Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA

“KONTRAKSI OTOT LURIK II”

DISUSUN OLEH:

1. RAMADHANTI PRATIWI (2443017106)


2. DIANA J.D.C. MOREIRA (2443017085)
3. DIANA PRATAMI FAJAR PUTRI (2443017113)
4. SURYANA W. AMUNG (2443017099)

PROGRAM STUDI SI FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

2017
BAB I TUJUAN PRAKTIKUM
1. Memahami mekanisme terjadinya tetanus pada otot skeletal
2. Memahami mekanisme terjadinya fatigue pada otot skeletal.
3. Memahami kontraksi isometrik serta hubungan antara panjang dan tegangan pada otot
skeletal.
4. Memahami kontraksi isotonik dan hubungan antara beban dan kecepatan kontraksi
pada otot skeletal.

BAB II LANDASAN TEORI


Jika serat otot dirangsang sedemikian cepar sehingga serat tersebut sama sekali tidak
mendapat kesempatan untuk melemas di antara rangsangan maka timbul kontraksi menetap
dengan kekuatan maksimal yang dikenal sebagai tetanus. Kontraksi tetanus biasanya tiga
sampai empat kali lebih kuat daripada kedutan tunggal.
Ketegangan sebuah otot bergantung tidak saja pada jumlah serat otot yang berkontraksi
tetapi juga pada tegangan yang dibentuk oleh masing-masing serat yang berkontraksi tersebut.
kerja otot dan tetanus dipengaruhi oleh banyak faktor. Dapat diketahu pula unfused tetanus,
fused tetanus hingga mencapai kelelahan pada otot (fatigue).
Satu potensial aksi di serat otot skeletal hanya berlangsung I sampai 2 mdet. Awitan
respons kontraktil yang terjadi berada di belakang potensial aiai karena harus terjadi
penggabungan eksitasi-kontraksi sebelum aktivitas jembatan silang dapat dimulai. Pada
kenyataannya, potensial aksi telah selesai bahkan sebelum perangkat kontraktil bekerja.
Penundaan waktu beberapa milidetik antara stimulasi dan awitan kontraksi ini disebut periode
laten. Pembentukan tegangan di dalam serat otot, yang ditimbulkan oleh interaksi geser antara
filamen tebal dan tipis melalui aktivitas jembatan silang juga memerlukan waktu. Waktu dari
awitan kontraksi sampai pembentukan tegangan puncak-waktu kontralisi-rerata adalah 50
mdet, meskipun waktu ini bervariasi bergantung pada jenis serat otot. Respons kontraksi belum
berakhir sampai kantung lateral menyerap kembali semua Ca+ yang dibebaskan sebagai
respons. Durasi potensial aksi tidak digambar sesuai skala ietapi diperbesar terhadap potensial
aksi. Penyerapan kembali Ca2 ini juga memerlukan waktu. Bahkan setelah Ca2. dibersihkan,
diperlukan waktu untuk filamen kembali ke posisi istirahatnya. Waktu antara tegangan puncak
sampai relaksasi sempurna waktu relaksasi - biasanya berlangsung 50 mdet atau lebih. Karena
itu, respons kontraktil keseluruhan terhadap satu potensial aksi dapat berlangsung hingga 100
mdet atau lebih; ini jauh lebih lama daripada durasi potensial aksi yang memicunya (100 mdet
dibandingkan dengan 1 sampai 2 mdet). Kenyataan ini penting bagi kemampuan tubuh untuk
menghasilkan kontraksi otot dengan kekuatan bervariasi.
Satu potensial aksi di sebuah serar otot menghasilkan kontraksi singkat lemah yang
disebut kedutan, yang terlalu singkat dan terlalu lemah untuk dapat digunakan dan secara
normal tidak berlangsung di tubuh. Serar-serat oror rer, susun membentuk otot lengkap, yang
berfungsi secara kooperatif untuk menghasilkan kontraksi dengan kekuatan bervariasi dan
Iebih kuat daripada kedutan. Dengan kata lain, anda dapat mengubah-ubah kekuatan yang anda
hasilkan oleh otot yang sama, bergantung pada apakah anda mengambil sehelai kertas, sebuah
buku atau karung 50 pon.
Tetanus pada otot rangka yang terisolasi
Meningkatkan frekuensi stimulus ke otot rangka yang terisolasi menghasilkan
peningkatan kekuatan yang dihasilkan oleh keseluruhan otot. Secara khusus, anda mengamati
bahwa, jika rangsangan listrik diterapkan pada otot rangka secara berurutan, tonjolan yang
saling tumpang tindih menghasilkan lebih banyak gaya dengan setiap stimulus berturut-turut.
Namun, jika rangsangan terus di aplikasikan seirng ke otot dalam jangka waktu lama, kekuatan
otot maksimal dari masing masing stimulus pada akhirnya akan mencapai keadaan yang
dikenal sebagai Tetanus yang tidak biasa. Jika rangsangan kemudian diterapkan dengan
frekuensi yang lebih besar lagi, kedutan akan mulai menyatu sehingga puncak dan lembah
setiap kedutan menjadi tidak dapat dibedakan satu sama lain. Keadaan ini dikenal sebagai
Tetanus Lengkap. Ketika frekuensi stimulus mencapai nilai di luar yang tidak ada peningkatan
kekuatan lebih lanjut yang dihasilkan oleh otot, otot telah mencapai ketegangan tetanik
maksimal.
Fatigue pada otot rangka yang terisolasi
Meningkatkan frekuensi stimulus ke otot rangka yang terisolasi menginduksi
peningkatan gaya yang dihasilkan oleh keseluruhan otot. Secara khusus, jika rangsangan
tegangan diterapkan pada otot ke otot sering berurutan cepat, otot skeletal menghasilkan lebih
banyak gaya dengan setiap stimulus berturut-turut.
Namun, jika rangsangan terus sering digunakan ke otot selama periode waktu yang
lama, kekuatan maksimum setiap kedutan akhirnya mencapai dataran tinggi , keadaan yang
dikenal sebagai tetanus yang tidak biasa. Jika rangsangan kemudian diterapkan dengan
frekuensi yang lebih besar lagi, kedutannya mulai menyatu sehingga puncak dan lembah setiap
kedutan menjadi tidak dapat dibedakan satu sama lain, keadaan ini dikenal sebagai tetanus yang
lengkap (menyatu). Ketika frekuensi stimulus mencapai nilai di luar yang tidak ada
peningkatan kekuatan lebih lanjut yang dihasilkan oleh otot, otot telah mencapai ketegangan
tetanik maksimalnya.
Dalam aktivitas ini anda akan mengamati fenomena kelelahan otot skeletal. Kelelahan
mengacu pada penurunan kemampuan otot skeletal untuk mempertahankan tingkat gaya, atau
ketegangan yang konstan, setelah stimulasi berulang yang berkepanjangan. Anda juga akan
menunjukan bagaimana interval waktu istirahat mengubah timbulnya kelelahan pada otot
skeletal. Penyebab kelelahan masih diselidiki dan banyak kejadian molekuler dianggap terlibat,
meskipun akumulasi asam laktat, ADP, dan Pi pada otot harus menjadi faktor utama yang
menyebabkan kelelahan dalam hal latihan intensitas tinggi.
Definisi umum untuk fatigue adalah :
 Kegagalan serat otot untuk menghasilkan ketegangan karena aktivitas kontraktil
sebelumnya.
 Penurunan kemampuan otot untuk mempertahankan kekuatan kontraksi
konstan setelah stimulasi berulang yang berulang.
otot skeletal hubungan panjang-ketegangan
Kontraksi otot skeletal adalah isometric atau isotonik. Ketika otot mecoba
memindahkan beban yang sama dengan gaya yang dihasilkan oleh otot, otot berkontrkasi
secara isometrik. Otot tetap pada panjang tetap (isometric berarti “ panjang yang sama”).
Contoh kontraksi otot isometrik adalah saat anda berdiri di ambang pintu dan di kusen pintu.
Beban yang anda gunakan untuk memindahkan kusen pintu dapat dengan mudah menyamai
gaya yang dihasilkan oleh otot anda, sehingga otot anda tidak memendek meskipun mereka
berkontraksi secara aktif.
Kontraksi isometrik dilakukan secara eksperimental dengan mempertahankan kedua
ujung otot dalam posisi tetap sementara secara elektrik merangsang otot. Panjang istirahat
(panjang otot sebelum stimulasi) merupakan faktor penting dalam menentukan jumlah
kekuatan yang dapat dikembangkan otot saat stimulasi. Gaya pasif dihasilkan oleh peregangan
otot dan hasil ari rekahan elastis dari jaringan itu sendiri. Gaya pasif ini sebagian besar
disebabkan oleh titin protein, yang bertindak sebagai kabel bungee molekuler. Gaya aktif
dihasilkan saat filamen tebal myosin berikatan dengan filamen tipis. Demikian melibatkan
siklus jembatan silang dan hidrolisis ATP. Pikirkan otot skeletal sebagai memiliki dua kekuatan
yang memberi sifat : ini gaya pasif saat diregangkan (seperti karet gelang yang mengggunakan
gaya pasif) dan gaya aktif saat di stimulasi. Kekuatan total adalah jumlah gaya pasif dan aktif.
Aktivitas ini memungkinkan anda untuk mengatur dan menahan panjang otot skeletal
yang terisolasi dan kemudian menstimulasinya dengan rangsangan tegangan maksimal
individu. Grafik yang menghubungkan tiga gaya yang dihasilkan dan panjang otot yang tetap
akan di plot secara otomotis setalah anda menstimulate otot. Dalam fisiologi otot grafik ini
dikenal sebagai hubungan panjang- ketegangan isometrik. hasil stimulasi ini dapat diterapkan
pada otot manusia untuk mengetahui seberapa besar waktu istirahat yang optimal akan
menghasilkan produksi gaya maksimum.
Untuk memahami mengapa jaringan otot berperilaku seperti itu, anda harus memahami
ketegangan pada tingkat sel. Jika anda mengalami kesulitan untuk memahami hasil dari
aktivitas ini, tinjau kembali model filamen pelekatan kontraksi otot. Pikirkan hubungan
ketegangan terlalu dalam hal sarko yang pendek, terlalu lama, dan mereka yang memiliki
jumlah ideal filamen tebal dan tipis tumpang tindih.
Kontraksi isotonik dan hubungan beban-kecepatan
kontraksi otot skelet dapat digambarkan sebagai isometrik atau isotonik. Ketika otot
mencoba memindahkan benda (beban) yang sama beratnya dengan gaya yang dihasilkan oleh
otot, otot diamati berkontraksi secara isometrik. Dalam kontraksi isometrik, otot tetap pada
panjang tetap (isometrik berarti “panjang yang sama”).
Selama kontraksi isotonik, panjang otot skeletal berubah dan, dengan demikian, beban
bergerak jarak terukur. Jika panjang otot lebih pendek saat beban bergerak, kontraksi disebut
kontraksi konsentris isotonik. Kontraksi koonsentris isotonik terjadi ketika otot menghasilkan
gaya yang lebih besar daripada beban yang melekat pada ujung musk. Pada jenis kontraksi ini,
ada periode laten dimana terjadi penigkatan ketegangan otot namun tidak ada pergerakan berat
yang dapat diamati. Setelah ketegangan otot melebihi beban beban, kontraksi konsentris
isotonik dapat dimulai. Dengan demikian, periode laten semakin semakin lama seiring dengan
beratnya beban menjadi semakin besar. Bila kekuatan otot bangunan melebihi beban, otot akan
semakin pendek dan berat bergerak. Akhirnya kekuatan kontraksi otot akan berkurang saat otot
berkedut mulai fase relaksasi, dan beban karenanya akan mulai kembali ke posisi asalnya.
Kedutan isotonik bukanlah peristiwa yang tidak penting. Jika beban meningkat, otot
harus menghasilkan lebih banyak kekuatan untuk memindahkannya dan periode laten akan
lebih lama karena akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk gaya yang diperlukan untuk
dihasilkan oleh otot. Kecepatan kontraksi (kecepatan otot yang memperpendek) juga
bergantung pada beban yang ototnya coba pindahkan. Kecepatan pemendek maksimal diatur
dengan beban minimal yang melekat pada otot. Sebaliknya, beban yang lebih berat, semakin
lambat otot berkedut. Contohnya mengangkat benda dari lantai. Benda ringan dapat diangkat
dengan cepat (kecepatan tinggi). Sedangkan benda yang lebih berat akan diangkat dengan
kecepatan lebih lambat untuk durasi yang lebih pendek. Dalam percobaan kontraksi otot
isotonik, satu ujung otot tetap bebas (tidak seperti pada percobaan kontraksi isometrik dimana
kedua ujung otot ditahan dalam posisi tetap). Bobot yang berbeda (beban) kemudian dapat
dihubungkan ke ujung bebas dari otot yang terisolasi, sementara ujung lainnya dipegang dalam
posisi tetap oleh transduser gaya. Jika berat (beban) kurang dari tegangan yang dihasilkan oleh
keseluruhan otot, maka otot akan bisa mengangkatnya dengan jarak yang terukur, kecepatan,
dan durasi.

BAB III ALAT DAN BAHAN


Piranti lunak PhysioEx 9.0 dan komputer.

BAB IV PROSEDUR KERJA


Tetanus pada otot rangka yang terisolasi
1. Perhatikan bahwa voltase diatur ke 8,5 volt dan jumlah rangsangan per detik diatur ke
50. Untuk mengamatai klik tetanus yang tidak bersamaan Multiple Stimuli akan
berubah menjadi tombol Stop Multiple Stimuli setelah di klik. Setelah jejak telah
bergerak melinntasi layar penuh dan mulai bergerak melintasi layar untuk kedua
kalinya, klik Stop Stimuli untuk menghentikan stimulator.
2. Klik record data untuk menampilkan hasilmanda di grid ( catat hasil di bagan 4).
3. Untuk mengamati tetanus leburan, tingkatkan rangsangan/detik ke 130 dengan
mengklik tombol;tombol disamping tampilan rangsangan / detik. Klik Multiple Stimuli
dan amati jejak yang di hasilkan. Setelah jejak telah bergerak melintasi layar penuh dan
mulai bergerak melintasi layar untuk kedua kalinya, klik Stop Stimuli.
4. Perhatikan tetanus yang di lebur dan klik record data untuk mengampilkan anda di grid.
5. Klik Clear Tracings untuk membersihkan layar osiloskop.
6. Tingkatkan pengaturan rangsangan / detik ke 140 dengan mengklik tombol di samping
layar rangsangan / detik. Klik Multiple Stimuli dan amati jejak yang dihasilkan. Setelah
jejak telah bergerak melintasi layar penuh dan mulai bergerak melintasi layar untuk ke
dua kalinya, klik Stop Stimuli.
7. Perhatikan tetanus yang di lebur dan klik record data untuk menampilkan hasil anda di
grid.
8. Klik Clear Tracings untuk menghapus layar osiloskop.
9. Anda sekarang akan mengamati efek peningkatan inkremental jumlah rangsangan
perdetik diatas 140 rangsangan / detik.
 Tingkatkan pengaturan rangsangan per detik dengan 2.
 Klik Multiple Stimuli dan amati jejak yang di hasilkan. Setelah jejak telah
bergerak melintasi layar penuh dan layar melintasi layar untuk ke dua kalinya,
klik Stop Stimuli.
 Klik Record Data untuk menampilkan hasil anda di grid.
 Klik Clear Tracings untuk membersihkan layar osiloskop
Ulangi langkah ini sampai anda mencapai 150 rangsangan / detik.
Fatigue pada otot rangka yang terisolasi
1. Perhatikan bahwa voltase diatur ke 8,5 volt dan jumlah rangsangan per detik diatur ke
120. Klik Multiple Stimuli dan perhatikan dengan cermat kekuatan otot yanng ada pada
osiloskop. Klik Stop Stimuli setelah kekuatan otot jatuh ke 0.
2. Klik Record Data untuk menampilkan hasil anda di grid.
3. Klik Clear Tracings untuk menghapus layar osiloskop.
4. Untuk menunjukan permulaan lelah setelah periode istirahat variable, anda akan
mengklik tombol Multiple Stimuli dan Stop Stimuli sebanyak tiga kali. Bacalah
langkah langkah dibawah ini sebelum mengajukan. Perhatikan penghitung waktu
dengan cermat untuk untuk membantu anda menentukan kapan menghidupkan kembali
stimulator.
 Klik Multiple Stimuli.
 Setelah otot jatuh ke 0, klik Stop Stimuli untuk mematikan stimulator.
 Tunggu 10 detik, lalu klik Multiple Stimuli untuk menghidupkan kembali
stimulator.
 Klik Stop Stimuli setelah otot jatuh ke 0.
 Tunggu 20 detik, lalu klik Multiple Stimuli untuk mengaktifkan kembali
stimulator.
 Klik Stop Stimuli setelah kekuatan otot jatuh ke 0
5. Klik Record Data untuk menampilkan hasil anda di grip dam catat hasilnya
otot rangka hubungan panjang-ketegangan
1. Perhatikan bahwa voltase diatur ke 8,5 volt dan panjang otot istirahat diatur ke 75 mm.
Klik Stimulate untuk mengirimkan rangsangan listrik ke otot dan mengamati hasil
penulusuran yang dilalui.
2. Anda harus melihat gerakan kedutan otot pada layar osiloskop kiri fan tiga titik data
(mewakili aktif, pasif, dan gata total yang dihasilkan selama kedutan ini) di plot
disebelah kanan layar. Kotak kuning mewakili kekuatan talenta, titik merah yang
terkandung didalam konak kuning mewakili gaya aktif, dan kotak hijau mewakili gaya
pasif. Klik Record Data untuk menampilkan hasil anda di grid.
3. Anda sekarang akan secara bertahap memperpendek otot untuk mengetahui efek
panjang otot pada gaya aktif, pasif, dan total.
 Mempersingkat otot sebesar 5 mm dengan mengklik tombol di samping
tampilan panjang otot.
 Klik Stimulate untuk memberikan stimulus listrik ke otot dan perhatikan nilai
nilai dari gaya total, aktif, dan pasif yang relatif terhadap yang diamati pada
aslinya 75 mm.
 Klik Record Data untuk menampilkan hasil anda di grid
Ulangi langkah ini sampai panjang otot mencapai 50 mm
4. Klik Clear Tracings untuk menghapus layar osiloskop kiri.
5. Pegang otot hingga 80 mm dengan mengklik tombol disamping tampilan panjang otot.
Klik Stimulate untuk memberikan stimulus listrik ke otot dan catat nilai dari gaya total,
aktif, dan pasif yang relatif terhadap yang diamati pada aslinya 75 mm.
6. Klik Record Data untuk menampilkan hasil anda di grid.
7. Anda sekarang akan secara bertahap memperpanjang otot untuk menentukan efek
panjang otot pada gaya aktif, pasif, dan total.
 Perpanjang otot sebesar 10 mm dengan mengklik tombol di samping tampilan
panjang otot.
 Klik Stimulate untuk mengirimkan rangsangan listrik ke otot dan catat nilai nilai
dari gaya total, aktif, dan pasif relatif terhadap yang diamati pada aslinya75 mm.
 Klik Record Data untuk menampilkan hasil anda di grid.
Ulangi langkah ini sampai anda mencapai panjang otot 100 mm.
8. Klik Plot Data untuk melihat ringkasan data anda pada kotak yang sesuai. Klik Submit
untuk mencatat Plot anda di laporan lab.
kontraksi isotonik dan hubungan beban-kecepatan
1. Perhatikan bahwa tegangan stimulus diatur ke 8,5 volt. Tarik berat 0,5 g dilemari berat
ke ujung bebas otot untuk memasangnya. Klik Stimulate untuk memberikan
rangsangan listrik ke otot dan perhatikan tindakan otot.
2. Amati bahwa, saat otot memanjang panjang, ia mengangkat beban dari platform. Otot
kemudian memanjang saat merilekskan dan menurunkan berat badan kembali ke peron.
Klik Stimulate lagi dan coba perhatikan baik otot maupun layar osiloskop pada saat
bersamaan.
3. Klik Record Data untuk menampilkan hasil anda di grid.
4. Lepas berat 0,5 g dengan menyeretnya kembali ke lemari berat. Tarik berat 1,0 g ke
ujung bebas otot untuk memasangnya. Klik Stimulate dan amati otot dan layar
osiloskop.
5. Klik Record Data untuk menampilkan hasil anda di grid.
6. Lepas berat 1,0 g dengan menyeretnya kembali ke lemari berat. Tarik berat 1,5 g ke
ujung bebas otot untuk memasangnya. Klik Stimulate dan amati otot dan layar
osiloskop.
7. Klik Record Data untuk menampilkan hasil anda di grid.
8. Lepas berat 1,5 g dengan menyeretnya kembali ke lemari berat. Tarik berat 2,0 g ke
ujung bebas otot untuk memasangnya. Klik Stimulate dan amati otot dan layar
osiloskop.
9. Klik Record Data untuk menampilkan hasil anda di grid.
10. Klik Data Plot untuk menghasilkan hubungan kecepatan beban otot. Perhatikan
tampilan dengan seksama saat program menjiwai pengembangan hubungan kecepatan
beban untuk data yang telah anda kumpulkan. Klik Submit untuk mencatat Plot anda di
laporan lab.
BAB V HASIL PRAKTIKUM

1. Tetanus pada otot rangka yang terisolasi

Tabel 5.1. Hubungan Frekuensi Rangsangan/Detik dengan Gaya yang Dihasilkan

Pada tabel diatas menunjukkan pengaruh frekuensi rangsangan dan waktu terhadap
gaya kontraksi otot yang dihasilkan. Pada saat otot diberikan rangsangan sebesar 8.5 volt
dengan frekuensi rangsang 50x per detik, gaya kontraksi otot yang dihasilkan mencapai
5.12 gram. Pada kondisi tersebut kontraksi otot mengalami tetanus. Tetanus yang terjadi
pada titik ini disebut tetanus yang tidak lengkap, yaitu kondisi dimana otot telah mencapai
titik maksimal untuk berkontraksi sehingga rangsangan yang diberikan tidak dapat
mengubah gaya kontraksi yang dihasilkan namun pada bentuk grafik masih dapat
dibedakan antara puncak dan lembahnya. Kemudian dilakukan rangsangan lagi dengan
frekuensi rangsang yang berbeda yaitu 130x per detik, gaya kontraksi yang dihasilkan
mencapai 5.88 gram pada titik ini terjadi tetanus lengkap namun pada grafik sulit untuk
membedakan antara puncak dan lembahnya. Ketika frekuensi rangsang ditingkatkan dari
148x-150x per detik, menyebabkan peruhan besaran gaya yang dihasilkan tidak terjadi lagi.
Hal ini terjadi karna otot telah mencapai titik ketegangan, sehingga gaya yang dihasilkan
akan tetap atau konstan ini desebut maximal tetanic tension.

Gambar 5.1 perbandingan antara tetanus tidak lengkap (garis kuning) dan tetanus
lengkap (garis biru)
Pada gambar 5.1 ditunjukan bahwa tetanus terbagi menjadi 2 yaitu tetanus tidak
lengkap dan tetanus lengkap. Pada gambar tetanus tidak lengkap terjadi saat diberikan
tegangan sebesar 8,5 volt dengan frekuensi rangsang 50x per detik. Sedangkan tetanus
lengkap terjadi saat diberikan tegangan yang sama dengan frekuensi rangsang yang
dinaikan menjadi 130x per detik.

2. Fatigue pada otot rangka yang terisolasi

Tabel 5.2. Hubungan Waktu Istirahat terhadap Perlambatan Masa Fatigue


Pada tabel 5.2 menunjukan hubungan antara panjang waktu istirahat dengan
perlambatan masa fatigue. Pada tabel saat diberikan waktu istirahat 9 detik dapat
memperlambat terjadinya fatigue pada otot sampai waktu 1 menit. Kemudian saat
diberikan waktu istirahat selama 20 detik dapat memperlambat terjadinya fatigue pada
otot sampai waktu 5 menit.

Gambar 5.2 Hasil Fatigue pada otot rangka


Pada gambar ditunjukan bahwa gaya akan bertambah seiring bertambahnya waktu otot
beristirahat.

3. otot rangka hubungan panjang-ketegangan

Tabel 5.3. Otot rangka hubungan panjang-ketegangan


Pada tabel di atas merupakan hubungan perubahan panjang otot terhadap active force
dab passive force. Active force merupakan gaya yang terjadi karena filamen myosin
tebal mengikat myosin yang tipis. Sementara passive force merupakan gaya yang
terjadi pula saat regangan otot dan elasisitas jaringan otot itu sendiri.

Gambar 5.3. Otot rangka hubungan panjang-ketegangan


Dilihat dari grafik di atas bahwa panjang otot di kurangi secara 5mm setiap perubahan.
Dan dapat dilihatr jika penurunan tersebut membuat panjang otot menurun secara
teratur membuat kekuatan aktif menurun tetrapi tidak dengan kekuatan pasif.
Grafik 5.4. Otot rangka hubungan panjang-ketegangan
Total kekuatan yang dihasilkan pada grafik tersebut sama dengan kekuatan aktif pada
grafik. Penurunan ketegangan terhadap panjang otot rangka sangat mempengaruhi
perubahanyang terjadi pada setiap grafik yang mengalami kenaikan atau pun
penurunan.
4. kontraksi isotonik dan hubungan beban-kecepatan

Tabel 5.4. Kontraksi Isotonik dan Hubungan beban-kecepata


gambar 5.5. Kontraksi Isotonik dan Hubungan beban-kecepatan
Pada tabel diatas kita dapat melihat saat diberi beban 0,5g otot masih terlihat jelas hasil
yang ketegangan pada otot.

Grafik 5.6. Kontraksi Isotonik dan Hubungan beban-kecepatan


Perhatikan perubahan yang terjadi pada hasil yang ditunjukkan pada layar monitor.
Beban yang bertambah membuat otot tidak seperti semula lagi. Dan selanjutnya jika
otot ditambahkan beban maka akan membuat otot menjadi turun dan kecepatan pada
laju otot juga menurun. Sampai dimana beban ditambah sampai 2.0g otot sudah tidak
dapat menganganggkat beban seperti semula. Semakin bertambahnya beban tegangan
simulasi,tegangan kedutan dan juga kecepatan akan menurun secara perlahan dan tetap.
Grafik yang dihasilkan hanya garis lurus dan memanjang saja tanpa ada penurunan
ataupun kenaikan pada otot.
BAB VI PEMBAHASAN
1. Tetanus pada Otot Rangka Terisolasi
Tetanus adalah kontraksi yang terjadi pada otot dengan frekuensi yang lebih tinggi yang
dilakukan dengan cepat dan singkat. Jika terus diberi rangsangan dalam jangka waktu
lama, kekuatan maksimum otot mungkin terjadi pada setiap stimulus yang akhirnya
mencapai dataran tinggi. Keaadaan ini dikenal sebagai tetanus tidak lengkap. Jika
rangsangan kemudian diberikan dengan frekuensi yang lebih besar lagi, kedutaanya
mulai menyatu sehingga puncak dan lembah tidak dapat dibedakan satu sama lain,
keadaan ini disebut tetanus lengkap. Saat frekuensi stimulus mencapai nilai di luar yang
tidak ada peningkatan kekuatan lebih lanjut yang dihasilkan oleh otot berarti otot telah
mencapai ketegangan tetanik maksimal atau disebut ketegangan tetanik maksimal.

2. Fatigue pada Otot Rangka Terisolasi


Fatigue adalah kondisi dimana otot mengalami kelelahan setelah diberikan rangsangan
kuat secara terus menerus sehingga otot tidak dapat memberikan gaya kontraksi
lagi.Kelelahan mengacu pada penurunan kemampuan otot rangka untuk
mempertahankan tingkat kekuatan secara konstan setelah diberi stimulasi berulang.
Pada percobaan ini kondisi fatigue dapat dihambat dengan memberikan waktu jedah
untuk otot dapat beristirahat. Semakin lama waktu otot untuk beristirahat, semakin lama
pula otot untuk mencapai fatigue.

3. otot rangka hubungan panjang-ketegangan


hubungan panjang-ketegangan merupakan hubungan perubahan panjang otot terhadap
gaya aktif dan gaya pasif. Gaya aktif merupakan gaya yang terjadi karena filamen
myosin tebal mengikat myosin yang tipis. Sementara gaya pasif merupakan gaya yang
terjadi pula saat regangan otot dan elastisitas jaringan otot itu sendiri. Dilihat dari grafik
diatas bahwa panjang otot dikurangi 5mm pada setiap perubahan. Dan dapat dilihat jika
penurunan tersebut membuat panjang otot menurun secara teratur membuat kekuatan
aktif menurun tetapi tidak dengan kekuatan pasif. Total kekuatan yang dihasilkan pada
grafik tersebut sama dengan kekuatan aktif pada grafik. Penurunan ketegangan
terhadap panjang otot rangka sangat mempengaruhi perubahan yang terjadi pada setiap
grafik yang mengalami kenaikan ataupun penurunan.

4. kontraksi isotonik dan hubungan beban-kecepatan


pada tabel diatas kita dapat perhatikan perubahan yang terjadi pada hasil yang
ditunjukkan oleh osciloskop. Saat diberi beban 0,5g otot masih bisa berkontraksi
dengan tinggi. Sedangkan saat diberi beban 1,0g membuat otot tidak seperti semula
lagi. Dan seterusnya, jika otot terus ditambahkan beban maka akan membuat otot
menjadi turun dan kecepatan pada laju otot juga menurun. Sampai dimana beban
ditambah sampai 2.0g otot sudah tidak dapat menganganggkat beban seperti semula
dan yang dihasilkan hanya garis lurus dan memanjang saja tanpa ada penurunan
ataupun kenaikan pada otot.
BAB VII KESIMPULAN
1. Apabila rangsangan diberikan secara terus menerus pada reseptor dalam jangka waktu
yang lama sehingga otot sulit untuk berelaksasi maka disebut Tetanus.
2. Reseptor akan mengalami kelelahan jika diberikan beban atau rangsangan yang
semakin besar pada otot maka disebut Fatigue.
3. Semakin dikuranginya panjang otot maka gaya pasif pada otot tidak akan berubah tetap
0,00g, tetapi pada gaya aktif otot dia akan terjadi penurunan. Perpanjangan otot
menyebabkan saat waktu otot di panjangkan kembali secara perlahan, dia akan
langsung menyebabkan gaya aktif naik diawal perpanjangan tapi langsung turun
kembali secara perlahan, sedaangkan gaya pasif dia akan semakin meningkat secara
perlahan.
4. Semakin bertambahnya beban, maka akan menyebabkan menurunnya kecepatan, durasi
kedutan dan jarak terangkatnya. Turun secara bertahap sesuai beban yang diberikan.

BAB VIII TUGAS

ACTIVITY 4 Tetanus in Isolated Skeletal Muscle

1. Describe how increasing the stimulus frequency affected the force developed by the
isolated whole skeletal muscle in this activity. How well did the results compare with
your prediction?
JAWAB :The force developed increases as the stimulus frequency increases—to a
point.

2. Indicate what type of force was developed by the isolated skeletal muscle in this
activity at the following stimulus frequencies: at 50 stimuli/sec, at 140 stimuli/sec,
and above 146 stimuli/sec.
JAWAB : At 50 stimuli/sec: 5.12 g. At 140 stimuli/sec: 5.91 g. Above 146
stimuli/sec: 5.95 g

3. Beyond what stimulus frequency is there no further increase in the peak force? What
is the muscle tension called at this frequency?
JAWAB : After 146 stimuli/sec there is no further increase in force. This is the
maximal tetanic tension.

ACTIVITY 5 Fatigue in Isolated Skeletal Muscle

1. When a skeletal muscle fatigues, what happens to the contractile force over time?
JAWAB : When skeletal muscle fatigues, the contractile force decreases over time.

2. What are some proposed causes of skeletal muscle fatigue?


JAWAB : The buildup of lactic acid, ADP, and inorganic phosphate are thought to be
involved in muscle fatigue.

3. Turning the stimulator off allows a small measure of muscle recovery. Thus, the
muscle will produce more force for a longer time period if the stimulator is briefly
turned off than if the stimuli were allowed to continue without interruption. Explain
why this might occur. How well did the results compare with your prediction?
JAWAB : When you increase the rest periods, you see an increase in the muscle
tension produced.

4. List a few ways that humans could delay the onset of fatigue when they are
vigorously using their skeletal muscles.
JAWAB : They could periodically rest during vigorous exercise.

ACTIVITY 6 The Skeletal Muscle Length-Tension Relationship

1. What happens to the amount of total force the muscle generates during the stimulated
twitch? How well did the results compare with your prediction?
JAWAB : Total force can increase or decrease depending upon the starting resting
length. This is due to the length-tension relationship of the sarcomere.

2. What is the key variable in an isometric contraction of a skeletal muscle?


JAWAB : The length-tension relationship. The passive force is important in
determining the active force produced.

3. Based on the unique arrangement of myosin and actin in skeletal muscle sarcomeres,
explain why active force varies with changes in the muscle’s resting length.
JAWAB : The active forces vary with the number of crossbridges formed, which
changes with the resting length of the muscle.

4. What skeletal muscle lengths generated passive force? (Provide a range.)


JAWAB : The muscle lengths from 80 to 100 mm generated passive force.

5. If you were curling a 7-kg dumbbell, when would your bicep muscles be contracting
isometrically? No, they would be changing in length, so this would not be isometric
contraction.

ACTIVITY 7 Isotonic Contractions and the Load-Velocity Relationship

1. If you were using your bicep muscles to curl a 7-kg dumbbell, when would your
muscles be contracting isotonically?
JAWAB : Yes, because your muscles are changing in length.

2. Explain why the latent period became longer as the load became heavier in the
experiment. How well did the results compare with your prediction?
JAWAB : The latent period became longer because it takes more time to generate the
force required.

3. Explain why the shortening velocity became slower as the load became heavier in this
experiment. How well did the results compare with your prediction?
JAWAB : It takes more time to generate the force required to lift the heavier load.
4. Describe how the shortening distance changed as the load became heavier in this
experiment. How well did the results compare with your prediction?
JAWAB : The shortening distance decreased with the heavier load.

5. Explain why it would take you longer to perform 10 repetitions lifting a 10-kg weight
than it would to perform the same number of repetitions with a 5-kg weight.
JAWAB : The velocity of shortening decreases with a heavier load, so the repetitions
will take longer with a 10-kg weight.

6. Describe what would happen in the following experiment: A 2.5-g weight is attached
to the end of the isolated whole skeletal muscle used in these experiments.
Simultaneously, the muscle is maximally stimulated by 8.5 volts and the platform
supporting the weight is removed. Will the muscle generate force? Will the muscle
change length? What is the name for this type of contraction?
JAWAB : The muscle will still generate force and change length. The type of
contraction is isotonic.

DAFTAR PUSTAKA

Lauralee Sherwood. 2012. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Ed ke-6. Jakarta:Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Ivonne soeliono, M.Farm.Klin, Apt dan Angelica Kresnamurti, M.Farm., Apt. 2017. Petunjuk
praktikum anatomi dan fisiologi manusia. Ed 2017. Surabaya : UKWMS.

Anda mungkin juga menyukai