Anda di halaman 1dari 15

Makalah Matematika

Polinomial

Disusun oleh
Nama Kelompok 2:
Meiria rosalinda

Despriady tampubolon

Yosia silalahi

Kelas: XI mipa 4

Guru pengampuh
Damar Rais, M.pd

SMAN2 PKL.KERINCI

KABUPATEN PELALAWAN
Konsep dan operasi hitung pada polinimial

1. Penjumlahan dan pengurangan


Penjumlahan dan pengurangan polinom f(x) dan polinom g(x) dapat dilakukan dengan
menjumlahkan atau mengurangkan suku-suku sejenisnya. Misalkan 5x2 dan 3x2 dapat
dijumlahkan menjadi 8x2 dan dikurangkan menjadi 2x2. Namun 5x3 dan 3x2 bila dijumlahkan
menjadi 5x3 + 3x2 dan bila dikurangkan menjadi 5x3 – 3x2. Jadi, dalam menjumlahkan
polinom perlu memperhatikan pangkatnya.

Contoh:

Diketahui dua buah sukubanyak f(x) dan g(x) dinyatakan dengan f(x) = x3 + x2 – 4 dan g(x) =
x3 – 2x2 + x + 2

1. f(x) + g(x) = x3+ x2 –


2. 4 + x3 – 2x2 + x + 2

Maka, f(x) + g(x) = 2x3 – x2 + x – 2

1. f(x) – g(x) = x3+ x2 – 4 – (x3 – 2x2 + x + 2)

f(x) – g(x) = x3 + x2 – 4 – x3 + 2x2 – x – 2

Maka, f(x) – g(x) = 3x2 – x – 6

2. Perkalian
Untuk perkalian antarpolinom, tidak ada syarat spesifik. Perkalian sukubanyak f(x) dengan
suku banyak g(x) dapat ditentukan dengan cara mengalikan suku-suku dari kedua
sukubanyak itu. Dalam mengalikan suku-suku dari kedua buah sukubanyak itu digunakan
sifat distributif perkalian baik distributif perkalian terhadap penjumlahan maupun distributif
perkalian terhadap pengurangan.

Contoh:

Diketahui dua buah sukubanyak f(x) dan g(x) dinyatakan dengan f(x) = x3 + x2 – 4 dan g(x) =
x3 – 2x2 + x + 2

f(x) • g(x) = ( x3 + x2 – 4)(x3 – 2x2 + x + 2)

f(x) • g(x) = x3(x3 – 2x2 + x + 2) + x2(x3 – 2x2 + x + 2) – 4(x3 – 2x2 + x + 2)

f(x) • g(x) = x6 – 2x5 + x4 + 2x3 + x5 – 2x4 + x3 +2x2 – 4x3 + 8x2 – 4x + 8


f(x) • g(x) = x6 + (-2x5 + x5) + (x4 – 2x4) + (2x3 + x3 – 4x3) + (2x2 + 8x2) – 4x – 8

Maka, f(x) • g(x) = x6 – x5 – x4 – x3 + 10x2 – 4x – 8

3. Pembagian
Pembagian di polinomial memiliki beberapa metode. Sebelumnya kita akan membahas
tentang dasar dari hasil bagi dan sisa dari pembagian polinom.

Sebagai contoh: 11:2 adalah 5 dengan sisa 1. Maka dapat dituliskan 11 = 2 • 5 + 1

Maka: yang dibagi = pembagi x hasil bagi + sisa pembagian

P(x) = Q(x) • H(x) + S(x)

P(x) = yang dibagi


Q(x) = pembagi
H(x) = hasil bagi
S(x) = sisa pembagian

Setelah mengetahui dasar-dasar pembagian polinom, kita akan membahas 4 metode


pembagian polinom.

1. Cara pembagian bersusun

Sederhananya, pembagian bersusun menggunakan cara yang sama dengan metode pembagian
dasar yg diajarkan sejak SD:

Dari contoh sederhana ini kita bisa melihat bahwa:


P(x) = 261
Q(x) = 7
H(x) = 37
S(x) = 2

Sekarang mari kita terapkan pada pembagian polinom. Misalkan f(x) = x3 – x2 + x -1 dibagi
g(x) = x-2

Cara mengerjakannya adalah:

2. Mulailah dengan membagi x3 pada P(x) dengan x pada Q(x). Maka akan didapatkan
H(x) x2.
3. Kalikanlah x2 dengan (x-2), sehingga diperoleh x3 – 2x2. Tempatkan di bawah yang
dibagi dan kurangkanlah, sehingga tersisa x2 + x – 1.
4. Bagilah x2 pada P(x) dengan x pada Q(x). Maka akan didapatkan H(x) x.
5. Kalikanlah x dengan (x-2) sehingga diperoleh x2 – 2x. Kurangkanlah sehingga
diperoleh sisa 3x-1.
6. Bagilah 3x pada P(x) dengan x pada Q(x) sehingga diperoleh 3. Kalikanlah lagi dan
kurangkanlah sehingga mendapatkan sisanya.

2. Horner

Misalkan P(x) = ax3 + bx2 + cx + d dibagi dengan x-h. Untuk menghitung dengan cara horner
pertama-tama:

1. Tuliskanlah koefisien secara urut mulai dari variabel berpangkat tertinggi


Jika ada variabel yang tidak ada, maka koefisiennya ditulis 0

Contoh: untuk 4x3 – 5x2 + 1, koefisien-koefisiennya adalah 4, -5, 0, dan 1 (untuk x3, x2, x,
dan konstanta). Ingat, perhatikan tanda negatif dan positif!

1. Misalkan x-h=0, maka x=h. Tuliskanlah nilai x ini di sebelah kiri bawah.
2. Koefisien pertama, yaitu a, tidak dijumlahkan dengan apapun, sehingga hasilnya tetap
a
3. Koefisien pertama (a) dikalikan dengan nilai x (h) sehingga hasilnya ah yang
dituliskan di bawah koefisien kedua (b). Jumlahkan keduanya.
4. Lanjutkan terus hingga koefisien terakhir dijumlahkan dengan hasil kali terakhir.
Penjumlahan terakhir ini adalah S(x). Dan hasil penjumlahan lainnya adalah koefisien
dari H(x).

Berikut adalah contoh soal:

1. Hasil pembagian 3x3 + 2x2 – 5x – 8 dibagi dengan x+2 adalah…

Tulislah dulu koefisien dari P(x) dan nilai x seperti di atas.

Kemudian gunakan langkah-langkah yang telah dijelaskan di atas, sehingga didapat hasilnya
H(x) = 3x2 – 4x + 3 dan sisanya S(x) = -14

2. Tentukan H(x) dan S(x) dari P(x) = x3 + 2x2 + 3x – 4 dibagi dengan Q(x) = x-5

Pertama-tama, seperti dijelaskan di atas, tulislah koefisien dari P(x) secara urut dari terbesar.
Kemudian di sebelah kiri tulislah nilai x, yang didapat dengan permisalan Q(x) = 0 yaitu
x-5 = 0 sehingga diperoleh x = 5

3. Apabila menemui soal di mana pembagi berupa (ax-b) di mana a≠1, maka hasil baginya
harus dibagi dengan a. Namun, sisa pembagian tidak perlu dibagi.

P(x) = 2x2 + 5x – 1 : Q(x) = 2x-3


Dari penghitungan ini, dapat dilihat bahwa H(x) yang diperoleh adalah 2x+8. Nah, H(x) ini
yang harus dibagi dengan a (yaitu 2) sehingga H(x) = x+4, dan S(x) = 11. Bila tidak yakin
dalam penghitungan, bisa mengkonfirmasi jawaban dengan menggunakan cara bersusun.

Kalau contoh-contoh di atas adalah cara horner saat Q(x) berbentuk (ax-b), ada lagi bentuk
lain yaitu jika pembagi dapat difaktorkan (seperti pangkat 2 atau lebih), maka:

Jika pembagi dapat difaktorkan menjadi P1 dan P2, maka S(x) = P1.S2 + S1

Jika pembagi dapat difaktorkan menjadi P1, P2, P3, maka S(x) = P1.P2.S3 + P1.S2 + S1

Jika pembagi dapat difaktorkan menjadi P1, P2, P3, P4, maka S(x) = P1.P2.P3.S4 + P1.P2.S3 +
P1.S2 + S1, dan seterusnya

Contoh soal: Polinomial 2x3 – 3x2 + x + 5 dibagi dengan 2x2 – x – 1, tentukan hasil bagi dan
sisanya!

Q(x) = 2x2 – x – 1 = (2x + 1)(x – 1)

P1 adalah 2x + 1 = 0 → x = –½

P2 adalah x – 1 = 0 → x = 1

Cara Hornernya:

H(x) = x – 1

S(x) = P1.S2 + S1 = (2x + 1).1/2 + 7/2 = x + ½ + 7/2 = x + 4

3. Koefisien tak tentu

Koefisien tak tentu mengikuti definisi pembagian polinom P(x) = Q(x) • H(x) + S(x)

Agar lebih jelas, perhatikan contoh berikut.

Tentukan hasil bagi dan sisa pembagian dari P(x) = x3 + 2x2 – x + 3 dengan x+2

Maka dapat dituliskan x3 + 2x2 – x + 3 = (x+2) . H(x) + S(x)


Karena kita tidak tahu apapun tentang H(x) kita harus menggunakan permisalan. Jadi kita
tahu bahwa P(x) berderajat 3 dan Q(x) berderajat 1. Maka dapat disimpulkan bahwa H(x)
harus berderajat 2 agar saat dikali Q(x) menghasilkan P(x) berderajat 3. Lalu, untuk S(x), bila
anda memperhatikan, derajatnya selalu derajat Q(x) dikurangi 1. Jadi bila Q(x) berderajat 1,
maka S(x) berderajat 0. Bila Q(x) berderajat 4, maka S(x) berderajat 3, dan seterusnya. Bila
ditulis akan terlihat seperti ini:

x3 + 2x2 – x + 3 = (x+2)(ax2 + bx + c) + (d) kemudian jabarkanlah:

x3 + 2x2 – x + 3 = ax3 + (b+2a)x2 + (2b+c)x + (2c+d) hal ini berarti ruas kiri sama dengan
ruas kanan, maka:

a. Koefisien pangkat 3

1=a
maka a = 1

b. Koefisien pangkat 2

2 = b + 2a (ingat a=1)
2=b+2
b=0

c. Koefisien pangkat 1

-1 = 2b + c (ingat b=0)
c = -1

d. Koefisien pangkat 0

3 = 2c+d (ingat c=-1)


d=5

Sehingga: H(x) = x2 – 1 dan S(x) = 5

4. Horner-Kino

Horner-Kino digunakan untuk menghitung pembagian dengan pembagi berbentuk (ax2 + bx +


c), atau berpangkat ≥ 2. Perhatikan contoh:

x3 + x2+ 2x + 10 dibagi x2 – x + 3

a. Misalkan x2 – x + 3 adalah ax2 + bx + c. Maka: a= 1, b= -1, c=3

b. Tuliskan dulu koefisien P(x) seperti pada cara Horner. Bedanya dengan horner adalah yang
ditulis di sebelah kiri.
Yang di sebelah kiri adalah pembagian koefisien dari Q(x), dengan -b/a selalu di bawah.

Pada baris 1, adalah penulisan koefisien P(x).


Pada baris 2, kolom paling kiri -c/a (-3/1) kolom 1 dan kolom 2 dikosongkan.
Pada baris 3, kolom paling kanan -b/a (-1/-1) kolom 1 dan kolom 4 dikosongkan.
Kalikanlah seperti pada contoh. Ingat, derajat S(x) adalah derajat Q(x) – 1. sehingga karena
derajat Q(x) 2, derajat S(x) 1; bentuknya ax+b, karena itu sisa diambil dari 2 kolom paling
kiri.
Sedangkan derajat H(x) adalah derajat P(x) dikurangi derajat Q(x). Sehingga derajat H(x)
adalah 1, bentuknya juga ax+b.

Teorema Sisa dan Teorema Faktor pada Suku Banyak


(Polinomial)
Teorema Faktor
Metode-metode Faktorisasi polinomial

Faktor Persekutuan dan Faktor Persekutuan Terbesar

Faktor Persekutuan (Common Factor, Common Divisor) adalah bentuk aljabar (bisa
berupa konstanta, variabel, atau perkalian keduanya) yang dapat membagi suku-suku
polynomial. Faktor Persekutuan Terbesar (Greatest Common Factor, Greatest Common
Divisor) adalah faktor persekutuan yang bernilai paling besar dan dapat membagi suku-suku
polynomial. Cara yang paling mudah dalam mencari FPB adalah dengan memfaktorkan
masing-masing suku terlebih dulu. Setelah itu, FPB dikeluarkan ke luar tanda kurung.

Contoh 1:
 5x + 10 = 5 ∙ x + 5 ∙ 2 = 5(x + 2)
 12x2 – 9x = 2 ∙ 2 ∙ 3 ∙ x ∙ x – 3 ∙ 3 ∙ x = 3x(4x – 3)

Pemfaktoran dengan Cara Pengelompokan

Sebelum melakukan pemfaktoran dengan pengelompokan, harap untuk selalu memperhatikan


apakah suku-suku dalam polynomial memiliki FPB yang tidak satu atau tidak.

Contoh 2:
6abx + 9ax – 2bx – 3x
= x(6ab + 9a – 2b – 3)
= x([6ab + 9a] + [–2b – 3])
= x(3a[2b + 3] – [2b + 3])
= x(3a – 1)(2b + 3)

Contoh 3A:
5xy + 2y – 20x – 8
= (5xy – 8) + (2y – 20x)
= (5xy – 8) + 2(y – 10x)
Kesalahan dalam pembagian kelompok.

Contoh 4:
x + 2xy + 3y + 5
= (x + 2xy) + (3y + 5)
= x(1 + 2y) + (3y + 5)

Bentuk aljabar dalam kurung tidak sama, dan dengan pengelompokan lain juga akan
menghasilkan bentuk aljabar dalam kurung yang tidak sama, soal tersebut tidak dapat
difaktorkan dengan cara pengelompokan.

Pemfaktoran dengan cara pengelompokan juga dapat digunakan dalam memfaktorkan


polynomial bentuk ax2 + bx + c, dengan a, b, dan c adalah bilangan real. Jika tidak terdapat
suatu bilangan di depan salah satu suku x, maka bilangannya adalah 1.

Contoh 5:
2x2 + x – 5
a = 2; b = 1; c = –5

Cara memfaktorkan trinomial, polinomial dengan 3 suku, adalah dengan mengubahnya dari 3
suku menjadi 4 suku. Langkah pertama adalah mencari 2 bilangan yang dijumlahkan
menghasilkan b, dan jika dikalikan menghasilkan ac. Jika tidak dapat ditemukan kedua
bilangan yang memenuhi, maka trinomial tersebut tidak dapat diselesaikan dengan cara
pengelompokan. Setelah ditemukan 2 bilangan yang memenuhi, pecahlah b menjadi
penjumlahan dari kedua bilangan tersebut. Setelah itu, permasalahannya dapat
diselesaikan seperti contoh 2 – 4.

Pemfaktoran Kasus Khusus

Berikut ini adalah kasus khusus dalam pemfaktoran yang perlu diingat.
 a2 – b2 = (a + b)(a – b)
 a3 + b3 = (a + b)(a2 – ab + b2)
 a3 – b3 = (a – b)(a2 + ab + b2)

Contoh 8:
x2 – 9 = (x + 3)(x – 3)

Contoh 9:
x3 + 8 = x3 + 23 = (x + 2)(x2 – 2x + 4)

Contoh 10:
8x3 – 27 = (2x)3 – 33 = (2x – 3)(4x2 + 6x + 9)

Substitusi

Cara substitusi digunakan untuk pemfaktoran trinomial bentuk ax2m + bxm + c, dengan a, b, c,
dan m bilangan real. Yang perlu dilakukan adalah dengan memisalkan u = x2, kemudian
difaktorkan secara biasa. Setelah difaktorkan dalam u, substitusi u dengan x2.

Contoh 11:
x4 – 4x2 – 45; misal u = x2
= u2 – 4u2 – 45
= (u – 9)(u + 5)
= (x2 – 9)(x2 + 5)
= (x + 3)(x – 3)(x2 + 5)