Anda di halaman 1dari 104

HALAMAN JUDUL

ANALISIS UJI PBU DAN DELIVERABILITY PADA SUMUR


GAS AZ-01 LAPISAN A LAPANGAN AZF

SKRIPSI

Disusun sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana


Program Studi Sarjana Teknik Perminyakan
Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Oleh
Aan Zool Fahman
071001400001

PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK PERMINYAKAN


FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI
2019

i
TITLE PAGE

FINAL ASSESMENT
Submitted as a requirement to obtain Undergraduate in study program of
Petroleum Engineering, Faculty of Earth Technology and Energy

By
Aaan Zool Fahman
071001400001

STUDY PROGRAM OF PETROLEUM DEPARTEMENT


FACULTY OF EARTH TECHNOLOGY AND ENERGY
UNIVERSITAS TRISAKTI
2018

ii
LEMBAR PENGESAHAN
ANALISIS UJI PRESSURE BUILD UP DAN DELIVERABILITY
PADA SUMUR GAS AZ-01 LAPISAN A LAPANGAN AZF

SKRIPSI

Disusun sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana


Program Studi Sarjana Teknik Perminyakan
Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Oleh
Hanif Fachrizal
071001400070

Foto
2x3

Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II

(Ir. Mulia Ginting, M.S) (Aqlyna Fattahanisa, S.T, M.T)


NIK: /Usakti NIK: /Usakti

Mengetahui,
Ketua Program Studi Sarjana Teknik Perminyakn

(Ir. Abdul Hamid, MT)


NIK: 1894/Usakti

iii
LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi yang berjudul “Analisis Uji pressure Build Up dan Deliverability untuk
Prediksi Plateau Time Produksi Sumur VLL-1”, telah dipertahankan di depan
tim penguji pada hari tanggal Agustus 2018

TIM PENGUJI
1. Ketua Penguji (............................)

2. Pembimbing Akademik (............................)

3. Pembimbing Utama (............................)

4. Pembimbing Pendamping (............................)

5. Anggota Penguji (............................)

6. Anggota Penguji (............................)

Mengetahui,
Ketua Program Studi Sarjana Perminyakan

(Ir. Abdul Hamid, MT)


NIK: 1894/Usakti

iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Aan Zool Fahmah


Nim : 071001400001
Program studi : Perminyakan
Fakultas : Teknologi Kebumian dan Energi
Jenis Karya : Skripsi

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Trisakti Hak Bebas Royalti Non ekslusif (Non-exclusive-Royalty-Free-
Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul “Analisis Uji Pressure Build Up dan
Deliverability pada Sumur Gas AZ-01 Lapisan A Lapangan AZF”. Dengan Hak
Bebas Royalti Non ekslusif ini Universitas Trisakti berhak menyimpan, mengalih
media/ formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat,
dan menyebarkan skripsi saya sesuai aturan, selama tetap mencantumkan nama
saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Jakarta,
Yang membuat pernyataan

Materai
Rp 6000-,

(Aan Zool Fahman)

v
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya Mahasiswa Program Studi Sarjana Teknik Perminyakan, Fakultas


Teknologi Kebumian dan Energi, Usakti yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Aan Zool Fahman


Nim : 071001400001

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi dengan judul :


Analisis Uji Pressure Build Up dan Deliverability pada Sumur Gas AZ-01
Lapisan A Lapangan AZF.
Adalah benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bebas dari peniruan
terhadap karya dari orang lain. Kutipan pendapat dan tulisan orang lain ditunjuk
sesuai dengan cara-cara penulisan karya ilmiah yang berlaku.
Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa dalam skripsi
ini terkandung ciri-ciri plagiat dan bentuk-bentuk peniruan lain yang dianggap
melanggar peraturan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Jakarta,
Yang membuat pernyataan

Materai
Rp 6000-,

(Aan Zool Fahman)

vi
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur serta terima kasih kepada Allah S.W.T, Tuhan Yang Maha
esa atas berkat dan karunia-Nya lah sehingga skripsi yang berjudul “Analisis Uji
Pressure Build Up dan Deliverability pada Sumur Gas AZ-01 Lapisan A
Lapangan AZF” ini dapat selesai dengan baik dan tepat waktu.
Tugas Akhir ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Teknik Pada Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi
Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti, Jakarta.
Bersama dengan selesainya Tugas Akhir ini, penulis menyampaikan rasa
syukur dan terima kasih kepada :
1. Kedua Orang Tua, Kakak, dan Adik penulis yang selalu memberikan
semangat dan doanya sehingga Tugas Akhir ini dapat terselesaikan dengan
baik.
2. Dr. Ir. Afiat Anugrahadi, MS selaku Dekan Fakultas Teknologi
Kebumian dan Energi.
3. Ir. H. A. Hamid, MT selaku Ketua Program Studi Teknik Perminyakan.
4. Ir. Mulia Ginting, M.S selaku Pembimbing Tugas Akhir yang telah banyak
meluangkan waktu dan pikirannya untuk memberikan pengarahan dalam
penulisan Tugas Akhir.
5. Aqlyna Fattahanisa, S.T, M.T selaku pembimbing pendamping Tugas
Akhir yang menyebalkan dan telah banyak meluangkan waktu serta
pikirannya untuk memberikan pengarahan dalam penulisan tugas akhir.
6. Regina Adelia yang selalu mendampingi dan mendengar keluh kesah
penulis dalam penyelesaian tugas akhir.
7. Teman-teman Teknik Perminyakan angkatan 2014 yang selalu membantu
penulis dalam menyelesaikan tugas akhir.
8. Rasyad, Ben, Sasha, dan Didi selaku teman-teman lintas jurusan yang
selalu memberi semangat dan mengingatkan penulis untuk menyelesaikan
tugas akhir.

vii
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan Tugas Akhir ini.
Untuk itu penulis harapkan kritik dan saran dari semua pihak yang sifatnya
membangun wawasan demi menyempurnakan isi dari Tugas Akhir ini. Akhir kata
semoga Tugas Akhir ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca
pada umumnya.

Jakarta,

Aan Zool Fahman

viii
ABSTRAK

Analisis Uji Pressure Build Up dan Deliverability pada Sumur Gas


AZ-01 Lapisan A Lapangan AZF

Aan Zool Fahman


071001400001
Program Studi Sarjana Teknik Perminyakan
Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi,
Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia

Setelah proses pemboran suatu sumur selesai dilakukan, maka dilakukan


suatu pengujian sumur hidrokarbon yaitu uji sumur (well testing). Salah satu tujuan
dari uji sumur yaitu untuk menganalisis parameter – parameter reservoir seperti
tekanan awal reservoir, permeabilitas, kerusakan formasi, batas reservoir, serta
kemampuan produksi dari suatu lapisan atau formasi. Sumur AZ-01 merupakan
sumur baru yang dilakukan pengeboran pada tahun 2016. Sumur EFL-17 terletak
pada lapangan AZF di Kabupaten Subang Provinsi Jawa Barat yang memiliki suatu
lapisan reservoir S-1, dimana jenis reservoir S-1 adalah condensate gas reservoir
dengan jenis batuan karbonat.
Analisis tekanan yang dilakukan pada Sumur AZ-01 yaitu uji Pressure
Build Up dan deliverability. Kedua uji tekanan tersebut dilakukan dengan
menggunakan software Ecrin dan secara manual dengan Microsoft Excel. Hasil
analisis uji Pressure Build Up pada Sumur EFL-17 dengan Type Curve Pressure
Derivative, model sumur yang didapat adalah Vertical dengan model reservoir
adalah Two Porosity PSS dan model boundary adalah parallel fault, dimana tekanan
reservoir yang didapat adalah 2595.06 psi dengan skin yang negatif yaitu -4.33 serta
nilai permeabilitas sebesar 0.324 mD. Sedangkan nilai Absolut Open Flow
Potential (AOFP) pada Sumur AZ-01 berdasarkan analisis uji deliverabilitas adalah
sebesar 1086.28 mscf/D dengan nilai n sebesar 7.96.

Kata kunci: Uji Pressure Build Up dan Deliverability

ix
ABSTRACT

PRESSURE BUILD UP AND DELIVERABILITY TEST


ANALYSIS FOR DETERMINING THE PRODUCTION
PLATEAU TIME PREDICTION OF VLL-1 WELL

Hanif Fachrizal
Nim: 071001400070
Study Program of Petroleum Enginering, Faculty Of Earth
Technology and Energy, Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia

Gas well test analysis for Vll-1 well has been done to evaluate Beta-1
reseroir characteristics and condition of the well. The type of well test analysis were
pressure derivative and horner plot method. Beside that, analysis was followed by
deliverabilty test with modified isochronal method which intend to determine
formation production ability that described by absolute open flow potentiall
(AOFP). Based on pressure build up result can be known several parameters of
formation characteristics that can be used to determine GIIP (by well). Meanwhile,
deliverability result can be used to determine formation inflow performance
relationship (IPR) and vertical lift performance (VLP) from the wellbore.
Moreover, from GIIP (by well) analysis will calculate plateau time of VLL-1 well
from various production flow rate. These two well test analysis will done by Ecrin
4.02 and manual calculation as a comparison.
Based on pressure derivative analysis results, obtained Beta-1 reservoir
characteristics which is two porosity PSS as the reservoir model, and boundary
model is one fault, and also initial pressure (Pi) values at 2989,96 psi. Beta-1
reservoir obtained negative skin value of -3,29, permeability of 6.01 mD, and
pressure loss caused by skin at -129,315 psi. meanwhile, from horner plot anlaysis
results obtained flow efficiency 1,9309 and radius of investigastion 326,827 ft. next,
from the analysis of deliverability obtained absolute open flow potential (AOFP)
52864,9 mscf/d. from volumetric calculation obtained GIIP (by well) 3438,18
mmscf. And then, the analysis of Beta-1 reservoir inflow performance relationship
and VLL-1 well tubing performance relationship have been done by IPM Prosper
software. At last plateau time predicted with IPM MBAL software for various gas
flow rate, so that flow rate 3 mmscf/d, 6 mmscf/d, 9 mmscf/d, 11 mmscf/d, 13
mmscf/d, 14 mmscf/d, and 15,859 mmscf/d can produce at plateau rate for about
32 months 3 days, 14 months 4 days, 8 months 6 days, 6 months 1 days, 4 months
14 days, 3 months 26 days, and 2 months 28 days.

Keyword: Pressure Transient and Deliverability Test

x
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
TITLE PAGE............................................................................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... iii
LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................... iv
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ............................... v
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS .......................................................... vi
KATA PENGANTAR .......................................................................................... vii
ABSTRAK ............................................................................................................. ix
ABSTRACT .............................................................................................................. x
DAFTAR ISI .......................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xv
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG....................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 19


I.1 Latar Belakang .............................................................................19
I.2 Rumusan Masalah ........................................................................20
I.3 Maksud Dan Tujuan Penelitian ....................................................20
I.4 Ruang Lingkup Penelitian Dan Batasan Masalah ........................20
I.5 Manfaat Penelitian .......................................................................20
BAB II TINJAUAN UMUM............................................................................... 1
II.1 Karakteristik Batuan Reservoir ......................................................1
II.1.1 Porositas ........................................................................... 2
II.1.2 Permeabilitas .................................................................... 3
II.1.3 Saturasi ............................................................................. 4
II.2 Karakteristik Fulida Reservoir (Gas) .............................................4
II.2.1 Specific Gravity Gas (γg) ................................................ 5
II.2.2 Faktor Deviasi Gas (Z).................................................... 5
II.2.3 Faktor Volume Formasi Gas (Bg) ................................... 7
II.2.4 Viskositas Gas (µg) ......................................................... 7
II.2.5 Kompresibilitas Gas (Cg) ................................................ 8
II.3 Persamaan Aliran Fluida Dalam Media Berpori ............................8
II.4 Uji Pressure Build Up ..................................................................10
II.4.1 Prinsip Superposisi......... Error! Bookmark not defined.
II.4.2 Persamaan Horner ......................................................... 12
II.5 Tekanan Reservoir .......................................................................21
II.6 Wellbore Storage..........................................................................21
II.7 Skin ...............................................................................................10
II.8 Storativity (ω) ...............................................................................22
II.9 Interporosity (λ) ...........................................................................23
II.10 Radius Investigasi ........................................................................23

DAFTAR ISI (Lanjutan)

xi
II.11
Karakteristik Kurva Plot Pressure Build Up................................12
II.12
Well Model ...................................................................................24
II.13
Model Reservoir ...........................................................................24
II.14
Model Boundary ..........................................................................24
II.15
Metode Uji Sumur Gas ................................................................25
II.15.1 Back Pressure Test ........................................................ 26
II.15.2 Isochronal Test.............................................................. 29
II.15.3 Modified Isochronal Test .............................................. 31
II.16 Batas Areal Reservoir GIIP (by well) ........ Error! Bookmark not
defined.
II.17 Perhitungan GIIP Metode Volumetrik ....... Error! Bookmark not
defined.
II.18 Well Performance ........................ Error! Bookmark not defined.
II.19 Plateau Time Gas Production ...... Error! Bookmark not defined.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................... 33
III.1 Daerah Penelitian .........................................................................33
III.2 Diagram Alir Metode Software Ecrin ........ Error! Bookmark not
defined.
III.3 Diagram Alir Metode Software IPM Prosper ... Error! Bookmark
not defined.
III.4 Diagram Alir Metode Software IPM MBAL .... Error! Bookmark
not defined.
III.5 Sumber Data ................................. Error! Bookmark not defined.
III.6 Waktu Penelitian .......................... Error! Bookmark not defined.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 42
IV.1 Hasil Perhitungan .........................................................................42
IV.1.1 Evaluasi Data Uji Sumur Error! Bookmark not defined.
IV.1.2 Analisis Uji Pressure Build Up Sumur VLL-1 Dengan
Software Ecrin ................ Error! Bookmark not defined.
IV.1.3 Analisis Uji Pressure Build Up Sumur VLL-1 Metode
Horner Manual ............... Error! Bookmark not defined.
IV.1.4 Analisis Uji Deliverabilitas Sumur VLL-1 Dengan
Sofware Ecrin dan Metode Konvensional........... Error!
Bookmark not defined.
IV.1.5 Perhitungan GIIP (by well) Reservoir Beta-1 ........ Error!
Bookmark not defined.
IV.1.6 Analisis Inflow Performance Relationship (IPR) dan
Vertical Lift Performance (VLP) . Error! Bookmark not
defined.
IV.1.7 Analisis Penentuan Plateau Time Sumur VLL-1 ... Error!
Bookmark not defined.
IV.2 Pembahasan .................................. Error! Bookmark not defined.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 51
V.1 Kesimpulan ..................................................................................51
V.2 Saran.............................................................................................51

xii
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 52
LAMPIRAN .......................................................................................................... 54

DAFTAR TABEL

Tabel II.1 Konstanta Dranchuk – Abou Kassem (Ahmed T. , 2000) ..................... 7


Tabel IV.1 Data Reservoir Sumur AZ-01 ............................................................. 42
Tabel IV.2 Data Modified Isochronal Test (Laporan Tekanan dan Laju alir, 2016)
............................................................................................................................... 44
Tabel IV.3 Hasil Analisis Pressure Derivative pada sumur AZ-01 lapisan A ..... 46
Tabel IV.4 Hasil Analisis horner pada sumur AZ-01 ........................................... 48
Tabel IV.5 6 Data Modified Isochronal Sumur AZ-01 ......................................... 49

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar II-1 Struktur Pori-Pori Batuan (Rukmana, Kristanto, & Aji, 2011) .......... 2
Gambar II-2 Sifat Pseudocritical dari Berbagai Komposisi Gas (Ikoku C. , 1982) 6
Gambar II-3 Distribusi Tekanan Akibat Adanya Skin (Rahmatullah, 2017)........ 10
Gambar II-4 Plot (Qg dan P) vs Time Pressure Build Up Test (Ahmed & McKinney,
2005) ..................................................................................................................... 12
Gambar II-5 Time Region Kurva Pressure Build Up (Suabdi, 2012) .................. 13
Gambar II-6 Grafik P vs Log Horner Time (tp + ∆t)/∆t (Ahmed T. , 2000) ........ 15
Gambar II-7 Gringarten Type Curve (Bourdet, 2002) .......................................... 18
Gambar II-8 Type Curve Derivative (Ahmed & McKinney, 2005) ..................... 19
Gambar II-9 Pressure Derivative Type Curve (Bourdet, 2002) ............................ 20
Gambar II-10 Respon Kurva Pressure Derivative dan Horner Plot untuk Berbagai
Macam Kondisi Sumur dan Reservoir (Economides, 1988) ................................. 25
Gambar II-11 Plot (Qg dan P) vs Waktu Dari Back Pressure Test (Anonym, 2012)
............................................................................................................................... 27
Gambar II-12 Plot Back Pressure Test Untuk ∆P2 vs qsc (Rahmatullah, 2017) .... 28
Gambar II-13 Diagram Laju Produksi dan Tekanan dari Isochronal (Amanat, 2003)
............................................................................................................................... 30
Gambar II-14 Log Plot Untuk Isochronal Test ∆P2 vs qsc (Anonym, 2012) ........ 31
Gambar II-15 Plot (Qg dan P) vs Waktu Modified Isochronal Test (Anonym, 2012)
............................................................................................................................... 31
Gambar II-16 Log Plot Untuk Modified Isochronal Test ∆P2 vs qsc (Anonym, 2012)
............................................................................................................................... 32
Gambar III-1 Diagram alir penelitian ................................................................... 34
Gambar III-2 Input data sumur ............................................................................. 35
Gambar III-3 Input data reservoir ......................................................................... 36
Gambar III-4 Input data tekanan dan laju alir sumur ............................................ 36
Gambar III-5 Input data laju alir sumur ................................................................ 37
Gambar III-6 Hasil Model dari Extract dP ........................................................... 37
Gambar III-7 Proses Matching Model .................................................................. 38
Gambar III-8 Improve Model Reservoir ............................................................... 38
Gambar III-9 Hasil Match Model Reservoir ......................................................... 39
Gambar III-10 Hasil Horner Plot Metode Pseudo Pressure ................................ 39
Gambar III-11 Input Data Tekanan pressure well flowing dan pressure well shutin
............................................................................................................................... 40
Gambar III-12 Hasil Uji Deliverabilitas Gas ........................................................ 40
Gambar IV-1 Grafik Pressure Build Up ............................................................... 43
Gambar IV-2 Tekanan, Laju alir, terhadap waktu ................................................ 43
Gambar IV-3 Derivative plot pada lapisan A dengan software ecrin ................... 45
Gambar IV-4 Horner Plot dengan Software Ecrin ............................................... 46
Gambar IV-5 Horner Plot dengan Microsoft Excel .............................................. 47

xiv
Gambar IV-6 Grafik Modified Isochronal Test dengan software Ecrin ............... 48
Gambar IV-7 Grafik MIT sumur AZ-01 lapisan A ............................................... 49

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Data tekanan terhadap waktu uji Modified Isochronal sumur


VLL-1 54
Lampiran B Perhitungan time production uji sumur VLL-1 ....................... 58
Lampiran C Perhitungan Konversi Pressure ke Pseudo Pressure .............. 59
Lampiran D Langkah Kerja Software Ecrin ................................................ 60
Lampiran E Langkah Keja Software IPM Prosper.......................................... 67

xv
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

SINGKATAN Nama Pemakaian


pertama kali
pada halaman

xvi
AOFP Absolutely Open Flow Potential ix
GIIP Gas Initial In Place ix
FE Flow Efficiency 12
IPR Inflow Performance Relationship ix
TPR Tubing Performance Relationship ix

LAMBANG

A Luas area 6
Bg Gas formation volume factor 7
Bo Oil formation volume factor 12
C Koefisien stability performance 26
Cg Kompresibilitas gas 13
Ct Kompresibilitas total 12
h Ketebalan reservoir 8
hp Ketebalan perforasi 21
k Permeabilitas 7
Ka Permeabilitas absolut 7
Ke Permeabilitas efektif 7
kf Permeabilitas fissure 22
kh Permeability thickness 15
km Permeabilitas matriks 22
Kr Permeabilitas relatif 7
L Panjang 6
m Gradien garis 11
Mg Berat molekul gas 11
n Inverse slope 26

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG (lanjutan)

LAMBANG Nama Pemakaian


pertama kali
pada halaman

xvii
P Tekanan 6
Pi Tekanan awal reservoir 13
Ppc Pressure pseudo critical 8
Pr Tekanan reservoir 17
Pwf Tekanan alir dasar sumur 12
P* False pressure 16
P2 Pressure square 16
Q Laju alir fluida 6
Qg Laju alir gas 13
Qo Laju alir minyak 12
Qsc Standard condition rate 26
re Radius pengurasan 12
ri Radius investigasi 22
rw Radius sumur 12
s Faktor skin 15
Sg Saturasi gas 7
So Saturasi minyak 7
Sw Saturasi air 7
tn Waktu produksi test 14
tp Waktu produksi 14
Tpc Temperature pseudo critical 8
Tr Temperature reservoir 17
V Kecepatan alir fluida 6
Z Faktor deviasi gas 7
 Porositas 5
µ Viskositas 6
γg Specific gravity gas 7
ρg Densitas gas 8
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG (lanjutan)

LAMBANG Nama Pemakaian


pertama kali

xviii
pada halaman
ρair Densitas air 8
ρr Reduced gas density 9
µg Viskositas gas 10
∆t Selang waktu 14
∆Pskin Kehilangan tekanan akibat skin 15
Ψ(P) Pseudo pressure 17
P2 Pressure square 16
ω Storativity 21
λ Interporosity flow 21
α Parameter block-shape 22

xix
BAB I PENDAHULUAN

Pada tugas akhir ini terdapat latar belakang, rumusan masalah, maksud dan
tujuan, ruang lingkup permasalahan, serta manfaat penelitian dari analisis uji
Pressure Build Up dan Deliverability.

I.1 Latar Belakang Dan Deskripsi Permasalahan


Rendahnya produksi suatu sumur merupakan suatu permasalahan dalam
suatu operasi produksi. Kondisi ini dapat disebabkan karena penurunan tekanan
reservoir, rusaknya peralatan produksi atau karena rusaknya formasi. Peralatan
produksi apabila masih cukup baik dan tekanan masih cukup besar, namun terjadi
penurunan produksi, maka perlu diadakan suatu analisa mengenai kemungkinan
adanya kerusakan formasi. Kerusakan formasi, yang meliputi adanya factor skin,
penurunan tekanan, dan penurunan permeabilitas. Kerusakan formasi adalah
rusaknya produktivitas formasi sumur akibat tersumbatnya pori-pori dekat lubang
bor atau rekahan- rekahan yang berhubungan langsung dengan lubang bor dan
Produktivitas formasi adalah kemampuan suatu reservoir untuk mengalirkan fluida
dari formasi kedalam sumur.
Sumur AZ-01 pertama kali di bor pada tahun 2016 dan mengindikasikan
adanya gas. Sumur ini menembus beberapa lapisan, dan dari lapisan yang ditembus
tersebut terdapat lapisan yang mengandung gas, yaitu Lapisan A yang berada di
kedalaman 1748 – 1752 meter. Pada sumur ini dilakukan uji Pressure Build Up dan
Deliverability untuk karakteristisasi reservoir dan menentukan produktifitas sumur
gas. Metode yang digunakan untuk uji Deliverability yaitu Modified Isochronal
Test.
Pressure build up test merupakan uji yang paling sederhana yang dapat
dilakukan pada sumur gas. Pressure build up test merupakan salah satu teknik
pengujian tekanan transien yang paling umum digunakan, yaitu dengan cara
memproduksikan sumur dengan laju produksi konstan selama waktu tertentu
kemudian sumur ditutup. Penutupan sumur ini menyebabkan naiknya tekanan yang
dicatat sebagai fungsi waktu (Abdassah, 2005).
Metode Modified Isochronal Test merupakan pengembangan dari metode

20
isochronal test yang diusulkan oleh Katz dkk. (1959). Perbedaannya terletak pada
penutupan sumur tidak perlu mencapai kondisi stabil. Pada resevoir yang ketat
(tight) penggunaan isochronal test belum tentu menguntungkan bila diinginkan
penutupan sumur sampai mencapai kondisi stabil. Pada modified isochronal test,
selang waktu penutupan dan pembukaan sumur dibuat sama. Analisis deliverability
dilakukan agar dapat diketahui nilai Absolute Open Flow Potential (AOFP) dari
sumur tersebut sehingga laju alir optimal dari sumur tersebut dapat ditentukan.

I.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan penjelasan di atas, masalah yang akan dipecahkan dapat
diuraikan sebagai berikut :
1. Bagaimana hasil pengolahan data pressure build up pada sumur tersebut ?
2. Bagaimana hasil analisis kerusakan formasi pada sumur tersebut ?
3. Berapakah nilai permeabilitas, dan flow efficiency pada sumur tersebut ?
4. Berapakah besar nilai absolute open flow potential pada sumur tersebut ?

I.3 Maksud Dan Tujuan Penelitian


Maksud dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui produktivitas
dan kerusakan formasi dari sumur tersebut yang mana dapat digunakan sebagai data
pengembangan sumur tersebut kedepannya.
Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah :
1. Untuk mengetahui karakteristik reservoir pada sumur tersebut.
2. Untuk dapat memperkiran kerusakan formasi.
3. Untuk mendapatkan nilai dari parameter permeabilitas, dan flow efficiency.
4. Untuk mendapatkan nilai absolute open flow potential

I.4 Ruang Lingkup Penelitian Dan Batasan Masalah


Pada Tugas Akhir ini, uji pressure build up pada sumur AZ-01 dilakukan pada
lapisan yang mengindikasikan adanya gas, yaitu pada Lapisan A. Analisis pressure
build up dilakukan menggunakan metode Pressure Derivative dan metode
Horner. Sedangkan Analisis deliverability sumur yang dilakukan adalah
Modified Isochronal Test. Hasil dari deliverability akan digunakan untuk

21
menentukan AOFP. Baik Analisis pressure build up maupun modified
isochronal test dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Ecrin v4.02 dan
Microsoft Excel.
Adapun batasan masalah dalam penelitian ini analisis data pressure build
up untuk mengetahui karakteristik sumur AZ-01 seperti permeabilitas, skin
faktor, dan tekanan awal reservoir. Analisis deliverability dengan menyesuaikan
metode apa yang digunakan dilapangan. Analisis untuk mengetahui nilai
absolute open flow potential pada sumur tersebut berdasarkan kondisi yang ada.

I.5 Manfaat Penelitian


Dari Analisis yang dilakukan, maka dapat diketahui karakteristik reservoir
dan menganalisis aliran fluida disekitar lubang bor apakah mengalami hambatan
skin effect dan berapa jauh hambatan ini berpengaruh terhadap aliran produk Dari
Analisis yang dilakukan, maka dapat diketahui karakteristik reservoir dan
menganalisis aliran fluida disekitar lubang bor apakah mengalami hambatan skin
effect dan berapa jauh hambatan ini berpengaruh terhadap aliran produksi flow
efisiency serta menentukan laju produktifitas sumur gas.

22
BAB II TINJAUAN UMUM

Analisis pengujian sumur pada tugas akhir kali ini akan digunakan metode uji
Pressure Build Up dan uji deliverabilitas dengan tipe modified isochronal test.
Prinsip dasar dari Pressure Build-Up Test adalah dengan penutupan sumur dan
merekam tekanan dasar sumur yang terukur pada selang waktu tertentu. Horner
merupakan yang pertama kali mempublikasi metode ini dengan melakukan plot
tekanan terhadap fungsi waktu.
Metode analisis Pressure Build-Up Test pada umumnya dilakukan untuk
mengetahui karakteristik reservoir serta menganalisis kemungkinan–kemungkinan
perubahannya setelah diproduksikan pada selang waktu tertentu yang dilakukan
secara berkala. Analisis tekanan ransient ini bertujuan juga untuk meninjau
kerusakan formasi dalam skala kuantitatif dan boundary yang dimiliki suatu
reservoir sehingga dapat diperkirakan model reservoirnya.
Deliverability test adalah suatu uji produksi sumur yang umum digunakan
untuk penentuan kemampuan produksi (AOFP) lapisan. Pada umumnya pengujian
untuk sumur yang sudah di produksi dapat dilakukan dengan metode Modified
Isochronal Test.
Selanjutnya dalam melakukan uji Pressure Build Up dan uji deliverabilitas,
pengetahuan awal terhadap parameter-parameter sifat batuan dan fluida reservoir
sangat diperlukan, karena akan berpengaruh terhadap hasil dari analisis yang akan
didapatkan.

II.1 Karakteristik Batuan Reservoir


Batuan reservoir merupakan batuan berpori di mana di dalam pori-pori
tersebut terakumulasi fluida reservoir (air, minyak, dan gas). Setiap batuan reservoir
yang ada mempunyai sifat fisik berbeda, hal ini tergantung dari waktu pembentukan
dan proses dari pembentukan reservoir. Sifat - sifat fisik batuan reservoir antara lain
porositas, permeabilitas dan saturasi yang dapat diperoleh dari analisis batuan inti
reservoir di laboratorium dan analisis logging (Ginting & Tobing, 2015).

1
II.1.1 Porositas
Porositas adalah ukuran besarnya ruang pori yang ada di dalam batuan
reservoir atau dengan kata lain merupakan perbandingan antara volume ruang pori
(pore volume) terhadap volume total batuan (bulk volume). Besar kecilnya porositas
suatu batuan akan menentukan kapasitas penyimpanan fluida reservoir. Porositas
akan dianggap konstan selama produksi berlangsung, namun dalam realitanya
porositas cenderung mengecil dengan semakin lamanya suatu reservoir berproduksi
(Irham & Ginting, 2014).
Gambar II.1 berikut ini menggambarkan keadaan fluida yang ada pada daerah
pori – pori batuan.

Gambar II-1 Struktur Pori-Pori Batuan (Rukmana, Kristanto, & Aji, 2011)

Satuan porositas adalah dalam fraksi atau persen (%). Secara matematis
porositas dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut (Rukmana, Kristanto,
& Aji, 2011):

volume pori-pori
Porositas =  = volume bulk batuan
(II.1)

Berdasarkan proses terbentuknya batuan, porositas dibagi atas dua tipe yaitu
porositas primer dan sekunder. Tipe batuan sedimen atau reservoir yang
mempunyai porositas primer adalah batuan konglomerat, batupasir, dan batu
gamping. Porositas sekunder dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan
(Rukmana, Kristanto, & Aji, 2011):
1. Porositas larutan, adalah ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya proses
pelarutan batuan.

2
2. Rekahan, celah, kekar, yaitu ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya
kerusakan struktur batuan akibat dari variasi beban, seperti lipatan, sesar, atau
patahan. Porositas tipe ini sulit dievaluasi secara kuantitatif karena bentuknya tidak
teratur.
3. Dolomitasi, dalam proses ini batu gamping (CaCO3) ditransformasikan menjadi
dolomite (CaMg(CO3)2).
Secara umum berdasarkan konektivitas ruang porinya, dalam ilmu
perminyakan dibagi menjadi dua yaitu porositas efktif dan absolut. Porositas efektif
digunakan untuk menghitung fluida reservoir yang dapat bergerak atau yang dapat
diproduksi.

II.1.2 Permeabilitas
Permeabilitas adalah sifat dari batuan yang merupakan kemampuan batuan
untuk dapat melewatkan fluida tanpa merusak batuan tersebut. Permeabilitas (k)
pertama kali dijelaskan secara matematis oleh Henry Darcy (1856). Permeabilitas
berpengaruh terhadap besarnya kemampuan produksi (laju alir) pada sumur-sumur
penghasilnya.
Hubungan permeabilitas dengan laju alir di suatu sistem media berpori
ditemukan oleh Darcy, dengan persamaan sebagai berikut (Rukmana, Kristanto, &
Aji, 2011):
k dP
V=  (II.2)
 dL
Secara kuantitatif besarnya permeabilitas suatu batuan ditentukan
berdasarkan rumus Darcy (untuk aliran laminer dan viscous). Harga k dinyatakan
dalam satuan Darcy atau dalam satuan mili Darcy:
 xQ x L
k= (II.3)
A x P
Keterangan:
Q = laju alir fluida (debit aliran), cm/sec
k = permebilitas media berpori, Darcy
µ = viskositas fluida, centipoise (cp)
L = panjang media berpori, cm

3
A = luas penampang aliran, cm2
Berdasarkan jumlah fasa fluida yang mengalir dalam suatu batuan, maka
permeabilitas batuan dapat dibedakan menjadi (Irham & Ginting, 2014):
1. Permeabilitas Absolut (ka)
Yaitu ukuran kemampuan batuan untuk mengalirkan satu jenis fluida maka
di dalam batuan tersebut tidak terdapat jenis fluida lain.
2. Permeabilitas Efektif (ke)
Yaitu ukuran kemampuan batuan untuk mengalirkan lebih dari satu jenis
fluida maka di dalam batuan tersebut terdapat beberapa jenis fluida lain.
3. Permeabilitas Relatif (kr)
Yaitu perbandingan antara permeabilitas efektif dengan permeabilitas
absolut.

II.1.3 Saturasi
Saturasi fluida merupakan perbandingan antara volume pori-pori batuan
yangditempati secara efektif oleh suatu fluida tertentu dengan volume total pori-
pori dalam batuan reservoir (Rukmana, Kristanto, & Aji, 2011). Di dalam pori-pori
batuan reservoir bisa terdapat minyak, air, dan gas atau hanya minyak dan air.
Saturasi fluida terdiri dari :
1. Saturasi Air (Sw)
Yaitu perbandingan antara volume pori yang terisi air dibanding dengan
volume total pori.
2. Saturasi Minyak (So)
Yaitu perbandingan antara volume pori yang terisi oleh minyak dibanding
dengan volume total pori
3. Saturasi Gas (Sg)
Yaitu perbandingan antara volume pori yang terisi oleh gas dibanding dengan
volume total pori.

II.2 Karakteristik Fulida Reservoir (Gas)


Sifat – sifat fluida gas dalam pembahasan ini meliputi specific gravity gas
(𝛾g), faktor deviasi gas (z), faktor volume formasi gas (Bg), viskositas gas (𝜇 g), dan

4
kompresibilitas gas (Cg).

II.2.1 Specific Gravity Gas (γg)


Specific gravity gas merupakan perbandingan antara densitas gas dengan
udara. Kedua densitas tersebut diukur dalam tekanan dan temperature yang sama.
Biasanya, tekanan dan temperatur pada kondisi permukaan atau standar (14.7 psia
dan 60˚F). Berikut adalah persamaan yang digunakan dalam menentukan specific
gravity gas (Ahmed T. , 2000):
g
g  (II.4)
 air

II.2.2 Faktor Deviasi Gas (Z)


Gas deviation factor merupakan perbandingan antara volume aktual suatu
n-mol gas pada kondisi tekanan dan suhu tertentu terhadap volume ideal untuk n-
mol gas pada kondisi tekanan dan suhu yang sama (Ahmed T. , 2000). Faktor
deviasi merupakan perbandingan antara (Actual volume of n mole of gas at certaint
P and T) dengan (Ideal (calculated) volume of n mole of gas at sam P and T).
Faktor kompresibilitas tidak berharga konstan namun bervariasi dengan
perubahan komposisi gas, temperatur, dan tekanan. Untuk gas ideal, Z faktor
berharga satu. Z faktor berharga satu ketika pada kondisi standar 14.7 psia dan 60˚F.
Sedangkan untuk gas nyata z dapat berharga lebih kecil atau lebih besar dari
satu namun dapat juga berharga satu tergantung dari tekanan dan temperatur yang
mempengaruhinya.
Penentuan Temperature pseudo critical (Tpc) dan Pressure pseudo critical
(Ppc) didefinisikan sebagai (Ikoku C. , 1982):
Ppc = 𝝨Yi Pci (II.5)
Tpc = 𝝨Yi Tci (II.6)
apabila komposisi natural gas tidak tersedia Tpc dan Ppc dapat ditentukan dengan
korelasi Brown et al. korelasi ini dapat menentukan nilai Ppc dan Tpc berdasarkan
harga gas gravity berikut ini:
Ppc = 709.604 – 58.718 𝛾g (II.7)
Tpc = 170.491 + 307.344 𝛾g (II.8)

5
pada Gambar II.2 berikut ini merupakan grafik persamaan untuk Tpc dan Ppc
menggunakan korelasi (After Brown et al.):

Gambar II-2 Sifat Pseudocritical dari Berbagai Komposisi Gas (Ikoku C. , 1982)

Setelah nilai Ppc dan Tpc didapat, dilakukan penentuan Pseudoreduced


pressure (Ppr) dan Pseudoreduced temperature (Tpr) berikut ini (Ikoku C. , 1982):
P
Ppr = (II.9)
Ppc

T
Tpr = (II.10)
T pc
setelah harga dari Tpr dan Ppr didapat, dihitung faktor deviasi gas dengan
menggunakan korelasi Dranchuk – Abou Kassem (Ahmed T. , 2000):
𝐴2 𝐴3 𝐴4 𝐴5 𝐴7 𝐴8 𝐴
Z =1 + (𝐴1 + + 3 + 4 + 5 ) 𝜌𝑟 + (𝐴6 + + 2 ) 𝜌𝑟2 + 𝐴9 (𝑇 7 +
𝑇𝑝𝑟 𝑇𝑝𝑟 𝑇𝑝𝑟 𝑇𝑝𝑟 𝑇𝑝𝑟 𝑇𝑝𝑟 𝑝𝑟

𝐴8 𝜌2
2 ) 𝜌𝑟5 + 𝐴10 (1 + 𝐴11 𝜌𝑟2 ) (𝑇 3𝑟 ) exp(−𝐴11 𝜌𝑟2 ) (II.11)
𝑇𝑝𝑟 𝑝𝑟

0.27 Ppr
𝜌𝑟 = (II.12)
( Z T pr )

Keterangan:
Tpr = pseudoreduced temperature, ˚R
Ppr = pseudoreduced pressure, psia
𝜌𝑟 = reduced gas density

6
Tabel II.1 di bawah menunjukkan nilai konstanta korelasi Dranchuk – Abou
Kassem:

Tabel II.1 Konstanta Dranchuk – Abou Kassem (Ahmed T. , 2000)


Konstanta Nilai
A1 0.32650
A2 -1.07000
A3 -0.53390
A4 0.01569
A5 -0.05165
A6 0.54750
A7 -0.73610
A8 0.18440
A9 0.10560
A10 0.61340
A11 0.72100

II.2.3 Faktor Volume Formasi Gas (Bg)


Gas Formation Volume Factor didefinisikan sebagai hubungan volume gas
yang diukur pada kondisi reservoir dengan volume gas yang diukur pada kondisi
standar (60˚F dan 14.7 psia). Pada standard condition dengan mengasumsikan z =
1, 1 cuft volume gas (1 SCF) persamaan Faktor Volume Formasi Gas menjadi
(Ahmed T. , 2000):
Psc x Z x T
Bg = (II.13)
Tsc x P
Persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi:

Bg = 0.02829 Z T cuft/scf (II.14)


P
ZT
Bg = 0.0504 bbl/scf (II.15)
P

II.2.4 Viskositas Gas (µg)


Viskositas fluida merupakan besarnya keengganan fluida untuk mengalir.
Viskositas gas dipengaruhi oleh temperature, tekanan, dan komposisi gas.
Viskositas gas hidrokarbon umumnya lebih rendah daripada viskoitas gas non
hidrokarbon. Viskositas gas dapat ditentukan dengan menggunakan korelasi Carr,

7
Kobayashi, and Burrows, serta dapat juga ditentukan dengan persamaan Lee
Gonzales Eakin (1966). Pada permasalahan ini metode yang digunakan adalah
metode Lee Gonzales Eakin (Ahmed T. , 2000):
𝜇 g = K1 exp (X𝜌Y) (II.16)
(0.00094  2 x 10 6 M g ) T 15
K1 = (II.17)
(209  19 M g  T )
986
X = 3.5 + + 0.01 Mg (II.18)
𝑇

PMg
𝜌 = 0.00149406 (II.19)
ZT
Y = 2.4 - (0.2X) (II.20)
Mg = 28.967 𝛾g (II.21)

Keterangan:
𝜇g = viskositas gas, cp
𝜌 = densitas gas, g/cm3
Mg = berat molekul gas
𝛾g = specific gravity gas

II.2.5 Kompresibilitas Gas (Cg)


Kompresibilitas gas didefinisikan sebagai perubahan volume gas yang
disebabkan oleh adanya perubahan tekanan. Untuk fasa cair, kompresibilitas relatif
kecil dan dapat diasumsikan konstan. Untuk fasa gas, kompresibilitasnya tidak kecil
dan tidak konstan dapat dihitung dengan korelasi Mattar, Brar, & Aziz (1975)
(Ahmed T. , 2000).

II.3 Persamaan Aliran Fluida Dalam Media Berpori


Persamaan aliran fluida dalam media berpori yang digunakan untuk
menggambarkan kelakuan aliran pada suatu batuan reservoir dapat digambarkan
dalam berbagai bentuk aliran tergantung pada kombinasi variabel sebelumnya
seperti jenis aliran, jenis fluida, dan lainnya. Dengan menggabungkan hukum
persamaan kekekalan massa dengan persamaan Darcy dan berbagai persamaan
keadaan, maka persamaan aliran yang diperlukan dapat dikembangkan.

8
Hukum dasar aliran fluida pada media berpori adalah hukum Darcy.
Persamaan matematis yang dikembangkan oleh Darcy pada tahun 1956 menyatakan
bahwa kecepatan fluida homogen pada media berpori sebanding dengan gradien
tekanan, dan berbanding terbalik dengan viskositas fluida. Untuk sistem linier
horizontal, persamaannya dapat dilihat pada persamaan (II.2). Persamaan tersebut
hanya berlaku untuk aliran yang laminar dan tanda negatif di dalam persaman (II.2)
menyatakan bahwa aliran yang terjadi berlawanan arah dengan penurunan
potensial. Dalam satuan lapangan persamaan (II.2) menjadi (Ahmed & McKinney,
2005):
0.00708 k h ( Ps  Pwf )
Qo  (II.22)
 o Bo ln (re / rw )
kemudian persamaan (II.22) tersebut dapat diubah untuk menentukan tekanan P
pada radius tertentu:
 Q B   r 
P  Pwf   o o o  ln  e  (II.23)
 0.00708 k h   rw 
Karena hukum Darcy hanya berlaku untuk aliran yang laminar, maka
kemudian dikembangkan model-model aliran yang terjadi pada pori-pori reservoir
yaitu pola aliran radial, pola aliran linier, pola aliran spherical, aliran bilinier, aliran
semi linier dan gradien flow model. Dari persamaan – persamaan aliran tersebut,
maka persamaan (II.23) diturunkan menjadi suatu persamaan yang dikenal dengan
persamaan diffusivitas. Persamaan diffusivitas adalah salah satu persamaan penting
yang digunakan pada teknik perminyakan, khususnya menjadi dasar dalam analisis
uji sumur. Berikut adalah persamaan diffusivitas (Ahmed & McKinney, 2005):
 2 p 1 p   C t p
  (II.24)
r 2
r r 0.006328 k t
Dalam menurunkan persamaan diffusivitas di atas menjadi suatu persamaan
yang dapat digunakan dalam analisis uji sumur digunakan metode Ei function
solution. Untuk reservoir yang bersifat infinite – acting, maka Matthews dan
Russell (1967) mengajukan persamaan berikut dengan menggunakan Ei function
solution yang mengacu pada persamaan diffusivitas di atas:
 70.6 Qo  Bo    948  Ct r 2 
P (r.t )  Pi    Ei   (II.25)
 kh   kt 

9
Dengan Ei function solution tersebut, maka persamaan (II.25) diturunkan menjadi
persamaan (Ahmed & McKinney, 2005):

162.6 Qo Bo  o   k t  
Pwf  Pi  log  
2 
 3.23 (II.26)
kh     Ct r  

II.4 Skin
Skin adalah zona disekitar perforasi yang mengalami penurunan
permeabilitas. Skin merupakan suatu besaran yang menunjukkan ada atau tidaknya
kerusakan formasi disekitar lubang sumur. Skin ini mengakibatkan berkurangnya
permeabilitas formasi disekitar lubang bor disebabkan oleh runtuhnya dinding
lubang sumur, terjadinya pengendapan, dan invansi partikel-partikel selama
pemboran, completion, dan produksi.
Merunut pernyataan Hurst di buku (Matthew & Russell, 1967), formasi di
sekitar lubang sumur mengalami kerusakan. Luas daerah formasi yang mengalami
kerusakan ini relatif tipis hanya di sekitar lubang sumur maka disebut skin, sehingga
aliran dari formasi terhambat mengalir ke lubang sumur. Distribusi tekanan karena
adanya skin dapat dilihat pada Gambar II.3 di bawah ini.

Gambar II-3 Distribusi Tekanan Akibat Adanya Skin (Rahmatullah, 2017)


Selanjutnya berdasarkan Horner (1951) membuat suatu klasifikasi nilai
skin, yaitu:

10
s = + (positif) menunjukkan indikasi adanya kerusakan formasi
s = 0 (nol) menyatakan tidak ada kerusakan atau perbaikan formasi
s = - (negatif) memperlihatkan indikasi adanya perbaikan formasi

Pada kasus terjadinya non–Darcy flow, terdapat skin effect tambahan yang
biasa terjadi pada sumur gas yang disebabkan karena meningkatnya kecepatan
aliran pada saat radial flow. Dengan meningkatnya kecepatan aliran radial flow,
perlahan-lahan akan memunculkan aliran turbulen pada sekitar daerah wellbore
yang akan menyebabkan bertambahnya pressure drop pada daerah wellbore
tersebut (Amanat, 2003).
Kerusakan yang disebabkan oleh non-Darcy flow biasanya dikenal dengan
apparent skin (s). Selain non-Darcy flow, skin effect tambahan juga dapat
disebabkan oleh bentuk geometri sumur salah satunya adalah karena partial
perforation, dimana zona prospek sumur dilakukan perforasi namun ketebalan
peforasi yang dilakukan lebih kecil dari ketebalan reservoir (hp < h). Hal ini akan
menyebabkan terhambatnya aliran fluida dari reservoir menuju lubang sumur.

II.5 Uji Pressure Build Up


Pressure Build Up Test adalah suatu teknik pengujian pressure transient
dengan cara memproduksikan sumur dengan laju produksi konstan (flow period)
selama waktu tertentu kemudian sumur ditutup/shut-in period (biasnya pada sumur
gas dengan menutup choke di permukaan). Penutupan sumur ini menyebabkan
naiknya tekanan yang dicatat sebagai fungsi waktu (Abdassah, 1997).
Dari data tekanan yang didapat, kemudian dapat ditentukan permeabilitas
formasi, daerah pengurasan saat itu, adanya kerusakan atau perbaikan formasi, dan
batas reservoir. Gambar II.4 menunjukkan grafik pengujian sumur dengan Pressure
Build Up:

11
Gambar II-4 Plot (Qg dan P) vs Time Pressure Build Up Test (Ahmed & McKinney,
2005)

II.5.1 Karakteristik Kurva Plot Pressure Build Up


Karakteristik kurva Pressure Build Up dapat menggambarkan perubahan
tekanan yang terjadi oleh sumur yang diuji. Pembagian waktu ini dibagi untuk
membantu dalam melakukan analisis pressure transient. Pembagian waktu dalam
kurva Pressure Build Up dibagi menjadi tiga yaitu Early Time Region, Middle Time
Region dan Late Time Region (Rahmatullah, 2017).

1. Early Time Region


Mula mula sumur ditutup, Pressure Build Up Test memasuki segmen data
awal, dimana aliran didominasi oleh adanya pengaruh wellbore storage, skin dan
phase segregation (gas hump). Bentuk kurva yang dihasilkan oleh bagian ini
merupakan garis melengkung pada kertas semilog, dimana mencerminkan
penyimpangan garis lurus akibat adanya kerusakan formasi di sekitar lubang sumur
atau adanya pengaruh wellbore storage seperti terlihat pada Gambar II.6.

2. Middle Time Region


Dengan bertambahnya waktu, radius pengamatan akan semakin jauh menjalar
kedalam formasi. Setelah pengaruh data awal terlampaui maka tekanan akan masuk
bagian waktu pertengahan.
Pada saat inilah reservoir bersifat infinite acting dimana garis lurus pada

12
semilog terjadi. Dengan garis lurus ini dapat ditentukan beberapa parameter
reservoir yang penting, seperti: kemiringan garis atau slope (m), permeabilitas
effektif (k), permeability thickness (kh), faktor kerusakan formasi (s), tekanan rata-
rata reservoir.

3. Late Time Region


Bagian akhir dari suatu kurva setara tekanan adalah bagian waktu lanjut (late
times) yang ditunjukkan dengan berlangsungnya garis lurus semilog mencapai
batas akhir sumur yang diuji dan adanya penyimpangan kurva garis lurus.
Hal ini disebabkan karena respon tekanan sudah dipengaruhi oleh kondisi
batas reservoir dari sumur yang diuji atau pengaruh sumur-sumur produksi maupun
injeksi yang berada disekitar sumur yang diuji. Periode ini merupakan selang waktu
diantara periode transient (peralihan) dengan awal periode semi steady state. Selang
waktu ini adalah sangat sempit atau kadang-kadang hampir tidak pernah terjadi.
Gambar II.5 di bawah ini menunjukkan time region dari analisis kurva
Pressure Build Up.

Gambar II-5 Time Region Kurva Pressure Build Up (Suabdi, 2012)

II.5.1 Metode Horner


Dasar analisis Pressure Build Up Test ini diajukan oleh Horner (1951),
dengan prinsip adalah melakukan plot tekanan (P) terhadap suatu fungsi waktu (tp
+ ∆t) / ∆t. selanjutnya, juga yang mendasari analisis ini adalah yang dikenal dengan
prinsip superposisi.
Pendekatan Horner dibagi menjadi tiga metode yang dapat digunakan untuk
menganalisis Pressure Build Up pada reservoir gas, yaitu sebagai berikut:

13
1. Metode Pendekatan P
Metode ini digunakan untuk analisis pada sumur gas yang memiliki tekanan
reservoir di atas 3000 psi, dimana pendekatan variable P/gZ adalah konstan.
Ketika persamaan ini berlaku, maka persamaannya menjadi (Ahmed T. , 2000):
g Z P P dP
P=
P 0 g Z
(II.27)

Pada keadaan unsteady state, persamaan aliran akan menjadi:


   t p  t   
  k    
Pws = Pi – 162.6 q g B g  g log   t    3.23  0.869 s  (II.28)
kh   C r 2 
  g t w  
  
 

Plot P versus log (tp/∆t)/∆t pada skala semilog, sehingga akan diperoleh garis lurus
dengan kemiringan tertentu yang besarnya m:
162.6 q g B g  g
m= (II.29)
kh

Sehingga persamaan (II.29) menjadi:


   t p  t   
  k    
Pws = Pi – m log   t    3.23  0.869 s  (II.30)
   C r 2  
  g t w 

  
 

Maka persamaan faktor skin menjadi:


 P1hr  Pwf  k 
s = 1.151    log  3.23 (II.31)
    C t rw 2
 m  

Sedangkan hambatan aliran yang terjadi pada formasi produktif akibat adanya skin
effect, dapat diterjemahkan melalui besarnya penurunan tekanan. Untuk ∆Pskin
dengan metode pendekatan pressure menggunakan persamaan:
∆Pskin = 0.87. m. s , psi (II.32)
Dengan metode pendekatan pressure maka besarnya Flow Efficiency (FE) yang
menggambarkan efektifitas pengaliran dalam reservoir dapat ditentukan
menggunakan persamaan:

14
P *  Pwf  Pskin
FE = (II.33)
P *  Pwf
Flow efficiency dipengahruhi oleh besarnya skin, apabila terjadi kerusakan pada
reservoir maka nilai FE akan bernilai (FE<1), dan apabila terjadi perbaikan pada
reservoir maka nilai FE akan bernilai (FE>1).
Gambar II.6 di bawah ini menunjukkan grafik pressure versus Log Horner
 t p  t 
Time  :

  t 

Gambar II-6 Grafik P vs Log Horner Time (tp + ∆t)/∆t (Ahmed T. , 2000)

2. Metode Pendekatan P2
Dengan metode ini digunakan pada sumur gas yang mempunyai tekanan
reservoir di bawah 2000 psi, dimana pendekatan variable 𝜇 gZ adalah konstan
(Ahmed T. , 2000):
g Z P P dP P 2
P=
P 
0

 g Z 2P
(II.34)

Pada keadaan unsteady state, persamaan ini menjadi:


   t p  t   
 k   

Pws2 = Pi2 – 57910 q g Psc T Z  g log   t    3.23  0.679 s  (II.35)
 
   g C t rw 
2
k h Tsc
 
   
 

Dimana Psc = 14.7 psi dan Tsc = 520 ˚R, persamaan (II.35) menjadi:

15
   t p  t   
  k  
 
P  Pi 
2 2 1637 q g T Z  g    t    (II.36)
ws
log  2 
 3.23  0.679s 
kh
    g C t w 
r 
  
 
 
Plot P2 versus log [tp + ∆t] / ∆t pada skala semilog, sehingga akan diperoleh garis
lurus dengan kemiringan tertentu sebesar m:
1637q g T Z  g
m= (II.37)
kh
Sehingga persamaan (II.38) menjadi:

   t p  t   
  k    
   t   
Pws  Pi  m log 
2 2
2 
 3.23  0.679s  (II.38)
 C r
  g t w  
  
 

Maka persamaan faktor skin menjadi:


 P 2  P 2  
 1hr   log k
s = 1.151 wf
 3.23 (II.39)
 m    C r 2

  t w 

Penentuan ∆Pskin dengan metode pendekatan pressure-squared (P2) dapat


menggunakan persamaan sebagai berikut:
∆P2skin = 0.87. m. s , psi2 (II.40)
Maka untuk menentukan nilai ∆Pskin, nilai yang didapat dari ∆P2skin diakarkan.
Sedangkan, besarnya Flow Efficiency (FE) dengan metode pendekatan pressure-
squared dapat ditentukan menggunakan persamaan:

( P * ) 2  ( Pwf ) 2  P 2 skin
FE = (II.41)
( P * ) 2  ( Pwf ) 2
3. Metode Pendekatan Pseudo Pressure
Metode ini dapat digunakan pada tekanan reservoir 2000 < Pr < 3000 untuk
fluida gas. Persamaan aliran diganti dengan parameter yang merupakan fungsi
tekanan semu (pseudo pressure) yang dinyatakan dengan persamaan (Ahmed T. ,
2000):
p P
Ψ(𝑃) = 2 pb Z
𝑑𝑃 (II.42)

16
Sehingga persamaan diffusivitas untuk pseudo pressure menjadi:
1 d  d  ( P)    C  d  ( P) 
r    (II.43)
r dr  dr  k  dt 
Sehingga persamaan dapat disusun berdasarkan parameter yang berkaitan pada
standard condition (14.7 psi dan 60 F), maka didapat persamaan sebagai berikut:
   t p  t   
  0.000264 k  
 
1637 q g T    t    (II.44)
 ( P ) ws   ( P) i   log    0.869 s 
kh
    g C t rw 2
 
    

Plot Ψ(P) versus log [tp + ∆t] / ∆t pada grafik skala semilog, sehingga akan diperoleh
garis lurus dengan kemiringan tertentu sebesar m:
1637 q g T
𝑚= (II.45)
kh
Sehingga persamaan (II.44) menjadi:
   t p  t   
  0.000264 k    
   t   
 ( P ) ws   ( P) i  m log    0.869 s  (II.46)
 
  g C t rw 2
 
    

Maka persamaan skin factor adalah sebagai berikut:
  ( P)1hr   ( P) wf  k 
s = 1.151    log  3.23 (II.47)
 m    Ct rw 2


Untuk ∆Pskin dengan metode pendekatan pseudo pressure menggunakan


persamaan:
Ψ(∆Pskin) = 0.87. m. s , psi2/cp (II.48)
Maka untuk menentukan nilai ∆Pskin, nilai yang didapat dari Ψ(∆Pskin)
dikonversikan kembali menggunakan persamaan P versus Ψ(∆Pskin). Selanjutnya,
besarnya Flow Efficiency (FE) dengan metode pendekatan pseudo pressure dapat
ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

 ( P * )   ( Pwf )   (Pskin )
FE = (II.49)
 ( P * )   ( Pwf )

17
II.5.3 Metode Type Curve
Type curve merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk menganalisa
hasil test tekanan pada suatu sumur. Data test diolah untuk membuat kurva-kurva,
kemudian kurva-kurva ini di matching kan dengan kurva Gringarten Type Curve
dan Pressure Derivative.

II.5.3.1 Gringarten Type Curve


Dalam kurva tipe Gringarten, nilai PD diplotkan vs fungsi waktu tD/cD, dengan
parameter CDe2s yang dapat dilihat pada Gambar II.7. Setiap nilai CDe2s yang
berbeda menggambarkan respons tekanan dengan bentuk yang berbeda (secara
teori) dari respons untuk nilai parameter lainnya. Namun, pasangan kurva yang
berdekatan dapat sangat mirip, dan fakta ini dapat menyebabkan ketidakpastian
ketika mencoba mencocokkan data uji dengan kurva ini. Gambar II.7 merupakan
kurva yang dikemukakan oleh Gringarten.

Gambar II-7 Gringarten Type Curve (Bourdet, 2002)

II.5.3.2 Pressure Derivative


Kurva pressure derivative ini muncul karena adanya penurunan tekanan dan
kurva ini merupakan hasil dari penyempurnaan kurva Gringarten yang
dikemukakan oleh Bourdet. Bourdet et.al telah mengemukakan sebuah analisa yang

18
dapat mengatasi permasalahan dalam penentuan rezim aliran dalam interpretasi
pemilihan model yang tepat dengan menggunakan metoda type curve matching
”pressure derivative”. Metode pressure derivative ini ada dikarenakan berguna
untuk menentukan berakhirnya periode efek dari wellbore storage. Penentuan dari
berakhirnya efek wellbore storage dengan analisis menggunakan metode Horner
tidak dapat memberikan hasil yang akurat bila digunakan untuk menganalisa suatu
reservoar yang kompleks.
Bourdet melakukan pengeplotan ulang terhadap kurva Gringarten pada
skala log-log. Kurva yang disempurnakan oleh Bourdet dapat dilihat pada Gambar
II.8 yang menunjukkan pada early time dapat dilihat adanya efek wellbore storage
dengan adanya garis dengan sudut 45. Pada saat efek wellbore storage berakhir
ditandai dengan berakhirnya dari unit slope  1-1.5 log cycle dihitung dari saat
penyimpangan unit slope. Selain itu dilihat pada masa transisi dari efek wellbore
storage menuju infinite-acting akan terjadi kenaikan kurva yang biasa disebut
dengan ”hump”, sebagai tanda bahwa pada sumur tersebut mempunyai nilai skin.

Gambar II-8 Type Curve Derivative (Ahmed & McKinney, 2005)

Bourdet et.al menunjukkan bahwa data-data yang terdapat didalam


kurvanya tidak selalu didefinisikan dengan baik, sehingga terebentuklah yang
dinamakan type curve matching.

19
Type curve matching sendiri ini muncul dengan menggabungkan kedua type
curve (Gringarten & Bourdet) dengan skala yang sama pada skala logaritma.

Gambar II-9 Pressure Derivative Type Curve (Bourdet, 2002)

Type curve matching yang sudah digabungkan antara kurva Gringarten type
curve dengan kurva pressure derivative dapat dilihat pada Gambar II.9. Bourdet
et al. (1983) mengatakan bahwa flow regime dan batas reservoir akan terlihat jelas
jika di plot menggunakan turunan tekanan pada skala log-log melainkan hanya
menggunakan tekanan. Metode tekanan derivatif memberikan keuntungan sebagai
berikut sebagaimana diuraikan oleh Ahmed (2004):
1. Heterogenitas pada plot uji sumur diperkuat dengan adanya plot turunan,
membuatnya lebih terlihat.
2. Regime aliran memiliki bentuk karakteristik yang unik pada plot derivatif.
3. Plot derivatif dapat banyak karakteristik yang berbeda dalam satu grafik.

Metode tekanan derivatif dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:


1. Hitung perubahan tekanan dan penurunan perubahan tekanan dengan rumus
berikut:
Perubahan tekanan: Δp = pws − pwf𝑎𝑡 Δ𝑡=0 (II.50)
𝑡𝑝 +Δ𝑡 𝑑(Δ𝑝)
Penurunan perubahan tekanan: Δ𝑡𝑒 Δ𝑝′ = Δ𝑡( Δ𝑡
)[ 𝑑(Δ𝑡) ] (II.51)

20
2. Plot perubahan tekanan terhadap Δ𝑡𝑒 dan penurunan perubahan tekanan
terhadap waktu Δ𝑡𝑒
Δ𝑡
Δ𝑡𝑒 = = [Δ𝑡/𝑡𝑝 + Δ𝑡]𝑡𝑝 (II.52)
1+(Δ𝑡/𝑡𝑝 )

3. Hitung koefisien wellbore storage C dengan cara menganalisa dan memilih


satu titik dimana efek wellbore storage sedang terjadi
𝑄𝐵 Δ𝑡𝑒
𝐶= ( Δ𝑝 ) (II.53)
24

4. Hitung koefisien wellbore storage dimensionless CD


0.8936
𝐶𝐷 = [𝜑ℎ𝑐 𝑟 2 ]𝐶 (II.54)
𝑡 𝑤

5. Cocokkan plot dengan type curve dan dari matching tersebut pilih Match
Point dan masukkan ke persamaan II.30 untuk mencari permeabilitas
6. Dari type curve yang cocok didapatkan nilai CDe2s, gunakan nilai tersebut
untuk menghitung faktor skin
1 (𝐶𝐷 𝑒 2𝑠 )𝑀𝑃
𝑠 = 2 𝑙𝑛[ ] (II.55)
𝐶𝐷

II.6 Tekanan Reservoir


Tekanan reservoir adalah besarnya gaya yang bekerja dalam satuan luas pada
formasi yang mengandung fluida hidrokarbon. Tekanan reservoir sangat berguna
untuk karakterisasi suatu reservoir, penentuan cadangan, dan peramalan perilaku
reservoir. Untuk reservoir yang bersifat infinite acting, tekanan rata-rata adalah P*
= Pi = Pr yang dapat diperkirakan dengan mengekstrapolasikan garis lurus pada
t p  t
grafik Horner ke harga = 1. Sedangkan sebaliknya untuk reservoir terbatas
t
hal ini tidak dapat dilakukan (Ahmed & McKinney, 2005).

II.7 Wellbore Storage


Wellbore storage adalah waktu tunda antara laju alir yang diatur pada
operating point ( choke pada wellhead) dengan laju alir pada keadaan sandface
(Houze & Viturat, 2011). Wellbore storage terjadi karena pada pengujian Pressure
Build Up Test dan Pressure Drawdown Test saat penutupan atau pembukaan sumur
dilakukan dengan membuka dan menutup valve atau choke yang terletak pada well
head (Yulianto & dkk, 2015). Sumur yang dalam keadaan mengalir (berproduksi)

21
kemudian katup di tutup maka Q (laju aliran fluida) akan langsung berhenti (laju
berharga 0), sedangkan aliran dari dalam reservoir ke dasar sumur (qr) tidak
langsung berhenti melainkan masih mengalir beberapa saat dengan laju alir yang
semakin mengecil, mengisi lubang sumur.
Kejadian inilah yang disebut dengan wellbore storage atau after flow effect.
Demikian pula sebaliknya bila sumur dari keadaan di tutup kemudian valve dibuka
maka sumur akan berproduksi sebesar Q yang fluidanya mula-mula berasal dari
lubang sumur, sementara dari reservoir ke dasar sumur masih belum terjadi aliran
(qr =0). Dengan bertambahnya waktu aliran dengan tekanan di permukaan tetap,
maka laju aliran di dasar sumur akan berangsur-angsur sama dengan laju aliran di
permukaan dan banyaknya fluida yang tersimpan di dalam lubang sumur akan
mencapai harga yang tetap. Hal ini menunjukkan bahwa gejala wellbore storage
telah berakhir. Keadaan ini yang menyebabkan keterlambatan kenaikan tekanan
build up pada daerah waktu awal (early time).

II.8 Storativity (ω)


Storativity adalah fraksi atau banyaknya fluida yang dapat tersimpan pada
porositas rekahan berbanding dengan fraksi fluida yang tersimpan pada seluruh
porsitas yang ada dalam sistem batuan baik di dalam rekahan maupun matriks
(Ahmed & McKinney, 2005). Apabila harga storativity (ω) bernilai 1, maka artinya
semua fluida berada didalam rekahan reservoir. Sedangkan apabila nilainya (0.5 <
ω < 1) maka fluida cenderung menempati porositas rekahan. Selanjutnya apabila
nilainya (0 < ω < 0.5) maka fluida cenderung menempati porositas matriksnya. Dan
terakhir apabila harga storativity (ω) bernilai 0, maka artinya semua fluida berada
di dalam porositas matriks reservoir. storativity (ω) dapat ditentukan dengan
persamaan sebagai berikut (Houze & Viturat, 2011) :
( ∅ h ct)f
ω = (∅ h ct) (II.56)
f+m

Keterangan:
ω = Storativity, fraksi
Ct = Kompresibilitas total, psi-1
h = thickness, ft

22
II.9 Interporosity (λ)
Interporosity flow (λ) merupakan kemampuan fluida untuk mengalir dari
matriks menuju ke dalam rekahan dengan kata lain interporsity adalah besaran yang
menunjukan tingkat perbandingan antara permeabilitas di dalam matriks dan
permeabilitas di dalam rekahan (Ahmed & McKinney, 2005). Apabila nilai
interporosity lebih kecil dari 1 maka permeabilitas rekahan lebih besar daripada
permeabilitas matriks dalam reservoirnya.
Di bawah ini merupakan persamaan penentuan interporosity flow dalam
kondisi reservoir two porosity model (Houze & Viturat, 2011):
k 2
λ=α ( km) rw (II.57)
f

Keterangan:
λ = Interporosity Flow
km = Permeabilitas Matriks, mD
kf = Permeabilitas Fissure, mD
α = Parameter block-shape
rw = Radius Sumur, ft

II.10 Radius Investigasi


Radius investigasi atau jari-jari pengamatan menggambarkan sejauh mana
(jarak dari lubang bor yang diuji) pencapaian transien tekanan akibat suatu produksi
atau penutupan sumur (Lee, 1982). Menurut (SKK MIGAS, 2007)Radius
investigasi dapat dianalogikan sebagai batas areal cadangan namun harus dalam
reservoir yang sama. Seiring berjalannya waktu, transien tekanan akan mencapai
lebih jauh ke dalam reservoir.
Efek dari gangguan ini akan mengecil bahkan tidak terlihat lagi pada suatu
jarak tertentu. Jarak terjauh dimana efek dari gangguan ini masih terdeteksi, inilah
yang disebut dengan radius investigasi. Nilai radius investigasi dalam satuan feet
(ft), dapat ditentukan dengan persamaan whittle and gringarten:

ri = kt (II.58)
948 g Ct

23
II.11 Well Model
Well model dapat berupa Vertical Well atau Horizontal Well. Selain itu juga
dapat berupa Vertical Well-Limited Entry Model. Perbedaan antara Vertical Well
dengan Limited Entry Model terletak pada interval perforasinya. Vertical Well
Model memiliki ketebalan interval perforasi yang sebanding dengan ketebalan
reservoirnya, sedangkan pada Vertical Well-Limited Entry Model sumur
berproduksi dari interval perforasi yang lebih kecil dibandingkan dengan ketebalan
formasi (Houze & Viturat, 2011).

II.12 Model Reservoir


Model reservoir terdiri dari Reservoir Homogeneus dan Reservoir
Heterogenous. Reservoir Homogeneous merupakan model reservoir yang
mengasumsikan porositas dan permeabilitas seragam diseluruh bagian reservoir
dengan respon pada plot pressure derivative akan menunjukan plot Bourdet yang
lurus pada middle time dengan storativity (ω=0). Sedangkan model Reservoir
Heterogenous atau Dual Porosity menggambarkan permeabilitas dan porositas
yang tidak seragam dalam reservoir dengan respon plot Bourdet yang mempunyai
lengkungan pada middle time dengan storativity (ω > 0). Dual Porosity Reservoir
memiliki dua media pori yaitu matriks dan fissures yang digambarkan dengan
adanya storativity (ω), sedangkan untuk keadaan permeabilitasnya digambarkan
oleh interporosity flow (λ) (Houze & Viturat, 2011).

II.13 Model Boundary


Salah satu yang penting dari aplikasi analisis Pressure Build Up adalah
menganalisis data test untuk mendeteksi atau menkonfirmasi adanya patahan. Saat
patahan terletak didekat sumur test, secara signifikan akan terekam perilaku tekanan
sumur saat dilakukan Build Up Test. Model batas (boundary) reservoir terbagi
menjadi dua macam, antara lain (Schlumberger, 1998):
1. Infinite
Batas Reservoir yang infinite dianggap luas reservoir tidak terbatas atau
belum bertemu dengan patahan sepanjang test dilakukan.
2. Fault

24
Salah satu jenis patahan, yaitu one fault. One fault adalah suatu model
patahan yang linier, terletak beberapa jarak dari sumur produksi (L), membatasi
perpanjangan reservoir dalam satu arah (sealing). Gambar II.10 menunjukkan
gambar respon kurva pressure derivative dan Horner plot untuk berbagai macam
kondisi sumur dan reservoir.

Gambar II-10 Respon Kurva Pressure Derivative dan Horner Plot untuk Berbagai
Macam Kondisi Sumur dan Reservoir (Economides, 1988)

II.14 Metode Uji Sumur Gas


Tujuan utama dari pengujian sumur adalah untuk menentukan kemampuan
suatu lapisan atau formasi berproduksi. Salah satu metode yang digunakan untuk
uji sumur gas yaitu uji deliverabilitas, dimana uji ini bertujuan untuk mengetahui
penurunan tekanan dasar sumur (∆P2) atau ∆Ψ(P) dengan laju produksi konstan
dikepala sumur (qsc) (Ahmed T. , 2000).
Hal ini telah diterima secara luas bahwa log (∆P 2) versus log (qsc) atau log
∆Ψ(P) vs qsc memiliki hubungan yang mendekati linier. Umumnya hubungan garis
lurus pada suatu sumur tertentu diterapkan disepanjang hidup sumur tersebut,
selama produksi sumur merupakan satu fasa.

25
Dengan memanjangkan kurva kinerja log ∆P2 versus qsc atau log ∆Ψ(P)
versus qsc akan dapat diketahui Absolute Open Flow Potensial (AOFP). Meskipun
harga AOFP tidaklah merefleksikan keadaan yang sebenarnya, akan tetapi dapat
untuk memperkirakan kapasitas suatu sumur. Biasanya uji deliverabilitas ini tidak
memerlukan informasi parameter fluida atau reservoir dan dibuat berdasarkan
persamaan empiris.
Pada masa awal dari tes penentuan deliverabilitas ini sudah dikenal
persamaan empiris yang selaras dengan hasil pengamatan. Persamaan ini
menyatakan hubungan antara qsc terhadap ∆P2 atau qsc terhadap pseudo pressure
∆Ψ(P) pada kondisi aliran yang stabil, yaitu (Rukmana, Kristanto, & Aji, 2011):
Qg = C (𝑃𝑟 2 – 𝑃𝑤𝑓 2 )n (II.59)
Qg = C (Ψ(Pr) - Ψ(Pwf))n (II.60)
Keterangan:
Qg = laju aliran gas, mscf/d
C = koefisien performa yang menggambarkan posisi kurva deliverabilitas
yang stabil, mscfd/psia2
n = bilangan eksponen, merupakan inverse slope dari garis kurva
deliverabilitas yang stabil dan mencerminkan derajat pengaruh faktor
inersia – turbulensi terhadap aliran, umumnya berharga 0.5 – 1. Apabila
eksponen lebih kecil dari 0.5 bisa terjadi karena liquid yang terakumulasi
dalam wellbore. Jika bilangan eksponen harga nya lebih dari 1 mungkin
terjadi fluid removal selama test berlangsung (Mohammed A, 1992).
Dari persamaan diatas dalam uji deliverabilitas didapatkan besarnya
parameter n. Harga n ini mencerminkan derajat pengaruh faktor inersia turbulensi
atas aliran. Harga n diperoleh dari sudut kemiringan grafik dengan sumbu tegak
(∆P2) atau ∆Ψ(P). Untuk aliran yang laminer akan memberikan harga n sama
dengan 1, dan bila faktor inersia – turbulensi berperan dalam aliran maka n < 1
(dibatasi sampai harga paling kecil sama dengan 0.5).

II.14.1 Back Pressure Test


Konvensional Back Pressure atau disebut juga Flow After Flow Test,
metode ini pertama kali ditemukan oleh Pierce dan Rawlins (1929) untuk

26
mengetahui kemampuan sumur berproduksi dengan memberikan tekanan balik
(Back Pressure) yang berbeda-beda (Rukmana, Kristanto, & Aji, 2011).
Pelaksanaan dari tes yang konvensional ini dimulai dengan jalan menutup
sumur, darimana ditentukan harga Pr. Selanjutnya sumur diproduksi dengan laju
sebesar qsc sehingga aliran mencapai stabil, sebelum diganti dengan laju produksi
lainnya. Setiap perubahan laju produksi tidak didahului dengan penutupan sumur.
Analisis deliverability didasarkan pada kondisi aliran yang stabil. Untuk
keperluan ini diambil tekanan alir di dasar sumur, Pwf pada akhir dari periode suatu
laju produksi. Gambar II.11 di bawah ini merupakan skematis dari proses Back
Pressure Test.

Gambar II-11 Plot (Qg dan P) vs Waktu Dari Back Pressure Test (Anonym, 2012)

A. Analisis Konvensional Pada Back Pressure Test


Pada analisis konvensional, penentuan deliverabilitas telah menggunakan
persamaan empiris yang selaras dengan hasil pengamatan, menyatakan hubungan
laju aliran qsc terhadap ∆P2 atau terhadap ∆Ψ(P) pada laju aliran stabil seperti yang
telah diperlihatkan pada persamaan (II.59) dan (II.60). Metode analisis Rawlins –
Schellhardt merupakan metode yang sering digunakan untuk menentukan kinerja
produksi dari sumur gas. Garis lurus yang didapat dari plot antara (Pr2 – Pwf2) versus
qsc atau ∆Ψ(P) versus qsc pada kertas log-log merupakan kinerja sumur yang
sebenarnya. Secara ideal garis lurus tersebut mempunyai slope atau kemiringan 45˚

27
pada laju produksi rendah dan akan memberikan slope yang lebih besar pada laju
produksi tinggi. Hal ini terjadi akibat dari naiknya turbulensi disekitar lubang bor
dan berubahnya faktor skin akibat peningkatan laju produksi. Harga eksponen
ditunjukkan oleh persamaaan (Rukmana, Kristanto, & Aji, 2011):
log q sc 2  log q sc1
n= (II.61)
log ( Pr2  Pwf2 ) 2  log ( Pr2  Pwf2 )1

Gambar II.12 di bawah ini merupakan skematis plot Back Pressure Test untuk ∆P2
versus qsc:

Gambar II-12 Plot Back Pressure Test Untuk ∆P2 vs qsc (Rahmatullah, 2017)

harga koefisien kinerja C dapat ditentukan dari persamaan:


q sc
C= (II.62)
( P  Pwf2 ) n
r
2

q sc
C= (II.63)
( ( Pr )   ( Pwf )) n

harga koefisien C juga dapat ditentukan dengan melakukan ekstrapolasi dengan


garis lurus terhadap Ψ(Pr) - Ψ(Pwf) = 1 dan dibaca pada harga qsc. Sedangkan
besarnya harga AOFP adalah sama dengan harga qsc pada harga Pwf sebesar tekanan
atmosphere (± 14.7 psia):
AOFP = C (Pr2 – Pwf2)n (II.64)

28
AOFP = C (Ψ (Pr) – Ψ (14.7))n (II.65)

II.14.2 Isochronal Test


Back Pressure Test hanya dapat memberikan hasil yang baik bila
dilangsungkan pada reservoir dengan permeabilitas tinggi. Sedang untuk reservoir
dengan permeabilitas rendah, akan diperlukan waktu yang cukup lama untuk
mencapai kondisi yang stabil, sehingga apabila uji dilakukan pada sumur yang
belum mempunyai fasilitas produksi, jumlah gas yang dibakar cukup besar.
Bertolak dari kelemahan Back Pressure Test atau Flow After Flow, maka
Cullender mengambangkan Isochronal Test guna memperoleh harga deliverability
pada sumur dengan permeabilitas rendah memerlukan waktu yang lama untuk
mencapai kondisi stabil (Taufik, 2009). Cullender juga mengusulkan suatu cara tes
berdasarkan anggapan, bahwa jari-jari daerah penyerapan yang efektif (efektive
drainage radius), rd adalah fungsi dari td dan tidak dipengaruhi oleh laju produksi.
Cullender mengusulkan laju yang berbeda tetapi dengan selang waktu yang sama,
akan memberikan grafik log ∆P2 versus log qsc atau log ∆Ψ(P) versus log qsc yang
linier dengan harga eksponen n yang sama, seperti pada kondisi aliran yang stabil
(Rahmatullah, 2017).
Tes ini terdiri dari serangkaian proses penutupan sumur sampai mencapai
stabil, Pr, yang diusulkan dengan pembukaan sumur, sehingga menghasilkan laju
produksi tertentu selama jangka waktu t, tanpa menanti kondisi stabil. Setiap
perubahan laju produksi didahului oleh penutupan sumur sampai tekanan mencapai
stabil, Pr. Gambar II.13 menunjukkan hasil plot diagram qsc dan tekanan pada
Isochronal Test:

29
Gambar II-13 Diagram Laju Produksi dan Tekanan dari Isochronal (Amanat, 2003)

A. Analisis Konvensional pada Isochronal Test


Pada analisis konvensional, penentuan deliverabilitas telah menggunakan
persamaan empiris yang selaras dengan hasil pengamatan, menyatakan hubungan
laju aliran qsc terhadap ∆P2 atau qsc terhadap ∆Ψ(P) pada laju aliran stabil yang telah
diperlihatkan pada persamaan (II.56) dan (II.57). Metode analisis Rawlins –
Schellhardt merupakan metode yang sering digunakan. Harga eksponen
ditunjukkan oleh persamaan (II.58) dan harga C ditunjukkan oleh persamaan (II.59)
atau (II.60). Sedangkan besarnya harga absolute open flow potensial (AOFP)
adalah sama dengan harga qsc pada harga Pwf sebesar tekanan atmosphere (± 14.7
psia) seperti yang diperlihatkan pada persamaan (II.61) atau (II.62) (Rukmana,
Kristanto, & Aji, 2011).
Dari Gambar II.14 di bawah ini terlihat bahwa harga C berubah-ubah,
keadaan stabil diperoleh dengan membuat garis lurus yang sejajar dengan grafik t1
dan t2 melalui titik yang diperoleh pada keadaan stabil.

30
Gambar II-14 Log Plot Untuk Isochronal Test ∆P2 vs qsc (Anonym, 2012)

II.14.3 Modified Isochronal Test


Metode ini merupakan pengembangan dari metode Isochronal,
perbedaannya terletak pada penutupan sumur tidak perlu mencapai kondisi stabil.
Pada reservoir yang ketat penggunaan isochronal test belum tentu menguntungkan
bila diinginkan penutupan sumur sampai mencapai keadaan stabil. Katz et.al.,
(1959) telah mengusulkan suatu metode untuk memperoleh hasil yang mendekati
hasil tes Isochronal. Perbedaan metode ini dengan metode lain terletak pada
persyaratan bahwa penutupan sumur tidak perlu mencapai stabil. Selain daripada
itu selang waktu penutupan dan pembukaan sumur dibuat sama besar (Rukmana,
Kristanto, & Aji, 2011). Gambar II.15 di bawah ini menunjukkan diagram qsc dan
tekanan pada Modifies Isochronal Test:

Gambar II-15 Plot (Qg dan P) vs Waktu Modified Isochronal Test (Anonym, 2012)

A . Analisis Konvensional pada Modified Isochronal Test

31
Penentuan deliverabilitas menggunakan persamaan empiris dinyatakan dalam
hubungan laju aliran terhadap ∆P2 atau dengan ∆Ψ(P) pada laju aliran stabil yang
telah diperlihatkan pada persamaan (II.59) dan (II.60). Metode analisis Rawlins –
Schellhardt merupakan metode yang sering digunakan untuk menentukan kinerja
produksi dari sumur gas. Garis lurus yang didapat dari plot antara (Pr2 – Pwf2) versus
qsc atau Ψ(Pr) - Ψ(Pwf) versus qsc pada kertas log-log merupakan kinerja sumur yang
sebenarnya.
Secara ideal garis lurus tersebut mempunyai slope atau kemiringan 45˚ pada
laju produksi rendah dan akan memberikan slope yang lebih besar pada laju
produksi tinggi. Harga eksponen ditunjukkan oleh persamaaan (II.61) dan harga C
ditunjukkan oleh persamaan (II.62) atau dengan persamaan (II.63). Sedangkan
besarnya harga absolute open flow potential (AOFP) adalah sama dengan harga qsc
pada harga Pwf sebesar tekanan atmosphere (±14.7 psia) seperti yang diperlihatkan
pada persamaan (II.64) atau (II.65). Pengolahan data untuk analisis deliverabilitas
sama seperti pada metode Isochronal, kecuali untuk harga Pr diganti dengan Pws,
yaitu harga tekanan yang dibaca pada akhir dari setiap massa penutupan sumur
(Rukmana, Kristanto, & Aji, 2011):
q1 = (Pws1)2 – (Pwf1)2 (II.66)
q2= (Pws2)2 – (Pwf2)2 (II.67)
q3 = (Pws3)2 – (Pwf3)2 (II.68)
q4 = (Pws4)2 – (Pwf4)2 (II.69)
Gambar II.16 di bawah ini menunjukkan log-log plot untuk Modified Isochronal
Test:

Gambar II-16 Log Plot Untuk Modified Isochronal Test ∆P2 vs qsc (Anonym, 2012)

32
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian Tugas Akhir ini dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan pada
tanggal 27 September s/d 27 November 2018 yang bertempat di PT Pertamina EP
Aset 3 Subang Field, Purwakarta. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini
berupa data sekunder yang didapat dari rekapitulasi perusahaan. Pada Tugas Akhir
ini, Pressure Transient Analysis dilakukan pada sumur AZ-01 pada Lapisan A
untuk menentukan geometri reservoir. Analisis yang dilakukan adalah Pressure
Build Up dengan menggunakan metode Pressure Derivative dan metode Horner.
Selain itu dilakukan pula Deliverability Test, yaitu Modified Isochronal Test dengan
menggunakan metode Rawlin-Schellhardt. Baik Analisis Pressure Build Up
maupun Modified Isochronal Test dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak
Ecrin v4.02 dan Microsoft Excel.

III.1 Data Yang Di Butuhkan


Dilakukan korelasi data-data yang akan digunakan pada penelitian ini. Data
ini berupa data reservoir, data sumur, data tekanan dan laju aliran atau data hasil
pengujian pressure build up dan deliverability dilapangan, data tersebut digunakan
dalam analisa reservoir tersebut, mengetahui jenis porositas yang berlaku pada
reservoir tersebut, mengatahui jenis patahan serta mengetahui nilai permeabilitas
pada reservoir tersebut..
Analisa pressure build up dilakukan untuk mengetahui kerusakan formasi
yang terjadi pada sumur tersebut, berdasarkan data hasil pressure build up di
lapangan akan didapatkan analisa kerusakan formasi yang terjadi, kerusakan formasi
berpengaruh terhadap performa produksi sumur tersebut.
Pada tahap deliverability dibutuhkan data hasil pengujian deliverability
dilapangan, berdasarkan analisa tersebut didapatkan laju alir maksimum berdasarkan
pada kondisi reservoir saat itu. Sehingga dapat diketahui seberapa besar kemampuan
sumur tersebut untuk dapat berproduksi.

III.2 Tahapan Penelitian


Pada tugas akhir ini, penelitian dilakukan mulai dari pengumpulan data-data

33
yang diperlukan untuk melakukan Analisis pressure transient. Kemudian mengolah
data tersebut dengan melakukan uji pressure build up dan modified isochronal test
dengan menggunakan Software Ecrin v4.02 dan dengan metode manual
menggunakan Microsoft Excel. Analisis-Analisis tersebut dilakukan dengan
berbagai tahapan yang dapat dilihat pada diagram alir penelitian pada tugas akhir
ini. Untuk lebih jelasnya, diagram alir penelitian pada Tugas Akhir ini dapat dilihat
pada gambar dibawah ini.

Gambar III-1 Diagram alir penelitian

34
III.3 Prosedur Kerja
III.3.1 Software Ecrin
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada Tugas Akhir ini,
pressure build up test dilakukan menggunakan software Ecrin v4.02. Berikut
prosedur kerja dalam melakukan pressure build up test dengan menggunakan
software Ecrin v4.02.

1. Input data sumur dan tipe fluida seperti yang terlihat pada gambar berikut. Data
sumur yang di butuhkan berupa jari-jari sumur, ketebalan lapisan dan porositas.
Dibutuhkan pula data waktu pengetestan dan tipe fluida pada sumur tersebut.

Gambar III-2 Input data sumur

Setelah data sumur dimasukkan, maka selanjutnya dilakukan input data


reservoir. Data reservoir yang dibutuhkan berupa fluid type, reservoir
temperature, reservoir pressure, dan pressure range.

35
Gambar III-3 Input data reservoir

2. Setelah itu, dilakukan input data tekanan dan laju alir sumur untuk dilakukan
Load P dan Load Q. Hal pertama yang dilakukan yaitu memasukkan data
tekanan dan laju alir sumur untuk Modified Isochronal Test.

Gambar III-4 Input data tekanan dan laju alir sumur

36
Pada Gambar III.5 merupakan hasil dari History Plot input data tekanan dan
laju alir. Gambar III.6 menunjukan panel untuk Extract dP, dimana panel ini
berguna untuk membuat model Pressure Derivative seperti terlihat pada gambar
ketiga dari kondisi sumur aktual, sehingga pemodelan reservoir dan sumur dapat
dilakukan.

Gambar III-5 Input data laju alir sumur

Gambar III-6 Hasil Model dari Extract dP

37
3. Setelah model reservoir aktual didapat, tahap selanjutnya yaitu dengan
melakukan matching model pada Gambar III.7 di bawah ini. Matching
model dilakukan untuk menentukan wellbore model, well model, reservoir
model, dan boundary model. Matching dilakukan dengan menyesuaikan
antara model simulasi dengan model aktual melalui panel improve. Di
bawah ini merupakan proses Model Matching dan Improve Model
Reservoir.

Gambar III-7 Proses Matching Model

Gambar III-8 Improve Model Reservoir

38
4. Model match dari model reservoir yang telah mendekati keadaan reservoir
yang aktual setelah melalui proses improve, ditunjukan pada Gambar III.9.

Gambar III-9 Hasil Match Model Reservoir

5. Setelah penyelarasan kurva telah selesai dilakukan, tahap selanjutnya


adalah Horner Plot. Horner Plot dilakukan dengan menginput data time
production (tp) dan meggunakan panel new line regression untuk plot garis
trendline. Pada Gambar III.10 menunjukan proses perhitungan Horner Plot
dalam software Ecrin melalui pendekatan pseudo pressure.

Gambar III-10 Hasil Horner Plot Metode Pseudo Pressure

39
Selanjutnya dilakukan analisis uji deliverabilitas untuk menentukan nilai Absolute
Open Flow Potential suatu sumut (AOFP). Pada sumur ini dilakukan uji
deliverabilitas Modified Isochronal Test pendekatan pressure dengan metode C and
n. pada pengujian ini dilakukan input data tekanan (pressure well flowing dan
pressure well shut in) dan laju alir gas. Pada Gambar III.11 dan Gambar III.12
langkah analisis uji deliverabilitas dalam software Ecrin.

Gambar III-11 Input Data Tekanan pressure well flowing dan pressure well shutin

Gambar III-12 Hasil Uji Deliverabilitas Gas

40
III.3.2 Perhitungan Manual Horner
Pada tugas akhir ini, analisis Horner selain dilakukan dengan cara manual.
Langkah-langkah perhitungan analisis Horner dengan menggunakan Microsoft
Excel adalah sebagai berikut :

1. Langkah pertama adalah mengkonversi data tekanan pressure menjadi pseudo


pressure dengan menggunakan persamaan (II.42)
2. Kemudian plot Ψ(Pws²) vs HTR (tp+∆t)/∆t. Lalu akan diperoleh grafik Horner.
Dari grafik tersebut akan didapatkan persamaan y dari trendline, kemudian nilai
slope (m) dapat ditentukan.
3. Setelah itu nilai permeabilitas ditentukan dengan persamaan (II.3).
4. Selanjutnya adalah menentukan tekanan pada saat ∆t=1 jam (P@1hr). Kemudian
dihitung pula nilai P* yang didapat dengan mengekstrapolasikan garis lurus pada
trendline hingga mencapai harga HTR = 1.
5. Selanjutnya adalah menentukan nilai skin pada pendekatan pseudo pressure,
dengan menggunakan persamaan (II.47)
6. Selanjutnya adalah menentukan nilai flow efficiency pada pendekatan pseudo
pressure dengan menggunakan persamaan (II.49)

III.3.3 Perhitungan Analisis Deliverability


Pada Tugas Akhir ini, Analisis deliverability yaitu Modified Isochronal test
selain dilakukan dengan menggunakan software dilakukan pula perhitungan
manual. Langkah-langkah perhitungan deliverability secara manual adalah sebagai
berikut :
1. Langkah pertama adalah mengkonversi data tekanan pressure menjadi pseudo
pressure dengan menggunakan persamaan (II.42)
2. plot Ψ(Pr) - Ψ(Pwf) vs q pada grafik log-log dengan menggunakan microsoft
excel.
3. Setelah itu didapatkan persamaan y dari trendline, kemudian nilai slope (m)
dapat ditentukan. Dari nilai slope maka nilai n dapat ditentukan dengan
menggunakan persamaan (II.61).
4. Kemudian nilai C dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan (II.63).
5. Kemudian nilai AOFP dapat di tetukan dengan persamaan (II.65)

41
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada tugas akhir ini, akan dianalisa uji sumur gas untuk mengetahui kondisi dari
sumur serta karakteristik dan sifat dari reservoir tersebut. Uji sumur yang dilakukan
dengan menggunakan Pressure Build Up Test dengan metode Pressure Derivative
dan Horner dan selanjutnya dilakukan test deliverabilitas dengan metode Modified
Isochronal Test.
Analisis Modified Isochronal Test yang dilakukan dengan metode C and n
atau empiris. Analisa yang dilakukan pada tes-tes tersebut dalam penulisan tugas
akhir ini dilakukan dengan dua acara yaitu dengan menggunakan software Ecrin
4.02 dan perhitungan manual menggunakan Microsoft Excel sebagai pembanding.
Pressure Build up Test yang dilakukan pada sumur gas AZ-01 ini adalah untuk
mendapatkan informasi-informasi yang berguna untuk menganalisis kerusakan dan
produktivitas formasi tersebut.

IV.1 Data-Data
Data-data yang di dapatkan untuk penelitian ini berupa data reservoir,
petrofsik, dan data hasil pengujian sumur di lapangan

Tabel IV.1 Data Reservoir Sumur AZ-01


Parameter, Satuan Nilai

Tekanan awal Reservoir, psia 2617


Temperatur Reservoir, ˚F 239
Specific Gravity Gas 0,892
Faktor Deviasi Gas (z) 0,73
Viskositas Gas (μg), cp 0,015
Porositas (Ø), % 15
Perforation 1748-1752
Jari-jari sumur (rw), ft 0,291
Net Pay (h), ft 4

42
Analisis Pressure Build Up di butuhkan data penutupan sumur. Penutupan
sumur tersebut dilakukan selama 6 jam. Data hasil pengujian antara tekanan
terhadap waktu akan dilampirkan pada Lampiran A. Berikut Gambar IV.1adalah
grafik kenaikan tekanan saat pengujian pressure build up dilakukan.

Gambar IV-1 Grafik Pressure Build Up

Analisis Modified Isochronal Test di butuhkan data saat penutupan sumur dan
ketika adanya aliran. Penutupan sumur tersebut akan meningkatkan pembacaan
tekanan pada pengujian tersebut dan aliran fluida akan menurunkan tekanan. Untuk
data tekanan terhadap waktu terlampir pada Lampiran B. Berikut gambar dan tabel
di bawah ini pengujian Modified Isochronal Test yang dilakukan.

Gambar IV-2 Tekanan, Laju alir, terhadap waktu

43
Tabel IV.2 Data Modified Isochronal Test (Laporan Tekanan dan Laju alir, 2016)

Duration Qg Pws Pwf


Keterangan
(hours) (MSCF/D) (Psia) (Psia)
Initial Shut In 10,99 0 2515,70 -

16/64”(1st Flow) 4 458 - 1156,71

Shut In 4 0 2389,94 -

24/64”(2nd Flow) 4 612 - 833,11

Shut In 4 0 2304,65 -

32/64”(3rd Flow) 4 624 - 559,13

Shut In 4 0 2241.65 -
40/64”(4th Flow) 4 631 - 394,37
32/64” 8 616 - 654,31
(Extended Flow)

IV.2 Analisis Hasil Pressure Build Up pada Sumur AZ-01


Pressure Transient Analysis yang dilakukan adalah Pressure Build Up. Analisis
dilakukan pada lapisan A. Pada sumur AZ-01 Lapisan A., Analisis pressure build
up yang pertama kali dilakukan adalah Analisis Pressure Derivative dan kemudian
Horner Plot dengan menggunakan software Ecrin. Untuk melakukan analisis
tersebut dimana pada software membutuhkan data sumur, data reservoir dan data
laju alir yang dimasukkan, maka didapatkan hasil history plot.
Dari Gambar IV.1 memperlihatkan dua grafik, grafik yang berada diposisi atas
menunjukan plot tekanan terhadap waktu, dan grafik yang berada diposisi bawah
adalah plot laju alir terhadap waktu. Kemudian terdapat garis berwarna merah yang
menunjukan matching plot antara Type Curve Pressure Derivative dengan model
sumur yang telah disimulasikan dalam software.
Setelah history plot sudah match dengan model yang dipilih, kemudian
dilakukan matching terhadap derivative plot. Kemudian dilakukan extract dP untuk
mendapatkan derivative plot pada sumur AZ-01 Lapisan A. Setelah derivative plot,
dilakukan matching model untuk mendapatkan model yang tepat pada lapisan ini.

44
Setelah dilakukan matching model, dapat dilihat kurva actual yang ditunjukan
oleh garis hijau (bagian atas) yaitu Type Curve Gringarten dan garis merah (bagian
bawah) adalah Type Curve Derivative respon tekanan yang paling sesuai pada
Lapisan A adalah model reservoir Two Porosity dengan parallel faults yang dapat
dilihat pada Gambar IV.3.

Gambar IV-3 Derivative plot pada lapisan A dengan software ecrin

Berdasarkan hasil analisis pressure derivative pada sumur AZ-01 Lapisan A


di atas memperlihatkan kurva aktual yang ditunjukkan oleh garis merah (bagian
bawah) yaitu Type Curve Derivative dan garis hijau (bagian atas) adalah Type
Curve Gringarten. Pada grafik log-log plot tersebut menunjukkan bahwa analisis
uji sumur sudah pada tahap radial flow. Kemudian setelah kurva model yang
ditunjukkan oleh garis hitam pada bagian bawah dan garis merah pada bagian atas
telah match dengan kurva aktual, maka hasil yang didapat adalah sumur AZ-01
memiliki model sumur Vertical dimana pada model sumur ini mengindikasikan
bahwa ketebalan perforasi pada sumur AZ-01 memiliki ketebalan yang lebih kecil
dibandingkan dengan ketebalan reservoir. Untuk model reservoir, sumur AZ-01
memiliki model reservoir Two Porosity PSS, dimana pada model reservoir ini pori
batuan terbagi dalam dua media yaitu matriks, yang memiliki storativitas tinggi dan
permeabilitas rendah dilambangkan dengan omega (), dan fissure (rekahan) yang
memiliki permeabilitas tinggi namun storativitas rendah dilambangkan dengan
lambda (. Sedangkan untuk model boundary, sumur AZ-01 memiliki model

45
boundary parallel faults, dimana pada model parallel faults mengindikasikan jika
sumur AZ-01 terdapatnya patahan yang terletak pada jarak tertentu dari sumur
produksi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel IV.3 dibawah ini

Tabel IV.3 Hasil Analisis Pressure Derivative pada sumur AZ-01 lapisan A
Parameter Nilai
Well Model Vertical
Reservoir Model Two Porosithy PSS
Boundary Model Parallel faults
Pi, psia 2595,06
k.h, md.ft 0.417
Omega (ω) 0,8
Lambda (λ) 0,0019
Permeabilitas (k), md 0,18
Skin -4,33
C, ft3/psi 0,00479

Selanjutnya, analisis Pressure Build Up dilakukan dengan menggunakan


metode Horner. Analisis dengan metode Horner ini dilakukan untuk mengetahui
parameter-parameter reservoir seperti permeabilitas, skin dan sebagainya. Analisis
dilakukan dengan menggunakan software Ecrin dan Microsoft Excel. Hasil Horner
Plot dapat dilihat pada Gambar IV.4.

Gambar IV-4 Horner Plot dengan Software Ecrin

46
Dengan memplot antara ΨPws terhadap Horner Time Ratio untuk
mendapatkan slope (m), tekanan pada saat 1 jam, skin, dan permeabilitas.
Berdasarkan gambar IV.4 diatas, Horner plot menggunakan pseudo pressure maka
diperoleh parameter reservoir yang ada pada Tabel IV.5.
Kemudian analisa Horner dilakukan dengan perhitungan manual
menggunakan Microsoft Excel. Perhitungan dilakukan menggunakan metode
pendekatan pseudo pressure. Metode Horner Plot ini dilakukan dengan memplot
antara Horner Time Ratio (HTR) terhadap Ψ(P) untuk mendapatkan nilai slope,
permeabilitas (k), yekanan awal reservoir (Pi), dan skin (s).
Dalam melakukan analisis dengan pendekatan Pseudo Pressure atau Ψ(P).
Kemudian diperoleh nilai tp. Setelah diperoleh nilai tp, maka dilakukan penentuan
(tp+∆t) (tp+∆t)
Horner Time . Kemudian dilakukan plot antara log Horner Time
∆t ∆t
terhadap Pseudo Pressure Ψ(P). Hasil analisis Horner dapat dilihat pada Gambar
IV.5

Gambar IV-5 Horner Plot dengan Microsoft Excel

Dari hasil analisis didapatkan beberapa parameter seperti pressure,


permeabilitas, skin dan flow efficiency. Dengan persamaan garis yang didapat y = -
142101428.582*Ln (x) + 468811169.077 dengan mengambil nilai 1 cycle (1 dan
10), maka didapat nilai slope (m) sebesar 327200631.1. Hasil Analisis

47
menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan baik pada Analisis Horner
dengan menggunakan software Ecrin maupun Microsoft Excel. Tabel dibawah ini
merupakan resume hasil Analisis Horner dengan software dan manual.

Tabel IV.4 Hasil Analisis horner pada sumur AZ-01


Parameter Ecrin Microsoft Excel
P*, psia 2799 2749
Flow Efficiency - 3,5
k.h, md.ft 1,3 1,15
Permeabilitas (k), md 0,324 0,28
Skin -4,33 -4,30

IV.3 Analisis Deliverability pada Sumur AZ-01


Uji deliverabilitas yang dilakukan pada Sumur AZ-01 adalah Modified
Isochronal Test. Tujuan dari uji deliverabilitas ini adalah untuk menganalisis
kemampuan produksi gas maksimum yang disebut absolute open flow potential
(AOFP) baik dengan menggunakan bantuan software Ecrin maupun secara manual.
Data yang diperlukan untuk analisis deliverabilitas dengan metode
Modified Isochronal Test ini tekanan dasar sumur pada kondisi sumur mengalir
(Pwf), tekanan dasar sumur pada keadaan shut in (Pws), dan rate produksi gas
(mscf/D) yang terdapat pada Tabel IV.2. Analisis uji deliverabilitas Modified
Isochronal Test yang pertama dilakukan menggunakan perangkat lunak Ecrin.

Gambar IV-6 Grafik Modified Isochronal Test dengan software Ecrin

48
Pada Gambar IV.6 merupakan hasil analisis uji deliverabilitas dengan
menggunakan software Ecrin. Dari Gambar IV.6 tersebut dapat dilihat hanya
terdapat 5 data laju alir (4 titik merah dan 1 titik kuning) termasuk data laju alir
pada saat extended flow. Dari Gambar IV.6 di atas terdapat garis merah pada bagian
bawah yang merupakan garis periode transient flow, dan garis kuning yang berada
pada bagian atas adalah garis periode extended flow. Pada garis kuning inilah nilai
C pada saat extended flow (Cext), nilai n, dan nilai AOFP ditentukan.
Selanjutnya analisis dilakukan dengan cara manual. Pada perhitungan secara
manual, data pressure juga terlebih dahulu dikonversi ke data pseudo pressure
dengan menggunakan persamaan y = 6.115180E+01x2 + 1.457426E+04x -
5.020280E+06 yang di peroleh dari persamaan trendline, dimana fungsi x adalah
nilai tekanan (pressure) maka data pressure dapat dikonversi menjadi Ψ(P). Hasil
konversi data pressure tersebut dapat dilihat pada Tabel IV.5.

Tabel IV.5 Data Modified Isochronal Sumur AZ-01

q pwf pws Ψ(pwf) Ψ(pws) Ψ(pws-pwf)


458.1144 1157.49 2515.7 93779429 418658433 324879004.3
612.1036 832.696 2390.34 49517244 379221751 329704507.4
624.1169 558.817 2305.17 22220330 353524842 331304511.2
631.1169 401.376 2241.37 10681198 334856746 324175548.7
616.794 654.979 2616 30759523 337710827 306951304.6

Kemudian mem-plot Ψ(Pws) - Ψ(Pwf) vs q maka diperoleh grafik modified


isochronal test pada lapisan A seperti pada gambar IV.7.

Gambar IV-7 Grafik MIT sumur AZ-01 lapisan A

49
Setelah itu didapatkan nilai slope (m) sebesar 0.136047265. Kemudian hasil
Modified Isochronal Test pada sumur AZ-01 Lapisan A dapat dilihat pada Tabel
IV.6 berikut ini.

Tabel IV.6 Hasil Uji Deliverabilitas Sumur AZ-01


Parameter Ecrin Microsoft Excel

n 7.95 7.35

C, [Mscf/D]/psia2 1.79E-66 2.50E-61


AOFP, Mscf/D 1086.28 1035.67

Berdasarkan hasil pengujian deliverability dengan menggunakan metode


modified isochronal test pada sumur AZ-01 di dapatkan laju alir maksimum sebesar
1086.28 Mscf/D. Hal ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan
terhadap analisis menggunakan software Ecrin dan Microsoft Excel.

50
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pressure transient analysis dan deliverability yang telah
dilakukan pada sumur AZ-01, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Model Sumur AZ-01 adalah Vertical dengan model reservoir Two Porosity PSS
dan model boundary Parallel Fault. Model reservoir untuk sumur AZ-01 pada
software Ecrin yaitu Two Porosity PSS.
2. Didapatkan nilai skin negatif dari Horner Plot yang besarnya (s = -4,33)
menunjukan bahwa tidak adanya kerusakan formasi pada sumur tersebut.
3. Berdasarkan analisis Horner Plot didapat nilai permeabilitas sebesar 1,28 mD
dengan flow efficiency sebesar 3,50.
4. Berdasarkan analisis uji deliverabilitas dengan software Ecrin didapat nilai C
extended flow sebesar 1.79E-66 (mscf/D)/(psi2/cp)n, untuk nilai n sebesar
7.95, serta nilai absolute open flow potential (AOFP) untuk Sumur AZ-01
adalah 1086.28 mscf/D.

V.2 Saran
Berdasarkan penelitian Tugas Akhir yang telah dilakukan, maka penulis
merekomendasikan belum memerlukan stimulasi reservoir pada sumur tersebut
dikarenakan tidak ditemukannya kerusakan pada formasi di sumur tersebut dan
diperlukan pengujian secara berkala untuk mengontrol kondisi sumur tersebut di
kemudian hari.

51
DAFTAR PUSTAKA

Abdassah, D. (1997). Analisis Transien Tekanan. Bandung: Jurusan Teknik


Perminyakan, Institut Teknologi Bandung.
Ahmed, T. (2000). Reservoir Engineering Handbook Second Revised Edition.
Houston-Texas: Gulf Professional Publishing.
Ahmed, T., & McKinney, P. (2005). Advanced Reservoir Engineering Handbook.
USA: Oxford.
Al Ismail, M. (2010). Field Observations of Gas Condensate Well Testing.
California: Stanford University.
Amanat, U. C. (2003). Gas Well Testing Handbook. Houston, Texas: Advanced
TWPSOM Petroleum Systems, Inc.
Andromeda, E. (2010). Pengembangan Korelasi Usulan Untuk Penentuan Lama
Waktu Laju Alir Plateau. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Anonym. (2012). Class Note PGE 493 Gas Well Testing.
Beggs, H. D. (1991). Production Optimization Using Nodal Analysis. Oklahoma:
Oil and Gas Consultants International Inc.
Economides, C. E. (1988). Use of The Pressure Derivative for Diagnosing
Pressure-Transient Behaviour. SPE, Schlumberger.
Ginting, M., & Tobing, E. (2015). Analisa Pressure Build Up dan Interference Test
Pada Sumur Alpha Dan Beta Lapangan X. Jakarta: Program Studi Teknik
Perminyakan Universitas Trisakti.
Houze, O., & Viturat, D. (2011). Dynamic Data Analysis. France: Kappa.
Ikoku, C. (1982). Natural Gas Reservoir Engineering. New York: The Pensylvania
State University, JohnWiley & Sons Inc.
Ikoku, C. U. (1992). Natural Gas Production Engineering. Florida: Krieger
Publishing Company.
Irham, S., & Ginting, M. (2014). Penuntun Praktikum Analisa Batuan Reservoir.
Jakarta: Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Trisakti.

52
Lee, J. (1982). Well Testing. New York, Dallas: Society of Petroleum Engineering
of AIME.
Matthew, C., & Russell, D. (1967). Pressure Build Up and Flow Test in Wells. TX
U.S.A: Henry L. Doherty Memorial Fund of AIME, Society of Petroleum
Engineers.
Oktaviani, L. T. (2014). Estimasi Potensi Initial Oil In Place (IOIP) Dengan
Metode Volumetrik Pada Lapangan LND Menggunakan Data Log. Jakarta:
Teknik Perminyakan Universitas Trisakti.
Rahmatullah, M. S. (2017). Analisis Pressure Build Up dan Deliverability Test
Menggunakan Software Ecrin dan Metode Manual Pada Sumur EFL-17
Lapangan MTK. Jakarta: Teknik Perminyakan UniversitasTrisakti.
Rukmana, D., Kristanto, D., & Aji, D. C. (2011). Teknik Reservoir Teori dan
Aplikasi. Yogyakarta: Percetakan Pohon Cahaya.
Schlumberger. (1998). Introduction to Well Testing. England: Bath.
SKK MIGAS. (2007). Pedoman Tata Kerja Rencana Pengembangan (POD).
Jakarta: SKK MIGAS.
Suabdi, I. N. (2012). Well Testing & Analisa DST. Jakarta: Pertamina.
Taufik, M. (2009). Pemodelan Matematis Untuk Menghitung Kemampuan
Produksi Sumur Gas. Bandung: Jurusan Fisika FMIPA Universitas
Padjajaran.
Yulianto, A., & dkk. (2015). Analisa Pressure Build Up Test pada Sumur X
Lapangan Y Dengan Metode Horner Manual dan Ecrin 4.10. Jakarta:
Program Studi Teknik Perminyakan Universitas Trisakti.

53
LAMPIRAN

Lampiran A Data tekanan terhadap waktu uji Modified Isochronal sumur VLL-1

Tabel A.1 Data Tekanan Sumur VLL-1

54
dtime Pressure dtime Pressure dtime Pressure dtime Pressure
(hr) (psi) (hr) (psi) (hr) (psi) (hr) (psi)
0.000 16.09 4.733 2929.48 9.483 2896.16 14.233 2891.57
0.108 15.78 4.858 2956.46 9.608 2895.04 14.358 2886.84
0.233 15.83 4.983 2962.90 9.733 2893.99 14.483 2883.06
0.358 15.73 5.108 2966.44 9.858 2892.95 14.608 2879.84
0.483 2572.62 5.233 2968.68 9.983 2892.00 14.733 2877.10
0.608 2681.98 5.358 2970.45 10.108 2891.22 14.858 2874.62
0.733 2792.97 5.483 2972.14 10.233 2890.30 14.983 2872.38
0.858 2904.29 5.608 2973.45 10.358 2889.57 15.108 2870.38
0.983 2990.79 5.733 2974.63 10.483 2888.75 15.233 2868.63
1.108 2991.39 5.858 2975.60 10.608 2888.06 15.358 2866.87
1.233 2990.11 5.983 2976.48 10.733 2890.59 15.483 2865.40
1.358 2986.83 6.108 2977.27 10.858 2934.23 15.608 2863.89
1.483 2985.65 6.233 2978.03 10.983 2943.10 15.733 2862.59
1.608 2989.10 6.358 2978.77 11.108 2948.48 15.858 2861.29
1.733 2983.77 6.483 2979.33 11.233 2952.41 15.983 2860.14
1.858 2981.50 6.608 2979.96 11.358 2955.54 16.108 2858.99
1.983 2960.17 6.733 2980.51 11.483 2957.96 16.233 2858.02
2.108 2954.89 6.858 2981.00 11.608 2960.12 16.358 2857.03
2.233 2951.52 6.983 2981.50 11.733 2961.93 16.483 2856.06
2.358 2948.83 7.108 2981.86 11.858 2963.47 16.608 2855.24
2.483 2946.63 7.233 2982.22 11.983 2965.02 16.733 2855.34
2.608 2944.79 7.358 2982.63 12.108 2966.23 16.858 2885.47
2.733 2943.16 7.483 2982.97 12.233 2967.30 16.983 2877.27
2.858 2941.76 7.608 2983.24 12.358 2968.20 17.108 2876.16
2.983 2940.42 7.733 2952.39 12.483 2969.22 17.233 2875.84
3.108 2939.23 7.858 2933.30 12.608 2970.12 17.358 2875.69
3.233 2938.13 7.983 2925.30 12.733 2970.86 17.483 2875.56
3.358 2937.13 8.108 2919.93 12.858 2971.56 17.608 2875.46
3.483 2936.24 8.233 2915.81 12.983 2972.25 17.733 2875.38
3.608 2935.30 8.358 2912.52 13.108 2972.99 17.858 2875.20
3.733 2934.55 8.483 2909.71 13.233 2973.73 17.983 2875.14
3.858 2933.78 8.608 2907.32 13.358 2974.37 18.108 2874.97
3.983 2933.10 8.733 2905.25 13.483 2974.91 18.233 2874.86
4.108 2932.35 8.858 2903.36 13.608 2975.64 18.358 2874.71
4.233 2931.76 8.983 2901.72 13.733 2976.17 18.483 2874.62
4.358 2931.13 9.108 2900.13 13.858 2920.27 18.608 2874.49
4.483 2930.55 9.233 2898.65 13.983 2905.66 18.733 2874.34
4.608 2929.93 9.358 2897.40 14.108 2897.44 18.858 2874.20

55
Tabel A.2 Data Tekanan Sumur VLL-1 (Lanjutan 1)
dtime Pressure dtime Pressure dtime Pressure dtime Pressure
(hr) (psi) (hr) (psi) (hr) (psi) (hr) (psi)
18.983 2874.06 23.483 2870.13 27.983 2957.95 32.483 2975.70
19.108 2873.87 23.608 2870.02 28.108 2958.97 32.608 2975.96
19.233 2873.77 23.733 2869.97 28.233 2959.86 32.733 2976.19
19.358 2873.66 23.858 2869.86 28.358 2960.67 32.858 2976.47
19.483 2873.55 23.983 2869.77 28.483 2961.44 32.983 2976.71
19.608 2873.40 24.108 2869.74 28.608 2962.20 33.108 2976.90
19.733 2873.28 24.233 2869.55 28.733 2962.89 33.233 2977.14
19.858 2873.14 24.358 2869.51 28.858 2963.45 33.358 2977.33
19.983 2873.09 24.483 2869.48 28.983 2964.10 33.483 2977.58
20.108 2872.87 24.608 2869.30 29.108 2964.62 33.608 2977.75
20.233 2872.72 24.733 2869.26 29.233 2965.25 33.733 2977.93
20.358 2872.63 24.858 2869.19 29.358 2965.89 33.858 2978.11
20.483 2872.50 24.983 2869.20 29.483 2966.43 33.983 2978.27
20.608 2872.41 25.108 2869.09 29.608 2967.02 34.108 2978.53
20.733 2872.30 25.233 2869.03 29.733 2967.60 34.233 2978.57
20.858 2872.16 25.358 2868.88 29.858 2968.17 34.358 2978.81
20.983 2872.02 25.483 2868.87 29.983 2968.63 34.483 2978.96
21.108 2872.03 25.608 2868.84 30.108 2969.15 34.608 2979.18
21.233 2871.82 25.733 2888.58 30.233 2969.65 34.733 2979.29
21.358 2871.74 25.858 2914.95 30.358 2970.11 34.858 2979.44
21.483 2871.58 25.983 2923.45 30.483 2970.50 34.983 2979.61
21.608 2871.54 26.108 2929.00 30.608 2970.94 35.108 2979.70
21.733 2871.40 26.233 2933.17 30.733 2971.33 35.233 2979.94
21.858 2871.27 26.358 2936.54 30.858 2971.71 35.358 2980.06
21.983 2871.11 26.483 2939.45 30.983 2972.08 35.483 2980.16
22.108 2871.12 26.608 2941.87 31.108 2972.51 35.608 2980.31
22.233 2871.03 26.733 2944.02 31.233 2972.83 35.733 2980.43
22.358 2870.96 26.858 2946.05 31.358 2973.15 35.858 2980.54
22.483 2870.83 26.983 2947.83 31.483 2973.41 35.983 2980.73
22.608 2870.72 27.108 2949.44 31.608 2973.74 36.108 2980.79
22.733 2870.61 27.233 2950.96 31.733 2974.09 36.233 2980.95
22.858 2870.55 27.358 2952.26 31.858 2974.39 36.358 2981.10
22.983 2870.38 27.483 2953.56 31.983 2974.66 36.483 2981.17
23.108 2870.37 27.608 2954.84 32.108 2974.94 36.608 2981.29
23.233 2870.24 27.733 2955.88 32.233 2975.21 36.733 2981.42
23.358 2870.18 27.858 2956.95 32.358 2975.49 36.858 2981.52

56
Tabel A.3 Data Tekanan Sumur VLL-1 (Lanjutan 2)
dtime Pressure dtime Pressure dtime Pressure dtime Pressure
(hr) (psi) (hr) (psi) (hr) (psi) (hr) (psi)
36.983 2981.67 41.483 2984.37 45.983 2985.85 50.483 2986.81
37.108 2981.73 41.608 2984.40 46.108 2985.89 50.608 2986.83
37.233 2981.83 41.733 2984.44 46.233 2985.87 51.108 2986.91
37.358 2981.93 41.858 2984.49 46.358 2985.96 51.233 2986.99
37.483 2982.00 41.983 2984.54 46.483 2985.99 51.358 2987.00
37.608 2982.08 42.108 2984.55 46.608 2986.00 52.233 2987.12
37.733 2982.19 42.233 2984.71 46.733 2986.07 52.358 2987.13
37.858 2982.29 42.358 2984.82 46.858 2986.07 53.108 2987.20
37.983 2982.42 42.483 2984.75 46.983 2986.10 53.233 2987.19
38.108 2982.46 42.608 2984.83 47.108 2986.15 54.108 2987.35
38.233 2982.59 42.733 2984.85 47.233 2986.17 54.233 2987.36
38.358 2982.64 42.858 2984.86 47.358 2986.25 54.608 2987.34
38.483 2982.77 42.983 2984.94 47.483 2986.26 55.108 2987.40
38.608 2982.84 43.108 2984.97 47.608 2986.28 55.233 2987.41
38.733 2982.89 43.233 2985.00 47.733 2986.34 55.358 2987.44
38.858 2982.91 43.358 2985.10 47.858 2986.34 55.483 2987.46
38.983 2983.10 43.483 2985.16 47.983 2986.30 56.108 2987.55
39.108 2983.11 43.608 2985.18 48.108 2986.32 56.233 2987.52
39.233 2983.18 43.733 2985.18 48.233 2986.45 56.358 2987.50
39.358 2983.35 43.858 2985.23 48.358 2986.41 57.108 2987.64
39.483 2983.30 43.983 2985.30 48.483 2986.43 57.233 2987.53
39.608 2983.44 44.108 2985.35 48.608 2986.44 57.358 2987.66
39.733 2983.46 44.233 2985.40 48.733 2986.43 57.483 2987.66
39.858 2983.54 44.358 2985.42 48.858 2986.51 58.108 2987.75
39.983 2983.64 44.483 2985.46 48.983 2986.53 58.233 2987.74
40.108 2983.70 44.608 2985.52 49.108 2986.57 58.358 2987.75
40.233 2983.70 44.733 2985.56 49.233 2986.61 59.108 2987.83
40.358 2983.83 44.858 2985.54 49.358 2986.66 59.233 2987.79
40.483 2983.91 44.983 2985.60 49.483 2986.64 59.358 2987.79
40.608 2983.99 45.108 2985.64 49.608 2986.67 59.483 2987.83
40.733 2983.97 45.233 2985.69 49.733 2986.65 60.108 2987.91
40.858 2984.10 45.358 2985.72 49.858 2986.68 60.233 2987.85
40.983 2984.15 45.483 2985.76 49.983 2986.69 61.108 2987.96
41.108 2984.23 45.608 2985.79 50.108 2986.79 61.233 2987.96
41.233 2984.31 45.733 2985.78 50.233 2986.77 62.108 2674.27
41.358 2984.29 45.858 2985.88 50.358 2986.82 62.233 2553.10

57
Lampiran B Perhitungan time production uji sumur VLL-1

Tabel B.1 Data Perhitungan Time Production

Time (hour) Gas Rate (mmscf/D)

1.83639 0
2.9175 5423.57
2.92667 0
3.05083 8604.64
3.00333 0
2.9975 11010.00
8.98667 8598.64
35.9833 0

Time Production (tp)

tp = total waktu selama produksi (flowing)

∑ Qg × t
tp =
Qext

6347,92×24
tp = = 17.71793 hour
8598,64

58
Lampiran C Perhitungan Konversi Pressure ke Pseudo Pressure

Tabel C.1 Tabel Perhitungan Pseudo Pressure


Pressure μ 2(p/μ.z) ∆p 2(p/μ.z)* Ψ(p)
z mean
(psi) (cp) (psia/cp) (psi) (psi2/cp) (psi2/cp
14.7 0.01360546 0.998755 2163.589 1081.7947 14.7 15902.3816 1.59E+04
)
200 0.01373168 0.983413 29621.02 14810.511 200 2962102.113
5 2.96E+06
400 0.01394853 0.967665 59270.20 44445.611 200 8889122.182 1.19E+07
600 0.01422613 0.952908 88520.40 73895.304 200 14779060.74 2.66E+07
800 0.01455842 0.93930 117003.1 102761.8 200 20552359.03 4.72E+07
1000 0.01494305 0.927032 144376.3 130689.75 200 26137950.78 7.33E+07
1200 0.01537873 0.916243 170325.5 157350.94 200 31470187.69 1.05E+08
1400 0.01586423 0.907091 194575.3 182450.45 200 36490090.12 1.41E+08
1600 0.01639789 0.899699 216902.5 205738.95 200 41147790.6 1.82E+08
1800 0.01697734 0.894153 237148.6 227025.6 200 45405119.93 2.28E+08
2000 0.01759942 0.890501 255227.2 246187.94 200 49237588.99 2.77E+08
2200 0.01826031 0.888740 271125.0 263176.13 200 52635225.97 3.30E+08
2400 0.0189556 0.888829 284895.2 278010.15 200 55602029.57 3.85E+08
2600 0.01968062 0.890688 296646.2 290770.75 200 58154150.53 4.43E+08
2800 0.02043059 0.894211 306525.7 301585.99 200 60317198.03 5.04E+08
3000 0.02120087 0.899274 314706.1 310615.97 200 62123193.63 5.66E+08
2989.46 0.02115985 0.898970 314314.6 314510.39 -10.5 -3314939.536 5.63E+08

Gambar C.1 Grafik Plot P vs Ψ(P)

Persamaan yang didapat dari grafik P vs Ψ(P) adalah sebagai berikut:


Y = 52.081841681688x2 + 39,214.865311123400x - 13,393,509.3652702

59
Lampiran D Langkah Kerja Software Ecrin

Tahap pertama dilakukan adalah melakukan input pada software Ecrin


dengan memasukan data jari-jari sumur, ketebalan reservoir, porositas dan jenis
hidrokarbon.

Gambar D.1 Input Sumur dan Reservoir

60
Setelah proses input data reservoir dilakukan, selanjutnya adalah
memasukkan data tekanan dan data laju alir berdasarkan data uji sumur Modified
Isochronal Test:

Gambar D.2 Input Data Tekanan dan Laju Alir

61
Pada gambar pertama di bawah ini merupakan hasil dari History Plot input
data tekanan dan laju alir. Gambar kedua menunjukan panel untuk Extract dP,
dimana panel ini berguna untuk membuat model Pressure Derivative seperti terlihat
pada gambar ketiga dari kondisi sumur aktual, sehingga pemodelan reservoir dan
sumur dapat dilakukan.

Gambar D.3 History Plot dan Hasil Model dari Extract dP

62
Setelah model reservoir aktual didapat, tahap selanjutnya yaitu dengan
melakukan matching model pada gambar di bawah ini. Matching model dilakukan
untuk menentukan wellbore model, well model, reservoir model, dan boundary
model. Matching dilakukan dengan menyesuaikan antara model simulasi dengan
model aktual melalui panel improve. Di bawah ini merupakan proses Model
Matching.

Gambar D.4 Proses Macthing Model dan Improve Model Reservoir

63
Model match dari model reservoir yang telah mendekati keadaan reservoir
yang aktual setelah melalui proses improve, ditunjukan pada gambar dibawah ini.

Gambar D.5 Hasil Match Model Reservoir

Proses plot derivative dan semilog plot sudah match dengan ditandai garis
merah dan putih mendekati titik-titik yang ditunjukan pada plot derivative dan semi
log plot. Setelah penyelarasan kurva telah selesai dilakukan, tahap selanjutnya
adalah melakukan analisis Horner Plot. Horner Plot dilakukan dengan menginput
data time production (tp) dan meggunakan panel new line regression untuk plot
garis trendline.

64
Pada gambar di bawah ini menunjukan proses perhitungan Horner Plot
dalam software Ecrin melalui pendekatan pseudo pressure.

Gambar D.6 Hasil Horner Plot Metode Pseudo Pressure

65
Selanjutnya dilakukan analisis uji deliverabilitas untuk menentukan nilai
Absolute Open Flow Potential suatu sumut (AOFP). Pada sumur ini dilakukan uji
deliverabilitas Modified Isochronal Test pendekatan pressure dengan metode C and
n. pada pengujian ini dilakukan input data tekanan (pressure well flowing dan
pressure well shut in) dan laju alir gas. Pada gambar di bawah ini menunjukan
langkah analisis uji deliverabilitas dalam software Ecrin.

Gambar D.7 Proses Uji Deliverabilitas dengan Metode C and n

66
Lampiran E Langkah Keja Software IPM Prosper

Tahap pertama dilakukan adalah melakukan input pada software IPM


Prosper dengan memilih jenis fluid description, well type dan well completion.
Selanjutnya dilakukan input data PVT hasil pengujian sumur.

Gambar E.1 Initial Input Software IPM Prosper

67
Tahap selanjutnya adalah melakukan input IPR data dengan menggunakan
data C and n yang didapat dari perhitungan software Ecrin beserta menginput data
reservoir kedalam software IPM Prosper.

Gambar E.2 Inflow Performance dan Reservoir Data

68
Tahap selanjutnya melakukan input pada panel Equipment Data berupa data
Deviation survey, dimana data bersebut berisikan kedalaman Total Depth sumur
dalam TVD dan MD.

Gambar E.3 Input Data Deviation Survey

69
Selanjutnya data Equipment lainnya diinput dalam software yaitu berupa data
downhole equipment dan geothermal data. Di bawah ini adalaj proses input data
tersebut.

Gambar E.4 Input Data Downhole Equipment dan Geothermal Energy

70
Tahap selanjutnya menganalisis Inflow Perfiormance Relationship dengan
memasukan data condensate gas ratio. Di bawah ini merupakan tahap pembuatan
grafik IPR.

Gambar E.5 Input Data Inflow Performance dan Kurva IPR

71
Selanjutnya, melakukan matching Vertical Lift Correlation pada panel
Analysis Summary. Di bawah ini merupakan langakah untuk melakukan matching
tersebut.

Gambar E.6 Analisis Matching Vertical Lift Correlation

72
Tahap selanjutnya, membuat data TPD dengan melakukan iterasi pada System
3 Variable dengan menggunakan variabel water gas ratio, first node pressure, dan
condensate gas ratio.

Gambar E.7 Analisis Tubing Performance Data

73
Di bawah ini merupakan hasil plot dari analisis Tubing Performance Data
yang akan digunakan untuk analisis software IPM MBAL.

Gambar E.8 Hasil Analisis Tubing Performance Relationship

74
Lampiran F Langkah Software IPM MBAL

Langkah pertama pada software IPM MBAL adalah melakukan pemilihan


metode material balance pada tool software ini, selanjutnya memilih jenis
hidrokarbon serta memilih tank model menjadi single tank pada panel option.
Setelah itu melakukan input data reservoir. Di bawah ini merupakan langkah pada
proses ini.

Gambar F.1 Input Pemilihan Model dan Data Reservoir

75
Langkah selanjutnya melakukan input data yaitu berupa data karakteristik
reservoir baik fluida maupun batuan beserta GIIP by well yang telah dihitung pada
analisis pressure build up. Di bawah ini merupakan langka pada proses ini.

Gambar F.2 Input Karaktersitik Reservoir dan GIIP by well

76
Langkah selanjutnya merupakan memilih model predict untuk menentukan
plateau time produksi sumur. Digunakan production profile using well model pada
pemilihan predict ini dimana model sumur yang digunakan adalah data hasil
analisis uji pressure build up dan deliverability berupa inflow performance dan
tubing performance data. Di bawah ini merupakan prosedur kerja pada proses kali
ini.

Gambar F.3 Input Model Predict Produksi dari Reservoir Beta-1

Dengan menggunakan model predict diatas akan memunculkan panel baru


pada tool production prediction yaitu berupa well type definition. Pada panel
tersebut digunakan untuk membuat model sumur dengan data TPD dan inflow
performance yang sudah ada dari hasil analisis software IPM Prosper sebelumnya.

77
Tahap selanjutnya adalah membuat sumur pada panel well type definition
dengan memilih tipe sumur menjadi dry gas producer dan menginput data Inflow
Performance Relationship dari hasil analisis sebelumnya. Di bawah ini merupakan
langkah kerja pada proses ini.

Gambar F.4 Input Data Inflow Performance

78
Tahap selanjutnya adalah melakukan import tubing performance data
melalui panel well type definition beserta memperlihatkan hasil import data
tersebut. Di bawah ini merupakan langkah kerja dari proses ini.

Gambar F.5 Input Data Tubing Performance dan Hasil

79
Langkah selanjutnya adalah melakukan penentuan well schedule untuk
menentukan tanggal awal dari produksi sumur beserta tanggal akhir dari tabel profil
produksinya. Setelah itu melakukan input pada panel production constraints
dengan memasukan data manifold pressure dan maximum gas rate dari sumur.

Gambar F.6 Input Data Well Schedule, Manifold Pressure, dan Gas Rate

80
Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis run production prediction
untuk penentuan lamanya plateu time produksi sumur dengan cara mengklik bagian
calculate. Gambar selanjutnya merupakan hasil dari analisis prediksi waktu plateau
sumur VLL-1.

Gambar F.7 Analisis Run Production Prediction dan Plot Plateau Time

Dengan cara yang sama hanya mengganti maximum rate production


dilakukan analisis Plateau Time pada berbagai laju alir produksi sumur.

81
Lampiran G Penentuan True Skin (st) dan Turbulent Skin (DQg)

Dalam penentuan nilai true skin dan skin akibat aliran turbulensi dapat
ditentukan dengan menggunakan persamaan di bawah ini:
St = s + DQg
Pertama-tama diperhitungan nilai 𝛽:
𝛽 = 1.88 (1010) (k)-1.47 (Ø)-0.53
= 1,88 (1010) (6,021)-1.47 (0,3)-0.53 = 2541736837,57
Dengan persamaan di bawah ini, maka nilai F:

  T g 
F = 3,161 x 10-12  
  gwf h rw 
2

 
= 3,161 x 10-12  2541736837x (250 2 460) x 0,77   0,0212 psi2/cp/(mscf/day)2
 0,0211x114,83 x 0,261 
Jadi nilai D adalah:
0,0212 x 6,021 x 114,83
D= Fkh
=  4,12 x 10 5 (mscf/D)-1
1422T 1422 x (250  460)
Kemudian setelah nilai D sudah ditentukan, dengan nilai s = -3,032 dan Qg = 8,598
mmscf/D, maka dengan persamaan di bawah ini nilai st dan turbulent skin (DQg)
adalah:
s = st + DQg
-3,032 = st + (1,87 x 10-5 x 8,598 x 1000)
-3,032 = st + (0,3545)
st = -3,386

82