Anda di halaman 1dari 24

Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department

Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam proses pembuatan sebuah kontruksi yang menggunakan pelat,
misalnya kontruksi pesawat sudah dipastikan memerlukan bahan- bahan yang
kuat. Suatu bahan yang kuat didalam pembutan sebuah pesawat tidak hanya
satu satunya proses dalam pembuatannya. Bahan yang kuat tersebut haruslah
dibentuk untuk menyesuaikan desain pesawat tersebut, banyak cara untuk
membentuk lengkungan pada pesawat, salah satunya adalah dengan mesin
bending, karena dianggap mengurangi kerusakan struktur mikro bahan logam
yang digunakan dari pada menggunakan proses firering atau pemanasan.
Banyak pelat yang digunakan pada pesawat, bahkan sebagian besar beban
yang mempengaruhi pada pesawat adalah pelat. Dengan hal tersebut
memperjelas bahwa pelat harus benar-benar sesuai dengan kriteria yang
memenuhi sarat, agar tidak terjadi kerusakan atau deformasi. Karena jika
terjadi kerusakan pada bahan, maka bukan hanya pelat saja yang akan rusak,
namun struktur lainnya juga akan rusak. Ada beberapa hal yang dapat
dilakukan untuk mengetahui apakah suatu pelat dapat dikatakan layak atau
tidak untuk digunakan. Cara itu adalah dengan pengujian keuletan, kekerasan,
kegetasan, elastisitasnya, dan dari segi yang lainnya. Cara pengujian yang
dilakukan adalah dengan Uji Bending, Uji Impact, Uji Rockwell, Uji Vickers,
dan masih banyak cara pengujian yang lainnya.
Uji Bending adalah pengujian tekuk, yang dilakukan dengan menekuk atau
menekan suatu bahan uji sampai mancapai titik batas kegetasannya. Pengujian
Bending sangat penting dilakukan karena tanpa adanya pengujian ini akan
melanggar peraturan-peraturan akan penggunaan suatu bahan.
Percobaan ini dapat digunakan untuk mencakup berbagai tujuan
pembelajaran yang berhubungan dengan proses. Mahasiswa belajar bagaimana
merencanakan, melakukan, dan mengevaluasi serangkaian pengukuran.
Praktikan memiliki dasar untuk diskusi intensif tentang pengaruh kesalahan.
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

Praktikan akan mengidentifikasi bahwa hasil yang baik dapat diperoleh


bahkan dengan alat pengukur yang relative sederhana. Ini berlaku khusus
untuk torsi, dimana hasil yang dapat diterima dapat diperoleh tanpa percobaan
awal yang disebutkan, tetapi data yang diperoleh dengan hasil percobaan awal
sangat baik.
Percobaan ini juga dapat bermanfaat ketika membahas tujuan
pembelajaran psikomotorik. Mahasiswa mengembangkan kepercayaan dalam
menggunakan pengukur dan alat penjepit. Sebagai contoh praktiakn belajar
bagaimana cara menggunakan dial gauge dan penyangga magnetik. Kehati-
hatian dalam bagian ini dikonfirmasi dengan nilai terukur yang baik. Oleh
karena itu praktikum bending and torsion perlu dijadikan sebagai bagian dari
praktikum kinematika dan dinamika untuk dipelajari oleh para mahasiswa,
khususnya jurusan teknik mesin.

B. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui perbandingan bending yang terjadi pada baja dengan
kuningan.
2. Membandingkan besar bending pada batang baja dan kuningan yang
didapatkan ketika praktikum dengan perhitungan secara teori.
3. Mengetahui perbandingan puntiran pada baja dengan kuningan.
4. Membandingkan besar puntiran pada batang baja dan kuningan yang
didapatkan ketika praktikum dengan perhitungan secara teori.

C. Manfaat Percobaan
1. Agar pembaca dapat menjadikan laporan praktikum ini sebagai acuan
untuk percobaan yang terkait dengan Deformaion of Bars Under Bending
and Torsion.
2. Agar dapat dijadikan sebagai referensi untuk precobaan yang terkait
dengan Deformaion of Bars Under Bending and Torsion.
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Bending (Penekukan)
Bending merupakan pengerjaan dengan cara memberi tekanan pada bagian
tertentu sehingga terjadi deformasi plastis pada bagian yang diberi tekanan.
Sedangkan proses bending merupakan proses penekukan atau pembengkokan
menggunakan alat bending manual maupun menggunakan mesin bending.
Adapun macam-macam dari proses pembendingan yaitu:
1. Bending Ram
Biasanya digunakan untuk membuat lengkungan besar untuk logam
yang mudah bengkok. Dalam metode ini, plat atau pipa ditekan pada 2
poin eksternal dan ram mendorong pada besi pada poros tengah untuk
menekuknya. Cara ini cenderung membentuk menjadi bentuk oval baik di
bagian dalam dan luar lengkungan.
2. Bending Rotary Draw
Digunakan untuk membengkokan besi sebagai pegangan tangan, yang
lebih keras. Bending rotary draw imbang menggunakan 2 cetakan: cetakan
bending stasioner dan cetakan bending dengan diameter tetap untuk
membentuk lengkungan. Cara ini digunakan apabila plat atau pipa yang
akan dibending perlu memiliki hasil akhir yang baik dengan diameter
konstan di seluruh panjang.
3. Bending Mandrel
Selain cetakan yang digunakan dalam rotary bending, yakni dengan
cara menggunakan support fleksibel yang ikut bengkok dengan logam
untuk memastikan interior logam tidak cacat.
4. Bending Induksi Panas
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

Proses ini mengunakan panas dari kumparan listrik untuk


memanaskan area yang akan dibengkokan, dan kemudian logam
dibengkokan dengan cetakan mirip dengan yang digunakan rotary draw.
Logam segera didinginkan dengan air setelah pembengkokan. Cara ini
menghasilkan lengkungan yang lebih kuat daripada rotary draw.
5. Bending Roll
Digunakan ketika diperlukan lengkungan yang besar pada logam.
Banyak digunakan untuk pekerjaan konstruksi. Bending roll menggunakan
3 roller yang disusun membentuk segi tiga pada satu poros untuk
mendorong dan membengkokan logam.
6. Bending Panas
Sistem ini banyak digunakan dalam proses perbaikan, yaitu dengan
cara logam dipanaskan didaerah penekukan sehingga menjadi lebih lunak

B. Puntiran
Puntiran adalah suatu pembebanan yang penting. Sebagai contoh, kekuatan
puntir menjadi permasalahan pada poros-poros, karena elemen deformasi
plastik secara teori adalah slip (geseran) pada bidang slip, modulus kekakuan
adalah konstanta yang penting, yang diperoleh dari pengujian puntir (dalam
banyak kasus). Deformasi puntiran tidak menunjukkan tegangan uniform pada
potongan lintang seperti halnya pada deformasi lenturan. Untuk mendapat
deformasi puntiran dengan tegangan yang uniform perlu dipergunakan batang
uji berupa silinder tipis.
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

Gambar 2.1 Batang Silindris dengan Beban Puntiran


Sumber: https://www.academia.edu/11593551/UJI_BENDING
Patahan karena puntiran dari bahan getas terlihat pada arah kekuatan tarik,

yaitu pada 45 C terhadap sumber puntiran, sedangkan bagi bahan yang liat
patahan terjadi pada sudut tegak lurus terhadap sumbu puntiran setelah gaya
pada arah sumbu terjadi dengan deformasi yang besar, dari hal tersebut sangat
mudah menentukan keliatan dan kegetasan.
Puntiran dapat terjadi secara murni atau bersamaan dengan beban aksial,
momen lentur dan gaya lintang. Puntiran murni dapat terjadi misalnya pada
batang-batang poros mesin. Batang-batang ini kebanyakan berpenampang
lingkaran. Sedangkan pada struktur bangunan, misalnya puntiran terjadi pada
balok pinggir atau balok luifel, kolom pada bangunan gedung akibat
pembebanan horisontal, jembatan lengkung dan lain sebagainya. Batang-
batang ini biasanya berpenampang persegi, T, I atau box.
Bila sebatang logam pejal dengan panjang L dan jari-jari R, salah satu
ujungnya dijepit dan ujung yang lain dipuntir dengan gaya F, maka akan
terjadi simpangan atau pergeseran sebesar α˚ (lihat gambar 1).

Gambar 2.2 Besar pergeseran (α˚) untuk setiap logam berbeda-beda,


tergantung koefisien kekenyalannya.
Sumber : https://www.academia.edu/11593551/UJI_BENDING

2𝑀𝐿
𝐺= … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . . (1)
𝜋𝜃𝑅 4
atau
360 𝑔 𝑟 𝐿 𝑚
𝐺= … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . . (2)
𝜋 2 𝑅4𝛼
Dengan :
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

G = modulus puntir (modulus geser = koefisien kekenyalan) (Pa)


g = percepatan gravitasi (m/s2)
R = jari-jari batang (m)
L = panjang batang dari penjepit ke jarum petunjuk sekala (m)
m = massa beban yang menyebabkan puntiran (kg)
α˚ = besar simpangan pada jarak L (rad/s2)
r = jari-jari roda pemuntir (m)
M = momen gaya (N m)
θ = sudut puntir (rad/m)
Catatan tambahan :
 Modulus Geser atau adalah bilangan yag menggambarkan perubahan
benda yang elastis, atau suatu konstanta yang menyatakan besarnya gaya
yang diperlukan untuk memuntir suatu bahan per satuan luar tiap satu
derajat.
 Modulus Young adalah perbandingan regangan terhadap regangan ke satu
arah.
 Modulus Bulk adalah perbandingan regangan terhadap regangan ke segala
arah.
 Tegangan adalah gaya yang terjadi per satuan luas penampang. Tegangan
berlawanan arah dengan arah gayanya.
 Regangan adalah rasio antara perubahan panjanga dengan panjang mula-
mulanya dimana pada regangan akan searah dengan arah gayanya.
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

A. Alat dan bahan


1. Test Bar for Bending
fungsi:
Sebagai bahan percobaan bending.

2. Test Bar for Torsion


funsi:
Sebagai bahan percobaan puntiran.

3. Movable Bearings
fungsi:
Tempat bertumpu batang yang
digunakan saat percobaan
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

4. Fixing Element for Bearings


fungsi:
Mengencangkan bearing pada guide
bar.

5. Load Body
fungsi:
Tempat menaruh beban yang akan
digantung di test bar.

6. Meteran
fungsi:
Mengukur panjangbatang beam.
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

7. Fixing Element and Clamping Plate


fungsi:
Tumpuan pada percobaan bending.

8. Dial Gauge
fungsi:
Mengukur defleksi dan perpindahan.
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

B. Prosedur percobaan
1. Percobaan Deformasi Bending pada Batang Beam Baja
a) Mengukur panjang, lebar, dan tinggi batang beam baja;
b) Memasang batang beam baja yang diuji pada fixing element and
clamping plate di ujung batang;
c) Memasang force transmission element pada titik tengah panjang dari
ujung bebas batang beam baja;
d) Memasang magnetic hilder for dial gauge dan dial gauge sesuai
dengan gambar pada modul;
e) Mengkalibrasi skala dial gauge;
f) Menggantungkan beban pertama sebesar 100 gram, kedua 500 gram,
ketiga 600 gram, dan keempat 1000 gram pada titik tengah batang
kemudian mencatat besar deformasi bending pada titik yang diukur;
2. Percobaan Deformasi Bending pada Batang Beam Kuningan
a) Mengukur panjang, lebar, dan tinggi batang beam baja;
b) Memasang batang beam baja yang diuji pada fixing element and
clamping plate di ujung batang;
c) Memasang force transmission element pada titik tengah panjang dari
ujung bebas batang beam baja;
d) Memasang magnetic hilder for dial gauge dan dial gauge sesuai
dengan gambar pada modul;
e) Mengkalibrasi skala dial gauge;
a) Menggantungkan beban pertama sebesar 100 gram, kedua 500 gram,
ketiga 600 gram, dan keempat 1000 gram pada titik tengah batang
kemudian mencatat besar deformasi bending pada titik yang diukur;

3. Percobaan Deformasi Torsi Pada Batang Silinder Baja


a) Mengukur panjang dan diameter batang silinder baja;
b) Memasang batang silinder baja yang diuji pada rigidly connected
clamping chuck dan rotating bearing clamping chuch;
c) Memasang magnetic hilder for dial gauge dan dial gauge sesuai
dengan gambar pada modul;
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

d) Mengkalibrasi skala dial gauge;


e) Menggantungkan beban pada level for generation of torsion moment
pertama sebesar 100 gram, kedua 500 gram, ketiga 600 gram, dan
keempat 1000 gram pada titik tengah batang kemudian mencatat besar
deformasi torsi yang diukur;
4. Percobaan Deformasi Torsi Pada Batang Silinder Kuningan
a) Mengukur panjang dan diameter batang silinder kuningan;
b) Memasang batang silinder kuningan yang diuji pada rigidly connected
clamping chuck dan rotating bearing clamping chuch;
c) Memasang magnetic hilder for dial gauge dan dial gauge sesuai
dengan gambar pada modul;
d) Mengkalibrasi skala dial gauge;
e) Menggantungkan beban pada level for generation of torsion moment
pertama sebesar 100 gram, kedua 500 gram, ketiga 600 gram, dan
keempat 1000 gram pada titik tengah batang kemudian mencatat besar
deformasi torsi yang diukur;
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Percobaan Bending
a. Data
1) Material : Kuningan
L = 480 mm
b = 20 mm
h = 4 mm
E = 9.109 N/m2

No. Beban (gr) y (mm)

1. 100 0.21

2. 500 0.93

3. 600 1.13

4. 1000 1.58
Tabel IV.1.1 Data Percobaan Bending

2) Material : Baja
L = 480 mm
b = 20 mm
h = 4 mm
E = 21.1010 N/m2

No. Beban (gr) y (mm)

1. 100 0.12

2. 500 0.53

3. 600 0.61

4. 1000 1.11
Tabel IV.2.1 Data Percobaan Puntiran
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

b. Perhitungan Teoritis
1) Material : Kuningan

𝑏ℎ 3 20.43 1280
𝐼= 12
= 12
= 12
= 106,66 = 1,0666 x 10-10 m4

𝐹.𝐿3
- 𝑦1 = 48.𝐸.𝐼
(0,1.9,8) (0,48)3
= 48.9x1010 .1,0666x10−10

= 0,00023 m
= 0,23 mm
𝐹.𝐿3
- 𝑦2 = 48.𝐸.𝐼
(0,5.9,8) (0,48)3
=
48.9x1010 .1,0666x10−10

= 0,00117 m
= 1,17 mm
𝐹.𝐿3
- 𝑦3 = 48.𝐸.𝐼
(0,6.9,8) (0,48)3
=
48.9x1010 .1,0666x10−10

= 0,00141 m
= 1,41 mm
𝐹.𝐿3
- 𝑦4 = 48.𝐸.𝐼
(1.9,8) (0,48)3
= 48.9x1010 .1,0666x10−10

= 0,00235 m
= 2,35 mm

2) Material : Baja

𝑏ℎ 3 20.43 1280
𝐼= 12
= 12
= 12
= 106,66 = 1,0666 x 10-10 m4
𝐹.𝐿3
- 𝑦1 = 48.𝐸.𝐼
(0,1.9,8) (0,48)3
= 48.21x1010 .1,0666x10−10

= 0,0001008 m
= 0,1 mm
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

𝐹.𝐿3
- 𝑦2 =
48.𝐸.𝐼
(0,5.9,8) (0,48)3
=
48.21x1010 .1,0666x10−10

= 0,0005 m
= 0,5 mm
𝐹.𝐿3
- 𝑦3 =
48.𝐸.𝐼
(0,6.9,8) (0,48)3
=
48.21x1010 .1,0666x10−10

= 0,0006 m
= 0,6 mm
𝐹.𝐿3
- 𝑦1 = 48.𝐸.𝐼
(1.9,8) (0,48)3
= 48.21x1010 .1,0666x10−10

= 0,001008 m
= 1,008 mm

c. Persentase Kesalahan
𝑦𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖 − 𝑦𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘
𝑃𝐾 = | | x 100%
𝑦𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖
1) Material : Kuningan
𝟎.𝟐𝟑−𝟎,𝟐𝟏
- 𝑃𝐾1 = | | x 100%
𝟎.𝟏

= 8.69 %
𝟏.𝟏𝟕−𝟎.𝟗𝟑
- 𝑃𝐾2 = | | x 100%
𝟏.𝟏𝟕

= 20.51 %
𝟏.𝟒𝟏−𝟏.𝟏𝟑
- 𝑃𝐾3 = | | x 100%
𝟏.𝟒𝟏

= 19.85 %
𝟐.𝟑𝟓−𝟏.𝟓𝟖
- 𝑃𝐾4 = | | x 100%
𝟐.𝟑𝟓

= 32.76 %
2) Material : Baja
𝟎.𝟏−𝟎,𝟏𝟐
- 𝑃𝐾1 = | | x 100%
𝟎.𝟏

= 20 %
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

𝟎.𝟓−𝟎,𝟓𝟑
- 𝑃𝐾2 = | | x 100%
𝟎.𝟓

= 6%
𝟎.𝟔−𝟎,𝟔𝟏
- 𝑃𝐾3 = | | x 100%
𝟎.𝟔

= 1.66 %
𝟏.𝟎𝟎𝟖−𝟏.𝟏𝟏
- 𝑃𝐾4 = | | x 100%
𝟏.𝟎𝟎𝟖

= 10.11 %

y (mm)
Material Beban (gr) PK
Teori Praktik
100 0,23 0,21 8,69 %

500 1,17 0,93 20,51 %


Kungingan
600 1,41 1,13 19,85 %

1000 2,35 1,58 32,76 %

100 0,1 0,12 20 %

500 0,5 0,53 6%


Baja
600 0,6 0,61 1,66 %

800 1,008 1,11 10,11 %


Tabel IV.3.1 Hasil Analisa Data Percobaan Bending Menggunakan Material
Kuningan dan Baja
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

2. Percobaan Puntiran
a. Data
1) Material : Kuningan
L = 340 mm
d = 10 mm
E = 9.109 N/m2

No. Beban (gr) 𝛌 (mm)

1. 100 0.03

2. 500 0.15

3. 600 0.22

4. 1000 0.34

2) Material : Baja
L = 340 mm
d = 10 mm
E = 200.109 N/m2

No. Beban (gr) 𝛌 (mm)

1. 100 0.06

2. 500 0.28

3. 600 0.34

4. 1000 0.57

b. Perhitungan Teoritis
1) Material : Kuningan
- Shearing Stress
λ 0.03
𝛾1 = = = 0.008x10−2
𝐿 340
λ 0.15
𝛾2 = = = 0.044x10−2
𝐿 340
λ 0.22
𝛾3 = = = 0.064x10−2
𝐿 340
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

λ 0.34
𝛾4 = = = 0.1x10−2
𝐿 340
- Shear Stress in Surface Area
𝑀𝑡 𝐹1 . 𝑔. 𝑎 (0,1.9,8). 0,1
𝜏1𝑚𝑎𝑥 = = 𝜋 = = 4,99 x 1010 𝑚𝑚
𝑊𝑝 4 3,14
16 x 𝑑
−8
16 x 10
𝑀𝑡 𝐹2 . 𝑔. 𝑎 (0,5.9,8). 0,1
𝜏2𝑚𝑎𝑥 = = 𝜋 = = 24,96 x 1010 𝑚𝑚
𝑊𝑝 4 3,14
16 x 𝑑
−8
16 x 10
𝑀𝑡 𝐹3 . 𝑔. 𝑎 (0,6.9,8). 0,1
𝜏3𝑚𝑎𝑥 = = 𝜋 = = 29,96 x 1010 𝑚𝑚
𝑊𝑝 4 3,14
16 x 𝑑
−8
16 x 10
𝑀𝑡 𝐹4 . 𝑔. 𝑎 (1.9,8). 0,1
𝜏4𝑚𝑎𝑥 = = 𝜋 = = 49,93 x 1010 𝑚𝑚
𝑊𝑝 4 3,14
16 x 𝑑
−8
16 x 10
- Shear Modulus
𝛾1 0,008 x 10−2
𝛽1 = = = 0,0016 x 10−12
𝜏1 4,99 x 1010
𝛾2 0,044 x 10−2
𝛽2 = = = 0,0017 x 10−12
𝜏2 24,96 x 1010
𝛾3 0,064 x 10−2
𝛽3 = = = 0,0021 x 10−12
𝜏3 29,96 x 1010
𝛾4 0,1 x 10−2
𝛽4 = = = 0,002 x 10−12
𝜏4 49,93 x 1010
- Modulus of Elasticty in Shear
1 1
𝐺1 = = = 625 x 1012
𝛽1 0,0016 x 10−12
1 1
𝐺2 = = = 588 x 1012
𝛽2 0,0017 x 10−12
1 1
𝐺3 = = = 476 x 1012
𝛽3 0,0021 x 10−12
1 1
𝐺4 = = = 500 x 1012
𝛽4 0,002 x 10−12
- Angle of Rotation
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

180. 𝑀𝑡1 . 𝐿 180. (0,1.9,8.0,1). 0,34


∅1 = =
𝜋. 𝐺1 . 𝐼𝑝 3,14. (6,25 x 1015 ). 0,098 x 10−8
5,9976
=
1,92325 x 107
= 31,184 x 10−8 𝑑𝑒𝑟𝑎𝑗𝑎𝑡
180. 𝑀𝑡2 . 𝐿 180. (0,5.9,8.0,1). 0,34
∅2 = =
𝜋. 𝐺2 . 𝐼𝑝 3,14. (5,88 x 1015 ). 0,098 x 10−8
29,988
=
1,80939 x 107
= 165,74 x 10−8 𝑑𝑒𝑟𝑎𝑗𝑎𝑡
180. 𝑀𝑡3 . 𝐿 180. (0,6.9,8.0,1). 0,34
∅3 = =
𝜋. 𝐺3 . 𝐼𝑝 3,14. (4,76 x 1015 ). 0,098 x 10−8
35,9856
=
1,4647 x 107
= 245,68 x 10−8 𝑑𝑒𝑟𝑎𝑗𝑎𝑡
180. 𝑀𝑡4 . 𝐿 180. (1.9,8.0,1). 0,34
∅4 = =
𝜋. 𝐺4 . 𝐼𝑝 3,14. (5 x 1015 ). 0,098 x 10−8
59,976
=
1,54167 x 107
= 389,03 x 10−8 𝑑𝑒𝑟𝑎𝑗𝑎𝑡

2) Material : Kuningan
- Shearing Stress
λ 0.06
𝛾1 = = = 0.017x10−2
𝐿 340
λ 0.28
𝛾2 = = = 0.082x10−2
𝐿 340
λ 0.34
𝛾3 = = = 0.1x10−2
𝐿 340
λ 0.57
𝛾4 = = = 0.167x10−2
𝐿 340
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

- Shear Stress in Surface Area


𝑀𝑡 𝐹1 . 𝑔. 𝑎 (0,1.9,8). 0,1
𝜏1𝑚𝑎𝑥 = = 𝜋 = = 4,99 x 1010 𝑚𝑚
𝑊𝑝 4 3,14
16 x 𝑑
−8
16 x 10
𝑀𝑡 𝐹2 . 𝑔. 𝑎 (0,5.9,8). 0,1
𝜏2𝑚𝑎𝑥 = = 𝜋 = = 24,96 x 1010 𝑚𝑚
𝑊𝑝 x 𝑑 4 3,14 −8
16 16 x 10
𝑀𝑡 𝐹3 . 𝑔. 𝑎 (0,6.9,8). 0,1
𝜏3𝑚𝑎𝑥 = = 𝜋 = = 29,96 x 1010 𝑚𝑚
𝑊𝑝 x𝑑 4 3,14
16 x 10−8
16
𝑀𝑡 𝐹4 . 𝑔. 𝑎 (1.9,8). 0,1
𝜏4𝑚𝑎𝑥 = = 𝜋 = = 49,93 x 1010 𝑚𝑚
𝑊𝑝 4 3,14
16 x 𝑑
−8
16 x 10
- Shear Modulus
𝛾1 0,017 x 10−2
𝛽1 = = = 0,0034 x 10−12
𝜏1 4,99 x 1010
𝛾2 0,082 x 10−2
𝛽2 = = 10
= 0,0032 x 10−12
𝜏2 24,96 x 10
𝛾3 0,1 x 10−2
𝛽3 = = = 0,00333 x 10−12
𝜏3 29,96 x 1010
𝛾4 0,167 x 10−2
𝛽4 = = = 0,00334 x 10−12
𝜏4 49,93 x 1010
- Modulus of Elasticty in Shear
1 1
𝐺1 = = = 249,11 x 1012
𝛽1 0,0034 x 10−12
1 1
𝐺2 = = = 312,50 x 1012
𝛽2 0,0032 x 10−12
1 1
𝐺3 = = = 300,30 x 1012
𝛽3 0,00333 x 10−12
1 1
𝐺4 = = = 299,40 x 1012
𝛽4 0,00334 x 10−12
- Angle of Rotation
180. 𝑀𝑡1 . 𝐿 180. (0,1.9,8.0,1). 0,34
∅1 = =
𝜋. 𝐺1 . 𝐼𝑝 3,14. (249,11 x 1012 ). 0,098 x 10−8
5,9976
=
76,656 x 104
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

= 0,078 x 10−4 𝑑𝑒𝑟𝑎𝑗𝑎𝑡


180. 𝑀𝑡2 . 𝐿 180. (0,5.9,8.0,1). 0,34
∅2 = =
𝜋. 𝐺2 . 𝐼𝑝 3,14. (312,50 x 1012 ). 0,098 x 10−8
29,988
=
96,162 x 104
= 0,311 x 10−4 𝑑𝑒𝑟𝑎𝑗𝑎𝑡
180. 𝑀𝑡3 . 𝐿 180. (0,6.9,8.0,1). 0,34
∅3 = =
𝜋. 𝐺3 . 𝐼𝑝 3,14. (300,30 x 1012 ). 0,098 x 10−8
35,9856
=
92,408 x 104
= 0,389 x 10−4 𝑑𝑒𝑟𝑎𝑗𝑎𝑡
180. 𝑀𝑡4 . 𝐿 180. (1.9,8.0,1). 0,34
∅4 = =
𝜋. 𝐺4 . 𝐼𝑝 3,14. (299,40 x 1012 ). 0,098 x 10−8
59,976
=
92,131 x 104
= 0,650 x 10−4 𝑑𝑒𝑟𝑎𝑗𝑎𝑡

c. Gambar Grafik
1. Percobaan Bending
a) Material Kuningan (Grafik hubungan antara F terharap y)
2.5 2.35

1.41
1.5
y (mm)

1.17
1.58
1
1.13
0.93
0.5 0.23

0 0.21
100 500 600 1000

F (gram)

Teori Praktik
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

b) Material Baja (Grafik hubungan antara F terhadap y)


1.2
1.11
1 1.008

0.8
0.61
y (mm)

0.53
0.6 0.6
0.5
0.4
0.12
0.2
0.1
0
100 500 600 1000

F (gram)

Praktik Teori

2. Percobaan Puntiran
a) Material Kuningan (Grafik beban terhadap λ)

0.4
0.34
0.35
0.3
0.25 0.22
𝛌 (mm)

0.2
0.15
0.15
0.1
0.03
0.05
0
100 500 600 1000
Beban (gr)
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

b) Material Baja

0.6 0.57

0.5

𝛌 (mm) 0.4 0.34


0.28
0.3

0.2

0.1 0.06

0
100 500 600 1000
Beban (gr)
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

B. Pembahasan
1. Pembahasan Umum
Analisis bending pada pegas daun
Pegas daun umumnya di gunakan pada kendaraan berat dengan sifat pegas
yang elastis, pegas berfungsi untuk menerima getaran atau goncanganroda
akibat dari kondisi jalan yang di lalui dengan tujuan agar getaran atau
goncangan dari roda tidak menyalur ke body atau rangka kendaraan.
Biasanya shock absorber hanya memiliki seal dan membutuhkan oli untuk
bekerja dan rangka asli dari pegas adalah besi elastis. Cara kerja dari pegas
adalah pada saat mobil berjalan di atas permukaan yang tidak rata mobil
akan berguncang disinilah pegas itu berfungsi menahan atau emperkecil
kejutan kepada mobil atau pengendara.

Untuk perhitungan momen bending, tegangan maksimal dan defleksi yang


terjadi pada pegas daun dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut [11].
Aplied Mechanics Laboratory Mechanical Engineering Department
Engineering Faculity in Hasanuddin Univeristy

Keterangan:
l = panjang pegas
b = lebar pegas
t = tebal pegas
W = beban
Untuk pegas kantilever dengan penampang segi emapat, lebar
penampang b, tinggi t, dibebani bending :

Momen maksimum terjadi pada x=l bagian luar, sehingga

Dalam merancang pegas daun, tegangan sepanjang beam diusahakan


konstan dengan cara membuat t konstan dan b bervariasi, atau sebaliknya

Contoh soal
Pegas kantilever dengan panjang 35 inch tersusun dari 8 tumpukan daun.
Lebar daun 7/4 inch. Beban 500 lbf bekerja pada ujung pegas
menyebabkan defleksi 3 inch. Material pegas baja dengan E=30000 ksi.
Tentukan Ketebalan daun dan tegangan bending maksimum
Solusi.