Anda di halaman 1dari 14

APBN DAN APBD

A. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

1. Pengertian APBN
APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui
oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan
pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari - 31Desember). APBN,
Perubahan APBN, dan Pertanggungjawaban APBN setiap tahun ditetapkan dengan
Undang-Undang.

2. Tujuan APBN

APBN disusun dengan tujuan untuk mengatur pembelanjaan Negara dan penerimaan
yang direncanakan supaya dapat mencapai sasaran yang ditetapkan, yaitu menciptakan
pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran masyarakat

3. Tahapan penyusunan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban APBN

1) Penyusunan APBN
Pemerintah mengajukan Rancangan APBN dalam bentuk RUU tentang APBN kepada
DPR. Setelah melalui pembahasan, DPR menetapkan Undang-Undang tentang APBN
selambat-lambatnya 2 bulan[1] sebelum tahun anggaran dilaksanakan.

2) Pelaksanaan APBN
Setelah APBN ditetapkan dengan Undang-Undang, pelaksanaan APBN dituangkan
lebih lanjut dengan Peraturan Presiden. Berdasarkan perkembangan, di tengah-tengah
berjalannya tahun anggaran, APBN dapat mengalami revisi/perubahan.

3) Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN


Selambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir, Presiden menyampaikan RUU
tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN kepada DPR berupa Laporan
keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan.

4. Struktur APBN

Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara saat ini adalah:


Pendapatan Negara dan Hibah
a. Pendapatan Negara dan Hibah terdiri atas:

Penerimaan Dalam Negeri, terdiri atas:


1) Penerimaan Perpajakan, terdiri atas
a) Pajak Dalam Negeri, terdiri atas Pajak Penghasilan (PPh), Pajak
Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Cukai, dan pajak lainnya.
b) Pajak Perdagangan Internasional, terdiri atas Bea Masuk dan Tarif Ekspor.
2) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), terdiri atas:
a) Penerimaan SDA (Migas dan Non Migas)
b) Bagian Laba BUMN
c) PNBP lainnya

Hibah

Hibah mempunyai pengertian bantuan yang berasal dari swasta, baik dalam negeri
maupun luar negeri, dan pemerintah luar negeri

b. Belanja Negara

Belanja terdiri atas dua jenis:

1) Belanja Pemerintah Pusat, adalah belanja yang digunakan untuk membiayai


kegiatan pembangunan Pemerintah Pusat, baik yang dilaksanakan di pusat
maupun di daerah (dekonsentrasi dan tugas pembantuan). Belanja Pemerintah
Pusat dapat dikelompokkan menjadi: Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja
Modal, Pembiayaan Bunga Utang, Subsidi BBM dan Subsidi Non-BBM, Belanja
Hibah, Belanja Sosial (termasuk Penanggulangan Bencana), dan Belanja Lainnya.

2) Belanja Daerah, adalah belanja yang dibagi-bagi ke Pemerintah Daerah, untuk


kemudian masuk dalam pendapatan APBD daerah yang bersangkutan. Belanja
Daerah meliputi:
a) Dana Bagi Hasil, yang bersumber dari pajak dan sumber daya lainnya. Dana
bagi hasil pajak: PBB, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
(BPHTB), PPh. Dana bagi hasil yang bersumber dari sumber daya alam
(kehutanan, pertambangan umum, perikanan, pertambangan minyak bumi,
pertambangan gas bumi.
b) Dana Alokasi Umum, yaitu dana berasal dari APBN yang dialokasikan
dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk
membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi.
c) Dana Alokasi Khusus, adalah dana yang berasal APBN yang dialokasikan
kepada daerah untuk membantgu membiayai kebutuhan tertentu.
d) Dana Otonomi Khusus.

4. Pembiayaan
Pembiayaan meliputi:
a. Pembiayaan Dalam Negeri, meliputi Pembiayaan Perbankan, Privatisasi, Surat Utang
Negara, serta penyertaan modal negara.
b. Pembiayaan Luar Negeri, meliputi:
1) Penarikan Pinjaman Luar Negeri, terdiri atas Pinjaman Program dan Pinjaman
Proyek
2) Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri, terdiri atas Jatuh Tempo dan
Moratorium.

6. Fungsi APBN

a. Fungsi otorisasi, mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk
melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan, Dengan
demikian, pembelanjaan atau pendapatan dapat dipertanggungjawabkan kepada
rakyat.

b. Fungsi perencanaan, mengandung arti bahwa anggaran negara dapat menjadi


pedoman bagi negara untuk merencanakan kegiatan pada tahun tersebut.

c. Fungsi pengawasan, berarti anggaran negara harus menjadi pedoman untuk menilai
apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah negara sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan.

d. Fungsi alokasi, berarti bahwa anggaran negara harus diarahkan untuk mengurangi
pengangguran dan pemborosan sumber daya serta meningkatkan efesiensi dan
efektivitas perekonomian.

e. Fungsi distribusi, berarti bahwa kebijakan anggaran negara harus memperhatikan


rasa keadilan dan kepatutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

f. Fungsi stabilisasi, memiliki makna bahwa anggaran pemerintah menjadi alat untuk
memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian.

7. Prinsip penyusunan APBN

Berdasarkan aspek pendapatan, prinsip penyusunan APBN ada tiga, yaitu:


a. Intensifikasi penerimaan anggaran dalam jumlah dan kecepatan penyetoran.
b. Intensifikasi penagihan dan pemungutan piutang negara.
c. Penuntutan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara dan penuntutan denda.
Sementara berdasarkan aspek pengeluaran, prinsip penyusunan APBN adalah:
a. Hemat, efesien, dan sesuai dengan kebutuhan.
b. Terarah, terkendali, sesuai dengan rencana program atau kegiatan.
c. Semaksimah mungkin menggunakan hasil produksi dalam negeri dengan
memperhatikan kemampuan atau potensi nasional.

8. Azas penyusunan APBN

APBN disusun dengan berdasarkan azas-azas:


a. Kemandirian, yaitu meningkatkan sumber penerimaan dalam negeri.
b. Penghematan atau peningkatan efesiensi dan produktivitas.
c. Penajaman prioritas pembangunan
d. Menitik beratkan pada azas-azas dan undang-undang Negara

9. Kebijakan Anggaran (Kebijakan Fiskal).

a. Arti Kebijakan Anggaran

Adalah kebijakan penyesuaian di bidang pengeluaran dan penerimaan untuk


memperbaiki keadaan ekonomi.

b. Tujuan Kebijakan Anggaran.

Untuk mmemperbaiki keadaan ekonomi, mengusahakan kesempatan kerja dan


menjaga kestabilan harga secara umum.

c. Macam macam Kebijakan Anggaran.

1) Pembiayaan Fungsional

Pembiayaan pengeluaran pemerintah ditentukan sedemikian rupa sehingga tidak


berpengaruh langsung terhadap pendapatan nasional, dengan tujuan untuk
meningkatan kesempatan kerja.( memberikan pinjaman lunak kepada masyarakat
untuk usaha)

2) Pengelolaan Anggaran.

Penerimaan dan pengeluaran pemerintah dari perpajakan dan pinjaman adalah


paket yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka menciptakan kestabilan ekonomi

3) Stabilisasi Anggaran Otomatis

Dalam stabilisasi anggaran diharapkan terdapat kesimbangan antara penerimaan


dengan pengeluaran tanpa campur tangan pemerintah dengan sengaja. Dengan
stabilitasi anggaran ini, pengeluaran pemerintah leih ditekankan pada asas manfaat
dari biaya relative dari berbagai paket program. Pajak ditetapkan sedemikian rupa
sehingga terdapat anggaran belanja surplus.
4) Anggaran Belanja Seimbang

Adalah anggaran yang disesuaikan dengan keadaan (managed budget) dengan


tujuan tercapainya anggaran berimbang dalam jangka panjang.

Macam macam anggaran yang biasa ditempuh oleh setiap Negara.untuk mencapai
manfaat tinggi dalam mengelola anggaran:

a) Anggaran berimbang

Pengeluaran (belanja) dan pendapatan (penerimaan) sama. Hal ini dapat


menstabilkan ekonomi suatu negara

b) Anggaran surplus

Tidak semua pendapatan Negara dibelanjakan, sehingga terdapat tabungan


pemerintah dan akan digunakan bila keadaan ekoinomi mengalami inflasi.

c) Anggaran difisit

Pengeluaran pemerintah lebih banyak dari pada penadapatan yang


diterimanya, yang akan berdampak inflasi dan untuk menutup defisit ini dapat
dilakukan dengan cara hutang atau mencetak uang.

B. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

1. Pengertian APBD
APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah di Indonesia yang disetujui
oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. APBD ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Tahun anggaran APBD meliputi masa satu tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai
dengan tanggal 31 Desember.

APBD terdiri atas:

Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil
pengelolaan kekayaan daerah, dan penerimaan lain-lain
Bagian dana perimbangan, yang meliputi Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum (DAU)
dan Dana Alokasi Khusus

2. Tujuan APBD
APBD disusun dengan tujuan untuk mengatur pembelanjaan daerah dari penerimaan
yang direncanakan supaya dapat mencapai sasaran yang ditetapkan, yaitu menciptakan
pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran masyarakat.

3. Penyusunan APBD
APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa satu tahun anggaran,
terhitung mulai tgl 1 Januari s.d. 31 Desember. Dalam menyusun Rancangan APBD
Kepala Daerah menetapkan preoritas dan plafon anggaran sebagai dasar penyusunan
rencana kerja dan anggaran kepala satuan kerja perangkat daerah, menyusun rencana kerja
dan anggaran satuan kerja perangkat daerah dengan pendekatan berdasarkan prestasi kerja
yang akan dicapai. Kemudian disampaikan kepada pejabat pengelola keuangan sebagai
bahan penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD tahun berikutnya yang
diajukan kepada DPRD untuk memperoleh persetujuan.

4. Pelaksanaan APBD
Setelah APBD ditetapkan dengan peraturan daerah, pelaksanaannya dituangkan dengan
keputusan Gubernur/Bupati/Wali Kota. Pemerintah daerah menyampaikan laporan
realisasi semester pertama kepada DPRD pada akhir juli tahun anggaran yang
bersangkutan. Informasi yang disampaikan dalam laporan tersebut menjadi bahan evaluasi
pelaksanaan APBD semester pertama dan penyesuaian/perubahan APBD semester
berikutnya. Ketentuan pengelolaan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan APBD
ditetapkan tersendiri dalam Undang undang yang mengatur keuangan negara.

5. Sumber Penerimaan dan Jenis Pengeluaran Pemerintah Daerah.

a. Penerimaan Daerah
Penerimaan daerah pelaksanaan desentralisasi terdiri atas pendapatan daerah dan
pembiayaan.
Pendapatan daerah bersumber dari:

1) Pendapatan Asli Daerah (PAD)


a) Hasil pajak daerah
b) Hasil retribusi daerah
c) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
d) Lain-lain pendapatan asli daerah.

2) Dana Perimbangan
a) Dana Bagi Hasil (DBH) merupakan bagian daerah yang bersumber dari
penerimaan pajak maupun sumber daya alam..
b) Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan instrumen tranfer daerah yang
berperan untuk meminimumkan ketimpangan fiskal antar daerah, sekaligus
memeratakan kemampuan keuangan antar daerah, dan dialokasikan dalam
bentuk block grant Sesuai dengan UU no 25 tahun 1999 tentang perimbangan
keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.
c) Dana Alokasi Khusus (DAK) Pada awalnya DAK disediakan bagi daerah,
keseluruhnya bersumber dari dana reboisasi (DR) yang dialokasikan untuk
membiayai kebutuhan khusus, seperti kebutuhan yang tidak dapat
diperkirakan secara umum dengan mengunakan rumus alokasi umum atau
kebutuhan yang merupakan komitmen atau perioritas nasional. Realisasi
DAK DR sangat dipengaruhi oleh besarnya penerimaan negara yang
bersumber dari dana reboisasi yang dapat dihimpun oleh pemerintah
b. Pengeluaran Daerah
1) Pengeluaran Pemerintah daerah Provinsi
Terdiri atas belanja, bagi hasilpendapatan ke kabupaten/kota/desa, dan
pengeluaran pembiayaan.
a) Belanja, terdiri atas belanja operasional, belanja modal, dan belanja tak
tersangka.
b) Bagi hasil Pendapatan ke Kabupaten/Kota/Desa, berupa bagi hasil pajak,
bagi hasil retribusi, bagi hasil pendapatan lain.
c) Pengeluaran Pembiayaan, berupa Pembayaran Pinjaman, Penyertaan Modal
Pemerintah, Belanja Investasi Permanen, Pemberian Pinjaman jangka
Panjang.

2) Pengeluaran Pemerintah daerah Kabupaten/Kota


Pengeluaran pemerintah daerah kabupaten dan kota terdiri dari belanja, bagi hasil,
pendapatan desa dan pengeluaran pembiayaan. Untuk pengeluaran daerah
kabupaten kota sama rincian biaya pengeluarannya dengan rincian pengeluaran
pemerintah daerah propinsi.

6. Pengaruh APBN/APBD terhadap Perekonomian

APBN dan APBD mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perekonomian
negara dan daerah. Ini disebabkan oleh kegiatan pemerintah di tingkat pusat dan daerah
tergantung pada anggaran yang ditetapkan. APBN dan APBD mencerminkan kebijakan
pembangunan yang ditetapkan oleh pemerintah serta menunjukkan arah dan prioritas
pembangunan yang akan dilaksanakan. Secara umum produktivitas dan laju pertumbuhan
ekonomi juga sangat ditentukan oleh APBN dan APBD.

C. PERPAJAKAN
1. Pengertian Pajak
Pajak merupakan iuran yang harus dibayar wajib pajak dengan imbalan jasa tidak
langsung. Ciri-ciri pajak sebangai berikut:
a. Iuran rakyat kepada negara
b. Memiliki sifat wajib atau memaksa
c. Berdasarkan undang-undang
d. Tanpa mendapatkan balas jasa secara langsung
e. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara
2. Fungsi Pajak

Secara umum dapat dibedakan menjadi 2 fungsi pajak, yaitu:


a. Fungsi Pendanaan (budgetair)
yaitu pajak berfungsi sebagai sumber dana bagi pembiayaan pengeluaran-pengeluaran
pemerintah. Ditunjukkan dengan masuknya pajak ke dalam APBN
b. Fungsi Mengatur (regulair)
Yaitu fungsi pajak sebagai alat untuk mengatur / melaksanakan kebijakan di bidang
sosial dan ekonomi.

3. Syarat Pemungutan Pajak

Agar pemungutan pajak tidak mengalami hambatan kepada masyarakat, maka harus
memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Pemungutan pajak harus adil.
b. Pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang (syarat yuridis)
c. Tidak mengganggu perekonomian (syarat ekonomis)
d. Pemungutan pajak harus efisien (syarat finansiil)
e. Sistem pemungutan pajak harus sederhana
.

4. Jenis-jenis Pajak

Jenis Pajak dapat dikelompokkan berdasarkani :


a. Berdasarkan cara pembebanan pajak yaitu :
1) Pajak Langsung yaitu pajak yang harus dipikul sendiri olek wajib pajak dan tidak
dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain.Misal : PPh dan PPB
2) Pajak Tidak Langsung yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau
dilimpahkan kepada orang lain. Misal : Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pajak
Ppenjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
b. Menurut sifatnya, yaitu :
1) Pajak Subyektif yaitu pajak yang berpangkal pada subyeknya (wajib pajak). Misal
: Pajak Penghasilaan.
2) Pajak Obyektif yaitu pajak yang berpangkal pada obyeknya, tanpa
memperhatikan wajib pajak. Misal : Pajak Penjualan.
c. Menurut Lembaga pemungutnya, yaitu :
1) Pajak Pusat yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat untuk membiayai
rumah tangga negaraa Misal : PPN, PPh, PBB, Bea Materai., PBB, Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah.
2) Pajak Daerah yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan
untuk membiayai rumah tangga daerah. Misal : Pajak Reklame, Pajak Hiburan
dan lain-lain.
5. Tarif Pajak

Ada 4 macam tarif pajak, yaitu:


a. Tarif Sebanding / proporsional
Tarif berupa prosentase yang tetap terhadap berapapun jumlah uang yang dikenai
pajak, sehingga besarnya pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya nilai
yang dikenai pajak.
Contoh: untuk penyerahan barang kena pajak di dalam daerah pabean akan dikenakan
Pajak Pertambahan nilai (PPN) sebesar 10%
b. Tarif Tetap
Tarif berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak.
Contoh: besarnya tarif Meterai untuk cek dan bilyet giro tetap Rp 2.000.-
c. Tarif Progresif
Prosentase tarif yang digunakan semakin besar bila jumlah yang dikenai pajak
semakin besar.
Contoh: Pasal 17 Undang-undang PPh tahun 1995

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif


1) Sampai dengan Rp 25.000.000.- 10 %
2) Rp 25.000.000/- - Rp 50.000.000.- 15 %
3) di atas Rp 50.000.000.- 30 %
d. Tarif Degresif
Prosentase tarif yang digunakan semakin kecil bila jumlah yang dikenai pajak
semakin besar.

6. Pajak Penghasilan (PPh)


Pajak Penghasilan diatur dalam Undang-undang No 17 Tahun 2000 sebagai pengganti
Undang-undang No.10 tahun 1994

a. Subyek Pajak
Pajak Penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap subyek pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Subyek pajak
penghasilan meliputi:
1) Orang pribadi; adalah orang yang bertempat tinggal dan berpenghasilan di
Indonesia
2) Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak,
hal ini dimaksudkan agar pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari
wasiran tetap dapat dilaksanakan
3) Badan adalah badan usaha berbentuk apapun yang didirikan dan berpenghasilan
di Indonesia
4) Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang
pribadi atau badan yang tidak bertempat tinggal / didirikan di Indonesia atau
berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan.

Tidak semua badan atau perorangan merupakan subyek pajak, yang tidak termasuk
subyek pajak menurut undang-undang diantaranya :
1) Badan perwakilan negara asing
2) Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari
negara asing
3) Orang-orang yang diperbantukan kepada mereka (butir b) yang bekerja pada dan
bertempat tinggal bersama-sama mereka dengan syarat bukan Warga Negara
Indonesia (WNI) dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan
lain di luar jabatan atau pekerjaan tersebut, serta negara yang bersangkutan
memberi perlakuan timbal balik.
4) Organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan

b. Obyek Pajak

Yang menjadi obyek pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia
maupun dari luar Indonesia yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun,
diantaranya adalah:
1) Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima
atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan honorarium, bonus dan bentuk-
bentuk lain.
2) Hadiah dari undian dan penghargaan
3) Laba usaha
4) Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta
5) Bunga, diskonto, imbalan karena jaminan pengembalian uang
6) Deviden dengan nama atau bentuk apapun
7) Royalti
8) Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta
9) Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing, dll
c. Penghasilan Kena Pajak PKP)

Penghasilan Kena Pajak (PKP) sebagai dasar penerapan tarif bagi wajib pajak dalam
negeri dalam suatu tahun pajak,
No Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
1 Rp 0,- - rp 25.000.000.- 5%
2 Rp 25.000.000.- - Rp 50.000.000.- 10 %
3 Rp 50.000.000.- - Rp 100.000.000.- 15 %
4 Rp 100.000.000.- - rp 200.000.000.- 25 %
5 Di atas Rp 200.000.000.- 35 %

d. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)


Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) adalah batas minimum penghasilan yang tidak
dikenakan pajak, artinya jika wajib pajak berpenghasilan yang tidak lebih dari PTKP
maka tidak dikenakan pajak. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) diberikan
sebesar:
a). Rp 2.880.000.- untuk wajib pajak pribadi
b) Rp 1.440.000.- tambahan untuk wajib pajak berstatus kawin
c) Rp 2.880.000.- tambahan untuk setiap seorang istri yang penghasilannya digabung
dengan suami
d) Rp 1.440.000.- tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah semenda dalam
garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggung sepenuhnya wajib
pajak, paling banyak 3 orang.

7. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah diatur dalam
undnag-undang yang sama yaitu Undang-undang No 8 Tahun 1983. Pajak Pertambahan
nilai adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi barang atau jasa di dalam daerah
pabean. Pertambahan nilai timbul karena digunakannya faktor-faktor produksi dalam
menyiapkan, menghasilkan, menyalurkan dan memperdagangkan barang atau jasa kepada
konsumen.

8. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

Dasar hukum (PBB) Undang-undang No 12 Tahun 1994 tentang Perubahan Undang-


undnag No 12 Tahun 1985. Peraturan perundnag-undangan di bawahnya adalah Peraturan
Pemerintah No 46 Tahun 2000, dan Keputusan Menteri Keuangan RI No.
201/KMK.04/2000.

a. Tarif dan Perhitungan PBB


Tarif PBB adalah 0,5 % dikalikan dengan Dasar Perhitungan Pajak (DPP). Dalam
perhitungan PBB yang dimaksud dengan DPP adalah Nilai Jual Kena Pajak (NJKP)
yang ditetapkan serendah-rendahnya 20 % dan setinggi-tingginya 100 % dari Nilai
Jual Obyek Pajak (NJOP). Besarnya NJKP ditetapkan dengan ketentuan dalam tabel
dibawah ini.

Dalam perhitungan PBB tidak semua nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) dikenai
pajak, NJOP masih dikurangi Nilai Jual Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) yang
ditetapkan maksimum Rp 12.000.000,00 untuk setiap wajib pajak. Jika wajib pajak
yang mempunyai lebih dari satu onyek pajak, maka NJOPTKP hanya dikena-kan pada
salah satu obyek pilihan yang mempunyai nilai jual paling tinggi.

Contoh perhitungan PBB


Tuan Rahmat memiliki obyek pajak sebagai berikut :
1) tanah seluas 1000 m2 dengan harga jual Rp 400.000,00 per m2
2) bangunan seluas 400 m2 dengan nilai jual Rp 350.000,00 per m2
3) taman mewah seluas 200 m2 dengan nilai jual Rp 200.000,00 per m2
4) pagar mewah sepanjang 150 m dengan nilai jual Rp 200.000,00 per m2
Berdasarkan peraturan pemerintah bahwa besarnya Nilai Jual Kena Pajak adalah 20%
dan Nilai Jual Objek Tidak Kena Pajak Rp.10.000.000,-. Berapa besarnya Pajak Bumi
dan Bangunan yang terutang yang harus dibayar Tuan Rahmat selama satu tahun ?

Jawab:
Perhitungan Nilai Jual Objek Pajak
a. tanah 1.000 X Rp 400.000,- = Rp 400.000.000,-
b. bangunan 400 X Rp 350.000,- = Rp 140.000.000,-
c. taman mewah 200 X Rp 100.000,- = Rp 20.000.000,-
d. pagar mewah 150 X Rp 200.000,- = Rp 30.000.000,-

NJOP sebagai Dasar Pengenaan Pajak = Rp 590.000.000,-


Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak = Rp 10.000.000,-

NJOP untuk perhitungan pajak = Rp 580.000.000,-

PBB terutang sebesar 0,5 %(20 % X Rp 580.000.000,00) = Rp 580.000,00


Jadi besar pajak yang harus dibayar sebesar Rp 580.000,00.
9. Bea Meterai
Dasar hukum dari pengenaan Bea Meterai adalah Undang-undang No. 13 tahun 1985
tentang Bea Meterai dan pelaksanaannya diatur dalam Pereturan Pemerintah No. 24 tahun
2000 tentang Perubahan Tarif Bea Meterai dan Besarnya Batas Pengenaan Harga
Nominal yang Dikenakan Bea Meterai.
Bea meterai merupakan salah satu cara mewujudkan peran serta masyarakat dalam
pembangunan nasional dengan memenuhi kewajiban pembayarannya atas dokumen-
dokumen tertentu.

a. Obyek dan Tarif Bea Meterai


Bea meterai dikenakan atas dokumen-dokumen :
1) Surat perjanjian atau yang lain yang dibuat dengan tujuan digunakan untuk alat
pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan, atau keadaan yang bersifat perdata.
2) Akta-akta notaris termasuk salinannya.
3) Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk
rangkapannya.
4) Surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek yang nominalnya lebih dari
Rp 1.000.000,00
5) Efek dengan nama dalam bentuk apapun sepanjang harga nominalnya lebih dari
Rp 1.000.000,00
6) Dokumen yang digunakan sebagai aalat pembuktian dimuka pengadilan.
Tarif Bea Meterai hanya terdiri dari dua jenis tarif yaitu Rp 3.000,00 dan Rp
6.000,00, dengan ketentuan dalam Tabel berikut :
Tabel : Tarif Bea Meterai
No. Bea Materai Rp 3.000,- Bea Materai Rp 6.000,-
(Tarif Lama Rp 500,-) (Tarif Lama Rp 1.000,-)
1. Cek dan Bilyet Giro tanpa batas Surat perjanjian dan surat lain yang
pengenaan besarnya harga dibuat untuk tujuan sebagai alat
nominal. pembuktian mengenai suatu perbuatan,
kenyataan, atau keadaan yang bersifat
pidana.
2. Akta-akta Notaris termasuk salinannya.
3. Akta-akta yang dibuat oleh PPAT
4. Surat yang memuat jumlah uang lebih
dari Rp 1.000.000,-
5. Surat berharga : wesel, promes, dan
aksep yang jumlah nominalnya lebih dari
Rp 1.000.000,-
6. Dokumen yang akan digunakan sebagai
alat pembuktian di muka pengadilan.