menambah dana untuk PMT ibu hamil KEK
2. Melakukan monitoring dan evaluasi dari keefektifan program pemberian
makanan tambahan dan memberikan alternatif selain pemberian makanan
tambahan dalam mengurangi angka Bumil KEK dengan pemeberian
makanan tambahan dari bahan lokal untuk meningkatkan keinginan ibu
hamil untuk mengkonsumsi makanan tambahan tersebut serta mencegah
munculnya rasa bosan karena harus dimakan selama 9 bulan kehamilan.
6.2.4 Bagi Masyarakat
1. Keluarga, dan suami harus peduli terhadap kesehatan ibu dan janin, dengan
cara memberikan dukungan dan motivasi pada ibu dalam mengkonsumsi
makanan tambahan yang sudah diberikan.
2. Tokoh-tokoh masyarakat (camat, lurah, ketua RT/RW) lebih peduli terhadap
kesehatan masyarakatnya, seperti memotivasi warga untuk membuat tabulin
dan juga menyediakan fasilitas yang dapat membantu warganya dalam
masalah kesehatan.

49