Anda di halaman 1dari 2

Nama : Panji Sukma

Nim : 201610070311128
Kelas : 4A
“Faktor Lingkungan dan hubungannya dengan kehidupan organisme”
 Bibliografi
Leksono, Amien S.2014.Keaneragaman Hayati.Malang:UB Press
Sukarsono.2012.Pengantar Ekologi Hewan.Malang:UMM Press
 Materi
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan
sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang
tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi
ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
Berbagai cara di lakukan oleh pakar ekologi dalam pembagian komponen
lingkungan ini, salah satunya adalah:
a. Faktor Iklim, meliputi parameter iklim utama seperti cahaya, suhu,, ketersediaan
air dan angin.
b. Faktor tanah, merupakan karakteristika dari tanah seperti nutrisi tanah, reaksi
tanah, kadar air tanah, dan kondisi fisika tanah.
c. Faktor topografi, yaitu meliputi pengaruh dari terrain seperti sudut kemiringan,
aspek kemiringan dan kketinggian tempat dari muka laut.
d. Faktor biotik, merupakan gambaran semua interaksi dari organisme hidup seperti
kompetisi, peneduhan dan lain – lain.
Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup termasuk tumbuh – tumbuhan
pada dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti
cahaya, suhu atau nutrien dalam jumlah minimum dan maksimum..
Hukum Justus von Liebig minimum hanya berperan dalam air untuk materi
kimia yang diperlukan untuk pertumbuhan dan reproduksi. Liebig tidak
mempertimbangkan peranan faktor lainnya, baru kemudian penelitian lainnya
mengembangkan pernyataannya yang menyangkut faktor suhu dan cahaya. Sebagai
hasil penelitiannya mereka menambahkan dua pernyataan yaitu:
a) Hukum ini berlaku hanya dalam kondisi keseimbangan yang dinamis
atau stesdy-state. Apabila masukan dan keluaran energi dan materi dari yang
diperlukan akan berubah terus dan hukum minimum tidak berlaku.
b) Hukum minimum harus memperhitungkan juga adanya interaksi di
antara faktor – faktor lingkungan. Konsentrasi yang tinnggi atau ketersediaan yang
melimpah dari suatu substansi mungkin akann mempengaruhi laju pemakaian dari
substansi lain dalam jumlah yang minimum. Sering juga terjadi organisme hidup
memanfaatkan unsur kimia tambahan yang mirip dengan yang diperlukan yang
ternyata tidak ada di habitatnya. Contoh yang baik adalah tidak adanya kalsium di
suatu habitat tetapi stronsium melimpah, beberapa moluska mampu memanfaatkan
stronsium ini untuk membentuk cangkangnya.
Shelford menyatakan bahwa jenis – jenis dengan kisaran toleransi yang luas
untuk berbagai faktor lingkungan akan menyebar secara luas. Ia juga menambahkan
bahwa dalam fase reproduksi dari daur hidupnya faktor – faktor lingkungan lebih
membatasinya. Biji, telur dan embrio mempunyai irisan yang sempit jika
dibandingkan dengan fase dewasanya. Hasil dari shelford telah memberikan
doronngan dalam kajian berbagai ekologi toleransi. Berbagai percobaan dilakukan di
laboratorium untuk mendapatkan atau menentukan kisaran toleransi dari individu
suatu jenis terhadap pencemar air yang akan sedikit memberikan gambaran dalam
penyebarannya.
Kajian – kajian ekologi toleransi yang didasarkan pada pemikiran Liebig dan
Shelford pada umumya tidak menjawab pertanyaan ekologi mendasar, bagaimana
jenis – jenis teradaptasi terhadap beberapa faktor yang membatasinya. Pandangan
ekologi yang lebih berkembang adalah memikirkan perkembangan jenis untuk
mencapai suatu kehidupan dengan memperhatiakan kisaran toleransi dalam pola
hidupnya. Pendekatan ini menekankan pentingnya evolusi yang membawa pengertian
yang lebih baik hubungan antara individu suatu jenis dengan habitatnya..
Penjelasan Shelford mengesampingkan bahwa reaksi organisme terhadap
suatu faktor lingkungan erat kaitannya dengan kondisi dari faktor faktor lingkungan
lainnya. Walaupun suatu faktor mungkin berada pada optimumnya akan tetapi oleh
adanya pengaruh faktor lingkungan lain suatu organisme dapat saja menanggapinya
dengan respon negatif. Misalnya, sering kali ditemukan pada hewan terutama, suatu
organisme meninggalkan habitat optimumnya karena adanya pengaruh kompetisi
dengan jenis lain. Di samping itu hal lain perlu dicatat adalah rentang toleransi dapat
berubah oleh proses adaptasi dan evolusi.

Apabila organisme terdedah pada suatu kondisi factorlingkungannya yang


mendakati batas kisaran toleransinya&makaorganismenya mengalami keadaan
cekaman(sters) 0siologis & dengan kata lain organisme berada dalam kondisi kritis
yang menentukan lulus hidup tidaknya & sebgai contoh hewan yang didedahkan pada
suhu ekstrim rendah akan menunjukan kondisikritis berupa hipotermia & sedang pada
suhu ekstrim tinggi akan menyebabkan gejala hipertemia. apabila kondisi suhu
lingkungan
suhu yang mendekati batas-batas kisaran toleransi hewan itu berlangsung lama
dan tidak segera berubah menjadi baik & maka hewan itu akan mati & setiap kondisi
factor lingkungan yang besarannya atau intensitasnya mendekati batas kisaran
toleransiorganism. akan beroprasi sebagai factor pembatas yang berperan sangat
menentukan kelulusan hidup organisme. hubungan antara aktiftas suatu hewan dengan
suatu kondisi lingkungan. tidak mudah untuk menentukan batas-batas kisaran
toleransi suatu hewan terhadap suatu factor lingkungan .terlebih lebih lagi dalam
lingkungan alami. setiap organisme terdedah sekaligus pada sejumlah factor
lingkungan dan oleh adanya suatu factor interaksi factor maka sesuatu factor
lingkungan dapat saja merubah factor lingkungan lain. misalnya & suatu individu
hewan akan merusak efek suhu tinggi yang lebih keras apabila kelembaban udara
yang relati,e rendah . dengan perkataan lain hewan akan lebih tahan terhadap suhu
tinggi apabila udara kering dibandingkan dengan pada kondisi udara yang lembab.