Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Paradigma sehat merupakan model pembangunan kesehatan yang dalam

jangka panjang mampu mendorong masyarakat untuk bersikap mandiri dalam

menjaga kesehatan mereka sendiri melalui kesadaran yang lebih tinggi pada

pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif. Banyak

kendala yang harus dihadapi dalam upaya peningkatan derajat kesehatan

masyarakat, salah satunya adalah kendala untuk meningkatkan kesehatan jiwa

seseorang (Andra, 2008).

Kesehatan jiwa adalah kondisi jiwa seseorang yang terus tumbuh berkembang

dan mempertahankan keselarasan dalam pengendalian diri serta terbebas dari

stress yang serius. Indicator sehat jiwa meliputi sikap yang positif terhadap

diri sendiri, tumbuh berkembang, memiliki aktualisasi diri, keutuhan,

kebebasan diri, memiliki persepsi sesuai kenyataan dan kecakapan dalam

beradaptasi dengan lingkungan (Stuart & Laraia, 1998 dalam Yosep, 2007).

Kesehatan jiwa dapat terganggu dengan adanya gangguan jiwa. Gangguan

jiwa tersebut dapat berupa skizofrenia, dimana angka kejadian skizofrenia

masih cukup tinggi. Di negara Amerika Serikat, angka kejadiannya mencapai


1/100 penduduk. Sedangkan di Indonesia 1/1000 penduduknya. Penyebab

gangguan jiwa tersebut antara lain somatogenik (gangguan pada badan),

sosiogenik (lingkungan sosial) dan psikogenik (psikososial). Beberapa

penyebab itu saling mempengaruhi lalu timbulah gangguan jiwa. Gangguan

jiwa tersebut dapat berupa psikosis, neurosis, kecemasan dari kecemasan

ringan sampai dengan panic (Yosep, 2007;61).

Kecemasan merupakan salah satu gangguan kesehatan jiwa pada seseorang.

Kecemasan merupakan konflik emosional antara id dan super ego yang

berfungsi untuk memperingatkan ego tentang sesuatu bahaya yang perlu

diatasi. Kecemasan terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal. Hal

ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa pertumbuhan, seperti

kehilangan, perpisahan yang menyebabkan seseorang menjadi tidak berdaya.

Kecemasan merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu yang mengganggu

kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kecemasan

merupakan keadaan yang tidak dapat dijelaskan. Secara umum faktor yang

terkait meliputi ancaman integritas diri meliputi ketidakmampuan fisiologi

atau gangguan terhadap kebutuhan dasar dan ancaman sistem diri antara lain

ancaman terhadap identitas diri harga diri dan hubungan interpersonal (Andra,

2008).

Kecemasan dapat dialami oleh siapa saja tanpa memandang umur. Salah

satunya adalah kecemasan yang dialami oleh tahanan. Tahanan adalah

seseorang yang diduga keras melakukan kejahatan, karenanya untuk


sementara dia dimasukkan dalam tahanan untuk kepentingan penyelidikan,

penyidikan dari pemeriksaan dari perkara yang disangkanya. Dalam hal ini dia

dinyatakan belum tentu bersalah dan bisa saja dibebaskan bila dalam

penyelidikan dan pemeriksaan tersebut tidak ditemukan bukti bahwa dia

bersalah (http://www.chinmi.wordpress.com, 24 Maret 2009).

Tindak kejahatan yang dilakukan oleh tahanan adalah tindakan kriminalitas.

Kriminalitas yaitu segala sesuatu yang melanggar hukum atau sebuah tindak

kejahatan. Pelaku kriminalitas disebut orang kriminal

(http://www.wikipedia.com, 25 April 2009). Angka kriminalitas di Indonesia

dari tahun ketahun semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan

meningkatknya jumlah tahanan pertahunnya. Jumlah tahanan pada tahun 2007

tercatat sebanyak 47.788 orang, dimana tahun 2006 jumlah tahanan sebesar

44.525 orang.

Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Viktoria (2007) mengatakan bahwa

kecemasan dapat dialami oleh narapidana, karena masyarakat mempunyai

stigma yaitu menurunkan status seorang narapidana dari seseorang yang

seutuhnya menjadi seseorang yang tercemar dan diabaikan karena perbuatan

yang pernah dilakukan oleh para terpidana. Narapidana wanita telah diberi

stigma yang lebih buruk dibandingkan dengan narapidana pria. Wanita sebagai

pelaku kejahatan dianggap telah melanggar norma ganda oleh masyarakat,

yaitu norma hukum dan norma konvensional tentang bagaimana seharusnya

wanita berperilaku dan bersikap. Stigma tetap ada meskipun narapidana


wanita telah keluar dari penjara. Salah satu dampak dari stigma adalah

munculnya rasa cemas. Dengan demikian, seorang narapidana wanita dapat

merasa cemas untuk kembali ke masyarakat. Kecemasan ini tergantung dari

persepsi narapidana wanita tersebut. Apabila narapidana wanita tersebut

mempersepsikan adanya stigma yang kuat dari masyarakat, maka ia dapat

merasa cemas untuk kembali ke masyarakat.

(http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=7&katsus=16&id=534).

Sutandar dalam artikelnya mengatakan sebagai narapidana dalam

menjalankan pemindahan di Lembaga Permasyarakatan sering kali timbul

perasaan tidak aman, gelisah, cemas serta berbagai macam tekanan pada

dirinya. Tentu saja ada perbedaan intensitaskecemasan yang dipengaruhi jenis

pelanggaran maupun latar belakang kemampuan yang dimiliki oleh

narapidana. Dan pengamatan pribadi komposisi penghuni Lembaga

Permasyarakatan sebagian besar berpendidikan rendah, dengan tingkat

keekososialan yang buruk. Maka dapat diperkirakan kecemasan hari depan

(kesempatan untukmenghidupi dirinya sendiri ataupun keluarga) merupakan

masalah utama bagi narapidana-narapidana tersebut. Setiap orang pasti

mengalami kecemasan dalam hidupnya karena dalam perjalan hidupnya

manusia pasti pernah menghadapi permasalan yang terkadang dapat

menimbulkan konflik dan frustasi. Konflik dan frustasi lainnya merupkan

salah satu sumber kecemasan ancaman fisik, ancaman terhadap harga diri, dan

tekanan untuk melakukan sesuatu diluar kemampuan, juga bisa menimbulkan

kecemasan. Kecemasan narapidana di Lembaga Permasyarakatan menjadi


lebih menarik perhatian karena mereka ada perlakuan khusus yang diterima

berdasarkan ketentuan-ketentuan yang di tetapkan Lembaga Permasyarakatn

(http//www.digilid.ui.ac.id/opac/theme/libri2/detail.jsp?

id=98885&lokasi=lokal).

Berdasarkan data rekapitulasi jumlah tahanan di Poltabes Bandar Lampung,

tahun 2008 didapatkan data kriminalitas sebanyak 578 kasus. Hal ini

menyebabkan mereka ditahan, sehingga berdampak pada psikososial mereka,

seperti kurangnya interaksi dengan sesama teman dalam tahanan, rasa takut

dan gelisah. Berdasarkan presurvey yang dilakukan peneliti terhadap 10 orang

tahanan di Poltabes Bandar Lampung, didapatkan data sebagai berikut:

sebanyak 5 orang (50%) mengatakan tidak tenang ketika berada dalam

tahanan, ketika diwawancara mereka terlihat gemetar pada tangannya,

bibirnya tampak bergetar, dan nafasnya terkadang sesak, sebanyak 3 orang

(30%) mengatakan mereka takut kalau mereka divonis bersalah dan akan

mendapatkan hukuman penjara, mereka terlihat gelisah, tidak konsentrasi

dalam menjawab pertanyaan, sebanyak 2 orang (20%) mengatakan dapat

menerima dirinya, mereka terlihat santai dan tenang dalam tahanan.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas peneliti tertarik untuk meneliti

tentang ”hubungan mekanisme koping terhadap tingkat kecemasan pada

tahanan di Poltabes Bandar Lampung tahun 2009”.

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat diidentifikasi masalah

sebagai berikut:

1.2.1 Kecemasan dapat dialami oleh siapa saja tanpa memandang umur.

1.2.2 Angka kriminalitas di Indonesia dari tahun ketahun semakin meningkat.

Hal ini dibuktikan dengan meningkatknya jumlah tahanan pertahunnya.

Jumlah tahanan pada tahun 2007 tercatat sebanyak 47.788 orang, dimana

tahun 2006 jumlah tahanan sebesar 44.525 orang. Hal ini menyebabkan

mereka ditahan, sehingga berdampak pada psikososial mereka, seperti

kurangnya interaksi dengan sesama teman dalam tahanan, rasa takut dan

gelisah.

1.2.3 Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Viktoria (2007) mengatakan bahwa

kecemasan dapat dialami oleh narapidana.

1.2.4 Berdasarkan artikel yang ditulis Sutandar bahwa narapidana yang

menjalankan pemindaan di Lembaga Permasyarakatan sering kali muncul

perasaan tidak aman, gelisah, cemas, serta bergagai tekanan dirinya.

1.2.5 Berdasarkan data rekapitulasi jumlah tahanan di Poltabes Bandar

Lampung, tahun 2008 didapatkan data kriminalitas sebanyak 578 kasus.

1.2.6 Berdasarkan presurvey yang dilakukan peneliti terhadap 10 orang tahanan

di Poltabes Bandar Lampung, didapatkan data sebagai berikut: sebanyak 5

orang (50%) mengatakan tidak tenang ketika berada dalam tahanan, ketika

diwawancara mereka terlihat gemetar pada tangannya, bibirnya tampak

bergetar, dan nafasnya terkadang sesak, sebanyak 3 orang (30%)

mengatakan mereka takut kalau mereka divonis bersalah dan akan

mendapatkan hukuman penjara, mereka terlihat gelisah, tidak konsentrasi


dalam menjawab pertanyaan, sebanyak 2 orang (20%) mengatakan dapat

menerima dirinya, mereka terlihat santai dan tenang dalam tahanan.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan presurvey peneliti, didapatkan data bahwa jumlah tahanan di

Poltabes Bandar Lampung selalu mengalami peningkatan, hal ini disebabkan

meningkatnya angka kriminalitas yang dilakukan oleh para tahanan, yang

mengakibatkan mereka mengalami kecemasan seperti respon gemetar pada

anggota gerak, bibir bergetar, sesekali nafas pendek, gelisah, tidak konsentrasi

dan tidak mau berinteraksi dengan sesama teman dalam tahanan. Pada

Poltabes Bandar Lampung juga belum pernah dilakukan penelitian tentang

hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pada tahanan di

Poltabes Bandar Lampung. Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan

masalah sebagai berikut: “hubungan mekanisme koping terhadap tingkat

kecemasan pada tahanan di Poltabes Bandar Lampung tahun 2009”.

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan mekanisme koping terhadap tingkat kecemasan

pada tahanan di Poltabes Bandar Lampung tahun 2009.

1.4.2 Tujuan Khusus


1.4.2.1 Mengetahui mekanisme koping pada tahanan di Poltabes Bandar Lampung

tahun 2009.

1.4.2.2 Mengetahui tingkat kecemasan pada tahanan di Poltabes Bandar Lampung

tahun 2009.

1.4.2.3 Mengetahui hubungan mekanisme koping terhadap tingkat kecemasan

pada tahanan di Poltabes Bandar Lampung tahun 2009.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Bagi Poltabes Bandar Lampung

Sebagai masukan bagi Poltabes Bandar Lampung akan pentingnya

dukungan sosial dan moral bagi para tahanan untuk mengurangi tingkat

kecemasan dalam ruang tahanan.

1.5.2 Bagi Tahanan Poltabes Bandar Lampung

Sebagai wawasan bagi tahanan tentang faktor yang mempengaruhi tingkat

kecemasanan dalam ruang tahanan.

1.5.3 Bagi Institusi Poltekkes Prodi Keperawatan Tanjungkarang

Sebagai data awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

1.5.4 Bagi Peneliti

Sebagai aplikasi ilmu yang telah didapatkan di bangku kuliah terutama

mata ajar riset keperawatan serta peneliti ingin mengetahui faktor-faktor

yang mempengaruhi tingkat kecemasan pada tahanan di Poltabes Bandar

Lampung.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kecemasan

2.1.1 Pengertian kecemasan

Kecemasan adalah penghamburan kecemasan secara alami dan tidak

menentu, menghubungkan antara perasaan yang tidak pasti dan tidak

keberdayaan (Struat and Laraia, 2005 : 260).

Kecemasan adalah sebuah perasaan sebagai pengalaman individu dan

subjektif atau menyempitnya pandangan sendiri, itu adalah energi yang tidak

bisa diteliti secara langsung (Struart and Laraia, 2005 : 260).

Kecemasan menurut Made (2003 :205) adalah sebuah kelompok atau

kondisi yang ditandai dengan keluarbiasaan atau kecemasan patologi tau

juga ketakutan pengalaman dari penderita adalh gangguan fikir, gangguan

hati, perilaku, aktivitas psikologi, banyak perasaan tidak menentu sepanjang

waktu.

Kecemasan merupakan respon individu terhadap suatu keadaan yang tidak

menyenangkan dan dialami oleh semua mahkluk dalam kehidupan sehari-

hari. Kecemasan terjadi sebagai ancaman terhadap harga dirinya atau


identitas diri yang mendasar bagi keberadaan individu (Suliswati, dkk,

2005:108).

Kecemasan adalah kehawatiran yang tidak jelas menyebar, yang terkait

dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak

memiliki objek yang spesifik. Kecemasan dialami secara subjektif dan di

komunikasikan secara interpersonsl (Stuart, 2007 :144).

Kecemasan adalah suatu perasan takut yang tidak menyenangkan dan tidak

dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologis, sedangkan

pada gangguan kecemasan terkandung unsur penderitaan yang bermakna

dan gangguan fungsi yang disebabkan oleh kecemasan tersebut (Tomb,

2006:96).

2.1.2 Respon Kecemasan

Kecemasan dapat diekspresikn secara langsung melalui perubahan fisiologi

dan prilaku juga secara tidak langsung melalui timbilnya masalah gejala atau

mekanisme koping sebagai melawan masalah. (Gail W. Struat, 2007 : 148-

150).

Berikut ini adalah Respon fisiologi, prilaku, kognitif dan efektif terhadap

kecemasan (Struat and Laraia, 2005 :263) adalah :

a. Respon Fisiologis Kecemasan


 Kardiovaskuler

Palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meningkat, rasa ingin

pingsan, pingsan, tekanan darah menurun, denyut nadi menurun.

 Pernapasan

Napas cepat, sesak napas, tekanan pada dada, nafas dangkal,

pembengkakan pada tenggorokan, sensasi tercekik, terengah-engah.

 Neuromoskuler

Reflek meningkat, reflek terkejut, mata berkedip-kedip, insomnia,

tremor, regiditas gelisah, gelisah, mondar-mandir, wajah tegang,

kelemahan umum, tungkai lemah, gerakan yang janggal.

 Gastroenterestinal

Kehilangan nafsu makan, menolak makan, rasa tidak nyaman pada

abdomen, nyeri abdomen, mual, nyeri ulu hati, diare.

 Saluran Kemih

Tidak dapat menahan kencing, sering berkemih.

 Kulit

Wajah kemerahan, berkeringat setempat (telapak tangan), gatal,

berkeringat seluruh tubuh.

b. Respon Prilaku, Kognitif dan Afektif Kecemasan

 Respon Prilaku

Gelisah, ketegangan fisik, tremor, reaksi berkejut, bicara cepat,

kurang koordinasi, cenderung mengalami cidera, menarik diri dari

hubungan interpersonal, melarikan diri dari masalah, menghindar

dan sangat waspada.


 Respon Kognitif

Perhatian terganggu, konsentrasi buruk, pelupa,salah dalam

memberikan penilaian, hambatan berfikir, lapang persepsi menurun,

kreatifitas menurun, produktivitas menurun, binggung, sangat

waspada, takut kehilangan kendali, kehilangan objektivitas, takut dan

mimpi buruk.

 Respon Afektif

Mudah terganggu, tidak sabar, gelisah, tegang, gugup, ketakutan,

waspada, kengerian, kekhawatiran, kecemasan, mati rasa, rasa

bersalah dan malu.

2.1.3 Ciri-ciri Tingkat Kecemasan

Tingkat kecemasan yang dialami individu yaitu ringan, sedang, berat dan

panik (Sulistiawati,dkk, 2005 : 110)

2.1.3.1 Kecemasan Ringan

Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami sehari-hari. Individu masih

waspada serta lapang persepsi meluas, menajam indra. Dapat memotivasi

individu untuk belajar dan mampu memecah masalah secara efektif dan

menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas.

2.1.3.2 Kecemasan Sedang

Individu terfokus hanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya,terjadi

penyempiten lapangan persepsi, masih dapat melakukan sesuatu dengan

arahan orang lain.


2.1.3.3 Kecemasan Berat

Lapangan persepi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya pada detail

yang kecil (spesifik) dan tidak ada berfikir tentang hal-hal lain. Seluruh

prilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan perlu banyak

perintah atau arahan untuk terfokus pada area lain.

2.1.3.4 Panik

Individu kehilangan kendali dan detail perhatian hillang. Karena hilang

control, maka tidak mampu untuk melakukan apapun meskipun dengan

perintah. Terjadi peningkatan aktivitas motorik, berkurangnya kemampuan

berhubungan dengan orang lain, penyimpangan persepsi dan hilangnya

pikiran rasional, tidak mampu berfungsi secara efektif. Biasanya disertai

dengan disorganisasi kepibadian.

2.1.4 Faktor yang Mempengaruhi Kecemasan

2.1.4.1 Faktor Predisposisi

1. Dalam pandangan psikoanalitis, kecemasan merupakan konflik

emosional yang terjadi antara emosional yang terjadi antara dua

elemen kepribadian : id dan superego. Id mewakili dorongan insting

dan impuls primitive, sedangakan superego mencerminkan hati nurani

dan dikendalikan oleh norma budaya. Ego dan Aku berfungsi

menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan tersebut, dan

fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.

(Stuard, 2007 :146).


2. Menurut pandangan interpersonal, kecemasan timbul dari perasaan

takut terhadap ketidaksetujuaan penolakan interpersonal. Kecemasan

juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan

dan kehilangan, yang menimbulkan kerentanan tertentu. (Stuard,

2007:146).

3. Menurut pandangan prilaku, kecemasan merupakan produk frustasi

yaitu segala yang mengganggu kemampuan individu untuk mencapai

tujuan yang di inginkan. (Stuard, 2007:146).

2.1.4.2 Faktor Prepitasi

Menurut Suliswati, dkk, (2005:114) bahwa stersos prepitasi adalah

ketegangan dalam kehidurpan yang mencetuskan timbulnya kecemasan,

dan stressor prepitasi kecemasan dikelompokan kedalam dua bagian :

1. Ancaman terhadap integritas fisik

Ketegangan yang mengancam integritas fisik yang meliputi:

a. Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologi system

imun, perubahan biologis normal (missal : hamil}.

b. Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan

bakteri, kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatan tempat

tinggal.

2. Ancaman terhadap harga diri.

Meliputi sumber internal dan ekternal :

a. Sumber internal : kesulitan dalam berhubungan interpersonal di

rumah dan di tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru.


Berbagai ancaman terhadap integras fisik juga dapat mengancam

harga diri.

b. Sumber eksternal : kehilangan orang-orang yang dicintai,

perceraian, tekanan, kelompok dan budaya.

2.1.4.3 Penilaian Terhadap Stresor

Pemahaman tentang kecemasan memerlukan integrasi pengetahuan dan

sudut pandang. Diketahui bahwa stressor yang dialami akan menimbulkan

kecemasan pada klien sesuai dengan kondisi tingkat kecemasannya,

dipengaruhi banyak faktor,yang membutuhkan penanganan. (Suliswati,

dkk, 2005:116).

2.1.4.4 Sumber Kopinng

Seseorang dapat mengatasi stres dan kecemasan dengan menggunakan atau

mengambil sumber koping dari lingkungan baik dari sosial, interpersinal

dan interpersonal (Suliswati, dkk, 2005 :116).

Sumber- sumber itu seperti aset ekonomi, kemampuan mengatasi masalah,

dukungan sosial, kepercayaan budaya yang dapat membantu seseorng mengatasi

permasalahan stres kedalam dirinya dan belajar untuk berhasil dalam mengangkat

strategi dalam pengatasian (Struart and Laraia 2005).

Dengan integrasi sumber-sumber koping tersebut individu dapat mengabsrobsi

strategi koping yang efektif (Suliswati, dkk, 2005 : 116).


2.1.3.4 Mekanisme Koping

Sebuah kecemasan dapat meningkat dari berat ke level panik, prilaku

ditunjukkan oleh seorang menjadi kuat dan kemungkinan ketidakadilan

dan kualitas hidup menjadi menurun. Seseorang mencoba untuk

menghindari dari kecemasan dengan menggunakan macam-macam

mekanisme koping untuk melapangkannya (Struart, and Laraia 2005).

Ketika mengalani kecemasan, individu menggunakan berbagai mekanisme

koping untuk mencoba mengatasinya (Struat dan Sundent, 1998 : 182).

Ketidak mampuan menghadapi kecemasan secara konstruktif merupakan

penyebab utama terjadinya prilaku patologis (Gail W. Struart, 2007 : 147).

Bila indifidu mengalami kecemasan ia akan mencoba menetralisasi,

mengingkari, atau meniadakan kecemasan dengan pola koping. Pada

kecemasan ringan mekanisme koping yang digunakan adalah menagis,

tidur, makan, tertawa, berkhayal, memaki, merokok, olahraga, mengurangi

diri dengan orang lain, membatasi diri dengan orang lain. Mekanisme

koping untuk kecemasan sedang, berat dan panic membutuhkan banyak

energi (Sulaswati, dkk, 2005 : 116).


Menurut Struart and Laraia (2005 : 268) mekanisme koping yang dapat

dilakukan ada dua jenis :

1. “Task oriented reaction “ atau reaksi berorentasi pada tugas.

Tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan koping ini adalah

individu mensoba menghadapi kenyataaan tuntutan sters dengan

menilai objektif ditujukan untuk mengatasi masalah, memulihkan

dan memenuhi kebutuhan.

Mekanisme ini meliputi :

 Menyerang : dengan menyerang yang dimaksud untuk

kesesuaian kebutuhannya. Terdapat pola yang konstruktif

berupa memecahkan masalah secara efektif dari pola yang

destruktif berupa sangat marah dan bermusuhan.

 Menarik diri : respon secara fisik menjauhi sumber stress

dan secara psikologis dengan apatis merasa kalah. Klien

menarik diri dan mengganggu kemampuan bekerja maka

kemampuan ini disebut sifat destruktif.

 Kompromi : bila dengan menarik diri dan menyerang tidak

berhasil dapat dilakukan mekanisme koping kompromi

dengan mengubah cara bekerja atau cara penyelesaian

mengganti tujuan atau megorbankan salah satu kebutuhan

pribadi, koping ini bersifat konstruksi.

2. ”Ego oriented reaction” atau reaksi berorentasi pada ego. Koping

ini tidak selalu sukses dalam menghadapi masalah. Mekanisme ini


seringkali digunakan untuk melindungi diri sendiri, sehingga

sisebut mekanisme pertahanan ego diri biasanya mekanisme ini

tidak membantu untuk mengatasi masalah secara realita.

Menurut Gail W. Sruart (2007 : 116) bahwa mekanisme ini sering

berlangsung secara relatif pada tingkat tidak sadar dan mencakup

penipuan diri dan distorsi realitas, mekanisme ini menjadi respon

maladaptif terhadap setres.

Mekanisme pertahanan ego yang sering digunakan untuk

mengatasi kecemasan (Gail W. Struart, 2007 : 152), antara lain :

 Kompensasi

Proses individu dengan cara citra diri yang kurang

berupayamenggantinya dan menonjolkan kelebihan lain

yang dianggapnya sebagai aset.

 Penyangkal (denial)

Menghindari realitas ketidaksetujuan dengan mengabaikan

atau menolak untuk mengenalinya; kemungkinan

merupakan mekanisme pertahanan diri yang paling

sederhna dan paling primitif.

 Pengalihan ( displacement)

Mengalihkan emosi yang seharusnya di arahkan pada orang

atau benda tertentu ke benda yang netral atau

membahayakan.

 Disosialisasi
Pemisahan dari setiap kelompok mental atau proses

perlakuan dari seluruh kesadaran atau identitas.

 Identifikasi

Proses individu mencoba untuk menjadi seperti seseorang

yang di kaguni oleh individu tersebut dengan menirukan

pikiran, prilaku, atau kesukaan.

 Introyeksi

Tipe identifikasi yang hebat dimana individu menyatukan

kualitas atau nilai-nilai orang lain atau kelompok dalam

struktur egonya sendiri; salah satu mekanisme terdini pada

anak-anak; penting dalam hubungan hati nurani.

 Isolasi

Memisahkan komponen emosional dari pikiran, yang dapat

temporer atau jangka panjang.

 Projeksi

Mengaitkan pikiran atau impuls dirinya terutama keinginan

yang tidak dapat di toleransi, perasaan emosional, atau

motivasi terhadap orang lain.

 Resionalisasi

Memberi penjelasan yang diterima secara sosial atau

tampaknya masuk akal untuk menyesuaikan impuls,

perasaan, prilaku, dan motif yang tidak dapat di terima.

 Reaksi Formasi
Pembentukan sikap ksadaran dan pola perilaku yang

berlawanan dengan apa yang benar-benar dirasakan atau

akan di lakukan olrh orang lain.

 Regresi

Menghindari stres terhadap karakteristik prilaku dari tahap

perkembangan yang lebih awal.

 Represi

Dorongan involunter dari pikiran yang menyakitkan atau

konflik, atau konflik, atau ingatan dari kesadaran,

pertahanan ego yang primer yang lebih cenderung

memperkuat mekanisme ego lainnya.

 Spiliting

Memandang orang dan situasi sebagai semuanya baik atau

semuanya buruk, gagal untuk mengintegrasikan kualitas

negativ dan positif seseorang.

 Sublimasi

Penerimaan tujuan pengganti yang diterima secara sosial

karena dorongan yang meruopakan saluran norma ekspresi

terhambat.

 Supresi

Suatu proses yang disebut sebagai mekanisme pertahanan

diri, tetapi benar-benar merupakan analogi represi,

pencetusan kesadaranbertujuaan sesuatu ketika dapat

mengarahkan pada represi.


 Undoing

Bertindak atau berkomunikasi yang secara sebagian

meniadakan yang sudah ada sebagian meniadakan yang

sudah ada sebelumnya, mekanisme pertahanan diri primitif.

2.1.5 Pengertian Tahanan

Tahanan atau narapidana adalah pelaku tindak criminal yand dinyatakan

bersalah oleh pengadilan dan menjalani hukuman. Sedangkan seseorang

kriminal belum ditetapkan oleh hakim, maka orang ini disebut orang

terdakwa (www.kriminalitas.com)

Penahanan adalah upaya paksa memempatkan tersangka atau terdakwa

disuatu tempat yang telah dietntukan. Selama proses penyelidikan,

penuntunan, pemeriksaan, tersangka atau terdakwa ditempatkan di Rumah

Tahanan (Rutan),tetapi ada juga yang ditempatkan di Lembaga

Permasyarakan (LP), karena berdasarkan SK MENKEH RI NO. M. 03.

UM.06 tahun 1983, beberapa Lembaga Permasyarakatan tertentu dapat

ditetapkan sebagai Rumah Tahanan (Rutan). Dalam hal ini pihak-pihak yang

berhak menahan adalah:

a. Penyelidik, yaitu polisi atau pejabat lain yang diberi wewenang untuk

melakukan serangkaian tindakan pengumpul bukti.

b. Penuntut umum, yitu jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-Undang

untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim


c. Hakim, baik hakim Pengadilan Negeri maupun hakim Pengadilan Tinggi

dam Mahkamah Agung, yaitu pejabat peradilan Negara yang diberikan

wewenang oleh Undang-Undang untuk mengadili

Penahanan hanya dapat dilakukan terhadap tersangka atau terdakwa yang

melakukan tindak pidana atau yang memberi bantuan dalam melakukan

tindak pidana tersebut.

Jenis penahanan yaiyu :

1. Penahanan Ruhah Tahanan Negara, tersangka atu terdakwa di tempetkan

di Rumah Tahanan Negara (Rutan) atau Lembaga Permasyarakatan yang

ditetapkan sebagai rumah Tahanan Negara.

2. Penahanan Rumah, penahanan dilaksanakan ditempat tinggal atau

kediaman tersangka atau terdakwa, dengan tetap dibawah pengawasan

pihak yang berwenang untuk menghindari segala sesuatu yang

menimbulkan kesulitan dalam penyelidikan, penuntutan atau

pemeriksaan disidang pengadilan.

3. Penahanan Kota, penahanan dilaksanakan di kota tempat tingggal

tersangka atau terdakwa dam wajib melaporkan diri pada waktu yang

telah ditentukan.

Umumya orang menganggap, bahwa ditahan sama dengan dipenjara.

Padahal tidak demikian. Seseorang ditahan jika diduga keras melakukan

kejahatan, karenanya untuk sementara dia dimasukan kedalam tahanan


untuk kepentingan penyelidikan dan pemeriksaan dari perkara yang

disangka kepadanya. Berarti dia belum bersalah. Sedangan orang dipenjara

karena dia telah terbukti melakukan kejahatan dan telaah menerima

keputusan hakim (vonis) yang bersifat tetap.

(http://chinmi.wordpepper.com/2007/08/04).
BAB III

KERANGKA KONSEP PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep

Mekanisme yang mempengaruhi tingkat kecemasan ringan, sedang, berat dan

panic menurut Struart and Laraia (2005) sebagai berikut :

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

FaktorPredisposisi

Faktor Presipitasi Tingkat Kecemasan

- Ringan
Penilaian Terhadap Stressor - Sedang
- Berat
- Panik
Sumber Koping

Mekanisme Koping
3.1 Kerangka Kerja Penelitian

Kerangka kerja penelitian adalah suatu hubungan atau suatu kaitan antara

konsep satu dengan konsep lainnya dan masalah yang ingin diteliti

(Notoatmodjo, 2002). Berdasarkan tinjauan pustaka diatas, maka penulis

membuat kerangka kerja penelitian sebagai berikut:

Variabel Independen Variabel Dependen

Mekanisme Koping Tingkat


 Tas Oriented Kecemasan
 Ego oriented  Ringan
 Sedang
 Berat
 Panik

Keterangan:

: variabel yang diteliti

3.2 Hipotesa Penelitian

3.2.1 Ha: ada hubungan mekanisme koping terhadap tingkat kecemasan pada

tahanan di Poltabes Bandar Lampung tahun 2009.

3.2.2 Ho: tidak ada hubungan mekanisme koping terhadap tingkat kecemasan

pada tahanan di Poltabes Bandar Lampung tahun 2009.

3.3 Variabel Penelitian

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang

dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu konsep

pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2005). Variabel yang diteliti adalah:


3.3.1 Variabel Independen

Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi bebas, dan

sebab (Notoadmojo, 2005). Adapun variabel independen pada penelitian ini

adalah mekanisme koping.

3.3.2 Variabel Dependen

Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi, akibat dan

tergantung (Notoadmojo, 2005). Variadel dependen pada penelitian ini

adalah tingkat kecemasan pada tahanan di Poltabes Bandar Lampung.

3.4 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah batasan pada variabel-variabel yang diamati atau

diteliti untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap

variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen atau alat

ukur (Notoatmodjo, 2005). Definisi operasional dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

Tabel 3.1
Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur
Mekanisme Pertahanan yang Mengisi Kuesione 1=baik, jika skor Nominal
koping dilakukan oleh lembar r jawaban yang
tahanan di ruang kuisioner didapat ≥76%
tahanan untuk
mempertahankan diri 0=Kurang baik, jika
dan membebaskan skor jawaban yang
diri dari rasa cemas didapat <76%
dan takut.
Kecemasan Respon emosional Mengisi Kuesione Cemas ringan Ordinal
yang dialami oleh lembar r Cemas sedang
tahanan di Poltabes kuisioner Cemas berat
Bandar lampung yang Panik
ditandai dengan
gejala-gejala
fisiologis, kognitif,
afektif dan perilaku
yang diukur
menggunakan lembar
kuesioner dan lembar
observasi.
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitin ini menggunakan desain korelatif yaitu rancangan penelitian yang

bertujuan untuk mencari hubungan dengan pendekatan cross sectional antara

dua variabel (Arikunto, 2006). Penelitian ini mencari adakah hubungan

mekanisme koping terhadap tingkat kecemasan pada tahanan di Poltabes

Bandar Lampung tahun 2009.

4.2 Populasi dan Sampel

4.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti

(Arikunto, 2006). Adapun populasi pada penelitian ini adalah semua

tahanan yang ada di Poltabes Bandar Lampung tahun 2009. Populasi pada

saat itu berjumlah 91 orang.

4.2.2 Sampel

Sebagian atau wakil dari populasi (Arikunto, 2006)

n=

n = Jumlah sampel

N = Jumlah Populasi
d = Derajat Kesalahan (0.05)

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang akan

diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2002).

Menurut Arikunto (2006), bahwa apabila subjek kurang dari 100, maka

lebih baik sampel diambil semua sehingga penelitiannya merupakan

penelitian populasi. Dan untuk pengambilan sampelnya menggunakan

teknik random sampling secara systematik sampling taitu mengambil

sampel secara acak dan sistematis (Notoadmojo, 2005). Dengan kriteria

responden dalam keadaan sehat, dapat membaca, dan bersedia menjadi

responden penelitian. Dan sampel pada penelitian ini berjumlah 74 orang.

4.3 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Poltabes Bandar Lampung selama satu minggu pada

bulan Juni 2009.

4.4 Etika Penelitian

4.4.1 Informed Concent

Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian

dengan memberikan lembar persetujuan. Lembar persetujuan tersebut

diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar

persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan persetujuan adalah agar subjek

mengganti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya, jika

subjek bersedia maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan dan

jika responden tidak bersedia maka penelitian harus menghormati hak klien.
4.4.2 Anomity (Tanpa Nama)

Merupakan masalah etika dalam penelitian keperawatan dengan cara tidak

memberikan nama responden pada lembar alat ukur hanya menuliskan kode

pada lembar pengumpulan data.

4.4.3 Kerahasiaan (Confidentiality)

Merupakan masalah etika dengan menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian

baik informasi maupun masalah-masalah lainnya, semua informasi yang

telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan responden, hanya kelompok data

tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.

4.5 Pengumpulan Data

4.5.1 Instrumen Pengumpul Data

Alat pengumpul data pada peneliyian ini adalah kuisioner yang terdiri dari

dua bagian 2 (dua) bagian, bagian pertama berisi pertanyaan tentang

variabel independen yaitu pertanyaan masalah mekanisme koping yang

terdiri dari 10 pertanyaan (1-10) dengan menggunakan lembar checklist

dengan katagori baik dan tidak baik..Dan pertanyaan kedua tentang

variabel dependen mengenai tingkat kecemasan diukur menggunakan

lembar kuisioner dengan kategori ringan, sedang, berat dan panik

sebanyak15 pertanyaan (1-15).

4.5.2 Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data dengan cara membagikan lembar kuesiner dan

checklist secara langsung kepada resonden. Responden mendapatkan

penjelasan dari peneliti tentang cara menjawab soal. Pada penelitian ini

kuisioner yang digunakan adalah kuisioner yang sudah disediakan

jawabannya sehingga responden tinggal memilih satu jawaban yang

dianggap benar.

Pada saat penelitian peneliti bekerjasama dengan pihak petugas

Kepolisian Poltabes untuk menggeluarkan tahanan yang sudah dipilih oleh

peneliti sebanyak 10 0rang secara bertahap dan bergiliran keruangan yang

telah ditentukan, pihak petugas Kepolisian Poltabes kemudian dibagikan

kuisioner oleh peneliti yang kemudian dijelaskan tujuan penelitian dan

pengisian inform concent dan kemudiaan pengisian kuisioner, dan dalam

pengisian kuisioner tersebut peneliti berada diruangan tersebut dengan

tujuan bila ada responden yang mengalami kesulitan peneliti dapat

memberikan arahan atau panduan kepeda responden. Lembar jawaban

dikumpulkan pada hari itu juga dengan meminta bantuan kepada petugas

Kepolisian Poltabes Bandar Lampung.

4.6 Pengolahan Data


Menurut Hastono (2007), pengolahan data pada penelitian melalui tahap:

4.6.1 Editing

Merupakan kegiatan pengecekan isian kuesioner apakah jawaban yang ada

di kuesioner sudah lengkap, jelas, relevan dan konsisten.

4.6.2 Coding

Koding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data

berbentuk angka atau bilangan.

4.6.3 Processing

Setelah semua kuesioner terisi penuh dan benar, maka langkah selanjutnya

adalah memproses data agar data yang sudah di entry dapat dianalisis.

Pemprosesan data dilakukan dengan cara meng-entry data dari kuesioner

ke paket program komputer.

4.6.4 Cleaning

Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entry apakah

ada kesalahan atau tidak.

4.7 Teknik dan Analisa Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat dan

bivariat. Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel mekanisme

koping sebagai variabel independen dan kecemasan sebagai variabel

dependen. Analisa univariat digunakan untuk menggambarkan distribusi

frekuensi variabel independen dan dependen, sedangkan analisa bivariat

digunakan untuk mengetahui hubungan variabel dependen dan independen.


Oleh karena variabel independen dan dependen masing-masing adalah data

kategorik sehingga digunakan uji Chi-Square.

4.7.1 Analisa Univariat

Menurut Arikunto (1998), rumus untuk menggambarkan distribusi

frekuensi adalah sebagai berikut:

P= f x 100%
n

Keterangan :

P = Persentase

f = Jumlah masing-masing variabel

n = Jumlah responden

4.7.2 Analisa Bivariat

Menurut Hastono (2007), untuk mengetahui hubungan antar variabel

independen dan dependen, menggunakan rumus sebagai berikut:

  Oij  Eij  2 
x  
2

 Eij 

Keterangan:

x2 = Chi Square hitung

Oij = simbol observasi dari tiap sel

Eij = hasil ekspektasi

Hipotesis kerja (Ha) diterima bila harga Chi Square hitung lebih besar dari

harga Chi Square tabel. Interpretasi dari rumus diatas adalah sebagai
berikut: tentukan batas kritis α (0,05), kemudian dengan nilai x2 hitung

dari nilai df, tentukan nilai p value pada tabel Chi Square. Bila p value ≤ α

(0,05), Ho ditolak berarti data sampel mendukung adanya hubungan yang

bermakna (signifikan) dan bila p value >α (0,05), Ho gagal ditolak berarti

data sampel tidak mendukung adanya hubungan yang bermakna

(signifikan).

Dalam bidang kesehatan untuk mengetahui derajat hubungan dengan

Risiko Relatif (RR) dan Odds Ratio (OR). Nilai OR digunakan untuk jenis

penelitian Cross Sectional dan Case Control. Penelitian ini menggunakan

OR karena merupakan jenis penelitian Cross Sectional. Nilai OR terdapat

pada baris Odds Ratio. OR untuk membandingkan odds pada kelompok

ter-ekspose dengan odds kelompok tidak ter-ekspose.