Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA

MIXING

Disusun Oleh :

KELOMPOK 4 2B

1. DILA APRILIA ( 1741420056 )


2. DIVIA AMALIA ( 1741420035 )
3. HENITA INDAH S. ( 1741420079 )
4. INDIRA INASTITI N. ( 1741420035 )
5. M. FATURRAHMAN W. ( 1741420089 )
6. NAUFAL CENNA R. ( 1741420094 )

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018
I. Tujuan
a. Mempelajari proses pencampuran dalam fluida yang diselenggarakan di dalam
sistem tangki berpengaduk
b. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pencampuran

II. Dasar teori


Dalam sebuah industri, mesin merupakan peralatan yang sangat vital dimana
mesin-mesin tersebut mmenentukan kualitas dan optimalitas suatu industri. Untuk
dapat bersaing dalam pemasaran produk, dan untuk dapat memperoleh keuntungan
yang layak, industri harus bekerja secara efekif dan efisien. Cara kerja demikian
hanya dapat dicapai bila industri tersebut didukung oleh sistem manajemen yang
baik dan juga bantuan mesin dan alat penunjang produksi yang tepat (Rizkiana dan
Putra, 2012).
Proses pencampuran adalah suatu proses yang penting dilakukan dalam industri,
bahkan mesin pencampur ditemukan di hampir semua industri pengolahan pangan
maupun non pangan mulai dari pencampuran yang sederhana sampai pencampuran
yang rumit seperti pada industri farmasi. Mesin pencampur dapat digolongkan
dalam kategori mesin pengolah dalam suatu industri yang menunjang proses
pengolahan bahan menjadi produk (Rizkiana dan Putra, 2012).
Pencampuran diartikan sebagai suatu proses menghimpun dan membaurkan bahan-
bahan. Dalam hal ini diperlukan gaya mekanik untuk menggerakkan alat
pencampur supaya pencampuran dapat berlangsung dengan baik (Lubis, 2012).
Proses pencampuran banyak dilakukan di dalam industri pangan, seperti
pencampuran susu dengan coklat, tepung dengan gula, larutan gula dengan
konsentrat buah-buahan, atau CO2 dengan air, dan kegiatan pencampuran
melibatkan berbagai jenis alat pencampur. Derajat keseragaman pencampuran
diukur dari sampel yang diambil selama pencampuran, jika komponen yang
dicampur telah terdistribusimelalui komponen lain secara random, maka dikatakan
pencampuran telah berlangsung dengan baik (Wirakartakusumah, 1992 dalam
Hilmawan, 2011).
Proses pencampuran sendiri dapat dilakukan dengan proses pengadukan. Dimana
Pengadukan adalah operasi yang menciptakan terjadinya gerakan didalam bahan
yang diaduk. Tujuan dari pada operasi pengadukan terutama adalah terjadinya
pencampuran. Pencampuran adalah suatu operasi yang bertujuan untuk mengurangi
ketidaksamaan komposisi, suhu, atau sifat yang lain yang terdapat dalam suatu
bahan atau bisa juga pencampuran adalah penggabungan dua atau lebih bahan yang
berbeda fase, seperti fluida atau padatan halus dan hal ini bertujuan untuk
mengacak yang satu terhadap yang lain sehingga terjadi distribusi. Pencampuran
dapat menimbulkan gerak didalam bahan itu yang menyebabkan bagian-bagian
bahan saling bergerak satu terhadap yang lainnya, sehingga operasi pengadukan
hanyalah salah satu cara operasi pencampuran.
Istilah pencampuran digunakan untuk berbagai ragam operasi, dimana derajat
homogenitas bahan yang “bercampur” itu sangat berbeda. Umpamanya, satu kasus,
dimana dua macam gas digabungkan dalam satu tempat hingga seluruhnya
bercampur dengan baik, dan kasus lain pasir, kerikil, dan semen diaduk didalam
drum putar selama beberapa waktu. Dalam kedua kasus itu bahan-bahan itu pada
akhirnya bercampur, namun jelas pula bahwa homogenitasnya berbeda. Cuplikan
campuran gas itu betapa pun kecilnya cuplikan itu semuanya mempunyai
komposisi yang sama. Sedang cuplikan campuran beton, dipihak lain akan sangat
berlainan komposisinya satu sama lain.
Pengadukan zat cair digunakan untuk berbagai maksud bergantung dari tujuan
langkah pengolahan itu sendiri. Tujuan pengadukan antara lain :
a. Untuk membuat suspensi partikel zat padat
b. Untuk meramu zat cair yang mampu bercampur (miscible),
umpamanya metil alkohol dan air.
c. Untuk menyebarkan (dispersi) gas di dalam zat cair dalam bentuk gelembung-
gelembung kecil
d. Untuk menyebarkan zat cair yang tidak dapat bercampur dengan zat cair yang
lain, sehingga dapat membentuk emulsi atau suspensi butiran halus
e. Untuk mempercepat perpindahan kalor zat cair dengan kumparan atau mentol
kalor.

Kadang-kadang pengaduk (agitator) digunakan beberapa tujuan sekaligus seperti


dalam hidrogenasi katalitik dari pada zat cair. Dalam bejana hidrogenasi gas
hidrogen di dispersi melalui zat cair dimana terdapat partikel-partikel katalis padat
dalam suatu keadaan suspensi, sementara kalor reaksi diangkut keluar melalui
kumparan atau mantel.
Beberapa tujuan dari pengadukan fluida adalah:
1. Mencampurduacairan yang miscible, sepertietilalkoholdan air.
2. Melarutkan padatan dalam cairan, seperti oksalat dan air.
3. Mendispersikan gas dalam cairan dalam bentuk gelembung-gelembung kecil.
Seperti oksigen dari udara dalam suatu suspensi mikroorganisme untuk
fermentasi pada saat proses pengolahan lumpur buangan.
4. Mendispersikan gas dalam cairan dalam bentuk gelembung-gelembung kecil.
Seperti oksigen dari udara dalam suatu suspensi mikroorganisme untuk
fermentasi pada saat proses pengolahan lumpur buangan.
5. Pengadukan fluida untuk menaikkan transfer panas diantara fluida dan suatu
coil atau jacket dalam dinding tangki.

Agitasi atau mixing adalah salah satu dari operasi-operasi tertua dan paling sering
dijumpai dalam teknik kimia. Agitasi digunakan di dalam banyak aplikasi,
termasuk:
1. Disperse suatu zat terlarut melalui suatu pelarut.
2. Penyatuanduacairan yang dapatdicampur
3. Produksi slurry dari padatan halus didalam suatu cairan
4. Pencampuran reaktan-reaktan dalam suatu reactor.
5. Pengadukan cairan homogen untuk meningkatkan heat transfer ke cairan
Peralatan pengaduk/agitasi mempunyai bentuk yang bermacam-macam, karena
banyaknya variasi aplikasi yaitu:
1. Axial flow impeller dengan penstabil arah aliran pada ujung-ujungnya.
2. Flat blade turbine yang menghasilkan aliran turbulen pada arah radial, tapi
membutuhkan power yang lebih besar.
3. Turbine, digunakansebagai agitator.
4. Anchor impeller, digunakan untuk tingkat turbulensi yang rendah.
5. Helical impeller, digunakanuntukmenyatukancampuranpadat-
cairatauuntukmengaduk pasta, lumpurdanadonan.

TangkiPengaduk
Yang dimaksud dengan tangki pengaduk (tangki reaksi) adalah bejana pengaduk
tertutup yang berbentuk silinder, bagian alas dan tutupnya cembung. Tangki pengaduk
terutama digunakan untuk reaksi-reaksi kimia pada tekanan diatas tekanan atmosfer dan
pada tekanan vakum, namun tangki ini juga sering digunakan untuk proses yang lain
misalnya untuk pencampuran, pelarutan, penguapan ekstraksi dan kristalisasi.
Untuk pertukaran panas, tangki biasanya dilengkapi dengan mantel ganda yang di
las atau di sambung dengan flens atau dilengkapi dengan kumparan yang berbentuk
belahan pipa yang dilas. Untuk mencegah kerugian panas yang tidak dikehendaki
tangki dapat diisolasi.
Hal penting dari tangki pengaduk, antara lain :
1. Bentuk: pada umumnya digunakan bentuk silinder dan bagain bawahnya cekung.
2. Ukuran: diameter dan tangki tinggi.
3. Kelengkapannya, seperti:
a. Ada tidaknya buffle, yang berpengaruh pada pola aliran didalam tangki.
b. Jacket atau coil pendingin/pemanas, yang berfungsisebagaipengendalisuhu.
c. Letak lubang pemasukan dan pengeluaran untuk proses kontinu.
d. Sumur untuk menempatkan termometer atau peranti untuk pengukuran suhu
e. Kumparan kalor, tangki dan kelengkapan lainnya pada tangki pengaduk.
(Diktat Alat Industri Kimia, halaman 43-46, 1985)

Kebutuhan daya dan baik buruknya hasil pengadukan tergantung antara lain pada
faktor-faktor berikut :
a. Jenis alat pengaduk : Bentuk, ukuran, perbandingan diameter daun pengaduk
terhadap diameter bejana pengaduk, frekuensi putaran, posisi dalam bejana
pengaduk.
b. Jenis bejana pengaduk : Bentuk, ukuran, perlengkapan di dalamnya, derajat keisian
( degree of fullness).
c. Jenis dan jumlah bahan : Viskositas, jenis campuran (larutan sejati, suspensi kasar,
suspensi halus, dan sebagainya), kerapatan, perbedaan kerapatan dalam campuran,
besar dan bentuk partikel padat yang diaduk.(Dr. Ir. Lienda Handojo, M.Eng,
Teknologi Kimia bag. 2, halaman 22-23, 1995).
III. Alat dan Bahan
Alat Bahan
 Satu set tangki berpengaduk  CaCO3
 Konduktometer  Asam Sitrat
 Beaker glass  Air
 Stopwatch

IV. Skema Kerja

CaCO3 ditimbang sebanyak 100 gr dan dilarutkan


dalam 20 L air

Campuran CaCO3 dan air dimasukkan kedalam tangki


berpengaduk

Atur impeller dengan kecepatan sedang

Konduktivitas diamati hingga tercapai nilai yang


konstan

Ditambahkan 50 gr asam sitrat kedalam tangki

Amati dan catat perubahan nilai konduktivitas pada


rentang waktu tertentu hingga bernilai konstan

Dinaikkan kecepatan impeller dan ditambahkan


kembali 50 gr asam sitrat kedalam tangki

Amati dan catat kembali perubahan nilai konduktivitas


pada rentang waktu tertentu hingga bernilai konstan
V. Data pengamatan
Variabel Asam sitrat Kapur Kecepatan putar Suhu awal Suhu akhir
percobaan (Gram) (Gram) (Rpm) (˚C) (˚C)
Variabel 1 40 50 140,8 27,1 28,5
Variabel 2 40 50 185,7 27 28,9

Pengamatan 1: Pencampuran Air + CaCO3 ---> Larutan 1

Variabel 1 Variabel 2
Waktu ke- Konduktivitas Waktu ke- Konduktivitas
(detik) (menit) (detik) (menit)
0 1 6,15 0 1 6.17
5 6,15 5 6.15
10 6,15 10 6.12
15 6,15 15 6.12
20 6,15 20 6.13
25 6,15 25 6.12
30 6,15 30 6.12
35 6,15 35 6.12
40 6,15 40 6.12
45 6,15 45 6.12
50 6,15 50 6.12
55 6,15 55 6.12
60 6,15 60 6.12
65 2 6,15 65 2 6.12
70 6,14 70 6.12
75 6,14 75 6.12
80 6,14 80 6.12
85 6,14 85 6.12
90 6,13 90 6.12
95 6,14 95 6.12
100 6,13 100 6.12
105 6,13 105 6.12
110 6,13 110 6.11
115 6,13 115 6.11
120 6,13 120 6.11
130 4 6.11
140 6.11
150 6.11
160 6.11
170 6.11
180 6.11

Pengamatan 2: Pencampuran Larutan 1 + Asam Sitrat ---> Larutan 2

Variabel 1 Variabel 2
Waktu ke- Konduktivitas Waktu ke- Konduktivitas
(detik) (menit) (detik) (menit)
0 1 6,17 0 1 6,27

5 6,25 5 6,35

10 6,43 10 6,48

15 6,43 15 6,67

20 6,46 20 6,88

25 6,49 25 6,9

30 6,54 30 7,08

35 6,56 35 7,09

40 6,61 40 7,14

45 6,64 45 7,19

50 6,66 50 7,25

55 6,68 55 7,31

60 6,69 60 7,33

65 2 6,72 65 2 7,34

70 6,74 70 7,36

75 6,75 75 7,39

80 6,76 80 7,41

85 6,8 85 7,42
90 6,81 90 7,47

95 6,82 95 7,44

100 6,84 100 7,45

105 6,85 105 7,47

110 6,85 110 7,48

115 6,87 115 7,49

120 6,88 120 7,51

130 4 6,89 130 4 7,54


140 6,91 140 7,54
150 6,93 150 7,55
160 6,94 160 7,55
170 6,94 170 7,56
180 6,96 180 7,56
190 6,97 190 7,57

200 7 200 7,60

210 7,02 210 7,66

220 7,05 220 7,66

230 7,08 230 7,67

240 7,1 240 7,67

300 5 7,1 300 5 7,67

Diketahui:
Diameter partikel (Dp) = 0,63 mm
Diameter tangki (DT) = 0,14 m
Diameter pengaduk (Da) = 0,12 m
Daya (p) =350 W
Variabel 1
Pikno kosong = 16,07 gram
Pikno + bahan = 25,98 gram
Massa bahan = 9,91 gram
𝑚 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛
Ρ Campuran =
𝑉𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
9,91 𝑔𝑟𝑎𝑚
=
10 𝑚𝑙
= 0,991 g/𝑐𝑚3
= 991 kg/𝑚3

Pencampuran Air + CaCO3 ---> Larutan 1


𝑇𝐴𝑤𝑎𝑙 25,8˚C = Density ? 𝑇𝐴𝑘ℎ𝑖𝑟 26,3˚C = Density ?
30−25,8 30−25 30−26,3 30−25
= =
995,68−𝑥 995,68−997,08 995,68−𝑥 995,68−997,08
-5,88 =-5x+4985,4 -5,18 =-5x+4985,4
X = 996,86 kg/𝑚3 X = 995,72 kg/𝑚3

𝑇𝐴𝑤𝑎𝑙 25,8˚C = Viscosity ? 𝑇𝐴𝑘ℎ𝑖𝑟 26,3˚C = Viscosity ?


28−25,8 28−26 28−26,3 30−28
= =
0,8360𝑥10−3 −𝑥 0,8360𝑥10−3 −0,8737𝑥10−3 0,8360𝑥10−3 −𝑥 0,8007𝑥10−3 −0,8360𝑥10−3

-0,08294x10−3= -2X+1,7474x10−3 -0,06409x10−3= 2X-1,6720x10−3


X = 0,8777x10−3 kg/ms X = 0,868x10−3 kg/ms

𝐷𝑎2 𝑥 𝑁 𝑥 𝜌
𝑁𝑅𝑒 awal 25,8˚C =
µ

0,122 𝑚 𝑥 1,948𝑅𝑝𝑠 𝑥 996,86 𝑘𝑔/𝑚3


=
0,8777x10−3 kg/ms

= 31859,541 (Turbulen)
𝐷𝑎2 𝑥 𝑁 𝑥 𝜌
𝑁𝑅𝑒 akhir 28,3˚C =
µ

0,122 𝑚 𝑥 1,948 𝑅𝑝𝑠 𝑥 996,72 𝑘𝑔/𝑚3


=
0,868x10−3 𝐾𝑔/𝑚𝑠

= 32211.05 (Turbulen)

p
𝑁𝑃𝑜𝑤𝑒𝑟 25,8˚C =
𝐷𝑎2 𝑥 𝑁3 𝑥 𝜌
340 𝑊
=
0,122 𝑚 𝑥 1,9483 𝑅𝑝𝑠 𝑥 996,86 𝑘𝑔/𝑚3

= 0,84438 kg 𝑚2 /𝑠 2
p
𝑁𝑃𝑜𝑤𝑒𝑟 26,3˚C =
𝐷𝑎2 𝑥 𝑁3 𝑥 𝜌
340 𝑊
=
0,122 𝑚 𝑥 1,9483 𝑅𝑝𝑠 𝑥 996,72 𝑘𝑔/𝑚3

= 0,8445 kg 𝑚2 /𝑠 2

𝐷𝑎 𝑥 𝑁2
𝑁𝐹𝑟 =
𝐺
0,12𝑚 𝑋 1,9482 𝑅𝑝𝑠
=
9,81 𝑚/𝑠 2

= 0,0464
Pencampuran Larutan 2 + Asam Sitrat
𝑇𝐴𝑤𝑎𝑙 26,2˚C = Density ? 𝑇𝐴𝑘ℎ𝑖𝑟 25,8˚C = Density ?
30−26,2 30−25 30−25,8 30−25
= =
995,68−𝑥 995,68−997,08 995,68−𝑥 995,68−997,08
-5,32 =-5x+4985,4 -5,88 =-5x+4985,4
X = 996,74 kg/𝑚3 X = 996,86 kg/𝑚3

𝑇𝐴𝑤𝑎𝑙 26,2˚C = Viscosity ? 𝑇𝐴𝑘ℎ𝑖𝑟 25,8˚C = Viscosity ?


28−26,2 28−26 28−25,8 30−28
= =
0,8360𝑥10−3 −𝑥 0,8360𝑥10−3 −0,8737𝑥10−3 0,8360𝑥10−3 −𝑥 0,8007𝑥10−3 −0,8360𝑥10−3

-0,06786x10−3= -2X+1,7474x10−3 -0,08294x10−3= 2X-1,6720x10−3


X = 0,8699x10−3 kg/ms X = 0,8777x10−3 kg/ms

𝐷𝑎2 𝑥 𝑁 𝑥 𝜌
𝑁𝑅𝑒 awal 26,3˚C =
µ

0,122 𝑚 𝑥 1,948 𝑅𝑝𝑠 𝑥 996,74𝑘𝑔/𝑚3


=
0,8699 𝑥 10−3 𝐾𝑔/𝑚𝑠

= 32141,34 (Turbulen)
𝐷𝑎2 𝑥 𝑁 𝑥 𝜌
𝑁𝑅𝑒 akhir 28,5˚C =
µ

0,122 𝑚 𝑥 1,948 𝑅𝑝𝑠 𝑥 996,86 𝑘𝑔/𝑚3


=
0,8777 𝑥 10−3 𝐾𝑔/𝑚𝑠

= 31859,541 (Turbulen)
p
𝑁𝑃𝑜𝑤𝑒𝑟 26,3˚C =
𝐷𝑎2 𝑥 𝑁3 𝑥 𝜌
350 𝑊
=
0,122 𝑚 𝑥 1,9483 𝑅𝑝𝑠 𝑥 996,74 𝑘𝑔/𝑚3

= 0,84448 kg 𝑚2 /𝑠 2
p
𝑁𝑃𝑜𝑤𝑒𝑟 25,8˚C =
𝐷𝑎2 𝑥 𝑁3 𝑥 𝜌
350 𝑊
=
0,122 𝑚 𝑥 1,9483 𝑅𝑝𝑠 𝑥 996,86 𝑘𝑔/𝑚3

= 0,84438 kg 𝑚2 /𝑠 2

Variabel 2
Pikno kosong = 16,07 gram
Pikno + bahan = 26,21 gram
Massa bahan = 10,41 gram
𝑚 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛
Ρ Campuran =
𝑉𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
10,41 𝑔𝑟𝑎𝑚
=
10 𝑚𝑙
= 1,041 g/𝑐𝑚3
= 1041 kg/𝑚3

VI. Pembahasan

Pencampuran (Mixing) merupakan suatu proses yang dilakukan dengan tujuan untuk
mengurangi ketidaksamaan komposisi, suhu atau sifat lain yang terdapat dalam suatu
bahan. Selain itu pencampuran juga digunakan untuk berbagai ragam operasi, dimana
derajat homogenitas bahan yang bercampur itu sangat berbeda-beda. Pencampuran dapat
terjadi karena adanya gerakan dari bahan tersebut.
Pada praktikum kami dengan menggunakan pengaduk berupa propeller yang di
sambungkan pada motor listrik, diperoleh data bahwa semakin cepat putaran pengaduk
maka waktu yang diperlukan untuk menghomogenkan larutan semakin cepat pula. Hal ini
dikarenakan semakin cepat perputaran pengaduk akan semakin cepat juga arus yang
ditimbulkan. Semakin cepat arus yang ditimbulkan maka semakin cepat juga tumbukan
antar partikel terjadi. Semakin cepatnya tumbukan ini akan semakin cepat pula waktu yang
diperlukan untuk menghomogenkan suatu larutan,tetapi jika terlalu cepat akan
menimbulkan pusaran (vortex) yang dapat membuat percampuran tidak sempurna.
Pada praktikum kali ini, Kami menggunakan 2 variabel kecepatan putar yaitu 140,8
Rpm untuk variabel 1 dan 256,2 Rpm untuk variabel 2. Untuk setiap variabel kami
menggunakan 2 pengamatan yaitu untuk larutan 1 mencampurkan air + CaCO3, sedangkan
untuk larutan 2, kita mencampurkan larutan 1 + Asam Sitrat. Dari percobaan kami
didapatkan hasil sebagai berikut:

Variabel 1 (140,8 Rpm)


0.855
0.85
Viskositas (Kg/ms)*10^-3

0.845
0.84
0.835
Larutan 1
0.83
Larutan 2
0.825
0.82
0.815
0.81
80
10
20
30
40
50
60
70

90
0

100
110
120
140
160
180
200
220
240

Variabel 2 (185,7Rpm)
0.86
Viskositas (Kg/ms)*10^-3

0.85

0.84

0.83 Larutan 1
Larutan 2
0.82

0.81

0.8
10
20
30
40
50
60
70
80
90
0

100
110
120
140
160
180
200
220
240

Viskositas menunjukkan tingkat kekentalan dari suatu bahan atau campuran.


Viskositas berkaitan erat dengan konsentrasi campuran. Campuran dengan konsentrasi
tinggi memiliki viskositas yang tinggi pula. Pada variabel 1 dengan kecepatan 229,8 Rpm,
pada larutan 1 didapatkan viskositas awal pada suhu 27,1˚C sebesar 0,85296x10−3 kg/ms
dan viskositas akhir pada suhu 28,4˚C sebesar 0,830705x10−3 kg/ms dengan waktu proses
selama 4 menit. Untuk larutan 2 terjadi penurunan suhu pada detik ke 0-65, dan pada detik
ke 65-300 terjadi kenaikan suhu sampai konstan di suhu 28,6˚C. Pada larutan 2 didapatkan
viskositas awal pada suhu 28,3˚C sebesar 0,8289x10−3 kg/ms dan viskositas akhir pada
suhu 28,5˚C sebesar 0,827175x10−3 kg/ms dengan waktu proses selama 5 menit.
Pada variabel 2 dengan kecepatan 185.7 Rpm, pada larutan 1 didapatkan viskositas
awal pada suhu 27˚C sebesar 0,8529x10−3 kg/ms dan viskositas akhir pada suhu 28,5˚C
sebesar 0,8271x10−3 kg/ms dengan waktu proses selama 4 menit. Untuk larutan 2 terjadi
penurunan suhu pada detik ke 0-85, dan pada detik ke 85-300 terjadi kenaikan suhu sampai
konstan di suhu 28,9˚C. Pada larutan 2 didapatkan viskositas awal pada suhu 285˚C
sebesar 0,8271x10−3 kg/ms dan viskositas akhir pada suhu 28,5˚C sebesar 0,82011x10−3
kg/ms dengan waktu proses selama 5 menit.
Dari kedua variabel dengan kecepatan putar yang berbeda, dapat dilihat bahwa nilai
viskositasnya untuk larutan 1 dari waktu ke waktu semakin rendah dikarenakan suhu pada
larutan 1 naik dari waktu ke waktu. Untuk larutan 2 nilai viskositasnya awalnya naik dari
waktu ke waktu namun pada beberapa detik kemudian dari waktu ke waktu nilai
viskositasnya turun dikarenakan terjadi perubahan suhu yang awalnya turun menjadi naik
dari waktu ke waktu. Perubahan nilai viskositas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya faktor bahan yang digunakan, suhu yang yang terjadi akibat suatu proses,
kecepatan putar yang digunakan dan lamanya waktu suatu proses berlangsung.

Variabel 1 (140.8 Rpm)


1.9046
1.9044
1.9042
Kg m^2/s^2

1.904
1.9038
Larutan 1
1.9036
Larutan 2
1.9034
1.9032
Variabel 2 (185,7 Rpm)
0.8232
0.8231
0.823
Kg m^2/s^2
0.8229
0.8228
0.8227 Larutan 1
0.8226 Larutan 2
0.8225
0.8224

Dari kedua variabel dengan kecepatan putar yang berbeda, menunjukkan hubungan
antara bilangan Reynold (NRe) dengan bilangan power (NPo) pada larutan 1 dan larutan 2.
Variabel 1 dengan kecepatan 140,8 Rpm, pada larutan 1 didapatkan NRe awal pada
suhu 27,1˚C sebesar 39365.9698 dengan Npo awalnya sebesar 1.90363kg 𝑚2 /𝑠 2 .
Untuk NRe akhir pada suhu 28,3˚C sebesar 40424.73017 dengan Npo akhirnya sebesar
1.904279 kg 𝑚2 /𝑠 2 . Untuk larutan 2, didapatkan NRe awal pada suhu 28,3˚C sebesar
40424.73017 dengan Npo awalnya sebesar 1.904279 kg 𝑚2 /𝑠 2 . Untuk NRe akhir pada
suhu 28,5˚C sebesar 40577.36948 dengan Npo akhirnya sebesar 1.9043863 kg 𝑚2 /𝑠 2 .
Untuk variabel 2 dengan kecepatan 185.7 Rpm, pada larutan 1 didapatkan NRe awal
pada suhu 27˚C sebesar 51954.03 dengan Npo awalnya sebesar 0,8226 kg 𝑚2 /𝑠 2 . Untuk
NRe akhir pada suhu 28,5˚C sebesar 53669.64 dengan Npo akhirnya sebesar 0,8230 kg
𝑚2 /𝑠 2 . Untuk larutan 2, didapatkan NRe awal pada suhu 28,5˚C sebesar 53669.64 dengan
Npo awalnya sebesar 0,8230 kg 𝑚2 /𝑠 2 . Untuk NRe akhir pada suhu 28,9˚C sebesar
54125.571 dengan Npo akhirnya sebesar 0,82313 kg 𝑚2 /𝑠 2 .
Dari kedua variabel tersebut dapat disimpulkan untuk larutan 1 menunjukkan bahwa
bilangan Reynold memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan bilangan power.
Ketika nilai bilangan Reynold semakin berkurang dari waktu ke waktu, maka bilangan
power semakin menurun. Sedangkan untuk larutan 2 bilangan Reynold memiliki hubungan
yang berbanding terbalik dengan bilangan power. Ketika nilai bilangan Reynold semakin
berkurang dari waktu ke waktu, maka bilangan power semakin naik. Dari proses ini kita
dapat mengetahui nilai NRe larutan 1 lebih tinggi dibanding NRe campuran untuk larutan
2. Karena viskositas campuran larutan 1 lebih rendah dibanding viskositas campuran
larutan 2, hal ini menyebabkan hambatan gerak yang terdapat di dalam sistem menjadi
lebih kecil, dan aliran lebih turbulen. Selain itu, viskositas yang rendah juga menyebabkan
batang pengaduk dapat dengan mudah bergerak (berputar), daya yang diperlukan untuk
operasi menjadi lebih kecil dan nilai NPo juga menjadi kecil. Dan untuk viskositas yang
tinggi, hambatan gerak di dalam sistem juga lebih besar yang mengakibatkan kebutuhan
daya lebih tinggi.
Dari tabel lampiran terlihat bahwa larutan yang memiliki konsentrasi tinggi
memerlukan daya yang lebih besar untuk proses pengadukan dan pencampuran.
Konsentrasi campuran berkaitan erat dengan tingkat kekentalan campuran itu sendiri.
Campuran yang kental lebih sulit diaduk, sehingga dibutuhkan daya yang lebih besar untuk
proses pengadukannya.
Selain itu, dari tabel lampiran terlihat bahwa bilangan power berbanding terbalik
dengan densitas campuran. Di dalam percobaan ini, karena bahan yang digunakan adalah
CaCO3 dengan air, maka semakin banyak CaCO3 yang terdapat di dalam campuran,
densitas dari campuran tersebut akan semakin rendah, karena densitas CaCO3 lebih rendah
dibanding densitas air. Hasil percobaan yang disajikan dalam grafik, sesuai dengan teori,
bahwa semakin banyak CaCO3 yang terdapat di dalam campuran, maka densitasnya
semakin rendah dan bilangan powernya semakin tinggi.

VII. Kesimpulan

Berdasarkan data pengamatan dan data perhitungan, maka dapat disimpulkan


bahwa hasil data yang diperoleh sebagian kecil masih terdapat kesalahan.
,dikarenakan alat yang sudah mengalami kebocoran .
 Nilai Power number berbanding lurus dengan nilai Rate Pengadukan
(Berdasarkan Persamaan Power Number)
 Nilai viskositas berbanding lurus dengan nilai Densitas (Berdasarkan
Persamaan Renold number)
 Variabel 1 dengan kecepatan 140,8 Rpm, pada larutan 1 didapatkan NRe awal
pada suhu 27,1˚C sebesar 39365.9698 dengan Npo awalnya sebesar 1.9000kg
𝑚2 /𝑠 2 . Untuk NRe akhir pada suhu 28,3˚C sebesar 40424.73017 dengan Npo
akhirnya sebesar 1.92065 kg 𝑚2 /𝑠 2 . Untuk larutan 2, didapatkan NRe awal
pada suhu 28,3˚C sebesar 40424.73017 dengan Npo awalnya sebesar 1.92065
kg 𝑚2 /𝑠 2 . Untuk NRe akhir pada suhu 28,5˚C sebesar 40577.36948 dengan
Npo akhirnya sebesar 1.9076 kg 𝑚2 /𝑠 2 .
 Variabel 2 dengan kecepatan 185.7 Rpm, pada larutan 1 didapatkan NRe awal
pada suhu 27˚C sebesar 51954.0309 dengan Npo awalnya sebesar 0,82269 kg
𝑚2 /𝑠 2 . Untuk NRe akhir pada suhu 28,5˚C sebesar 53669.6404 dengan Npo
akhirnya sebesar 0,823039 kg 𝑚2 /𝑠 2 . Untuk larutan 2, didapatkan NRe awal
pada suhu 28,5˚C sebesar 53669.6404 dengan Npo awalnya sebesar 0,823039
kg 𝑚2 /𝑠 2 . Untuk NRe akhir pada suhu 28,9˚C sebesar 54125.5716 dengan
Npo akhirnya sebesar 0,823132 kg 𝑚2 /𝑠 2 .

VIII. Daftar Pustaka

 Badger dan Banchero, Introduction to chemical engineering, McGraw-Hill Book Co.,


Singapore, 1985.
 Brown, Unit Operations, John Wiley & Sons, Inc., New York, 1975.
 Coulson & Richardson, Chemical Engineering, Vol. 2,4th edition, Pergamon Press, Oxford,
1991.
 Geankoplis, Christie, Transport Processes and Unit Operation, 3rd edition, Allyn & Bacon,
London, 1985.
 Petunjuk praktikum Satuan Operasi Teknik Kimia.Politeknik Negeri Ujung
Pandang.
 Warren L.Mc.Cabe,Julian C.Smith, dan Peter Harriot. 1991. Operasi Teknik
Kimia Jilid 1. Erlangga. Jakarta.
 Buku Operasi Teknik Kimia Jilid 1, Bab: Pengadukan Dan Pencampuran Zat
Cair.