Anda di halaman 1dari 6

KELOMPOK : B4

ANALISIS MASALAH
a. Mrs. A is a 40-year-old G7P6A0 woman was brought to a midwife by a traditional
birth attentdant due to failure to deliver the baby after pushing for 2 hours.
1) Apa hubungan riwayat kehamilan dengan keluhan?
Multiparitas beresiko dalam kejadian perdarahan postpartum dikarenakan oleh
otot uterus yang sering diregangkan sehingga dindingnya menipis dan
kontraksinya menjadi lemah. Hal ini mengakibatkan kejadian perdarahan
postpartum menjadi 4 kali lebih besar pada multiparitas dimana insidennya adalah
2,7%.

2) Apa kemungkinan penyebab bayinya tidak lahir setelah 2 jam mengejan?


Karena atonia urteri akibat janin makrosomia dan multipara
Ibu yang mengandung janin makrosomia berisiko untuk melahirkan secara
caesarean section. Pada persalinan pervaginam atau persalinan normal,
makrosomia dapat menjadi penyulit persalinan sehingga dapat mengakibatkan
risiko cedera pada Ibu dan bayi selama proses kelahiran. Ibu yang melahirkan bayi
makrosomia melalui persalinan normal dapat mengalami komplikasi persalinan
seperti perdarahan postpartum, laserasi jalan lahir, dan endometritis pascapartum.

b. After delivery, she complained of massive vaginal bleeding and was brought to a
hospital. Due to absence of the obgyn, she was referred to Moh. Hoesin hospital. The
estimated blood loss at the time of delivery was 500 cc. At the hospital, the patient
looked pale, weak, and drowsy.
1) Bagaimana mekanisme perdarahan vagina masif?

c. Lab: Hb 4,7 g/dL; PLT : 225.000/mm3; WBC: 20.600/mm3; BT/CT: 3 minutes/12


minutes; Ureum: 48,5 mg/dL; creatinine: 1,10mg/dL
1) Bagaimana interpretasi dari hasil pemeriksaan fisik di atas?
No Jenis pemeriksaan Hasil pemeriksaan Nilai normal interpretasi

1. Hemoglobin 4,7 g/dL 11 g/dL Abnormal


(anemia)

2. Trombosit 225.000/mm3 150.000- Normal


450.000/mm3
3. Leukosit 20.600/mm3 5000- abnormal
16.000/mm3
4. Bleeding time 3 menit 1-6 menit Normal

5. Clotting time 12 menit 6-12 menit Normal

6. Ureum 48,5 mg/dL 10-50 mg/dL Normal

7. Kreatinin 1,10 mg/dL <1,5 mg/dL Normal


LEARNING ISSUE
a. Faktor risiko
Proses Etiologi Faktor Risiko
Tonus Over-distension uterus Multiparitas, makrosomia,
polihidramnion dan
abnormalitas janin

Kelelahan otot uterus Partus lama, paritas tinggi


dan riwayat perdarahan
postpartum pada
kehamilan sebelumnya

Infeksi Spontaneous rupture of


uterus/chorioamnionitis membranes (SROM) yang
lama dan demam

Distorsia uterus/uterus Fibroid uterus dan


abnormal plasenta previa

Obat relaksasi uterus Obat anastesi, nifedipine,


nonsteroidal anti-
inflammatory drugs
(NSAID), beta-mimetics
dan MgSO4
Jaringan Retensio Kelahiran plasenta yang
plasenta/membran tidak lengkap terutama
<24 minggu

Abnormalitas plasenta Riwayat operasi uterus


sebelumnya dan
abnormalitas plasenta
yang terdeteksi USG
Perlukaan lahir Luka pada Manipulasi kelahiran,
serviks/vagina/perineum kelahiran yang sangat
cepat, kelahiran dengan
operasi, dan episiotomi
terutama mediolateral

Luka pada sectio Malposisi dan manipulasi


caesaria(SC) janin

Ruptur uterus Riwayat operasi uterus


sebelumnya

Inversi uterus Paritas tinggi dan plasenta


fundal
Kelainan Gangguan pembekuan Riwayat kelainan
pembekuan darah darah contohnya koagulasi penyakit hati
hemofilia/ von
Willebrand’s disease/
hipofibrinogenemia

Kelainan didapat saat Tekanan darah tinggi dan


kehamilan demam

Idiopatic Kematian janin


trombocytopenia
purpura(ITP)

Preeklamtic toxemia Perdarahan antepartum


(PET) dengan dan kolaps mendadak
trombositopenia

Antikoagulasi Riwayat preeklampsi dan


pemakaian heparin dan
aspirin

faktor predisposisi atonia uteri adalah sebagai berikut:


i. Regangan rahim berlebihan karena kehamilan gemeli, polihidramnion,
atau anak terlalu besar.

ii. Kelelahan karena persalinan lama atau persalinan kasep.

iii. Kehamilan grande-multipara.

iv. Ibu dengan keadaan umum yang jelek, anemis, atau menderita
penyakit menahun.

v. Infeksi intrauterin (korioamnionitis).

vi. Ada riwayat pernah atonia uteri sebelumnya.

b. Patogenesis
Pada dasarnya perdarahan terjadi karena pembuluh darah didalam uterus masih
terbuka. Pelepasan plasenta memutuskan pembuluh darah dalam stratum
spongiosum sehingga sinus-sinus maternalis ditempat insersinya plasenta
terbuka. Pada waktu uterus berkontraksi, pembuluh darah yang terbuka tersebut
akan menutup, kemudian pembuluh darah tersumbat oleh bekuan darah
sehingga perdarahan akan terhenti. Adanya gangguan retraksi dan kontraksi
otot uterus, akan menghambat penutupan pembuluh darah dan menyebabkan
perdarahan yang banyak. Keadaan demikian menjadi faktor utama penyebab
perdarahan pasca persalinan.
c. Patofisiologi

Pada atonia uteri terjadi kegagalan kontraksi dan retraksi dari serat miometrium
dapat menyebabkan perdarahan yang cepat dan parah serta syok hipovolemik.
Kontraksi miometrium yang lemah dapat diakibatkan oleh kelelahan karena
persalinan lama atau persalinan yang terlalu cepat, terutama jika dirangsang.
Selain itu, obat-obatan seperti obat anti-inflamasi nonsteroid, magnesium
sulfat, beta-simpatomimetik, dan nifedipin juga dapat menghambat kontraksi
miometrium. Penyebab lain adalah situs implantasi plasenta di segmen bawah
rahim, korioamnionitis, endomiometritis, septikemia, hipoksia pada solusio
plasenta, dan hipotermia karena resusitasi masif.

d. Klasifikasi
Berdasarkan saat terjadinya perdarahan postpartum dapat dibagi menjadi
perdarahan postpartum primer dan sekunder. Perdarahan postpartum primer
adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama dan biasanya
disebabkan oleh atonia uteri, berbagai robekan jalan lahir dan sisa sebagian
plasenta. Dalam kasus yang jarang, bisa karena inversio uteri. Perdarahan
postpartum sekunder terjadi setelah 24 jam persalinan, biasanya oleh karena
sisa plasenta.

Berdasarkan gejala yang ditimbulkan akibat kehilangan darah, perdarahan


postpartum dibagi menjadi perdarahan postpartum ringan dan berat.
Perdarahan postpartum ringan adalah kehilangan darah >500 mL sedangkan
perdarahan postpartum berat adalah kehilangan darah ≥1.000 mL.

e. Manifestasi klinis
Perdarahan postpartum mengakibatkan kehilangan darah yang cukup
banyak sehingga dapat mepengaruhi keadaan umum pasien. Kehilangan
darah yang tidak terlalu banyak tidak terlalu mempengaruhi keadaan umum
pasien. Pasien dapat terlihat sadar namun sedikit anemis. Kehilangan darah
yang banyak menyebabkan pasien anemis berat bahkan sampai syok berat
hipovolemik.

Volume darah yang Tekanan darah Tanda dan gejala


hilang (perubahan sistolik)
500-1000 Ml Normal Tidak ditemukan
(<15-20%)
1000-1500 Ml 80-100 mmHg Lemah, takikardi (100
(20-25%) kali/menit),
berkeringat
1500-2000 Ml 70-80 mmHg Gelisah, takikardi
(25-30%) (100-200 kali/menit),
oliguria
2000-3000 Ml 50-70 mmHg Takikardi (>120
(35-50%) kali/menit), anuria
DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, S., 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.