Anda di halaman 1dari 25

ISLAM DAN PENDIDIKAN KARAKTER

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam

Dosen Pembimbing :
Dr. Fahrudin, M.Ag
Pandu Hyangsewu M.Ag.

Disusun oleh :
Rivaldy Akbar Ramadhan
1405607

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2014
Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Juga
Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita
yakni Nabi Muhammad SAW. Karena atas berkat Rahmat dan Hidayah-Nya lah
penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ISLAM DAN
PENDIDIKAN KARAKTER” untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Pendidikan Agama Islam.
Tentunya dalam pembuatan makalah ini penulis menghadapi banyak
kesuliatan dan masalah karena sebetulnya tidak mudah dalam penulisan suatu
karya tulis dan pasti memerlukan banyak waktu dan pikiran untuk dapat
terselesaikannya makalah ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan kepada Yth :
1. Bpk. Dr. Fahrudin, M.Ag. selaku Dosen Pembimbing.
2. Bpk. Pandu Hyangsewu M.Ag. selaku Dosen Pembimbing
3. Orang tua penulis yang telah membantu baik moril maupun materi
4. Rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun, guna acuan bagi untuk lebih baik di masa yang akan datang.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi pembaca dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum wr. wb.


Bandung, 7 Desember 2014

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................................... i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
I. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1
II. Rumusan Masalah ................................................................................. 2
III. Tujuan Penulisan................................................................................... 3
BAB II .................................................................................................................... 4
PEMBAHASAN ................................................................................................. 4
I. Pengertian Pendidikan .............................................................................. 4
II. Pendidikan Dimata Islam ...................................................................... 6
III. Karakter Indonesia ................................................................................ 7
IV. Karakter Pribadi Ideal ......................................................................... 14
V. Membentuk karakter dalam Keluarga................................................. 15
BAB III ................................................................................................................. 19
PENUTUP ......................................................................................................... 19
I. Kesimpulan ............................................................................................. 19
II. Saran ................................................................................................... 21
Daftar Pustaka ..................................................................................................... 22

ii
BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah

Manusia bekerja mempunyai tujuan tertentu,yaitu memenuhi kebutuhan.


Kebutuhan tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Selama hidup manusia
membutuhkan bermacam-macam kebutuhan. Salah satunya manusia
membutuhkan pendidikan. Disadari atau tidak, pendidikan adalah salah satu
kebutuhan primer yang tidak bisa dilepaskan dari keberlangsungan
siklus kehidupan suatu kelompok masyarakat.
Wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulullah adalah perintah
belajar, dan sekaligus isyarat untuk mengajar.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah


menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang
Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam (baca tulis).
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Q.S. Al ‘Alaq
[96]: 1-5).
Ayat di atas memberi petunjuk agar manusia berilmu pengetahuan. Ilmu
pengetahuan diperoleh melalui belajar mengajar. Allah swt. Memerintahkan untuk
belajar membaca dan menulis, baca tulis itu kunci memperoleh ilmu pengetahuan.
Kita hidup dalam sebuah dunia yang gelap, dimana setiap orang meraba-
raba, namun tidak menemukan denyut nurani, tidak merasakan sentuhan kasih,
dan tidak melihat sorot mata persahabatan yang tulus, dalam hal ini masyarakat

1
2

mungkin mengalami krisis moral. Krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala
yaitu tirani dan keterasingan. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku
sosial, sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial. Kita hidup
dalam sebuah dunia yang gelap, dimana setiap orang meraba-raba, namun tidak
menemukan denyut nurani, tidak merasakan sentuhan kasih, dan tidak melihat
sorot mata persahabatan yang tulus, dalam hal ini masyarakat mungkin
mengalami krisis moral. Krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani
dan keterasingan. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial,
sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial.

Anda pernah mendengar kata “split personality”? atau kepribadian yang


terpecah? Maka semua itu berhubungan dengan proses pembentukan karakter
seorang manusia. Karakter yang ada di dalam dirinya. Pada makalah ini penulis
akan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan karakter manusia dan proses
pembentukannya, serta langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk
membentuk karakter cara islam.

II. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar di atas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai


berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan?
2. Bagaimana pendidikan dimata Islam?
3. Bagaimana pendidikan karakter di Indonesia?
4. Bagaimana membentuk manusia Ideal?
5. Bagaimana peranan keluarga dalam pendidikan karakter islam?
3

III. Tujuan Penulisan

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan


tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1. Untuk mengetahui maksud pendidikan;
2. Untuk mengetahui keutamaan pendidikan di mata Islam;
3. Untuk mengetahui pendidikan karakter di Indonesia;
4. Untuk mengetahui bagaimana membentuk manusia Ideal;
5. Untuk memperluas wawasan mengenai pendidikan di dalam Islam;
6. Untuk mempersiapkan diri sebagai pendidik sesuai dengan tujuan
pendidikan di dalam Islam.
BAB II
PEMBAHASAN

I. Pengertian Pendidikan

Berikut ini merupakan beberapa definisi mengenai pendidikan menurut


para ahli dan Undang-Undang di Indonesia :

1. “Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik


terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju
terbentuknya keperibadian yang utama”. [Ahmad D. Marimba, 1978:20].
2. “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi perannya di masa
yang akang datang”. [UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor: 2 Tahun
1989].
3. “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara”. [UU Sistem Pendidikan Nasional
Nomor: 20 Tahun 2003)].
4. “Pendidikan dalam pengertian yang luas adalah meliputi perbuatan atau
semua usaha generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan)
pengetahuannya, pengalamannya, kecakapan serta keterampilannya
kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar
dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah”.
[Zuhairin, 1985:2].
5. “Secara etimologis pendidikan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab
“Tarbiyah” dengan kata kerjanya “Robba” yang berarti mengasuh,
mendidik, memelihara”. [Zakiyah Drajat, 1996: 25].

4
5

6. “Menurut pendapat Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntutan di


dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya pendidikan adalah
menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar
mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya”. [Hasbullah, 2001:
4].
7. “Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan
anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah
kedewasaan”. [Ngalim Purwanto, 1995:11].
8. “Pendidikan secara teoritis mengandung pengertian “memberi makan”
kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga
sering diartikan dengan menumbuhkan kemampuan dasar
manusia”.[HM.Arifin, 2003: 22].

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan “Pendidikan adalah


proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam
usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses,
cara dan pembuatan mendidik”.

Jadi, penulis dapat menyimpulkan, Pendidikan adalah “Suatu proses


pembelajaran yang bertujuan untuk membentuk seseorang menjadi pribadi yang
lebih baik dan berguna”. Pendidikan berlangsung kapanpun, artinya berlangsung
sepanjang hayat (life long education). Karena itu pendidikan itu berlangsung
dalam konteks hubungan individu yang bersifat multi dimensi, baik
dalamhubungan individu dengan Tuhannya, sesma manusia, alam, bahkan dengan
dirinya sendiri.

Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup individu, tidak ditentukan


oleh orang lain. Menurut seorang pakar, David Popenoe, pendidikan memiliki
fungsi-fungsi yang berhubungan dengan perkembangan resepsi sosial seseorang
6

seperti sumber inovasi sosial, sarana pengajaran tentang adanya berbagai corak
dan kultur kepribadian, transmisi kebudayaan, menjamin integrasi sosial dan
memilih serta mengajarkan berbagai peranan dalam kehidupan sosial. Diharapkan
pada kemudian hari seseorang dapat menjadi pribadi yang peka akan kehidupan
sosial di sekitarnya.

Dan pendidikan Islam memiliki tujuan seperti yang berikut "Nyatalah


bahwa pendidikan individu dalam islam mempunyai tujuan yang jelas dan
tertentu, yaitu: menyiapkan individu untuk dapat beribadah kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Dan tak perlu dinyatakan lagi bahwa totalitas agama Islam
tidak membatasi pengertian ibadah pada shalat, shaum dan haji; tetapi setiap karya
yang dilakukan seorang muslim dengan niat untuk Allah semata merupakan
ibadah." (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Mu'atstsirat as Salbiyah fi Tarbiyati at
Thiflil Muslim wa Thuruq 'Ilajiha, hal. 76.)

II. Pendidikan Dimata Islam

Nabi Muhammad adalah contoh, teladan yang mulia, teladan yang lengkap
bagi seorang Muslim. Dalam bidang pendidikan, Nabi Muhammad saw telah
membuktikan dirinya sebagai pendidik yang sempurna. Beliau berhasil manusia-
manusia hebat yang terkumpul dalam satu generasi dan berhimpun dalam
masyarakat yang sangat mulia. Masyarakat Madinah, bentukan Rasulullah saw,
adalah masyarakat yang haus ilmu, masyarakat yang cinta pengorbanan, dan
masyarakat yang rindu akan ibadah. Di tengah masyarakat seperti inilah, berbagai
contoh kehidupan yang baik bisa diaplikasikan. Tradisi ilmu berkembang dengan
baik; akhlak diterapkan, bukan hanya diajarkan; pendidikan karakter yang baik
sudah menjadi tradisi yang mengakar, sehingga budaya minuman keras yang
sudah berurat berakar dalam masyarakat Arab bisa dengan sangat singkat
diberantas.
7

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, Islam sangat menekankan


umatnya untuk belajar dan tahu (berpendidikan). Hal itu bisa dibuktikan dengan
banyaknya seruan-seruan untuk belajar yang dapat kita temui baik di dalam Al-
Qur’an, Hadits maupun Ibarah-ibarah dari Ulama pendahulu

Tidak perlu diragukan lagi bagaimana Islam begitu menganggap penting


terhadap Pendidikan. Dalam Islam, barang siapa berilmu maka dia akan dihormati
oleh setiap lapisan masyarakat. Dari sini kita juga bisa menyimpulkan bahwa
Islam begitu menghargai sebuah sistem yang kita namakan pendidikan dan orang-
orang yang aktif di dalamnya.

III. Karakter Indonesia

Karakter yang baik lebih patut dipuji daripada bakat yang luar biasa.
Hampir semua bakat adalah anugerah. Karakter yang baik, sebaliknya, tidak
dianugerahkan kepada kita. Kita harus membangunnya sedikit demi sedikit
dengan pikiran, pilihan, keberanian, dan usaha keras) (John Luther, dikutip dari
Ratna Megawangi, Semua Berakar Pada Karakter (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-
UI, 2007.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah


mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan,
dari SD-Perguruan Tinggi. Menurut Mendiknas, Prof. Muhammad Nuh,
pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah
terbentuk sejak usia dini, kata Mendiknas, maka tidak akan mudah untuk
mengubah karakter seseorang. Ia juga berharap, pendidikan karakter dapat
membangun kepribadian bangsa. Mendiknas mengungkapkan hal ini saat
berbicara pada pertemuan Pimpinan Pascasarjana LPTK Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia di Auditorium Universitas Negeri
Medan (Unimed), Sabtu (15/4/2010).

Munculnya gagasan program pendidikan karakter di Indonesia, bisa


dimaklumi. Sebab, selama ini dirasakan, proses pendidikan dirasakan belum
8

berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang


menyebut, pendidikan telah gagal, karena banyak lulusan sekolah atau sarjana
yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mental dan
moralnya lemah.

Banyak pakar bidang moral dan agama yang sehari-hari mengajar tentang
kebaikan, tetapi perilakunya tidak sejalan dengan ilmu yang diajarkannya. Sejak
kecil, anak-anak diajarkan menghafal tentang bagusnya sikap jujur, berani, kerja
keras, kebersihan, dan jahatnya kecurangan. Tapi, nilai-nilai kebaikan itu
diajarkan dan diujikan sebatas pengetahuan di atas kertas dan dihafal sebagai
bahan yang wajib dipelajari, karena diduga akan keluar dalam kertas soal ujian.
negeri, bukanlah cerita khayalan. Di tengah meningkatnya kucuran dana
pendidikan dari pemerintah, juga terjadi peningkatan pungutan biaya pendidikan
kepada peserta didik. Orang tua dibuat tidak berdaya. Sebab, seringkali pungutan
itu diatasnamakan kesepakatan Komite Sekolah yang beranggotakan orang tua
atau wali peserta didik.

Budayawan Mochtar Lubis, bahkan pernah memberikan deskripsi karakter


bangsa Indonesia yang sangat negatif. Dalam ceramahnya di Taman Ismail
Marzuki, 6 April 1977, Mochtar Lubis mendeskripsikan ciri-ciri umum manusia
Indonesia sebagai berikut: munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal,
masih percaya takhayul, lemah karakter, cenderung boros, suka jalan pintas, dan
sebagainya. Lebih jauh, Mochtar Lubis mendeskripsikan sejumlah ciri utama
manusia Indonesia:

1. Salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah


HIPOKRITIS alias MUNAFIK. Berpura-pura, lain di muka, lain di
belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak
lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk
menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya
atau pun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat
ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.
9

2. Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan
bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakukannya,
pikirannya, dan sebagainya. “Bukan saya” adalah kalimat yang cukup
populer pula di mulut manusia Indonesia.

3. Ciri ketiga utama manusia Indonesia adalah jiwa feodalnya. Meskipun


salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah juga untuk
membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam
bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat
manusia Indonesia.

4. Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih


percaya takhayul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian,
manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau,
karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuatan
gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini
semua. Kemudian, kita membuat mantera dan semboyan baru, jimat-jimat
baru, Tritura, Ampera, orde baru, the rule of law, pemberantasan korupsi,
kemakmuran yang merata dan adil, insan pembangunan. Manusia
Indonesia sangat mudah cenderung percaya pada menara dan semboyan
dan lambang yang dibuatnya sendiri.

5. Ciri keenam manusia Indonesia punya watak yang lemah. Karakter kurang
kuat. Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau
memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan
demi untuk “survive¨ bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita
dapat melihat gejala pelacuran intelektual amat mudah terjadi dengan
manusia Indonesia.
10

6. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan,


berpesta-pesta. Hari ini ciri manusia Indonesia ini menjelma dalam
membangun rumah mewah, mobil mewah, pesta besar, hanya memakai
barang buatan luar negeri, main golf, singkatnya segala apa yang serba
mahal. Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksaK atau
dengan mudah mendapat gelar sarjana, sampai memalsukan atau membeli
gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat
cepat bisa menjadi kaya. Jadi priyayi, jadi pegawai negeri adalah idaman
utama, karena pangkat demikian merupakan lambang status yang tertinggi.
(Mochtar Lubis, Manusia Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
2001).

Tentu, silakan tidak bersetuju dengan pendapat Mochtar Lubis! Benarkah


begitu buruk karakter manusia Indonesia? Tentu saja, banyak yang membantah.
Tapi, ada saatnya kita bersikap jujur. Berbagai ciri karakter manusia Indonesia
yang digambarkan Mochtar Lubis, memang cukup menonjol pada berbagai sisi
kehidupan masyarakat. Kegemaran pada “mantra¨, misalnya. Banyak slogan-
slogan indah yang digembar-gemborkan ke tengah masyarakat, namun akhirnya
menjadi slogan semata. Program Memasyarakatkan Olahraga dan
Mengolahragakan Masyarakat, akhirnya gagal mengangkat prestasi olah raga
Indonesia. Program Pembinaan Moral Pancasila, akhirnya juga memunculkan
apatisme, apakah memang moral Pancasila itu ada dan bisa diamalkan. Jika ada,
apakah ada metode belajar menurut Pancasila, cara gosok gigi menurut Pancasila,
cara sepakbola menurut Pancasila, dan sebagainya?

Namun, dalam soal pendidikan karakter bagi anak didik, berbagai agama
bisa bertemu. Islam dan Kristen dan berbagai agama lain bisa bertemu dalam
penghormatan terhadap nilai-nilai keutamaan. Nilai kejujuran, kerja keras, sikap
ksatria, tanggung jawab, semangat pengorbanan, dan komitmen pembelaan
terhadap kaum lemah dan tertindas, bisa diakui sebagai nilai-nilai universal yang
mulia. Bisa jadi, masing-masing pemeluk agama mendasarkan pendidikan
karakter pada nilai agamanya masing-masing.
11

Mohammad Natsir, salah satu Pahlawan Nasional, tampaknya percaya


betul dengan ungkapan Dr. G.J. Nieuwenhuis: ¨Suatu bangsa tidak akan maju,
sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk
keperluan bangsanya.¨

Menurut rumus ini, dua kata kunci kemajuan bangsa adalah “guru¨ dan
“pengorbanan¨. Maka, awal kebangkitan bangsa harus dimulai dengan mencetak
“guru-guru yang suka berkorban¨. Guru yang dimaksud Natsir bukan sekedar
“guru pengajar dalam kelas formal¨. Guru adalah para pemimpin, orang tua, dan
juga pendidik. Guru adalah teladan. “Guru¨ adalah “digugu¨ (didengar) dan
“ditiru¨ (dicontoh). Guru bukan sekedar terampil mengajar bagaimana menjawab
soal Ujian Nasional, tetapi diri dan hidupnya harus menjadi contoh bagi murid-
muridnya.

Mohammad Natsir adalah contoh guru sejati, meski tidak pernah


mengenyam pendidikan di fakultas keguruan dan pendidikan. Hidupnya dipenuhi
dengan idealisme tinggi memajukan dunia pendidikan dan bangsanya. Setamat
AMS (Algemene Middelbare School) di Bandung, dia memilih terjun langsung ke
dalam perjuangan dan pendidikan. Ia dirikan Pendis (Pendidikan Islam) di
Bandung. Di sini, Natsir memimpin, mengajar, mencari guru dan dana.
Terkadang, ia keliling ke sejumlah kota mencari dana untuk keberlangsungan
pendidikannya. Kadangkala, perhiasan istrinya pun digadaikan untuk menutup
uang kontrak tempat sekolahnya.

Disamping itu, Natsir juga melakukan terobosan dengan memberikan


pelajaran agama kepada murid-murid HIS, MULO, dan Kweekschool (Sekolah
Guru). Ia mulai mengajar agama dalam bahasa Belanda. Kumpulan naskah
pengajarannya kemudian dibukukan atas permintaan Sukarno saat dibuang ke
Endeh, dan diberi judul Komt tot Gebeid (Marilah Shalat).

Kisah Natsir dan sederet guru bangsa lain sangat penting untuk diajarkan
di sekolah-sekolah dengan tepat dan benar. Natsir adalah contoh guru yang
berkarakter dan bekerja keras untuk kemajuan bangsanya. Ia adalah orang yang
12

sangat haus ilmu. Cita-citanya bukan untuk meraih ilmu kemudian untuk
mengeruk keuntungan materi dengan ilmunya. Tapi, dia sangat haus ilmu, lalu
mengamalkannya demi kemajuan masyarakatnya.

Pada 17 Agustus 1951, hanya 6 tahun setelah kemerdekaan RI, M. Natsir


melalui sebuah artikelnya yang berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung,
Nanti Arus Membawa Hanyut¨, Natsir mengingatkan bahaya besar yang dihadapi
bangsa Indonesia, yaitu mulai memudarnya semangat pengorbanan. Melalui
artikelnya ini, Natsir menggambarkan betapa jauhnya kondisi manusia Indonesia
pasca kemerdekaan dengan pra-kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan, kata Natsir,
bangsa Indonesia sangat mencintai pengorbanan. Hanya enam tahun sesudah
kemerdekaan, segalanya mulai berubah. Natsir menulis: “Dahulu, mereka girang
gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di
medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam
satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh
dan beratus tahun yang lampau Semua orang menghitung pengorbanannya, dan
minta dihargaiSekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan
merajalela sifat serakah Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya.
Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang diluar
dirinya...¨

Peringatan Natsir hampir 60 tahun lalu itu perlu dicermati oleh para elite
bangsa, khususnya para pejabat dan para pendidik. Jika ingin bangsa Indonesia
menjadi bangsa besar yang disegani di dunia, wujudkanlah guru-guru yang
mencintai pengorbanan dan bisa menjadi teladan bagi bangsanya. Beberapa tahun
menjelang wafatnya, Natsir juga menitipkan pesan kepada sejumlah cendekiawan
yang mewawancarainya, ¨Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat
Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.¨ Lebih jauh, kata
Natsir:

¨Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala
yang ¨baru¨, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde
13

Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi, gejala yang ¨baru¨
ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi
wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan
saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol,
tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang
cukup serius.¨

Seorang dosen fakultas kedokteran pernah menyampaikan keprihatinan


kepada saya. Berdasarkan survei, separoh lebih mahasiswa kedokteran di
kampusnya mengaku, masuk fakultas kedokteran untuk mengejar materi. Menjadi
dokter adalah baik. Menjadi ekonom, ahli teknik, dan berbagai profesi lain,
memang baik. Tetapi, jika tujuannya adalah untuk mengeruk kekayaan, maka dia
akan melihat biaya kuliah yang dia keluarkan sebagai investasi yang harus
kembali jika dia lulus kuliah. Ia kuliah bukan karena mencintai ilmu dan
pekerjaannya, tetapi karena berburu uang!

Kini, sebagaimana dikatakan Natsir, yang dibutuhkan bangsa ini adalah


“guru-guru sejati¨ yang cinta berkorban untuk bangsanya. Bagaimana murid akan
berkarakter; jika setiap hari dia melihat pejabat mengumbar kata-kata, tanpa amal
nyata. Bagaimana anak didik akan mencintai gurunya, sedangkan mata kepala
mereka menonton guru dan sekolahnya materialis, mengeruk keuntungan sebesar-
besarnya melalui lembaga pendidikan.

Pendidikan karakter adalah perkara besar. Ini masalah bangsa yang sangat
serius. Bukan urusan Kementerian Pendidikan semata. Presiden, menteri, anggota
DPR, dan para pejabat lainnya harus memberi teladan. Jangan minta rakyat hidup
sederhana, hemat BBM, tapi rakyat dan anak didik dengan jelas melihat, para
pejabat sama sekali tidak hidup sederhana dan mobil-mobil mereka yang dibiayai
oleh rakyat adalah mobil impor dan sama sekali tidak hemat.

Pada skala mikro, pendidikan karakter ini harus dimulai dari sekolah,
pesantren, rumah tangga, juga Kantor Kementerian Pendidikan dan Kementerian
Agama. Dari atas sampai ke bawah, dan sebaliknya. Sebab, guru, murid, dan juga
14

rakyat sudah terlalu sering melihat berbagai paradoks. Banyak pejabat dan tokoh
agama bicara tentang taqwa; berkhutbah bahwa yang paling mulia diantara kamu
adalah yang taqwa. Tapi, faktanya, saat menikahkan anaknya, yang diberi hak
istimewa dan dipandang mulia adalah pejabat dan yang berharta. Rakyat kecil dan
orang biasa dibiarkan berdiri berjam-jam mengantri untuk bersalaman.

Kalau para tokoh agama, dosen, guru, pejabat, lebih mencintai dunia dan
jabatan, ketimbang ilmu, serta tidak sejalan antara kata dan perbuatan, maka
percayalah, Pendidikan Karakter yang diprogramkan Kementerian Pendidikan
hanya akan berujung slogan! Tidak cukup!

IV. Karakter Pribadi Ideal

Pada tahun 1950, Prof. Dr. Hamka, seorang ulama dan sastrawan terkenal
Indonesia, pernah menulis sebuah buku menarik tentang pribadi manusia.
Judulnya, Pribadi, (Jakarta: Bulan Bintang. 1982, cet. Ke-10). Dengan gaya
bahasa yang renyah dan sederhana, Hamka menggambarkan apa dan bagaimana
seharusnya sebuah pribadi yang kokoh dan ideal dibangun.

Menurut Hamka, pribadi bukanlah semata-mata terkait dengan kehebatan


fisik. Kondisi fisik tentu sangat penting, sebab seorang sulit merealisasikan
pribadinya, tanpa fisik yang sehat dan kuat. Dalam bukunya, Hamka menyebut
sebelas perkara yang membentuk kepribadian seseorang, yaitu, [1] daya penarik,
[2] cerdik, [3] timbang rasa, [4] berani, [5] bijaksana, [6] baik pandangan, [7] tahu
diri, [8] kesehatan badan, [9], bijak, [10] percaya pada diri sendiri, dan [12]
tenang.

Hamka benar dalam hal ini. Keterkaitan antara kesehatan badan dengan
kepribadian tidak diragukan lagi. Jika kesehatan terganggu, seseorang tidak
leluasa lagi untuk berinteraksi dengan orang lain dan bekerja. Ada ungkapan
bahasa Latin yang terkenal mens sana in corpore sano (jiwa yang sehat ada
15

dalam tubuh yang sehat). Karena itulah, Rasulullah saw juga memeirntahkan
kaum Muslim untuk berolah raga. Imam al-Syafii, misalnya, dikenal sebagai
seorang yang ahli dalam olah raga memanah.

V. Membentuk karakter dalam Keluarga

Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam


lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Karerena keluarga merupakan
tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari
anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam
pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-
sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan
sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya.

Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan


masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan
tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan
personilpersonilnya.

Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua


orangtua dalam pendidikan mengatakan: "Ketahuilah, bahwa anak kecil
merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan
permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan
apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan
dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua
orang tuanya di dunia Pendidikan 8 Anak dalam Islam dari akherat, juga setiap
pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana
binatang temak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung
oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan
membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman
jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya
16

suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal


tersebut bila dewasa."

Individu seorang anak perlu diawasi bahakan sebelum kelahiran,


Termasuk memperhatikan anak sebelum lahir, mengikuti tuntunan Rasulullah
dalam kehidupan rumah tangga kita. Untuk pembentukan karakter anak ada hal
yang perlu perhatikan setelah kelahirannya, dianjurkan bagi orangtua atau wali
dan orang di sekitamya melakukan hal-hal berikut:

1. Menyampaikan kabar gembira dan ucapan selamat atas kelahiran.


2. Menyerukan adzan di telinga bayi.
3. Tahnik (Mengolesi langit-langit mulut).
4. Memberi nama.
5. Aqiqah.
6. Mencukur rambut bayi dan bersedekah perak seberat timbangannya.
7. Khitan.

Inilah beberapa etika terpenting yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan


oleh orangtua atau pada saat-saat pertama dari kelahiran anak.

Periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama)


merupakan periode yang amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai
pengaruh yang sangat mendalam dalam pembentukan pribadinya. Apapun yang
terekam dalam benak anak pada periede ini, nanti akan tampak pengaruh-
pengaruhnya dengannyata pada kepribadiannya ketika menjadi dewasa. (Aisyah
Abdurrahman Al Jalal, Al Muatstsirat as Salbiyah.) Karena itu, para pendidik
perlu memberikan banyak perhatian pada pendidikan anak dalam periode ini.
Aspek-aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dapat penulis
ringkaskan sebagai berikut:

1. Memberikan kasih sayang yang diperlukan anak dari pihak kedua


orangtua, terutama ibu.
2. Membiasakan anak berdisiplin mulai dari bulan-bulan pertama dari awal
kehidupannya.
17

3. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik


4. Anak dibiasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam
pergaulannya.

Setelah melewati periode 6 tahun pertama ini anak menjadi lebih siap
untuk belajar secara teratur. Ia mau menerima pengarahan lebih banyak, dan lebih
bisa menyesuaikan diri dengan teman-teman sepermainannya. Dapat kita katakan,
pada periode ini anak lebih mengerti dan lebih semangat untuk belajar dan
memperoleh ketrampilan-ketrampilan, karenanya ia bias diarahkan secara
langsung. Oleh sebab itu, masa ini termasuk masa yang paling penting dalam
pendidikan dan pengarahan anak.

Aspek-aspek terpenting yang perlu diperhatikan oleh para pendidik pada


periode ini. Yaitu:

1. Pengenalan Allah dengan cara yang sederhana.


2. Pengajaran sebagian hukum yang jelas dan tentang halal-haram.
3. Pengajaran baca Al Qur'an.
4. Pengajaran hak-hak kedua orangtua.
5. Pengenalan tokoh-tokoh teladan yang agung dalam Islam.
6. Pengajaran etiket umum.
7. Pengembangan rasa percaya diri dan tanggung jawab dalam diri anak.

Lalu Pada masa Remaja, pertumbuhan jasmani anak menjadi cepat,


wawasan akalnya bertambah luas, emosinya menjadi kuat dan semakin keras,
serta naluri seksualnya pun mulaibangkit. Masa ini merupakan pendahuluan masa
baligh.Karena itu, para pendidik perlu memberikan perhatian terhadap masalah-
masalah berikut dalam menghadapi remaja:

1. Hendaknya anak, putera maupun puteri, merasa bahwa dirinya sudah


dewasa karena ia sendiri menuntut supaya diperlakukan sebagai orang
dewasa, bukan sebagai anak kecil lagi.
18

2. Diajarkan kepada anak hukum-hukum akilbaligh dan diceritakan


kepadanya kisah-kisah yang dapat mengembangkan dalam dirinya
sikap takwa dan menjauhkan diri dari hal yang haram.
3. Diberikan dorongan untuk ikut serta melaksanakan tugas-tugas rumah
tangga, seperti melakukan pekerjaan yang membuatnya merasa bahwa
dia sudah besar.
4. Berupaya mengawasi anak dan menyibukkan waktunya dengan
kegiatan yang bermanfaat serta mancarikan teman yang baik.

Berikut ini sebagian kesalahan yang sering dilakukan oleh para pendidik.
Semoga Allah memberikan maunah (pertolongan)-Nya kepada kita untuk dapat
menjauhinya dan menunjukkan kita kepada kebenaran.

1. Ucapan pendidik tidak sesuai dengan perbuatan.


2. Kedua orangtua tidak sepakat atas cara tertentu dalam pendidikan
anak.
3. Membiarkan anak jadi korban televisi.
4. Menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak kepada pembantu atau
pengasuh.
5. Pendidik menampakkan kelemahannya dalam mendidik anak.
6. Berlebihan dalam memberi hukuman dan balasan.
7. Berusaha mengekang anak secara berlebihan.
8. Mendidik anak tidak percaya diri dan merendahkan pribadinya.
BAB III

PENUTUP

I. Kesimpulan

Dalam konsep Islam, karakter tidak sekali terbentuk, lalu tertutup, tetapi
terbuka bagi semua bentuk perbaikan, pengembangan, dan penyempurnaan, sebab
sumber karakter perolehan ada dan bersifat tetap. Karenanya orang yang
membawa sifat kasar bisa memperoleh sifat lembut, setelah melalui mekanisme
latihan. Namun, sumber karakter itu hanya bisa bekerja efektif jika kesiapan dasar
seseorang berpadu dengan kemauan kuat untuk berubah dan berkembang, dan
latihan yang sistematis.

Tiga langkah merubah karakter :

1. Terapi kognitif

Cara yang paling efektif untuk memperbaiki karakter dan


mengembangkannya adalah dengan memperbaiki cara berfikir.Langkah :

Pengosongan, berarti mengosongkan benak kita dari berbagai bentuk


pemikiran yang salah, menyimpang, tidak berdasar, baik dari segi agama maupun
akal yang lurus Pengisian, berarti mengisi kembali benak kita dengan nilai-nilai
baru dari sumber keagamaan kita, yang membentuk kesadaran baru, logika baru,
arah baru, dan lensa baru dalam cara memandang berbagai masalah
Kontrol, berarti kita harus mengontrol pikiran-pikiran baru yang melintas dalam
benak kita, sebelum berkembang menjadi gagasan yang utuh
Doa, berarti bahwa kita mengharapkan unsur pencerahan Ilahi dalam cara berfikir
kita

19
20

2. Terapi mental

Warna perasaan kita adalah cermin bagi tindakan kita. Tindakan yang
harmonis akan mengukir lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis.
Langkah :

Pengarahan, berarti perasaan-perasaan kita harus diberi arah yang jelas,


yaitu arah yang akan menentukan motifnya. Setiap perasaan haruslah mempunyai
alasan lahir yang jelas. Itu hanya mungkin jika perasaan dikaitkan secara kuat
dengan pikiran kita. Penguatan, berarti kita harus menemukan sejumlah sumber
tertentu yang akan menguatkan perasaan itu dalam jiwa kita. Ini secara langsung
terkait dengan unsur keyakinan, kemauan, dan tekad yang dalam yang memenuhi
jiwa, sebelum kita melakukan suatu tindakan. Kontrol, berarti kita harus
memunculkan kekuatan tertentu dalam diri yang berfungsi mengendalikan semua
warna perasaan diri kita Doa, berarti kita mengharapkan adanya dorongan
Ilahiyah yang berfungsi membantu semua proses pengarahan, penguatan, dan
pengendalian bagi mental kita

3. Perbaikan fisik

Sebagaimana ahli kesehatan mengatakan bahwa dasar-dasar kesehatan itu


tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur :

1. Gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan.


2. Olahraga yang teratur dalam kadar yang cukup.
3. Istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh

Hadist riwayat Imam Ahmad : Rasulullah berkata, “Inginkah kalian


kuberitahu tentang siapa dari kalian yang paling kucintai dan akan duduk di
majelis terdekat denganku di hari kiamat?” Kemudian Rasul mengulanginya
sampai tiga kali, dan sahabat menjawab “Iya, ya rasulullah !” Lalu rasul bersabda,
“Orang yang paling baik akhlaknya.”
21

II. Saran

Firman Allah Ta'ala: "Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku,


niscaya akan Kuperkenankan bagimu ….(Surah Al Mu'min: 60) "Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya
Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia
memohon kepada-Ku….." (Surah Al-Baqarah : 186). Diriwayatkan dari An
Nu'man bin Basyir Radhiyallahu 'Anhu bahwa Nabi bersabda: "Do'a adalah
ibadah".

Doa mempunyai peranan yang penting sekali dalam pendidikan anak,


bahkan dalam seluruh urusan kehidupan, dan hanya Allah'Azza wa Jalla yang
memberikan taufik dan hidayah.Seorang muslim mungkin telah berusaha
maksimal dalam upaya mendidik anaknya agar menjadi orang shaleh tetapi tidak
berhasil.

Sebaliknya, ada anak yang menjadi orang shaleh sekalipun terdidik di


tengah lingkungan yang menyimpang dan jelek; bahkan mungkin dibesarkan
tanpa mendapat perhatian pendidikan dari kedua orangtua jadi, petunjuk itu
sematamata dari Allah. Dialah yang berfirman: "Sesungguhnya kamu tidak akan
dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi
petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya…"( Al-Qashash : 56).

Maka kita semua tidak boleh melupakan aspek ini dan wajib memohon dan
berdo'a kepada Allah semoga berkenan menjadikan kita dan anak keturunan kita
orang-orang yang shaleh, hanya Dialah yang memberi petunjuk kepada jalan yang
lurus.
Daftar Pustaka

Matta, Muhammad Anis. Membentuk Karakter Cara Islam/Cet-3, Jakarta :


Al-I’tishom Cahaya Umat, 2006.

Husaini, Adian. Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan


Beradab/Cet-1, Jakarta : Cakrawala Publishing, 2010.

Al-Hasan, Syaikh Yūsuf Muhammad. Pendidikan Anak Dalam Islam


(Terjemahan oleh yayasan Al-Sofwa), E-book online, 2007.

22