Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa Karakteristik Arang Aktif Sabut dengan Scanning Elektron Microscopy
(SEM)
Pada penelitian ini diawali dengan proses sintesis karbon aktif dari sabut kelapa melalui proses
karbonisasi dengan pirolisis, aktivasi kimia dengan H3PO4 10 % dan dilanjutkan dengan aktivasi
fisika menggunakan furnace pada suhu 600oC selama 3 jam. Proses aktivasi bertujuan untuk
memperluas pori karbon akibat molekul-molekul zat pengaktif akan teradsorpsi oleh bahan karbon
dan melarutkan pengotor yang berada pada pori-pori karbon seperti mineral organik.

Gambar 1. Mikrostruktur Karbon Aktif Sabut Kelapa

Morfologi permukaan karbon aktif sabut kelapa yang telah diaktivasi diidentifikasi dengan
alat SEM (Scanning Electron Microscope) dalam pembesaran objek 2500 kali yang ditunjukan
pada gambar 1.

Berdasarkan pada gambar 1 memperlihatkan struktur pori yang seragam dari permukaan
karbon aktif. Estimasi ukuran pori rata – rata karbon aktif ini sebesar 4.5 µm sehingga menurut
IUPAC termasuk dalam kategori arang aktif makropori. Sedangkan kedalaman pori karbon aktif
secara umum masuk dalam kategori pori dalam. Dari kedua parameter tersebut, arang aktif yang
dihasilkan pada penelitian ini cukup baik karena semakin dalam dan besar pori-pori karbon aktif
maka permukaan aktif semakin luas dan kemampuan adsorbs arang aktif sabut kelapa akan
semakin baik.

Sabut kelapa dipilih menjadi bahan baku arang aktif karena memiliki karakteristik yang
baik untuk dijadikan arang aktif , Pada dasarnya sabut kelapa merupakan material komposit
kompleks terbentuk dari polimer alam diantaranya selulosa, lignin dan hemiselulosa. Selama
proses karbonisasi pada temperatur tinggi struktur polimer ini terdekomposisi dan terbebas dalam
bentuk unsur non karbon seperti hydrogen, oksigen dan nitrogen baik dalam bentuk cair (tar)
maupun gas dan akan meninggalkan struktur padatan karbon dalam bentuk lapisan aromatis
(kwaghger, 2013)

Karakteristik Arang Aktif Sabut Kelapa sesuai dengan SNI 06-3730-1995

Karakterisasi arang aktif dapat diperlihatkan melalui beberapa pengujian mutu berdasarkan
Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 06-3730 (1995) yaitu penentuan kadar air, kadar abu,
volatile matter dan daya serap terhadap iodium. Hasil karakterisasi arang aktif sabut kelapa
disajikan pada tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1. Data Analisa Karakteristik Arang Aktif Sabut Kelapa


Sampel arang
Parameter SNI 06-3730-1995 keterangan
aktif
Kadar Air Max 15 % 7.1878 % sesuai
Kadar Abu Max 10 % 9.5747 % sesuai
Volatile Matter Max 25 % 6.7796 % sesuai
Analisa Daya
Min 750 mg/g 835.1529 mg/g sesuai
Serap Iod

Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 1 menunjukan bahwa semua parameter analisa
karakteristik arang aktif sabut kelapa telah memenuhi standar SNI 06-3730-1995 sehingga arang
aktif ini dapat digunakan untuk proses adsorpsi pada proses pemurnian minyak jelantah.
4.2 Hasil Analisa Adsorpsi Minyak Jelantah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu kontak adsorpsi terhadap
penurunan bilangan peroksida dan bilangan asam dalam minyak goreng bekas dengan
menggunakan berbagai metode pemurnian sehingga diperoleh kondisi optimum. Minyak goreng
bekas yang digunakan pada penelitian ini adalah minyak goreng bekas yang diperoleh dari
pedagang rumah makan di sekitar SMAN 10 Samarinda.

Proses pemurnian minyak goreng ini dilakukan dengan penambahan serbuk arang aktif
sabut kelapa dan penambahan antioksidan alami ekstrak bawang merah kedalam minyak goreng
bekas. Penurunan bilangan peroksida dan bilangan asam diperoleh dengan membandingkan
minyak kontrol dalam hal ini minyak goreng bekas sebelum proses pemurnian dengan minyak
goreng bekas setelah mengalami berbagai kondisi dan metode pemurnian.

Mutu minyak goreng dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bilangan asam dan
bilangan peroksida. Bilangan peroksida adalah nilai terpenting untuk menentukan derajat
kerusakan pada minyak atau lemak, semakin tinggi bilangan peroksida semakin rendah kualitas
minyak.

Tabel 2. Data Analisa Bilangan Peroksida

Bilangan peroksida (meq O2/kg)


Variasi Kontrol Minyak +
No Minyak Minyak +
Suhu / / Raw Arang +
+ Arang Antioksidan
Perlakuan Oil Antioksidan
1 30 11.1163 8.3635 1.7340 1.5300
2 50 12.5454 6.2218 2.3459 1.3258
3 70 14.1768 8.2612 5.2015 9.5868
4 90 16.2169 10.1303 7.6494 5.4056
5 110 18.6645 12.0162 11.3203 9.5868

Hasil analisa bilangan peroksida minyak goreng bekas sebelum dan setelah diberi berbagai
metode perlakuan dan variasi suhu disajikan pada tabel 2. Tabel tersebut menunjukan bahwa
kondisi suhu kontak terhadap minyak sampel memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap
bilangan peroksida diberbagai metode perlakuan.

Dari tabel tersebut juga dapat dilihat kenaikan bilangan peroksida pada minyak goreng
bekas sebelum proses pemurnian berbanding lurus dengan kenaikan suhu kontak. Bilangan
peroksida minyak goreng bekas sebelum proses pengolahan pada suhu 30 oC yaitu 11.1163 meq
O2/kg dan mengalami kenaikan sebesar 50% pada suhu 110 oC menjadi 18.6645 meq O2/kg. Hal
ini disebabkan suhu yang terlalu tinggi akan mempercepat terbentuknya senyawa peroksida
(Rahayu dan Purnavita, 2014)

Berdasarkan standar mutu minyak goreng menurut SNI 3741 2013 diketahui bahwa
toleransi maksimal bilangan peroksida yang terkandung dalam minyak adalah sebesar 10 meq
O2/kg (BSN, 2013).

Persen Penurunan Bilangan Peroksida (meq O2/Kg)


100
Bilangan Peroksida
Persen Penurunan

80

60

40

20

0
30 50 70 90 110
Suhu (C)

Persen Penurunan (%) Bilangan Peroksida Minyak + Arang


Persen Penurunan (%) Bilangan Peroksida Minyak + Antioksidan
Persen Penurunan (%) Bilangan Peroksida Minyak + Arang + Antioksidan

Dari grafik 2 dapat diketahui kondisi optimum yang memberikan persen penurunan
bilangan peroksida tertinggi adalah pada perlakuan penambahan minyak goreng bekas dengan
arang aktif dan antioksidan pada suhu 50OC yakni sebesar 89.43 % dengan nilai bilangan peroksida
sebesar 1.3258 meq O2/Kg . M
Pada tabel 2 dapat dilihat hasil analisa bilangan peroksida minyak goreng bekas yang telah
diberi berbagai metode perlakuan dengan variasi suhu kontak. Tabel tersebut menunjukan bahwa
metode perlakuan terhadap minyak kontrol dan suhu kontak yang berbeda memberikan pengaruh
yang sangat nyata terhadap bilangan peroksida dalam minyak. Dari tabel tersebut juga dapat dilihat
kenaikan bilangan peroksida pada minyak goreng bekas sebelum proses pemurnian berbanding
lurus dengan kenaikan suhu kontak. Bilangan peroksida minyak goreng bekas sebelum proses
pengolahan pada suhu 30 oC yaitu 11.1163 meq O2/kg dan mengalami kenaikan sebesar 50% pada
suhu 110 oC menjadi 18.6645 meq O2/kg. Hal ini disebabkan suhu yang terlalu tinggi akan
mempercepat terbentuknya senyawa peroksida (Rahayu dan Purnavita, 2014) karna apaaa ???.
Persen Penurunan
Bilangan Peroksida 100
Persen Penurunan

80

60

40

20

0
30 50 70 90 110
Suhu (C)

Persen Penurunan (%) Bilangan Peroksida Minyak + Arang


Persen Penurunan (%) Bilangan Peroksida Minyak + Antioksidan
Persen Penurunan (%) Bilangan Peroksida Minyak + Arang + Antioksidan

Tabel. 2 Data Analisa Bilangan Asam


Bilangan Asam (mg NaOH/gr)
Variasi Kontrol / Minyak + Minyak + Minyak +
No
Suhu / Raw Oil Arang Antioksidan Arang +
Perlakuan Antioksidan
1 30 2.2199 0.0999 0.2799 0.4299
2 50 2.4299 0.8499 0.7249 0.2699
3 70 2.8299 1.2900 1.0899 0.8199
4 90 3.2899 1.9365 1.4499 1.3599
5 110 3.8298 2.3574 2.1299 2.5899
Bilangan Asam (mg NaOH/gr)
4.5
4
Bilangan Asam
(mg NaOH/gr)

3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
30 50 70 90 110
Suhu (C)

Bilangan Asam (mg NaOH/gr) Kontrol / Raw Oil Suhu / Perlakuan


Bilangan Asam (mg NaOH/gr) Minyak + Arang Suhu / Perlakuan
Bilangan Asam (mg NaOH/gr) Minyak + Antioksidan Suhu / Perlakuan
Bilangan Asam (mg NaOH/gr) Minyak + Arang + Antioksidan Suhu / Perlakuan

Tabel. 3 Data Analisa Bilangan Peroksida

Bilangan peroksida (meq O2/kg)


Variasi Kontrol Minyak +
No Minyak Minyak +
Suhu / / Raw Arang +
+ Arang Antioksidan
Perlakuan Oil Antioksidan
1 30 11.1163 8.3635 1.7340 1.5300
2 50 12.5454 6.2218 2.3459 1.3258
3 70 14.1768 8.2612 5.2015 9.5868
4 90 16.2169 10.1303 7.6494 5.4056
5 110 18.6645 12.0162 11.3203 9.5868
Bilangan peroksida (meq O2/kg)
20
Bilangan peroksida

18
(meq O2/kg)

16
14
12
10
8
6
4
2
0
30 50 70 90 110
Suhu (C)

Bilangan peroksida (meq O2/kg) Kontrol / Raw Oil Suhu / Perlakuan


Bilangan peroksida (meq O2/kg) Minyak + Arang Suhu / Perlakuan
Bilangan peroksida (meq O2/kg) Minyak + Antioksidan Suhu / Perlakuan
Bilangan peroksida (meq O2/kg) Minyak + Arang + Antioksidan Suhu / Perlakuan
Persen Penurunan (%)

Bilangan Asam Bilangan Peroksida

Variasi Minyak Minyak + Minyak Minyak +


Minyak + Minyak +
suhu + Arang + + Arang +
Antioksidan Antioksidan
Arang Antioksidan Arang Antioksidan

30 50.45 87.39 80.03 24.76 84.40 86.24

50 65.02 70.17 88.89 50.41 81.30 89.43

70 54.41 61.49 71.03 41.73 63.31 32.38

90 41.14 55.93 58.66 37.53 52.83 60.67

110 41.71 44.39 32.38 35.62 39.35 46.64

Persen Penurunan
100
90
80
Persen Penurunan

70
Bilangan Asam

60
50
40
30
20
10
0
30 50 70 90 110
Suhu (C)

Persen Penurunan (%) Bilangan Asam Minyak + Arang


Persen Penurunan (%) Bilangan Asam Minyak + Antioksidan
Persen Penurunan (%) Bilangan Asam Minyak + Arang + Antioksidan
Persen Penurunan
100
Bilangan Peroksida
Persen Penurunan

80

60

40

20

0
30 50 70 90 110
Suhu (C)

Persen Penurunan (%) Bilangan Peroksida Minyak + Arang


Persen Penurunan (%) Bilangan Peroksida Minyak + Antioksidan
Persen Penurunan (%) Bilangan Peroksida Minyak + Arang + Antioksidan