Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

“TAMPONADE JANTUNG”

Oleh :

Kelompok 1

Ronaldo Tempone

Anastasya Mangaehe

Kezia Sumaleke

Kelas/Semester : A1/VI

Dosen : Ns. Ariska, S.Kep., M.Kep

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN INDONESIA


FAKULTAS KEPERAWATAN
MANADO
2019
KATA PENGANTAR

Syalom, assalamu’alaikum Wr. Wb…

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Gawat Darurat Tamponade Jantung“, untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah Asuhan Keperawatan Gawat Darurat III di semester VI tahun 2019. Materi
ini bersumber dari berbagai sumber bacaan dan Puji Tuhan tersusun dengan
sistematis dan ringkas, sehingga mudah untuk dipahami dan dimengerti.

Penulis (Kelompok) menyadari sebagai manusia yang memiliki


keterbatasan, tentunya makalah ini masih banyak memiliki kesalahan dan
kekurangan . Dengan demikian penulis (Kelompok) sangat mengharapkan saran
dan kritik yang membangun demi perbaikan dan kebaikan makalah ini untuk
kedepannya. Semoga materi yang terkait didalam Makalah ini dapat bermanfaat
untuk kita semua.

Syalom…

Manado, 01 Maret 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL.......................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................ 3
1.4 Manfaat Penulisan .............................................................. 3
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Dasar Medis ........................................................... 4
2.1.1 Pengertian ................................................................. 4
2.1.2 Anatomi Fisiologi .....................................................
2.1.3 Etiologi .....................................................................
2.1.4 Patofisiologi ..............................................................
2.1.5 Manifestasi Klinis .....................................................
2.1.6 Pemeriksaan Penunjang ............................................
2.1.7 Penatalaksanaan ........................................................
2.1.8 Komplikasi ...............................................................
BAB III KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN ..............
2.2.1 Pengertian .................................................................
2.2.2 Anatomi Fisiologi .....................................................
2.2.3 Etiologi .....................................................................
2.2.4 Patofisiologi ..............................................................
2.5.5 Manifestasi Klinis .....................................................
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan .........................................................................
4.2 Saran ...................................................................................
DAFTAR PUSTAKa

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tamponade jantung merupakan salah satu komplikasi yang paling fatal
dan memerlukan tindakan darurat. Terjadi pengumpulan cairan di pericardium
dalam jumlah yang cukup untuk menghambat aliran darah ke ventrikel.
(Mansjoer, dkk. 2001: 458) Jumlah cairan yang cukup untuk menimbulkan
tamponade jantung adalah 250 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung
cepat, dan 100 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung lambat, karena
pericardium mempunyai kesempatan untuk meregang dan menyesuaikan diri
dengan volume cairan yang bertambah tersebut (Muttaqin, 2009: 137).
Insidens tamponade jantung di Amerika Serikat adalah 2 kasus per
10.000 populasi. Lebih sering pada anak laki-laki (7:3) sedangkan pada dewasa
tidak ada perbedaan bermakna (laki-laki:perempuan – 1,25:1). Morbiditas dan
mortalitas sangat tergantung dari kecepatan diagnosis, penatalaksanaan yang
tepat dan penyebab (Munthe, 2011).
Tamponade terjadi ketika ada akumulasi cairan pada ruang pericardium.
Ini mengakibatkan elevasi pada tekanan intracardiac, penurunan diastole secara
progresif dan berkelanjutan, mengurangi volume sekuncup dan cardiac output.
(ENA, 2000: 128). Tamponad terjadi bila jumlah efusi pericardial menyebabkan
hambatan serius aliran darah ke jantung (gangguan diastolic ventrikel)
(Panggabean, 2006: 1604).
Jadi tamponade jantung adalah kompresi pada jantung yang disebabkan
oleh peningkatan tekanan intraperikardial akibat pengumpulan darah atau
cairan dalam pericardium (250 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung
cepat, dan 100 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung lambat) yang
menyebabkan penurunan pengisian ventrikel disertai gangguan hemodinamik,
dimana ini merupakan salah satu komplikasi yang paling fatal dan memerlukan
tindakan darurat.

1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang tersebut maka dapat
dirumuskan permasalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan tamponade jantung?
2. Bagaimana anatomi dan fisiologi yang berhubungan dengan tamponade
jantung?
3. Apa saja yang menjadi penyebab tamponade jantung?
4. Bagaimana perjalanan penyakit atau patofisiologi tamponade jantung?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari tamponade jantung?
6. Jenis pemeriksaan penunjang pada pasien tamponade jantung?
7. Bagaimana penatalaksanaan pada pasien tamponade jantung?
8. Apa saja yang menjadi komplikasi dari penyakit tamponade jantung?
9. Bagaimana asuhan keperawatan tamponade jantung?

C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan penulisan makalah ini antara lain :
1. Mahasiswa/i dapat mengerti tentang konsep asuhan keperawatan pada
pasien tamponade jantung.
2. Mahasiswa/i dapat mengaplikasikan konsep asuhan keperawatan pada
pasien dengan tamponade jantung.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Medis
a. Pengertian Tamponade Jantung
Tamponade jantung merupakan salah satu komplikasi yang paling
fatal dan memerlukan tindakan darurat. Terjadi penngumpulan cairan di
pericardium dalam jumlah yang cukup untuk menghambat aliran darah ke
ventrikel. (Mansjoer, dkk. 2001)
Tamponade jantung adalah sindrom klinik dimana terjadi
penekanan yang cepat atau lambat terhadap jantung akibat akumulasi
cairan, nanah, darah, bekuan darah, atau gas di perikardium, sebagai akibat
adanya efusi, trauma, atau ruptur jantung (Spodick, 2003)
Jumlah cairan yang cukup untuk menimbulkan tamponade jantung
adalah 250 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung cepat, dan
100 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung lambat, karena
pericardium mempunyai kesempatan untuk meregang dan menyesuaikan
diri dengan volume cairan yang bertambah tersebut (Muttaqin, 2009)
Dari beberapa definisi diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa
tamponade jantung adalah kompresi pada jantung yang disebabkan oleh
peningkatan tekanan intraperikardial akibat pengumpulan darah atau
cairan dalam pericardium (250 cc bila pengumpulan cairan tersebut
berlangsung cepat, dan 100 cc bila pengumpulan cairan tersebut
berlangsung lambat) yang menyebabkan penurunan pengisian ventrikel
disertai gangguan hemodinamik, dimana ini merupakan salah satu
komplikasi yang paling fatal dan memerlukan tindakan darurat.

b. Anatomi Fisiologi Sistem Jantung


Pericardium merupakan kantung elastis membran yang dilapisi
oleh membran serosa skuamosa sederhana dan diisi dengan cairan serosa
yang membungkus jantung dan aorta serta pembuluh darah besar lainnya
dan menjadi jangkar jantung di mediastinum; kantung sendiri terdiri dari
lapisan fibrosa (dengan lampiran ke diafragma, sternum, dan kartilago

3
kosta) dan lapisan parietalis dalam serosa sedangkan lapisan serosa viseral
meluas ke permukaan eksternal dari miokardium, itu berfungsi sebagai
penghalang pelindung dari penyebaran infeksi atau peradangan dari
struktur yang berdekatan ke dalam ruang perikardial dan berfungsi untuk
mengandung jantung dan batas overfilling dari ruang; lapisan membran
serosa mengeluarkan cairan perikardial yang melumasi permukaan jantung
seperti cekungan dan tonjolan dalam ruang perikardial. Dibagi menjadi
dua lapisan yaitu : (Darling, 2012)

1. Pericardium Visceral (Epicardium)


Lapisan yang mengelilingi jantung, dan melekat padanya,
adalah perikardium visceral, atau epikardium. Jantung dapat meluncur
dengan mudah pada perikardium viseral, sehingga memungkinkan
untuk berkontraksi dengan bebas. Perikardium viseral memiliki
lapisan luar dari sel mesothelial datar, yang terletak di stroma jaringan
penunjang fibrocollagenous. Jaringan penunjang ini mengandung
serat elastis, serta arteri besar yang memasok darah ke dinding
jantung, dan cabang vena besar yang membawa darah dari dinding
jantung (Darling, 2012)

2. Pericardium Parietalis
Lapisan luar dari pericardium, yang disebut perikardium
parietalis, terdiri dari lapisan luar yang kuat, jaringan ikat tebal
(disebut perikardium fibrosa) dan lapisan serosa dalam (pericardium
serosa). Lapisan fibrosa perikardium parietalis melekat pada
diafragma dan berdifusi dengan dinding luar dari pembuluh darah
besar yang memasuki dan meninggalkan jantung. Dengan demikian,
perikardium parietalis membentuk kantung pelindung yang kuat untuk
jantung dan berfungsi juga untuk jangkar dalam mediastinum. Lapisan
serosa dari perikardium parietalis, sebagian besar terdiri dari
mesothelium bersama-sama dengan jaringan ikat kecil, membentuk
epitel skuamosa sederhana dan mengeluarkan sejumlah kecil cairan

4
(biasanya sekitar 25 sampai 35 ml), yang membuat dua lapisan
perikardium dari bergesekan sama lain dan menyebabkan gesekan
selama kontraksi otot jantung. Di bagian atas jantung, lapisan viseral
lipatan atas bergabung dengan lapisan parietalis. Flip ini disebut
refleksi pericardium (Darling, 2012)

Gambar 1 : Penampang Jantung dan Pericardium

c. Etiologi
1. Perikarditis
2. Neoplasma
3. Uremia
4. Kanker paru end-stage
5. Miokard infark akut
6. Perdarahan ke dalam ruang pericardial akibat trauma, operasi, atau
infeksi

d. Patofisiologi
Tamponade jantung terjadi bila jumlah efusi perikardium
menyebabkan hambatan serius aliran darah ke jantung (gangguan diastolik
ventrikel) penyebab tersering adalah neolasma dan uremi. (Panggabean
2006:364). Neoplasma menyebabkan terjadinya pertumbuhan sel secara

5
abnormal pada otot jantung. Sehingga terjadi hiperplasia sel yang tidak
terkontrol, ynag menyebabkan pembentukan massa (tumor). Hal ini yang
dapat mengakibatkan ruang pada kantong jantung (perikardium) dengan
lapisan paling luar jantung (epikardium). Uremia juga mengakibatkan
temponade jantung(price, 2005 :945). Dimana orang yang mengalami
uremia di dalam darahnya terdapat toksik metabolik yang dapat
menyebabkan inflamasi ( dalam hal ini inflamasi terjadi pada
perikardium). Selain itu, temponade jantung juga dapat di sebabkan akibat
trauma tumpul / tembus. Jika trauma ini mengenai ruang perikardium akan
terjadi perdarahan sehingga darah banyak terkumpul di ruang perikardium.
Hal ini mengakibatkan jantung terdesak oleh akumulasi ciran tersebut

Gambar 2 : Tamponade Jantung

e. Manifestasi Klinis
1. Gejala yang muncul bergantung kecepatan akumulasi cairan
perikardium. Bila terjadi secara lambat dapat memberi kesempatan
mekanisme kompensasi seperti takikardi, peningkatan resistensi
vascular perifer dan peningkatan volume intravaskular. Bila cepat,
maka dalam beberapa menit bisa fatal.
2. Tamponade jantung akut biasanya disertai gejala peningkatan tekanan
vena jugularis, pulsus paradoksus >10mmHg, tekanan nadi

6
<30mmHg, tekanan sistolik <100mmHg, dan bunyi jantung yang
melemah.
3. Sedangkan pada yang kronis ditemukan peningkatan tekanan vena
jugularis, takikardi, dan pulsus paradoksus (gambaran lain yang
menandai perubahan yang tidak terduga tekanan vena).

Keluhan dan gejala yang mungkin ada yaitu adanya jejas trauma
tajam dan tumpul di daerah dada atau yang diperkirakan menembus
jantung, gelisah, pucat, keringat dingin, peninggian vena jugularis, pekak
jantung melebar, suara jantung redup dan pulsus paradoksus. Trias classic
beck berupa distensis vena leher, bunyi jantung melemah dan hipotensi
didapat pada sepertiga penderita dengan tamponade. (Mansjoer, dkk.
2000)

f. Pemeriksaan Penunjang
1. Rontgen dada
Menunjukkan gambaran “water bottle-shape heart”, kalsifikasi
perkardial.
 Kardiomegali bentuk bulat atau segitiga, dengan gambaran paru
yang bersih
 Foto lateral kadang terlihat double fat stripe

Gambar 4. Foto Thorax AP : Jantung membesar berbentuk botol

7
2. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium disesuaikan dengan etiologi
terjadinya tamponade jantung, misalnya pemeriksaan berikut :
 Peningkatan creatine kinase dan isoenzim pada MI dan trauma
jantung.
 Profil renal dan CBC uremia dan penyakit infeksi yang berkaitan
dengan pericarditis
 Protrombin time (PT) dan aPTT (activated partial
thromboplastin time) menilai resiko perdarahan selama
intervensi misalnya drainase perikardial.

3. Elektrokardiografi (EKG)
a. Didapatkan PEA (Pulseless Electric Activity), sebelumnya
dikenal sebagai Electromechanical Dissociation, merupakan
dimana pada EKG didapatkan irama sedangkan pada perabaan
nadi tidakditemukan pulsasi. PEA Amplitude gelombang P dan
QRS berkurang pada setiap gelombang berikutnya.
b. PEA dapat ditemukan pada tamponade jantung, tension
pneumothorax, hipovolemia, atau ruptur jantung.
c. Dengan EKG 12 lead berikut suspek tamponade jantung :
 Sinus tachycardia
 Kompleks QRS Low-voltage
 Electrical alternans : kompleks QRS alternan, biasanya rasio
2:1, terjadi karena pergerakan jantung pada ruang pericardium.
Electrical ditemukan juga pada pasien dengan myocardial
ischemia, acute pulmonary embolism, dan tachyarrhythmias.
 PR segment depression

d. EKG juga digunakan untuk memonitor jantung ketika melakukan


aspirasi perikardium.

8
Gambar 5. Hasil EKG

4. Echocardiografi
Meskipun echocardiografi menyediakan informasi yang
berguna, tamponade jantung adalah diagnosis klinis. Berikut ini dapat
diamati dengan echocardiografi 2-dimensi :
 Zona ruang bebas posterior dan anterior ventrikel kiri dan di
belakang atrium kiri : Setelah operasi jantung, suatu
pengumpulan cairan lokal posterior tanpa efusi anterior yang
signifikan dapat terjadi dan dapat membahayakan cardiac output.
 Kolapsnya diastolic awal dari dinding bebas ventrikel kanan
 kompresi end diastolic / kolapsnya atrium kanan
 Plethora vena cava inferior dengan inspirasi minimal atau tidak
kolaps
 Lebih dari 40% peningkatan inspirasi relatif dari sisi kanan aliran
 Lebih dari 25% penurunan relatif pada aliran inspirasi di katup
mitral

5. Pulse Oksimetri
Variabilitas pernapasan di pulse-oksimetri gelombang dicatat
pada pasien dengan paradoksus pulsus. Dalam kelompok kecil pasien
dengan tamponade, Stone dkk mencatat peningkatan variabilitas
pernapasan di pulsa-oksimetri gelombang pada semua pasien. Ini
harus meningkatkan kecurigaan untuk kompromi hemodinamik. Pada

9
pasien dengan atrial fibrilasi, pulsa oksimetri-dapat membantu untuk
mendeteksi keberadaan paradoksus pulsus.

6. USG FAST
Untuk mendeteksi cairan di rongga perikardium.

g. Penatalaksanaan
Pada keadaan ini dapat dilakukan perikardiosintesis. Sebuah jarum
berongga ukuran 16 sepanjang 6 inci ditusukkan di bawah prosesus
xifoideus dan diarahkan ke apeks jantung. Jarum tersebut kemudian
dihubungkan dengan alat EKG 12 sadapan melalui klem aligator untuk
membantu menentukan apakah jarumnya mengenai jantung. Defleksi yang
tajam akan terlihat pada pola EKG. Perikardiosintesis dapat disertai
dengan denyut jantung false-positive yang signifikan karena klinisi bisa
saja mengaspirasi darah yang berasal dari ventrikel kanan sendiri.
Petunjuk yang akan mengarahkan pengambilan keputusan adalah bahwa
darah yang bersal dari kantong perikardium biasanya tidak akan membeku.
Yang paling baik, perikardiosistesis adalah prosedur yang bersifat
sementara untuk memperbaiki fungsi jantung sambil menunggu
pembedahan. Di beberapa rumah sakit, lubang atau jendela pada selaput
perikardium dibuat secara darurat di UGD oleh dokter bedah atau dokter
spesialis kardiotoraks. (Oman, 2008)

Gambar 6. Perikardiosintesis

10
Penatalaksanaan pra rumah sakit bagi temponade cardio pada
tingkat EMP-A memerlukan transportasi cepat ke rumah sakit. Ini
merupakan satu dari beberapa kedaruratan yang harus ditransport dengan
sirine dan lampu merah.Perhatian ketat harus dicurahkan untuk
menghindari pemberian cairan berlebihan ke pasien. Sering sukar
membedakan antara temponade pericardium dan “tension pneumotoraks”
tanpa bantuan radiograph. EMT harus cermat mengamati penderita dan
mengingatkan dokter di rumah sakit terhadap kemungkinan tamponade
pericardium.
Pada tingkat paramedic EMT, setelah diagnositik dan konsultasi ke
dokter rumah sakit, tamponade pericardium dapat diaspirasi. Aspirasi
dapat dilakukan dengan menggunakan jarum interkardiak untuk suntikan
ephineprin, dengan hanya menarik penuh semprit yang kosong.
Pendekatannya dari subxifoid, menuju scapula kiri tepat seperti suntikan
intrakardia. Perbedaannya dalam memasukkan jarum selanjutnya.
Pemasukan jarum harus dihentika tepat setelah memasuki kantong
pericardium, sebelum masuk ke ventrikel (lihat gambar). Identifikasi
lokasi ujung jarum dengan tepat dapat dibantu dengan menempatkan
sadapan V elektrograf ke batang baja. Jarum ini dengan klem “alligator”.
Sewaktu jarum dimasukkan, segera dapat diketahui arus luka sewaktu
ujung jarum menyentuh miokardium. Dengan menarik mundur sedikit ke
kantong pericardium, EMT kemudian dapat mengaspirasi darah tanpa
mencederai myocardium.
Seratus lima puluh sampai 250 ml darah di kantong pericardium
sudah cukup untuk menimbulkan tamponade berat. Pengambilan beberapa
milliliter bisa mengurangi tekanan yang memungkinkan peningkatan
curah jantung pasien, peningkatan tekanan darah distal dan penurunan
tekanan di sisi kanannya. Prasat ini (mengeluarkan 50-75 ml darah)
merupakan tindakan yang menyelamatkan nyawa pada tamponade berat.
Harus diingat bahwa terapi ini bukan definitif melaikan hanya suatu
tindakan sementara sampai penderita bisa dibawa ke kamar operasi,
tempat dapat dilakukan perikardiotomi formal sebelum penatalaksanaan

11
difinitive masalah jantung dengan anastesi lokal. Perlukaan pada
pembuluh darah jantung dan struktur vaskuler intertoraks ditangani dalam
masa pra rumah sakit seperti syok hemoragik lainnya dengan pakaian anti
syok dan infus IV. (Boswick, 1997 : 80). Pemberian oksigen sesuai
indikasi juga diperlukan untuk pasien tamponade, agar mencegah
terjadinya hipoksia jaringan akibat oksigen yang tidak adekuat karena
penurunan curah jantung.

h. Komplikasi
1. Gagal jantung
2. Syok kardiogenik
3. Henti jantung
4. Penimbunan cairan di paru-paru (edema paru)
5. Kematian

12
BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Pengkajian Primer
Data Subyektif
a. Riwayat Penyakit Sekarang
 Cedera tumpul atau cedera tembus pada dada, leher punggung atau
perut.
 Perbaikan pada lesi jantung.
 Dispnea
 Cemas
 Nyeri dada
 Lemah
b. Riwayat Kesehatan
 Penyakit jantung
 Penyakit infeksi dan neoplastik.
 Penyakit ginjal

Data Obyektif
a. Airway
Tidak ditemukan adanya tanda dan gejala.
b. Breathing
 Takipnea
 Tanda kusmaul: peningkatan tekanan vena saat inspirasi ketika
bernafas spontan
c. Circulation
 Takikardi
 Peningkatan volume vena intravaskular.
 Pulsus paradoksus >10mmHg, tekanan nadi <30mmHg, tekanan
sistolik <100mmHg
 Pericardial friction rub
 Pekak jantung melebar

13
 Trias classic beck berupa: distensis vena leher, bunyi jantung
melemah / redup dan hipotensi didapat pada sepertiga penderita
dengan tamponade.
 Tekanan nadi terbatas
 Kulit lembab, bibir, jari tangan dan kaki sianosis
d. Disability
 Penurunan tingakat kesadaran

2. Pengkajian Sekunder
a. Exposure
 Adanya jejas trauma tajam dan tumpul di daerah dada.
b. Five Intervensi
 Foto thorax menunjukkan pembesaran jantung
 EKG menunjukkan electrical alternas atau amplitude gelombang
P dan QRS yang berkurang pada setiap gelombang berikutnya
 Echocardiografi adanya efusi pleura
Hasil pemeriksaan Echocardiografi pada tamponade jantung
menunjukkan :
 Kolaps diastole pada atrium kanan
 Kolaps diastole pada ventrikel kanan
 Kolaps pada atrium kiri
 Peningkatan pemasukan abnormal pada aliran katup
trikuspidalis dan terjadi penurunan pemasukan dari aliran
katup mitral > 15 %
 Peningkatan pemasukan abnormal pada ventrikel kanan
dengan penurunan pemasukan dari ventrikel kiri
 Penurunan pemasukan dari katup mitral .
 Pseudo hipertropi dari ventrikel kiri
 Pemeriksaan Doppler: Analisis Doppler terhadap tanda morfologi
jantung dapat membantu dalam menegakkan keakuratan diagnosa
klinis dan mendukung pemerikasaan laboraturium dari pola
hemodinamik pada tamponade.

14
c. Give Comfort
 Tidak terdapat tanda dan gejala
d. Head to Toe
 Kepala dan wajah: pucat, bibir sianosis
 Leher: peninggian vena jugularis
 Dada: ada jejas trauma tajam dan tumpul di daerah dada, tanda
kusmaul, takipnea, bunyi jantung melemah / redup dan pekak
jantung melebar
 Abdomen dan pinggang: tidak ada tanda dan gejala
 Pelvis dan perineum: tidak ada tanda dan gejala
 Ekstrimitas: pucat, kulit dingin, jari tangan dan kaki sianosis
e. Inspeksi Back / Posterior Surface
 Tidak ada tanda dan gejala

B. Diagnosa Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif b.d hiperventilasi ditandai dengan takipnea, tanda
kusmaul
2. Penurunan curah jantung b.d perubahan sekuncup jantung ditandai dengan
distensi vena jugularis, perubahan EKG, TD menurun, kulit dingin, pucat,
jari tangan dan kaki sianosis,
3. Perfusi jaringan (cerebral, perifer, cardiopulmonal, renal, gastrointestinal)
tidak efektif b.d suplai O2 menurun ditandai dengan nadi lemah, TTV
abnormal, penurunan kesadaran, kulit pucat, sianosis, akral dingin.

C. Perencanaan
Diagnosa Tujuan dan kriteria
Intervensi Rasional
Keperawatan hasil
Dx 1 : Pola Tujuan : setelah Intervensi
nafas tidak diberikan asuhan 1. Pantau ketat
efektif b.d keperawatan selama 1 tanda-tanda vital
hiperventilasi x 15 menit terutama
ditandai dengan diharapkan pola nafas

15
takipnea, tanda efektif dengan kriteria frekuensi
kusmaul. hasil : pernafasan
 Takipnea Rasional:
tidak ada Perubahan pola
 Tanda nafas dapat
kusmaul tidak mempengaruhi
ada tanda-tanda vital
 TTV dalam 2. Monitor isi
rentang batas pernafasan,
normal (RR : pengembangan
16 – 20 X/ dada, keteraturan
mnt). pernafasan, nafas
bibir dan
penggunaan otot
bantu pernafasan
Rasional:
Pengembangan
dada dan
penggunaan otot
bantu pernapasan
mengindikasikan
gangguan pola
nafas
3. Berikan posisi
semifowler jika
tidak
kontrainndikasi
Rasional:
Mempermudah
ekspansi paru
4. Ajarkan klien
nafas dalam

16
Rasional: Dengan
latihan nafas
dalam dapat
meningkatkan
pemasukan
oksigen
5. Berikan oksigen
sesuai indikasi
Rasional: Oksigen
yang adekuat
dapat
menghindari
resiko kerusakan
jaringan
6. Berikan obat
sesuai indikasi
Rasional: Medikasi yang
tepat dapat
mempengaruhi ventilasi
pernapasan
Dx 2 : Tujuan : setelah Intervensi
Penurunan diberikan asuhan 1. Monitor TTV
curah jantung keperawatan selama 3 berkelanjutan
b.d perubahan x 10 menit Rasional: TTV
sekuncup diharapkan curah merupakan
jantung ditandai jantung ke seluruh indicator keadaan
dengan distensi tubuh adekuat dengan umum tubuh
vena jugularis, kriteria hasil : (jantung)
perubahan  TTV dalam 2. Auskultasi suara
EKG, TD batas normal jantung, kaji
menurun, kulit (Nadi : 60-100 frekuensi dan
dingin, pucat, x/mnt, TD : irama jantung

17
jari tangan dan 110-140 Rasional:
kaki sianosis. mmHg). Perubahan suara,
 Nadi perifer frekuensi dan
teraba kuat irama jantung
 Suara jantung dapat
normal. mengindikasikan
 Sianosis dan adanya penurunan
pucat tidak curah jantung
ada. 3. Palpasi nadi

 Kulit teraba perifer dan

hangat periksa pengisian

 EKG normal perifer

 Distensi vena Rasional: Curah

jugularis tidak jantung yang

ada. kurang
mempengaruhi
kuat dan
lemahnya nadi
perifer
4. Kaji akral dan
adanya sianosis
atau pucat
Rasional:
Penurunan curah
jantung
menyebabkan
aliran ke perifer
menurun
5. Kaji adanya
distensi vena
jugularis

18
Rasional:
Tamponade
jantung
menghambat
aliran balik vena
sehingga terjadi
distensi pada vena
jugularis
6. Berikan oksigen
sesuai indikasi
Rasional: Oksigen
yang adekuat
mencegah
hipoksia
7. Berikan cairan
intravena sesuai
indikasi atau
untuk akses
emergency.
Rasional:
Mencegah
terjadinya
kekurangan cairan
8. Periksa EKG, foto
thorax,
echocardiografi
dan doppler
sesuai indikasi.
Rasional: Pada
tamponade
jantung, terjadi
abnormalitas

19
irama jantung dan
terdapat siluet
pembesaran
jantung
9. Lakukan tindakan
perikardiosintesis.
Rasional: Dengan
perikardiosintesis
cairan dalam
ruang pericardium
dapat keluar

Tujuan : setelah Intervensi :


Dx 3 : Perfusi diberikan asuhan 1. Awasi tanda-
jaringan keperawatan selama 3 tanda vital secara
(cerebral, x 15 menit intensif
perifer, diharapkan perfusi Rasional:
cardiopulmonal, jaringan adekuat Perubahan tanda-
renal, dengan kriteria hasil : tanda vital seperti
gastrointestinal)  Nadi teraba takikardi akibat
tidak efektif b.d kuat dari kompensasi
suplai O2  TTV dalam jantung untuk
menurun batas normal memenuhi suplai
ditandai dengan (Nadi : 60-100 O2
nadi lemah, x/mnt, TD : 2. Pantau adanya
TTV abnormal, 110-140 ketidakadekuatan
penurunan mmHg) perfusi (kulit :
kesadaran, kulit  Tingkat dingin dan pucat,
pucat, sianosis, kesadaran sianosis)
akral dingin. composmentis Rasional:
Menunjukkan
adanya

20
 Sianosis atau ketidakadekuatan
pucat tidak perfusi jaringan
ada 3. Pantau GCS
 Nadi teraba Rasional:
lemah, Penurunan perfusi
terdapat terutama di otak
sianosis, dapat
 Akral teraba mengakibatkan
hangat penurunan tingkat
kesadaran
4. Anjurkan untuk
bed rest/ istirahat
total
Rasional: Menurunkan
kebutuhan oksigen

D. Implementasi
Dilakukan sesuai intervensi dan kondisi pasien

E. Evaluasi
Hasil dari evaluasi dari yang diharapkan dalam pemberian tindakan
keperawatan melalui proses keperawatan pada klien dengan Malpresentasi
berdasarkan tujuan pemulangan adalah :
1. Pola nafas efektif
2. Curah jantung ke seluruh tubuh adekuat
3. Perfusi jaringan adekuat

21
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa
tamponade jantung adalah kompresi pada jantung yang disebabkan oleh
peningkatan tekanan intraperikardial akibat pengumpulan darah atau cairan
dalam pericardium (250 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung
cepat, dan 100 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung lambat) yang
menyebabkan penurunan pengisian ventrikel disertai gangguan hemodinamik,
dimana ini merupakan salah satu komplikasi yang paling fatal dan memerlukan
tindakan darurat.
Keluhan dan gejala yang mungkin ada yaitu adanya jejas trauma tajam
dan tumpul di daerah dada atau yang diperkirakan menembus jantung, gelisah,
pucat, keringat dingin, peninggian vena jugularis, pekak jantung melebar, suara
jantung redup dan pulsus paradoksus. Trias classic beck berupa distensis vena
leher, bunyi jantung melemah dan hipotensi didapat pada sepertiga penderita
dengan tamponade. (Mansjoer, dkk. 2000)

B. Saran
Penulis berharap dengan makalah ini, semoga mahasiswa dapat
mengerti bagaimana asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien yang
mengalami tamponade jantung, dan paham bagaimana patofisiologi yang
terjadi pada pasien yang mengalami penyakit tersebut. sehingga bisa berpikir
kritis dalam melakukan tindakan keperawatan. Penulis menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dai kata sempurna untuk itu penulis mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca dalam rangka memperbaiki makalah ini menjadi
lebih baik kedepannya.

22
DAFTAR PUSTAKA

Boswick, John A. 1997. Perawatan Gawat Darurat. Jakarta : EGC.


Braunwald, Eugene. dkk. 2001. Essential Atlas of Heart Diseases. 2nd Ed.
Philadelphia : Current Medicine.
Darma, Surya. 2009. Sistematika Interpretasi EKG Pedoman Praktis. Jakarta :
EGC.
Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC.
ENA. 2000. Emergency Nursing Core Curiculum. 5th Ed. USA : WB. Saunders
Company.
Guyton, Arthur C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11. Jakarta :
EGC.
Mansjoer, A., dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid pertama. Edisi ketiga.
Jakarta : Media Aesculapius.
Mansjoer, A., dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid kedua. Edisi ketiga.
Jakarta : Media Aesculapius.
Moore, Keith. L. 2002. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta : Hipokrates.
Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskular. Jakarta : Salemba Medika.
Nichols, David G. dkk. 2006. Critical Heart Disease in Infant and Children.
Second Edition. USA : Elsevier.
Oman, K. S. 2000. Panduan Belajar Keperawatan Emergensi. Terjemahan Andry
Hartono. 2008. Jakarta : EGC.
Panggabean M. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Departemen
Ilmu Penyakit Dalam.
Price, S. A. 2000. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Vol. 2.
Edisi 6. Jakarta : EGC
Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006 :
Definisi & Klasifikasi. Jakarta : Prima Medika.
Smeltzer,C.S. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan
Suddarth. Edisi 8. Jakarta: EGC

23