Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang
memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan dan
meningkatkan kontrak dengan oran lain karena komunikasi dilakukan oleh
seseorang, setiap hari orang seringkali salah berpikir bawa komunikasi adalah
sesuatu yang mudah. Namun sebenarnya adalah proses yang kompleks yang
melibatkan tingkah laku dan hubungan serta memungkinkan individu
berasosiasi dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu
merupakan peristiwa yang terus berlangsung secara dinamis yang maknanya
dipacu dan ditransmisikan.Untuk memperbaiki interpretasi pasien terhadap
pesan, perawat harus tidak terburu-buru dan mengurangi kebisingan dan
distraksi.Kalimat yang jelas dan mudah dimengerti dipakai untuk
menyampaikan pesan karena arti suatu kata sering kali telah lupa atau ada
kesulitan dalam mengorganisasi dan mengekspresikan pikiran.Instruksi yang
berurutan dan sederhana dapat dipakai untuk mengingatkan pasien dan sering
sangat membantu.
Kesehatan adalah salah satu konsep yang telah sering digunakan namun
sukar untuk dijelaskan artinya.Beberapa faktor yang berbeda terkadang
menyebabkan sukarnya mendefinisikan kesehatan, kesakitan, dan
penyakit.Pada tahun 1947, WHO mencoba untuk menggambarkan kesehatan
secara luas.Kesehatan (health) diartikan sebagai keadaan (status) sehat utuh
secara fisik, mental (rohani), sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang
bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.
Di sisi lain, penyakit merupakan gangguan fungsi atau adaptasi dari
proses-proses biologis dan psikofisiologis pada seseorang. Kesakitan adalah
reaksi personal, interpersonal serta kultural terhadap penyakit. Kesakitan juga
merupakan respon subjektif dari pasien, serta respon di sekitarnya terhadap
keadaan tidak sehat, tidak hanya memasukkan pengalaman tidak sehatnya
saja, tapi arti dari pengalaman tersebut bagi dia.Oleh karena itu, kami akan

1
mengangkat topik mengenai “Komunikasi terhadap klien dengan gangguan
fisik dan gangguan jiwa.”

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang di maksud komunikasi ?
1.2.2 Apa yang dimaksud komunikasi terapeutik ?
1.2.3 Apa yang dimaksud komunikasi terapeutik pada pasien gangguan fisik
dan jiwa ?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Mengetahui pengertian komunikasi.
1.3.2 Mengetahui pengertian komunikasi terapeutik.
1.3.3 Mengetahui Komunikasi Terapeutik pada gangguan fisik dan gangguan
jiwa.

1.4 Manfaat Penulisan


Dapat memberikan informasi tentang pengertian komunikasi umum dan
komunikasi terapeutik kepada pembaca atau mahasiswa dan memberikan
pengalaman kepada penulis.

Dapat memberikan informasi yang jelas kepada mahasiswa yang sedang


melakukan pembelajaran tentang materi Komunikasi Terhadap Klien
Gangguan Fisik dan Gangguan Jiwa dalam mata kuliah Komunikasi.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang
memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan dan
meningkatkan kontrak dengan oran lain karena komunikasi dilakukan oleh
seseorang, setiap hari orang seringkali salah berpikir bawa komunikasi adalah
sesuatu yang mudah. Namun sebenarnya adalah proses yang kompleks yang
melibatkan tingkah laku dan hubungan serta memungkinkan individu
berasosiasi dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu
merupakan peristiwa yang terus berlangsung secara dinamis yang maknanya
dipacu dan ditransmisikan.Untuk memperbaiki interpretasi pasien terhadap
pesan, perawat harus tidak terburu-buru dan mengurangi kebisingan dan
distraksi.Kalimat yang jelas dan mudah dimengerti dipakai untuk
menyampaikan pesan karena arti suatu kata sering kali telah lupa atau ada
kesulitan dalam mengorganisasi dan mengekspresikan pikiran.Instruksi yang
berurutan dan sederhana dapat dipakai untuk mengingatkan pasien dan sering
sangat membantu.
Menurut Depkes RI tahun 2001 komunikasi adalah suatu proses
menyampaikan pesan yang dilakukan oleh seseorang kepada pihak lain yang
bertujuan untuk menciptakan persamaan pikiran antara pengirim dan penerima
pesan. Menurut Dale Yoder dkk,kata communications berasal dari sumber
yang sama seperti kata common yang berarti bersama,bersama-sama dalam
membagi ide.
Ada beberapa pengertian komunikasi yang di kemukakan oleh beberapa
para ahli, yaiu :
1. Menurut Edward Depari, komunikasi adalah proses penyampaian gagasan,
harapan dan pesan yang disampaikan melalui lambang - lambang tertentu,
mengandung arti, dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada
penerima pesan.
2. Menurut James A.F. Stoner, komunikasi adalah proses dimana seorang
berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan.

3
3. Menurut John R. Schemerhom, komunikasi adalah proses antara pribadi
dalam mengirim dan menerima simbol-simbol yang berarti bagi
kepentingan mereka.
4. Menurut Dr. Phill Astrid Susanto, komunikasi adalah proses pengoperan
lambang-lambang yang mengandung arti.
5. Menurut Human Relation of Work, Keith Devis, komunikasi adalah proses
lewatnya informasi dan pengertian seseorang ke orang lain.
6. Menurut Oxtord Dictionary (1956), komunikasi adalah pengiriman atau
tukar menukar informasi, ide atau sebagainya.
7. Menurut Drs. Onong Uchjana Effendy, MA, komunikasi mencangkup
ekspresi wajah, sikap dan gerak-gerik suara, kata-kata tertulis, percetakan,
kereta api, telegraf, telepon dan lainnya.
Berdasarkan tempatnya komunikasi bisa terjadi dimana saja.Baik dalam
kehidupan sehari-hari (komunikasi informal) hingga komunikasi yang bersifat
resmi (komunikasi formal).Dunia kesehatan juga tidak lepas dari
komunikasi.Komunikasi di dunia kesehatan bisa terjadi sesama rekan kerja,
perawat dengan klien maupun sebaliknya.
Komunikasi yang terjadi di dunia kesehatan sering juga disebut dengan
komunikasi secara terapeutik. Komunikasi terapeutik sendiri maksudnya
adalah komunikasi yang dilakukan secara sadar,bertujuan dan kegiatannya
dipusatkan untuk kesembuhan pasien.
Dalam melakukan komunikasi tiap pasien mempunyai tingkat kesulitan
masing-masing. Contohnya pada pasien dengan gangguan fisik dan gangguan
jiwa tentu saja akan berbeda jika dibandingkan dengan pasien biasa.
Dibutuhkan teknik khusus untuk membangun kepercayaan antara pasien
dengan perawat.

2.2 Komunikasi Terapeutik


2.2.1 Pengertian.
Komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat
untuk membantu klien beradaptasi terhadap stress, mengatasi gangguan

4
patologis dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. (
Northouse, 1998).
Komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara perawat
klien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien yang
mempengaruhi perilaku pasien.Hubungan perawat klien yang terapeutik
adalah pengalaman belajar bersama dan pengalaman dengan
menggunakan berbagai tekhnik komunikasi agar perilaku klien berubah
ke arah positif seoptimal mungkin.Untuk melaksanakan komunikasi
terapeutik yang efektif perawat harus mempunyai keterampilan yang
cukup dan memahami tentang dirinya.
Teori komunikasi sangat sesuai dalam praktek keperawatan (Stuart dan
Sundeen, 1987, hal. 111) karena:
1. Komunikasi merupakan cara untuk membina hubungan yang
terapeutik. Dalam proses komunikasi terjadi penyampaian informasi
dan pertukaran perasaan dan pikiran.
2. Maksud komunikasi adalah mempengaruhi perilaku orang lain.
Berarti, keberhasilan intervensi keperawatan bergantung pada
komunikasi karena proses keperawatan ditujukan untuk merubah
perilaku dalam mencapai tingkat kesehatan yang normal.
3. Komunikasi adalah berhubungan. Hubungan perawat dan klien yang
terapeutik tidak mungkin dicapai tanpa komunikasi.

2.2.2 Manfaat Terapeutik.


Dengan profesi sebagai perawat, maka menjadi terapeutik adalah suatu
hal wajib dilakukan dan diharapkan akan akan memberikan kontribusi
dalam melakukan pelayanan kesehatan/keperawatan kepada masyarakat.
Menjadi terapeutik berarti menjadikan diri perawat sebagai sarana untuk
memfasilitasi proses penyembuhan dalam hal ini perawat menggunakan
komunikasi terapeutik sebagai sarananya.

2.2.3 Tujuan Komunikasi terapeutik.

5
Untuk mengembangkan pribadi klien ke arah lebih positif / adaptif dan
diarahkan pada pertumbuhan klien :
A. Realisasi diri, penerimaan diri, peningkatan penghormatan diri.
Melalui komunikasi terapeutik diharapkan terjadi perubahan dalam
diri klien. Klien yang tadinya tidak bisa menerima diri apa adanya
atau merasa rendah diri, setelah berkomunikasi terapeutik dengan
perawat akan mampu menerima dirinya.
B. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial
dan saling bergantung dengan orang lain.
Melalui komunikasi terapeutik, klien belajar bagaimana menerima
dan diterima orang lain. Dengan komunikasi yang terbuka, jujur,
menerima klien apa adanya, perawat akan meningkatkan kemampuan
klien dalam membina hubungan saling percaya. ( Hibdon, S., 2000).
C. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan
serta mencapai tujuan yang realistis.
Terkadang klien menetapkan ideal diri atau tujuan yang terlalu tinggi
tanpa mengukur kemampuannya. Individu yang merasa kenyataan
dirinya mendekati ideal diri mempunyai harga diri yang tinggi,
sedangkan individu yang merasa kenyataan hidupnya jauh dari ideal
dirinya akan merasa rendah diri (Taylor, Lilis dan Lemone, 1997).
D. Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri.
Klien yang mengalami gangguab identitas personal biasanya tidak
mempunyai rasa percaya diri dan merngalami harga diri rendah.

2.2.4 Prinsip Dasar Komunikasi Terapeutik.


Beberapa prinsip dasar yang harus dipahami dalam membangun
hubungan dan mempertahankan hubungan yang terapeutik:
A. Hubungan dengan klien adalah hubungan terapeutik yang saling
menguntungkan, didasarkan pada prinsip “Humanity of Nursing and
Clients”.
B. Perawat harus menghargai keunikan klien, dengan melihat latar
belakang keluarga, budaya dan keunikan tiap individu.

6
C. Komunikasi yang dilakukan harus dapat menjaga harga diri baik
pemberi maupun penerima pesan, dalam hal ini perawat harus
mampu menjga harga dirinya dan harga diri klien.
D. Komunikasi yang menumbuhkan hubungan saling percaya harus
dicapai terlebih dahulu sebelum menggali permasalahan dan
memberikan alternative pemecahan masalahnya.
Beberapa prinsip komunikasi terapeutik menurut Boyd & Nihart (1998)
adalah :
A. Klien harus merupakan fokus utama dari interaksi.
B. Tingkah laku professional mengatur hubungna terapeutik.
C. Hubungan sosial dengan klien harus dihindari.
D. Kerahasiaan klien harus dijaga.
E. Kompetensi intelektual harus dikaji untuk menentukan pemahaman.
F. memelihara interaksi yang tidak menilai, dan hindari membuat
penilaian tentang tingkah laku klien dan memberi nasehat.
G. Beri petunjuk klien untuk menginterpretasikan kembali
pengalamannya secar rasional.
H. Telusuri interaksi verbal klien melalui statemen klarifikasi dan
hindari perubahan subyek/topik jika perubahan isi topik tidak
merupakan sesuatu yang sangat menarik klien.
I. Implementasi intervensi berdasarkan teori.
J. Membuka diri hanya digunakan hanya pada saat membuka diri
mempunyai tujuan terapeutik.

2.2.5 Tahapan Komunikasi Terapeutik.


Tahapan komunikasi terapeutik terdiri dari empat taha, yaitu :
A. Tahap Persiapan/ Tahap Pra interaksi
Pada tahap ini perawat :
 Mengeksplorasi perasaan, harapan, dan kecemasan diri sendiri.
 Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri perawat sendiri.
 Mengumpulkan data tentang klien.
 Merencanakan pertemuan pertama dengan klien.

7
B. Tahap Perkenalan
Merupakan saat pertama perawat bertemu dengan klien. Pada tahap
ini tugas perawat :
 Membina hubungan saling percaya.
 Merumuskan kontrak bersama klien.
 Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah
klien.
 Merumuskan tujuan dengan klien.
C. Tahap Kerja
Merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi (Stuart
GW., 1998). Pada tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama
untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien.Tahap ini juga
berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan.
D. Tahap Terminasi
Merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien.Tahap ini
dibagi dua, yaitu tahap terminasi sementara dan terminasi akhir. Pada
thap ini tugas perawat adalah :
 Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah
dilaksanakan.
 Melakukan evaluasi subyektif.
 Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah
dilakukan.
 Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya.

2.2.6 Strategi Menanggapi Respon Klien.


Dalam menangagpi respon klien perawat dapat menggunakan berbagai
tehnik komunikasi terapeutik sebagai berikut:
A. Bertanya
B. Mendengarkan
C. Mengulang
D. Klarifikasi
E. Refleksi

8
F. Memfokuskan
G. Diam
H. Memberi informasi
I. Menyimpulkan
J. Mengubah cara pandang
K. Eksplorasi
L. Membagi persepsi
M. Mengidentifikasikan tema
N. Humor
O. Memberikan pujian

2.2.7 Hambatan Dalam Komunikasi Terapeutik.


Ada lima jenis hambatan spesifik komunikasi terapeutik, yaitu :
A. Resisens
B. Transferens
C. Kontraferens
D. Pelanggaran batas
E. Pemberian hadiah

2.3 Gangguan Fisik dan Gangguan Jiwa.


Kondisi fisik dan psikologis seseorang seringkali saling terkait.Dari sakit
fisik bisa muncul gangguan psikologis.Sebaliknya pula, dari gangguan
psikologis bisa muncul sakit fisik.Dalam mengkaji hubungan di antara
keduanya, analisis permasalahan meliputi pencarian/penggalian dan
penjelasan hubungan antara kepribadian dan penyakit fisik yang diikuti
dengan pendekatan penelitian kontemporer.
Apa sebenarnya perbedaan antara gangguan psikologis seperti cemas dan
depresi dengan gangguan fisik seperti penyakit infeksi dan kanker? Secara
langsung, gangguan psikologis dapat dijelaskan dengan mengetahui
penyebab psikologis itu sendiri seperti stres, pengalaman trauma, dan
masalah kanak-kanak.Sementara itu, gangguan fisik diakibatkan oleh
penyebab fisik.Dari situ diketahui bahwa gangguan psikologis seharusnya

9
disembuhkan dengan sarana psikologi seperti psikoterapi dan terapi perilaku,
sedangan gangguan fisik disembuhkan secara medis.
Gangguan psikologis berkisar dari penyakit mental yang serius sampai
kasus yang depresi yang relatif ringan yang biasanya disebabkan
ketidakseimbang biokimia, sering dianggap sebagai keturunan.Hal ini
terutama didukung oleh penelitian DNA. Di sisi lain, jenis kepribadian
tertentu ada yang mudah terkena penyakit jantung dan stres, yang merupakan
faktor utama dalam penyebab banyak penyakit fisik. Pengobatan holistik dan
terapi sejenisnya untuk penyakit fisik seringnya mempunyai komponen
psikologi yang besar seperti program manajemen stres, relaksasi, hingga
pelatihan pernafasan.

2.3.1Komunikasi Terapeutik Gangguan Fisik


A. Pengertian Gangguan Fisik.
Gangguan fisik adalah suatu keadaan dimana seseorang
mempunyai kekurangan pada fisiknya atau terganggunya system
organ, sensorik, dan motorik didalam tubuh.
B. Komunikasi pada macam-macam Gangguan Fisik:
1. Klien dengan gangguan pendengaran
Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi
yang paling sering digunakan ialah media visual. Klien
menangkap pesan bukan dari suara yang dikeluarkan orang lain,
tetapi dengan mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi
visual menjadi sangat penting bagi klien ini sehingga dalam
melakukan komunikasi, upayakan supaya sikap dan gerakan anda
dapat ditangkap oleh indra visualnya.
Teknik-teknik komunikasi yang dapat digunakan klien dengan
gangguan pendengaran, antara lain :
1. Orientasiakan kehadiran anda dengan cara menyentuh klien
atau memposisikan diri di depan klien
2. Gunakan bahasa yang sederhana dan bicaralah dengan
perlahan untuk memudahkan klien membaca gerak bibir anda

10
3. Usahakan berbicara dengan posisi tepat didepan klien dan
pertahankan sikap tubuh dan mimik wajah yang lazim
4. Jangan melakukan pembicaraan ketika anda sedang
mengunyah sesuatu (permen karet)
5. Bila mungkin gunakan bahasa pantomim dengan gerakan
sederhana dan wajar
6. Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari bila anda bisa dan
diperlukan
7. Apabila ada sesuatu yang sulit untuk dikomunikasikan,
cobalah sampaikan pesan dalam bentuk tulisan atau gambar
(simbol).

2. Klien dengan Gangguan Penglihatan.


Gangguan penglihatan dapat terjadi baik karena kerusakan
organ, misal., kornea, lensa mata, kekeruhan humor viterius,
maupun kerusakan kornea, serta kerusakan saraf penghantar
impuls menuju otak. Kerusakan di tingkat persepsi antara lain
dialami klien dengan kerusakan otak. Semua ini mengakibatkan
penurunan visus hingga dapat menyebabkan kebutaan, baik
parsial maupun total.Akibat kerusakan visual, kemampuan
menangkap rangsang ketika berkomunikasi sangat bergantung
pada pendengaran dan sentuhan.
Oleh karena itu, komunikasi yang dilakukan harus
mengoptimalkan fungsi pendengaran dan sentuhan karena fungsi
penglihatan sedapat mungkin harus digantikan oleh informasi
yang dapat ditransfer melalui indra yang lain.
a) Teknik Komunikasi
Berikut adalah teknik-teknik yang diperhatikan selama
berkomunikasi dengan klien yang mengalami gangguan
penglihatan:
 Sedapat mungkin ambil posisi yang dapat dilihat klien
bila ia mengalami kebutaan parsial atau sampaikan secara

11
verbal keberadaan / kehadiran perawat ketika anda berada
didekatnya.
 Identifikasi diri anda dengan menyebutkan nama (dan
peran) anda
 Berbicara menggunakan nada suara normal karena
kondisi klien tidak memungkinkanya menerima pesan
verbal secara visual. Nada suara anda memegang peranan
besar dan bermakna bagi klien.
 Terangkan alasan anda menyentuh atau mengucapkan
kata – kata sebelum melakukan sentuhan pada klien.
 Informasikan kepada klien ketika anda akan
meninggalkanya / memutus komunikasi.
 Orientasikan klien dengan suara – suara yang terdengar
disekitarnya.
 Orientasikan klien pada lingkunganya bila klien dipindah
ke lingkungan / ruangan yang baru.
b) Syarat-Syarat Komunikasi
Dalam melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien
dengan gangguan sensori penglihatan, perawat dituntut untuk
menjadi komunikator yang baik sehingga terjalin hubungan
terapeutik yang efektif antara perawat dan klien, untuk itu
syarat yang harus dimiliki oleh perawat dalam berkomunikasi
dengan pasien dengan gangguan sensori penglihatan adalah :
 Adanya kesiapan artinya pesan atau informasi, cara
penyampaian, dan saluarannya harus dipersiapkan
terlebih dahulu secara matang.
 Kesungguhan artinya apapun ujud dari pesan atau
informasi tersebut tetap harus disampaikan secara
sungguh-sungguh atau serius.
 Ketulusan artinya sebelum individu memberikan
informasi atau pesan kepada indiviu lain pemberi
informasi harus merasa yakin bahwa apa yang

12
disampaikan itu merupakan sesuatu yang baik dan
memang perlu serta berguna untuk sipasien.
 Kepercayaan diri artinya jika perawat mempunyai
kepercayaan diri maka hal ini akan sangat berpengaruh
pada cara penyampaiannya kepada pasien.
 Ketenangan artinya sebaik apapun dan sejelek apapun
yang akan disampaikan, perawat harus bersifat tenang,
tidak emosi maupun memancing emosi pasien, karena
dengan adanya ketenangan maka iinformasi akan lebih
jelas baik dan lancar.
 Keramahan artinya bahwa keramahan ini merupakan
kunci sukses dari kegiatan komunikasi, karena dengan
keramahan yang tulus tanpa dibuat-buat akan
menimbulkan perasaan tenang, senang dan aman bagi
penerima.
 Kesederhanaan artinya di dalam penyampaian informasi,
sebaiknya dibuat sederhana baik bahasa, pengungkapan
dan penyampaiannya. Meskipun informasi itu panjang
dan rumit akan tetapi kalau diberikan secara sederhana,
berurutan dan jelas maka akan memberikan kejelasan
informasi dengan baik.

3. Klien dengan gangguan Bicara.


Gangguan wicara dapat terjadi akibat kerusakan organ
lingual, kerusakan pita suara, ataupun gangguan persarafan.
Berkomunikasi dengan klien dengan gangguan wicara
memerlukan kesabaran supaya pesan dapat dikirim dan ditangkap
dengan benar. Klien yang mengalami gangguan wicara umumnya
telah belajar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat
atau menggunakan tulisan atau gambar.
a. Pada saat berkomunikasi dengan klien gangguan wicara, hal -
hal berikut perlu di perhatikan:

13
b. Perawat benar - benar dapat memperhatikan mimik dan gerak
bibirklien.
c. Usahakan memperjelas hal yang disampaikan dengan
mengulang kembali kata kata yang diucapkan klien.
d. Mengendalikan pembicaraan supaya tidak membahas terlalu
banyak topik.
e. Mengendalikan pembicaraan sehingga menjadi lebih rileks
dan pelan.
f. Memperhatikan setiap detail komunikasi sehingga pesan
dapat diterima dengan baik.
g. Apabila perlu, gunakan bahasa tulisan dan simbol.
h. Apabila memungkinkan, hadirkan orang yang terbiasa
berkomunikasi lisan dengan klien untuk menjadi mediator
komunikasi.

4. Klien dengan keadaan tidak sadar


Ketidaksadaran mengakibatkan fungsi sensorik dan motorik
klien mengalami penurunan sehingga seringkali stimulus dari
luar tidak dapat diterima klien dan klien tidak dapat merespons
kembali stimulustersebut.
Keadaaan tidak sadar dapat terjadi akibat gangguan organik pada
otak, trauma otak yang berat, syok, pingsan, kondisi tidur dan
narkose, ataupun gangguan berat yang terkait dengan penyakit
tertentu. Seringkali timbul pertanyaan tentang perlu tidaknya
perawat berkomunikasi dengan klien yang mengalami gangguan
kesadaran ini. Bagaimanapun, secara etika penghargaan terhadap
nilai nilai kemanusiaan mengharuskan penerapan komunikasi
pada klien dengan gangguan kesadaran.
Pada saat berkomunikasi dengan klien gangguan kesadaran,
hal hal berikut perlu diperhatikan:

14
a. Berhati - hati ketika melakukan pembicaraan verbal dekat
klien karena ada kayakinan bahwa organ pendengaran
merupakan organ terakhir yang mengalami penurunan
penerimaan rangsang pada individu yang tidak sadar dan
yang menjadi pertama kali berfungsi pada waktu sadar. Maka
perawat harus berhati - hati tidak mengatakan sesuatu pada
klien yang tidak sadar atau pada jarak pendengaran, hal hal
yang tidak akan mereka katakan pada klien yang sepenuhnya
sadar.
b. Ambil asumsi bahwa klien dapat mendengar pembicaraan
kita. Usahakan mengucapkan kata dengan menggunakan nada
normal dan memperhatikan materi ucapan yang kita
sampaikan di dekat klien.
c. Ucapkan kata - kata sebelum menyentuh klien. Sentuhan
diyakini dapat menjadi salah satu bentuk komunikasi yang
sangat efektif pada klien dengan penurunan kesadaran.
d. Upayakan mempertahankan lingkungan setenang mungkin
untuk membantu klien pada komunikasi yang dilakukan.

5. Klien atau gangguan kematangan kognitif.


Berbagai kondisi dapat mengakibatkan gangguan kematang an
kognitif, antara lain akibat penyakit : retardasi mental, syndrome
down, ataupun situasi sosial, misal, pendidikan yang rendah,
kebudayaan primitif, dan sebagainya.Dalam berkomunikasi
dengan klien yang mengalami gangguan kematangan, sebaikanya
Anda memperhatikan prinsip komunikasi bahwa komunikasi
dilakukan dengan pendekatan komunikasi efektif, yaitu
mengikuti kaidah sesuai kemampuan audience (capability of
audience) sehingga komunikasi dapat berlangsung lebih efektif.
Komunikasi dengan klien yang mengalami gangguan
kematangan kognitif :
a. Berbicara dalam tema yang jelas dan terbatas.

15
b. Hindari menggunakan istilah yang membingungkan klien,
usahakanmenggunakan kata pengganti yang lebih mudah
dimengerti, contoh, ataugambar dan simbol
c. Berbicaralah dengan menggunakan nada yang relatif datar
dan pelan.
d. Apabila perlu, lakukan pengulangan dan tanyakan kembali
pesan untukmemastikan kembali maksud pesan sudah
diterima.
e. Berhati - hatilah dalam menggunakan teknik komunikasi non
verbal karena dapat menimbulkan interprestasi yang berbeda
pada klien.

2.3.2 Terapeutik Pada Gangguan Jiwa.


A. Pengertian Gangguan Jiwa.
Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh
terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi
(penangkapan panca indera). Gangguan jiwa ini menimbulkan stress
dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya (Stuart & Sundeen,
1998). Gangguan jiwa dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal
umur, ras, agama, maupun status sosial dan ekonomi.
Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2000) adalah suatu
perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan
pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan
atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial.Penyebab gangguan
jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber dari berhubungan
dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan tidak
adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbalas, kehilangan
seseorang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain.Selain
itu ada juga gangguan jiwa yang disebabkan faktor organik, kelainan
saraf dan gangguan pada otak (Djamaludin, 2001).Jiwa atau mental
yang sehat tidak hanya berarti bebas dari gangguan. Seseorang bisa
dikatakan jiwanya sehat jika ia bisa dan mampu untuk menikmati

16
hidup, punya keseimbangan antara aktivitas kehidupannya, mampu
menangani masalah secara sehat, serta berperilaku normal dan wajar,
sesuai dengan tempat atau budaya dimana dia berada. Orang yang
jiwanya sehat juga mampu mengekpresikan emosinya secara baik
dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya, sesuai dengan
kebutuhan.
B. Penyebab Gangguan Jiwa.
Pertama, Faktor Organobiologi seperti faktor keturunan (genetik),
adanya ketidakseimbangan zatzat neurokimia di dalam otak.Kedua,
FaktorPsikologis seperti adanya mood yang labil, rasa cemas
berlebihan, gangguan persepsi yang ditangkap oleh panca indera kita
(halusinasi).Dan yang ketiga adalah Faktor Lingkungan (Sosial) baik
itu di lingkungan terdekat kita (keluarga) maupun yang ada di luar
lingkungan keluarga seperti lingkungan kerja, sekolah, dll. Biasanya
gangguan tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa
penyebab sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling
mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu timbulah
gangguan badan atau pun jiwa.
Faktor Organobiologi terdiri dari :
 Nerokimia (misal : gangguan pada kromosom no 21 yang
menyebabkan munculnya gangguan perkembangan Sindrom
Down).
 Nerofisiologi
 Neroanatomi
 Tingkat kematangan dan perkembangan organik.
 Faktor-faktor prenatal dan perinatal.
FaktorPsikologis terdiri dari :
 Interaksi ibu-anak.
 Interaksi ayah-anak : peranan ayah.
 Sibling rivalry.
 Hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan, dan
masyarakat.

17
 Kehilangan : Lossing of love object.
 Konsep diri : pengertian identitas diri dan peran diri yang tidak
menentu.
 Tingkat perkembangan emosi.
 Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya :
Mekanisme pertahanan diri yang tidak efektif.
 Ketidakmatangan atau terjadinya fiksasi atau regresi pada tahap
perkembangannya.
 Traumatic Event
 Distorsi Kognitif
 Pola Asuh Patogenik (sumber gangguan penyesuaian diri pada
anak) :
a) Melindungi anak secara berlebihan karena memanjakannya
b) Melindungi anak secara berlebihan karena sikap “berkuasa”
dan “harus tunduk saja”
c) Penolakan (rejected child)
d) Menentukan norma-norma etika dan moral yang terlalu
tinggi.
e) Disiplin yang terlalu keras.
f) Disiplin yang tidak teratur atau yang bertentangan.
g) Perselisihan antara ayah-ibu.
h) Perceraian
i) Persaingan yang kurang sehat diantara para saudara.
j) Nilai-nilai yang buruk (yang tidak bermoral).
k) Perfeksionisme dan ambisi (cita-cita yang terlalu tinggi
bagi si anak).

C. Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa.


 Alam perasaan (affect) tumpul dan mendatar. Gambaran alam
perasaan ini dapat terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan
ekspresi.

18
 Menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawn). Tidak mau
bergaul atau kontak dengan orang lain, suka melamun (day
dreaming).
 Delusi atau Waham yaitu keyakinan yang tidak rasional (tidak
masuk akal) meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa
keyakinannya itu tidak rasional, namun penderita tetap meyakini
kebenarannya. Sering berpikir/melamun yang tidak biasa (delusi).
 Halusinasi yaitu pengalaman panca indra tanpa ada rangsangan
misalnya penderita mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan di
telinganya padahal tidak ada sumber dari suara/bisikan itu.
 Merasa depresi, sedih atau stress tingkat tinggi secara terus-
menerus.
 Kesulitan untuk melakukan pekerjaan atau tugas sehari-hari
walaupun pekerjaan tersebut telah dijalani selama bertahun-tahun.
 Paranoid (cemas/takut) pada hal-hal biasa yang bagi orang normal
tidak perlu ditakuti atau dicemaskan.
 Suka menggunakan obat hanya demi kesenangan.
 Memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri.
 Terjadi perubahan diri yang cukup berarti.
 Memiliki emosi atau perasaan yang mudah berubah-ubah.
 Terjadi perubahan pola makan yang tidak seperti biasanya.
 Pola tidur terjadi perubahan tidak seperti biasa.
 Kekacauan alam pikir yaitu yang dapat dilihat dari isi
pembicaraannya, misalnya bicaranya kacau sehingga tidak dapat
diikuti jalan pikirannya.
 Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara
dengan semangat dan gembira berlebihan.
 Kontak emosional amat miskin, sukar diajak bicara, pendiam.
 Sulit dalam berpikir abstrak.
 Tidak ada atau kehilangan kehendak (avalition), tidak ada
inisiatif, tidak ada upaya/usaha, tidak ada spontanitas, monoton,
serta tidak ingin apa-apa dan serba malas dan selalu terlihat sedih.

19
BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Komunikasi adalah suatu proses menyampaikan pesan yang dilakukan
oleh seseorang kepada pihak lain yang bertujuan untuk menciptakan
persamaan pikiran antara pengirim dan penerima pesan.

Komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara perawat


klien yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien yang mempengaruhi
perilaku pasien.

Secara langsung, gangguan psikologis/Jiwa dapat dijelaskan dengan


mengetahui penyebab psikologis itu sendiri seperti stres, pengalaman trauma,
dan masalah kanak-kanak.Sementara itu, gangguan fisik diakibatkan oleh
penyebab fisik.Dari situ diketahui bahwa gangguan psikologis seharusnya
disembuhkan dengan sarana psikologi seperti psikoterapi dan terapi perilaku,
sedangan gangguan fisik disembuhkan secara medis.

1.2 Saran
Saran-saran yang ingin penulis sampaikan dengan penulisan makalah ini yaitu
:
a. Perawat harus bisa menghadapi klien dengan gangguan fisik dan jiwa agar
terjadi hubungan terapeutik dengan klien. Walaupun pasien mempunyai
gangguan persepsi sensori, perawat harus merawat klien dengan baik dan
mengetahui teknik-teknik komunikasi yang harus lebih diperhatikan.
b. Perawat mampu menguasai cara-cara berkomunikasi dengan pasien yang
terganggu fisik dan mentalnya lebih efektif karena telah mengetahui
bagaimana terapeutik berkomunikasi dengan pasien gangguan fisik dan
jiwa, serta mengetahui hambatan yang akan ditemui pada saat akan
berkomunikasi.

20
c. Perawat mampu menerapkan tehnik-tehnik komunikasi, cara
berkomunikasi, tahapan komunikasi serta faktor yang menghambat
komunikasi pada pasien gangguan fisik dan jiwa.

21
DAFTAR PUSTAKA

http://majalah1000guru.net/2013/06/stres-gangguan-psikologis-fisik/

http://www.seputarpengetahuan.com/2014/08/100-macam-pengertian-
komunikasi-menurut.html

http://abang-sahar.blogspot.co.id/2013/01/makalah-komunikasi-
terapeutik.html

www.slideshare.net/alfunhidayatulloh/gangguan-jiwa

Https://Komunikasi/said bongkem tulen Komunikasi Keperawatan Pada


Klien Khusus.htm
Https://Penerapan Komunikasi Terapeutik Pada Pasien Dengan Gangguan

Penglihatan _ flloraliwu.htm

Https://The Colour of Rainbow Makalah Komunikasi Pada Klien Dengan


Gangguan Pendengaran.htm

22