Anda di halaman 1dari 18

Refarat

‘’MALPRAKTIK’’

Oleh:
Agung Raka Eka Hidayani
17014101219

Masa KKM :
21 AGUSTUS - 3 SEPTEMBER 2017

BAGIAN KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan izin-Nya
semata penulis dapat menyelesaikan refarat yang berjudul “malpraktik”. Refarat ini
dibuat sebagai salah satu syarat pada kepaniteraan klinik di Bagian Kedokteran Forensik
dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi
Dalam penyusunan refarat ini penyusun menyadari bahwa masih banyak terdapat
kekurangan, sehingga kritik dan saran sangat diharapkan agar laporan ini menjadi lebih
baik. Akhir kata penyusun mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan refarat ini, semoga refarat ini bermanfaat bagi kita
semua.

Manado, Oktober 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Seiring dengan kemajuan teknologi dan kemudahan dalam mengakses informasi,
masyarakat menjadi semakin kritis. Masyarakat semakin peka dalam menyikapi
persoalan, termasuk memberikan penilaian terhadap pelayanan yang diberikan petugas
kesehatan.Sorotan masyarakat yang tajam atas jasa pelayanan kesehatan oleh tenaga
kesehatan mengenai tuntutan hukum terhadap dokter semakin meningkat. Hal itu dapat
terjadi akibat kesadaran hukum pasien yang semakin meningkat selain itu kesadaran
atau semakin mengertinya pasien mengenai hak-haknya ketika dirawat oleh seorang
dokter.
Pelayanan kesehatan pada dasarnya bertujuan untuk melaksanakan pencegahan
dan pengobatan terhadap penyakit, termasuk didalamnya pelayanan medis yang
dilaksanakan atas dasar hubungan individual antara dokter dengan pasien yang
membutuhkan kesembuhan namun dokter sering melakukan tindakan kesalahan yang
berakibat kepada Malpraktik terhadap pasien
Akhir-akhir ini masalah malpraktik pelayanan kesehatan mulai banyak dibahas
oleh berbagai golongan masyarakat. Hal ini ditunjukkan banyaknya pengaduan kasus-
kasus malpraktik yang diajukan masyarakat terhadap profesi dokter yang dianggap telah
merugikan pasien dalam melakukan perawatan. Peningkatan jumlah pengaduan
masyarkat tentang malpraktikmenunjukan bahwa saat ini masyarakat mulai sadar akan
haknya dalam usaha untuk melindungi dirinya sendiri dari tindakan pihak lain yang
merugikannya.
Menurut Valentinv. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos,
California, Malpraktikadalah kelalaian dari seseorang dokter atau perawat untuk
mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam mengobati dan
merawat pasien, yang lazim digunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut
ukuran dilingkungan yang sama. Namun menurut World Medical Association, tidak
semua kegagalan medis adalah akibat malpraktik medis. Suatu peristiwa buruk yang
tidak dapat diduga sebelumnya yang terjadi saat dilakukan tindakan medis yang sesuai
standar tetapi mengakibatkan cedera pada pasien tidak termasuk dalam pengertian
malpraktik atau kelalaian medik. Menurut Zulkifli Muchtar Malpraktik adalah setiap
kesalahan medis yang diperbuat oleh dokter karena melakukan pekerjaan dibawah
standar

Sejak 2006 hingga 2012, tercatat ada 182 kasus Malpraktikyang terbukti
dilakukan dokter di seluruh Indonesia. Malpraktikini terbukti dilakukan dokter setelah
melalui sidang yang dilakukan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia
(MKDKI).Oleh karena itu pemahaman tentang malpraktik sangat penting bagi dokter
dan seluruh tenaga kesehatan lainnya.

2. Rumusan Masalah
1) Apa definisi dan jenis – jenis malpraktek?
2) Bagaimana upaya-upaya menghindari malpraktek?

3. Tujuan
1) Untuk Mengetahui definisi dan jenis-jenis malpraktik
2) Untuk mengetahui upaya-upaya menghindari malpraktik

BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi Malpraktik
Ada berbagai macam pendapat dari para sarjana mengenai pengertian malpraktik.
Masing-masing pendapat itu diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Veronica menyatakan bahwa istilah malparaktik berasal dari “malpractice”
yang pada hakikatnya adalah kesalahan dalam menjalankan profesi yang
timbul sebagai akibat adanya kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh
dokter.
2) Hermien Hadiati menjelaskan malpractice secara harfiah berarti bad practice,
atau praktek buruk yang berkaitan dengan praktek penerapan ilmu dan
teknologi medik dalam menjalankan profesi medik yang mengandung ciri-ciri
khusus. Karena malpraktik berkaitan dengan “how to practice the medical
science and technology”, yang sangat erat hubungannya dengan sarana
kesehatan atau tempat melakukan praktek dan orang yang melaksanakan
praktek. Maka Hermien lebih cenderung untuk menggunakan istilah
“maltreatment”.
3) Menurut J. Guwandi merumuskan pengertian malpraktik medik tersebut,
yakni:
a. melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh tenaga
kesehatan;
b. Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan atau melalaikan
kewajiban (negligence).
c. Melanggar sesuatu ketentuan menurut atau berdasarkan peraturan
perundang-undangan.

Malpraktikmerupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu


berkonotasi yuridis. Secara harfiah “mal” memiliki arti “salah”, “praktek”
memiliki arti “pelaksanaan” atau “tindakan” sehingga Malpraktikberarti
“pelaksanaan atau tindakan yang salah dalam rangka pelaksanaan suatu profesi.
Dari segi hukum, Malpraktikdapat terjadi karena suatu tinndakan yang disengaja
(intentional) seperti pada misconduct tertentu, tindakan kelalaian (negligence)
ataupun suatu kekurangmahiran/ketidak komptenan yang tidak beralasan.

2. Jenis-jenis Malpraktik
Ngesti Lestari dan Soedjatmiko membedakan malpraktik medik menjadi dua bentuk,
yaitu malpraktik etik (ethical malpractice) dan malpraktik yuridis (yuridical malpractice),
ditinjau dari segi etika profesi dan segi hukum.
 Malpraktik Etik
Yang dimaksud dengan malpraktik etik adalah tenaga kesehatanmelakukan tindakan yang
bertentangan dengan etika profesinya sebagai tenaga kesehatan.
 Malpraktik Yuridis
Soedjatmiko membedakan malpraktik yuridis ini menjadi tiga bentuk, yaitu malpraktik
perdata (civil malpractice), malpraktik pidana (criminal malpractice) dan malpraktik
administratif (administrative malpractice).
1). Malpraktik Perdata (Civil Malpractice)
Malpraktik perdata terjadi apabila terdapat hal-hal yang menyebabkan tidak terpenuhinya
isi perjanjian (wanprestasi) didalam transaksi terapeutik oleh tenaga kesehatan, atau
terjadinya perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad), sehingga menimbulkan
kerugian kepada pasien. Adapun isi daripada tidak dipenuhinya perjanjian tersebut dapat
berupa:
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan.
b.Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan, tetapi terlambat
melaksanakannya.
c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan, tetapi tidak sempurna
dalam pelaksanaan dan hasilnya.
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan

2) Malpraktik Pidana
Malpraktik pidana terjadi apabila pasien meninggal dunia atau mengalami cacat akibat tenaga
kesehatan kurang hati-hati. Atau kurang cermat dalam melakukan upaya perawatan terhadap
pasien yang meninggal dunia atau cacat tersebut.
Malpraktik pidana ada tiga bentuk yaitu:
a. Malpraktik pidana karena kesengajaan(intensional), misalnya pada kasus aborsi tanpa
insikasi medis, tidak melakukan pertolongan pada kasus gawat padahal diketahui
bahwa tidak ada orang lain yang bisa menolong, serta memberikan surat keterangan
yang tidak benar.
b. Malpraktik pidana karena kecerobohan (recklessness), misalnya melakukan tindakan
yang tidak lege artis atau tidak sesuai dengan standar profesi serta melakukan
tindakan tanpa disertai persetujuan tindakan medis.
c. Malpraktik pidana karena kealpaan (negligence), misalnya terjadi cacat atau kematian
pada pasien sebagai akibat tindakan tenaga kesehatan yang kurang hati-hati.
3) Malpraktik Administratif
Malpraktik administrastif terjadi apabila tenaga kesehatan melakukan pelanggaran
terhadap hukum administrasi negara yang berlaku, misalnya menjalankan praktek bidan
tanpa lisensi atau izin praktek.

3. Usaha- usaha untuk Menghindari Malpraktik


1) Semua Tindakan Sesuai dengan Indikasi Medis
Pelayanan kesehatan, dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
kompetensi memiliki surat ijin tugas mengingat informed consent dan rekam
medik serta rahasia jabatan atau rahasia kesehatan dari hasil pemeriksaan
kesehatan. Pemeriksaan berdasarkan indikasi medis, standar pelayanan, protap
pelayanan dengan memperhatikan dan menjelaskan berbagai resiko penyakit,
keadaan pasien, dan tindakan kesehatan selanjutnya tenaga kesehatan harus
menerapkan etika umum dan profesi dan bila tidak mungkin bisa ditangani yang
bukan kompetensinya harus di rujuk atau diserahkan kepada tenaga kesehatan
yang memiliki kompetensi.Prinsip-prinsip tersebut jika dijabarkan satu persatu
antara lain :
a) Tenaga kesehatan yang telah lulus pendidikan dengan memperoleh ijasah termasuk
dalam PP No. 32 Tahun 1996.

b) Tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi hasil ujian

c) Tenaga Kesehatan memiliki surat ijin praktek (SIP) dan Surat Tugas dari Direktur
Rumah Sakit, Dinas Tenaga Kesehatan, Dekan (Pimpinan Pendidik), dan dari
Pemerintah yang lainnya.

d) Tiap menangani pasien harus ada ijin atau persetujuan tertulis atau lisan dari pihak
pasien dan keluarganya.

e) Dalam pelayanan kesehatan harus menerapkan standar pelayanan dan protap


pelayanan kesehatan profesi yang dibuat oleh tenaga profesi. Ini biasanya dibuat SK
oleh Direktur Rumah Sakit atau pimpinan Rumah Sakit setempat.
f) Hasil pemeriksaan / pelayanan atau tindakan ditulis dicatat secara khusus oleh dokter
yang melakukan tindakan atau pemeriksaan atau singkatnya ditulis yang disebut
sebagai rekam medis / rekam rumah sakit. Untuk bidan dan perawat tertuang dalam
Asuhan Keperawatan atau kebidanan.

g) Point 4,5, dan 6 di atas harus dirahasiakan sesuai dengan peraturan PP No.10 tahun
1966 dan Undang-undang kesehatan yang lain.

h) Dalam menangani pasien atau tindakan harus berdasarkan indikasi medis dan kontra
indikasi medis.

i) Dalam menangani pasien harus menerangkan mengenai resiko, antara lain resiko
keadaan pasien, resiko penyakitnya, dan resiko tindakan.

j) Dalam komunikasi dengan pasien dan keluarga serta masyarakat harus menerapkan
etika umum dan etika profesi dimana tenaga kesehatan tersebut bekerja.

k) Kemungkinan dalam menangani pasien memperoleh kesulitan karena tidak


kompetensinya sehingga harus dirujuk/dikirim/ dikonsultasikan kepada tenaga
kesehatan yang kompeten atau dirujuk/dikirim ke rumah sakit sesuai dengan tingkat
pelayanan yang lebih prima.

l) Dalam pelayanan atau upaya kesehatan terjadi sesuatu yang menimbulkan sengketa
atau tuntutan pasien dan keluarganya harus diselesaikan secara komunikasi yang
sehat, secara kemanusiaan dan berdasarkan rambu-rambu aturan hukum kesehatan.
Jangan menerapkan Undang-Undang diluar Undang-Undang Hukum Kesehatan.

Dengan menerapkan rambu-rambu tersebut (no.1-12) tenaga kesehatan berusaha atau


dapat terhindar dari unsur-unsur Malpraktikatau secara khusus disebut malpraktik.

2). Bekerja Sesuai Standar Profesi


Pada pasal 2 kodeki, disebutkan bahwa, “Seorang dokter harus senantiasa
berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi”.
yang dimaksud dengan ukuran tertinggi dalam melakukan profesi kedokteran adalah
yang sesuai dengan ilmu kedokteran mutakhir, sarana yang tersedia, kemampuan
pasien, etika umum, etika kedokteran, hukum dan agama. ilmu kedokteran yang
menyangkut segala pengetahuan dan keterampilan yang telah diajarkan dan dimiliki
harus dipelihara dan dipupuk, sesuai dengn fitrah dan kemampuan dokter tersebut.
Etika umum dan etika kedokteran harus diamalkan dalam melaksanakan profesi
secara tulus ikhlas, jujur dan rasa cinta terhadap sesama manusia, serta penampilan
tingkah laku, tutur kata dan berbagai sifat lain yang terpuji, seimbang dengan
martabat jabatan dokter. Standar Profesi Kedokteran yang diterbitkan oleh Pengurus
Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yaitu :
1. Standar keterampilan
a. Keterampilan kedaruratan medik; merupakan sikap yang diambil oleh seorang
dokter dalam menjalankan profesinya dengan sarana yang sesuai dengan
standar ditempat prakteknya. Bilamana tindakan yang dilakukan tidak
berhasil, penderitan perlu dirujuk ke fasilitas pelayanan yang lebih lengkap.
b. Keterampilan umum; meliputi penanggulangan terhadap berbagai penyakit
yang tercantum dalam kurikulum inti pendidikan dokter Indonesia.

2. Standar sarana; meliputi segala sarana yang diperlukan untuk berhasilnya profesi
dokter dalam melayani penderita dan pada dasarnya dibagi 2 bagian, yakni :
a. Sarana Medis; meliputi sarana alat-alat medis dan obat-obatan.

b. Sarana Non Medis; meliputi tempat dan peralatan lainnya yang diperlukan
oleh seorang dokter dalam menjalankan profesinya.

3. Standar perilaku; yang didasarkan pada sumpah dokter dan pedoman Kode Etik
Kedokteran Indonesia, meliputi perilaku dokter dalam hubungannya dengan penderita
dan hubungannya dengan dokter lainnya, yaitu :

a. Pasien harus diperlakukan secara manusiawi.

b. Semua pasien diperlakukan sama.

c. Semua keluhan pasien diusahakan agar dapat diperiksa secara menyeluruh.

d. Pada pemeriksaan pertama diusahakan untuk memeriksa secara menyeluruh.

e. Pada pemeriksaan ulangan diperiksa menurut indikasinya.

f. Penentuan uang jasa dokter diusahakan agar tidak memberatkan pasien.

g. Dalam ruang praktek tidak boleh ditulis tarif dokter.

h. Untuk pemeriksaan pasien wanita sebaiknya agar keluarganya disuruh masuk


kedalam ruang praktek atau disaksikan oleh perawat, kecuali bila dokternya
wanita.

i. Dokter tidak boleh melakukan perzinahan didalam ruang praktek, melakukan


abortus, kecanduan dan alkoholisme.

4. Standar catatan medik


Pada semua penderita sebaiknya dibuat catatan medik yang didalamnya dicantumkan
identitas penderita, alamat, anamnesis, pemeriksaan, diagnosis, terapi dan obat yang
menimbulkan alergi terhadap pasien.

3. Membuat informed consent

Secara harfiah consent artinya persetujuan, atau lebih ‘tajam’ lagi, ”izin”. Jadi
informed consent adalah persetujuan atau izin oleh pasien atau keluarga yang berhak
kepada dokter untuk melakukan tindakan medis pada pasien, seperti pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan lain-lain untuk menegakkan diagnosis, memberi obat, melakukan
suntikan, menolong bersalin, melakukan pembiusan, melakukan pembedahan, melakukan
tindak-lanjut jika terjadi kesulitan, dan sebagainya. Selanjutnya kata Informed terkait
dengan informasi atau penjelasan. Dapat disimpulkan bahwa informed consent adalah
persetujuan atau izin oleh pasien (atau keluarga yang berhak) kepada dokter untuk
melakukan tindakan medis atas dirinya, setelah kepadanya oleh dokter yang bersangkutan
diberikan informasi atau penjelasan yang lengkap tentang tindakan itu. Mendapat
penjelasan lengkap itu adalah salah satu hak pasien yang diakui oleh undang-undang
sehingga dengan kata lain informed consent adalah Persetujuan Setelah Penjelasan.
Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 585 Tahun 1989, Persetujuan
Tindakan Medik adalah Persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas
dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.

Dokter harus menyadari bahwa informed consent memiliki dasar moral dan etik
yang kuat. Menurut American College of Physicians’ Ethics Manual, pasien harus
mendapat informasi dan mengerti tentang kondisinya sebelum mengambil keputusan.
Berbeda dengan teori terdahulu yang memandang tidak adanya informed consent menurut
hukum penganiayaan, kini hal ini dianggap sebagai kelalaian. Informasi yang diberikan
harus lengkap, tidak hanya berupa jawaban atas pertanyaan pasien.

Suatu informed consent harus meliputi :

1. Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai tindakan, terapi dan penyakitnya

2. Pasien harus diberitahu tentang hasil terapi yang diharapkan dan seberapa besar
kemungkinan keberhasilannya
3. Pasien harus diberitahu mengenai beberapa alternatif yang ada dan akibat apabila
penyakit tidak diobati

4. Pasien harus diberitahu mengenai risiko apabila menerima atau menolak terapi

5. Risiko yang harus disampaikan meliputi efek samping yang mungkin terjadi dalam
penggunaan obat atau tindakan pemeriksaan dan operasi yang dilakukan.

Ada 2 bentuk Persetujuan Tindakan Medis, yaitu :

1. Implied Consent (dianggap diberikan)

Umumnya implied consent diberikan dalam keadaan normal, artinya dokter dapat
menangkap persetujuan tindakan medis tersebut dari isyarat yang diberikan/dilakukan
pasien. Demikian pula pada kasus emergency sedangkan dokter memerlukan tindakan
segera sementara pasien dalam keadaan tidak bisa memberikan persetujuan dan
keluarganya tidak ada ditempat, maka dokter dapat melakukan tindakan medik terbaik
menurut dokter.

2. Expressed Consent (dinyatakan)

Dapat dinyatakan secara lisan maupun tertulis. Dalam tindakan medis yang bersifat
invasif dan mengandung resiko, dokter sebaiknya mendapatkan persetujuan secara
tertulis, atau yang secara umum dikenal di rumah sakit sebagai surat izin operasi.
Hakikat informed consent mengandung 2 (dua) unsur penting yaitu :

1. Informasi yang diberikan oleh dokter.

2. Persetujuan yang diberikan oleh pasien.

Sehingga persetujuan yang diberikan oleh pasien memerlukan beberapa masukan


sebagai berikut :

1. Penjelasan lengkap mengenai prosedur yang akan digunakan dalam tindakan


medis tertentu (masih berupa upaya percobaan).

2. Deskripsi tentang efek-efek sampingan serta akibat-akibat yang tidak diinginkan


yang mungkin timbul.
3. Deskripsi tentang keuntungan-keuntungan yang dapat diantisipasi untuk pasien.

4. Penjelasan tentang perkiraan lamanya prosedur atau terapi atau tindakan


berlangsung.

5. Deskripsi tentang hak pasien untuk menarik kembali consent tanpa adanya
prasangka mengenai hubungannya dengan dokter dan lembaganya.

Prognosis tentang kondisi medis pasien bila ia menolak tindakan medis tersebut.
Pada hakikatnya informed consent adalah suatu proses komunikasi antara dokter dan
pasien tentang kesepakatan tindakan medis yang akan dilakukan dokter terhadap
pasien (ada kegiatan penjelasan rinci oleh dokter), sehingga kesepakatan lisan pun
sesungguhnya sudah cukup. Penandatanganan formulir informed consent secara
tertulis hanya merupakan pengukuhan atas apa yang telah disepakati sebelumnya.

Dalam keadaan gawat darurat informed consent tetap merupakan hal yang paling
penting walaupun prioritasnya diakui paling bawah. Prioritas yang paling utama
adalah tindakan menyelamatkan nyawa. Walaupun tetap penting, namun informed
consent tidak boleh menjadi penghalang atau penghambat bagi pelaksanaan
emergency care sebab dalam keadaan kritis dimana dokter berpacu dengan maut, ia
tidak mempunyai cukup waktu untuk menjelaskan sampai pasien benar-benar
menyadari kondisi dan kebutuhannya serta memberikan keputusannya. Dokter juga
tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu kedatangan keluarga pasien.
Kalaupun keluarga pasien telah hadir dan kemudian tidak menyetujui tindakan dokter,
maka berdasarkan doctrine of necessity, dokter tetap harus melakukan tindakan
medik. Hal ini dijabarkan dalam PerMenKes Nomor 585/PerMenKes/Per/IX/1989
tentang Persetujuan Tindakan Medik, bahwa dalam keadaan emergency tidak
diperlukan informed consent.
Ketiadaan informed consent dapat menyebabkan tindakan Malpraktikdokter,
khususnya bila terjadi kerugian atau intervensi terhadap tubuh pasiennya. Hukum
yang umum diberbagai negaramenyatakan bahwa akibat dari ketiadaan informed
consent setara dengan kelalaian atau keteledoran. Akan tetapi, dalam beberapa hal,
ketiadaan informed consent tersebut setara dengan perbuatan kesengajaan, sehingga
derajat kesalahan dokter pelaku tindakan tersebut lebih tinggi. Tindakan
Malpraktikdokter yang dianggap setara dengan kesengajaan adalah sebagai berikut :
1. Pasien sebelumnya menyatakan tidak setuju terhadap tindakan dokter, tetapi
dokter tetap melakukan tindakan tersebut.

2. Jika dokter dengan sengaja melakukan tindakan misleading tentang risiko dan
akibat dari tindakan medis yang diambilnya.

3. Jika dokter dengan sengaja menyembunyikan risiko dan akibat dari tindakan
medis yang diambilnya.

4. Informed consent diberikan terhadap prosedur medis yang berbeda secara


substansial dengan yang dilakukan oleh dokter.

4. Mencatat semua tindakan yang dilakukan

Penyedia layanan kesehatan bertanggung jawab atas mutu pelayanan medik di


rumah sakit yang diberikan kepada pasien. Rekam Medis sangat penting dalam
mengemban mutu pelayanan medik yang diberikan oleh rumah sakit beserta staf
mediknya. Rekam Medis merupakan milik rumah sakit yang harus dipelihara karena
bermanfaat bagi pasien, dokter maupun bagi rumah sakit.
Tanggung jawab utama akan kelengkapan rekam medis terletak pada dokter yang
merawat. Tahap memperdulikan ada tidaknya bantuan yang diberikan kepadanya dalam
melengkapi rekam medis oleh staf lain di rumah sakit. Dokter mengemban tanggung
jawab terakhir akan kelengkapan dan kebenaran isi rekam medis. Data harus dipelajari
kembali, dikoreksi dan ditanda tangani juga oleh dokter yang merawat. Pada saat ini
banyak rumah sakit menyediakan staf bagi dokter untuk melengkapi rekam medis.
Namun demikian tanggung jawab utama dari isi rekam medis tetap berada pada dokter
yang bertanggung jawab. Nilai ilmiah dari sebuah rekam medis adalah sesuai dengan
taraf pengobatan dan perawatan yang tercatat. Oleh karena itu ditinjau dari beberapa segi
rekam medis sangat bernilai penting karena :

1. Pertama bagi pasien, untuk kepentingan penyakitnya dimasa sekarang maupun


dimasa yang akan datang.

2. Kedua dapat melindungi rumah sakit maupun dokter dalam segi hukum
(medikolegal). Bila mana rekam medis tidak lengkap dan tidak benar maka
kemungkinan akan merugikan bagi pasien, rumah sakit maupun dokter sendiri.
3. Ketiga dapat dipergunakan untuk meneliti medik maupun administratif. Personil
rekam medis hanya dapat mempergunakan data yang diberikan kepadanya. Bilamana
diagnosanya tidak benar dan tidak lengkap maka kode penyakitnyapun tidak tepat,
sehingga indeks penyakit mencerminkan kekurangan. Hal ini berakibat riset akan
mengalami kesulitan. Oleh karena itu data statistik dan laporan hanya dapat secermat
informasi dasar yang benar.

Rekam medis harus memuat isi sebagai berikut :


1. Semua diagnosis ditulis dengan benar pada lembaran masuk dan keluar, sesuai
dengan istilah terminologi yang dipergunakan, semua diagnosa serta tindakan
pembedahan yang dilakukan harus dicatat Simbol dan singkatan jangan
dipergunakan.

2. Dokter yang merawat menulis tanggal dan tanda tangannya pada sebuah catatan, serta
telah menandatangani juga catatan yang ditulis oleh dokter lain Pada rumah Sakit
Pendidikan, yaitu : Riwayat Penyakit, Pemeriksaan fisik dan resume Lembaran
lingkaran masuk dan keluar tidak cukup apabila hanya ditanda tangani oleh seorang
dokter.

3. Bahwa laporan riwayat penyakit, dan pemeriksaan fisik dalam keadaan lengkap dan
berisi semua data penemuan baik yang positif maupun negative.

4. Catatan perkembangan, memberikan gambaran kronologis dan analisa klinis keadaan


pasien Frekwensi catatan ditentukan oleh keadaan pasien.

5. Hasil Laboratorium dan X-Ray dicatat dicantumkan tanggalnya serta ditanda tangani
oleh pemeriksa.

6. Semua tindakan pengobatan medik ataupun tindakan pembedahan harus itulis


dicantumkan tanggal, serta ditanda tangani oleh dokter.

7. Semua konsultasi yang dilaksanakan harus sesuai dengan peraturan staf medik harus
dicatat secara lengkap serta ditanda tangani Hasil konsultasi, mencakup penemuan
konsulen pada pemeriksaan fisik terhadap pasien termasuk juga pendapat dan
rekomendasinya.

8. Pada kasus observasi, catatan prenatal dan persalinan dicatat secara lengkap,
mencakup hasil tes dan semua pemeriksaaan pada saat prenatal sampai masuk rumah
sakit Jalannya persalinan dan kelahirannya sejak pasien masuk rumah sakit, juga
harus dicatat secara lengkap.
9. Catatan perawat dan catatan prenatal rumah sakityang lain tentang Observasi &
Pengobatan yang diberikan harus lengkap catatan ini harus diberi cap dan tanda
tangan.

10. Resume telah ditulis pada saat pasien pulang Resume harus berisi ringkasan tentang
penemuan, dan kejadian penting selama pasien dirawat, keadaan waktu pulang saran
dan rencana pengobatan selanjutnya.

11. Bila otopsi dilakukan, diagnosa sementara / diagnosa anatomi, dicatat segera ( dalam
waktu kurang dari 72 jam ) : keterangan yang lengkap harus dibuat dan digabungkan
dengan rekam medis

12. Analisa kualitatif oleh personel medis untuk mengevaluasi kualitas pencatatan yang
dilakukan oleh dokter untuk mengevaluasi mutu pelayanan medik Pertanggung
jawaban untuk mengevaluasi mutu pelayanan medik terletak pada dokter yang
bertanggung jawab.

5. Apabila ragu-ragu konsultasikan dengan konsulen


Apabila saat akan melakukan tindakan terhadap pasien, dokter yang
melaksanakan tindakan dapat berkonsultasi dengan dokter penanggung jawab pasien
(DPJP). Pada saat emergency, dokter berhak melakukan upaya penyelamatan nyawa
pasien terlebih dahulu. Rekam Medis harus diberi data yang cukup terperinci, sehingga
dokter lain dapat mengetahui bagaimana pengobatan dan perawatan kepada pasien dan
konsulen dapat memberikan pendapat yang tepat setelah dia memeriksanya ataupun
dokter yang bersangkutan dapat memperkirakan kembali keadaan pasien yang akan
datang dari prosedur yang telah dilaksanakan.

6. Memperlakukan pasien secara manusiawi


7. Dokter yang baik akan memerlakukan pasiennya secara manusiawi dan
profesional. Mereka mendegarkan keluhan pasien dengan cermat, tidak menginterupsi
keluhan mereka, seta memiliki rasa empati dengan penyakit yang diderita oleh mereka.
Dokter yang baik tidak memeriksa pasien secara tergesa-gesa sekedar karena ingin cepat-
cepat menyelesaikan konsultasi dan memanggil pasienberikutnya. Dengan memiliki
sense kemanusiaan yang tinggi, dokter yang baik selalu menjaga kerahasiaan pasien dan
tidak membiarkan orang lain mengetahui keluhan dan kondsi pasiennya. Dokter seperti
ini melihat pasiennya sebagai manusia dan karena itu memperlakukan mereka secara
manusiawi.
8. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga, dan masyarakat sekitar
Menurut hukum perdata, hubungan profesional antara dokter dengan pasien dapat
terjadi karena 2 hal, yaitu:
1. Berdasarkan perjanjian (ius contractu)
Kontrak berupa terapeutik secara sukarela antara dokter dengan pasie
berdasarkan kehendak bebas. Tuntutan dapat dilakukan bila terjadi "wanprestasi",
yakni pengingkaran terhadap hal yang diperjanjikan. Dasar tuntutan adalah tidak,
terlambat, salah melakukan, ataupun melakukan sesuatu yang tidak boleh
dilakukan menurut perjanjian itu.

2. Berdasarkan hukum (ius delicto)


Berlaku prinsip siapa merugikan orang lain harus memberikan ganti rugi.
Rumusan perjanjian atau kontrak menurut hukum perdata ialah suatu tindakan
atau perbuatan hukum yang dilakukan secara sukarela oleh dua orang atau lebih,
yang bersepakat untuk memberikan "prestasi" satu kepada lainnya. Dalam
hubungan antara dokter dengan pasien, timbul perikatan usaha
(inspanningsverbintenis) dimana sang dokter berjanji memberikan "prestasi"
berupa usaha penyembuhan yang sebaik-baiknya dan pasien selain melakukan
pembayaran, ia juga wajib memberikan informasi secara benar atau mematuhi
nasihat dokter sebagai "kontra-prestasi". Disebut perikatan usaha karena
didasarkan atas kewajiban untuk berusaha. Dokter harus berusaha dengan segala
daya agar usahanya dapat menyembuhkan penyakit pasien. Hal ini berbeda
dengan kewajiban yang didasarkan karena hasil atau resultaat pada perikatan
hasil (resultaatverbintenis), dimana prestasi yang diberikan dokter tidak diukur
dengan apa yang telah dihasilkannya, melainkan ia harus mengerahkan segala
kemampuannya bagi pasien dengan penuh perhatian sesuai standar profesi medis.
Selanjutnya dari hubungan hukum yang terjadi ini timbullah hak dan kewajiban
bagi pasien dan dokter.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Malpraktikadalah praktek kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar profesi atau
standar prosedur operasional. oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya menghindari
Malpraktikseperti semua tindakan sesuai indikasi medis, bertindak secara hati-hati dan teliti,
bekerja sesuai standar profesi, membuat informed consent, mencatat semua tindakan yang
dilakukan (rekam medik), apabila ragu-ragu konsultasikan dengan senior, memperlakukan
pasien secara manusiawi, menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga, dan
masyarakat sekitar. Selain itu juga diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan yaitu meningkatkan kualitas sumber daya, tenaga, peralatan,
pelengkapan dan mateial yang diperlukan dengan menggunakan teknologi tinggi atau dengan
kata lain meningkatkan input dan struktur, memperbaiki metode atau penerapan teknologi
yang dipergunakan dalam kegiatan pelayanan, hal ini berarti memperbaiki pelayanan
kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Rizaldy Pinzon. Strategi 4s untuk pelayanan medik berbasis bukti. Cermin dunia
kedokteran 163:Vol 36;2009;208.
2. Bagian kedokteran forensik. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran.
Hukum perdata yang berkaitan dengan profesi dokter. FKUI. Jakarta:1994;51
3. Budi Sampurna, Zulhasmar Syamsu, Tjetjep Dwijdja Siswaja, Bioetik dan Hukum
Kedokteran, Pengantar bagi Mahasiswa Kedokteran dan Hukum, Penerbit Pustaka
Dwipar, Oktober 2005
4. Dr. Anny Isfanyarie Sp. An. SH, Malpraktek Dan Resiko Medik Dalam Kajian Hukum
Pidana, Prestasi Pustaka. Jakarta. hal. 31
5. Ali MM, Sidi IPS, Hadad T. Komunikasi efektif dokter pasien. November 2006.
6. World Medical Association. World medical association statement on medical
malpractice.
http://www.wma.net/en/30publications/10policies/20archives/m2/index.html
7. Penerangan informed consent dalam pelayanan kesihatan [online]. 2009.
http://eprints.undip.ac.id/1133/1/A_1_Informed_Consent_Journal__RS.pdf