Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Agroteknologi, Vol. 8 No.

2, Februari 2018 : 9 - 14

KETERSEDIAAN P, SERAPAN P DAN Si OLEH TANAMAN PADI GOGO


(Oryza sativa. L) PADA LAHAN ULTISOL YANG DIAPLIKASIKAN SILIKAT DAN
PUPUK FOSFAT

(P Availability, P and Si Absorption by Gogo Paddy (Oryza sativa) in Ultisol Field in Which Silicate and
Phosphate Fertilizer Applied)
1 2
ZULPUTRA ZULPUTRA DAN NELVIA NELVIA
1
Dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Pasir Pengaraian
2
Dosen Program Studi Magister Ilmu Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Riau
Email: zulputra53@yahoo.com

ABSTRACT

The research was conducted from August 2014 to January 2015 in the Ultisol land, Pematang
Berangan Village, Rokan Hulu Regency, Riau Province. The study aims to determine the availability of
P, P and Si uptake by upland rice plants granting silicate and phosphate fertilizer on Ultisol land. The
form of this research is experimental factorial completely randomized design consist of two factors.
The first factor is silicate consists of four levels (0, 50, 75, and 100 kg SiO 2/ha), while the second
factor is phosphate fertilizer consists of four levels (0, 36, 54, and 72 kg P 2O5/ha), each combination
was repeated three times. The results showed that addition of silicates and phosphates increase the
availability of P, P and Si uptake of upland rice crop. Giving of 100 kg SiO 2 and 36 kg P2O5 per hectare
increase uptake of P and Si, each respectively increased by 208 % and 218 % compared without
silicates and phosphates fertilizer.

Keywords: Ultisols, silicates, phosphates, upland rice.

PENDAHULUAN mengurangi Al, Fe dan Mn yang bersifat racun


bagi akar sehingga daya serap akar lebih baik
Ultisol merupakan tanah mineral yang terhadap hara (Makarim et al., 2007). Selain
berkembang pada iklim tropik basah dengan itu, silikat merupakan anion potensial yang
curah hujan dan suhu tinggi sehingga dapat bersaing dengan P dalam menduduki
mengalami pelapukan lanjut dan pencucian kompleks jerapan sehingga P menjadi tersedia
yang intensif. Pencucian terhadap basa-basa (Setijono,1996). Pemberian pupuk fosfat dapat
dan ion silikat secara intensif menyebabkan meningkatkan ketersediaan P tanah dan lebih
tanah bereaksi masam, kejenuhan basa dan mudah diserap oleh tanaman.
kandungan Si rendah dan kelarutan Al tinggi Silikat dan P merupakan hara yang
sehingga meracun bagi tanaman. dibutuhkan tanaman padi dalam jumlah yang
(Hardjowigeno, 1993; Subandi, 2007; Makarim banyak. Si diserap tanaman dalam bentuk
et al., 2007). H2SiO4 (Mitani dan Ma, 2005), sedangkan
-
Jumlah kation Al, Fe dan Mn yang fosfor diserap tanaman dalam bentuk H2PO4
tinggi pada Ultisol menyebabkan ketersediaan pada tanah masam (Hanafiah,2007). Silikat
P menjadi rendah karena P difiksasi oleh berperan dalam melindungi jaringan tanaman
ketiga kation tersebut sehingga menjadi faktor sehingga tanaman lebih tahan penyakit, hama
pembatas bagi pertumbuhan dan produksi dan kekeringan. Silikat melindungi gabah/
tanaman (Hakim et al., 2008). Kelarutan kation beras sejak fase bunga, matang susu hingga
Al, Fe dan Mn yang tinggi bersifat meracun matang dari hama penghisap dan jamur
bagi pertumbuhan tanaman dan merupakan jelaga (Makarim et al., 2007). Fosfor berperan
salah satu kendala dalam usaha budidaya padi dalam pembelahan sel, merangsang
gogo di lahan Ultisol. Adapun keracunan perkembangan akar, memperkuat batang, dan
tanaman oleh kation tersebut menyebabkan pembentukan bunga, biji dan buah (Buckman
pertumbuhan perkembangan akar terhambat dan Brady, 1980).
sehingga daya serap hara rendah dan Pemberian silikat dan fosfat
berpengaruh terhadap produksi tanaman. diharapkan mampu meningkatkan
Usaha yang dapat dilakukan dalam ketersediaan P dan Si di dalam tanah
meningkatkan ketersediaan P dan Si pada sehingga serapan P dan Si tanaman
lahan Ultisol yaitu dengan pemberian silikat meningkat dan berpengaruh terhadap
dan pupuk fosfat. Pemberian silikat dapat peningkatan produksi padi gogo di lahan
meningkatkan ketersediaan Si tanah dan Ultisol.

9
Ketersediaan P, Serapan P dan Si oleh Tanaman Padi Gogo (Zulputra dan Nelvia)

BAHAN DAN METODE dd (0,00 me/100g) sangat rendah, Ca-dd (1,32


me/100g) dan Mg-dd (0,50 me/100g) dan
Penelitian dilaksanakan di laboratorium kapasitas tukar kation (12,70 me/100g)
dan di lapangan dari bulan Agustus 2014 tergolong rendah, kejenuhan basa (17%)
sampai Januari 2015 Percobaan lapangan sangat rendah dan kejenuhan Al (65%)
dilakukan di Lahan Ultisol di Desa Pematang tergolong sangat tinggi. Dengan demikian
Berangan, Kecamatan Rambah, Kabupaten dapat disimpulkan bahwa kesuburan tanah
Rokan Hulu, Riau. Analisis sifat kimia tanah Ultisol di lokasi penelitian tergolong rendah.
sebelum dan setelah penelitian dilakukan di Hal ini disebabkan tanah Ultisol merupakan
laboratorium Balai Penelitian Tanah Bogor. tanah mineral yang berkembang dan
Sifat kimia tanah awal yang dianalisis meliputi mengalami pelapukan lanjut disertai pencucian
pH H2O (pH meter), C-organik (Walkley dan basa-basa (Na, K, Ca dan Mg) dan Si yang
Black), N-total (Kjeldahl), nisbah C/N, P- intensif. Adanya pencucian yang intensif
tersedia (Bray I), Kation Basa dapat menyebabkan tanah bereaksi masam,
dipertukarkan (K-dd, Na-dd, Ca-dd, Mg-dd) ketersediaan hara dan kejenuhan basa
dan KTK (NH4OAc pH 7), KB dan kejenuhan rendah. Disamping itu suhu yang cukup tinggi
Al (KCl 1 N). Sifat kimia tanah setelah menunjang terjadinya pembentukan mineral
penelitian meliputi pH (pH meter), P-tersedia liat yang didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1
(Bray I) dan Al-dd (KCl 1 N). dan oksida serta hidroksida Fe dan Al.
Penelitian berupa eksperimen dalam Prasetyo dkk, (2000) menyatakan
bentuk faktorial menggunakan rancangan acak bahwa reaksi tanah Ultisol pada umumnya
lengkap. Faktor pertama yaitu silikat terdiri 4 masam hingga sangat masam (pH 5 – 3,10).
taraf perlakuan (0, 50, 75 dan 100 kg SiO2/ha) Nursyamsi dan Suryadi (2000) melaporkan
dan pupuk fosfat sebagai faktor kedua terdiri bahwa pH tanah Ultisol Tapin di Kalimantan
atas 4 taraf (0, 36, 54 dan 72 kg P2O5/ha), Selatan mempunyai pH 4,70 dan bereaksi
masing-masing kombinasi diulang tiga kali. sangat masam. Hasil penelitian Herviyanti dkk,
Hasil pengamatan setiap parameter dianalisis (2012) menunjukkan bahwa kejenuhan Al
secara statistik menggunakan analisis ragam tanah Ultisol Tanjung Pati di Payakumbuh
dan perbedaan setiap kombinasi perlakuan yaitu 64,33% dan tergolong sangat tinggi.
diketahui dengan uji lanjut Duncan pada taraf
5%. pH dan Al-dd Tanah setelah diberi
Padi gogo varietas Situbagendit Perlakuan
sebagai tanaman indikator, Na2SiO3 dan SP-
36 masing-masing mengandung 29% SiO2 dan Tabel 2 menunjukkan bahwa
36% P2O5 sebagai sumber silikat dan pupuk pemberian silikat dan pupuk fosfat
Fosfat, Urea dan KCl sebagai pupuk dasar meningkatkan pH dan menurunkan Al-dd
masing-masing 200 kg/ha dan 150 kg/ha. tanah. Nilai pH tertinggi dan nilai Al-dd
Silikat diberikan 1 minggu sebelum tanam, terendah diperoleh pada pemberian 100 kg
sedangkan pupuk fosfat, urea dan KCl SiO2 dan 36 kg P2O5 per hektar, sedangkan P
diberikan saat tanam. Padi ditanam dengan tersedia tertinggi diperoleh pada pemberian
jarak 25x25 cm, tiap rumpun dipelihara 3 100 kg SiO2 dan 72 kg P2O5 per hektar.
batang anakan. Parameter yang diamati Menurut Nugroho (2009) bahwa pH tanah
antara lain tinggi tanaman, jumlah anakan meningkat disebabkan terjadi hidrolisis air oleh
maksimum, jumlah gabah per malai, natrium silikat yang diberikan menghasilkan
-
persentase gabah bernas per malai dan bobot asam silikat dan ion OH .
2
gabah kering per m . Reaksinya sebagai berikut :
- +
Data hasil penelitian dianalisis dengan Na2SiO3 + 2H2O → H2SiO3 + 2OH + 2 Na .
menggunakan program SAS portable 9.1.3 Penurunan Al-dd akibat perlakuan Si
dengan uji lanjut Duncan (DMRT). terjadi akibat 2 hal yaitu peningkatan pH tanah
dan reaksi Al dengan Si. Penurunan Al-dd
HASIL DAN PEMBAHASAN akibat kenaikan pH terjadi karena peningkatan
-
Sifat Kimia Tanah sebelum diberi Perlakuan relatif OH sehingga Al menurun aktivitasnya
+
dan membentuk Al (OH)3, Al (OH) atau Al
2+
Berdasarkan hasil analisis beberapa (OH) tergantung kondisi tanah.
- +
sifat kimia tanah sebelum perlakuan, tanah di Misel- Al + 3 OH + 3 Na → Al (OH)3 + Misel- Na
lokasi penelitian bereaksi sangat masam (pH Pengaruh Si secara langsung, terjadi
H2O = 4,40), kadar C-organik (2,70%) dan N- akibat reaksi Si dengan Al membentuk
total (0,27%) sedang, dengan nisbah C dan N senyawa Al-Si :
3+ +
sebesar 10,00 yang tergolong rendah. 2H4SiO4 + 2Al + H2O → Al2Si2O5(OH)4 + 6H
Ketersediaan unsur hara fosfor (18,70 ppm) (Nugroho, 2009).
sedang, K-dd (0,34 me/100g) sedang, dan Na-

10
Jurnal Agroteknologi, Vol. 8 No. 2, Februari 2018 : 9 - 14

Tabel 1. Nilai Ph dan Al-Dd Tanah Ultisol Setelah Diaplikasi Silikat dan Pupuk Fosfat.
Pupuk Fosfat ( kg P2O5/ha)
Silikat -------------------------------------------------------------------------------------------------
(kg SiO2/ha) 0 36 54 72
---------------------------------------- pH ----------------------------------------------------
0 4,43 4,48 4,61 4,58
50 4,59 4,87 4,98 4,89
75 4,86 5,06 5,06 5,04
100 5,37 5,55 5,37 5,49
---------------------------------------- Al-dd (me/100g) ----------------------------------
0 4,97 4,89 4,67 4,74
50 4,62 4,28 4,23 4,07
75 4,54 4,12 4,16 4,11
100 4,52 3,63 3,70 3,89

3-
P Tersedia Tanah setelah diberi Perlakuan menggantikan PO4 yang tersemat. Proses
kedua yaitu Si dapat mengikat P sehingga
P tersedia tanah meningkat untuk pelindian P berkurang sekitar 40-90%.
semua perlakuan pada pemberian silikat dan Persamaan reaksinya sebagai berikut:
+
pupuk fosfat dikarenakan silikat dapat 2 Al (H2PO4)3 + 2 Si(OH)4 + 5H → Al2Si2O5 +
menggantikan P dari pupuk yang diberikan 5H3PO4 + 5 H2O
pada kompleks jerapan dan menurunkan +
2 FePO4 + Si(OH)4 + 2H → Fe2SiO4 + 2H3PO4
konsentrasi ion Al pada larutan tanah sehingga
(Matichenkov dan Calvert, 2002).
mengurangi fiksasi P oleh Al. Matichenkov dan
Calvert (2002) menyatakan bahwa Hasil penelitian Nugroho (2009)
penambahan Si pada tanah akan melalui dua pemberian Si sebelum pemberian P akan
proses. Proses pertama yaitu peningkatan menyebabkan komplek pertukaran ditempati
konsentrasi asam monosilikat pada tanah akan silikat terlebih dahulu. Pemberian Si sebagai
menghasilkan pengubahan P tidak larut ameliorant dan mendahului perlakuan P
menjadi P tersedia bagi tanaman. Fosfor yang terbukti meningkatkan P tersedia bagi
tidak tersedia bagi tanaman berhenti pada sisi
tumbuhan. Penambahan Si sebagai ameliorant
sematan menyebabkan P tersemat menjadi
tersedia bagi tanaman. Hal ini karena SiO4
4- setelah perlakuan P meningkatkan P tersedia.
memiliki elektronegatifitas lebih besar
3- 4-
dibandingkan PO4 sehingga SiO4 dapat

Tabel 2. P Tersedia Tanah Ultisol Setelah Diaplikasi Silikat dan Pupuk Fosfat
Pupuk Fosfat ( kg P2O5/ha)
Silikat ----------------------------------------------------------------------------------------------------
(kg SiO2/ha) 0 36 54 72
--------------------------------- P tersedia (ppm) --------------------------------------
0 16,27 26,99 29,88 30,28
50 20,69 28,44 30,15 34,31
75 21,27 31,49 33,90 34,90
100 23,32 35,35 34,53 36,08

Pertumbuhan dan Produksi Padi Gogo hara P yang cukup di dalam jaringan akan
yang Diaplikasi Silikat dan Pupuk Fosfat meningkatkan bobot kering tajuk tanaman
dikarenakan fosfor merupakan unsur
Bobot kering tajuk penyusun ADP dan ATP bersama dengan
nitrogen. Dalam kondisi demikian maka
Tabel 3 menunjukkan bahwa tanaman akan melakukan aktivitas fotosintesis
pemberian silikat dan pupuk fosfat yang semakin meningkat. Meningkatnya
meningkatkan bobot kering tajuk sekitar 2 – aktivitas fotosintesis akan meningkatkan
101% dibanding tanpa perlakuan. Pemberian pembentukan organ tanaman seperti batang
100 kg SiO2 dan 36 kg P2O5 per hektar dan daun, sehingga bobot kering tajuk
meningkatkan bobot kering tajuk tanaman tanaman meningkat. Menurut Surowinoto
tertinggi dibanding perlakuan lain. Hal ini (1983) semakin banyak P yang dapat diserap
disebabkan pemberian 36 kg P2O5/ha diikuti maka pertumbuhan akan semakin baik yang
pemberian silikat 100 kg SiO2/ha memberikan ditunjukkan dengan berat kering tanaman yang
kecukupan hara P bagi tanaman. Jumlah tinggi.

11
Ketersediaan P, Serapan P dan Si oleh Tanaman Padi Gogo (Zulputra dan Nelvia)

Tabel 3. Bobot Kering Tajuk Tanaman Padi Gogo Umur 48 Hari Setelah Tanam Pada Lahan Ultisol
yang Diaplikasi Silikat dan Pupuk Fosfat
Pupuk Fosfat ( kg P2O5/ha)
Silikat ----------------------------------------------------------------------------------- Rata-rata
(kg SiO2/ha) 0 36 54 72
---------------------------------------- g/ rumpun ----------------------------------
a fg cde def A
0 9,93 18,24 14,78 16,89 14,96
a fg def abc A
50 10,18 18,73 17,56 12,26 14,68
ab fg efg bc A
75 11,55 17,93 14,12 13,24 14,21
ab g fg efg B
100 11,64 19,97 18,69 17,06 16,84
A D C B
Rata-rata 10,82 18,72 16,29 14,86
KK = 5,45%
Keterangan: Angka-angka yang diikuti dengan huruf kecil yang sama pada baris dan kolom serta angka-angka
yang diikuti huruf besar yang sama pada baris atau kolom berbeda tidak nyata menurut Uji Duncan
pada taraf 5%.

Bobot kering akar Fosfor (P) dapat menstimulir


pertumbuhan dan perkembangan perakaran
Tabel 4 menunjukkan bahwa tanaman karena P berperan dalam
pemberian 100 kg SiO2 dan 36 kg P2O5 per metabolisme sel dan sebagai aktivator
hektar meningkatkan bobot kering akar beberapa enzim (Nyakpa et al.,1985; Prasad
tanaman tertinggi dibanding perlakuan lain. dan Power, 1997). Soepardi (1983)
Bobot kering akar meningkat sekitar 0,02-1,88 menyatakan bahwa peranan fosfor bagi
g/rumpun dibanding tanpa pemberian silikat tanaman adalah membantu perkembangan
dan pupuk fosfat. Hal ini disebabkan adanya akar dan akar rambut, mengimbangi pengaruh
peningkatan P tersedia dan penurunan Al-dd kelebihan nitrogen, serta memperkuat batang
tanah setelah diaplikasi silikat dan pupuk sehingga tidak mudah rebah. Sutoro et al.,
fosfat. P tersedia tanah meningkat maka (1988) menyatakan bahwa kekurangan unsur
serapan P tanaman juga meningkat. P menyebabkan perakaran tanaman menjadi
Peningkatan serapan P akan meningkatkan dangkal dan penyebarannya terbatas serta
bobot dan volume akar dikarenakan fosfor batangnya menjadi lemah.
dibutuhkan tanaman dalam proses
metabolisme dan fisiologis.

Tabel 4. Bobot kering akar tanaman padi gogo umur 48 hari setelah tanam pada lahan Ultisol yang
diaplikasi silikat dan pupuk fosfat
Pupuk Fosfat (kg P2O5/ha)
Silikat ----------------------------------------------------------------------------- Rata-rata
(kg SiO2/ha) 0 36 54 72
---------------------------------------- g/rumpun ---------------------------------------
a cde abcd b A
0 1,71 2,78 2,41 2,12 2,25
ab bcd abcd abcd A
50 1,73 2,58 2,47 2,54 2,33
ab cde abcd abcd A
75 1,92 2,87 2,33 2,30 2,35
abc e de de B
100 2,11 3,59 3,14 3,11 2,94
A C BC B
Rata-rata 1,87 2,95 2,59 2,52
KK = 4,73%
Keterangan: Angka-angka yang diikuti dengan huruf kecil yang sama pada baris dan kolom serta
angka-angka yang diikuti huruf besar yang sama pada baris atau kolom berbeda tidak
nyata menurut Uji Duncan pada taraf 5%.
Serapan P dikarenakan akar tidak mengalami keracunan
Tabel 5 menunjukkan bahwa Al, dengan demikian bulu-bulu akar lebih
pemberian 100 kg SiO2 dan 36 kg P2O5 per banyak menyerap hara P dan hara lainnya.
hektar meningkatkan serapan P tanaman Makarim et al. (2007) menyatakan bahwa
tertinggi dibanding perlakuan lain. Pemberian dengan adanya silikat kelebihan besi,
silikat dan pupuk fosfat meningkatkan serapan aluminum dan mangan yang sering
P sekitar 3,92 – 42,81 mg/rumpun. Hal ini menghambat perkembangan akar dapat
dikarenakan terjadi perbaikan sifat kimia tanah dikurangi sehingga daya serap akar terhadap
setelah diberi silikat dan pupuk fosfat yang hara lebih baik.
ditunjukkan dengan meningkatnya pH dan P Selain itu, penambahan silikat
tersedia serta penurunan Al-dd tanah. meningkatkan ketersediaan P tanah. Hal ini
Penurunan Al-dd akan meningkatkan dikarenakan ion silikat mampu berkompetisi
pertumbuhan dan perkembangan akar dengan ion fosfat dalam menduduki kompleks

12
Jurnal Agroteknologi, Vol. 8 No. 2, Februari 2018 : 9 - 14

jerapan. Dengan demikian serapan P tanaman kadar P di dalam tanah menjadi bentuk yang
akan meningkat karena P tersedia tanah lebih tersedia bagi tanaman. Menurut Bolt dan
meningkat dan dapat diserap oleh tanaman. Bruggenwert (1978) hal ini disebabkan karena
4-
Sanchez dan Uehara (1980) menyatakan ion silikat (SiO4 ) lebih kuat terjerap
3-
bahwa pemberian silika dapat meningkatkan dibandingkan dengan ion fosfat (PO4 ).

Tabel 5. Serapan P oleh Padi Gogo pada Lahan Ultisol Setelah Diaplikasi Silikat dan Pupuk Fosfat
Pupuk Fosfat (kg P2O5/ha)
Silikat ---------------------------------------------------------------------------- Rata-rata
(kg SiO2/ha) 0 36 54 72
------------------------------------- mg/rumpun -------------------------------------------
a b b b A
0 20,56 43,13 44,67 47,40 38,94
a bc b b A
50 26,32 52,53 47,42 46,48 43,19
a b b b A
75 27,03 47,33 48,33 47,12 42,45
a c bc bc B
100 24,48 63,37 58,72 56,45 50,75
A B B B
Rata-rata 24,59 51,59 49,78 49,28
KK = 6,34%
Keterangan: Angka-angka yang diikuti dengan huruf kecil yang sama pada baris dan kolom serta
angka-angka yang diikuti huruf besar yang sama pada baris atau kolom berbeda tidak
nyata menurut Uji Duncan pada taraf 5%.

Serapan Si tanaman padi sebanyak 6 kali serapan K, 10


kali serapan N, 20 kali serapan P2O5 dan 30
Tabel 6 menunjukkan bahwa serapan kali serapan Ca. Takahashi (1995)
Si tertinggi diperoleh pada pemberian silikat menyatakan bahwa silikat banyak terdapat
100 kg SiO2 dan pupuk fosfat 36 kg P2O5 per pada lapisan epidermis di daun, pelepah daun
hektar yaitu 413,85 mg/rumpun. Serapan Si dan batang. Ma dan Takahashi (2002)
tanaman meningkat sekitar 28 - 284 mg/ menyatakan bahwa silikat pada padi berperan
rumpun dibanding tanpa perlakuan. Hal ini dalam meningkatkan kekuatan jaringan pada
disebabkan tanaman padi merupakan batang, daun dan akar. Si juga meningkatkan
tanaman akumulator Si yang membutuhkan kekuatan mekanik dinding sel dan melindungi
silikat dalam jumlah yang banyak selama buah padi dari serangan hama seperti
pertumbuhannya. Makarim et al. (2007) penggerek batang, wereng coklat, wereng
menyatakan bahwa serapan silikat pada hijau dan hama punggung putih.

Tabel 6. Serapan Si oleh Padi Gogo pada Lahan Ultisol Setelah Diaplikasi Silikat dan Pupuk Fosfat
Pupuk Fosfat (kg P2O5/ha)
Silikat --------------------------------------------------------------------------------- Rata-rata
(kg SiO2/ha) 0 36 54 72
---------------------------------------------- mg /rumpun ----------------------------------------
a bc ab abc A
0 129,85 209,02 169,68 189,80 174,59
ab cd bcd bcd B
50 157,45 270,19 227,77 217,56 218,24
abc ef de bcd C
75 186,90 362,17 296,09 244,18 272,33
bcd f f ef D
100 240,01 413,85 391,62 373,94 354,85
A C B B
Rata-rata 178,55 313,81 271,29 256,47
KK = 9,72%
Keterangan: Angka-angka yang diikuti dengan huruf kecil yang sama pada baris dan kolom serta
angka-angka yang diikuti huruf besar yang sama pada baris atau kolom berbeda tidak
nyata menurut Uji Duncan pada taraf 5%.
KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA

Kesimpulan Bolt, G.H and Bruggenwert, M.G.M. 1978. Soil


Pemberian silikat dan pupuk fosfat Chemistry. A. Basic Elements Elsevier
meningkatkan pH dan P tersedia tanah, bobot Scientific. Publishing. Company.
kering tajuk dan akar tanaman, serapan P dan Buckman, O.H and N.C. Brady. 1980. The
Si. Pemberian silikat dan pupuk fosfat pada Nature And Properties of Soil.
taraf 100 kg SiO2 dan 36 kg P2O5 per hektar Macmillan Co. Inc. New York.
memberikan nilai tertinggi terhadap pH tanah Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akade
(5,55), bobot kering tajuk (19,97 g/rumpun), mika Presindo. Jakarta. 286 hal.
bobot kering akar (3,59 g/rumpun), serapan P Hanafiah, KA. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
(63,37 mg/rumpun) dan serapan Si (413,85 Jakarta: Raja Grafindo Persada.
mg/rumpun) dibanding perlakuan lainnya. Herviyanti, Ahmad, F., Sofyani, R., Darma
wan, Gusnidar, dan Saidi, A. 2012.

13
Ketersediaan P, Serapan P dan Si oleh Tanaman Padi Gogo (Zulputra dan Nelvia)

Pengaruh Pemberian Bahan Humat Soepardi, G. 1983. Sifat Dan Ciri Tanah.
dari Ekstrak Batubara Muda Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian.
(Subbituminus) dan Pupuk P terhadap IPB. Bogor. 591 hal.
Sifat Kimia Ultisoll serta Produksi Subandi, 2007. Teknologi Produksi dan
Tanaman Jagung. Jurnal Solum 9 Strategi Pengembangan Kedelai pada
(1): 15 – 24. Lahan Kering Masam. Iptek Tanaman
Makarim, A. K., E. Suhartatik, A., Kartohar Pangan. Vol 2, No.1.
djono. 2007. Silikon: Hara Penting Surowinoto. 1983. Tanaman Padi Sawah.
pada Sistem Produksi Padi. Iptek Bogor: Institut Pertanian Bogor. 78 hal.
Tanaman Pangan 2 (2) : 195-204. Sutoro, V., Soeleman dan Iskandar. 1988.
Ma, J. F. And Takahashi, E. 2002. Soil, Ferti Budidaya Tanaman Jagung. Pusat
lizer and Plant Silicon Research In Penelitian dan Pengembangan
Japan. Elsevier Science B. V. Tanaman Pangan. Bogor.
Amsterdam. Takahashi, E.1995. Uptake and Phhysiological
Matichenkov, V. V. & D. V. Calvert. 2002. Functions of Silica. p. 420 – 433. In
Silicon as a beneficial element for Matsuo, T, K. Kumazawa, R. Ishii , K.
sugarcane. Journal American Society Ishihara, and H. Hirata (Eds.). Science
of Sugarcane Technologiest 22 : 21- of Rice Plant, Volume Two,
30. Physiology. Food and Agriculture
Mitani, N and Ma, J. F. 2005. Uptake system of Research Center, Tokkyo.
silicon in different plant species.
Faculty of Agriculture. Kagawa
University. Journal of Experimental
Botany 56(414) : 1255-1261.
Nugroho, B. 2009. Peningkatan Produksi Padi
Gogo Dengan Aplikasi Silikat Dan
Fosfat Serta Inokulasi Fungi Mikoriza
Arbuskular Pada Ultisol. Tesis.
Sekolah Pascasarjana. IPB. Bogor.
Nursyamsi, D dan Suryadi, M.E. 2000.
Pengaruh Drainase Terputus dan
Pemupukan terhadap pH, Eh, dan Mn,
pada Sawah Baru di Ultisol Bandar
Abung (Lampung) dan Tapin (KalSel).
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 3
(2): 8 – 17.
Nyakpa, M.Y. Lubis, A.M. Pulung, M.A. Amroh,
A.G, Munawar, A. Hong, G.B dan N.
Hakim. 1988. Kesuburan Tanah.
Universitas Lampung,S Bandar
Lampung. 294 hal.
Prasad, R dan Power, J.F. 1997. Soil Fertility
Management for Sustainable
Agriculture. New York: Lewis
Publishes.
Prasetyo, B. H., H. Sosiawan, and S. Ritung.
2000. Soil of Pametikarata, East
Sumba: Its Suitability and Constraints
for Food Crop Development. Indon.
Journal. Agric. Sci. 1(1): 1 – 9.
Sanchez, P.A and Uehara, G. 1980.
Management Considerations for Acid
Soils with Phophorus Fixation
Capacity. In . The Rule of Phosphorus
In Agriculture. ASA – CSSA- SSSA.
Madison. hal 471-509.
Setijono, S.1996. Intisari Kesuburan Tanah.
IKIP. Malang.

14