Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Banyak cara menilai status gizi seperti pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan klinis,
boifisik, dan antropometri. Status gizi terbentuk merupakan deskripsi keseimbangan
antara zat gizi dengan kebutuhan tubuh secara individual. Cukup konsumsi cenderung
status gizi baik dan buruk konsumsi besar kemungkinan akan kurang gizi. Hal ini karena
status gizi dipengaruhi oleh banyak factor, akan tetapi factor konsumsi makanan adalah
factor yang dominan.
A. Penilaian status gizi
Penentuan status gizi seseorang atau kelompok populasi dilakukan dengan interprestasi
informasi dari hasil beberapa metode penilaian status gizi.
B. Metode penilaian status gizi di rumah sakit
Metode yang digunakan dalam penentuan status gizi di rumah sakit adalah
 Antropometri
 Klinis
 Biokimia
 Biofisik
 Survey konsumsi pangan
C. Indeks yang berhubungan dengan gizi dan malnutrisi
1. Prognostic nutritional index
Digunakan sebagai alat untuk mengetahui resiko atau predictor perjalanan klinis
berdasarkan penilaian status gizi. Digunakan 4 indeks gizi untuk menentukan PNI
yaitu :
 Serum albumin
 Serum transferrin
 TLK ( tebal lemak kulit ) trisep
 Hipersensitivitas tipe lambat
2. Hospital prognosis index

1
Digunakan sebagai alat untuk mengetahui penundaan respon hipersensitivitas terhadap
respon anti kulit, serum albumin, jumlah limfosit total,dan pengukuran antropometri
dievaluasi sehubungan hasil akhir.
3. Skrining gizi
Merupakan proses yang sederhana dan cepat untuk mengidentifikasi individu yang
mengalami kekurangan gizi atau yang beresiko terhadap gizi

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa itu status gizi berdasarkan subjective global assessment sebagai factor yang
mempengaruhi lama perawatan pasien rawat inap anak?
2. Bagaimana pengaruh perubahan status gizi pasien dewasa terhadap lama rawat inap
dan biaya rumah sakit ?
3. Bagaimana Pengaruh Penurunan Status Gizi terhadap Biaya Rumah Sakit ?
4. Bagaimana Lama Rawat Inap ?
5. Bagaimana Aplikasi Penentuan Gizi Dan Makanan Pasien Rawat Inap Di Rumah
Sakit ?

1.3 TUJUAN
1.mengetahui status gizi berdasarkan subjective global assessment sebagai factor yang
mempengaruhi lama perawatan pasien rawat inap anak
2. mengetahui pengaruh perubahan status gizi pasien dewasa terhadap lama rawat inap dan
biaya rumah sakit
3. Mengetahui Pengaruh Penurunan Status Gizi terhadap Biaya Rumah Sakit
4. Mengetahui Lama Rawat Inap
5. Mengetahui Aplikasi Penentuan Gizi Dan Makanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Status Gizi Berdasarkan Subjective Global Assessment Sebagai Faktor yang
Mempengaruhi Lama Perawatan Pasien Rawat Inap Anak
Masa rawat seorang pasien di rumah sakit dihitung sejak pasien masuk rumah sakit dan
keluar rumah sakit, yang dipengaruhi oleh faktor usia, komorbiditas, hipermetabolisme,
dan kegagalan organ serta defisiensi nutrisi. Status gizi merupakan salah satu komponen
yang mempengaruhi biaya perawatan, lama hari perawatan, dan kualitas hidup. Salah satu
cara penilaian status gizi adalah subjective global assessment (SGA) yang terdiri dari
anamnesis dan pemeriksaan fisis yang mencerminkan perubahan metabolik dan
fungsional.
Status gizi mempengaruhi keadaan kesehatan secara umum, penyembuhan dari
trauma atau prosedur tindakan, serta mempengaruhi timbulnya infeksi dan penyembuhan
infeksi.
Keadaan malnutrisi didapatkan pada hampir 30% pasien yang dirawat di rumah
sakit dan berhubungan dengan komplikasi klinis, meningkatkan morbiditas dan
mortalitas, lama hari perawatan, biaya perawatan, serta kualitas hidup yang buruk.1-3
Penilaian status gizi awal pasien masuk rumah sakit sangat penting dilakukan karena
dapat menggambarkan status gizi pasien saat itu dan membantu mengidentifikasi
perawatan gizi secara spesifik pada masing-masing pasien.
Penilaian status gizi pada anak sakit bertujuan untuk menentukan status gizi anak
secara akurat dan memonitor perubahan status gizi selama mendapatkan terapi gizi.
Terapi gizi yang tepat akan meningkatkan indikator klinis dan biokimia sehingga pasien
mempunyai ketahanan tubuh yang lebih baik dan risiko komplikasi yang lebih rendah.
Salah satu cara untuk menilai status gizi adalah menggunakan format subjective global
assessment (SGA). Teknik SGA lebih komprehensif dibandingkan dengan antropometri
karena terdiri dari terdiri dari dua tahap dan menggunakan pendekatan klinis terstruktur,
terdiri dari anamnesis dan pemeriksaan fisis yang mencerminkan perubahan metabolik
dan fungsional. Anamnesis terdiri dari keterangan mengenai perubahan berat badan,
perubahan asupan nutrisi, gejala saluran cerna, gangguan kemampuan fungsional, dan

3
penyakit yang dialami pasien. Anamnesis pada SGA ini bertujuan untuk mencari etiologi
malnutrisi apakah akibat penurunan asupan makanan, malabsorbsi, maldigesti atau
peningkatan kebutuhan.
Pemeriksaan fisis menilai kehilangan massa otot dan lemak serta adanya asites
dan bermanfaat untuk mengidentifikasi perubahan komposisi tubuh akibat efek
malnutrisi atau pengaruh proses penyakit.4-6Berbagai penelitian menyatakan bahwa
teknik SGA memiliki sensitivitas dan spesifisitas lebih baik dibandingkan dengan
antropometri.7,8 Length of stay adalah masa rawat seorang pasien di rumah sakit
dihitung sejak pasien masuk rumah sakit dan keluar rumah sakit, dipengaruhi oleh faktor
usia, komorbiditas, hipermetabolisme, dan kegagalan organ serta defisiensi nutrisi.
Berbagai penelitian menyatakan bahwa adanya malnutrisi pada saat pasien masuk rumah
sakit mengakibatkan pasien tersebut memiliki LOS yang lebih panjang bila
dibandingkan dengan pasien dengan status nutrisi baik, serta memiliki risiko lebih tinggi
mengalami malnutrisi selama perawatan.9,10 Penelitian bertujuan menilai pengaruh
status gizi yang dinilai dengan menggunakan SGA terhadap lama hari perawatan pasien
rawat inap anak dengan infeksi akut.
Hasil pengukuran status gizi dengan SGA dapat dijadikan acuan untuk
menentukan terapi gizi yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan penyakit pasien,
sehingga dapat mendukung proses penyembuhan pasien yang pada akhirnya dapat
menghindari lama perawatan pasien di rumah sakit yang lebih panjang.
Beberapa keterbatasan penelitian adalah subjek penelitian hanya pada pasien
dengan infeksi akut dan penilaian status gizi dengan format SGA hanya dilakukan satu
kali pada saat pasien masuk rumah sakit serta tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium
untuk kesetaraan penilaian status gizi dengan parameter laboratorium sebagai alat
penilaian status gizi yang objektif, seperti pemeriksaan transferin serum atau prealbumin
yang dapat memberikan gambaran perubahan nutrisi yang lebih baik dari albumin.
Penilaian status gizi berdasarkan SGA sebaiknya juga dilakukan pada saat pasien
pulang, sehingga SGA tidak hanya digunakan sebagai skrining status gizi saat 24 jam
pertama perawatan, tetapi juga dapat digunakan sebagai evaluasi terhadap perkembangan
status gizi pasien selama perawatan. Perlu dilakukan penelitian penggunaan SGA pada
jenis penyakit lain yang status gizinya sulit dinilai dengan menggunakan pemeriksaan

4
antropometri dan penelitian lanjutan mengenai kesetaraan penilaian status gizi secara
subjektif seperti SGA ini dengan parameter laboratorium yang digunakan untuk menilai
status gizi secara objektif, sehingga penilaian status gizi dari awal menjadi lebih akurat,
intervensi lebih awal, dan lama perawatan dapat menjadi lebih singkat.

2.2 Pengaruh Perubahan Status Gizi Pasien Dewasa Terhadap Lama Rawat Inap Dan
Biaya Rumah Sakit

Besarnya angka prevalensi malnutrisi pada pasien yang dirawat inap telah banyak ditemukan
sejak tahun 1970-an, juga perubahan-perubahan status gizi yang cenderung menurun selama
dirawat inap telah banyak pula dilaporkan . Penemuan bahwa pasien-pasien malnutrisi
mengalami lama rawat inap yang lebih panjang dan menghabiskan biaya lebih tinggi secara
signifikan, juga telah terdokumentasi, tidak jarang malnutrisi ini timbul selama dirawat inap
di rumah sakit. Penurunan status gizi pada pasien rawat inap, tanpa melihat status gizi pada
saat masuk rumah sakit telah dilaporkan berhubungan dengan biaya lebih tinggi dan lama
rawat inap lebih panjang . Namun pengaruh perubahan status gizi pasien dewasa terhadap
berbagai outcome di Indonesia belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh perubahan status gizi pasien rawat inap terhadap lama rawat inap dan biaya rumah
sakit.

Jenis penelitian ini merupakan studi observasional dengan menggunakan rancangan


studi kohor prospektif. Subjek penelitian adalah pasien dewasa rawat inap dengan kriteria
inklusi: umur lebih dari 18 tahun, makanannya per oral, kesadaran baik selama di rumah
sakit, kooperatif, tidak pulang atas permintaan sendiri/pulang paksa, dan bersedia ikut serta
dalam penelitian. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta, RS Dr. M.
Jamil Padang, dan RS Sanglah, Denpasar, Bali dan oleh karena itu penelitian ini lebih
dikenal sebagai penelitian SARMILA, singkatan dari Sardjito, Jamil, dan Sanglah.

Subjek penelitian terdiri dari pasien rawat inap di bagian Penyakit Dalam dan Saraf
dari ketiga RS tersebut dengan kelas perawatan I, II, dan III. Subjek yang berasal dari RS
Dr. Sardjito, RS Dr.M.Jamil, RS Sanglah berturut-turut sebanyak 103 orang (93 orang dari
bangsal penyakit dalam dan 10 orang dari bangsal saraf), 92 orang (72 orang dari bangsal

5
penyakit dalam dan 20 orang dari bangsal saraf), dan 154 orang (120 orang dari bangsal
penyakit dalam dan 34 orang dari bangsal saraf). Namun sebanyak 86 orang drop out,
dengan perincian 24 orang dari RS Dr. Sardjito (21 orang dari bangsal penyakit dalam dan 3
orang dari bangsal saraf), 6 orang dari RS Dr. M.Jamil (4 orang dari bangsal penyakit dalam
dan 2 orang dari bangsal saraf), serta 57 orang dari RS Sanglah (49 orang dari bangsal
penyakit dalam dan 8 orang dari bangsal saraf). Dengan demikian maka hanya sebanyak 262
orang di antaranya yang digunakan dalam penelitian ini yaitu yang memenuhi kriteria
inklusi tidak pulang atas permintaan sendiri/pulang paksa, tidak pindah bangsal perawatan,
dan lengkapnya data biaya.

Data yang sudah di-entry kemudian dianalisis secara deskriptif dan analisis quatitatif
menggunakan program Stata 6,0. Status gizi dikategorikan menjadi baik, sedang, dan buruk
berdasarkan Subjective Global Assessment (SGA) . Selanjutnya berdasarkan perubahan
status gizi selama dirumah sakit (status gizi pada waktu masuk dan status gizi pada saat
keluar rumah sakit) pasien dikelompokkkan menjadi 9 kelompok yaitu;

(1) status gizi baik pada waktu masuk dan status gizi tetap baik pada waktu keluar,
(2) status gizi baik pada waktu masuk dan menjadi status gizi sedang pada waktu keluar,
(3) status gizi baik pada waktu masuk dan menjadi status gizi buruk pada waktu keluar,
(4) status gizi sedang pada waktu masuk dan menjadi status gizi baik pada waktu keluar,
(5) status gizi sedang pada waktu masuk dan tetap sedang pada waktu keluar,
(6) status gizi sedang pada waktu masuk dan menjadi status gizi buruk pada waktu
keluar,
(7) status gizi buruk pada waktu masuk menjadi status gizi baik pada waktu keluar,
(8) status gizi buruk pada waktu masuk dan menjadi status gizi sedang pada waktu
keluar, dan
(9) status gizi buruk pada waktu masuk dan tetap dengan status gizi buruk pada waktu
keluar.
Kemudian dikategorikan pula ke dalam empat macam perubahan status gizi, yaitu:
Kelompok Normal : Baik menjadi Baik Kelompok Meningkat : Sedang menjadi Baik, Buruk
menjadi Baik, Buruk menjadi Sedang Kelompok Tetap : Sedang menjadi Sedang, Buruk

6
menjadi Buruk Kelompok Menurun : Baik menjadi Sedang, Baik menjadi Buruk, Sedang
menjadi Buruk.
Analisis statistik yang digunakan yaitu uji statistik regresi ganda linier untuk menguji
perubahan status gizi sebagai variabel bebas (skala ordinal) terhadap lama rawat inap dan
biaya sebagai variabel tergantung (skala rasio, dalam satuan hari dan rupiah). Sedangkan uji
statistik regresi logistik digunakan untuk perubahan status gizi sebagai variabel bebas (skala
ordinal) terhadap lama rawat dan biaya sebagai variabel tergantung (skala ordinal, lama
rawat lebih/sama dengan 7 hari dan kurang dari 7 hari serta biaya lebih dari Rp.1.100.000,-
dan kurang/sama dengan Rp.1.100.000,-). Analisis multivariat juga digunakan untuk dapat
mengendalikan faktor-faktor luar, yaitu diagnosis penyakit, terapi medis, riwayat
hospitalisasi, umur, jenis kelamin, kelas perawatan, asal rumah sakit, langsung/tidaknya
masuk rumah sakit, serta asupan energi dan protein. Seluruh analisis statistik dilakukan
hanya pada subjek yang pulang dalam keadaan sembuh dan membaik saja, tidak termasuk
subjek yang pulang dalam keadaan tidak sembuh, tidak membaik, maupun pulang dalam
keadaan mati.

2.3 Pengaruh Penurunan Status Gizi terhadap Biaya Rumah Sakit


Hasil ini diperoleh setelah mempertimbangkan faktor-faktor luar. Subjek yang
mengalami penurunan status gizi dari baik menjadi sedang dan sedang menjadi buruk
berisiko mengeluarkan biaya 3,27 dan 1,76 kali lebih besar daripada subjek yang tetap
berstatus gizi baik selama dirawat inap di rumah sakit (95%CI=1,123-9,529; 0,590-5,245).
Sedangkan subjek yang mengalami penurunan status gizi dari baik menjadi buruk
menghasilkan nilai OR, p, maupun 95% CI tak terhingga yang menunjukkan bahwa
penurunan dari baik menjadi buruk berpengaruh sangat signifikan terhadap biaya rumah
sakit yang lebih besar. Berdasarkan empat macam perubahan status gizi, subjek yang status
gizinya menurun berisiko mengeluarkan biaya 2,90 kallebih besar disbanding

2.4 Lama Rawat Inap

Hasil ini diperoleh setelah mengendalikan variabel-variabel luar. Subjek yang


mengalami penurunan status gizi dari baik menjadi sedang, baik menjadi buruk, dan sedang
menjadi buruk berisiko mengalami lama rawat inap yang lebih panjang sebesar 6,32; 11,94;

7
dan 6,90 kali daripada subjek yang berstatus gizi tetap baik hingga keluar rumah sakit
(95%CI= 1,341-29,813; 1,026139,107; dan 1,488-32,024). Hal ini menunjukkan bahwa
perubahan status gizi dari baik menjadi sedang, baik menjadi buruk, dan sedang menjadi
buruk berpengaruh secara signifikan terhadap lama rawat inap yang lebih panjang.
Berdasarkan empat macam perubahan status gizi, subjek yang status gizinya menurun
berisiko mengalami lama rawat inap lebih panjang 7,9 kali daripada kelompok referensi
(95%CI=2,294-27,180).

Sedangkan subjek yang status gizinya meningkat dan tetap, mempunyai risiko
mengalami lama rawat inap lebih panjang hanya 2,94 dan 2,56 kali lebih besar daripada
kelompok referensi (95%CI=1,244-6,925; 0,596-10,993

Jika lama rawat inap tidak dikelompokkan (data kontinu), maka digunakan uji statistik
regresi linier berganda yang juga mengendalikan faktor-faktor luar. Subjek yang berstatus
gizi dari baik menjadi sedang, baik menjadi buruk, dan sedang menjadi buruk mempunyai
lama rawat inap masing-masing 12, 17 dan 15 hari (vs 9 hari). Hal ini berarti terdapat selisih
berturut-turut sebanyak 3, 8, dan 6 hari dibandingkan dengan kelompok referensi. maka
subjek yang status gizinya menurun mempunyai rata-rata lama rawat inap 14 hari, berbeda 5
hari dibandingkan kelompok referensi. Sedangkan subjek yang status gizinya meningkat dan
tetap, mempunyai rata-rata lama rawat inap 10 hari.

2.5 Aplikasi Penentuan Gizi Dan Makanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit
Utilisasi suatu zat gizi dalam tubuh, organ dan di tingkat sel yang berjumlah billiunan
sangat tergantung dari kandungan zat gizi makanan yang dikonsumsi seseorang. Zat gizi
dibagi ke dalam tiga golongan berdasarkan fungsinya, diantaranya zat tenaga (karbohidrat
dan lemak), zat Pembangun (protein dan mineral), zat Pengatur (mineral, vitamin, dan air).
Sedangkan macam - macam zat gizi terdiri dari: karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan
mineral. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pembentukan fisik dan terjadinya
gangguan kecerdasan, menurunkan produksifitas kerja, menurunkan daya tahan tubuh serta
meningkatkan angka kesakitan dan kematian tinggi. Status gizi dapat ditentukan melalui
pemeriksaan laboratorium maupun secara antropometri. Antropometri merupakan cara
penentuan status gizi yang paling mudah dan murah.

8
Pengukuran antropometri adalah pengukuran yang digunakan untuk menentukan
keadaan gizi seseorang. Pengukuran antropometri untuk usia dewasa sekarang ini
menggunakan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah
perbandingan (rasio) berat badan / tinggi badan yang sering digunakan untuk menilai status
gizi seseorang. Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa yang berumur 18 tahun
keatas, dan IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil. Asupan
(konsumsi) makanan merupakan banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal maupun
beragam, yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan sosiologis.
Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi yang
selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi tubuh, mengatur proses metabolisme,
memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan . Apabila tubuh kekurangan zat gizi,
khususnya energi dan protein, pada tahap awal akan meyebabkan rasa lapar dan dalam
jangka waktu tertentu berat badan akan menurun yang disertai dengan menurunnya
produktivitas kerja. Kekurangan zat gizi yang berlanjut akan menyebabkan status gizi
kurang dan gizi buruk. Apabila tidak ada perbaikan konsumsi energi dan protein yang
mencukupi, pada akhirnya tubuh akan mudah terserang penyakit infeksi yang selanjutnya
dapat menyebabkan kematian .
Perkembangan teknologi informasi dalam hal ini teknologi komputer dapat menunjang
pembuatan - pembuatan keputusan di dalam organisasi - organisasi modern yang
memungkinkan pekerjaanpekerjaan di dalam organisasi dapat diselesaikan secara cepat,
akurat, dan efisien. Teknologi informasi (TI) didefinisikan sebagai teknologi yang
digunakan untuk memperoleh, manipulasi, menyajikan dan memanfaatkan data. Penggunaan
teknologi informasi di dunia kesehatan dapat membantu memudahkan permasalahan yang
dihadapi. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bangkalan adalah salah satu
Rumah Sakit yang pelayanan kesehatannya sudah sesuai dengan standarisasi yang
ditetapkan oleh pemerintah.
Masyarakat daerah setempat banyak yang berobat kerumah sakit tersebut, baik
kalangan masyarakat tidak mampu, masyarakat menengah bahkan masyarakat ekonomi
kelas atas. Akan tetapi masih ada pengolahan data yang sampai saat ini masih bersifat
manual, yaitu pengelolahan menu pasien yang berobat kerumah sakit tersebut. Sehingga

9
masih membutuhkan banyak waktu dalam penyesuaian menu makanan sesuai dengan
kabutuhan kalori oleh masing-masing pasien.Pengelolaan data menu pasien pada isntalasi
gizi rumah sakit merupakan salah satu komponen yang penting dalam mewujudkan suatu
sistem informasi menu gizi bagi pasien. Pengelolaan data menu gizi pasien secara manual,
mempunyai banyak kelemahan, selain membutuhkan waktu yang lama, keakuratannya juga
kurang dapat diterima, karena kemungkinan kesalahan sangat besar. Dengan dukungan
teknologi informasi yang ada sekarang ini, pekerjaan pengelolaan data menu gizi pasien
dengan cara manual dapat di gantikan dengan suatu sistem informasi dengan menggunakan
komputer. Selain lebih cepat dan mudah, pengelolaan data menu gizi pasien juga menjadi
lebih akurat.

10
BAB III
PENUTUP

1.4 Kesimpulan
1) Penilaian status gizi
Penentuan status gizi seseorang atau kelompok populasi dilakukan dengan interprestasi
informasi dari hasil beberapa metode penilaian status gizi.
2) Metode penilaian status gizi di rumah sakit
Metode yang digunakan dalam penentuan status gizi di rumah sakit adalah
 Antropometri
 Klinis
 Biokimia
 Biofisik
 Survey konsumsi pangan
3) Status Gizi Berdasarkan Subjective Global Assessment Sebagai Faktor yang
Mempengaruhi Lama Perawatan Pasien Rawat Inap Anak.
Masa rawat seorang pasien di rumah sakit dihitung sejak pasien masuk rumah sakit dan
keluar rumah sakit, yang dipengaruhi oleh faktor usia, komorbiditas, hipermetabolisme,
dan kegagalan organ serta defisiensi nutrisi. Status gizi merupakan salah satu komponen
yang mempengaruhi biaya perawatan, lama hari perawatan, dan kualitas hidup. Salah satu
cara penilaian status gizi adalah subjective global assessment (SGA) yang terdiri dari
anamnesis dan pemeriksaan fisis yang mencerminkan perubahan metabolik dan
fungsional.
4) Perubahan status gizi dari baik menjadi sedang, baik menjadi buruk, dan sedang menjadi
buruk berpengaruh secara signifikan terhadap lama rawat inap yang lebih panjang.
5) Zat gizi dibagi ke dalam tiga golongan berdasarkan fungsinya, diantaranya zat tenaga
(karbohidrat dan lemak), zat Pembangun (protein dan mineral), zat Pengatur (mineral,
vitamin, dan air). Sedangkan macam - macam zat gizi terdiri dari: karbohidrat, protein,
lemak, vitamin dan mineral.
6) Pengukuran antropometri adalah pengukuran yang digunakan untuk menentukan keadaan
gizi seseorang. Pengukuran antropometri untuk usia dewasa sekarang ini menggunakan

11
perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah
perbandingan (rasio) berat badan / tinggi badan yang sering digunakan untuk menilai
status gizi seseorang. Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa yang berumur
18 tahun keatas, dan IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil.

1.4 Saran

Kita perlu mengetahui dan mengembangkan pengetahuan mengenai gizi dan juga cara
penilaian status gizi tersebut, berbagai cara dalam menilai status gizi salah satunya yaitu
metode pemeriksaan klinis yang merupakan metode penting dalam menilai status gizi yang
dapat mengukur derajat kecukupan gizi suatu Negara.

Dan agar langkah-langkah antisipatif dapat berjalan dengan efektif, maka keterlibatan dan
kerja sama masyarakat dengan pemerintah sangat dibutuhkan. Masyarakat hendaknya sadar
akan pentingnya gizi dan mengikuti apa yang disarankan pemerintah selama saran-saran itu
baik dan benar. Pemerintah, sebagai pelayan masyarakat, juga hendaknya
melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Tidak menyalah gunakan wewenang
dan kekuasaan yang dipercayakan oleh rakyat karena pemerintah adalah orang-orang yang
dipilih oleh rakyat

12
DAFTAR PUSTAKA

Aryadipa N, 2014, Penilaian Status Gizi Secara Antropometri


https://aryadipasurya.wordpress.com/2014/12/09/penilaian-status-gizi-secara-
antropometri/ (Online) Diakses Pada 17 September 2018

Claudia, 2016, Penilaian Status Gizi http://claudiasada.blogspot.com/2016/06/penilaian-


status-gizi.html?m=1 (Online) Diakses Pada 17 September 2018

Unknown, Pelayanan Gizi Rumah Sakit


http://kodokijo.wapsite.me/Buku%20Kodok/Pelayanan%20Gizi%20Rumah%20S
akit (Online) Diakses Pada 17 September 2018

13