Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN KEPANITERAAN KEDOKTERAN KELUARGA

LONG CASE
PUSKESMAS PURWOJATI

SKABIES

Oleh:
Naufal Sipta Nabilah
G4A016112

Pembimbing:
dr.
dr.

KEPANITERAAN KLINIK STASE KOMPREHENSIF


ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

2018
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kepaniteraan Kedokteran Keluarga


Long Case Study
Skabies

Disusun untuk memenuhi sebagian syarat


Kepaniteraan Klinik Stase Komprehensif/Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran
Universitas Jenderal Soedirman

Oleh:
Naufal Sipta Nabilah
G4A016112

Telah diperiksa, disetujui dan disahkan:


Hari :
Tanggal : Januari 2019

Preseptor Lapangan Preseptor Fakultas

dr. dr.
NIP. 19730301.200701.2.010 NIP. 19771215.200501.2.015

2
I. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama Kepala Keluarga : Tn. M


Alamat lengkap : Desa Purwojati RT 04/08
Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas
Bentuk Keluarga : Extended Family
Tabel 1.1. Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah
No Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan
1. M Kepala L 30 SMP Pekerja konveksi
keluarga
(Ayah)
2. N Ibu P 24 SMP Ibu rumah tangga
3. L Anak P 6 TK Pelajar
4. A Adik ibu L 20 SMP Karyawan Toko
Sumber : Data Primer, Desember 2018.
Kesimpulan dari karakteristik demografi diatas adalah bentuk keluarga An.
L adalah extended family dengan Tn. M (30 tahun) sebagai kepala keluarga yang
bekerja sebagai Pekerja konveksi. An. L (6 tahun) adalah anak pertama dari Tn. M
dan Ny. N. Pada keluarga ini terdapat ayah, ibu, 1 orang anak, dan 1 orang adik
dari ibu (paman) yang tinggal bersama.

II. STATUS PENDERITA

3
A. PENDAHULUAN
Laporan ini disusun berdasarkan kasus yang diambil dari seorang anak
berusia tahun yang datang ke Puskesmas Purwojati diantar oleh ibunya.
Pasien ini datang dengan keluhan gatal-gatal pada tangan.

B. IDENTITAS PENDERITA
Nama : An. L
Usia : 6 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Belum menikah
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Kewarganegaraan : Indonesia
Pekerjaan : Tidak bekerja
Pendidikan : Pelajar TK
Penghasilan/bulan :-
Alamat : Desa Purwojati RT 04/ RW 08
Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas
Pengantar (Pasien) : Pasien datang diantar ibu
Tanggal Periksa : Rabu, 26 Desember 2018

C. ANAMNESIS (diambil melalui auto-alloanamnesis)


1. Keluhan Utama
Gatal-gatal pada tangan
2. Keluhan Tambahan
Bentol-bentol dan luka pada lipatan jari kedua tangan
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke balai pengobatan Puskesmas Purwojati hari Rabu tanggal
26 Desember 2018 dengan keluhan gatal-gatal pada kedua tangan sejak 2
bulan yang lalu. Gatal-gatal dirasakan sangat mengganggu dan terus-
menerus. Gatal dirasakan semakin gatal terutama pada malam hari. Gatal

4
pertama kali dirasakan dua bulan yang lalu setelah pasien bermain tanah
dekat kandang rumah pasien. Saat ini gatal dirasa semakin memberat
disertai bentol-bentol dan luka pada telapak, punggung, dan sela-sela jari
kedua tangan pasien. Gatal dirasa sangat mengganggu dan nyeri hingga
mengganggu aktivitas pasien untuk bersekolah. Awalnya, gatal bermula
dari paman pasien yang juga gatal sebelumnya kemudian sudah sembuh.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat mengalami keluhan yang sama : disangkal
- Riwayat mondok : disangkal
- Riwayat operasi : disangkal
- Riwayat kecelakaan : disangkal
- Riwayat darah tinggi : disangkal
- Riwayat jantung : disangkal
- Riwayat kencing manis : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
- Riwayat alergi makanan/obat : disangkal
5. Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat mengalami keluhan yang sama : diakui, pada ibu pasien dan
paman pasien.
- Riwayat kencing manis : disangkal
- Riwayat darah tinggi : disangkal
- Riwayat jantung : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
6. Riwayat Sosial dan Exposure
- Community : Pasien dalam kesehariannya tinggal dalam
lingkungan extended family yang di dalamnya
terdapat seorang ayah, ibu, dan paman pasien.
- Home : Rumah An. L memiliki luas sekitar 10X15 m2,
memiliki ventilasi udara berupa lubang angin
berukuran 10x3cm, cahaya matahari yang masuk
ke rumah cukup, lantai rumah terbuat dari keramik
dan sebagian plesteran tanah, dinding terbuat dari

5
tembok, Rumah An. L tidak berplafon, sehingga
debu dari atap mudah jatuh ke dalam rumah.
Jendela terdapat dua buah di setiap ruang dan
jarang dibuka. Pencahayaan kurang baik, kebersihan
rumah kurang dijaga dengan baik. Atap rumah
terbuat dari genting dan susunan kayu. Tingkat
kelembapan rumah sangat lembab. Rumah terdiri
dari ruang tamu, ruang keluarga, tiga tempat tidur,
kamar mandi, gudang dan ruang dapur. Keluarga
pasien memasak menggunakan kompor gas.
Sumber air bersih berasal dari air sanyo (sungai).
Jarak septitank dengan rumah sekitar 8 m. Di
samping rumah pasien terdapa kandang bebek dana
yam.. Jarak dengan tetangga terdekat sekitar 2
meter. Sampah keluarga dibakar di belakang rumah
atau kadang dibuang di sungai dekat rumah pasien.
- Hobby : Pasien memiliki hobi bermain tanah bersama
teman-temannya di dekat kandang pasien dan
sehari-hari tidur bersama sang ibu di rumah.
- Occupational : Pasien adalah pelajar taman kanak-kanak.
- Diet : Pasien makan 2-3 kali sehari dengan nasi dan lauk
seadanya, sering mengonsumsi lauk tahu, tempe,
dan sayur yang di masak ibunya. Pasien memiliki
kebiasaan jarang mandi setelah pulang bermain
dengan teman-temannya.
- Drug : Pasien sebelumnya sudah menggunakan obat
minum untuk mengurangi gatal yang di dapat dari
puskesmas dekat rumahnya, namun tidak kunjung
sembuh sehingga setiap minggu pasien datang
untuk kontrol ke puskesmas.

6
7. Riwayat Psikologi :
Sejak kecil pasien hidup dengan ibunya. Pasien merupakan anak
tunggal. Menurut pengakuan ibunya bahwa ayah pasien bekerja di Jakarta
sebagai pekerja konveksi dan pulang selama kurang lebih 1 bulan sekali
untuk bertemu pasien. Pasien lebih sering menghabiskan waktu bersama
ibunya semenjak kecil bahkan sudah dirawat semenjak bayi. Setiap
masalah yang dihadapi pasien dan anggota keluarganya selalu
didiskusikan bersama-sama dengan keluarga di rumah saja.
8. Riwayat Ekonomi
Pasien berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah ke atas.
Ayah pasien bekerja sebagai pekerja konveksi dengan penghasilan tidak
tetap (Rp.3.000.000 – Rp3.600.000,00 per bulan). Ibu pasien bekerja
sebagai ibu rumah tangga. Pendapatan perkapita pada keluarga ini adalah
Rp.3.000.000-Rp 3.600.000.
9. Riwayat Demografi
Pasien merupakan siswa taman kanak-kanak dan tinggal bersama
ibu dan paman pasien. Pasien merupakan anak tunggal dari kedua
orangtua yang ayahnya tinggal di luar kota.
10. Riwayat Sosial
Saat sakit ini, pasien sulit melakukan aktivitas sehari-hari. Pasien
biasanya sering bermain dan berkomunikasi dengan teman-temannya.
Hubungan pasien dengan tetangga sekitarnya cukup baik.
11. Anamnesis Sistemik
a. Keluhan Utama : Gatal
b. Kulit : Bentol-bentol dan luka di lipatan jari
tangan dan punggung
c. Kepala : Tidak ada keluhan
d. Mata : Tidak ada keluhan
e. Hidung : Tidak ada keluhan
f. Telinga : Tidak ada keluhan
g. Mulut : Tidak ada keluhan
h. Tenggorokan : Tidak ada keluhan

7
i. Pernafasan : Tidak ada keluhan
j. Sistem Kardiovaskuler : Tidak ada keluhan
k. Sistem Gastrointestinal : Tidak ada keluhan
l. Sistem Saraf : Tidak ada keluhan
m. Sistem Muskuloskeletal : Tidak ada keluhan
n. Sistem Genitourinaria : Tidak ada keluhan
o. Ekstremitas Atas : Gatal-gatal, nyeri
Bawah : Tidak ada keluhan

D. PEMERIKSAAN FISIK
1. KU/ KES
Tampak tenang, kesadaran compos mentis.
2. Tanda Vital
a. Nadi : 104 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
b. Pernafasan : 24 x/menit, thorakal, reguler
c. Suhu : 36,6 oC
3. Status gizi
a. BB : 18 kg
b. TB : 130 cm
c. IMT : 17.16 kg/m2
d. Kesan status gizi : Baik
4. Kulit
Turgor kulit kembali dalam satu detik.
5. Kepala
Kepala dalam batas normal.
6. Mata
Konjungtiva, sklera, kornea, pupil, iris, lensa dalam batas normal.
7. Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), deformitas hidung (-),
massa (-)
8. Mulut
Mukosa bukal basah.

8
9. Telinga
Telinga luar, tengah, dalam dalam batas normal
10. Tenggorokan
Tonsil dan faring dalam batas normal. Hiperemis (-).
11. Leher
Trakea ditengah, pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran kelenjar limfe
(-), distensi vena jugularis (-).
12. Thoraks
Simetris, retraksi interkostal (-), retraksi subkostal (-)
a. Cor : Inspeksi : ictus cordis tak tampak
Palpasi : ictus cordis tak kuat angkat
Perkusi : batas kiri atas : SIC II LPSS
batas kiri bawah : SIC V LMCS
batas kanan atas : SIC II LPSD
batas kanan bawah : SIC IV LPSD
batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi: S1>S2, regular, gallop (-), murmur (-)
b. Pulmo :
1) Statis (depan dan belakang)
I : pengembangan dada kanan = kiri
Pal : fremitus raba kanan = kiri
Per : sonor/sonor
A : suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan RBH (-/-), wheezing (-/-)
2) Dinamis (depan dan belakang)
I : pergerakan dada kanan = kiri
Pal : fremitus raba kanan = kiri
Per : sonor/sonor
A : suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan RBH (-/-), wheezing (-/-)
13. Abdomen
I : dinding perut sejajar dengan dinding dada

9
A : bising usus (+) normal
Per : timpani, pekak alih (-), pekak sisi (-)
Pal : supel, nyeri tekan (-) , hepar dan lien tak teraba
14. Sistem Collumna Vertebralis
I : deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
Pal : nyeri tekan (-), krepitasi (-)
15. Ektremitas: palmar eritema (-/-) capilarry refill <1 detik.
akral dingin - -
- -
Ujud Kelainan Kulit (UKK) :
Papula milier sampai lentikular pada regio palmaris dextra et sinistra,
interdigitalis manus dextra et sinistra, regio dorsum, abdomen, dan
genitalia.
Articulatio genue dextra et sinistra :
I : oedem (-), eritema (-), hambatan dalam berjalan (-).
P : nyeri (-), hangat (-), krepitasi (-).
16. Sistem genitalia: Papula milier sampai lentikular
17. Pemeriksaan Neurologik
Fungsi Luhur : dalam batas normal
Fungsi Vegetatif : dalam batas normal
Fungsi Sensorik : dalam batas normal
Fungsi Motorik :
K 5 5 T N N RF + + RP -
-
5 5 N N + + -
-

18. Pemeriksaan Psikiatrik


Penampilan : sesuai usia, perawatan diri cukup
Kesadaran : kualitatif tidak berubah; kuantitatif compos mentis
Afek : appropriate
Psikomotor : normoaktif
Insight : baik

10
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang pada pasien ini.

F. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Untuk menegakkan diagnosis Skabies dan menentukan terapi, pasien
dianjurkan untuk melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium yaitu:

a. Mengambil tungau dengan jarum. Pemeriksaan ini dilakukan


dengan cara lesi dicungkil dengan jarum kemudian diletakkan di atas kaca
objek dan dilihat di bawah mikroskop apakah terdapat tungau Sarcoptes
scabiei atau tidak.
b. Burrow Ink Test. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara
meneteskan tinta burrow ke lesi kulit kemudian dihapus dengan alkohol.
Hasil positif bila lesi kulit tetap terwarnai, menandakan adanya kanalikuli
(terowongan) yang dibuat oleh Sarcoptes scabiei.

G. RESUME
Pasien datang ke Puskesmas Jatilawang hari Rabu tanggal 26 Desember
2018 dengan keluhan gatal-gatal pada tangan sejak 2 bulan yang lalu. Gatal
dirasakan terus-menerus, tidak membaik dengan pemakaian obat, dan semakin
gatal pada malam hari. Terdapat 1 anggota keluarga yang mengalami keluhan
serupa.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital dalam batas normal, status
generalis dalam batas normal, status lokalis sistem integumen ditemukan
UKK berupa Papula milier sampai lentikular pada regio palmaris dextra
et sinistra, interdigitalis manus dextra et sinistra, regio dorsum, abdomen,
dan genitalia.
H. DIAGNOSIS HOLISTIK
1. Aspek Personal
Idea : Pasien mengeluhkan gatal-gatal pada tangan.
Concern : Pasien merasa gatal semakin memberat, ibu pasien
khawatir kondisi pasien semakin memburuk.
Expectacy : Pasien dan ibu pasien mempunyai harapan agar penyakit
pasien dapat segera sembuh.

11
Anxiety : Pasien tidak nyaman terasa gatal serta nyeri, karena sering
menggaruk-garuk terutama pada malam hari sehingga sulit
tidur, selain itu karena luka pada tangannya pasien menjadi
tidak bisa beraktivitas seperti menulis sehingga kadang
mengganggu sekolah dan ibu pasien khawatir penyakit
pasien menjadi kambuh-kambuhan.
2. Aspek Klinis
a. Diagnosis
i. Skabies
ii. Status gizi baik
b. Gejala klinis yang muncul
Gatal pada tangan, memberat pada malam hari, tidak mereda
dengan pemakaian obat, ibu pasien mengalami keluhan serupa.
c. Diagnosa banding
Dermatitis venenata, cutaneus larvae migran, mikosis
supervisialis, eczema.
3. Aspek Faktor Risiko Intrinsik Individu
a. Seorang anak perempuan 6 tahun, pelajar
TK.
b. Jarang mandi setelah beraktivitas bermain di
luar.
c. Setiap hari bermain tanah di dekat kandang
rumah pasien.
4. Aspek Faktor Risiko Ekstrinsik Individu
a. Pendidikan keluarga pasien tidak cukup memadahi untuk mengetahui
tentang penyakit yang diderita pasien.
b. Kondisi hunian tidak memenuhi kriteria rumah sehat dan buruknya
lingkungan, antara lain pencahayaan, ventilasi, dinding, lantai, dan
plafon, kebersihan dan keadaan lingkungan rumah secara umum yang
kurang sehat.
5. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial
Skala penilaian fungsi sosial pasien adalah 4, karena pasien kadang

12
mengalami kesulitan dalam aktivitas sekolah, dalam hal ini belajar mulai
terganggu namun pasien masih dapat melakukan pekerjaan ringan sehari-
hari didalam dan di luar rumah.
I. PENATALAKSANAAN
1. Personal Care
a. Initial Plan
Untuk menegakkan diagnosis Skabies dan menentukan terapi,
pasien dianjurkan untuk melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium
yaitu:

1) Mengambil tungau dengan jarum. Pemeriksaan ini dilakukan


dengan cara lesi dicungkil dengan jarum kemudian diletakkan di
atas kaca objek dan dilihat di bawah mikroskop apakah terdapat
tungau Sarcoptes scabiei atau tidak.
2) Burrow Ink Test. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara
meneteskan tinta burrow ke lesi kulit kemudian dihapus dengan
alkohol. Hasil positif bila lesi kulit tetap terwarnai, menandakan
adanya kanalikuli (terowongan) yang dibuat oleh Sarcoptes
scabiei.
b. Aspek kuratif
1) Medikamentosa
a) Permethrine Cream 5% UE seluruh tubuh 1x/minggu, malam
sebelum tidur.
b) PO. Chlorphenirramine Maleate Tab 2x2mg (0-1-1)
2) Non Medika mentosa
a) Diet tinggi kalori tinggi protein
b) Mandi dengan larutan antiseptik
3) KIE (konseling, informasi dan edukasi)
Pasien dan keluarganya perlu diedukasi mengenai:
a) Memberi informasi mengenai penyebab, cara penularan, cara
pencegahan skabies secara mudah dan komprehensif.
b) Selalu menjaga higienitas personal dengan mandi setidaknya 2
kali sehari, tidak tidur bersama penderita yang sama, tidak

13
menggunakan barang pribadi seperti alat mandi, baju, handuk
dengan penderita yang sama.
c) Merendam semua pakaian dan alat mandi denagn air panas
untuk membunuh tungau.
d) Menjemur bantal, guling, dan kasur secara teratur.
e) Menjelaskan mengenai syarat-syarat rumah sehat secara
lengkap.
f) Menjelaskan pentingnya menjaga nutrisi melalui makanan
yang sehat dan bergizi, memenuhi kebutuhan karbohidrat,
lemak, protein, vitamin, dan mineral.
c. Aspek Preventif
1) Menjelaskan mengenai higienitas personal.
2) Menjelaskan mengenai kriteria rumah sehat serta memberi saran-
saran yang dapat diterapkan dan tepat guna.
3) Memberikan anjuran pola hidup bersih dan sehat.
d. Aspek Promotif
1) Memberi informasi mengenai penyebab dan cara penularan
mikroorganisme penyebab skabies, serta pencegahan dan
penanganan skabies secara mudah dan komprehensif.
2) Memberi informasi mengenai infeksi bakteri sebagai komplikasi
skabies serta pentingnya penanganan tepat dan dini dalam kasus
skabies.

e. Aspek Rehabilitatif
Monitoring keluhan gatal dan respon terhadap pemberian obat.
2. Family Care
a. Memotivasi keluarga untuk menjaga lingkungan yang sehat dan bersih.
b. Memberikan edukasi pengetahuan kepada keluarga mengenai
perjalanan penyakit skabies, pencegahan penularan dan pemantauan
skabies berulang, sehingga mendukung kontrol dan pengobatan pasien
dan keluargan yang kontak langsung dengan pasien (tidak tidur
bersama penderita yang sama, tidak menggunakan barang pribadi
seperti alat mandi, baju, handuk dengan penderita yang sama).

14
c. Dukungan moral dari keluarga dalam pengendalian dan penyembuhan
penyakit pasien.
d. Memberikan anjuran kepada anggorta keluarga lainnya yang berisiko
tinggi untuk pola hidup sehat.
3. Community Care
a. Memotivasi peningkatan sanitasi lingkungan untuk menjaga
lingkungan yang sehat dan bersih, karena lingkungan yang tidak sehat
akan menjadi faktor risiko terjadinya skabies.
b. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai penyakit
skabies, baik tanda gejala penyakit tersebut dan perjalanan alamiahnya
melalui penyuluhan.
c. Memotivasi komunitas untuk memberikan dukungan psikologis
terhadap pasien mengenai penyakitnya.
d. Memberikan pengetahuan mengenai pencegahan penularan skabies
dengan tidak tidur bersama penderita yang sama, tidak menggunakan
barang pribadi seperti alat mandi, baju, handuk dengan penderita yang
sama.
J. Flow Sheet
Tabel 2.1. Flow Sheet An. L (6 tahun)
No Tanggal Problem Tanda Vital Planning Target
1 Rabu, 26 Gatal pada kedua N : 100 x/menit Krim permethrin Membunuh
Desember telapak tangan RR : 24 x/menit 5% parasite
0
2018 dan sela-sela jari S : 36.5 C PO CTM 2x1 tab Sarcoptes
Gatal Diet TKTP scaibei,
terutama pada hilangkan
malam hari, luka keluhan
lecet yang terasa
Perih

III. IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA

15
A. Fungsi Holistik
1. Fungsi Biologis
Bentuk keluarga An. L adalah extended family dengan Tn. M (30
tahun) sebagai kepala keluarga yang bekerja sebagai pekerja konveksi. An.
L (6 tahun) adalah anak tunggal dari Tn. M dan Ny. N. Pada keluarga ini
terdapat ayah, ibu, 1 orang anak, dan 1 orang paman yang tinggal bersama.
Ayah pasien bekerja di luar kota.
2. Fungsi Psikologis
Hubungan antara pasien dengan keluarga di rumahnya cukup
harmonis. Pasien merukapan anak tunggal yang cukup dimanja
dirumahnya oleh ibu pasien, ayah pasien bekerja di luar kota dan jarang
bertemu dengan pasien sehingga pasien lebiha akrab dan dekat dengan
ibunya. Pasien merasa resah karena akhir-akhir ini sering susah tidur
akibat gatal yang berlebihan pada malam hari.
3. Fungsi Sosial
Saat sakit ini, pasien sulit melakukan aktivitas sehari-hari. Pasien
biasanya sering bermain dan berkomunikasi dengan teman-temannya.
Hubungan pasien dengan teman-teman dan tetangga sekitarnya cukup
baik.
4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan
Pasien berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah ke atas. Ayah
pasien bekerja sebagai pekerja konveksi dengan penghasilan tidak tetap
(Rp.3.000.000 – Rp3.600.000,00 per bulan). Ibu pasien bekerja sebagai
ibu rumah tangga. Pendapatan perkapita pada keluarga ini adalah
Rp.3.000.000-Rp 3.600.000.
Pasien dan keluarga pasien hidup sedehana dalam mencukupi
keperluan hidup sehari-hari. Biaya pengobatan di sarana pelayanan kesehatan
menggunakan BPJS.
Dapat disimpulkan bahwa bentuk keluarga An. L adalah extended
family. Keluarga An. L adalah keluarga yang cukup harmonis, dan
merupakan keluarga dengan perekonomian kelas menengah kebawah.

16
B. Fungsi Fisiologis (A.P.G.A.R Score)
ADAPTATION
Dalam menghadapi masalah selama ini penderita mendapatkan
dukungan berupa nasehat dari keluarganya. Jika penderita menghadapi suatu
masalah pasien akan lebih sering menceritakan kepada ibunya.
PARTNERSHIP
Komunikasi terjalin satu sama lain. Setiap ada permasalahan didiskusikan
bersama dengan anggota keluarga lainnya, komunikasi dengan anggota keluarga di
dalam rumah berjalan dengan baik.
GROWTH
Antar anggota keluarga selalu mendukung pasien. Anggota keluarga
selalu mendukung pola makan, dan pengobatan yang dianjurkan demi
kesehatan An. L.
AFFECTION
Pasien merasa hubungan kasih sayang dan interaksi dengan ibu dan
pamannya berjalan dengan lancar. Akan tetapi pasien kurang berinteraksi dan
berhubungan dengan ayahnya. Pasien juga sangat menyayangi keluarganya, begitu
pula sebaliknya. Dalam hal mengekspresikan perasaan atau emosi, antar
anggota keluarga berusaha untuk selalu jujur. Apabila ada hal yang tidak
berkenan di hati, maka anggota keluarga akan mencoba untuk segera
menyampaikan tanpa dipendam, sehingga permasalahan dapat segera selesai.
Keluarga saling menyayangi tampak dari percakapan mereka yang luwes dan
sering bercanda saat peneliti melakukan home visit.
RESOLVE
Rasa kasih sayang yang diberikan kepada pasien cukup, baik dari keluarga
maupun dari saudara-saudara. Pasien merasa senang apabila ayahnya pulang dan
berkumpul di rumah bersama.
Untuk menilai fungsi fisiologis keluarga ini digunakan A.P.G.A.R Score
dengan nilai hampir selalu = 2, kadang = 1, hampir tidak pernah = 0.
A.P.G.A.R Score dilakukan pada masing-masing anggota keluarga dan
kemudian dirata-rata untuk menentukan fungsi fisiologis keluarga secara

17
keseluruhan. Nilai rata-rata 1-4 = jelek, 4-6 = sedang, 7-10 = baik. Penilaian
A.P.G.A.R.

Tabel 3.1. Nilai APGAR dari Keluarga An. E


A.P.G.A.R An. L Ny. N Sdr. A
A Saya puas bahwa saya dapat 2 2 1
kembali ke keluarga saya bila
saya menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara 2 1 1
keluarga saya membahas dan
membagi masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara 1 2 2
keluarga saya menerima dan
mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
A Saya puas dengan cara 1 2 1
keluarga saya
mengekspresikan kasih
sayangnya dan merespon emosi
saya seperti kemarahan,
perhatian dll.
R Saya puas dengan cara 1 1 2
keluarga saya dan saya
membagi waktu bersama-sama
TOTAL 7 8 7

Rerata nilai skor APGAR keluarga An. L adalah (7+8+7)/3 = 7.3. Secara
keseluruhan total poin dari skor APGAR keluarga pasien adalah 22, sehingga
rata-rata skor APGAR dari keluarga pasien adalah 7.3. Hal ini menunjukkan
bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga pasien berada dalam keadaan
baik.

C. FUNGSI PATOLOGIS (S.C.R.E.E.M)


Fungsi patologis dari keluarga An. dinilai dengan menggunakan
S.C.R.E.E.M sebagai berikut :

Tabel 3.2. Nilai SCREEM dari keluarga pasien


Sumber Patologi Ket
Social Interaksi yang baik antara anggota keluarga serta masyarakat -

18
sekitar.
Cultural Dalam sehari-hari keluarga ini menggunakan kultur Banyumas, -
hal ini terlihat pada pergaulan mereka sehari – hari yang
menggunakan bahasa Jawa daerah Banyumasan.
Religion Pemahaman agama baik. Penerapan ajaran juga baik, hal ini dapat -
dilihat dari pasien dan keluarga rutin menjalankan sholat lima
waktu di rumahnya, walaupun pasien kadang masih belum lengkap
sholatnya.
Economic Ekonomi keluarga ini tergolong kelas menengah kebawah, untuk +
kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi, meski belum mampu
mencukupi kebutuhan sekunder, diperlukan skala prioritas untuk
pemenuhan kebutuhan hidup.
Education Pendidikan anggota keluarga kurang. Latar belakang pendidikan
kakek dan nenek pasien adalah SD. Pengetahuan keluarga pasien +
tentang penyakit yang diderita pasien kurang baik.
Medical Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga menggunakan -
pelayanan puskesmas dengan jenis pembiayaannya menggunakan
KIS.
Keterangan :
1. Economic (+) artinya keluarga An. E tergolong ekonomi menengah
kebawah dengan pendapatan total satu juta rupiah perbulan (pendapatan
perkapita ± Rp200.000,00).
2. Education (+) dalam arti keluarga An. E mempunyai pendidikan dan
pengetahuan yang kurang mengenai penyakit yang diderita oleh pasien.
Kesimpulan :
Pada keluarga An. E fungsi patologis yang positif adalah fungsi ekonomi
dan pendidikan/ edukasi.
D. Family Genogram

Gambar 3.1. Genogram keluarga An. E

Keterangan:
: Pasien

19
: Perempuan
: Laki-laki ----- : tinggal satu rumah
: skabies

20
E. Pola Interaksi Keluarga

An. E

Tn. S Ny.W

Sdr. R Nn. J

Gambar 3.2. Pola Interaksi Keluarga An. E


Keterangan : hubungan baik
Sumber : Data Primer

Kesimpulan :
Hubungan antara anggota keluarga di keluarga An. E dinilai harmonis
dan saling mendukung.
IV. IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN

A. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga


1. Faktor Perilaku
Pasien merupakan seorang anak berusia 11 tahun dan seorang anak
tunggal. Setiap hari pasien tidur sekamar bersama dengan neneknya.
Pasien sering sekali main diluar bersama dengan teman-teman sebayanya.
Pasien jarang mencuci tangan dan kaki setelah bermain dengan teman-
temannya dan kamar jarang diganti spreinya.
Selain itu, kebersihan dan kerapihan kamar pasien juga kurang terjaga
baik oleh pasien sendiri ataupun oleh keluarganya. Kasur dijemur setiap 1
bulan sekali. Pengetahuan pasien dan keluarga mengenai penyakit skabies
masih sangat kurang.
2. Faktor Non Perilaku
Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga kelas
menengah kebawah. Keluarga ini memiliki sumber penghasilan dari
kakek dan nenek pasien yang bekerja sebagai buruh dan pedagang dengan
penghasilan yang tidak menentu, berkisar Rp1.400.000,00 per bulan.
Rumah yang dihuni keluarga ini memiliki luas berkisar 5x6 m2, terdapat
jendela yang jarang dibuka, lantai plesteran semen serta dapur yang masih
menggunakan api tungku, serta tidak memiliki jamban dan septic tank.
Pasien termasuk keluarga dengan latar belakang pendidikan yang
kurang karena kedua kakek dan neneknya pendidikan hanya sampai dengan
SD, sedangkan pasien sendiri masih berstatus sebagai siswa SD. Hal tersebut
mempengaruhi pengetahuan dan pemahaman pasien mengenai kesehatan.
Edukasi :
Kurangnya perilaku
pasien mengenai
higienitas personal
Sikap/ Perilaku: Ekonomi :
akibat pengetahuan
Pasien jarang mandi Golongan ekonomi
rendah.
setelah melakukan menengah kebawah 
aktivitas (bermain) di Edukasi kurang 
luar rumah. Higienitas kurang.
Pasien sering bermain
diluar di tempat yang
kotor dan kurang
higienis.
Tidak menghiraukan Lingkungan :
penyakit karena Kondisi rumah dan
menganggap hanya gatal Keluarga An. N lingkungan yang tidak
biasa. sehat.

Gambar 4.1. Faktor Perilaku dan Nonperilaku Keluarga


Keterangan :
= Faktor Perilaku
= Faktor Non-Perilaku

B. Identifikasi Lingkungan Rumah


1. Gambaran Lingkungan
Pasien tinggal di Desa Kedungwringin RT 01 RW 03, Kecamatan
Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Pasien tinggal di sebuah rumah
dengan luas bangunan 5x6 m2. Jumlah penghuni rumah 5 orang. Lantai
rumah pasien masih menggunakan plesteran semen dan sebagian tanah.
Dinding rumah menggunakan tembok dan anyaman bambu di bagian
belakang, sedangkan atap menggunakan genting tanpa langit-langit
(plafon). Rumah pasien memiliki 2 kamar tidur, 1 ruang tamu sekaligus
ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi yang berada di luar menyatu
dengan sumur. Kesan pencahayaan kurang karena jendela jarang dibuka
dan hanya berada di ruang utama. Kamar mandi tanpa jamban kloset.
Sumber air yang didapat berasal dari sumur. Tempat sampah rumah ini
dibiarkan terbuka di belakang rumah untuk nantinya dibakar jika sudah
penuh. Rumah yang dihuni keluarga ini memiliki ventilasi cukup, sirkulasi
udara cukup, tetapi pencahayaan dan kebersihan dari rumah ini juga kurang
terjaga.
Kesan: kebersihan rumah dan lingkungannya belum adekuat.
2. Denah Rumah

Gambar 4.2. Denah Rumah An. E


Keterangan:
V. DAFTAR MASALAH DAN PEMBINAAN KELUARGA

A. Masalah medis :
1. Skabies

B. Masalah nonmedis :
1. Pendapatan perkapita yang relatif rendah (Rp200.000,00).
2. Pasien jarang mandi setelah bermain di luar dan sering bermain di tempat
yang kotor.
3. Pasien dan keluarga belum mengetahui faktor resiko, pola penularan, dan
pengobatan skabies.
4. Perilaku keluarga pasien yang jarang membuka jendela rumah dan
membersihkan rumah, serta membakar sampah rumah tangga.

C. Diagram Permasalahan Pasien

Kurangnya
pengetahuan baik
pasien maupun
keluarga mengenai
skabies

Belum mengetahui faktor


Ekonomi
An. E, 11 tahun risiko, pola penularan, dan
menengah ke
Skabies pengobatan skabies
bawah

Keadaan dan kebersihan


lingkungan rumah yang kurang
sehat

Gambar 5.1. Hubungan Penyakit dengan Faktor Risiko


D. Matrikulasi Masalah
Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks:
Tabel 5.1. Matrikulasi Masalah
No. Daftar Masalah I T R Jumlah
P S SB Mn Mo Ma IxTxR
1 Pengetahuan tentang penyakit 5 5 5 4 5 4 5 93,33
rendah
2 Perilaku anak jarang mandi 5 5 4 3 4 5 5 65,38
3 Kondisi rumah dan lingkungan 5 5 4 3 2 1 1 18,62
sekitar yang tidak sehat
4 Kondisi ekonomi keluarga adalah 4 5 5 1 1 1 1 4,67
kelas menengah kebawah
Keterangan:
I : Importancy (pentingnya masalah)
P : Prevalence (besarnya masalah)
S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
T : Technology (teknologi yang tersedia)
R : Resources (sumber daya yang tersedia)
Mn : Man (tenaga yang tersedia)
Mo : Money (sarana yang tersedia)
Ma : Material (ketersediaan sarana)
Kriteria penilaian:
1 : tidak penting
2 : agak penting
3 : cukup penting
4 : penting
5 : sangat penting
E. Prioritas Masalah
Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah
keluarga An. E adalah sebagai berikut :
1. Pengetahuan tentang penyakit rendah
2. Perilaku anak jarang mandi
3. Kondisi rumah dan lingkungan sekitar yang tidak sehat
4. Kondisi ekonomi keluarga adalah kelas menengah kebawah
Prioritas masalah adalah tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang
penyakit yang diderita masih rendah
VI. RENCANA PEMBINAAN KELUARGA

A. Rencana Pembinaan Keluarga


1. Tujuan
Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit skabies terutama mengenai
sumber penularan, tanda-gejala, serta penanganan dan pencegahan secara
komprehensif.
Tujuan Khusus
Mengubah perilaku pasien dan keluarga dalam menjaga kebersihan dan
kesehatan anggota keluarga
2. Cara Pembinaan
Pembinaan dilakukan di rumah pasien dalam waktu yang sudah ditentukan
bersama dengan cara memberikan penyuluhan serta edukasi pada pasien
dan keluarga. Penyuluhan dan edukasi dilakukan dalam suasana santai
sehingga materi yang disampaikan dapat diterima lebih mudah.
3. Materi Pembinaan
Materi utama pada penyuluhan dan edukasi yang diberikan kepada pasien
dan keluarga adalah mengenai pengertian, penyebab, cara penularan, tanda
dan gejala, serta penanganan dan pencegahan skabies. Materi selanjutnya
adalah mengenali tanda-tanda komplikasi berupa infeksi bakteri pada
skabies serta hubungannya dengan higienitas dan sanitasi.
4. Sasaran Pembinaan
Sasaran dari pembinaan yang dilakukan adalah pasien beserta seluruh
anggota keluarga pasien yang tinggal di rumah tersebut sebanyak 5 orang.
5. Evaluasi Pembinaan
Evaluasi yang dilakukan adalah dengan memberikan beberapa pertanyaan
mengenai materi yang telah disampaikan sebelumnya kepada pasien dan
keluarga. Jika salah satu dari anggota keluarga ada yang bisa menjawab,
maka dianggap mereka sudah memahami materi yang telah disampaikan
sebelumnya dan dapat saling mengingatkan antar anggota keluarga.
F. Hasil Pembinaan Keluarga
Tabel 6.1 Hasil Pembinaan Keluarga
No Tanggal Kegiatan yang Anggota keluarga Hasil kegiatan
dilakukan yang terlibat
1 5 Oktober1. Pasien dan Pasien bersedia
2018 Membina hubungan saling keluarga untuk dikunjungi
percaya dengan pasien, lebih lanjut untuk
diantaranya perkenalan dipantau
dan bercerita mengenai perkembangannya.
kehidupan sehari-hari.
2.
Mendiskusikan dengan
pasien untuk
kedatangan berikutnya.
2 9 Oktober Menggali pengetahuan Pasien dan Pasien dan keluarga
2018 dan pemahaman pasien keluarga memahami tentang
dan keluarga tentang penyakit skabies
penyakitnya. serta pentingnya
perilaku sehat
Memberikan penjelasan
mengenai pengertian,
penyebab, tanda dan
gejala, cara penularan
serta penatalaksanaan
skabies.

Mengevaluasi pengetahuan
dan pemahaman pasien
dan keluarga tentang
penyakitnya.

G. Hasil Evaluasi
1. Evaluasi Formatif
Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada 5 orang yang terdiri dari,
pasien An. E, kakek pasien Tn. S, nenek pasien Ny. W, paman pasien Sdr.
R dan tante pasien Nn. J. Metode yang digunakan berupa konseling
edukasi tentang penyakit skabies mulai dari definisi, etiologi, faktor risiko,
cara pemakaian obat, cara penularan, edukasi PHBS serta pencegahan bagi
orang yang berada di sekitar An. E terutama yang tinggal serumah dengan
pasien.
2. Evaluasi Promotif
Sasaran konseling sebanyak 5 orang yaitu, pasien, kakek pasien,
nenek pasien, paman pasien dan tante pasien.Waktu pelaksanaan kegiatan
pada 9 Oktober 2018 di rumah pasien. Konseling berjalan dengan lancar
dan pasien merasa puas karena merasa lebih diperhatikan dengan adanya
kunjungan ke rumahnya untuk memberikan edukasi tentang penyakit yang
sedang di derita An. E
3. Evaluasi Sumatif
Sebelum dilakukan konseling pasien dan keluarga mengaku belum
memahami penyakit yang diderita An. E (30%) sehingga dengan adanya
konseling pasien merasa puas dan senang karena menjadi lebih paham
tentang penyakitnya (80%).
VII. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan
sensitisasi terhadap Sarcoptes scabei var. hominis dan produknya. Nama lain
skabies adalah the itch, kudis, budukan dan gatal agogo (Handoko, 2013).
Skabies merupakan infestasi ektoparasit yang disebabkan oleh tungau
Sarcoptes scabei var. hominis yang termasuk pada kelas Arachnida. Transmisi
skabies terjadi akibat transfer tungau betina fertil melalui kontak kulit secara
langsung yang bersifat prolong (sekitar 5 menit) dengan orang yang telah
terinfeksi skabies (CLAPH, 2009; Oakley, 2012).

B. Epidemiologi
Skabies ditemukan hampir di semua negara dengan prevalensi
bervariasi. Prevalensi skabies di negara berkembang sekitar 6-27% populasi
umum dan cenderung tinggi pada anak-anak dan remaja. Skabies merupakan
penyakit endemik pada banyak masyarakat. Penyakit ini dapat mengenai semua
ras dan golongan di seluruh dunia. Penyakit skabies banyak dijumpai dengan
insidensi sama pada pria dan wanita. Insiden skabies di negara berkembang
menunjukkan siklus fluktuasi yang belum dapat dijelaskan (Harahap, 2000).
Menurut Departemen Kesehatan RI, prevalensi skabies pada tahun 1986
adalah 4,6-12,9% dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit
tersering. Pada bagian kulit dan kelamin FKUI/RSCM pada tahun 1988,
dijumpai 734 kasus skabies (5,77%) dari seluruh kasus baru. Prevalensi skabies
sangat tinggi pada lingkungan dengan tingkat kepadatanpenduduk yang tinggi
dan kebersihan yang kurang memadai (Depkes RI, 2000).
Saat ini, transmisi skabies dapat terjadi pada semua tingkat sosioekonomi
dan bukan merupakan akibat dari higien yang buruk. Hal ini lebih berkaitan
dengan kesejahteraan dan kepadatan penduduk. Pada anak, transmisi skabies
umum terjadi di tempat penitipan anak dan sekolah, sementara pada orangtua
umum terjadi di panti jompo (Oakley, 2012).

C. Etiopatogenesis
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo
Ackarina, superfamili Sarcoptes. Secara morfologik, Sarcoptes scabiei
merupakan tungau kecil, berbentuk oval dengan punggung cembung dan perut
rata. Tungau ini transient, berwarna putih, kotor, dan tidak bermata. Ukuran
tungau betina antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan tungau
jantan berukuran lebih kecil, yaitu 200-240 mikron x 150—200 mikron.
Bentuk tungau dewasa memiliki 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai
alat melekat dan 2 pasang kaki kedua berakhir dengan rambut pada tungau
betina dan berakhir dengan pelekat pada tungau jantan (Handoko, 2013).
Secara umum, tungau ini memerlukan kulit manusia untuk
menyelesaikan siklus hidupnya dan tidak dapat bertahan hidup di luar tubuh
pejamu pada suhu ruangan lebih dari 3-4 hari. Siklus hidup tungau ini melalui
stadium telur, larva, nimfa, dan dewasa. Telur diletakkan di sepanjang rambut
dan mengikuti tumbuhnya rambut. Setelah kopulasi yang terjadi di atas kulit,
tungau jantan akan mati sementara tungau betina akan hidup hingga 4-6 hari
dan menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan
kecepatan 2-3 mm/hari dan sambil meletakkan telur sebayak 2 atau 4 butir/hari
sampai berjumlah 40 atau 50. Telur kemudian akan menetas dalam waktu 3-5
hari dan kemudian menjadi larva. Larva dapat bertahan hidup dalam
terowongan atau keluar ke permukaan kulit. Setelah 2-3 hari, larva akan
menjadi nimfa jantan atau betina dan memiliki 3 pasang kaki. Seluruh siklus
hidup tungau ini dari mulai telur hingga dewasa memerlukan waktu 8-12 hari
(Handoko, 2013). Kelainan kulit yang muncul disebabkan karena pengaruh liur
dan ekskreta dari kutu yang dimasukkan ke dalam kulit saat menghisap darah
dan perilaku pasien yang menggaruk lesi (CLAPH, 2009; Handoko, 2013).
Gambar. Siklus hidup Sarcoptes scabiei (CLAPH, 2009).

D. Gejala Klinis
Penderita skabies selalu merasa gatal, terutama pada malam hari.
Predileksi biasanya pada sela jari tangan, pergelangan tangan, ketiak, sekitar
pusat, paha bagain dalam, genitalia pria, areola mammae wanita, perut bagian
bawah dan bokong. Pada bayi sering pada kepala, telapak tangan, dan kaki
(Siregar, 2005).
Gejala klinis didasarkan pada jenis skabies yang diderita (CLAPH,
2009):
1. Skabies tipikal
Pasien dengan skabies tipikal biasanya hanya memiliki 10-15 tungau
betina hidup pada tubuh dalam waktu tertentu. Hanya sekitar 2 atau 3
tungau, lebih sering tidak ada tungau yang ditemukan dari kerokan kulit.
Pruritus hebat, memberat saat malam hari dan lesi papular dengan atau
tanpa kanalikuli ditemukan pada kulit pasien. Lesi dan pruritus muncul
sebagai reaksi hipersensitivitas lambat yang dimediasi sistem imun terhadap
tungau, telur, dan material fecal tungau. Area tubuh yang umumnya terkena
adalah pergelangan tangan, sela jari, lipat siku, ketiak, sekitar payudara dan
genital, pinggang, perut bawah, serta bokong.
Gambar. Lesi pada skabies tipikal (CLAPH, 2009)
2. Skabies atipikal
Ketika diagnosis dan pengobatan ditunda, skabies dapat memiliki
penampakan tidak umum atau atipikal, dengan infestasi ratusan hingga
ribuan tungau. Penampakan klinis skabies atipikal sering didapatkan pada
orang-orang di suatu institusi atau pasien dengan kondisi supresi imun
akibat penyakit lain atau terapi obat tertentu. Lesi kulit berupa
hiperkeratotik luas dengan pembentukan krusta atau skuama dan sering
disebut skabies krustosa atau skabies Norwegia. Skabies jenis ini sangat
infeksius karena ribuan tungau terdapat pada krusta tebal yang mudah lepas
dari kulit. Rasa gatal yang dialami biasanya bersifat minimal (CLAPH,
2009).

Gambar. Lesi pada skabies atipikal (CLAPH, 2009)


E. Penegakan Diagnosis
Penegakan diagnosis dapat dilakukan dari anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Berdasarkan anamnesis, diagnosis skabies dapat ditetapkan dengan
terpenuhinya 2 dari 4 tanda kardinal sebagai berikut (Handoko, 2013):
3. Pruritus nocturna, yaitu gatal pada malam hari yang disebabkan karena
aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu pada suhu lembab dan panas.
4. Penyakit menyerang manusia secara kelompok, misalnya pada sebuah
keluarga atau pada perkampungan dengan padat penduduk. Dapat terjadi
gejala hiposensitisasi, yaitu seluruh anggota keluarga terkena. Walaupun
mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini
bersifat sebagai pembawa.
5. Ditemukannya terowongan (kanalikulus) pada tempat predileksi yang
berwarna putih atau keabuan, berberntuk garis lurus atau berbelok, rata-rata
sepanjang 1 cm, pada ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel. Jika
timbul infeksi sekunder, ruam kulit menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi,
dan lain-lain).
6. Menemukan tungau dari terowongan pada pemeriksaan mikroskopis.
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan lesi kulit berupa terowongan
(kanalikuli) berwarna putih atau abu-abu dengan panjang rata-rata 1 cm. Ujung
terowongan terdapat papul, vesikel, dan bila terjadi infeksi sekunder, maka
akan terbentuk pustul, ekskoriasi, dsb. Pada anak-anak, lesi lebih sering berupa
vesikel disertai infeksi sekunder akibat garukan sehingga lesi menjadi
bernanah.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan menemukan tungau dari lesi. Beberapa
cara dapat dilakukan untuk menemukan tungau sebagai berikut :
1. Papul atau vesikel di ujung terowongan dicongkel dengan jarum dan
hasilnya diletakkan di atas kaca objek lalu ditutup dengan kaca penutup dan
dilihat di bawah mikroskop.
2. Dengan cara menyikat lesi dan ditampung di atas kertas putih untuk
kemudian dilihat di bawah kaca pembesar.
3. Membuat biopsi irisan dengan menjepit lesi menggunakan 2 jari lalu dibuat
irisan tipis dengan pisau dan diperiksa di bawah mikroskop.
4. Membuat biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan HE.
F. Diagnosis Banding
Skabies sering disebut sebagai the great imitator karena dapat
menyerupai banyak penyakit kulit lain dengan keluhan gatal. Beberapa
diagnosis banding diantaranya creeping eruption, prurigo, pedikulosis korporis,
dan apabila telah terjadi infeksi sekunder dapat didiagnosis banding dengan
pioderma seperti impetigo.
b. Creeping eruption
Creeping eruption merupakan kelainan kulit yang berbentuk linier atau
berkelok, menimbul, dan progresif akibat invasi larva cacaing tambang yang
berasal dari kucing atau anjing. Larva menembus kulit tapi tidak mencapai
pembuluh darah. Pada tempat masuk larva terdapat papula yang selanjutnya
menjalar berkelok, polisiklik, serpiginosa sehingga tampak sebagai
terowongan berkelok yang menimbul. Penderita akan merasa gatal dan
nyeri. Predileksi penyakit ini biasanya pada tungkai, plantar, tangan, anus,
bokong, dan paha juga bagian tubuh lain yang sering berkontak dengan
tempat larva berada (Siregar, 2005; Handoko, 2013).
c. Prurigo Hebra
Prurigo hebra adalah penyakit kulit kronik yang dimulai sejak bayi
atau anak-anak. Kelainan kulit terdiri atas papul-papul miliar berbentuk
kubah sangat gatal, lebih mudah diraba daripada dilihat, terutama pada
ekstensor ekstremitas (Handoko, 2013).
Kelainan yang khas berupa adanya papul miliar tidak berwarna
berbentuk kubah, mudah diraba, dan sangat gatal. Garukan yang terus
menerus mengakibatkan erosi, ekskoriasi, krusta, hiperpigmentasi, dan
likenifikasi, dan infeksi sekunder. Predileksi tersering pada bagian ekstensor
dan simetrik, dapat meluas ke bokong dan perut, serta wajah. Pembesaran
kelenjar getah bening regional dapat ditemukan meskipun tidak ada tanda
infeksi (Handoko, 2013).
d. Pediculosis korporis
Pediculosis korporis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh
Pediculus humanus var. corporis. Umumnya hanya ditemukan kelainan
berupa bekas garukan pada badan, karena gatal baru berkurang dengan
garukan intensif. Kadang terjadi infeksi sekunder dan pembesaran kelenjar
getah bening regional. Kelainan kulit yang timbul diakibatkan pengaruh air
liur dan ekskreta kutu pada waktu menghisap darah (Handoko, 2013).
e. Pioderma
Pioderma adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus,
Streptococcus, atau keduanya yang menimbulkan manifestasi berupa pus.
Pioderma primer terjadi pada kulit yang sebelumnya normal. Gambaran
klinis dapat berupa eritema dan vesikel dengan krusta atau bula. Pioderma
sekunder muncul pada penyakit kulit yang telah terinfeksi sebelumnya.
Gambaran klinisnya tidak khas dan mengikuti penyakit yang telah ada
berupa tanda impetigenisata, yaitu terdapat pus, pustul, bula purulen, krusta
berwarna kuning kehijauan, pembesaran kelenjar getah bening regional,
leukositosis, dan dapat pula disertai demam (Handoko, 2013).

G. Penatalaksanaan
1. Konseling dan edukasi
Edukasi yang dapat diberikan bertujuan untuk memberi pemahaman
bersama agar upaya eradikasi skabies dapat tercapai. Salah satu bentuk
edukasi yang diberikan adalah mengenai perbaikan higien diri dan
lingkungan seperti (Handoko, 2013):
a. Tidak menggunakan peralatan pribadi secara bersma-sama dan alas tidur
diganti bila ternyata pernah digunakan oleh penderita skabies.
b. Menghindari kontak langsung dengan penderita skabies.
c. Membersihkan semua benda yang berpotensi menjadi tempat penyebaran
penyakit.
Edukasi lain adalah mengenai pengobatan skabies yang memiliki
prinsip mengobati seluruh anggota keluarga, termasuk penderita yang
hiposensitisasi serta penggunaan masing-masing obat(Handoko, 2013).
2. Obat topikal
Obat topikal yang umum diberikan kepada pasien skabies antara lain
(Handoko, 2013):
a. Belerang endap (sulfur presipitatum) dengan kadar 4-20% dalam bentuk
salep atau krim. Preparat ini tidak efektif terhadap stadium telur, maka
penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari. Kekurangan lain adalah
berbau dan mengotori pakaian dan kadang menimbulkan iritasi. Sediaan
ini dapat dipakai pada bayi berumur kurang dari 2 tahun.
b. Emulsi benzil-benzoas 20-25% efektif terhadap semua stadium,
diberikan setiap malam selama 3 hari. Obat ini sulit diperoleh, sering
menyebabkan iritasi, dan kadang makin gatal setelah dipakai.
c. Gama benzena heksa klorida (gameksan) 1% dalam bentuk krim atau
losion, efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan, dan jarang
menimbulkan iritasi. Obat ini tidak dianjurkan untuk ibu hamil dan anak
di bawah 6 tahun karena toksis terhadap susunan saraf pusat. Pemberian
cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala pemberian diulang seminggu
kemudian.
d. Krotamiton 10% dalam krim atau losion, mempunyai dua efek sebagai
antiskabies dan antipruritus. Obat ini tidak boleh terkenan mata, mulut,
dan urethra.
e. Permethrin 5% dalam sediaan krim, kurang toksik dibandingkan
gameksan, efektivitas sama dengan gameksan, aplikasi hanya satu kali
dan dihapus dalam waktu 10 jam. Bila belum sembuh dapat diulang
setelah seminggu. Tidak dianjurkan untuk bayi di bawah 2 bulan.

H. Prognosis
Prognosis skabies baik apabila memperhatikan pemilihan dan cara
pemakaian obat, syarat pengobatan, dan menghilangkan faktor predisposisi
(higiene). Penyakit skabies dapat diberantas dengan melakukan
penatalaksanaan terhadap lingkungan (Handoko, 2013).

VII. PENUTUP

A. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa An. E adalah seorang pasien yang
didiagnosis skabies.
1. Aspek Personal
Idea : Pasien mengeluhkan gatal-gatal pada tangan.
Concern : Pasien merasa gatal semakin memberat, nenek pasien
khawatir kondisi pasien semakin memburuk.
Expectacy : Pasien dan nenek pasien mempunyai harapan agar
penyakit pasien dapat segera sembuh dan dapat segera
bersekolah kembali.
Anxiety : Pasien tidak nyaman terasa gatal serta nyeri, karena sering
menggaruk-garuk terutama pada malam hari sehingga sulit
tidur, selain itu karena luka pada tangannya pasien menjadi
tidak bisa beraktivitas seperti menulis sehingga
mengganggu sekolah dan nenek pasien khawatir penyakit
pasien menjadi kambuh-kambuhan.
2. Aspek Klinis
a. Diagnosis
i. Skabies
ii. Status gizi baik
b. Gejala klinis yang muncul
Gatal pada tangan, memberat pada sore dan malam hari, tidak
mereda dengan pemakaian obat, nenek pasien mengalami keluhan
serupa.
c. Diagnosa banding
Dermatitis venenata, cutaneus larvae migran, mikosis
supervisialis, eczema.
3. Aspek Faktor Risiko Intrinsik Individu
a. Seorang anak laki-laki 11 tahun, pelajar SD.
b. Jarang mandi setelah beraktivitas bermain di
luar.
4. Aspek Faktor Risiko Ekstrinsik Individu
a. Pendidikan keluarga pasien tidak cukup memadahi untuk mengetahui
tentang penyakit yang diderita pasien.
b. Pendapatan dan keadaan ekonomi keluarga pasien termasuk menengah
ke bawah.
c. Kondisi hunian tidak memenuhi kriteria rumah sehat dan buruknya
lingkungan, antara lain pencahayaan, ventilasi, dinding, lantai, dan
plafon, kebersihan dan keadaan lingkungan rumah secara umum yang
kurang sehat.
5. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial
Skala penilaian fungsi sosial pasien adalah 3, karena pasien
mengalami kesulitan dalam aktivitas sekolah, dalam hal ini belajar mulai
terganggu namun pasien masih dapat melakukan pekerjaan ringan sehari-
hari didalam dan di luar rumah.
6. Identifikasi Masalah dan Pembinaan
Berdasarkan identifikasi masalah pada An. E dan keluarganya
mengacu pada permasalahan edukasi sebagai faktor utama. Pembinaan
mengarah pada pengetahuan tentang penyakit yang diderita oleh An. E dan
dilakukan terhadap pasien serta keluarga dengan awal presentase sebelum
pembinaan adalah sebesar 30% atau masih belum mengetahui tentang
skabies, dan presentase setelah pembinaan sebesar 80% yang berarti
pembinaan berlangsung dengan hasil yang baik.
B. Saran
1. Pemberian penyuluhan dengan materi utama yang diberikan
kepada pasien dan keluarga adalah mengenai pengertian, penyebab, cara
penularan, tanda dan gejala, serta penanganan dan pencegahan skabies
secara komprehensif.
2. Penyuluhan materi selanjutnya adalah mengenali tanda-tanda
komplikasi berupa infeksi bakteri.
3. Menyarankan untuk menjaga higienitas personal dengan mandi
minimal 2 kali sehari, membersihkan tempat tidur dan alat mandi untuk
mencegah berulangnya scabies, dan sering membuka jendela agar
pencahayaan baik dan rumah tidak lembab.
DAFTAR PUSTAKA

Country of Los Angeles Public Health. 2009. Scabies Prevention and Control
Guidelines Acute and Sub-Acute Care Facilities. Los Angeles: Los
Angeles Country Department of Public Health Acute Communicable
Disease Control Program.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Buku Pedoman


Penatalaksanaan Program. Jakarta: Depkes RI.

Handoko, Ronny P. 2013. Skabies. Dalam: Adhi, Dhjuanda, Mochtar Hamzah,


dan Siti Aisah (Eds). Lmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FK UI.

Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hippokrates.

Oakley, Amanda. 2012. Scabies: Diagnosis and Management. Hamilton: BPJ.

Siregar, R.S. 2005. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. Jakarta: EGC.
DOKUMENTASI KEGIATAN

(Kondisi depan rumah An. E)

(Kondisi dapur rumah An. E)


(Atap rumah An. E genting tanpa plafon)

(Kondisi kamar mandi yang menyatu dengan sumur)


(Kondisi punggung tangan An. E)

(Kondisi telapak tangan dan sela jari An. E)

(Saat melakukan wawancara dengan An. E dan neneknya)


LAMPIRAN

Tabel Pertanyaan Pre Test dan Post Test


No Pertanyaan Menjawab Tidak Bisa Menjawab /
Benar Jawaban Salah
1 Apa yang anda ketahui tentang
skabies?
2 Apakah anda mengetahui nama
lain dari skabies?
3 Apakah anda mengetahui
penyebab dari skabies?
4 Apakah anda mengetahui
faktor risiko apa saja yang
menyebabkan terserang
skabies?
5 Apakah anda mengetahui tanda
dan gejala terserang skabies?
6 Apakah anda mengetahui
bahwa skabies menular?
7 Apakah anda mengetahui
media/cara penularan skabies?
8 Apakah anda mengetahui cara
mengobati skabies?
9 Apakah anda mengetahui cara
mencegah terserangnya
skabies?
10 Apakah jika salah satu
keluarga terkena skabies
seluruh anggota keluarga
dirumah harus berobat?

Keterangan :
Jika menjawab benar skor 10
Jika tidak bisa menjawab/ menjawab salah skor 0
Presentase nilai : Total skor x 100%
Interpretasi nilai : Buruk (<50%), Kurang (50%-70%), Baik (80%-100%).

Brosur Skabies :