Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMEN ANALITIK

Modul Praktikum : Spektrofotometri UV Shimadzu


Dosen Pembimbing : Dra. Nancy Siti Djenar, MS
Nama Mahasiswa : 1. Iffatul Aziza (171411081)
2. Isnaniah Wahyuni (171411082)
3. Muhammad Rifky P. H (171411084)
Kelas / Prodi : 1C – D3 Teknik Kimia
Tanggal Praktikum : 7 Maret 2018
Tanggal Pengumpulan: 14 Maret 2018

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BAN
LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMEN ANALITIK

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Setelah melakukan praktikum, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan prinsip Spektrofotometri Ultra Violet-Sinar Tampak
2. Menentukan konsentrasi analit dalam sampel/cuplikan.
II. DASAR TEORI
Pengukuran absorbansi atau transmitansi dalam spektroskopi ultra violet dan
daerah sinar tampak digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif senyawa
kimia. Dasar analisis spektroskopi adalah interaksi radiasi dengan senyawa kimia.
Bila radiaisi dilewatkan pada suatu obyek/senyawa kimia, sebagian radiasi tersebut
akan terabsorpsi. Serapan radiasi oleh molekul dalam daerah spektrum ultra violet
dan sinar tampak tergantung pada struktur elektronik dari molekul yang
bersangkutan.
Penyerapan sinar tampak atau ultra violet tersebut dapat menyebabkan
terjadinya promosi/eksitasi molekul dari energi dasar (ground state) ke tingkat
energi yang lebih tinggi (excited state), atau dapat dikatakan menyebabkan transisi
elektron valensi yang di cirikan dengan pita absorbsi pada daerah panjang
gelombang tertentu. Proses ini melalui dua tahap:
Tahap 1 M + hv → M*
Tahap 2 M* → M + energi
Penyerapan sinar tampak atau ultra violet pada umumnya menghasilkan eksitasi
elektron, sehingga panjang gelombang absorbsi maksimum dapat di hubungkan
dengan jenis ikatan yang ada di dalam molekul yang bersangkutan. Transisi di
daerah ultra violet atau tampak adalah transisi elektronik. Hal ini di kaitkan dengan
lompatan elektron dari orbital molekul penuh (terisi) ke orbital molekul kosong.
Karena elektron dalam molekul mempunyai energi yang tidak sama, maka
energi yang diserap dalam proses eksitasi dapat mengakibatkan terjadinya satu atau
lebih transisi tergantung pada jenis elektron yang terdapat dalam molekul.
Hukum dasar dari spektroskopi diterangkan oleh Lambert dan Beer, sehingga
hukum atau persamaan yang digunakan dikenal dengan “Hukum Lambert-Beer”.
Jika suatu berkas radiasi melewati suatu medium homogen, maka sebagian dari
intensitas radiasi yang datang tersebut Io, akan diabsorbsi/diserap Ia, sebagian
dipantulkan Ir dan sisanya diteruskan/ditransmisikan It. Untuk antar muka udara-
kaca sebagai akibat penggunaan sel kaca, cahaya yang dipantulkan hanya sekitar
4%, sehingga Ir biasanya terhapus dengan penggunaan suatu control ( misalnya
dengan sel pembanding atau blanko), jadi:
Io = Ia + It
Gambar 1. Hukum Lambert-Beer
Lambert menjelaskan bahwa absorbasi radiasi merupakan fungsi ketebalan
medium, sedangkan Beer menjelaskan bahwa absorbsi radiasi sebagai fungsi
konsentrasi medium (larutan senyawa) yang bersangkutan. Cahaya yang diserap diukur
sebagai absorbansi (A) sedangkan cahayayang hamburkan diukur sebagai transmitansi
(T), dinyatakan dengan hukumlambert-beer atau Hukum Beer, berbunyi:
“Jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah
dan sebagainya) yang diserap atau ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan
suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal larutan”.

A = k b cd
dengan, A adalah absorbansi, b adalah ketebalan medium, c adalah konsentrasi
larutan dan k adalah tetapan atau koefisien absorpsi yang tergantung pada satuan
konsentrasi yang digunakan.
k dinyatakan sebagai absorptivitas serapan (= a) jika konsentrasi larutan dalam
satuan gram/liter dan k dinyatakan sebagai absorptivitas molar atau ekstingsi molar (=
€), jika konsentrasi larutan dalam satuan mol/liter. Nilai € untuk setiap molekul adalah
tetap dan merupakan ciri suatu struktur molekul.
A = a b c(gram/liter)
A = € b c(mol/liter)
𝐈𝐨 𝐈𝐭
dengan, log = A dan T = (T: radiasi yang diteruskan /transmitansi).
𝐈𝐭 𝐈𝐨
Sehingga, A = log 1/T.Persamaan Lambert-Beer di atas menunjukkan bahwa
absorbansi (A) berbanding lurus dengan konsentrasi larutan (c), sehingga jika dibuat
suatu kurva antara konsentrasi (c) lawan absorbansi (A), maka akan diperoleh suatu
kurva garis lurus (linier). Kurva linier tersebut biasa dikenal dengan kurva kalibrasi
atau kurva standar, yang dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi analit dari
larutan uji (sampel) setelah absorbansi dari larutan uji tersebut di interpolasikan ke
dalam kurva kalibrasi tersebut.
Gambar 2. Kurva Kalibrasi

Cara kerja spektrofotometer dapat dibagi menjadi dua, yaitu:


1. Spektrofotometer sinar tunggal
Pada tipe ini, sinar yang berasal dari sumber cahaya (lampu wolfram 320-1000
nm, lampu hidrogen 200-350 nm) dipantulkan oleh cermin ke celah masuk bagian
monokromator. Untuk memperoleh spektrum, digunakan prisma yang bagian
belakangnya dilapis aluminium, supaya cahaya yang dibiaskan oleh permukaan depan,
dapat dipantulkan oleh permukaan belakang dan masuk ke celah keluar. Cahaya yang
keluar dari monokromator, difokuskan oleh lensa ke kuvet yang berisi larutan.
Selanjutnya sampai ke fotosel atau fotomultiflier yang merupakan detektor yang linier,
artinya arus yang dihasilkan berbanding lurus dengan intensitas cahaya yang jatuh pada
larutan tersebut.

Gambar 3. Spektrofotometer Sinar Tunggal


2. Spektrofotometer sinar/berkas ganda

Gambar 4. Spektrofotometer Berkas Ganda


Berbeda dengan spektrofotometer sinar/berkas tunggal, pada spektrofotometer
sinar ganda ini zat contoh atau larutan cuplikan di persandingkan secara kontinyu
dengan larutan referensi (larutan blanko). Cahaya melintas secara bergantian melewati
zat contoh dan larutan blanko. Untuk itu pada lintasan cahaya dipasang suatu sistem
cermin chopper yang berotasi dengan cepat sekali. Cahaya yang datang dari sumber
cahaya melalui cermin dan filter, kemudian jatuh ke kisi yang menimbulkan dispersi.
Setelah melewati cermin berotasi (A dan C).
Jika cahaya jatuh pada cermin A, maka cahaya tersebut akan jatuh pada kuvet yang
berisi zat contoh, lalu dipantulkan oleh cermin B ke detektor. Pada saat itu cermin C
berada pada posisi yang tidak dapat menampung cahaya. Sesaat kemudian cermin A
akan memutar dan keluar dari lintasan cahaya sehingga cahaya akan jatuh ke cermin D
dan setelah melewati kuvet yang berisi larutan blanko akan jatuh ke cermin C. Akhirnya
cahaya dari cermin C tersebut akan sampai ke detektor. Isyarat detektor yang berasal
dari larutan zat contoh dan larutan blanko akan sampai ke ampliflier dan komparator.
Perbandingan kedua isyarat detektor tersebut merupakan ukuran absorpsi dan dapat
dibaca pada meteran atau pencatat.

KAFEIN
Kafein merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam biji kopi,
daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat dan beberapa minuman penyegar. Kafein
memiliki berat molekul 194,19 gram/mol dengan rumus molekul C8H10N8O2 dan pH
6,9 (larutan kafein 1% didalam air). Kafein memiliki titik leleh 227-228 °C (anhidrat)
dan titik didih pada suhu 178℃.
Kafeina atau lebih populernya kafein, ialah senyawa alkaloid xantina berbentuk
kristal dan berasa pahit yang bekerja sebagai obat perangsang
psikoaktif dan diuretik ringan. Kafeina ditemukan oleh seorang kimiawan
Jerman, Friedrich Ferdinand Runge, pada tahun 1819. Ia menciptakan istilah "kaffein"
untuk merujuk pada senyawa kimia pada kopi. Kafeina juga disebut guaranina ketika
ditemukan pada guarana, mateina ketika ditemukan pada mate, dan teina ketika
ditemukan pada teh. Semua istilah tersebut sama-sama merujuk pada senyawa kimia
yang sama.
Kafein dapat dianalisis dengan spektro karena memiliki gugus autokrom dan
gugus kromofor sehingga bisa menyerap sinar uv. Kromofor adalah gugus fungsi yang
menyerap atau mengabsorbsi radiasi elektromagnetik di daerah panjang gelombang
ultraviolet dan daerah cahaya tampak.

III. ALAT DAN BAHAN


No. Alat Bahan
1. Labu takar 100 mL; 50 mL Larutan induk kafein 100 ppm
2. Pipet ukur 10 mL Sampel kopi (murni atau kopi mix)
3. Bola hisap Larutan HCl 0,2N
4. Pipet tetes Aquades
5. Corong gelas Kertas saring
6. Gelas kimia 100 mL; 600 Diklor metan (metilen klorida)
mL
7. Botol semprot
8. Hotplate
9. Corong pisah

IV. CARA KERJA


Kafein Pembuatan larutan standar dan penentuan panjang gelombang maksimum

1. Buat larutan induk kafein (100 ppm) dalam larutan HCl 0,2 N sebanyak 100 mL
2. Buat sederetan larutan standar kafein dengan konsentrasi 2, 4, 8, 10 dan 12 ppm
dalam HCl 0,2 N dari larutan induk, masing-masing dalam labu takar 50 mL
3. Tentukan panjang gelombang maksimum, dengan cara: ukur serapannya (ambil
larutan standar yang konsentrasinya di tengah-tengah larutan standar yang
dibuat (8 ppm) dengan berbagai panjang gelombang (dari 380 – 190 nm).
4. Ukur serapan berbagai konsentrasi larutan standar pada panjang gelombang
maksimum (yang sudah ditentukan pada no.3)
Pembuatan larutan cuplikan kafein
1. Timbang 2 gram sampel (kopi murni atau kopi mix atau tablet/obat penurun
panas)
2. Tambahkan 75 mL aquades, panaskan hingga mendidih selama 10 menit
3. Saring larutan sampel tersebut dengan kertas saring biasa
4. Filtrat yang diperoleh, saring kembali dengan kertas saring Whatman no. 40.
Dinginkan fitrat hingga suhu kamar
5. Pindahkan filtrat ke dalam corong pisah dan ekstraksi dengan 25 mL diklor
metan/metilen klorida (lakukan ekstraksi sebanyak 2 kali). Lapisan bawah
merupakan ekstrak kafein.
6. Ekstrak yang diperoleh, ekstraksi kembali dengan larutan HCl 0,2 N, lakukan
sebanyak 2 kali
7. Ukur serapan larutan ekstrak tersebut (ekstrak hasil no. 6) pada panjang
gelombang maksimum (hasil penentuan langkah 3)

SOP SPEKTROFOTOMETER UV-1700 SHIMADZU

A. Menyalakan Alat

1. Keluarkan silica gel dari ‘sample compartement’


2. Nyalakan alat UV-1700 (tombol berada di bagian samping kanan)
3. Buka monitor dengan perlahan-lahan. Bila layer tampak biru, putar tombol
sebelah kanan hingga pada layer monitor tampak ‘initialization’
4. Tunggu sampai proses inisialisasi selesai dan akan keluar tampilan ‘mode
menu’ (jangan lupa pilih lampu yang sesuai dengan panjang gelombang yang
diinginkan)

B. Pengukuran Spektrum (Untuk Penentuan Panjang Gelombang Maksimum)

1. Pilih menu ‘spectrum’ (jika dari menu photometric, tekan tombol ‘return’ lebih
dahulu)
2. Tekan angka 2, atur parameter; setting meas mode; scanning range; rec. range;
speed; no. of. Scan; display mode.
3. Masukkan kuvet yang berisi larutan blanko pada reference sample pada ‘sample
compartement’ (kedua-duanya larutan blanko)
4. Tekan tombol ‘Base Corr’ F1, tunggu sampai dengan : 0,000 A (alat akan
berbunyi bip-bip)
5. Ganti kuvet blanko pada posisi ‘sample’ (pada bagian depan) dengan kuvet isi
larutan standar yang diinginkan
6. Tekan tombol ‘start’, maka akan muncul spektrum antara Abs dengan
wavelength
7. Muncul’wavelength & absorbance’, tampilan kurva A vs lamda (panjang
gelombang)
8. Tekan tombol ‘data Procc’ F2; ‘Peak’(3) untuk mengetahui panjang gelombang
maksimum dan absorbansi
C. Pengukuran Photometric (Untuk mengukur A atau %T, jika panjang gelombang
maksimum sudah diketahui)

1. Pilih menu Photometric, yaitu tekan 1, Go to WL, isikan nilai panjang


gelombang
2. Masukkan kuvet yang berisi larutan blanko (kedua-duanya) pada ‘sample
compartement’
3. Tekan tombol ‘auto zero’, tunggu sampai dengan A: 0,000 A ( alat bunyi bip-
bip)
4. Ganti kuvet isi blanko dengan kuvet yang berisi larutan sampel yang akan di
analisis (terletak di bagian depan) Tekan tombol ‘start’ Ganti kuvet sampel
dengan larutan sampel yang lain dan tekan ‘start’ Muncul table: photometric

D. Pengukuran Quantitative

a) Pembuatan Kurva Kalibrasi


1. Pilih menu ‘Quantitative’ dengan cara tekan (3), (jika dari menu ‘Spectrum’
tekan ‘return’ lebih dahulu)
2. Atur parameter:
 Meas, 1 lamda: isikan nilai panjang gelombang; tekan ‘enter’
 Method; multi point (3); isi jumlah larutan standar yang digunakan
‘enter’; orde 1 ‘enter’; zero intept NO ‘enter’
 No of meas.1
 Unit ppm
 Data print NO
3. Masukkan kuvet isi larutan blanko pada kedua sisi ‘reference sample’
4. Tekan tombol ‘Auto zero’, tunggu sampai dengan 0,000 A
5. Tekan ‘Start’, masukkan nilai konsentrasi larutan standar, tekan ‘enter’
(pekerjaan tersebut dilanjutkan/diulang sampai selesai)
6. Muncul tampilan: NO | Conc | ABS
7. Tekan ‘meas’ (2)
8. Ganti kuvet blanko (bagian depan) dengan larutan standar yang pertama 9)
Tekan ‘start’ ; maka akan keluar nilai ABS 10) Ganti kuvet dengan larutan
standar yang berukutnya, tekan ‘start’, demikian seterusnya sampai
pengukuran selesai 11) Tekan ‘cal. curve’ F1 untuk melihat tampilan kurva
kalibrasi

Catatan:
1. Supaya kurvanya berbentuk garis linier melalui (0,0), maka blanko dimasukkan
ke no.1 (kons. 0,000 ppm) pada saat pengisian nilai konsentrasi.
2. Untuk mengubah data pada kurva kalibrasi,
- masuk ke menu ‘cal. curve’ (tampilan kurva kalibrasi)
- tekan ‘Chg. Ord’ (F3), untuk mengganti nilai konsentrasi, tekan ‘change’ dan
masukkan nilai yang benar, tekan ‘enter’
- ganti nilai ABS, tekan ‘ Edit key in’, masukkan nilai yang benar, tekan ‘enter’
E. Pengukuran Konsentrasi Sampel ( Setelah tahap pembuatan Kurva Kalibrasi)

1. Tekan ‘return’ sampai kembali ke menu utama ‘Quantitative’


2. Ganti kuvet isi larutan standar (bagian depan) dengan larutan sampel yang akan
di analisis
3. Tekan ‘start’
4. Ulangi pekerjaan tersebut jika larutan sampel lebih dari satu, maka akan muncul
tampilan konsentrasi sampel pada ‘sample table’
F. Mematikan Alat
1. Kosongkan ‘compartement cell’
2. Masukkan kembali silica gel
3. Putar tombol sebelah kanan hingga layar monitor tampak biru
V. KESELAMATAN KERJA
 MSDS HCl
Massa molar : 36,42 g/mol
Densitas : 1,18 g/ml
Titik didih : 48℃ (larutan 38%)
Titik lebur : -27,32℃
Bau : Iritasi
Warna : tak berwarna menyala kuning.
Tekanan Uap : 16 kPa (@ 20 ° C) rata-rata
Kepadatan uap : 1,267 (Air = 1)
Bau Threshold : 0,25 sampai 10 ppm
Properti Dispersi : Lihat kelarutan dalam air, dietil eter.
Kelarutan : Larut dalam air dingin, air panas, dietil eter.
Stabilitas : Produk ini stabil.
Kondisi Ketidakstabilan : bahan yang tidak kompatibel,
Sangat reaktif dengan logam. Reaktif dengan agen oksidasi, bahan organik, alkali, air.
Korosivitas : Sangat korosif di hadapan aluminium, tembaga, stainless steel
(304), dari stainless steel (316). Non-korosif terhadap kaca.

Penanganan
Kontak Mata:
Periksa dan lepaskan jika ada lensa kontak. Dalam kasus terjadi kontak, segera
siram mata dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit. Air dingin dapat
digunakan. Dapatkan perawatan medis dengan segera.
Kontak Kulit :
Dalam kasus terjadi kontak, segera basuh kulit dengan banyak air sedikitnya selama
15 menit dengan mengeluarkan pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Tutupi
kulit yang teriritasi dengan yg sesuatu melunakkan. Air dingin mungkin dapat
digunakan pakaian.cuci sebelum digunakan kembali. benar-benar bersih sepatu
sebelum digunakan kembali. Dapatkan perawatan medis dengan segera.
Kulit Serius :
Cuci dengan sabun desinfektan dan menutupi kulit terkontaminasi dengan krim anti-
bakteri. Mencari medis segera
Inhalasi:
Jika terhirup, pindahkan ke udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan
buatan. Jika sulit bernapas, berikan oksigen. Dapatkan segera perhatian medis.

Serius Terhirup:
Evakuasi korban ke daerah yang aman secepatnya. Longgarkan pakaian yang ketat
seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau ikat pinggang. jika sulit bernapas, beri
oksigen. Jika korban tidak bernafas, lakukan pernafasan dari mulut ke mulut.

 MSDS KAFEIN
Massa molar : 194,19 g/mol
Densitas : 1,2 g/ml
Titik didih : 178℃
Titik lebur : 227-228℃
Penampilan : bubuk putih tidak berbau
Penanganan

Inhalasi

Pindah ke udara segar. Jika pernafasan sulit, personil terlatih harus memberikan
oksigen. Panggil dokter bila gejala muncul atau berlanjut. Dibawah kondisi normal
untuk penggunaan yang dimaksud, bahan ini diharapkan tidak berbahaya bagi
penghirupan.

Kontak kulit
Segera bilas kulit dengan banyak air. Tanggalkan pakaian yang terkontaminasi dan
cuci sebelum dipakai kembali. Dapatkan pertolongan medis jika timbulnya gejala-
gejala.
TERTELAN
Bilas baik-baik dengan banyak air sedikitnya selama 15 menit dan periksakan ke
dokter.Kontak mata Jika tertelan, bersihkan/bilas mulut dengan air (hanya jika si
penderita masih sadar). Bila bahan tertelan dalam jumlah besar, segera hubungi
pusat pengendali racun. Jangan membujuk muntah tanpa petunjuk pusat pengendali
racun.

VI. TABEL PENGAMATAN

1. Penentuan Panjang Gelombang

Panjang Gelombang Absorbansi / transmitansi


(nm)
272.6 0.495

2. Hasil Absorbansi larutann 2 ppm, 4 ppm, 6ppm, 8ppm, 10ppm, 12ppm


Metode Photometric
Konsentrasi (ppm) Absorbansi / Transmitansi
2 0. 0996
4 0.1885
6 0.2755
8 0.4751
10 0.5981
12 0.5685

3. Hasil Absorbansi larutann 2 ppm, 4 ppm, 6ppm, 8ppm, 10ppm, 12ppm


Konsentrasi (ppm) Absorbansi / Transmitansi
2 0. 100
4 0.194
6 0.294
8 0.490
10 0.616
12 0.582
4. Penentuan Sampel
Larutan Sampel Absorbansi konsentrasi
Sampel 0.1047 2.0389

VII. PENGOLAHAN DATA


Kafein
1. Buat kurva kalibrasi antara konsentrasi larutan standar lawan absorbansi nya
2. Untuk menentukan konsentrasi analit/sampel, interpolasikan absorbansi larutan
sampel yang telah diukur ke dalam kurva kalibrasi tersebut

a. Pembuatan larutan induk kafein 100 ppm dalam 500 ml larutan HCl 0,1 N
𝑚𝑔
𝑃𝑝𝑚 =
𝐿

𝑚𝑔
100 =
0,5
Massa = 50 mg = 0,05 gram, dalam 500 ml HCl 0,1 N

b. Pembuatan larutan standar kafein

N1 V1 = N2 V2 N1 V1 = N2 V2
2 ppm x 50 ml = N2 100 ml 4 ppm x 50 ml = N2 100 ml
𝟐 𝒑𝒑𝒎 𝒙 𝟓𝟎 𝒎𝒍 𝟒 𝒑𝒑𝒎 𝒙 𝟓𝟎 𝒎𝒍
M2 = 𝟏𝟎𝟎 𝒎𝒍 N2 = 𝟏𝟎𝟎 𝒎𝒍
M2 = 1 ml N2 = 2 ml
N1 V1 = N2 V2 N1 V1 = N2 V2
6 ppm x 50 ml = N2 100 ml 8 ppm x 50 ml = N2 100 ml
𝟔 𝒑𝒑𝒎 𝒙 𝟓𝟎 𝒎𝒍 8 𝑝𝑝𝑚 𝑥 50 𝑚𝑙
N2 = 𝟏𝟎𝟎 𝒎𝒍 N2 = 100 𝑚𝑙
N2 = 3 ml M2 = 4 ml
N1 V1 = N2 V2 N1 V1 = N2 V2
10 ppm x 50 ml = N2 100 ml 12 ppm x 50 ml =N2 100 ml
𝟏𝟎 𝒑𝒑𝒎 𝒙 𝟓𝟎 𝒎𝒍 12 𝑝𝑝𝑚 𝑥 50 𝑚𝑙
N2 = N2 =
𝟏𝟎𝟎 𝒎𝒍 100 𝑚𝑙
N2 = 5 ml N2 = 6 ml
c. Kurva kalibrasi antara Konsentrasi Larutan Standar vs Absorbansi

d. Konsentrasi Sampel
VIII. PEMBAHASAN

Pada praktikum penentuan kadar kafein, dilakukan dengan metoda

spektrofotometri dengan sumber lampu UV (lampu yang digunakan biasanya lampu

denterium), karena larutan hasil ekstraksi kafein yang telah terpisah tidak

berwarna, sehingga diperlukan lampu dengan panjang gelombang dibawah 350 nm

(UV) untuk mengetahui besarnya absorban sampel dan standar kafein. Karena hal

ini digunakanlah alat spektrofotometer Shimadzu yang memiliki 2 sumber lampu

yaitu sinar tampak dan UV. Kafein dapat dianalisis dengan spektro karena memiliki

gugus autokrom dan gugus kromofor sehingga bisa menyerap sinar uv

Pengukuran panjang gelombang maksimum dengan menggunakan larutan

standar kafein digunakan dengan enam variasi standar, yaitu 2 ppm, 4 ppm ,6 ppm,

8 ppm, dan 12 ppm. Dan digunakan larutan standar 8 ppm untuk menentukan

panjang gelombang maksimum, karena konsentrasi 8 ppm berada pada bagian

tengah-tengah yang mewakili deret standar sehingga digunakanlah kafein 8 ppm

untuk mencari panjang gelombang maksimum.

Pada penentuan panjang gelombang maksimum juga digunakan larutan blanko,

larutan blanko ini merupakan larutan HCl 0,1 N yang tidak mengandung kafein.

Digunakan HCl 0,1 N karena pelarut yang diguanakan untuk standar adalah HCl

0,1 N sehingga jenis pereaksi yang ditambahkan pada sampel dan standar sedapat

mungkin sama.

Kafein tidak bisa larut dalam air tetapi dapat larut dalam HCl, karena HCl

bersifat asam sehingga dapat membuat suasana kafein menjadi asam, kafein dibuat

pada suasana asam karena pada suasana asam panjang gelombang yang dihasilkan
kafein maksimum. Larutan blanko ini juga berfungsi sebagai pengkondisian

(pengkalibrasi) agar ketika pengukuran sampel preaksi yang ditambahkan pada

sampel tidak mengubah harga absorban pengukuran, karena adanya faktor koreksi

dengan blanko.

Selanjutnya kami menentukan panjang gelombang menggunakan larutan


standar kafein dengan konsentrasi 8 ppm dan diperoleh panjang gelombang
maksimum sebesar 272,6 dan absorbansi sebesar 0.495.
Setelah menentukan panjang gelombang maksimum kami membuat kurva
kalibrasi yang dilakukan dengan cara memasukkan satu-persatu larutan standar 2,
4, 6, 8, 10 dan 12 ppm ke dalam spekrofotometer dan didapatkan hasil absorbansi
masing-masing sebesar 0. 100 A, 0.194 A, 0.294 A, 0.490 A, 0.616 A, 0.582 A
Dari hasil yang diperoleh, dapat dilihat bahwa konsentrasi berbanding lurus dengan
nilai absorbansinnya. Maka semakin tinggi konsentasi larutan semakin besar pula
nilai absorbansinya

Setelah hasil pengamatan di dapat bahwa sermakin tinggi konsentrasinya

semakin tinggi juga panjang gelombangnya . Namun terjadi penyimpangan, pada

konsentrasi tertinggi yaitu 6 ppm. Adapun faktor kesalahannya adalah salah

ketidaktelitian dalam pembuatan komposisi larutan.

IX. KESIMPULAN
Dari praktikum Penentuan Konsentrasi Kafein metode SpektrofotometriUV,
didapat hasil
1. Panjang Gelombang Maksimum = 272,6.
2. Metode PhotometricAbsorbansi Standar
2 ppm = 0. 0996
4 ppm = 0.1885A
6 ppm = 0.2755A
8 ppm = 0.4751A
10 ppm = 0.5981 A
12 ppm = 0.5685A
3. Metode QuantitativeAbsorbansi Standar
2 ppm = 0. 100 A
4 ppm = 0.194 A
6 ppm = 0.294 A
8 ppm = 0.490 A
10 ppm = 0.616 A
12 ppm = 0.582 A
4. Konsentrasi berbanding lurus dengan nilai absorbansinnya, maka semakin tinggi
konsentasi larutan semakin besar pula nilai absorbansinya seperti hukum lambert
beer.
5. Konsentrasi larutan analit dalam sampel yaitu sebesar 2,3089 ppm dengan nilai
absorbansi 0.1047
X. LAMPIRAN
XI. DAFTAR PUSTAKA
Anwar Nur M,1989, ”Teknik Spektroskopi”, Pusat Antar Universitas – Ilmu
Hayati Institut Pertanian Bogor, Bogor,
Brink, O.G, Sachri Sobandi, 1984, ”Dasar Ilmu Instrumen”, Bina Cipta, Jakarta.
Day RA, Underwood AL, Hudyana Aloysius, 1992, ”Analisis Kimia Kuantitatif”,
edisi-5, Erlangga, Jakarta.
Khopkar, S.M, Saptorahardjo, 1990, ”Konsep Dasar Kimia Analitik”, UI Press,
Jakarta.
Pecsok, R.L, at all, Modern Methods of Chemical Analysis, John Willey & Sons,
New York, 1976.
Sastrohamidjojo Hardjono, ”Spektroskopi Ultra Violet dan Terlihat”,
Laboratorium Analisa Kimia/Fisika Pusat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Skoog, D.A, Principles of Instrumental Analysis, Rinehart and Winston Inc, New
York.