Anda di halaman 1dari 7

METODE PENELITIAN KUALITATIF

CASE STUDY RESEARCH

OLEH KELOMPOK 6:

Ni Nyoman Widiasih 1781621004 04

Ni Komang Trie Julianti Dewi 1781621006 06

Ni Luh Putu Nuarsih 1781621015 15

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019

1. 'Kasus' sebagai fitur paling sentral dari penelitian studi kasus


Tujuan utama penelitian studi kasus dalah untuk menyelidiki kasus tersebut dalam kaitannya
dengan konteks historis, ekonomi, teknologi, sosial, dan budaya. Hal yang menjadi daya tarik studi
kasus adalah kemampuannya untuk menyajikan masalah bisnis yang kompleks dan sulit dipahami
dalam format yang mudah diakses yang terkait dengan hidup, pribadi, dan turun ke bumi. Penelitian
studi kasus terkait bisnis dapat dilihat praktis dan bisa juga normatif. Studi kasus normatif dan
praktis khususnya telah dikritik karena kekhawatiran manajerial, yaitu tujuan mereka membantu
manajer dan pengambil keputusan mendapatkan kontrol operasional yang lebih baik atas organisasi
bisnis.

0
Penelitian studi kasus perlu dipahami sebagai pendekatan penelitian atau strategi penelitian
daripada metode, walaupun hampir tidak ada batasan pada data empiris yang digunakan dalam
penelitian studi kasus. Tujuan penelitian studi kasus untuk memberi ruang dalam keragaman dan
kompleksitas dan sehingga hindari desain penelitian yang terlalu sederhana. Stake (1995)
berpendapat bahwa mendefinisikan pertanyaan penelitian yang sesuai adalah salah satu keterampilan
yang paling penting dari seorang peneliti studi kasus.

2. Cara Melakukan Penelitian Studi Kasus


Penelitian studi kasus mempunyai cara, tergantung pada beberapa masalah terkait dengan latar
belakang filosofis dan disipliner, tujuan penelitian, sifat dari pertanyaan penelitian dan desain
penelitian, termasuk jumlah kasus yang akan dipelajari.Stoecker (1991) menyatakan bahwa ada
perbedaan utama antara penelitian studi kasus intensif dan ekstensif. Desain penelitian intensif
berfokus pada mencari sebanyak mungkin pada satu atau beberapa kasus dan desain yang ekstensif
bertujuan untuk memetakan pola umum dan properti di seluruh kasus. Penelitian studi kasus yang
intensif bertujuan untuk memahami dan mengeksplorasi kasus dari dalam dan mengembangkan
pemahaman dari sudut pandang orang-orang yang terlibat dalam kasus tersebut. Penelitian studi
kasus ekstensif memandang kasus sebagai instrumen yang dapat digunakan dalam mengeksplorasi
fenomena yang terkait dengan bisnis tertentu, dan dalam mengembangkan proposisi teoritis yang
dapat diuji dan digeneralisasikan ke konteks bisnis lain atau ke teori.

3. Penelitian Studi Kasus Intensif


Penelitian studi kasus intensif dapat dilakukan dengan desain penelitian statis, lintas-potong,
tetapi desain yang dinamis dengan melihat perkembangan di atas waktu luang, atau menjelajahi
masalah-masalah yang berhubungan dengan waktu cukup umum. Pada penelitian studi kasus yang
menjadi hambatan utama yakni terkait dengan menghubungkan konsep-konsep teoritis dengan
penyelidikan bukti-bukti empiris. Setelah menyelesaikan deskripsi kasus, peneliti difokuskan untuk
mencoba mencari tahu pertanyaan penelitian yang paling menarik, dan untuk memahami dan
menyimpulkan apa yang terjadi dan mengapa. 3.3 Generalisasi
Tujuan utama dari studi kasus intensif yakni mengeksplorasi. Pada tahap eksplorasi ini, kasus
yang dipilih tersebut adalah unik, kritis, atau ekstrim dalam satu atau lain cara, yang mana hal
tersebut merupakan tugas kunci peneliti dalam mengungkapkannya kehadapan audiens pada
penelitian yang dilakukannya.

4. Penelitian Studi Kasus Ekstensif

1
Pada desain studi kasus yang ekstensif, peneliti akan mencoba mengumpulkan data empiris
yang serupa pada setiap kasus, hal ini dikarenakan mereka harus memiliki bahan untuk dijadikan
dasar dalam membandingkan atau mereka perlu mereplikasi kasus secara kumulatif. Dalam studi ini,
fokus utama terletak pada penyelidikan, menguraikan dan menjelaskan sebuah fenomena. Pada
penelitian studi kasus yang luas tidak dapat menghasilkan generalisasi yang akan berlaku untuk
populasi tertentu atau yang lebih dikenal dengan generalisasi statis. Salah satu cara untuk
menggeneralisasi di luar temuan empiris adalah generalisasi terhadap teori, yang disebut generalisasi
analitik.

5. Data Empiris Yang Digunakan Dalam Studi Kasus


Data empiris yang digunakan berasal dari berbagai sumber, namun teknik pengumpulan data
melalui wawancara mendalam paling sering digunakan. Desain penelitian juga memungkinkan untuk
menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif. Pada studi kasus dalam penelitian deskriptif
kualitatif, peneliti dapat memulai studi mereka dengan satu atau beberapa topik awal, pertanyaan,
atau masalah mendorong pengumpulan data empiris. Selama penelitian, pertanyaan-pertanyaan baru
yang menarik sering muncul, hal ini mungkin merupakan pola tindakan atau praktik bahasa yang
tidak terduga yang diperjelas dalam penelitian. Pada penelitian studi kasus, seorang peneliti haruslah
fleksibel sehingga memungkinkan terfokusnya terkait kasus yang dijadikan fenomena penelitian.

6. Strategi Dan Teknik Analisis


Peneliti dapat memulai analisis data empiris diawal dilakukannya suatu penelitian. Konstruksi
kasus dimulai dengan mengatur semua data empiris ke dalam paket sumber utama, yang disebut
catatan kasus. Catatan kasus dapat diperoleh secara sistematik atau kronologis, yang kemudian
semua informasi tentang kasus tersebut dapat diedit sehingga mudah dipahami responden. Penelitian
kualitatif menggunakan pengkodean disetiap data empiris mereka. Yin (2002) membedakan dua
strategi utama didalam analisis yaitu pertama didasarkan pada proposisi teoretis yang telah
dirumuskan sebelumnya dan sistem pengkodean yang representatif, dan yang kedua didasarkan pada
pengembangan deskripsi kasus, yang kemudian akan membentuk dasar untuk pertanyaan penelitian
yang muncul dan kerangka kerja untuk mengatur studi kasus.
Analisis paling sering dimulai dengan analisis setiap kasus individual secara terpisah yang
disebut dalam analisis kasus. Dalam beberapa studi kasus, fase ini diikuti dengan analisis lintas
kasus, yang merinci beberapa jenis perbandingan kasus untuk mencari persamaan dan perbedaan
dalam kasus dan berbeda dengan teori. Selain pengkodean, analisis kasus individual sering kali
mencakup penyusunan deskripsi umum kasus tersebut, yang mungkin terstruktur baik dalam urutan

2
kronologis (menekankannya, masalah, aktor dan tindakan dan proses) atau dalam tatanan tematik
(menekankan tema, masalah, masalah, dan kategori konseptual).

7. Penulisan dan Evaluasi Studi Kasus


Bentuk klasik dari laporan studi kasus intensif adalah narasi yang dikenal dari tradisi penelitian
etnografi (Dryer dan Wilkins, 1991). Laporan penelitian menyajikan narasi yang terperinci dan jelas
tentang kejadian aktual dan realistis dalam konteksnya. Narasi ini memiliki pertanyaan penelitian
utama, plot, eksposisi, konteks, karakter, dan kadang-kadang dialog. Pada prinsipnya, studi kasus
dapat dievaluasi dengan cara yang sama seperti penelitian pesanan. Namun, ada juga kriteria evaluasi
khusus yang dikembangkan untuk penelitian studi kasus. Sebuah kasus bisa menjadi hal yang tidak
biasa, unik, atau kepentingan umum. Studi kasus yang baik mempertimbangkan perspektif alternatif,
yang melibatkan pemeriksaan bukti dari perspektif yang berbeda, bukan dari satu sudut pandang
saja. Triangulasi dapat membantu dalam melakukan hal ini. Harus melihat bukti yang paling serius
menantang desain dan hasil rise.
Secara keseluruhan harus menyajikan potongan-potongan bukti yang penting dengan cara yang
pembaca dapat mencapai penilaian independen mengenai manfaat analisis dan kesimpulan. Akhirnya
studi kasus harus disusun dengan cara yang menarik. Sebuah laporan studi kasus yang baik
menggoda mata itu seharusnya sangat menarik sehingga pembaca tidak bisa berhenti membaca
sampai kelelahan. Biasanya ini memerlukan keakraban dengan penonton dan kejelasan penulisan
tetapi ada juga antusiasme peneliti, bahwa mereka memiliki sesuatu yang luar biasa untuk dikatakan
kepada pembaca.

Pertanyaan:
1. Dalam penelitian studi kasus, peneliti diharapkan dapat mendefinisikan pertanyaan
penelitian. Apa yang dimaksud mendefinisikan pertanyaan penelitian? Dan bagaimana cara
peneliti mendefinisikan pertanyaan?
- Pertanyaan dirumuskan karena ada kesenjangan pertanyaan
2. Berikan contoh masing-masing tipe studi kasus?
3. Apakah bisa rekomendasi dalam penelitian sebelumnya digunakan sebagai rujukan
phenomena penelitian saat ini?
4. Studi kasus terkait bisnis termasuk dalam intensif atau ekstensif?

Tambahan materi dosen:


1. Penelitian studi kasus harus dimulai dengan adanya fenomena atau kasus atau ada suatu kondisi.
2. (Jawaban Pertanyaan Pak Gede Sudiarta)
Intesif dan esktensif case study dapat dipilih salah satu oleh peneliti. Penelitian ekstensif (kasus
pada beberapa tempat) yaitu membandingkan fenomena satu perusahaan dengan perusahaan yang

3
lain dengan mengabaikan aspek-aspek pada studi kasus intensif yang lebih mendetail. Studi
kasus ekstensif jangan dilakukan generalisasi.
3. (Jawaban Pertanyaan Nuarsih)
Pertanyaan penelitian dibentuk dari rumusan masalah didefinisikan dengan cara mencari
fenomena penelitian dengan 2 aspek yaitu pertanyaan umum atau pertanyaan khusus. Jadi
peneliti harus mengacu pada rumusan masalah. Misalnya ada penembakan di Sekolah.
- Apa yang terjadi
- Siapa yang terlibat
- Masalah apa yang muncul terkait insiden
- Konstruksi apa yang perlu dijelaskan dalam insiden tersebut
Namun pertanyaan penelitian tidak dapat ditetapkan sepenuhnya di awal, menyesuaikan dengann
kondisi di lapangan saat melakukan penelitian yang disebut dengan circular research process.
Menurut pendapat Kak Joe, peneliti harus memahami pertanyaan penelitian dan fenomena yang
terkait sehingga peneliti dapat menyusun rumusan masalah.
4. (Jawaban Pertanyaan Hiwa)
Fenomena ada empiris (kasus di suatu perusahaan) atau dari penelitian sebelumnya (fenomena
teoritis). Jika belum ada yang meneliti dan didukung dengan fenomena sesuai dengan question
research maka dapat dilanjutkan.

Riview Artikel Internasional:


1. Cari jurnal di sumber qualified
2. Minggu depan Ethnografic
a. Apa yang spesifik dari tentang ethnographic research
b. Langkah-langkah dalam penelitian
c. Apa metodologinya dan etika yang berkaitan
d. Bagaimana menganalisis dan menginterpretasikan
e. Bagaimana menulis hasil penelitian
f. Ethnography adalah study tentang budaya atau bagaimana manusia itu memaknai budaya
g. Tujuan utama dari enthnograpy adalah mengobservasi interaksi orang dengan orang dan
lingkungan untuk memaknai budayanya
h. Yang dicari dalam ethnography adalah menanyakan pandangan pelaku peristiwanya sendiir,
bagaimana dia memaknai tentang apa yang terjadi (emic or ethics)
i. Ketika berbicara budaya, retorika (bahasa budaya) pasti ada
j. Beberapa versi ethnography (micro or macro, criticial ethnography, feminist ethnography,
auto ethnography, virtual ethnography-wawancara imaginer, current ethnography)
k. Bussiness related ethnography
l. Teori penting dalam ethnography karena menginterview harus dengan pertanyaan terstruktur
dan memahami lebih baik masalah yang
m. Prinsip metodologi adalah naturalism, pemahaman, induktif, karena yang diteliti adalah
manusia sehingga etika dipahami

4
n. Dilakukan (fieldwork) dengan observasi, interview, site dokumen atau catatan lapangan
o. Jangan kumpulkan data dulu baru meneliti tapi lakukan secara berbarengan.

5
DAFTAR PUSTAKA
Creswell, John W. 2007. Qualitative Inquiry and Research Design, Choosing Among Five
Alternative. 2nd Edition. London: SAGE Publications Ltd.

Eriksson, Palvi dan Anne Kovalainen. 2008. Qualitative Methods in Business Research. London:
SAGE Publication Ltd.