Anda di halaman 1dari 17

KRISIS BAHASA DAN KRISIS IDENTITAS PADA REMAJA

DI MEDIA SOSIAL

Novi Eka Susilowati


Jurusan Sastra Indonesia
Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang
Surel: susilowati_novieka@yahoo.co.id

ABSTRAK
Pembentukan identitas manusia berlangsung terus sepanjang hidup.
Namun, fase paling penting terjadi saat remaja. Dalam pembentukan
identitas tersebut, remaja memanfaatkan berbagai cara agar
keberadaannya diakui oleh lingkungannya. Salah satunya
menggunakan media sosial yang menyediakan berbagai fitur atau
fasilitas yang memberikan kesempatan bagi remaja untuk dapat
mendokumentasikan dan mempublikasikan setiap aspek hidupnya.
Adanya keinginan untuk mempublikasikan diri tersebut menyebabkan
remaja menggunakan identitas-identitas tertentu dalam akun media
sosialnya yang kadang tidak sesuai dengan identitas mereka yang
sesungguhnya. Hal inilah yang disebut dengan krisis indentitas.
Bentuk krisis bahasa yaitu (1) menggunakan bahasa asing, dan (2)
mencapuradukkan bahasa tertentu. Sementara itu, krisis identitas
diwujudkan dalam bentuk (1) mengganti atau memodifikasi nama asli,
(2) memalsukan asal daerah, tempat tinggal, sekolah/lembaga
pendidikan, tempat bekerja, dan pekerjaan, dan (3) menggunakan foto
orang lain sebagai foto profil. Krisis bahasa dan krisis identitas yang
terjadi pada remaja menjadi penting untuk dibahas karena remaja
adalah penerus bangsa. Remaja yang malu dengan bahasa dan
identitas aslinya akan berimplikasi pula pada krisis identitas bangsa
sehingga identitas-identitas kebangsaan lama-kelamaan juga tidak
akan dikenali.
Kata kunci: krisis, remaja, bahasa, identitas

Identitas diri merupakan bagian personal seorang individu yang akan


membantu individu tersebut untuk mengenali dirinya dalam suatu kelompok atau
lingkungan. Dengan demikian, identitas diri digunakan untuk pembentukan
kepribadian dan pendirian suatu individu. Selain itu, identitas diri juga digunakan
seorang individu untuk membentuk opini publik terhadap dirinya.
Pembentukan identitas pada diri seorang individu berlangsung sepanjang
hayat. Pembentukan identitas diri tersebut dimulai dejak individu tersebut lahir
dan terus berlangsung sepanjang hidup individu yang bersangkutan. Namun, fase
yang paling krusial dalam pembentukan identitas diri adalah saat fase remaja. Hal
ini sejalan dengan pendapat Soesilowindradini (1994:147) yang menyatakan
bahwa pada fase remaja awal (13-17 tahun) hingga fase remaja akhir (18-21
tahun), remaja cenderung emosional, tidak stabil, dan lebih mementingkan dirinya
sendiri. Sementara remaja yang berada pada periode transisi menuju dewasa mulai
belajar untuk mengenali hal-hal yang patut dilakukan dan tidak patut dilakukan
demi membentuk identitas dirinya.
Pembentukan identitas pada diri masyarakat Indonesia, termasuk remaja
Indonesia, tidak lepas dari peristiwa sosial-politik yang terjadi di Indonesia. Pada
masa penjajahan Belanda, Belanda mengkonstruksi budaya dan identitas
masyarakat Indonesia. Pada masa itu, Belanda dengan sengaja menyebut manusia
Indonesia sebagai pribumi (inlander) dengan segala citra inferioritasnya. Pribumi
ini kemudian dicitrakan sebagai manusia rendahan (inferior) yang kedudukannya
tidak lebih tinggi dari penjajah Belanda.
Pada masa penjajahan, Belanda melakukan pemisahan akses pendidikan
bagi orang-orang Belanda di Indonesia, kaum bangsawan, dan rakyat biasa. Hanya
kaum bangsawan (elit pribumi) yang memiliki kedekatan dengan Belanda yang
diberi akses ke sekolah Belanda di Indonesia (Fajar, Tanpa tahun:2). Karena
mempunyai akses yang memadai untuk bersekolah ke sekolah Belanda, kaum
bangsawan ini akhirnya juga mampu menggunakan bahasa Belanda dengan baik.
Dapatnya seorang pribumi ini menggunakan bahasa Belanda dengan baik
menjadikan kedudukan sosialnya lebih tinggi daripada rakyat biasa. Sementara
itu, rakyat pribumi yang menggunakan bahasa Melayu dianggap lebih inferior.
Penjajahan Belanda yang menstereotipekan manusia Indonesia sebagai
pribumi yang kedudukannya lebih rendah ternyata telah “mendarah daging” dalam
diri manusia Indonesia. Hal ini ditandai dengan rasa bangga manusia Indonesia
jika ia mampu menggunakan bahasa asing (yang dalam perkembangannya tidak
hanya bahasa Belanda). Untuk itu, saat ini banyak ditemui penggunaan bahasa
asing dalam kehidupan sehari-hari manusia Indonesia meskipun penggunaan
bahasa asing tersebut sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Fenomena ini rupanya
dapat dijadikan sebagai salah satu indikasi bahwa jiwa inlander masih terdapat
dalam diri sebagian manusia Indonesia.
Ada beberapa bentuk krisis sosio-kultural dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Salah satunya dapat dilihat dari kebanggaan dalam menggunakan
bahasa asing. Lebih dari itu, krisis sosio-kultural dapat pula disaksikan dalam
berbagai bentuk disorientasi dan dislokasi banyak kalangan masyarakat, misalnya
disintegrasi sosial-politik yang bersumber dari euforia kebebasan yang nyaris
kebablasan; lenyapnya kesabaran sosial (social temper) dalam menghadapi
realitas kehidupan yang semakin sulit sehingga mudah mengamuk dan melakukan
berbagai tindakan kekerasan dan anarki; merosotnya penghargaan dan kepatuhan
terhadap hukum, etika, moral, dan kesantunan sosial; semakin meluasnya
penyebaran narkotika dan penyakit-penyakit sosial lainnya; berlanjutnya konflik
dan kekerasan yang bersumber atau sedikitnya bernuansa politis, etnis dan agama
seperti terjadi di berbagai wilayah Aceh, Kalimantan Barat dan Tengah, Maluku
Sulawesi Tengah, dan lain-lain (Azra, 2015).
Krisis sosio-kultural tampaknya terjadi pada hampir semua kalangan
masyarakat, termasuk remaja. Remaja pada umumnya memiliki karakter yang
eksploratif dan senang mencoba berbagai macam hal baru. Salah satu hal yang
mereka lakukan yaitu memanfaatkan media sosial dalam mendefinisikan diri serta
mencari tempat yang tepat baginya di dunia. Oleh karena itu, media sosial
menjadi salah satu cara remaja untuk mengeksplorasi diri dan menunjukkan diri
kepada publik.
Pada konteks tersebut, media sosial turut membawa andil terhadap
terjadinya berbagai macam krisis yang terjadi di Indonesia. Hal ini didasarkan atas
pandangan bahwa media sosial merupakan teknologi berbasis web yang kian hari
semakin mengubah cara individu berkomunikasi. Media-media sosial yang
banyak digemari oleh masyarakat, khususnya remaja saat ini, menghadirkan
berbagai fitur atau fasilitas yang memberikan kesempatan bagi remaja untuk dapat
mendokumentasikan dan menyebarluaskan setiap aspek dari hidupnya.
Dalam menyebarluaskan setiap aspek kehidupannya, remaja akan
berupaya agar dirinya terlihat baik, menarik, dan memiliki status sosial yang
tinggi di dalam lingkungan, komunitas, atau masyarakat secara umum. Itulah
sebabnya, ia akan menggunakan media dan cara apa pun untuk mewujudkan
keinginannya itu sehingga kadangkala penyebarluasan identitas diri melalui media
sosial ia lakukan dengan cara melakukan manipulasi. Pada akhirnya, manipulasi
ini akan menunjukkan adanya krisis kepercayadirian terhadap identitas diri pada
remaja yang bersangkutan. Digunakannya bahasa asing dalam interaksi di media
sosial juga dapat dijadikan sebagai salah satu indikator adanya krisis bahasa dalam
diri remaja.
Salah satu media sosial yang banyak digunakan oleh remaja Indonesia
yang turut memberikan andil terhadap terjadinya krisis pada diri remaja adalah
Facebook dan Twitter. Kedua media sosial tersebut menghadirkan fitur Komentar
dan Suka (pada Facebook) serta retweet (pada Twitter) yang memberikan
kesempatan bagi pengguna untuk mengetahui pendapat pengguna lainnya.
Namun, perlu disadari bahwa secara tidak langsung berbagai fitur tersebut justru
memicu ketergantungan bagi pengguna media sosial untuk mempublikasikan
kehidupan pribadi mereka. Bahkan, beberapa pengguna mengada-ada agar
menimbulkan rasa kagum di mata publik.
Dalam mempublikasikan diri, identitas diri merupakan komponen yang
sangat penting. Menurut Erikson (1989) identitas diri adalah adalah kesadaran
individu untuk menempatkan diri dan memberikan arti pada dirinya dengan tepat
di dalam konteks kehidupan yang akan datang menjadi sebuah kesatuan gambaran
diri yang utuh dan berkesinambungan untuk menemukan jati dirinya. Identitas
merupakan suatu konsep yang kompleks, di dalamnya terdapat identitas individu
yang terhubung dengan identitas kelompok sebagai bagian dari karakteristik
umum seperti nasionalitas, gender, sosial-ekonomi, keluarga, agama, etnis dan
budaya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa identitas adalah kesadaran
individu untuk menempatkan diri dan memberikan arti pada dirinya sebagai
bagian dari kelompok masyarakat.
Santoso (2012:61) menyebutkan bahwa identitas merupakan konstruksi
diskursif, produk diskursus, atau cara bertutur yang terarah tentang dunia.
Identitas itu dibangun dan diciptakan—daripada ditemukan—oleh representasi,
terutama bahasa. Lebih lanjut Santoso menjelaskan bahwa tidak ada identitas yang
begitu saja “hadir dalam keadaan jadi atau given”, tetapi ia akan selalu berada
pada proses konstruksi.
Identitas diri yang disampaikan oleh seorang remaja melalui akun media
sosialnya akan turut membantu menciptakan persepsi publik terhadap remaja
tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab digunakannya identitas diri
yang tidak sesuai dengan identitas asli mereka. Selain itu, remaja juga
menggunakan bahasa asing dalam rangka semakin menaikkan citra diri. Mereka
menggunakan identitas dan bahasa yang tidak sesuai dengan kenyataan diri
mereka agar terlilhat lebih menarik sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan
orang lain dan mendapat teman baru, atau bahkan mendapatkan kepopuleran di
media sosial.
Pemanipulasian identitas diri dilakukan oleh remaja dengan berbagai
tujuan. Salah satunya yaitu membuat dirinya terkesan lebih menarik. Remaja
menyadari bahwa kemenarikan dirinya akan membuat dia diperlakukan dengan
lebih baik oleh komunitasnya daripada remaja lain yang tidak menarik. Itulah
sebabnya remaja akan berusaha melakukan banyak cara agar dirinya terlihat
menarik. Erikson (1989) menyebut hal ini sebagai proses pembentukan identitas
diri remaja. Lebih lanjut, Erikson menyatakan bahwa pada fase ini, remaja
cenderung berusaha melepaskan diri sendiri dari ikatan psikis orang tuanya dan
berusaha untuk mencari jati dirinya sendiri dengan bereksplorasi dan melakukan
apapun yang diinginkan.
Fenomena pemanipulasian identitas diri untuk mengaburkan identitas diri
yang sesungguhnya dapat disebut sebagai krisis identitas. Krisis identitas ini
menjadi penting untuk dibahas terutama karena terjadi pada remaja. Mercer
(dalam Wedon, 2004:1) menyatakan bahwa identitas seringkali menjadi masalah
krusial ketika sudah berada di ambang krisis, ketika identitas yang diasumsikan
pasti dan stabil digantikan oleh keraguan dan ketidakpastian. Hal ini logis karena
ketidakpastian (uncertainty) selalu membuat orang berusaha mencari identitas
baru dan hidup dalam ketidakpastian tersebut (Fajar, Tanpa tahun:4). Akibatnya,
orang tidak memiliki karate yang kuat sehingga mudah dipengaruhi atau
diombang-ambingkan zaman. Implikasinya adalah pada penurunan karakter dan
daya saing bangsa.

METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian
kualitatif. Sementara itu, ancangan yang relevan dengan penelitian ini adalah
ancangan penelitian deskriptif karena penelitian ini berupaya untuk
mendeskripsikan sejumlah krisis bahasa dan krisis identitas remaja di media
sosial.
Dalam penelitian ini, peneliti terlibat secara pasif dalam kegiatan
pengumpulan data. Artinya, peneliti hanya bertugas sebagai pengunduh dan
pengumpul data. Untuk mendapatkan data yang sahih, peneliti melakukan
verifikasi identitas asli pemilik akun. Cara mengenali identitas asli pemilik akun
yaitu (1) membaca berulang-ulang identitas pemilik akun yang ditulis di fitur
Profil, (2) mencocokkan identitas yang tertulis dengan foto dan atau dengan
percakapan yang dilakukan, dan (3) bertanya langsung kepada teman atau kepada
pemilik akun. Untuk kepentingan itu, data yang diambil adalah akun dari remaja
yang terdaftar sebagai teman peneliti atau temannya teman peneliti yang identitas
aslinya dapat dikenali oleh peneliti di media sosial.
Data utama dalam penelitian ini berasal dari akun media sosial remaja,
baik berupa status, komentar, kicauan, balasan kicauan, dan profil pemilik akun
media sosial (Facebook dan Twitter). Untuk mendapatkan data yang
komprehensif dan terpercaya, dilakukan dua kegiatan, yaitu mengamati data
percakapan dengan seksama dan membandingkan data diri pemilik akun yang
tertera di bagian profil dengan isi percakapan. Pengamatan percakapan digunakan
untuk menjaring data tentang krisis bahasa. Sementara itu, pembandingan data diri
di fitur profil dengan isi percakapan digunakan untuk menjaring data tentang
krisis identitas pada diri remaja.

HASIL PENELITIAN
Bentuk Krisis Bahasa pada Remaja di Media Sosial
Salah satu cara yang paling mendasar untuk menentukan identitas
seseorang adalah melalui bahasa. Seringkali orang mendayagunakan bahasa untuk
membentuk identitas diri maupun identitas kelompok serta menggunakan bahasa
sebagai cara untuk mengidentifikasi diri atau anggota kelompok mereka dan
menentukan batas-batas kelompok mereka (Thornborrow, 1999:223).
Bahasa mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan
identitas diri maupun identitas kelompok. Oleh karena itu, orang biasanya akan
menggunakan kebiasaan berbahasa kelompok tertentu untuk menunjukkan kepada
masyarakat bahwa ia adalah anggota kelompok tertentu tersebut.
Di media sosial, krisis bahasa dapat ditemukan dalam dua bentuk, yaitu
menggunakan bahasa asing dan mencampuradukkan bahasa tertentu.
Menggunakan bahasa asing
Bentuk krisis bahasa yang pertama adalah menggunakan bahasa asing
dalam komunikasi di media sosial. Berikut ini adalah contoh datanya.

Gambar 1 Contoh Penggunaan Bahasa Inggris dalam Komunikasi di Media Sosial

Gambar 1 menunjukkan bahwa pengguna akun menggunakan bahasa asing


(bahas Inggris) dalam komunikasinya di Twitter. Padahal, pemilik akun adalah
orang Indonesia. Namun, karena alasan tertentu, pemilik akun menggunakan
bahasa Inggris dalam berkomunikasi.

Mencapuradukkan bahasa tertentu


Bentuk krisis bahasa yang pertama adalah menggunakan bahasa asing
dalam komunikasi di media sosial. Berikut ini adalah contoh datanya.

Gambar 2 Contoh Pencampuradukan Bahasa Tertentu dalam Komunikasi di Media Sosial


Gambar 2 menunjukkan bahwa pengguna akun menggunakan bahasa
Indonesia Nonformal dalam dalam komunikasinya di Twitter. Namun, dalam
komunikasi tersebut, pemilik akun mencampurkan bahasa Inggris.

Bentuk Krisis Identitas pada Remaja di Media Sosial


Ada sejumlah bentuk krisis identitas pada diri remaja yang dapat
ditemukan di media sosial. Bentuk-bentuk krisis tersebut diuraikan berikut ini.
Mengganti dan atau memodifikasi nama asli
Dalam masalah ini para remaja dapat mengganti profil diri mereka sendiri
dengan profil yang lebih menarik, misalnya seperti mengganti atau menambahkan
(memodifikasi) nama asli mereka dengan nama orang lain atau dengan kata-kata
tertentu (bukan nama). Tidak sedikit pula dari mereka yang membuat profil palsu
dengan menggunakan nama samaran. Dalam banyak kasus ditemukan remaja
yang mengganti, memodifikasi, atau memalsukan identitas mereka. Bahkan,
kadang-kadang nama tersebut tidak dapat dikenali sehingga orang lain harus
mengonfirmasi nama mereka terlebih dahulu sebelum berinteraksi. Misalnya,
remaja mengganti namanya menjadi nama orang lain, nama samaran, nama
komunitas, nama asal daerah, nama tokoh idola, dan sebagainya dalam berbagai
bahasa yang dikombinasikan menjadi satu.
Berikut ini disajikan contoh penggantian nama asli.

Gambar 1 Contoh Penggantian Nama Asli

Gambar 1 merupakan contoh penggantian nama asli. Pada akun Twitter


tersebut, tertulis nama pemilik akun adalah AkuKuduPie. Kata tersebut bukanlah
nama karena kata tersebut merupakan kata dalam bahasa Jawa yang berarti ‘aku
harus bagaimana’. Namun, pada akun Twitter tersebut, pemilik akun
menggunakan AkuKuduPie sebagai nama.
Contoh lain dari penggantian nama asli dapat dicermati pada gambar 2.

Gambar 2 Contoh Penggantian Nama Asli

Gambar 2 merupakan contoh penambahan nama lain pada nama asli. Pada
akun Twitter tersebut, tertulis nama pemilik akun adalah Nina Cesteria Elisabeth.
Namun, di bawah nama tersebut terdapat nama lain, yaitu Isna Sadipun. Setelah
ditelusur lebih lanjut, nama asli dari pemilik akun tersebut adalah nama yang
kedua. Meski demikian, yang dijadikan sebagai nama utama adalah nama yang
pertama yang bukan nama aslinya. Hal ini menandakan bahwa sengaja
menambahkan nama lain untuk menggantikan nama aslinya demi maksud
tertentu, misalnya untuk menyamarkan diri atau membuat namanya dimaknai
“lain” oleh orang lain. Akan tetapi, pemilik akun masih tetap menyertakan nama
asli agar orang-orang yang mengenal pemilik akun tersebut masih dapat
mengenalinya di Twwitter.
Selain penggantian nama, ditemukan pula pemodifikasian nama.
Modifikasi yaitu upaya untuk menambah, mengurangi, atau menggabungkan
nama asli dengan nama atau kata lain. Nama atau kata lain itu dapat berupa nama
orang lain, nama daerah, atau nama komunitas. Berikut ini adalah contoh
pemodifikasian nama.

Gambar 3 Contoh Pemodifikasian Nama

Gambar 3 adalah contoh pemodifikasian nama asli. Pada gambar 3, dapat


diketahui nama asli pengguna akun adalah Sonia. Namun, karena alasan tertentu,
pemilik akun memodifikasi namanya dengan tambahan frasa siiecewheek
Paliingbhaweel (Si Cewek Paling Bawel). Lebih dari itu, pengguna akun
menggunakan bahasa alay dalam menuliskan namanya. Bahasa alay adalah bahasa
yang biasa digunakan remaja yang dilakukan dengan cara mencampurkan huruf
kapital, huruf kecil, dan angka.
Dalam menulliskan identitas diri, ditemukan pula pengguna media sosial
yang mengganti sekaligus memodifikasi nama asli. Berikut ini adalah contohnya.

Gambar 4 Contoh Penggantian dan Pemodifikasian Nama

Gambar 4 adalah contoh penggantian sekaligus pemodifikasian nama asli.


Pada gambar 4, dapat diketahui nama asli pengguna akun adalah Angga Maulana.
Namun, karena alasan tertentu, pemilik akun mengganti namanya menjadi kata
Aqu ‘Aku’ dan memodifikasinya dengan keterangan tambahan bahwa ia adalah
penyuka musik Reggae. Oleh karena itu, pada akhirnya ia menggunakan nama
akun Aqu Anack Reggae (Aku Anak Reggae).
Memalsukan asal daerah, tempat tinggal, sekolah/lembaga pendidikan, tempat
bekerja, dan pekerjaan
Di media sosial, terutama Facebook, pada fitur Profil, pengguna dapat
menuliskan daerah asal, daerah tempat tinggal, sekolah/lembaga pendidikan,
tempat bekerja, serta pekerjaan. Namun, sering ditemukan kasus para remaja
mengganti informasi tersebut. Umumnya, remaja mengganti daerah asal atau
daerah tempat tinggal dengan daerah terkenal di dunia. Selain itu, remaja kadang
juga menuliskan pekerjaannya dengan pekerjaan yang mendapat prestise tinggi di
mata masyarakat atau menuliskan pekerjaan dengan jenis pekerjaan tertentu yang
tidak masuk akal. Tak hanya itu, remaja juga menuliskan tempat kerja dengan
informasi yang tidak nyata. Berikut ini adalah contoh datanya.

Gambar 5 Contoh Pemalsuan Daerah Asal

Gambar 5 adalah contoh pemalsuan daerah asal. Pada fitur tersebut,


tertulis bahwa asal pemilik Facebook adalah Seoul, ibukota Korea Selatan.
Padahal, jika ditelusur lebih lanjut, pemilik akun tersebut berasal dari Purwosari
dan saat penelitian dilakukan, pemilik akun sedang tinggal di Kediri. Namun,
karena alasan tertentu, pemilik akun mengganti daerah asal dengan kota lain yang
terkenal.
Contoh pemalsuan daerah tempat tinggal dapat dicermati pada data
berikut.

Gambar 6 Contoh Pemalsuan Daerah Tempat Tinggal

Gambar 6 adalah contoh pemalsuan daerah tempat tinggal. Pada fitur


tersebut, tertulis bahwa daerah tempat tinggal pemilik Facebook adalah Malang
dan Adelaide, Australia Selatan. Padahal, jika ditelusur lebih lanjut, pemilik akun
tersebut tinggal di Purwosari. Namun, karena alasan tertentu, pemilik akun
mengganti daerah asal dengan kota lain yang terkenal.
Contoh pemalsuan sekolah atau lembaga pendidikan dapat dicermati pada
data berikut.

Gambar 7 Contoh Pemalsuan Sekolah atau Lembaga Pendidikan

Gambar 7 adalah contoh pemalsuan sekolah atau lembaga pendidikan.


Pada fitur tersebut, tertulis bahwa sekolah atau lembaga pendidikan tempat
pemilik akun belajar adalah di SMP Plus Ar Rahmat Bojonegoro dan Yale
University. Padahal, lembaga pendidikan tempat belajar pemilik akun adalah di
SMP Plus Ar Rahmat Bojonegoro saja, tanpa Yale University. Namun, karena
alasan tertentu, pemilik akun menambahkan informasi pendidikannya dengan
menambahkan Yale University sebagai lembaga pendidikan tempatnya belajar.
Sementara itu, contoh pemalsuan pekerjaan dan tempat bekerja dapat
dicermati pada data berikut.

Gambar 8 Contoh Pemalsuan Pekerjaan dan Tempat Bekerja

Gambar 8 adalah contoh pemalsuan pekerjaan dan tempat bekerja. Pada


fitur tersebut, tertulis bahwa pekerjaan dan tempat bekerja tempat pemilik akun
adalah Bos Besar di PT Jual Beli Layangan. Padahal, setelah ditelusur lebih
lanjut, pemilik akun belum bekerja. Selain itu, PT Jual Beli Layangan juga bukan
nama perusahaan tertentu. Namun, karena alasan tertentu, pemilik akun mengada-
adakan pekerjaan dan tempatnya bekerja.

Menggunakan foto orang lain sebagai profilnya


Bentuk lain krisis identitas pada diri remaja di media sosial adalah
menggunakan foto orang lain sebagai foto profilnya. Orang lain tersebut dapat
adalah artis, tokoh terkenal, atau pun orang tertentu yang dipandang baik atau
menarik oleh pemilik akun. Berikut ini adalah contoh datanya.
Gambar 9 Contoh Penggunaan Foto Artis sebagai Foto Profil

Gambar 9 adalah contoh penggunaan foto artis sebagai foto profil. Pada
fitur identitas tersebut, tertulis bahwa nama pemilik akun adalah Bella Mayrivda
yang berjenis kelamin perempuan. Namun, di foto profilnya, ia menggunakan foto
laki-laki yang bernama Kim Soo-Hyun, seorang aktor dari Korea Selatan.
Contoh lain penggunaan foto orang lain sebagai foto profil dapat dicermati
pada data berikut.

Gambar 10 Contoh Penggunaan Foto Artis sebagai Foto Profil

Gambar 10 adalah contoh penggunaan foto artis sebagai foto profil. Pada
fitur identitas tersebut, tertulis bahwa nama pemilik akun adalah Ardians Bintang.
Namun, pemilik aku menggunakan foto Che Guevara sebagai foto profilnya di
samping fotonya sendiri di bagian foto sampul.

PEMBAHASAN
Bentuk Krisis Bahasa dan Krisis Identitas pada Remaja di Media Sosial
Sajian data menunjukkan bahwa terdapat krisis bahasa dan krisis identitas
remaja di media sosial. Terkait hal itu dapat dikemukakan pandangan berikut ini.
Cara orang berpakaian, berperilaku, dan berbahasa merupakan cara
seseorang untuk menunjukkan siapa dirinya kepada orang lain dan bagaimana
identitas orang tersebut. Oleh karena itu, orang akan cenderung terus-menerus
mengubah cara berpakaian, berperilaku, dan berbahasa dalam rangka membentuk
identitasnya.
Thornborrow (1999) menyebutkan bahwa salah satu sarana linguistik yang
paling banyak dan paling mencolok penggunaannya untuk membentuk identitas
seseorang adalah nama. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa seseorang
akan dibedakan dari orang lainnya dari nama. Nama membuat seseorang berbeda
dengan orang lainnya. Bahkan, nama sekaligus menandakan diterimanya
seseorang pada komunitas atau agama tertentu. Misalnya, jika seseorang diberi
nama Muhammad, maka orang tersebut diterima sebagai orang yang beragama
Islam. Sementara itu, pemberian nama Nasution merupakan penanda bahwa orang
itu adalah bagian dari komunitas suku Batak.
Pertimbangan tersebut menunjukkan bahwa nama merupakan hal penting
dalam hidup seseorang. Nama kadang-kadang mempunyai arti tertentu. Itulah
sebabnya, dalam tradisi tertentu, pemberian nama dilakukan dengan disertai ritual
khusus.
Dalam memberikan nama, orang tua berpikir untuk memberikan nama
beserta arti yang baik yang melekat pada nama yang dipilih untuk anaknya.
Namun, tidak semua anak memandang bahwa nama yang diberikan orang tua
sudah baik dan sesuai dengan perkembangan zaman. Itulah sebabnya, banyak
remaja yang sedang dalam fase pencarian jati diri mengubah nama mereka
menjadi nama tertentu yang dianggap lebih baik, lebih menarik, atau lebih
modern. Dengan mengubah nama, remaja berharap agar dirinya terkesan lebih
menarik dan lebih mudah diterima dalam komunitasnya.
Nama kadangkala juga tidak sesuai dengan perilaku atau kebiasaan
seseorang. Bagi remaja yang merasa namanya tidak sesuai dengan perilakunya,
bisa jadi dia akan mengubah namanya menjadi nama lain sehingga nama dan arti
namanya akan berbeda dengan nama baru yang ia ciptakan. Selain itu, remaja juga
bisa mengubah namanya agar sesuai dengan komunitas tertentu yang sedang
disukai atau diikutinya, misalnya memodifikasi namanya dengan kesukaan
tertentu seperti yang tertera pada gambar 4.
Identitas seseorang dalam sebuah konteks tidak hanya terbentuk lewat
nama. Lebih dari itu, identitas juga dapat dibentuk dari pilihan bahasa yang
digunakan. Pada bagian pendahuluan telah disebutkan bahwa pada bangsa yang
pernah dijajah, kebanggaan jika mampu menggunakan bahasa asing merupakan
hal yang sudah melekat kuat dalam diri masyarakatnya. Itulah sebabnya, sebagian
masyarakat dari bangsa yang pernah terjajah merasa bahwa dirinya memiliki
status sosial dan prestise yang lebih tinggi jika mampu menggunakan bahasa
asing. Hal ini pulalah yang menyebabkan remaja menggunakan bahasa asing
dalam komunikasinya dalam rangka meningkatkan prestise individu. Namun,
penggunaan bahasa asing ini justru menunjukkan bahwa dalam diri remaja
tersebut terjadi krisis bahasa.
Penggantian lembaga pendidikan, daerah asal, daerah tempat tinggal,
jabatan, dan tempat bekerja juga merupakan bentuk krisis yang terjadi pada diri
remaja. Penggantian tersebut mengindikasikan bahwa remaja tidak percaya diri
dengan lembaga pendidikan, daerah asal, daerah tempat tinggal, jabatan, dan
tempat bekerja. Ketidakpercayadirian itu membuat remaja mengganti komponen-
komponen tersebut sehingga ia akan terlihat lebih menarik dan memiliki prestise
yang lebih tinggi.
Dalam kaitannya dengan pengubahan identitas atau bahasa, Thornborrow
(1999:247) menjelaskan sebagai berikut.
Seorang penutur bisa jadi ingin menyamakan dirinya dengan
berbagai jenis kelompok pada waktu yang berbeda-beda, sehingga
pola-pola linguistik yang mereka hasilkan akan berubah-ubah….
Masalah afiliasi kelompok dan identitas dapat menentukan pilihan
yang diambil penutur tentang bagaimana ia akan berbicara, atau—
untuk mereka yang menguasai dua bahasa atau lebih—bahasa mana
yang akan mereka gunakan.

Pendapat Thornborrow tersebut menunjukkan bahwa seseorang bisa saja


mengganti-ganti bahasa atau identitas yang dimiliki dalam rangka memunculkan
kesan yang berbeda pada diri petutur. Lebih dari itu, seorang penutur bisa saja
menggunakan bahasa yang berbeda karena dalam sebuah masyarakat bahasa yang
multilingual, ada bahasa tertentu yang prestisenya dianggap lebih tinggi daripada
bahasa yang lain.

Faktor Penyebab Terjadinya Krisis Bahasa dan Krisis Identitas pada


Remaja di Media Sosial
Bentuk-bentuk krisis bahasa dan krisis identitas sebagaimana yang telah
dijelaskan pada bagian sebelumnya adalah bukti nyata terjadinya suatu krisis
bahasa dan krisis identitas di kalangan remaja yang diidentifikasi dari media
sosial. Krisis-krisis tersebut terjadi karena beberapa faktor. Untuk itu,
dikemukakan pandangan-pandangan berikut ini.
Dalam kaitannya dengan krisis identitas, ada dua faktor penyebab yang
dapat dikemukakan. Faktor penyebab tersebut yaitu sebagai berikut.
Pertama, masa remaja adalah masa pembentukan identitas. Untuk itu,
remaja cenderung akan menunjukkan diri kepada khalayak tentang diri mereka.
Namun, tidak semua remaja dapat dengan mudah menunjukkan dirinya kepada
khalayak karena mereka merasa memiliki kekurangan sehingga kepercayadirian
mereka rendah. Rendahnya rasa percaya diri ini akan menyebabkan remaja
memanipulasi identitas yang dimiliki agar identitas tersebut terlihat lebih bagus
dan lebih menarik di mata orang lain.
Kedua, tidak semua remaja bersifat terbuka sehingga leluasa dalam
mengekspresikan diri di mana pun. Ada sebagian remaja yang kepribadiannya
tertutup dan tidak bisa mengekspresikan diri di depan umum. Remaja yang
semacam ini cenderung akan mengekspresikan diri di dunia nyata yang dianggap
dunia baru dan identitas aslinya tidak mudah dikenali orang. Mereka lebih
nyaman untuk membuka diri lewat media sosial daripada di dunia nyata. Beberapa
dari mereka bahkan lebih aktif di media sosial daripada di kehidupan nyata
mereka. Bagi mereka media sosial adalah kehidupan mereka yang lain dan bisa
membuat mereka lebih terbuka dan berani untuk berekspresi.
Ketiga, tidak ada aturan yang tegas yang membatasi tentang penulisan
identitas seseorang di media sosial. Hal ini mengakibatkan remaja dapat dengan
leluasa menuliskan identitas apa pun dan atau identitas siapa pun di akun media
sosialnya. Keleluasaan ini tentunya tidak selamanya baik karena bisa jadi
keleluasaan ini akan dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak baik, misalnya
penipuan, pemerasan, penghinaan, dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya.
Dalam kaitannya dengan krisis bahasa, dapat dikemukakan beberapa
faktor penyebabnya. Faktor penyebab tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama, sikap pesimis masyarakat Indonesia sebagai penutur asli bahasa
Indonesia. Setidaknya ada beberapa indikasi pesimisme remaja sebagai penutur
asli bahasa Indonesia. Indikasi pesimisme tersebut yaitu (1) ketidakbanggan atau
“berbangga semu” atas penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar
komunikasi (Susilowati, 2015), dan (2) ketidakpercayadirian bahwa bahasa
Indonesia mampu mewadahi konsep pikiran yang berkaitan dengan dunia remaja
sehingga menyebabkan remaja menciptakan kosakata baru atau mengadopsi/
mengadaptasi kosakata dari bahasa asing.
Kedua, penguasaan bahasa Indonesia yang tidak baik. Harus diakui bahwa
tidak semua remaja Indonesia menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Hal ini akan mengakibatkan remaja mencampurkan unsur bahasa lain dalam
komunikasinya. Unsur bahasa lain tersebut misalnya bahasa asing.
Ketiga, adanya gengsi sosial yang menganggap bahwa orang yang
menguasai bahasa asing akan terkesan lebih terdidik, lebih maju, lebih pandai,
atau lebih tinggi status sosialnya. Hal ini mengakibatkan remaja mencampurkan
bahasa asing ke dalam komunikasinya meskipun sebenarnya remaja juga tidak
menguasai bahasa asing tersebut dengan baik. Bahkan, dalam dunia pendidikan,
remaja kadang-kadang mencampurkan bahasa asing agar terkesan lebih pintar
daripada teman-temannya.
Faktor-faktor yang telah dikemukakan adalah faktor penyebab terjadinya
krisis bahasa dan krisis identitas pada diri remaja. Berdasarkan faktor-faktor yang
dapat diidentifikasi tersebut, dapat ditarik alasan umum tentang faktor penyebab
terjadinya krisis bahasa maupun krisis identitas pada diri remaja.
Seperti yang dikemukakan pada bagian sebelumnya bahwa identitas
bukanlah suatu entitas yang ada begitu saja. Namun, ia ada karena dikonstruksi.
Pengkonstruksian identitas ini erat kaitannya dengan budaya konsumerisme.
Budaya konsumerisme ini dibangun di atas iklim persaingan yang tinggi
antarperusahaan dan antarprodusen dalam hal gaya hidup, golongan, dan kelas
sosial (Piliang, 2011:416). Oleh karena itu, pembentukan identitas tidak dapat
dipisahkan dengan budaya konsumerisme dalam hal gaya hidup, golongan, dan
kelas sosial.
Budaya konsumerisme juga bertemali erat dengn budaya populer. Budaya
populer diartikan sebagai budaya dengan nilai-nilai yang dianggap rendah, bawah,
murahan, vulgar, umum, atau rata-rata (Piliang, 2011:417). Sejalan dengan
pendapat Piliang, Heryanto (2015:21—22) memaknai budaya populer sebagai
berbagai suara, gambar, dan pesan yang diproduksi secara massal dan komersial
(termasuk film, musik, busana, dan acara televisi) serta praktik pemaknaan terkait
yang berupaya menjangkau sebanyak mungkin konsumen, terutama sebagai
hiburan. Dalam konteks ini, media sosial merupakan salah satu bentuk budaya
populer. Dengan demikian, karena budaya populer diproduksi secara massal dari
atas ke bawah (dari produsen ke masyarakat), budaya populer secara otomatis
akan menimbulkan budaya konsumerisme.
Budaya konsumerisme dapat terwujud dalam beberapa hal, di antaranya
yaitu mengonsumsi komoditas modern, menggunakan teknologi terbaru, dan
menjalani gaya hidup yang sedang menjadi tren (Heryanto, 2015:28). Dalam
kaitannya dengan hal ini, memanfaatkan media sosial adalah salah satu bentuk
konsumerisme yang menjadikan pelakunya merasa “menjadi modern”.
Modernitas ini pada gilirannya melahirkan pemikiran dalam diri pelakunya bahwa
ia berbeda dari masyarakat tradisional yang terbelakang. Oleh karena itu,
pemanfaatan media sosial dalam budaya konsumersime merupakan
pengejawantahan dari modernitas yang membuat seseorang merasa memiliki
identitas baru yang lebih baik, lebih menarik, dan lebih modern dari yang lainnya.
Dalam budaya konsumerisme, dicitaptakan ketidakpuasan abadi terhadap
penampilan, fungsi, dan penampakan citra objek-objek komoditas (misalnya
remaja yang menjadi pelaku utama komunikasi di media sosial) (Piliang, 2011).
Budaya konsumerisme ini mengkonstruksi perasaan kurang atau perasaan tidak
sempurna pada diri setiap orang. Oleh karena itu, orang akan cenderung
melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki citra diri yang dirasa kurang tersebut
sehingga media sosial telah telah memberi orang muda identitas baru (Piliang,
2011:420; Heryanto, 2015:163). Akibatnya, akan sulit dihasilkan identitas otentik
disebabkan sifat dasar dari konsumerisme dan budaya populer yang berusaha
membentuk massa atas keinginan pihak atas yang menjadi produsen sehingga
dalam benak komoditas akan dicitrakan sedemikian rupa sesuai keinginan
produsen.

Upaya Meminimalkan Terjadinya Krisis Bahasa dan Krisis Identitas pada


Remaja di Media Sosial
Krisis bahasa dan krisis identitas adalah suatu permasalahan yang harus
segera diselesaikan agar kewibawaan bangsa tetap terjaga. Terlebih, krisis tersebut
terjadi pada diri remaja yang merupakan generasi penerus bangsa, pemimpin
bangsa di masa yang akan datang. Oleh karena itu, upaya-upaya yang disajikan
berikut ini layak untuk dipertimbangkan dalam rangka meminimalkan krisis
bahasa dan krisis identitas pada diri remaja.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan terjadinya krisis bahasa
yaitu dengan meningkatkan kebanggan terhadap bahasa Indonesia. Hal ini
didasarkan pada kenyataan bahwa rendahnya kebanggan terhadap bahasa
Indonesia menyebabkan rendahnya daya saing bahasa Indonesia dalam
komunikasi pada masyarakat multibahasa. Rendahnya kebanggan diri dalam
menggunakan bahasa Indonesia ini tercermin dari banyaknya penggunaan istilah
asing. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kebanggan diri
terhadap bahasa Indonesia sehingga penutur bahasa Indonesia dapat menggunakan
bahasa Indonesia dengan penuh percaya diri. Menurut Suparno (Tanpa tahun:12),
percaya diri itu mengarah pada dua hal, yakni (1) keyakinan akan keandalan
bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi bangsa, yang memang harus dijunjung
tinggi dengan percaya diri, dan (2) tanggung jawab penutur atas substansi yang
dituturkan.
Krisis bahasa yang terjadi pada diri remaja dapat diminimalkan dengan
cara-cara berikut ini.
Meningkatkan gengsi bahasa Indonesia
Terjadinya krisis bahasa Indonesia pada diri remaja salah satunya
disebabkan oleh rendahnya kebanggaan terhadap bahasa Indonesia. Oleh karena
itu, gengsi bahasa Indonesia perlu ditingkatkan. Salah satu cara yang dapat
dilakukan yaitu memberikan penghargaan kepada remaja yang mampu
menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Penghargaan tersebut
dapat berupa materi atau nonmateri. Dengan adanya penghargaan ini, diharapkan
remaja terpacu untuk menggunakan bahasa Indonesia.
Membudayakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar
Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar harus dibudayakan. Hal
ini penting dilakukan mengingat tidak semua penutur bahasa Indonesia menguasai
bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Oleh karena itu, pembiasaan berbahasa
Indonesia dengan baik dan benar harus menjadi perhatian penting. Jika penutur
bahasa Indonesia memiliki kemahiran berbahasa Indonesia dengan baik dan
benar, maka wibawa bahasa Indonesia akan meningkat sehingga bahasa Indonesia
bahasa Indonesia memiliki citra yang baik di kalangan penutur bahasa Indonesia,
termasuk di kalangan remaja, sehingga remaja akan merasa bangga
menggunakannya. Jika remaja bangga menggunakan bahasa Indonesia, krisis
bahasa diharapkan aka berkurang bahkan hilang.
Membudayakan bahasa Indonesia yang santun
Bahasa Indonesia dapat diberdayakan sebagai alat komunikasi untuk
melakukan negosiasi atau melakukan transaksi perdagangan lainnya. Oleh karena
itu, penutur bahasa Indonesia perlu membiasakan diri menggunakan bahasa
Indonesia dengan santun. Apalagi, jika MEA dilaksanakan, masyarakat penutur
bahasa Indonesia bisa jadi akan berasal dari latar belakang budaya yang berbeda
sehingga kesantunan dalam berkomunikasi tentunya harus lebih diperhatikan. Hal
ini penting dilakukan mengingat adanya perbedaan nilai norma kesantunan pada
masing-masing daerah.
Membudayakan penggunaan bahasa Indonesia yang kreatif
Perangkat kelengkapan bahasa Indonesia sebagai sistem komunikasi
bukanlah perangkat yang statis, melainkan perangkat yang dinamis. Pengguna
bahasa Indonesia dituntut memanfaatkan karakternya yang dinamis itu dengan
inovasi penggunaan, tentu dengan kreativitas yang tinggi sehingga menghasilkan
bahasa yang inovatif yang mampu mewadahi konsep berpikir.
Selama ini ada kesan pada diri remaja bahwa bahasa Indonesia itu kaku
dan tidak dinamis sehingga tidak mampu mewadahi konsep-konsep tertentu yang
ada di benak mereka. Hal ini menyebabkan mereka menggunakan bahasa yang
lain yang mereka pikir dapat mewadahi konsep yang ada di benak mereka itu.
Oleh karena itu, sudah semestinya perkembangan bahasa Indonesia mengikuti
pula perkembangan bahasa generasi muda dan mampu mewadahi konsep-konsep
berpikir remaja. Dalam hal ini, Badan Bahasa sebagai lembaga yang berwenang
sudah semestinya proaktif dalam mengumpulkan dan memunculkan kosakata-
kosakata baru yang mampu mewadahi konsep berpikir remaja.
Memaksimalkan peran matapelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan
kebanggaan terhadap bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia sebagai salah satu matapelajaran wajib yang dipelajari
siswa di sekolah. Dengan demikian, matapelajaran ini dapat menjadi media yang
strategis dalam meningkatkan kebanggaan siswa terhadap bahasa Indonesia.
Kebanggaan siswa terhadap bahasa Indonesia melalui pembelajaran Bahasa
Indonesia dapat dilakukan dengan cara menunjukkan kelebihan bahasa Indonesia
yang dapat digunakan sebagai sarana penghela dan pembawa ilmu pengetahuan.
Selain itu, kebanggaan terhadap bahasa Indonesia dapat ditingkatkan melalui
pemberian wawasan tentang kemampuan bahasa Indonesia untuk dijadikan
sebagai jembatan komunikasi (lingua franca) atas banyaknya bahasa yang ada di
Indonesia.
Memanfaatkan media sosial untuk pembelajaran
Terjadinya krisis bahasa maupun krisis identitas pada diri remaja di media
sosial salah satunya karena tidak ada kontrol terhadap mereka. Dengan demikian,
untuk mengurangi terjadinya krisis bahasa dan krisis identitas pada diri remaja di
media sosial, perlu dilakukan kontrol terhadap aktivitas komunikasi mereka di
media sosial. Salah satu langkah yang dapat dilakukan yaitu memanfaatkan media
sosial sebagai media pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan cara guru
membuat grup matapelajaran dan meminta siswa untuk bergabung dalam grup
tersebut. Untuk bergabung dengan grup tersebut, siswa harus menggunakan
identitas asli mereka dan ketika berkomunikasi di grup, minimal mereka harus
menggunakan bahasa Indonesia yang baik (jika tidak dapat menggunakan bahas
Indonesia yang baik dan benar). Meskipun tidak menggunakan bahasa Indonesia
yang baik (dan benar) sepenuhnya dalam komunikasi media sosial mereka,
minimal mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi di grup itu
saja. Selanjutnya, guru dapat memanfaatkan grup tersebut secara aktif dengan
cara membagikan materi pelajaran, memberikan informasi pembelajaran, atau
meminta siswa mengumpulkan tugas tertentu melalui media sosial. Dengan
pemanfaatan media sosial yang seperti itu, siswa ada kemungkinan siswa
menggunakan bahasa Indonesia dan menggunakan identitas asli mereka.
Membuat aturan yang jelas dan tegas
Pemalsuan identitas dilakukan karena remaja merasa pemalsuan identitas
tidak secara langsung merugikan orang lain. Artinya, pemalsuan identitas yang
mereka lakukan tidak serta-merta merugikan orang lain. Dalam Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebutkan
bahwa pemanipulasian, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan
informasi elektroik dan/atau dokumen elektronik baru diberikan sanksi jika
pemanipulasian, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan informasi itu
merugikan orang lain.
Meskipun pemanipulasian, penciptaan, perubahan, penghilangan,
pengrusakan informasi tidak secara langsung merugikan orang lain, perbuatan
tersebut berpotensi untuk merugikan orang lain, misalnya, remaja menggunakan
identitas palsunya untuk mengganggu, mengancam, menyakiti, atau melakukan
hal-hal tidak menyenangkan lainnya kepada orang lain. Lebih dari itu,
pemanipulasian, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan informasi
berkontribusi terhadap terjadinya krisis identitas pada diri remaja. Untuk itulah,
diperlukan aturan yang jelas bahwa pengguna media sosial harus menggunakan
identitas asli. Aturan ini penting diberikan sekaligus untuk meminimalkan
terjadinya penipuan, pemerasan, atau tindak kejahatan lainnya.

PENUTUP
Berdasarkan paparan data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa
terdapat dua bentuk krisis bahasa, yaitu (1) menggunakan bahasa asing, dan (2)
mencapuradukkan bahasa tertentu. Sementara itu, krisis identitas diwujudkan
dalam bentuk (1) mengganti atau memodifikasi nama asli, (2) memalsukan asal
daerah, tempat tinggal, sekolah/lembaga pendidikan, tempat bekerja, dan
pekerjaan, dan (3) menggunakan foto orang lain sebagai foto profil. Penyebab
utama terjadinya krisis bahasa dan krisis identitas adalah adanya budaya
konsumerisme dan budaya populer yang menyebabkan remaja mengkonstruksi
identitasnya sesuai dengan citra yang dikembangkan oleh produsen. Berdasarkan
kenyataan itu, upaya-upaya untuk meminimalkan terjadinya krisis bahasa dan
krisis identitas perlu dilakukan oleh berbagai pihak.
DAFTAR RUJUKAN
Azra, A. 2015. Identitas dan Krisis Budaya Membangun Multikulturalisme
Indonesia, (Online), (http://snb.or.id/article/14/identitas-dan-krisis-
budaya-membangun-multikulturalisme-indonesia), diakses 20 Oktober
2015.
Erikson, E,H. 1989. Identitas dan Siklus Hidup Manusia; Bunga Rampai 1.
Terjemahan oleh Agus Cremers. Jakarta: PT Gramedia.
Fajar, Y. Tanpa Tahun. Negosiasi Identitas ‘Pribumi’ dan Belanda dalam Sastra
Poskolonial Indonesia Kontemporer, (Online),
(https://icssis.files.wordpress.com/2012/05/1819072011_33.pdf), diakses
20 Oktober 2015.
Heryanto, A. 2015. Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia.
Terjemahan oleh Eric Sasono. Jakarta: PT Gramedia.
Piliang, Y.A. 2011. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas
Kebudayaan. Bandung: Matahari.
Santoso, A. 2012. Studi Bahasa Kritis: Menguak Bahasa Membongkar Kuasa.
Bandung: CV Mandar Maju.
Soesilowindradini.1994. Psikologi Perkembangan (Masa Remaja). Surabaya:
Usaha Nasional.
Susilowati, N.E. 2015. Optimalisasi Pemberdayaan Bahasa Indonesia dalam
Menyukseskan Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN di Indonesia.
Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni
di Era Industri Kreatif oleh Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, 14
November.
Tornborrow, J. 1999. Bahasa dan Identitas. Dalam Thomas, L. & Wareing, S.
(Eds.), Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. Terjemahan oleh Sunoto,
dkk. 2007. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik.
Wedon, C. 2004. Identity and Culture. New York: Open University Press.