Anda di halaman 1dari 5

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

6.1 Hasil Penelitian


6.1. 1 Karakteristik Data
Langkah awal dalam melakukan analisa data adalah dengan melihat karakteristik dari
data tersebut. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, berikut adalah karakteristik data
kadar SGOT dan SGPT pasien artritis reumatoid yang menerima terapi menggunakan
metotreksat di RSUP Sardjito Yogyakarta :
Tabel 6.1 Karakteristik Data

Standar
Variabel Rata-rata Maksimum Minimum
deviasi

Kadar SGOT sebelum


19,23 6,03 34,00 8,00
terapi Metotreksat

Kadar SGOT setelah terapi


18,67 5,63 41,00 4,00
metotreksat

Kadar SGPT sebelum


19,65 9,37 33,00 5,00
terapi metotreksat

Kadar SGPT setelah terapi


19,69 8,32 48,00 7,00
metotreksat

Berdasarkan tabel 6.1 dapat diketahui bahwa nilai minimum pada kadar SGOT pasien
sebelum terapi menggunakan metotreksat adalah 8,00 dan untuk nilai maksimum 34,00. Nilai
rata-rata dari kadar SGOT pasien sebelum terapi menggunakan metotreksat adalah 19,23, hal
ini menunjukkan bahwa rata-rata pasien memiliki kadar SGOT yang memasuki rentang
normal (0-32 U/L). Simpangan baku yang dimiliki sebesar 6,03. Pada kadar SGOT pasien
setelah terapi menggunakan metotreksat nilai minimum adalah 4,00 dan untuk nilai
maksimum 41,00. Nilai rata-rata dari kadar SGOT pasien setelah terapi menggunakan
metotreksat adalah 18,67, dengan simpangan baku 5,63.
Pada kadar SPOT pasien sebelum terapi menggunakan metotreksat adalah 5,00 dan
untuk nilai maksimum 33,00. Nilai rata-rata dari kadar SGPT pasien sebelum terapi
menggunakan metotreksat adalah 19,65, hal ini menunjukkan bahwa rata-rata pasien memiliki
kadar SGPT yang memasuki rentang normal (0-33 U/L). Simpangan baku yang dimiliki
sebesar 9,37. Pada kadar SGPT pasien setelah terapi menggunakan metotreksat nilai
minimum adalah 7,00 dan untuk nilai maksimum 48,00. Nilai rata-rata dari kadar SGOT
pasien setelah terapi menggunakan metotreksat adalah 19,69, dengan simpangan baku 8,32.
Dari data tersebut dapat terlihat bahwa rata-rata pasien memiliki kadar SGOT dan
SGPT yang masih dalam rentang normal, yakni menurut Pedoman Interpretasi Data Klinik
(2011) untuk SGOT yaitu 0-32 U/L sedangkan SGPT 0-33 U/L. Nilai maksimum pada kadar
SGOT sebelum terapi dengan metotreksat sebesar 34,00 sedangkan untuk kadar SGOT
setelah terapi metotreksat sebesar 41,00. Dapat dilihat bahwa terdapat pasien yang mengalami
kenaikan kadar SGOT setelah terapi metotreksat. Pada kadar SGPT sebelum terapi dengan
metotreksat sebesar 33,00 sedangkan untuk kadar SGPT setelah terapi metotreksat sebesar
48,00. Dapat dilihat bahwa terdapat pasien yang mengalami kenaikan kadar SGPT setelah
terapi metotreksat.

6.1. 2 Uji Homogenitas Varians


Uji homogenitas adalah pengujian mengenai sama tidaknya variansi-variansi
berdistribusi dengan tujuan untuk memperlihatkan bahwa kelompok data sampel berasal dari
populasi yang memiliki variansi yang sama. . Hipotesis pada uji Levene adalah :
Ho : 12 = 22 (varians homogen)
H1 : 12  22 (varians tidak homogen)

Pengambilan keputusan :

Signifikansi (p) > 0,05 , maka Ho diterima

Signifikansi (p) < 0,05 , maka Ho ditolak

Tabel 6.4 Uji Levene Kadar SGOT Sebelum dan Setelah Terapi Metotreksat

Levene Statistic df1 df2 Sig.

0.263 1 190 0.608


Dari hasil uji yang terlihat pada tabel terlihat bahwa nilai signifikansi yang dimiliki
data kadar SGOT sebelum dan setelah pemberian terapi metotreksat sebesar 0,608. Dari data
tersebut menunjukkan ahwa nilai signifikan lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan
data tersebut homogen.

Tabel 6.5 Levene Kadar SGPT Sebelum dan Setelah Terapi Metotreksat

Levene Statistic df1 df2 Sig.

0.789 1 190 0.375

Hasil uji menunjukkan bahwa data SGPT sebelum dan setelah terapi metotreksat
memiliki nilai signifikansi sebesar 0,375. Dari data tersebut menunjukkan ahwa nilai
signifikan lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan data tersebut homogen.

6.1. 3 Uji Paired T test


Pda penelitian ini akan dibahas menegnai pengaruh penggunaan metotreksat terhadap
kadar SGOT dan SGPT pasien artritis reumatoid yang di uji statistik dengan metode paired t
test dengan spss 23. Uji Paired T test merupakan pengujian untuk sekelompok populasi yang
sama, tetapi memiliki dua atau lebih kondisi data sampel sebagai akibat dari adanya perlakuan
yang diberikan kepada kelompok sampel tersebut. Sampel dengan subjek yang sama namun
mengalami dua perlakuan yang berbeda, yakni kadar SGOT dan SGPT pasien baik sebelum
maupun setelah pemberian terapi menggunakan metotreksat. Pada penelitian ini analisis
statistik dinyatakan memiliki hasil bermakna apabila didapat harga P < 0,05 dan sangat
bermakna bila harga P < 0,01. Berikut ini adalah hasil dari uji Paired T test.

Tabel 6.6 Uji Paired T test Kadar SGOT Sebelum dan Setelah Terapi Metotreksat

Standar
Variabel Rata-rata t df Sig. (2-tailed)
deviasi

Kadar SGOT sebelum dan


setelah terapi metotreksat 0.56667 6.26663 0.886 95 0.378
Dari tabel terlihat bahwa perbedaan nilai rata-rata pada kadar SGOT sebelum dan
setelah terapi metotreksat adalah 0,56667. Nilai rata-rata pada kadar SGOT sebelum
pemberian terapi adalah 19,2250 dan rata-rata SGOT setelah terapi adalah 18,6583. Sehingga
dari nilai rat-rata tersebut dapat terlihat bahwa terjadi penurunan nilai rata-rata kadar SGOT
;pasien setelah pemberian terapi dengan metotreksat. Terlihat bahwa nilai signifikan 0,378 >
0,05 maka menurut hipotesis statistik penelitian ini tidak terjadi peningkatan kadar SGOT
pasien artritis reumatoid setelah pemberian terapi menggunakan metotreksat.

Tabel 6.7 Uji Paired T test Kadar SGPT Sebelum dan Setelah Terapi Metotreksat

Standar
Variabel Rata-rata t df Sig. (2-tailed)
deviasi

Kadar SGPT sebelum dan


-0,03958 9.92750 -0.039 95 0.969
setelah terapi metotreksat

Terlihat bahwa nilai signifikan 0,969 > 0,05 maka menurut hipotesis statistik
penelitian ini tidak terjadi peningkatan kadar SGOT pasien artritis reumatoid setelah
pemberian terapi menggunakan metotreksat.

6.2 Interpretasi Hasil


Artritis reumatoid merupakan penyakit autoimun umum yang terkait dengan kecacatan
progresif, komplikasi sitemik, dan kematian dini. Artritis reumatoid ditandai dengan
peradangan synovial dan hyperplasia, serta produksi autoantibodi (Mclnnes and Schett,
2011). Penyakit ini bersifat sistemik, menimbulkan kerusakan serta kecacatan tulang,
gangguan fungsi, dan penurunan kualitas hidup (Yuliasih, 2009). Pengobatan untuk artritis
reumatoid masih belum memuaskan, namun jumlah obat DMARDs (Disease-Modifying
Antirheumatic Drugs) telah banyak tersedia. Obat yang tersedia hanya mengatasi gejala
penyakitnya, sedangkan proses penyakitnya tetap berlangsung (Shinde et al., 2014).
Metotreksat merupakan metabolit sintetik dan merupakan obat lini pertama untuk terapi
pasien artritis reumatoid. Metotreksat berperan sebagai analog dari asam folat dan bersaing
dengan reseptor folat serta menghambat pembentukan inflamasi dengan cara meningkatkan
produksi adenosin sehingga menimbulkan efek inhibisi poliferasi dan merangsang apoptosis
sel – sel imun peradangan. Dalam penggunaan Metotreksat yang terus menerus dapat
menimbulkan efek terjadinya hepatotoksisitas sehingga harus dilakukan beberapa
pemantauan, salah satunya dengan melakukan tes fungsi hepar.