Anda di halaman 1dari 13

KASUS PELANGGARAN ETIKA PROFESI

Disusun oleh :

Khairil Hidayah D021 17 1523

DEPARTEMEN MESIN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2018

i
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT, shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wasallam. Berkat limpahan dan rahmat yang
diberikan oleh Allah SWT penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah Hukum
Perburuhan.
Makalah tentang Kasus Pelanggaran Etika Profesi ini disusun untuk melengkapi tugas
mata kuliah Etika Profesi dan Hukum Perburuhan. Pengembangan dan penyusunan materi
diberikan secara urut. Penyajian materi didesain untuk memperkuat pemahaman konsep
tentang hubungan para pekerja dan perusahaan di Indonesia dan hukum perburuhan yang
berlaku dengan penjelasan yang cukup panjang.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penyusun
hadapi. Namun penyusun menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak
lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala tersebut
dapat teratasi.

Penyusunan makalah ini disesuaikan dengan referensi yang didapat dari buku
maupun internet. Segala kritik dan saran yang membangun senantiasa diharapkan penyusun
demi penyempurnaan tugas makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan
yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca dan bermanfaat bagi
pendidik serta rekan-rekan dalam mengembangkan ilmu Etika Profesi dan Hukum
Perburuhan.

Gowa, 7 November 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ……………………………………………………………………….. ii


Daftar Isi ……………………………………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .……………………………………………………………………. 1
B. Rumusan Masalah …………………………………………………………………. 2
B. Tujuan …………………………………………………………………. 2
B. Manfaat …………………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Kasus Pelanggaran Etika Profesi Bidang Insinyur….………………………………. 3
B. Rincian Kasus dan Prinsip Dasar keinsinyuran….…………………………………… 4
C. Analisa Kasus………………………………...….…………………………………… 6

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ………………………………………………………………………… 10
B. Saran ……………………………………………………………………………… 10
Daftar Pustaka ………………………………………………………………………… 11

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti
karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan
dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah
tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.

Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai “the discpline which can act
as the performance index or reference for our control system”. Dengan demikian, etika
akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan
manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus
dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk
aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-
prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai
alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum
(common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah
refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat
dan diterapkan dari dan untuk kepenringan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.

Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat
memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional
ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin
memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya. Tanpa
etika profesi, apa yang semua dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan
segera jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi)
yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan
berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas diberikan
kepada para elite profesional ini.

1
1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang, kami mengemukakan beberapa rumusan masalah yang
selanjutnya akan diuraikan, diantaranya:
1. Menjelaskan bagaimana kasus etika profesi di bidang insinyur.
2. Menjelaskan pelanggaran yang menyangkut pada aturan catur karsa dan saptha
darma.
3. Menjelaskan nilai-nilai etika yang harus diemban oleh seorang insinyur.

1.3 Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini diantaranya :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika Profesi dan Hukum Perburuhan.
2. Untuk memahami sepenuhnya mengenai pelanggaran aturan yang terjadi pada
kasus etika profesi bidang insinyur

1.4 Manfaat
Manfaat dari penyusunan makalah ini adalah :
a. Guna menambah wawasan mahasiswa mengenai materi yang dibahas dalam
makalah ini.
b. Mengembangkan materi agar kami dapat mengetahui tujuan khusus etika profesi
dan hokum perburuhan
c. Meningkatkan keterampilan para mahasiswa dalam membuat makalah dengan
baik dan benar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kasus Pelanggaran Etika Profesi Insinyur


Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar) adalah jembatan yang melintas di atas sungai
Mahakam dan merupakan jembatan gantung dengan bentang terpanjang di Indonesia.
Bentang bebasnya, atau area yang tergantung tanpa penyangga, mencapai 270 meter,
dari total panjang jembatan yang mencapai 710 meter. Jembatan ini merupakan sarana

2
penghubung antara Kota Tenggarong dengan kecamatan Tenggarong Seberang yang
menuju ke Kota Samarinda. Jembatan ini dibangun menyerupai Jembatan Golden Gate
yang terdapat di San Fransisco. Jembatan Kartanegara merupakan jembatan kedua yang
dibangun melintasi Sungai Mahakam setelah Jembatan Mahakam di Samarinda.
Jembatan ini mulai dibangun pada tahun 1995 dan selesai pada 2001 dengan kontraktor
PT Hutama Karya yang menangani proyek pembangunan jembatan tersebut.

Pada tanggal 26 November 2011, Indonesia dihebohkan dengan berita rubuhanya


jembatan Kutai-Kertanegara Kalimantan yang menjadi penghubung antara kota
Samarinda dan Tenggarong di Kalimantan Timur. Jembatan yang mulai dioperasikan tahun
2001 tersebut runtuh saat dilakukan pekerjaan pemeliharaan jembatan dan
menyebabkan korban jiwa 21 orang dan beberapa lainnya hilang. Di samping itu tentu
saja menyebabkan arus trasportasi orang dan barang menjadi sangat terhambat dan
mengakibatkan terganggunya roda ekonomi pasca keruntuhan jembatan.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyatakan terjadi kesalahan teknis atau


kegagalan pembangunan jembatan. Kegagalan tersebut terjadi sejak awal perencanaan,
pelaksanaan, hingga pemeliharaan karena kurangnya pengetahuan (lack of knowledge)
seluruh pihak terhadap pembangunan jembatan gantung di Indonesia. Ketua Tim
Investigasi, Iswandi Imran, menjelaskan ketidaksempurnaan sudah mulai ada sejak tahun
1995, dimana jembatan direncanakan. Bentuk jembatan didesain tidak streamline,
artinya banyak perubahan geometri yang mendadak untuk setiap sambungan. Dalam
bentuk seperti itu berarti terdapat banyak patahan pada jembatan. Kesalahan atau
ketidaksempurnaan lain terdapat pada pemilihan konstruksi. Konstruksi besi cor
jembatan menggunakan Ductile Cast Iron FCD 60 yang idealnya menggunakan baja cor.
Karena besi cor memiliki karakteristik material yang sangat getas dan bias pecah seketika,
atau biasa disebut ‘patah getas’. Besi cor tidak memperlihatkan gejala atau tanda akan
pecah. Berbeda halnya jika menggunakan baja yang akan mengalami proses ‘ulur,’
sehingga akan terlihat gejala pecahnya. Sebelum jembatan runtuh, sedang dilaksanakan
pemeliharaan dalam bentuk jacking atau pengangkatan di sisi hilir hingga batang hanger
di tengah bentang atau tepat di tengah jembatan. Saat proses tersebut berlangsug, arus
lalu lintas tetap berjalan normal sehingga menyebabkan tambahan tegangan hingga dua
kali lipat beban maksimal jembatan seberat 40 ton tersebut. Akibatnya beban menjadi

3
sekitar 80 ton, timbulah kondisi tambahan tegangan yang menyebabkan pecahnya clamp
atau sambungan antara batang hanger dan kabel utama.

B. Rincian Kasus dan Prinsip Dasar Keiinsinyuran

Sejauh ini, tujuh orang tewas dan 40 lainnya terluka. Pencarian korban terus
dilakukan.( VIVAnews ).

Penyebab ambruknya Jembatan Kutai Kartanegara mulai tersingkap. Dugaan


sementara, ada unsur kelalaian yang mengakibatkan malapetaka ini. Wakil Bupati Kutai
Kartanegara M. Ghufron memastikan jembatan ambruk saat badan jembatan sedang
diperbaiki.

Jembatan gantung terpanjang di Indonesia yang melintasi Sungai Mahakam di


Kalimantan Timur ini runtuh Sabtu sore, 26 November 2011, dan tinggal menyisakan dua
pilar penyangganya. Hingga berita ini diunggah, sedikitnya tujuh orang tewas, 40 lainnya
terluka, dan 33 orang dilaporkan hilang.

Sekitar pukul 02.12 WITA, Rombongan menteri tiba di lokasi didampingi langsung
Bupati Kukar, Rita Widyasari, Kapolda Irjen Pol Bambang Wijanarko dan Kapolres AKBP I
Gde Haryarsana. Menkokesra Agung Laksono langsung menanyakan kronologi kejadian.

Kepada Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono yang langsung


terbang ke lokasi bersama Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirman, Minggu pk. 02.12
WITA, Kapolres Kutai Kartanegara AKBP I Gde Haryarsana melaporkan pihaknya menduga
ada unsur kesalahan manusia di balik kejadian ini. Menurut dia, seharusnya ketika
pekerjaan perbaikan tali jembatan sedang dilakukan, tidak boleh ada arus lalu lintas di
atas jembatan.

“Seharusnya jembatan ditutup," kata Haryarsana. "Tidak boleh ada getaran ketika
pengerjaan dilakukan. Getarannya membuat tali yang sedang di-set goyang dan lepas."

Namun demikian, Menteri Agung menyatakan tak mau buru-buru menarik


kesimpulan. "Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari tim ahli," tuturnya.

Yang sudah pasti, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menyatakan jembatan


runtuh saat sedang diperbaiki. Dan perbaikan yang dilakukan Sabtu nahas itu merupakan

4
program pemeliharaan yang sudah dianggarkan senilai Rp2 miliar dan disetujui Bupati
Kutai Kartanegara Rita Widyasari.

Melalui Sri Wahyuni, Kabag Humas Pemkab Kutai Kartanegara, Bupati Rita
menjelaskan pada hari pertama pemeliharaan itu petugas menyetel kembali tali penahan
jembatan. Namun, saat proses dilakukan petugas tak menghentikan arus lalu lintas yang
padat saat memasuki jam-jam sibuk. Petugas, kata Sri Wahyuni, hanya menutup sebagian
badan jalan dan menjadikan jalur dua arah menjadi satu arah dengan sistem buka tutup.

"Petaka terjadi ketika jembatan tak sanggup menahan beban maksimal. Ditambah
lagi kekuatan jembatan berkurang lantaran tali penyangga sedang mengalami perbaikan,"
ujar Sri Wahyuni dalam jumpa pers di kantor Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara,
Minggu.

Ketika itu, badan jalan drop dan tali penyangga kendor sehingga mengurangi
kekuatan jembatan. Sri menuturkan, sebelum terjadi bencana, badan jalan di jembatan
memang sudah bergeser. Sebab itulah diputuskan untuk dilakukan proses pemeliharaan
untuk mengembalikan jembatan seperti setelan semula.

Bupati Rita menerangkan pihaknya sedang memeriksa kondisi jembatan sebelum


ambruk. Pemeriksaan juga dilakukan oleh tim investigasi yang diturunkan Kementerian
Pekerjaan Umum.

Untuk mehamami pelanggaran apa saja yang terjadi dalam kasus tersebut kita dapat
melihat aturan-aturan berdasarkan prinsip-prinsip dasar dan tuntunan sikap keinsinyuran,
yakni catur karsa dan Sapta Dharma. Seperti yang tertera dengan penjelasan yang lebih
rinci di bawah.
Catur Karsa, Prinsip-Prinsip Dasar :
1. Mengutamakan keluhuran budi.
2. Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan
umat manusia.
3. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan
tugas dan tanggung jawabnya.
4. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional
keinsinyuran.

5
Sapta Dharma, Tujuh Tuntunan Sikap :
1. Insinyur Indonesia senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan
kesejahteraan Masyarakat.
2. Insinyur Indonesia senantiasa bekerja sesuai dengan kompentensinya.
3. Insinyur Indonesia hanya menyatakan pendapat yang dapat dipertanggung
jawabkan.
4. Insinyur Indonesia senantiasa menghindari terjadinya pertentangan kepentingan
dalam tanggung jawab tugasnya.
5. Insinyur Indonesia senantiasa membangun reputasi profesi berdasarkan kemampuan
masing-masing.
6. Insinyur Indonesia senantiasa memegang teguh kehormatan, integritas dan martabat
profesi.
7. Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya.

C. Analisa Kasus
Nama Kasus : Robohnya Jembatan Kutai-Kertanegara

Tanggal Kejadian : 26 November 2011

Tempat Kejadian : Samarinda, Kalimantan Timur

Pelaku : Kontraktor PT Hutama Karya

Penyebab : Petaka terjadi ketika jembatan tak sanggup menahan beban


maksimal. Ditambah lagi kekuatan jembatan berkurang lantaran tali penyangga sedang
mengalami perbaikan. Juga Kurangnya pengetahuan (lack of knowledge) sejak
perencanaan dan pemeliharaan.
Pelanggaran yang di langgar berdasarkan catur karsa dan sapta dharma antara lain :
1. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyatakan terjadi kesalahan teknis atau
kegagalan pembangunan jembatan. Kegagalan tersebut terjadi sejak awal
perencanaan, pelaksanaan, hingga pemeliharaan karena kurangnya pengetahuan
(lack of knowledge) seluruh pihak terhadap pembangunan jembatan gantung di
Indonesia.
Dari pernyataan tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa yang pelanggaran yang
dilakukan berdasarkan prinsip catur karsa dan sapta dharma adalah sebgai berikut
:

 Catur Karsa Poin 2


Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan
kesejahteraan umat manusia.

 Catur Karsa Poin 4

6
Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional
keinsinyuran.

 Sapta Dharma Poin 2


Insinyur Indonesia senantiasa bekerja sesuai dengan kompentensinya.

 Sapta Dharma Poin 3


Insinyur Indonesia hanya menyatakan pendapat yang dapat dipertanggung
jawabkan

 Sapta Dharma Poin 7


Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya
2. Ketua Tim Investigasi, Iswandi Imran, menjelaskan ketidaksempurnaan sudah
mulai ada sejak tahun 1995, dimana jembatan direncanakan. Bentuk jembatan
didesain tidak streamline, artinya banyak perubahan geometri yang mendadak
untuk setiap sambungan. Dalam bentuk seperti itu berarti terdapat banyak
patahan pada jembatan.
Dari pernyataan tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa yang pelanggaran yang
dilakukan berdasarkan prinsip catur karsa dan sapta dharma adalah sebgai berikut
:

 Catur Karsa Poin 4


Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional
keinsinyuran.

 Sapta Dharma Poin 2


Insinyur Indonesia senantiasa bekerja sesuai dengan kompentensinya.

 Sapta Dharma Poin 7


Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya
3. Kesalahan atau ketidaksempurnaan lain terdapat pada pemilihan konstruksi.
Konstruksi besi cor jembatan menggunakan Ductile Cast Iron FCD 60 yang idealnya
menggunakan baja cor. Karena besi cor memiliki karakteristik material yang sangat
getas dan bias pecah seketika, atau biasa disebut ‘patah getas’. Besi cor tidak
memperlihatkan gejala atau tanda akan pecah.
Dari pernyataan tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa yang pelanggaran yang
dilakukan berdasarkan prinsip catur karsa dan sapta dharma adalah sebgai berikut
:

 Catur Karsa Poin 2


Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan
kesejahteraan umat manusia.

7
 Sapta Dharma Poin 1
Insinyur Indonesia senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan
kesejahteraan Masyarakat
 Sapta Dharma Poin 3
Insinyur Indonesia hanya menyatakan pendapat yang dapat dipertanggung
jawabkan

 Sapta Dharma Poin 7


Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya
4. Kepada Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono yang langsung
terbang ke lokasi bersama Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirman, Minggu pk.
02.12 WITA, Kapolres Kutai Kartanegara AKBP I Gde Haryarsana melaporkan
pihaknya menduga ada unsur kesalahan manusia di balik kejadian ini. Menurut
dia, seharusnya ketika pekerjaan perbaikan tali jembatan sedang dilakukan, tidak
boleh ada arus lalu lintas di atas jembatan. “Seharusnya jembatan ditutup," kata
Haryarsana. "Tidak boleh ada getaran ketika pengerjaan dilakukan. Getarannya
membuat tali yang sedang di-set goyang dan lepas."

Dari pernyataan tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa yang pelanggaran yang
dilakukan berdasarkan prinsip catur karsa dan sapta dharma adalah sebgai berikut
:

 Catur Karsa Poin 2


Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan
kesejahteraan umat manusia.

 Catur Karsa Poin 3


Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai
dengan tugas dan tanggung jawabnya

 Sapta Dharma Poin 1


Insinyur Indonesia senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan
kesejahteraan Masyarakat

5. "Petaka terjadi ketika jembatan tak sanggup menahan beban maksimal. Ditambah
lagi kekuatan jembatan berkurang lantaran tali penyangga sedang mengalami

8
perbaikan," ujar Sri Wahyuni dalam jumpa pers di kantor Pemerintah Kabupaten
Kutai Kartanegara, Minggu.

Dari pernyataan tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa yang pelanggaran yang
dilakukan berdasarkan prinsip catur karsa dan sapta dharma adalah sebgai berikut
:

 Catur Karsa Poin 2


Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan
kesejahteraan umat manusia.

 Catur Karsa Poin 3


Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai
dengan tugas dan tanggung jawabnya

 Sapta Dharma Poin 1


Insinyur Indonesia senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan
kesejahteraan Masyarakat

 Sapta Dharma Poin 7


Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Etika dan profesionalisme adalah dua hal yang saling berkaitan satu sama lain.
Etika dan profesionalisme harus dijunjung tinggi oleh para insinyur, karna dengan
demikian seoarang insinyur mampu berkontribusi dengan baik untuk
negaranya. Insinyur harus selalu terbuka dalam menyikapi berbagai permasalah teknik
yang sedang dihadapinya, mengingat jawaban dari masalah-masalah yang
dihadapi adalah open ended. Insinyur juga perlu mempunyai pemahaman yang
cukup tentang manusia lain, karena keberhasilan tugas yang dijalankannya akan juga
ditentukan oleh kemampuannya bekerja sama dengan orang lain. Prinsip dasar kode
etik engineering profesional menyatakan bahwa seorang insinyur tidak boleh membuat
keputusan dalam bidang yang bukan merupakan keahliannya. Insinyur

9
seharusnya meminta nasehat dari orang lain yang memiliki pengetahuan untuk
mambantu menganalisis dan memahami konsekuensi lingkungan dari suatu proyek
yang mungkin terjadi.

B. Saran
Sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat,
bilamana dalam diri para elit profesional ada kesadaran kuat untuk
mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa
keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya. Tanpa etika profesi, apa
yang semual dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan segera jatuh
terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi) yang
sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan
berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas
diberikan kepada para elite profesional ini.

DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/19937144/Paper_Etika_Enjiniring_Kasus_Jembatan_Kutai_K
ertanegara

https://www.academia.edu/16404377/analisis_ambruknya_jembatan_tenggarong

https://dokumen.tips/documents/pelanggaran-kode-etik.html

10