Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

“TEKNIK PENYALURAN AIR BUANGAN”

Disusun Oleh Kelompok :

1. Febrina Risanti (1510941005)


2. Oca Santya Putri (1510941036)

Dosen Pengampu:
Ansiha Nur,MT

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ANDALAS
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap aktivitas yang dilakukan manusia akan menghasilkan limbah, limbah ini dalam skala
kecil tidak akan menimbulkan masalah karena alam memiliki kemampuan untuk menguraikan
kembali komponen-komponen yang terkandung dalam limbah. Namun bila terakumulasi
dalam skala besar, akan timbul permasalahan yang dapat menggangu keseimbangan
lingkungan hidup.
Permasalahan lingkungan saat ini yang dominan adalah limbah cair yang berasal dari hasil
kegiatan rumah tangga dan industri. Limbah cair yang tidak dikelola akan menimbulkan
dampak pada perairan. Pengelolaan limbah cair dalam proses produksi dimaksudkan untuk
meminimalkan limbah yang terjadi, serta untuk menghilangkan atau menurunkan kadar bahan
pencemar yang terkandung di dalam perairan.
1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana proses pengelolaan air buangan yang baik dan benar ?


1.3 Tujuan
Untuk mengetahui proses penyaluran air buangan sesuai dengan ketentuan yang ada.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Umum
Meningkatnya arus pembangunan di kota-kota besar memberikan dampak yang cukup besar pada
pertumbuhan penduduk. Peningkatan jumlah penduduk tersebut selalu berbanding lurus dengan
pertumbuhan di berbagai sektor penunjang kehidupan lainnya seperti sektor pemukiman dan
perumahan yang tumbuh semakin cepat. Perkembangan sektor perumahan dan pemukiman
tersebut menuntut adanya pembangunan infrastruktur dasar pelayanan publik yang lebih baik. Hal
ini disebabkan oleh kurangnya pelayanan prasarana lingkungan seperti infrastruktur air bersih dan
sistem sanitasi, penyediaan rumah dan transportasi yang baik untuk memenuhi kebutuhan
pertumbuhan kota dapat menjadi penyebab utama timbulnya berbagai masalah di kota-kota pada
Negara berkembang. Kurang memadainya sarana dan prasarana kebersihan di suatu wilayah
pemukiman akan sangat berdampak besar pada kualitas lingkungan dan kesehatan di wilayah
tersebut. Hal ini disebabkan keberadaan prasarana lingkungan merupakan kebutuhan yang paling
penting yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap kesehatan dan
kesejahteraan manusia. Artinya prasarana dasar dalam satu unit lingkungan adalah syarat bagi
terciptanya kenyamanan hunian Tingkat kenyamaman seseorang dalam bertempat tinggal ditandai
dengan terpenuhinya kebutuhan, termasuk juga prasarana lingkungan, karena prasarana
lingkungan merupakan kelengkapan fisik dasar suatu lingkungan perumahan diantaranya
tersedianya sarana dan prasarana sanitasi lingkungan. Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan
suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan
sebaginya.
2.2 Sistem Pegelolaan Air Buangan

2.2.1 Sistem Pengelolaan Air Buangan On Site

Sistem sanitasi setempat (Onsite sanitation) adalah sistem pembuangan air limbah dimana air
limbah tidak dikumpulkan serta disalurkan ke dalam suatu jaringan saluran yang akan
membawanya ke suatu tempat pengolahan air buangan atau badan air penerima, melainkan
dibuang di tempat. Contohnya adalah jamban cubluk dan tangki septik. Sistem ini dipakai jika
syarat-syarat teknis lokasi dapat dipenuhi dan menggunakan biaya relatif rendah. Sistem ini sudah
umum karena telah banyak dipergunakan di Indonesia.
Sistem pembuangan air buangan dimana air buangan tidak dikumpulkan dan tidak disalurkan ke
dalam suatau jaringan saluran yang akan membawanya ke suatu tempat pengolahan ataupun
ataupun badan air melainkan dibuang ke tempat.sistem in dapat dipakai bila syarat-syarat teknis
lokasi dapat dipenuhi dan biaya relatif rendah.

1. Onsite Individual

Kelebihan sistem ini adalah biaya pembuatan relatif murah, bisa dibuat oleh setiap sektor ataupun
pribadi, teknologi dan sistem pembuangannya cukup sederhana serta operasi dan pemeliharaan
merupakan tanggung jawab pribadi. Disamping itu, kekurangan sistem ini adalah umumnya tidak
disediakan untuk limbah dari dapur, mandi dan cuci serta mencemari air tanah bila syarat-syarat
teknis pembuatan dan pemeliharaan tidak dilakukan sesuai aturannya.

a. Cubluk (pit privy) Cubluk merupakan sistem pembuangan tinja yang paling sederhana. Terdiri
atas lubang yang digali secara manual dengan dilengkapi dinding rembes air yang dibuat dari
pasangan batu bata berongga, anyaman bambu dan lain-lain. Cubluk biasanya berbentuk bulat
atau kotak, dengan potongan melintang sekitar 0,5-1,0 m2, dengan kedalaman 1-3 m. Hanya
sedikit air yang digunakan untuk menggelontorkan tinja ke dalam cubluk. Cubluk ini biasanya
di desain untuk waktu 5-10 tahun.

Beberapa jenis cubluk antara lain:


a. Cubluk tunggal
Cubluk tunggal dapat digunakan untuk daerah yang memiliki tinggi muka air tanah > 1 m dari
dasar cubluk. Cocok untuk daerah dengan kepadatan < 200 jiwa/ha. Pemakaian cubluk tunggal
dihentikan setelah terisi 75%.
b. Cubluk kembar
Cubluk kembar dapat digunakan untuk daerah dengan kepadatan penduduk < 50 jiwa/ha dan
memiliki tinggi muka air tanah > 2 m dari dasar cubluk. Pemakaian lubang cubluk pertama
dihentikan setelah terisi 75% dan selanjutnya lubang cubluk kedua dapat disatukan. Jika lubang
cubluk kedua terisi 75%, maka lumpur tinja yang ada di lubang pertama dapat dikosongkan
secara manual dan dapat digunakan untuk pupuk tanaman.Setelah itu lubang cubluk dapat
difungsikan kembali.
Gambar 2.1 Cubluk kembar
Sumber: Zevri, 2010

Dalam mendesain cubluk kembar, ada beberapaketentuan yang harus diperhatikan:


 Luas permukaan atas cubluk = 1 m2;
 Cubluk bagian atas diberi lapisan penguat (bata atau beton) untuk mencegah longsor;
 Bahan pelat jongkok yang digunakan adalah bata dan beton;
 Terdapat bangunan pelindung yang terbuat dari bata, beton, kayu dan ditambahkan dengan
atap.

b. Tangki septik

Tangki septik merupakan suatu ruangan yang terdiri atas beberapa kompartemen yang berfungsi
sebagai bangunan pengendap untuk menampung kotoran padat agar mengalami pengolahan
biologis oleh bakteri anaerob dalam jangka waktu tertentu. Proses yang didapatkan supaya baik,
sebuah tangki septik haruslah hampir terisi penuh dengan cairan, oleh karena itu tangki septik
haruslah kedap air. Prinsip operasional tangki septik adalah pemisahan partikel dan cairan partikel
yang mengendap (lumpur) dan juga partikel yang mengapung (scum) disisihkan dan diolah dengan
proses dekomposisi anaerobik. Pada umumnya bangunan tangki septik dilengkapi dengan sarana
pengolahan effluent berupa bidang resapan (sumur resapan). Tangki septik dengan peresapan
merupakan jenis fasilitas pengolahan air limbah rumah tangga yang paling banyak digunakan di
Indonesia. Pada umumnya diterapkan di daerah pemukiman yang berpenghasilan menengah ke
atas,perkotaan, serta pelayanan umum. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan
tangki septik:
a. Kecepatan daya serap tanah > 0.0146 cm/menit;
b. Cocok diterapkan di daerah yang memiliki kepadatan penduduk < 500 jiwa/ha;
c. Dapat dijangkau oleh truk penyedot tinja;
d. Tersedia lahan untuk bidang resapan.
Gambar 2.2 Tangki septik
Sumber: Zevri, 2010

Berdasarkan SNI: 03-2398-2002, persyaratan teknis dalam perencanaan tangki septik meliputi:
a. Bahan bangunan harus kuat, tahan terhadap asam dan kedap air;
b. Penutup dan pipa penyalur air limbah adalah batu kali, bata merah, batako, beton bertulang,
beton tanpa tulang, PVC, keramik,plat besi, plastik dan besi;
c. Bentuk dan ukuran tangki septik disesuaikan dengan Q jumlah pemakai, dan waktu pengurasan.
Untuk ukuran kecil (1 kk) dapat berbentuk bulat Q 1,20 m dan tinggi 1,5 m;
d. Ukuran tangki septik sistem tercampur dengan periode pengurasan 3 tahun (untuk 1 KK, ruang
basah 1,2 m3, ruang lumpur 0,45 m3, ruang ambang bebas 0,4 m3 dengan panjang 1,6 m, lebar
0,8 m dan tinggi 1,6 m);
e. Ukuran tangki septik sistem terpisah dengan periode pengurasan 3 tahun (untuk 2 KK, ruang
basah 0,4 m3, ruang lumpur 0,9 m3, ruang ambang bebas 0,3 m3 dengan panjang 1,6 m, lebar
0,8 m dan tinggi 1,3 m);
f. Pipa penyalur air limbah dari PVC, keramik atau beton yang berada diluar bangunan harus
kedap air, kemiringan minimum 2 %, belokan lebih besar 45 % dipasang clean out atau
pengontrol pipa dan belokan 90 % sebaiknya dihindari atau dengan dua kali belokan atau
memakai bak kontrol;
g. Dilengkapi dengan pipa aliran masuk dan keluar, pipa aliran masuk dan keluar dapat berupa
sambungan T atau sekat, pipa aliran keluar harus ditekan (5 - 10 )cm lebih rendah dari pipa
aliran masuk;
h. Pipa udara diameter 50 mm (2") dan tinggi minimal 25 cm dari permukaan tanah;
i. Lubang pemeriksa untuk keperluan pengurasan dan keperluan lainnya;
j. Tangki dapat dibuat dengan dua ruang dengan panjang tangki ruang pertama 2/3 bagian dan
ruang kedua 1/3 bagian;
k. Jarak tangki septik dan bidang resapan ke bangunan = 1,5 m, ke sumur air bersih = 10 m dan
sumur resapan air hujan 5 m;
l. Tangki dengan bidang resapan lebih dari 1 jalur, perlu dilengkapi dengan kotak distribusi.

c. Beerput

Sistem ini merupakan gabungan antara bak septik dan peresapan. Oleh karena itu bentuknya
hampir seperti sumur resapan. Untuk penerapan sistem beerput, terdapat beberapa persyaratan
yang harus dipenuhi, yaitu tinggi air dalam saluran beerput pada musim kemarau tidak kurang dari
1,3 m dari dasar, jarak dengan sumur minimal 8 m, volume diameternya tidak boleh < 1m dan
apabila dibuat segi empat maka sisi-sisinya harus lebih besar dari 0,9 m

Gambar 2.3 Beerput


Sumber: Zevri, 2010

2. Onsite Komunal
Teknologi Pengolahan air limbah domestik komunal merupakan sistem pengolahan air limbah
yang digunakan tidak hanya untuk satu rumah tangga tetapi juga digunakan secara bersama.
Pengolahan air limbah domestik komunal digunakan berdasarkan beberapa pertimbangan
diantaranya adalah hasil dari pemetaan masyarakat yang dapat menggambarkan bagaimana
kondisi sumber air dan akses terhadap sarana sanitasi yang tersedia. Pemetaan masyarakat ini juga
dapat memberikan gambaran bagaimana klasifikasi kesejahteraan masyarakat terkait dengan calon
pengguna sarana sanitasi yang akan direncanakan. Pertimbangan lainnya dalam pemilihan
teknologi sanitasi yang akan digunakan seperti kondisi atau karakter permukiman, kebiasaan/
perilaku, kelayakan teknis di lapangan, prediksi perkembangan lingkungan permukiman dan
prediksi peningkatan sosial ekonomi masyarakat untuk 5 ( lima) tahun ke depan serta jumlah calon
penerima manfaat. Pilihan teknologi yang dapat digunakan untuk sistem on-siteI komunal
diantaranya adalah tanki septik bersama, bio-digester, baffle-reactor/ tanki septik bersusun, tanki
septik bersusun dengan filter, kolam dengan filter dan tanaman, dan juga kolam aerobik.

2.2.2 Sistem Pengelolaan Air Buangan Off Site

Merupakan sistem yang pembuangan air rumah tangga (mandi,cuci,dapur,dan limbah kotoran)
disalurkan keluar dari lokasi pekarangan masing-masing rumah ke saluran pengumpul air buangan
dan selanjutnya disalurkan secara terpusat ke bangunan pengolahan air buangan sebelum dibuang
ke badan air penerima. Sistem penyaluran air buangan ini dapat dilakukan secara
terpisah,tercampur,maupun kombinasi antara saluran air buangan dengan saluran air hujan.
Tempat pembuangan dapat berupa lahan terbuka sebagai tempat peresapan (misal di padang pasir)
atau badan-badan aliran air sebagai Badan Air Penerima (BAP). Di Indonesia umumnya sungai
sebagai badan-badan aliran air (Badan Air Mengalir (BAM) yang sebagai BAP, kecuali di daerah
perkotaan pantai. Badan Air Laut (BAL) adalah sebagai BAP (Departemen Pekerjaan Umum).

1. Sistem Terpisah Dan Tercampur

Sistem terpisah dikenal dengan fuul sewerage, dimana air buangan domestik dan air hujan
dialirkan secara terpisah melalui saluran yang berbeda.

2. Small Bor Sewer

Saluran pada sistem riol ukuran kecil ini dirancang hanya untuk menerima bagian-bagian cair dari
air buangan kamar mandi, cuci, dapur dan limpahan air tangki septik , sehingga salurannya harus
bebas zat padat. Saluran tidak dirancang untuk self cleansing, dari segi ekonomis sistem ini lebiha
murah dibandingkan sistem konvensional. Daerah pelayan relative lebih kecil, pipa yang dipasang
hanya pipa persil dan servis yang menuju lokasi pembuangan akhir, pipa lateral dan pipa induk
tidak diperlukan, kecuali untuk beberapa daerah perencanaan dengan kepadatan penduduk sangat
tinggi dan timbulan air buangan yang besar. Sistem ini dilengkapi dengan instalasi pengolahan
sederhana.

3. Shallow sewerage
Sistem ini disebut juga Simplified sewerage atau Condominial Sewerage. Perbedaannya dengan
sistem konvensional adalah sistem ini mengangkut air buangan dalam skala kecil dan pipa
dipasang dengan slope lebih landai (Maryam Dewiandratika, Sistem Penyaluran air limbah 2002).
Perletakan saluran ini biasanya diterapkan pada blok-blok rumah. Shallow sewer sangat
tergantung pada pembilasan air buangan untuk mengangkut buangan padat jika dibandingkan
dengan cara konvensional yang mengandalkan self clensing. Sistem ini cocok diterapkan sebagai
sewerage di daerah perkampungan dengan kepadatan tinggi, tidak di lewati oleh kendaraan berat
dan memiliki kemiringan tanah sebesar 1% Shallow sewer harus dipertimbangkan untuk daerah
perkampungan dengan kepadatan penduduk tinggi dimana sebagian besar penduduk sudah
memiliki sambungan air bersih dan kamar mandi pribadi tanpa pembuangan setempat yang
memadai. Sistem ini melayani air buangan dari kamar mandi, cucian, pipa servis, pipa lateral tanpa
induk serta dilengkapi dengan pengolahan mini.
4. Pressure Sewer

Pengaturan khas untuk jaringan selokan bertekanan adalah untuk setiap koneksi (atau sekumpulan
kecil koneksi) untuk memiliki tangki yang menerima air limbah . Saat tangki mengisi set point,
pompa di dalam baskom menyuntikkan air limbah ke saluran pembuangan . Pengalihan air limbah
ini menekan saluran pembuangan . Karena berbagai pompa sepanjang saluran
pembuangan menyuntikkan limbah ke saluran, air limbah di pindahkan secara progresif ke
fasilitas perawatan (WERF 2010). Tangki penyimpanan di pintu masuk sistem adalah jantung dari
sistem. Umumnya lubang plastik prefabrikasi yang menyediakan penyimpanan air limbah ,
penggilingan (ini memungkinkan perpipaan berdiameter kecil setelah unit saluran pembuangan
tekanan ) dan memompa semuanya dalam satu unit mandiri (lihat gambar di bawah). Tangki all-
in-one ini disebut unit sistem tekanan . Air limbah mengalir lebih dulu dengan gravitasi menurun
ke unit sistem tekanan dari tempat ia digiling dan kemudian dipompa ke saluran pembuangan ,
menghasilkan tekanan. Unit dipasang di properti dengan berkonsultasi dengan pemiliknya. Pipa
pelepasan dengan diameter kecil keluar dari unit ke pipa saluran pembuangan tekanan ke
jalan. Sebuah kotak kecil ( boundary kit ) terpasang tepat di dalam properti di pipa
pembuangan. Katup non-return (untuk mencegah aliran balik dari saluran pembuangan tekanan)
dan katup isolasi ditempatkan di dalam kit ini. Unit dihubungkan ke catu daya rumah tangga dan
dikendalikan oleh panel kecil yang terletak di dekat unit (panel kontrol), baik di dinding, pagar
atau tiang.
5. Vaccum Sewer
Desain dan konstruksi sistem pembuangan limbah vakum yang menawarkan alternatif biaya yang
efektif untuk sistem pembuangan limbah tradisional untuk transportasi air limbah sipil dan
industri. Sistem pembuangan vakum (jika tidak disegel dengan vakum) menggunakan vakum yang
dibuat di dalam jaringan pipa untuk mengumpulkan air limbah dan untuk pengangkutannya ke
stasiun akhir. Sistem menggunakan teknologi vakum sebagai metode transportasi air
limbah; fleksibilitas yang besar memungkinkan untuk memanfaatkan keuntungan dalam aplikasi
di mana metode tradisional terlalu mahal atau tidak sesuai.

BAB III

STUDI KASUS
Pada studi kasus kali ini kami mengambil contoh penyaluran air buangan limbah domestik
rumah kontrakan di Jalan Kamper Indah, Kampung Dalam, Kecamatan Pauh, Padang.
Seperti yang terlihat pada gambar diatas penyaluran air buangan pada rumah tersebut langsung
dibuang ke selokan di perkarangan rumah. Air buangan tersebut berasal dari (air bekas mandi,air
bekas mencuci, air bekas mencuci piring). Karena air tersebut dialirkan di perkarangan rumah
menyebabkan adanya bau yang tidak sedap, banyaknya nyamuk sehingga menyebabkan penyakit
di lingkungan tersebut dan banyak vektor penyakit lainnya yang bersumber dari air buangan
tersebut. Dampak lainnya yaitu merusak estetika lingkungan. Air Bungan tersebut berasal dar
sumber kemudian di alirkan melalui selokan tersebut menuju badan air penerima tanpa adanya
pengolahan terlebih dahulu. Jika air buangan dalam konsentrasi sedikit mungkin tidak
menimbulkan dampak bagi badan air penerima namun masalahnya adalah semua rumah di
komplek itu mememiliki saluran yang sama yaitu langsung dialirkan ke selokan menuju badan air
penerima, sehingga volume air buangan menjadi banyak dan akan menyebabkan pencemaran pada
badan air penerima.

Seharusnya pada komplek perumahan tersebut air buangan yang berasal dari masing-masing
rumah tersebut dialirkan ke suatu bangunan pengolahan air buangan kemudian diolah dan dialirkan
ke badan air penerima apabila telah memenuhi standar untuk dibuang ke badan air. Apabila
penyaluran air buangan telah dilaksanakan sebagaimana mestinya maka tidak akan menimbulkan
dampak bagi lingkungan dan manusia.
BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa:

Penyaluran air buangan di rumah kontrakan di jalan Kamper Indah, Kampung Dalam, Kecamatan
Pauh, Padang masih belum sesuai dengan sebagaimana mestinya karena air buangan langsung di
buang ke badan air melalui selokan tanpa pengolahan terlebih dahulu, sehingga dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan. Seharusnya pengaliran air buangan dilaksanakan
sebagaimana mestinya yaitu air buangan harus dioalah dulu sehingga memenuhi standar untuk
dibuang ke badan air sehingga tidak menimbulkan dampak bagi manusia dan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA

ITT (Editor) (ny): Flygt Pressurized Sewage Systems - Bagi pemilik rumah, asosiasi perumahan
dan profesional . Sundbyberg: ITT Air & Air Limbah. URL

AIR SCHOALHAVEN (Editor) (ny): Sistem Selokan Tekanan. . Shoalhaven: Dewan Kota
Shoalhaven. URL

US EPA (Editor) (2002): Pressure Sewer . Pennsylvania: Badan Perlindungan Lingkungan


Amerika Serikat (US EPA).

WERF (Editor) (2010): Pressure Sewer System . Alexandria, Virginia: Federasi Penelitian
Lingkungan Air.

WSAA (Editor) (2003): Mode Kegagalan Umum pada Sistem Pipa bertekanan . Melbourne dan
Sidney: Asosiasi Layanan Air Australia.