Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang

Perkembangan anomali dari sistem duktus Mülleri menggambarkan


beberapa dari kelainan. Duktus Müllerian adalah cikal bakal dari traktus
reproduksi wanita. Duktus Müllerian berdiferensiasi membentuk tuba Fallopii,
uterus, serviks uterus dan aspek superior dari vagina. Banyak bentuk dari
1
malformasi yang dapat terjadi ketika sistem ini terganggu.
Insidensi dan prevalensi dari anomali Müllerian di dunia tidak diketahui
secara pasti. Abnormalitas uterine seringkali tidak diketahui saat kelahiran dan
tidak dilaporkan. Namun selama usia-usia reproduktif, ketika terjadi malfungsi
dari sistem reproduksi, hal ini dilaporkan.2
Insidensi anomali Müllerian sangat bervariasi tergantung pada penelitian.
Beberapa peneliti melaporkan insidensi dari 0,1-3,5%. Pada tahun 2001, Grimbiz
melaporkan bahwa insidensi rata-rata dari malformasi uterine adalah 4.3% dari
keseluruhan populasi dan/atau untuk wanita yang fertile. Angka ini diperoleh dari
ulasan data dari 5 penelitian yang berisi 3000 wanita dengan malformasi uterine.
Pada wanita dengan masalah fertilitas, insidensi anomali duktus Müllerian sedikit
lebih tinggi yaitu 3-6%. Secara umum, wanita dengan aborsi rekuren memiliki
insidensi 5-10%, dengan insidensi defek Müllerian tertinggi terjadi pada pasien
yang mengalami keguguran pada kehamilan trimester ketiga. Anomali duktus
Müllerian yang paling banyak dilaporkan terjadi adalah septate, arcuate,
didelphys, unicornuate, atau hypoplastic uteri. Distribusi yang pasti tergantung
pada penelitian dan lokasi geografi.3

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uterus

2.1.1 Embriologi Uterus

Pada minggu keenam, duktus Mȕlleri (duktus paranefros) yang berasal


dari epitel selom, ditemukan di lateral dan paralel dengan duktus Wolfii (duktus
mesonefros) sebagai pipa solid.4
Pipa solid ini tumbuh dari kranial ke kaudal; sementara itu bagian
kranialnya menunjukkan suatu kanalisasi yang terbuka ke ruang selom. Lubang
ini kelak menjadi ostium tubae abdominale dengan fimbrium-fimbriumnya. Ke
kaudal kedua duktus Mȕlleri kanan dan kiri pada tempat yang kelak menjadi pintu
atas panggul membelok ke medial dan melintasi duktus meonefros (Wolfii) di
sebelah depan. Duktus Mȕlleri sinistra dan dekstra terus tumbuh ke distal dan
menonjol ke sinus urogenitalis. Tonjolan duktus Mȕlleri di sinus urogenitalis di
kenal sebagai tuberkulum Mȕlleri. Ini terjadi pada minggu ke delapan. Fusi
antara kedua duktus Mȕlleri terjadi di bagian kaudal dan berlangsung terus ke
kranial; dari bagian yang berfungsi ini dibentuk uterus dan sebagian dari vagina.
Pada permulaan di dalam saluran yang berfungsi terdapat septum yang vertikal.
Pada akhir bulan ketiga septum ini hilang.4

2
Bagian kranial duktus Mȕlleri kanan dan kiri yang tidak berfusi menjadi
tuba Fallopii dengan fimbrium-fimbrium pada ostium tubae abdominale. Sisa
bagian paling kranial duktus Mȕlleri kadang-kadang tidak ikut membentuk
infundibullum tuba, akan tetapi tampak sebagai hidatida Morgagnii. Jaringan
mesenkim sekitar duktus Mȕlleri membentuk jaringan ikat dan otot tuba Fallopii,
uterus, dan vagina pada bulan kelima.5
Sehubungan dengan bagian atas vagina dan uterus yang berasal dari
sepasang duktus Mȕlleri yang mengadakan fusi dan kemudian timbul kanalisasi,
dapat dibayangkan kelainan-kelainan yang dapat dijumpai bila fusi tidak terjadi
atau kanalisasi tidak lengkap, ditambah pula bila simetri kurang atau tidak ada
dalam pertumbuhan kedua tuba Mȕlleri yang menjadi satu itu.6

2.1.2 Anatomi Uterus

Uterus merupakan organ muskular yang sebagian tertutup oleh


peritoneum, atau serosa. Rongga uterus dilapisi endometrium.
Uterus wanita yang tidak hamil terletak pada rongga panggul antara
kandung kemih di anterior dan rektum di posterior. Hampir seluruh dinding
posterior uterus ditutupi serosa, atau peritoneum, yang bagian bawahnya
membentuk batas anterior kavum rektouterina, atau disebut juga recto-uterine cul-
de-sac atau kavum Douglasi. Bagian bawah disatukan dengan dinding posterior
kandung kemih oleh lapisan jaringan ikat yang berbatas tegas namun biasanya
longgar.4
Uterus pada orang dewasa berbentuk seperti buah advokat atau buah peer
yang sedikit gepeng. Ukuran panjang uterus adalah 7-7,5 cm, lebar ditempat yang
paling lebar 5,25 cm, dan tebal 2,5 cm. Uterus terdiri dari atas korpus uteri (⅔
bagian atas) dan serviks uteri (⅓ bagian bawah).4
Didalam korpus uteri terdapat rongga (kavum uteri) yang membuka ke
luar melalui saluran (kanalis servikalis) yang terletak di serviks. Bagian bawah
serviks yang terletak di vagina dinamakan porsio uteri (pars vaginalis servisis
uteri), sedangkan yang berada di atas vagina disebut pars supravaginalis servisis
uteri. Antara korpus dan serviks masih ada bagian yang disebut isthmus uteri.4
Bagian atas uterus disebut fundus uteri, di situ tuba Fallopii kanan dan kiri
masuk ke uterus. Dinding uterus terdiri terutama atas miometrium, yang
3
merupakan otot polos berlapis tiga, yang sebelah luar longitudinal, yang sebelah
dalam sirkuler, yang antara kedua lapisan ini beranyaman. Miometrium dalam
keseluruhannya dapat berkontraksi dan berelaksasi.5

Anatomi Uterus

Kavum uteri dilapisi oleh selapu lendir yang kaya akan kelenjar, disebut
endometrium. Endometrium terdiri atas epitel kubik, kelenjar-kelenjar, dan
stroma dengan banyak pembuluh-pembuluh darah yang berkeluk-keluk. Di
korpus uteri endometrium licin, akan tetapi di serviks berkelok-kelok; kelenjar-
kelenjar itu bermuara di kanalis servikalis (arbor vitae). Pertumbuhan dan fungsi
endometrium dipengaruhi sekali oleh hormon steroid ovarium.4
Uterus pada wanita dewasa umumnya terletak di sumbu tulang panggul dalam
anteversiofleksio (serviks ke depan atas) dan membentuk sudut dengan vagina,
sedang korpus uteri berarah ke depan dan membentuk sudut 120-130o dengan
serviks uteri. Di Indonesia uterus yang sering ditemukan dalam retrofleksio
(korpu uteri berarah ke belakang) yang pada umumnya tidak memerlukan
pengobatan.4,5
Diluar, uterus dilapisi oleh serosa (peritoneum viserale). Jadi, dari luar ke
dalam ditemukan pada dinding korpus uteri serosa atau peritoneum, miometrium,

4
dan endometrium. Uterus mendapat darah dari arteri uterina, ranting dari arteri
iliaka interna, dan dari arteri ovarika.6

III.1.3 Klasifikasi Anomali Kongenital Mȕllerian

Kelainan kongenital pada saluran reproduksi perempuan biasanya


diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama: agenesis dan hipoplasia, defek fusi
lateral, dan defek fusi vertikal. Kelompok keempat terdiri dari perempuan terkena
dietilstilbestrol (DES) di dalam uterus. Agenesis dan hipoplasia dapat terjadi
dengan atau beberapa struktur mullerian.6
Defek fusi lateral terjadi karena kegagalan migrasi satu saluran Mullerian,
fusi duktus mullerian, atau penyerapan septum intervensi antara saluran.
Ini adalah kategori yang paling umum dari defek mullerian, dan dapat
mengakibatkan asorpsi septum yang menghalangi di antara duktus. Tergantung
pada populasi yang diteliti dan pencitraan yang digunakan, malformasi uterus
yang paling umum adalah arkuata, septate, atau bikornuata uterus. Defek fusi
vertikal hasil dari fusi abnormal saluran mullerian dengan sinus urogenital, atau
masalah dengan kanalisasi vagina. Lesi ini dapat menyebabkan aliran menstruasi
obstruksi.6
Etiologi anomali kongenital saluran reproduksi perempuan kurang
dipahami. Kariotipe normal (46XX) PADA 92% dari wanita dengan anomali
mullerian, dan abnormal pada 7,7% dari wanita-wanita ini. Mayoritas kelainan
perkembangan yang jarang dan sporadis, dikaitkan dengan poligenik dan
penyebab multifaktorial.7
Tidak ada klasifikasi standar yang diterima secara universal untuk anomali
kongenital dari saluran reproduksi wanita. Pada tahun 1988 American Fertility
Society (berganti nama American Society for Reproductive Medicine)
menciptakan sistem klasifikasi yang berfokus pada kategori utama kelainan
kongenital. Data anomali terkait vagina, serviks, tuba falopi, dan sistem kemih. 8

5
Gambar Klasifikasi Defek Duktus Mullarian7

Adalah penting untuk memiliki pengetahuan dasar tentang embriologi


saluran kelamin perempuan untuk memahami kelompok anomali kongenital
uterus. Uterus, saluran tuba, dan atas dua pertiga dari vagina berasal dari saluran
Mullerian dipasangkan, sedangkan sepertiga bagian bawah vagina muncul
terpisah dari sinus urogenital.9

Gambar Anomali Kongenital pada Pemeriksaan Ultrasonografi11

6
Gambar Anomali Kongenital pada Pemeriksaan Ultrasonografi11

Hal ini menjelaskan terjadinya kasus agenesis uterus lengkap dengan


perkembangan vagina eksternal yang normal. Tahap pertama pembangunan
saluran Mullerian dimulai sekitar 6 minggu usia kehamilan ketika saluran Miillerii
dipasangkan invaginate dan kemudian tumbuh secara kaudal dan menyeberang
saluran Wolffian untuk bertemu di garis tengah. Tiga fase berikutnya (fusion,
resorpsi, dan induksi vagina) melanjutkan secara teratur dari 9 sampai minggu
kehamilan ke-22. Pengembangan saluran Mullerian terjadi berhubungan erat
dengan pengembangan dari sistem urin, dan ini menjelaskan asosiasi anomali dari
kedua sistem tersebut. 9
Yang paling sering digunakan sistem klasifikasi MDAs diusulkan oleh
Buttram dan Gibbons; Sistem ini digunakan untuk mengatur anomali ini menjadi
enam kategori.
-
Kelas I anomali terkait dengan hipoplasia atau agenesis sebagian atau
seluruh dari tabung, uterus, leher uterus, atau vagina (sindrom Mayer-
Rokitansky-Kȕster- Hauser).

7
-
Kelas II anomali terdiri agenesis sebagian atau lengkap unilateral (uterus
unicornuate) sekitar 15% dari MDAs. Ada empat subtipe unicornuate
uterus: uterus unicornuate sederhana (35%), uterus unicornuate dengan
tanduk noncavitary dasar (33%), uterus unicornuate dengan
noncommunicating tanduk kavitas (22%), dan uterus unicornuate dengan
berhubungan tanduk kavitas (10%). Penampilan MR adalah bahwa dari
rongga uterus berbentuk pisang, dengan atau tanpa tanduk dasar.

-
Pada pasien dengan uterus didelphys (kelas III anomali), dua tanduk uterus
yang terpisah, yang sangat beragam dan adanya dua serviks. Sebuah
septum vertikal memperluas ke vagina bagian atas dapat diidentifikasi
dengan MRI sampai dengan 75% dari pasien. Dalam sejumlah kecil
pasien, septum transversal vagina menghalangi salah satu kanal uterus,
sehingga mengarah ke hematometrocolpos.

Uterus didelphys

8
-
Bicornuate uterus (kelas IV anomali) akibat kegagalan parsial fusi duktus
Mullerian fusi dan ditandai dengan kontur fundus eksternal cekung dengan
fundus dibelah lebih besar dari 1 cm memisahkan dua tanduk uterus di atas
leher uterus tunggal dan peningkatan jarak intercornual (lebih dari 4 cm).
Kadang-kadang, terdapat dua serviks.

9
-
Outcome septate uterus (kelas V anomali) dari resorpsi gagal septum garis
tengah setelah biasfusi duktus Mullerian. Fitur kunci yang memungkinkan
perbedaan anomali ini dari uterus bikornuata adalah adanya cekung normal
atau minimal (<1 cm) kontur uterus eksternal; MRI adalah alat non-invasif
terbaik untuk penilaian gambaran ini.

Septate Uterus

-
Kelas VI anomali anomali terpisah yang disebabkan paparan uterus
terhadap dietilstilbestrol. Kelainan uterus klasik dan paling umum adalah
uterus berbentuk T. 10

Hubungan khusus antara didelphys uterus, hemivagina obstruksi, dan


agenesis ginjal ipsilateral telah diakui. Pada tahun 1998, lebih dari 180 kasus telah
dilaporkan dalam literatur. Presentasi klinis biasa sindrom ini adalah sakit perut
yang dimulai tepat setelah menarche dan disebabkan oleh hematocolpos.
Asosiasi agenesis ginjal dan MDA berasal dari pengembangan embryologic dekat
sistem kemih dan genital.10

10
2.1.4 Septum Uteri

Septum uteri adalah kelainan uterus yang sebagian atau seluruh


dindingnya terbelah seolah-olah mempunyai sekat menjadi dua bagian. Padahal
bagian luar terlihat normal.(4) Kelainan bentuk rahim yang menyebabkan bagian
dalam rahim wanita terbagi menjadi dua jalur oleh. Septum dapat membagi rahim
hanya sebagian atau seluruhnya. Jaringan tersebut juga dapat menebal dan
menipis. Kelainan ini dapat didiagnosis dengan pemeriksaan dalam, tetapi
terkadang tidak diketahui sampai wanita tersebut mengalami gangguan kehamilan
seperti sulit hamil atau sering keguguran berulang.4

Etiologi

Septum uteri merupakan kelainan yang berkembang saat janin tumbuh di


dalam Rahim. Penyebabnya sendiri belum diketahui dengan pasti.4

Gejala Klinik

Septum Uteri tidak menyebabkan gejala apa pun. Namun biasanya pada
masa pubertas dapat menyebabkan nyeri haid yang tak tertahankan. Dalam
beberapa kasus, dapat menyebabkan komplikasi selama kehamilan dan atau
persalinan termasuk persalinan prematur, keguguran dan persalinan sungsang.4,5

Diagnosis

Diagnosis akurat harus diberikan, karena strategi terapi dan hasil


reproduksinya pun berbeda. Septum Uteri dapat dilakukan koreksi pembedahan
dan berhubungan dengan kegagalan reproduksi.

Evaluasi dari septum uteri harus dimulai dengan ultrasonography selama


fase luteal dari siklus menstruasi, ketika komplek echo endometrium lebih baik
diidentifikasi.
Evaluasi yang lebih jauh dengan MRI. Penemuan MRI pada septum uteri
diungkapkan sebagai septum persisten longitudinal yang secara parsial membagi
cavum uteis dengan sudut interkornual ≤ 75o. Area abu-abu ketika sudut

11
interkornial adalah >75o tetapi <105o. Pada kondisi ini, dibutuhkan modaliti
diagnostik lain, seperti laparoskopi.
Pemeriksaan laparoskopi pada kontur fundal didapakat pada septum uteri
memiliki fundus uteri yang normal.6

Teknik Pembedahan untuk Septum Uteri

Septum uteri dapat diobati dengan operasi yang disebut metroplasty.


Prosedur ini sekarang dilakukan dengan histeroskopi. Prosedur histeroskopi
memungkinkan perawatan dilakukan di dalam rahim tanpa perlu sayatan perut
bagian luar.

Selama metroplasti histeroskopi, instrumen yang terang dimasukkan ke


dalam vagina, melalui serviks dan ke dalam rahim. Instrumen lain juga
dimasukkan untuk memotong dan mengangkat septum. Teknik ini invasif
minimal, dan biasanya memakan waktu sekitar satu jam. Wanita yang memilih
untuk menjalani metroplasti histeroskopi biasanya kembali ke rumah pada hari
yang sama dengan prosedur.

Setelah operasi, antara lima puluh hingga delapan puluh persen wanita
dengan riwayat keguguran berulang akan mengalami kehamilan yang sehat di
masa depan. Pada wanita yang sebelumnya tidak bisa hamil, hingga dua puluh
persen mungkin bisa hamil setelah prosedur ini6

Manajemen Postoperatif

Antibiotik profilaksis secara kontinu diberikan postoperatif.


Direkomendasikan untuk tinggal di rumah sakit seloama 2-3 hari. Pasien harus
menggunakan kontrasepsi barier selama 3 bulan, setelah konsepsi maka dapat
diambil.6

Komplikasi

Komplikasi terdiri dari hal yang biasa ditemukan pada pembedahan


ginekologi lain, seperti perdarahan, infeksi, perlukaan pada kandung kemih.8

12
Prognosis
Banyak wanita menjalani metroplasti dapat berharap untuk hamil dan
melahirkan bayi yang baik. Metroplasti transabdominal dapat meningkatkan
kemampuan reproduksi wanita dengan uterus bikorrnus yang mengalami aborsi
spontan rekuren dan persalinan premature sebelum dilakukannya pembedahan.
Strassmann melaporkan bahwa, 263 kehamilan pada wanita yang menjalani
metroplasti, 86% melahirkan bayi yang viable. Yang terpenting bahwa,
kebanyakan lahir dengan persalinan pervaginam, tanpa dilaporkan adanya ruptur
uteri selama kehamilan atau persalinan. Meskipun dengan adanya penemuan ini,
beberapa ahli merekomendasikan persalinan secara caesaren. Tatalaksana operatif
dengan cara pembedahan metroplasti dapat membantu memperbaiki kualitas
hidup dan kemampuan reproduksi.8

13
BAB III

LAPORAN KASUS

A. Identitas
Nama : Ny. M
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 23 tahun
Alamat : Jl. Dupah Indah
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Kristen
Status Perkawinan : Menikah 1 kali
Tanggal masuk RS : 18 November 2018

B. Anamnesis
Keluhan utama :
Nyeri perut tembus belakang
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien G1P0A0 gravid aterm datang ke IGD Kebidanan RS Wirabuana Palu
dengan keluhan nyeri perut tembus belakang sejak tadi pagi. Perdarahan
pervagina(-), mual (-), muntah(-), pusing (+), BAB (-), BAK (+).

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat operasi (-), Hipertensi (-), diabetes(-), penyakit jantung (-), alergi (-),
keputihan (-).

Riwayat obstetric :
Pasien dengan status G1P0A0.

Riwayat kontrasepsi :
a. Pil KB (-)
b. IUD (-)
c. Suntik KB (-)

14
Riwayat kehamilan sekarang :
Total periksa selama kehamilan 3 kali. Pemeriksaan 3 kali dengan bidan dan
dokter spesialis kandungan. Hari pertama haid terakhir (HPHT) tanggal 15
Februari 2018 dan taksiran persalinan tanggal 22 November 2018. Usia
kehamilan 39 minggu.

Riwayat Haid:
1. Haid pertama kali pada usia 13 tahun
2. Menstruasi teratur
3. Lama menstruasi 5-7 hari
4. Haid terakhir tanggal 15 Februari 2018
5. Jumlah darah haid 3 kali mengganti pembalut setiap hari

Riwayat perkawinan :
Menikah 1x

Riwayat Penyakit Keluarga :


Menurut pasien di keluarga pasien tidak ada memiliki keluhan seperti pasien.
Riwayat penyakit jantung, hipertensi, DM, asma disangkal.

Riwayat Alergi :
Pasien mengatakan tidak memiliki alergi terhadap obat-obatan dan makanan.

PEMERIKSAAN FISIK
KU : Sakit Sedang Tek. Darah :120/70 mmHg
Kesadaran: composmentis Nadi : 80 x/menit
BB : 60 Kg Respirasi : 22 x/menit
TB : 155 cm Suhu : 36,5 ºC
 Kepala – Leher :
Bentuk normal, Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), edema palpebra
(-/-), pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-) Mulut sianosis (-)

 Thorax :
I : Pergerakan thoraks simetris bilateral kanan dan kiri
P : Nyeri tekan (-), massa tumor (-),
P : Sonor pada kedua lapang paru, pekak pada area jantung, batas jantung
kiri pada ICS 5 linea axillaris anterior.
A : Bunyi pernapasan vesikular +/+, rhonki -/- basal paru, wheezing -/-.
Bunyi jantung I/II regular, murmur (-), gallop (-)
 Abdomen :
15
I : Kesan cembung
A : Peristaltik (+) kesan normal
P : Timpani (+), shifting dullness (-)
P : Nyeri tekan epigastium (+)
PEMERIKSAAN OBSTETRI
Pemeriksaan luar
Inspeksi : pembesaran abdomen (+)
Palpasi : nyeri tekan (+) pada bagian perut bawah
Leopold I : Teraba bagian kepala (keras dan melenting) dari janin pada
bagian fundus uteri.
Leopold II: Teraba bagian punggung (keras dan memanjang) pada sisi kiri
Leopold III: Teraba bagian bokong (lunak) pada sisi bawah
Leopold IV: Bagian terbawah janin belum masuk pintu atas panggul.
DJJ : 140x/menit
HIS :-
Pemeriksaan Dalam (VT) : Tidak Dilakukan

 Ekstremitas :
Akral hangat +/+, edema -/-, deformitas -/-

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium :
Leukosit : 10 x103/μL
Eritrosit : 4,26 x106/μL
Hemoglobin : 11 g/dL
Platelet : 294 x103/μL
Hematokrit : 31,8 %
CT : 8 menit
BT : 3 menit
HbsAg : Non reaktif
Anti-HIV : Non reaktif

RESUME
Pasien G1P0A0 gravid aterm datang ke IGD Kebidanan RS Wirabuana Palu
dengan keluhan nyeri perut tembus belakang sejak tadi pagi. perdarahan
pervagina(-), mual (-), muntah(-), pusing (-). Hari pertama haid terakhir
(HPHT) tanggal 15 Februari 2018 dan taksiran persalinan tanggal 22
November 2018, usia kehamilan 39 minggu. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan TD 120/70 mHg, Nadi 80x/m, Respirasi 20x/m, Suhu 36,5 C.
Pada pemeriksaan leopold, Leopold I: Teraba bagian kepala (keras dan

16
melenting) dari janin pada bagian fundusuteri. Leopold II: Teraba bagian
punggung (keras dan memanjang) pada sisi kiri abdomen. Leopold III: Teraba
bagian bokong (lunak) pada sisi bawah abdomen. Leopold IV: Bagian
terbawah janin belum masuk pintu atas panggul. DJJ : 140x/menit, HIS :
belum ada. Atas indikasi letak janin sungsang, kemudian dilakukan operasi
sectio cesarea, pada saat operasi berlangsung ditemukan kelainan pada uterus
pasien yaitu dinding uterus terbelah seolah-olah mempunyai sekat menjadi
dua bagian.

C. Diagnosis
P1A0 gravid aterm post sectio cesarea atas indikasi letak janin sungsang ec
septum uteri.

D. Tatalaksana
- Bed rest
- Resusitasi cairan dengan Infus NaCl 0,9%
- Dilakukan tindakan seksio sesarea
Laporan seksio sesarea klasik:
 Pasien dibaringkan di meja operasi. Dilakukan tindakan antiseptik
pada daerah operasi dan sekitarnya dengan alkohol dan betadine.
Kemudian ditutup duk steril.
 Dilakukan insisi pada pfanentil 1 cm di atas simfisis sampai 2 jari
dibawah pusat.
 Fascia diperlebar ke arah kranial dan kaudal secara tumpul.
 Otot dipisahkan secara tumpul ke kanan dan kiri, kemudian
peritoneum parietal dibuka.
 Plika vesikouterina dipisahkan dan diinsisi berbentuk semilunar
dan disisihkan ke kaudal.
 Segmen bawah rahim diinsisi berbentuk semilunar kemudian
diperlebar dan diperdalam secara tumpul.
 Bayi dilahirkan dengan cara meliksir kepala bayi.

17
 Plasenta dilahirkan praabdominal lengkap. Dilakukan prosedur
sterilisasi.
 Segmen bawah rahim dijahit jelujur terkunci dengan polisob no. 1
 Kontrol perdarahan negatif.
 Plika vesikouterina dijahit jelujur terkunci dengan plain 2.0.
 Otot dijahit satu-satu dengan plain 2.0.
 Fascia dijahit jelujur dengan benang polisob no. 1.
 Subkutis dijahit subkutikuler dengan benang plain 1.0.
 Kutis dijahit dengan benang silk black no. 1.
 Operasi selesai dikerjakan.
 Perdarahan terkontrol sekitar 750 cc.
 Keadaan ibu tidak stabil setelah operasi sehingga di rawat di ICU.
- Terapi post operasi
 Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
 Transfusi darah hingga Hb ≥ 10 mg/dl
 Infus RL + drip syntocynon 10 IU 20 tpm
 Methergin 1 ampul intravena
 Ketorolac 30 mg setiap 12 jam drip
 Ceftriaxon 1 gram setiap 12 jam intravena

E. Prognosis
- Ibu : dubia ad bonam
- Bayi : dubia ad bonam

18
F. Dokumentasi

Sekat

19
A. Follow up
19 November 2018
S : nyeri luka operasi (+), perdarahan luka bekas operasi (-), pusing
(+), mual/muntah (-)
O :
keadaan umum : tampak sakit berat
kesadaran : compos mentis
tekanan darah : 110/80 mmHg
nadi : 92x/menit
napas : 22x/menit
suhu : 36,50C
abdomen : TFU tepat setinggi umbilikus,
kontraksi uterus baik
A : P1A0 gravid aterm post SC a/i letak janin sungsang ec septum
uteri
P : - observasi keadaan umum
- observasi tanda vital
- observasi perdarahan
- oksigen 3 liter/menit
- transfusi darah
- infus RL
- injeksi ketorolac
- injeksi kalnex
- injeksi metronidazole
- injeksi Ranitidine
20 November 2018
S : nyeri luka operasi (+), perdarahan luka bekas operasi (-), pusing
(+), mual/muntah (-)
O :
keadaan umum : tampak sakit berat
kesadaran : compos mentis
tekanan darah : 120/70 mmHg

20
nadi : 80x/menit
napas : 20x/menit
suhu : 36,50C
abdomen : TFU tepat setinggi umbilikus,
kontraksi uterus baik
A : P1A0 gravid aterm post SC H-1 a/i letak janin sungsang ec
septum uteri
P : - observasi keadaan umum
- observasi tanda vital
- observasi perdarahan
- infus RL
21 November 2018
S : nyeri luka operasi (+), perdarahan luka bekas operasi (-), pusing
(-), mual/muntah (-)
O :
keadaan umum : tampak sakit berat
kesadaran : compos mentis
tekanan darah : 110/80 mmHg
nadi : 76x/menit
napas : 20x/menit
suhu : 36,30C
abdomen : TFU tepat setinggi umbilikus,
kontraksi uterus baik
A : P1A0 gravid aterm post SC H-2 a/i letak janin sungsang ec
septum uteri
P : - observasi keadaan umum
- observasi tanda vital
- observasi perdarahan
- aff infus
- aff kateter
- obat oral : Cefixime,zmeloxicam,Metronidazole,Sangobiad
22 November 2018
S : nyeri luka operasi (+), perdarahan luka bekas operasi (-), pusing
(-), mual/muntah (-)
O :
keadaan umum : tampak sakit berat
kesadaran : compos mentis
tekanan darah : 110/70 mmHg

21
nadi : 86x/menit
napas : 20x/menit
suhu : 36,30C
abdomen : soepel, TFU tepat setinggi umbilikus,
kontraksi uterus baik
A : P1A0 gravid aterm post SC H-3 a/i letak janin sungsang ec
septum uteri
P : - observasi keadaan umum
- observasi tanda vital
- observasi perdarahan
- aff infus
- aff kateter
- obat oral : Cefixime,zmeloxicam,Metronidazole,Sangobiad
- Ganti Perban

22
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada kasus ini, jika dilihat dari definisi merupakan kehamilan dengan letak
sungsang, dimana keadaan janin terletak memanjang dengan kepala difundus
uteri dan bokong dibagian bawah kavum uteri. Letak sungsang ditemukan
pada 2 - 4 % kehamilan.2,3 Beberapa literatur lainnya menyebutkan angka 3 – 5 %.
Insiden terbanyak terdapat pada usia kehamilan 28 minggu kira – kira 25 % posisi
bayi dalam keadaan letak sungsang,dan seiring dengan bertambahnya usia
kehamilan, insidens semakin berkurang.2 Di Indonesia angka kejadian letak
sungsang dapat mencapai 4 %.2

Setelah dilakukan seksio sesaria didapatkan bayi lahir dengan jenis


kelamin laki-laki, berat bayi lahir: 3800 kg, panjang: 51 cm, lingkar kepala: 36
cm, skor apgar : 6-8,ditemukan kelainan pada uterus ibu yaitu berupa adanya
sekat pada yang membelah uterus yang disebut septum uteri.
Dari penemuan septum uteri , maka kemungkinan yang menjadi faktor
penyebab terjadinya letak sungsang pada kasus ini adalah septum uteri. Bentuk
kelaian uterus ini menyulitkan bayi berputar ke posisi normal,karena adanya
kelainan ini mengurangi luas ruangan didaerah fundus sehingga kepala
berada diruang yang lebih kecil dan bokong dipaksa untuk menempati ruang yang
lebih luas yaitu di segmen bawah rahim.3
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap
ruangan di dalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah
air ketuban relatif lebih banyak sehingga memungkinkan janin bergerak dengan
leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala,
letak sungsang atau letak lintang. Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh
dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif berkurang. Karena bokong dengan
kedua tungkai yang terlipat lebih besar daripada kepala, maka bokong dipaksa
untuk menempati ruangan yang lebih luas di daerah fundus uteri sedangkan kepala
berada dalam ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Tetapi dengan
adanya gangguan hubungan akomodasi janin dengan akomodasi uterus akibat
faktor – faktor tersebut di atas, maka terjadilah kehamilan letak sungsang.2,3,4
23
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG, Macdonald PC, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC.
Obstetrical Haemorrhage. Wiliam Obstetrics 21th edition. Prentice Hall
International Inc Appleton. Lange USA. 2014; 819-41.
2. WHO. Managing Complications in Pregnancy and Childbirth. Geneva:
WHO. 2013; 518-20.
3. Gurewitsch GD, Diament P, Fong J, Huang G, Popovtzer A, Weinstein,
Chervenak FA. The Labor Curve Of The Grand Multipara: Does Progress
Of Labor Continue To Improve With Additional Childbearing?. Am J
Obstet Gynecol. 2012; 186: 1331-8.
4. Jeremy Oats and Suzanne Abraham. 2005. Llewellyn-Jones Fundamentals
of Obstetrics and Gynaecology 8th Edition. Elsevier Mosby, Edinburgh:
168-171

5. Supono. Pimpinan persalinan letak sungsang. Dalam: Ilmu kebidanan


bagian patologi. Bagian Obstetri dan Ginekologi/Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya/Rumah Sakit Umum Pusat dr. Mohammad Hoesin,
Palembang, 1983;15-33.
6. Winkjosastro, Hanifa, dkk. 2006. Bikornus uteri, dalam Ilmu kebidanan,
edisi keenam. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,
606-622
7. Winkjosastro, Hanifa, dkk. 2000. Ilmu Bedah Kebidanan , cetakan kelima.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 103-132.
8. Wiknjosastro H. 2002. Patologi Persalinan dan Penanganannya dalam
Ilmu Kebidanan, edisi ke-3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka: 607-622.
9. Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL. Malpresentation. In: Obstetrics normal
and problem pregnancies. 3rd ed. New York: Churchill Livingstone.
Ltd. 2000:478-90.
10. Giuliani A, Scholl WMJ, Basver A, Tamussino KF. Mode of delivery and
outcome of 699 term singleton breeech deliveries at a single center. Am J
Obstet Gynecol 2002;187:1694-8.

24
25