Anda di halaman 1dari 19

Critical Book Report

Mata Kuliah : Kosmetika

Dosen Pengampu : Dra. Lina Pangaribuan, M.Pd

Habibah Hanim Lubis, S.Pd

Disusun Oleh :

Ketua : Dessy Ramadayani (517144003)

Anggota : - Dinita Zulfahira (5171144007)

-Shelly Rizka Putri( 5173344031)

KELAS : REGULER A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TATA RIAS

JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA (PKK)

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Critical
Book Report ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami
berterima kasih pada Ibu Dra. Lina Pangaribuan, M.Pd. dan Ibu Habibah Hanim Lubis, S.Pd.
selaku Dosen mata kuliah Kosmetika yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita tentang bagaimana cara mengkritik suatu buku dengan baik dan benar.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi
perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Rasionalisasi pentingnya CBR sering kali kita bingung memilih buku referensi untuk
kita baca dan pahami. Terkadang kita memahami satu buku, namun kurang memuaskan hati
kita. Misalnya dari segi analisa bahasa, pembahasan tentang kosmetika. Oleh karena itu, kami
membuat Critical Book Report ini untuk mempermudah pembaca dakam memilih buku
referensi, terkhusus pada pokok bahasa tentang kosmetika.

Tujuan Penulisan CBR


Mengkritis/membandingkan satu buku topik materi kuliah kosmetika dalam dua buku
yang berbeda.

Manfaat CBR
- Untuk menambah wawasan tentang kosmetika.
- Untuk mengetahui metode dan cara pembuatan kosmetika yang baik dan
benar.

IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Buju Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik
Penulis : dr. Retno Iswari Tranggono, SpKK
Dra. Fatma Latifah, Apt.
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juni - 2007
Kota Terbit : Jakarta
Jumlah Halaman : 223 (halaman)
Jumlah Bab : 9 (sembilan) bab
Ukuran Buku : 175 x 240 mm
Harga Buku : Rp. 50.400,-
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

BAB 1 PEMBAHASAN
A. PENGANTAR KOSMETOLOGI
1. Pendahuluan
Perkembangan ilmu kosmetik serta industrinya baru dimulai secara besar-besaran
pada abad ke-20. teknologi kosmetik begitu maju dan merupakan paduan antara
kosmetik dan obat (pharmaceutical) atau yang disebut kosmetik medik
(cosmeceuticals).
Banyak profesi dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan kosmetik,
seperti:
1. Dalam profesi kedoktean terdapat ahli bedah plastik, dokter gigi, dan dokter
ahli kulit.
2. Ahli biologi dan fsiologi mempelajari stuktur kulit, rambut dan gig
3. Ahli microbiologi yang meneliti masalah pengawet kosmetik
4. Ahli kimia organik, yang mengembangkan bahan dasar dan bahan baru
5. Ahli kimia fisika, yang mempelajari sifat dan perilaku emulsi serta surfaktan.
6. Ahli kimia farmasi dan kimia kosmetik yang bertanggung jawab atas
penyiapan produk-produk kosmetik.
7. Ahli penata rambut dan kecantikan.
Istilah kosmetologi sudah digunakan sejak tahun 1940 di inggris, prancis, dan
jerman.
Kosmetologi diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari hukum-
hukum kimia, fisika, biologi maupun mikrobiologi tentang pembuatan, penyiapan,
dan penggunaan kosmetik.
Suatu krim yang dapat diterima baik tahun in, belum tentu tetap dianggap baik
di tahun berikutnya. Mereka harus memahami sifat-sifat permukaaan kulit dan
rambut dan bagaimana produk kosmetik mempengauhi jaringan-jaringan tersebut.

2. Sejarah kosmetik

Hasil penyelidikan di Mesir dan di India, pemakaian ramuan seperti bahan


pengawet mayat dan salep –salep aromatik, yang dapat dianggap sebagai
bentuk awal kosmetik.
Kosmetologi sipisahkan dari ilmu kedokteran. Ilmu kosmetik untuk
merias da kosmetik yang dipakai untuk pengobatan kelainan patologi kulit.
Pada tahun 1700-1900 pembagian tersebut dipertegas dengan cosmetic
treatment yang berhubungan dengan ilmu kedokteran dan ilmu pengetahuan
lainnya.
3. Sejarah kosmetologi medik di Indonesia
Di indonesia baru pada tahun 1970 kosmetologi dalam lingkungandermatologi
secara resmi dikembangkan di fakultas kedokteran.
4. Kosmetik, obat, dan medicated cosmetic
Kosmetik berasal dari kata yunani, “kosmetikos” yang berarti keterampilan,
menghias, mengatur.
“kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk
digunakan pada bagian luar bahan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ
kelamin bagian luar), gigi, dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah
daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap baik,
memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau
menyembuhkan suatu penyakit.
Obat adalah bahan ,zat, atau benda yang dipakai untuk diagnosa,
pengobatan, dan pencegahan suatu penyakit atau yang dapat mempengaruhi
struktur dan faal tubuh. Tak ada bahan kimia yang bersifat indeferens (tidak
menimbulkan efek apa-apa) jika dikenakan pada kulit. Pada tahun 1955
Lubowe menciptakanistilah “Cosmedic” yang merupakan gabungan dari
kosmetik dan obat yang sifatnya dapat mempengaruhi faal kulit secara positif
namun bukan obat. Pada tahun 1982 Faust mengemukakan istilah “Medicated
Cosmetics”.

5. Penggolongan kosmetik
A. Menurut Peraturan Materi Kesehatan RI, kosmetik ibagi kedalam 13
kelompok.
1. Preparat untuk bayi
2. Preparat untuk mandi
3. Preparat untuk mata
4. Preparat wangi-wangian
5. Preparat untuk rambut
6. Preparat pewarna rambut
7. Preparat make up kecuali mata
8. Preparat kebersihan mulut
9. Preparat kebersihan badan
10. Preparat kuku
11. Preparat perawatan kulit
12. Preparat cukur
13. Preparat untuk suntan atau sunscreen
A. Penggolongan menurut sifat dan cara pembuatan
1. Kosmetik modern
2. Kosmetik tradisional
a. Betul-betul tradisional, yang dibuat dari bahan alam dan diolah mnurut
resep dan cara turun-temurun.
b. Semi tradisional, diolah secara modern dan diberi pengawet agar tahan
lama.
c. Hanya namanya yang tradisional, tanpa komponen yang benar-benar
tradisional dan diberi zat warna yang menyerupai bahan tradisional.
B. Penggolongan menurut kegunaan bagi kulit
1. Kosmetik perawatan kulit ( skin care Cosmetic)
a. Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser)
b. Kosmetik untuk pelembab kulit (moesturizer)
c. Kosmetik pelindung kulit (sunscreen)
d. Kosmetik untuk menipiskan atau mengamplas (peeling)

2. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)


Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit
sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik serta
menimbulkan efek psikologis yang baik, seperti percaya diri (self
Cofidance).

BAB 9 CARA PEMBUATAN KOSMETIK YANG BAIK


I. Ketentuan Umum

1. Landasan Umum

a. Pembuatan kosmetik, pengaawasan menyeluruh sangat esensian untuk menjamin


bahwa konsumen menerima kosmetik yang bermutu tinggi dan aman digunakan.
Mutu produk kosmetik tergantung pada bahan awal, proses pembuatan dan
pengawasan mutu, bangunan, peralatan yang digunakan dan personalia yangteribat
dalam pembuatan kosmetik.

Istilah-istilah baru yang khusus dalam produksi kosmetik :


a) Batch: sejumlah produk kosmetik yang mempunyai sifat dan mutu yang
seragam yang dihasilkan dalam suatu siklus pembuatan.
b) Lot: bagian dari batch yang memiliki sifat dan mutu yang seragam dalam batas
yang telah ditetapkan.
c) Nomor Batch: tanda pengenal suatu batch, yang memungkinkan penelusuran
kembali riwayat lengkap pembuatn batch tersebut, termasuk tahap-tahap
produksi, pengawasa dan distribusi.
d) Nomor Lot: sama dengan pada nomor batch tetapi hanya untuk lot.
e) Hasil Nyata: jumlah yang sebenarnya dihasilkan pada setiap tahap produksi
suatu produk.
f) Hasil Standart: jumlah yang telah dibakukan oleh produsen.
g) Hasil Teoritis: jumlah yang dihasilkan pada tiap tahap pembuatan produk
tertentu.

h) Produk Antara: tiap bahan atau campuran bahan yang masih memerlukan satu
atau lebih tahap pengelolahan.
i) Produk Ruahan: tiap bahan atau campuran bahan yang telah selesai diolah dan
hanya memerlukan pengemasan untuk menjadi produk jadi.
j) Produk Jadi: suatau produk yang telah melalui seluruh tahapan proses
pembuatan.
k) Seleksi Spesifikasi Bahan: sifat sifat kimia, fisika dan biologi, jika ada, dari
suatu bahan awal, produk antara, produk ruahan atau produk jadi.
l) Tanggal Pembuatan: tanggal yang menunjukkan selesainya proses pembuatan
batch tertentu.
m) Validasi: tindakan membuktikan dengan cara sesuai bahwa tiap bahan, proses,
prosedur, kegiatan, sistem, perelengakapan atau mekanisme yang digunakan
dalam produksi dan pengawasan mencapai hasil yang diinginkan.

2. Personalia
Jumlah karyawan disemua tingakatan hendakalah memadai serta memili pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan sesuai tugasnya.

a) Organisasi, Klasifikasi, dan Tanggung Jawab.


Yang diharapakan, diantaralain:
 Struktur organisasi perusahaan sedemikian rupa
 Manager produksi dan manager pengawasan mutu.

b) Latihan
 Seluruh kariawan, yang langsung ikut serta dalam kegiatan pembuatan
kosmetik dan yang karena tugasnya mengharuskan mereka masuk
kedaerah pembuatn kopsmetik.

3. Bangunan

Bangunan untuk pembuatan kosmetik hendakalah memilik ukuran, rancangan, konstruksi


serta letak yang memadai untuk memudahkan pelaksaan pekerja, peralatan.

4. Pearalatan
 Racangan bangun dan konstrus
- Pemukaan peralatan yang bersentuhan denagn baahn baku, produk anatara, produk
ruahan atau produk jadi, tidak boleh beraksi, mengadisi atau mengabsorsi, yang dapat
mengubah identitas, mutu dan kemurnian produk diluar batas yang telah ditentuakan
- Peralatan hendaklah dapat dibersihkan dengan mudah.
- Peralatan yang digunakan hendaklah diperiksa keakutannya secara teratur.
 Pemasangan dan Penetapan
- Peralatan hendaklah ditempatkan sedemikian rupa.
- Peralatan hendaklah ditempatkan dengan jarak yang cukup renggang dari peralatan
lain.
- Semua pipa, tangki, selubung pipa uap, atau pipa pendingin hendaklah diberi isolasi
yang baik.
 Pemeliharaan
- Perlatan hendaklah dirawat menurut jadwal yang tepat agar tetap berfungsi dengan
baik.

5. Sanitasi dan Higiene


a) Personalia
- Semua karyawan hendaklah menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala.
- Semua karyawan hendaklah menerapkan higiene perorangan yang baik.
- Merorok, makanan, minuman, dll. Hanya diperbolehkan didaerah tertentu dan
dilarang dalam daerah produksi.
b) Bangunan
- Gedung yang digunakan.
- Toilet yang tersedia dalam jumlah yang cukup.
- Samapah tidak boleh dibiarkan menumpuk.
- Prodentisida, insektisida, bahan fumigasi dan bahan pembersih, tidak boleh
mencemari peralatan.

c) Peralatan
- Setelah digunakan, peralatan hendaklah dibersihkan dengan baik
- Prosedur tertulis yang cukup rinci untuk pembersih dan sanitasi peralatan dan wadah
yang digunakan.

6. Produksi
a) Bahan Awal
- Semua pemasukan, pengeluaran, dan sisa bahan hendaklah di catat
- Persediaan bahan awal hendaklah di periksa dalam selangwaktu tertentu
- Pengeluaran bahan awal untuk penggiunaan hendaklah dilakukan oleh petugas yang
berwenang.
b) Semua proses produksi hendaklah divalidasi dengan tepat kecocokan bahan yang
digunakan, keandalan peralatan dan sistem, serta kemampuan petugas pelaksana
- Dilakukan langkah-langkah untuk membuktikan bahwa prosedur bersanggkutan
cocok untul pelaksanaan produksi rutin.
- Proses dan prosedur hendaklah secara rutin dievaluasi kembali dengan kritis.
c) Pencemaran
- Pencemaran kimiawi atau mikroba mempengaruhi kualitas produk, tidak dapat
diterima.
d) Sistem Penomoran Batch dan Lot
- Produk ruahan atau produk jadi suatu batch atau lot dapat dikenali dengan nomor
batch atau nomor lot tertentu.
e) Penimbangan dan Penyerahan
- Penimbangan dan penyerahan bahan baku, bahan pengemas, produk antara, dan
produk ruahan.
- Metode penanganan, penimbangan, penghitungan dan penyerahan
- Penimbangan dan penyerahan hendaklah menggunakan peralatan yang cocok dan
bersih.
f) Pengembalian
- Produk ruahan yang dikembalikan ketempat penyimpanan ketempat penyimpanan
hendaklah didokumentasikan dan dirujuk dengan baik.

g) Pengolahan
- Semua bahan pengolahan hendaklah diperiksa terlebih dahulu.
- Peralatan hendaklah dinyatakan bersih sebelum digunakan.
- Semua kegiatan pengolahan hendaklah dilaksanakan mengikuti prosedur tertulis yang
telah ditentukan.
h) Personalia
- Karyawan yang bekerja di daerah bersih hendaklah dapat diandalkan untuk bekerja
dengan disiplin serta tidak menderita penyakit.
i) Pengemasan
- Proses pengemasan hendaklah dilaksanakan dibawah pengawasan ketat untuk
menjaga indentitas, keutuhan, dan kualitas barang yang sudah dikemas.

j) Produk Pulihan, Sisa Produk, dan Produk Jadi yang Dikembalikandari Gudang
Pabrik
- Produk antara dan produk ruahan dapat diolah dengan prosedur tententu yang
disahkan.
k) Kosmetik Kembalian
- Produk jadi yang dikembalikan dari peredaran dan sudah lepas dari pengawasan
pabrik peembuatannya dapat dipertimbangkan kembaliuntuk dijual. Penilaihan
hendaklah memperhatikan sifat produk, kondidi penyimpanan khusus yang
diisyaratkan.
l) Karantina Produk Jadi dan Penyeraha ke Gudang Produk Jadi
- Karantina produk jadi merupakan titik akhir pengawasan sebelum pabrik jadi
diserahkan ke guadang dan siap untuk didistribusikan.
m) Catatan Pengawasan Distribusi Produk Asli
- Sistem distribusi hendaklah dirancang dengan tepat sehingga menjamin bahwa produk
jdi yang pertama masuk didistribusikan lebih dahulu.
n) Penyimpana Bahan Awal, Bahan Pengemas, Produk Antara, Produk Ruahan, dan
Produk Jadi
- Semua bahan hendaklah disimpan secara rapihdan teratur,

7. Pengawasan Mutu
Pengawasan mutu adalah bagian yang esensial dari cara pembuatab kosmetik yang baik
agar tiap kosmetik yang dibuat memenuhi persyaratan mutu yang disesuaikan dengan
tujuan penggunaanya.
a) Ketentuan Umum
- Sistem pengawasan ,utu hendaklah dirancang dengan tepat untuk menjamin bahwa
tiap kosmetik mengandung bahan-bahnan dengan mutu yang benar.
b) Laboratorium Pengujian
1) Sarana
- Laboratrium pengujian hendaklah dirancang, dibangun, dan dilengkapidengan tepat.
2) Personalia
- Tiap karyawab hendaklah memakai pakaian pelindung dan alat pengaman.
3) Peralatan
- Peralatn serta instrumen laboratorium pengujian hendaklah cocok untuk prosedur
pengujian yang dilakukan.
- Prosedur kerja standar untuk setiap instrumen dan peralatan hendaklah diletakkan
didekat instrumen.
- Pancuran air pengaman dan pembasuh mata harus tersedia dekat tempat tempat kerja.
4) Pereaksi dan Media Pembiakan
- Penerimaan dan pembuatan pereaksi dan media pembiakan harus dicatat.
- Pereaksi yang dibut di laboratorium harus mengikuti prosedur pembuatan tertulis.
- Kontrol positif dan kontrol negativ memastikan kecocokan media pembiakan.
5) Spesifikasi dan Prosedur Pengujian
- Baha pembanding hendaklah berada dalam tanggung jawab seorang yang ditunjuk.
- Bahan pemanding resmi hanya digunakan untuk tujuan.
6) Spesifikasi dan Prosedur Pengujian
- Prosedur pengajuan hendaklah divalidasi dengan memperhatikan fasilitasdan
peralatan yang ada.
- Spesifikasi dan prosedur pengujian untuk tiap bhan baku, produk antara, dll.

c) Validasi
Bahan pengawasan mutu melakukan validasi berikut:
1) Validasi yang dimaksudan utntuk mengetahui ketelitian dan ketetapan kadar.
2) Penerapan instrumen.
d) Pengawetan terhadap Bahan Awal, Produk Antara, Produk Ruahan, dan Produk
Jadi
1) Spesifikasi
- Hal-hal yang mencakupmdalam spesifikasi bahan awal, produk antara, produk ruahan
dan produk jadi dapat dilihat dalam dokumentasi.
2) Pengambilan Contoh
- Contoh hendaklah mewakili batch dari bahan yang diambil.
- Pengambilan contoh hendaklah dilakukan dengan tepat.
3) Pengujian
- Bahan baku : hendaklah dilakukan pengujian terhadap spesifikasi identifikasi,
kemurnian, dan persyaratan produk yang diisikan didalamnya,
- Bahan pengemas : hendaklah memenuhoi spesifikasi yang ditetapkan.
- Produk anatra, produk ruahan, dan produk jadi : contoh hendaklah yang mewakili
batch.
4) Pengawasan Lingkungan
- Pemantauan secara teratur terhadap mutu kimiawidan mikrobiologi.
5) Pengawasan Dalam Proses
- Produk dalam proses hendaklah diuji identitas, kadar, kualitas, dan kemurniannya.
6) Pengawasan Pada Pengemasan
- Jalur pengemasan diperiksa kembali oleh Bagian Pengawasan Mutu. Proses akhir
yang telah dikemas hendaklah dikarantina sampai diluluskan oleh Bagian Pengawasan
Mutu.
7) Pengujian Ulang Bahan atau Produk yang Telah Disetujui
- Hendaklah ditetapkan batas waktu penyimpanan yang sesuai untuk setiap bahan awal,
produk anatara, produk ruahan dan produk jadi.
e) Peninjauan catatan Batch Produksi
- Bagian Pengawasan Mutu hendaklah ikut serta dalam pembuatan Prosedur
Pengelolahan dn Pengemasan Indukkarena harus disetujui oleh Bagian Pengawasan
Mutu sebelum digunakan.
f) Peninjauan Catatan Batch Produksi
- Semua catatan produki dan pengawasan tiap batch produk jadi hendaklah diteliti oleh
Bagian Pengawasan Mutu.
g) Penelitian Stabilitas
- Hendaklah dirancang program pengujian stabilitas untuk mengetahui stabilitas
produk.
h) Laboratorium Luar
- Sebagian atau seluruh aspek pengujian mutu dapat dilakukan oleh suatu laboratorium
lain uang mampu melakukan pengujian yang telah ditetapkan oleh pabrik.
i) Penilaian terhadap Pemasok
- Bagian Pengawasan Mutu hendaklah ikut bertanggung jawab dan dapat dipercaya
dalam penyedian bahan awal.

8. Inspeksi Diri
Tujuan inspeksi diri adalah untuk melaksanakan penelitian secara teratur tentang
keadaan dan kelengkapan fasilitas pabrik kosmetik.
a) Tim Inspeksi Diri
- Tediri sekurang-kurangnya 3 orang yang paham CPKB.
b) Selang Waktu Inspeksi Diri
- Inspeksi diri dapat dilakukan bagian demi bagian.
c) Hal-hal yang Diinspeksi
- Untuk mendapatkan standart inspeksi diri yang minimal dan seragam maka disusun
daftar pemeriksaan selengkap mungkin untuk semua pihak yang melakukan inspeksi.
d) Daftar Pemeriksaan Inspeksi Diri
- Inspeksi diri hendaklah dilaksanakan dengan menggunakan suatu daftar pemeriksaan
berisi jawaban atas pertanyaan yang diklasifikasikan.
e) Laporan Inspeksi Diri
- Setelah menyelesaikan setiap inspeksi diri, hendaklah dibuat laporan yang mencakup:
(1) hasil inspeksi diri; (2) evaluasi dan kesimpulan;dan (3) usul untuk tindakan
perbaikan.
f) Tindak Lanjut Inspeksi Diri
- Berdasarkan laporan, pemimpin hendaklah mengambil tindakan perbaikan yang
diperlukan sesuai persyaratan CPKB.

9. Penanganan terhadap Hasil Pengamatan, Keluhan, dan Laporan Kosmetik yang


Beredar
a) Penarikan Kembali Produk Asli
1) Keputusan Penarikan Kembali Produk Jadi
- Penarikan kembali produk jadi dapat terjadi atas prakarsa produsen sendiri.
2) Pelaksanaan Penarikan Kembali
- Tindakan penarikan kembali hendaklah dilakukan segera setelah diketahui adanya
jadi yang tidak memenuhi persyaratan.
3) Sistem Dokumentasi
- Sistem dokumentasi pabrik harus dapat mendukung pelaksanaan penarikan kembali.
4) Pedoman dan Prosedur
- Hendaklah dibuat pedoman dan prosedur penarikan kembali produk jadi yang tepat.
5) Catatan dan Laporan
- Hendaklah dibuat catatan dan laporan pelasanaan dan hasil penarikan/
b) Keluhan dan Laporan
- Semua keluhan dan laporan hendaklah diselidiki dan dievakuasi dan dievaluasi serta
diambil langkah tindak lanjut yang sesuai.
c) Kosmetik Kembalian
- Kosmetik kembali adalah produk jadi yang telah beredar, yang kamudian
dikembalikan kepembuatnya karena adanya keluhan.
- Pebrik hendaklah membuat prosedur kosmetik yang dikembalikan serta menetapkan
apakah kosmetika tersebut dapat diproses kembali.
d) Prosedur Penanganan Kosmetik Kembalian
1) Jumlah dan identitas kosmetik kembalian hendaklah dicatat.
2) Kosmetik kembalian yang diterima hendaklah dikarantina.
3) Terhadap kosmetik kembalian hendaklah dilakukan penelitian.
e) Kosmetik kembalian yang tidak dapat diolah ulang.
- Hendaklah dibuat prosedur pemusnahan bahan atau produk yang ditolak.
f) Pencatatan
- Untuk tiap pemusnahan kosmetik kembalian hendaklah dibuatkan berita acara yang
ditanda tangani oleh pelaksana pemusnah dan saksi.

10. Dokumentasi
Dokumentasi mencakup
I. Dokumentasi spesifikasi, yang mencakup spesifikasi bahan baku.
II. Dokumentasi dalam produksi, yang mencakup dokumen produksi induk,dll.
III. Dokumentasi Pengawasan Mutu, mulai dari dokumentasi pengambilan contoh.
IV. Dokumentasi Penyimpanan dan Distribusi, dimana anatara lain kartu persedian dan
catatan distribusi produk jadi.
V. Dokumentasi dalam pemeliharaan, pembersihan, dan pengendalian ruanga, dan
pemusnahan bahan dan kosmetik yang ditolak.
BAB III
PERBEDAAN

KEUNGGULAN BUKU
- Buku ini membahas segala jenis kosmetika, klasifikasinya, penyebab-penyebab dari
kosmetika tersebut.
- Buku ini juga memberi tahu tentang bagaimana cara pembuatan kosmetika yang baik.
- Memberitahu kita kosmetika yang yang ditarik kembali karena bebrapa hal dan saat
ditarik kembali diapakan kosmetika-kosmetika tersebut.
- Membahas tentang karyawan-karyawan yang berkerja disana harus seperti apa, demi
menjaga keamanan kosmetikanya sendiri.

KELEMAHAN BUKU
- Bahasa yng terkandung dalam buku ini kurang dapat dimengerti.
- Ada beberapa kalimat yang seperti terasa diulang-ulang.
- Setiap pembahasannya menggunakan kalimat yang panjang dan kurang kepada inti
dari defenisinya sendiri.
BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN:
Pada pembuatan kosmetik, pengawasan menyeluruh sangat esensial untuk menjamin bahwa
konsumen menerima kosmetik yang bermutu tinggi dan aman diguanakan. Saat kita menjadi
karyawan dari suatu perusaahan kosmetika atau pun menjadi pimpinan kita harus tau apa
yang harus kita lakukan, setiap kosmetika yang dikembalikan apakah bisa kita olah kembali
atau tidak, atau memang harus dimusnahkan. Bangunan yang digunakan untuk pembuatan
kosmetik hendaklah dirancang dan dibangn dengan tepat untuk memudahkn pelaksanaan
sanitasi yang baik. Peralatan yang digunakan dalam pembuatan kosmetika hendaklah
memiliki rancang-bangun dan konstruksi yang tepat.

SARAN
Sekiranya buku dapat direvisi kembali, menambahkan bagian-bagian/materi yang belum
tercantum, menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah untuk dimengerti.