Anda di halaman 1dari 2

Akua dalah Masa dan Waktu

Oleh: Heronimus Bani

Namakumasa,

Lainnya menyebutkan namaku, waktu.

Di lain ruang mereka memanggilku, oras.

Di negeri jauh mereka mencercaku dengan nama, time.

Lalu, sejumlah nama padaku menurut bahasa manusia.

Oh.... Betapa aku diperkaya dalam bahasa mereka.

Lalu memujaku ketika aku membuka pintu masa baru.

Mereka menyebutkannya Tahun Baru.

Lalu menangisi kepergianku yang berlalu,

Ketika aku menutup pintu masa.

Mereka meratapiku dalam satuan Tutup Tahun.

Aku tidak bergembira dan berpesta riang ketika membuka pintu masa.

Aku tidak menangis dan meratap karena menutup pintu waktu.

Aku melihat dan merasakan seluruh hal yang dilakukan insan dalam rentang waktu.

Rentang dan bentangan itu ada dalam kesempatan,

Limitnya disebutkan dalam sekon, detik, menit dan jam.

Hitungannya dalam satuan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Lalu tiba pada zaman dimana orang
menggaungkan era, era baru, new era.

Dalamrentangandanbentangannamaapapun,

Aku melihat mereka berlelah-lelah dan berleha-leha.

Memarang pepohonan, menumbangkan tetumbuhan dan tanaman.

Menggarong isi karung dan kantong,

bahkan kantong persembahan pun digarong.

Menggali dan mencungkil tanah yang darinya mereka dibentuk tubuh dan raganya.

Lalu tanpa malu membuatnya botak dan gundul tanpa pepohonan dan tetumbuhan. Ketika itu mereka
saling berperkara pada lahan gundul calon bencana. Lalu sang lahan membuka mulutnya dan menelan
mereka dalam ukuran dua kali satu meter persegi. Mengail rezeki di banyak tempat, hingga mengail dan
mengais rezeki di pintu dan di dalam rumah ibadah. Memancing di danau, menjala di pantai dan laut
lepas, sambil membuang sampah dan hajat busuk. Lalu bila mereka ingat untuk memancing dan menjala
ikan buat Tuhannya, mereka mendikte dan mendata. Mereka mendiktekan Firman Tuhan, dan
Pendiktenya pergi, lalu meminta Tuhan bekerja untuk pendengarnya. Pendiktenya beralih fungsi
menjadi Pendata. Mereka mendata dalam catatan grafik beragam model, diujungnya ada perselisihan
yang memisahkan. Lalu memproklamasikan diri sebagai umat baru yang saling mencerca sambil memuji
Tuhan. Dalam limit satuan jarum pendek dan panjang, mereka berkejaran bila bernilai ekonomis yang
menguntungkan.

Bila merugikan mereka saling membusukkan hingga berbuah keburukan saudara sendiri. Dalam hitung
satuan harian apalagi tahunan, mereka berlambat-lambat dengan kata-kata masih ada hari esok. Bila
tersisa menit-menit terakhir mereka gugup dan stres. Sikap dan tindakan stressing dan pemaksaan
dilakukan, Padahal mereka berleha-leha dalam bungkusanku, bukan berlelah-lelah agar berkeringat di
pangkuanku.

Ketika mereka sakit, mereka berleha-leha dengan sikap curiga. Lalu mencari kambing hitam atas
penyakit yang diderita. Lalu menggunakan pendekatan kahe’ dan puran sumbur dari semburan bibir
bercela yang dipakai mengumpat makhluk, malak dan khalik. Menghadap pelihat dan pendo’a berjimat,
lalu larilah mereka terbirit-birit padaTuhan. Tuhan pun tersenyum atas kebodohan mereka. Berhubung
saatnya tiba untuk seseorang kembali keharibaan-Nya.

Mereka menangis dan meratap? Ya! Mereka menangisi ketelanjuran mengurus penyakit tanpa mau
terkuras dompetnya. Mereka meratapi kebodohan diri karena terlambat pergi kefasilitas yang
disediakan Tuhan melalui hamba-hambaNya di dunia pemerintahan. Mereka lebih percaya pada takhyul
dari pada pengetahuan dari SumberHikmat. Mereka lebih percaya pada keallahan insane pelihat dari
pada padaTuhan yang melihat dengan ketajaman mata lebih dari pada jarum tangan di tangan ibu
sekalipun. Ia menusuk sampai kedalaman hati, yang mampu mencungkil dan mengangkat lepas segala
beban, termasuk penyakit di dalamnya.

Ketika akhi masa tiba, mereka duduk mengelilingi meja makan. Mereka menghitung perlengkapan
makan, berkurang satu, berkurang dua. Lalu tangis pun meledak, makan pun tersedak dan tewaslah
seorang di antara mereka.

Berkurang pula satu disana.

Tangis dan ratap diarahkan pada Tuhan.

Tuhan dipersalahkan. “Tuhan, mengapa Kau panggil orang yang kami kasihi?”

Aku, masa dan waktu, Aku melihat dan merasakan ketika mereka harus member pada Tuhan yang
mengatasiku. Tuhan yang menciptakanku ini mengatasi ruang dan waktu. Di dalam ruang makhluk
insane berleha-leha dalam kegerahan nada minor.

Di dalam masa dan waktu makhluk manusia berlelah-lelah sambil bercanda dalam nyanyian rindu. Lalu
tiba di tangan setumpuk uang, mas dan berlian. Bingung member perpuluhan karena satu diantara
sepuluh. Mereka minta Tuhan jangan marah, “Tuhan, uangku terlalu banyak, sangat saying kalau aku
member 10% pada-MU!” Tuhan tersenyum saja, ketika mereka membawa yang lusuh disiram comberan
ikan dari pasar.

Ia memakai jari telunjuk-Nya menahan angin dan hujan.

Lalu berteriaklah makhluk manusia kikir dan pelit. Panas!....Ketika panas menyengat badan. Tuhan pun
mengangkat jari-Nya dan menghalau awan mendekat. Hujan!....ketika hujan tiba. KetikaTuhan
mengaturnya antara panas dan hujan, Mereka pun mencerca Tuhan dengan pertanyaankejengkelan.
Tahun berlalu, era dan zaman baru tiba. Siapa mempunyai mata penembus waktu, melihat keceriaan
dan candu masa depan.

Siapa mempunyai telinga pelintas masa, mendengar merdunya lagu eligi hari esok. Siapa berperasaan
yang intuitif melanglang di ruang dan peluang zaman baru. Bersama keluarga, bersama saudara
seiman,bersekutu dengan suku dan bangsa, berkeluarga di dalam Tuhan yang sama.