Anda di halaman 1dari 4

PENCIPTAAN PROGRAM DOKUMENTER TELEVISI

“NINI THOWONG”

DENGAN GAYA EXPOSITORY

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Televisi merupakan salah satu media massa yang perkembangannya pesat
melebihi media massa lainnya. Televisi juga sangat digemari oleh sebagian besar
lapisan masyarakat, sehingga mampu mengantarkan televisi sebagai media massa
yang begitu mendominasi. Berbagai program dan jenis acara ditawarkan oleh televisi
yang mampu membuat masyarakat enggan untuk meninggalkan setiap acara yang di
tawarkan diwaktu luang.
Televisi harus memenuhi syarat akan informasi, pendidikan dan hiburan bagi
masyarakat atau publik. Salah satu program acara televisi yang sarat akan informasi
dan hiburan yaitu program dokumenter televisi. Disamping itu pula dokumenter
merupakan tontonan yang bersikap netral untuk disaksikan oleh sebagian besar
lapisan masyarakat. Informasi yang disajikan lebih mendalam disertai dengan fakta
dan isu di lapangan yang kecil kemungkinan untuk dimanipulasi. Sehingga
masyarakat mendapatkan informasi yang layak dan akurat.
Film dokumenter memiliki karakter sendiri di mana audiensi menyaksikannya
antar serius dan rileks. Film dokumenter yang dibuat untuk acara televisi berbeda
dengan film dokumenter yang dibuat secara independen. Film dokumenter untuk
televisi biasanya mempunyai waktu riset yang lebih singkat. Acara dokumenter di
televisi sudah masuk menjadi jadwal acara televisi tersebut, sehingga terkesan kejar
tayang atau dengan produksi yang sederhana dan tidak mempunyai waktu yang
banyak untuk proses pengerjaannya.
Dalam pembuatan film dokumenter televisi, crew juga harus pandai dalam
memperhitungkan karakter audiens. Karakter audiens televisi cenderung pasif, akan
tetapi mereka juga cerdas dalam memilih dan mengganti-ganti saluran untuk mencari
program terbaik yang mereka inginkan. Selain itu, dokumenter di televisi juga
mempunyai karakter berbeda dengan dokumenter independen. Dokumenter di televisi
harus selalu memperhatikan dan mengikuti prinsip kerja jurnalistik, dimana fakta,
narasumber, dan prinsip keseimbangan harus dijaga.

Dokumenter eksposisi ( Expository ) merupakan dokumenter yang paling


konvensional atau telah lama digunakan. Merupakan format dokumenter
televisi, sebagai ciri khasnya menggunakan narator sebagai penutur
tunggal, istilahnya voice of god untuk narator tersebut.
Membuat film dokumenter dari awal telah direncanakan akan disajikan untuk
apa dan siapa saja audiensnya. Dokumenter juga ada yang bertujuan untuk
propaganda membangun nasionalisme dan mempengaruhi ideologi politik,
memberikan memberikan ilmu pengetahuan, pengenalan tokoh bersejarah, promosi
dan lain sebagainya. Dengan target pemirsa atau penonton yang beragam pula serta
segmentasi pasar tertentu atau spesial.

Seiring perkembangan zaman, permainan tradisional semakin jarang ditemui.


Berbagai macam permainan tradisional yang dahulu pernah menjadi cara menghibur
diri, sudah beralih kepada teknologi. Di daerah pedesaan, permainan tradisional masih
dapat ditemukan, salah satunya yaitu seni tradisional Nini Thowong. Seni tradisional
Nini Thowong ini muncul di tanah Jawa yang erat kaitannya dengan budaya bercocok
tanam. Yang dimana permainan ini juga menggunakan simbol perempuan yang
dijadikan sebagai simbol kesuburan, sebagaimana figur perempuan di belahan dunia
merupakan figur yang disepakati sebagai simbol kesuburan.
Seiring perkembangan waktu, kesenian tradisional pun mengalami banyak
perubahan (modifikasi) baik dalam hal bentuk atau penggunaan permainan tersebut.
Hal inilah yang ditemukan juga dalam permainan Nini Thowong yang dimana juga
harus mempertahankan eksistensinya sebagai permainan yang menghibur tanah Jawa
berjuta tahun sebelumnya. Keberadaan permainan ini mempunyai perkembangan
modifikasi yang berbeda antara yang terdapat di Dusun Grudo, Kelurahan
Panjangrejo, kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta dengan yang ada di
tempat lain.
Dusun Grudo merupakan salah satu dusun yang terletak di Yogyakarta yang
terkenal dengan seni tradisional yang khas. Seni tradisi yang khas yaitu kesenian Nini
Thowong. Kesenian ini dipercaya sebagai sebuah ‘permainan roh’ yang dimasukkan
pada sebuah boneka yang di buat seukuran manusia dewasa yang terbuat dari siwur (
gayung dari batok kelapa ) kemudian dicat dengan wajah pucat ( Thowong ), serta
didandan menyerupai perempuan dengan segala pernak perniknya dengan tubuh yang
terbuat dari bambu. Biasanya permainan ini desangga/dipegang oleh perempuan
dewasa dengan seorang pawang yang menentukan roh siapa saja yang akan
dimasukkan pada boneka tersebut. Keberadaan pawang juga lah yang kemudian
menginterpretasikan gerakan-gerakan Nini Thowong saat dimainkan.
Terlepas dari semua itu, keberadaan seni tradisional Nini Thowong perlu
kiranya dihadirkan atau di transformasikan kepada khalayak sebagai bentuk eksistensi
juga sebagai pengarsipan serta pelestarian budaya. Maka seni tradisionala ini kami
hadirkan dalam bentuk gambar bergerak dan suara ( Audio visual ) melalui media
televisi yaitu dengan format program dokumenter televisi.
Dokumenter Nini Thowong menggunakan gaya dokumenter expository, di
mana gaya dokumenter ini merupakan gaya dokumenter yang paling mudah untuk
dimengerti oleh khalayak. Dokumenter ini
Kesuksesan sebuah produksi film dokumenter tidak terlepas dari manajemen
yang mengatur proses produksinya. Dokumenter Nini Thowong
B. Ide Penciptaan
C. Tujuan Penciptaan
D. Tinjauan Karya

BAB II OBJEK PENCIPTAAN DAN ANALISIS

A. Objek Penciptaan
1.
B. Analisis Objek

BAB III LANDASAN TEORI

A. Televisi
B. Dokumenter
C. Dokumenter Expository
D. Pendekatan Sosiologi

BAB IV KONSEP KARYA

A. Konsep Estetik
1. Konsep Penyutradaraan
2. Konsep Videografi
3. Konsep Tata Artistik
4. Konsep Tata Suara
5. Konsep Editing
B. Desain Program
C. Desain Produksi
1. Tema
2. Judul
3. Narasumber
4. Sinopsis
5. Treatment
D. Konsep Teknis

BAB V. PERWUJUDAN DAN PEMBAHASAN KARYA

A. Tahapan Perwujudan
1. Pra Produksi
2. Produksi
3. Pascaproduksi
B. Pembahasan Karya
1. Pembahasan Dokumenter dengan Gaya Expository
2. Pembahasan Dokumenter “ NINI THOWONG”
3. Pembahasan Segmen Program
4. Pembahasan Visual Program
C. Kendala dalam Perwujudan Karya

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN