Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

PERILAKU KEKERASAN

A. Definisi Perilaku Kekerasan


Marah adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap
kecemasan atau kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman.
Patricia D. Barry (1990:140), menyatakan: Agression: an emotion compounded
of frustration and hate or rage. It is an emotion deeplyrooted in every one of us, a
vital part of our emotional being that must be either projected outward on the
environment or inward, destructively, on the self. Suatu keadaan emosi yang
merupakan campuran perasaan frustasi dan benci atau marah. Hal ini didasari
keadaan emosi secara mendalam dari setiap orang sebagai bagian penting dari
keadaan emosional kita yang dapat diproyeksikan ke lingkungan ke dalam diri atau
secara destruksif.
Perilaku kekerasan dianggap sebagai suatu akibat yang ekstrim dari marah atau
ketakutan (panik). Perilaku agresif dan perilaku kekerasan itu sendiri sering
dipandang sebagai suatu rentang, dimana agresif verbal disuatu sisi dan perilaku
kekerasan (violence) di sisi lain. (Yosep, Iyus. 2007)
Suatu keadaan dimana seseorang individu mengalami perilaku yang dapat
melukai secara fisik baik terhadap diri sendiri atau orang lain (towsend, 1998).
Suatu keadaan dimana klien mengalami perilaku yang dapat membahayakan
klien sendiri,lingkungan termasuk orang lain dan barang- barang. (marmis, 2004).
Perilaku kekerasan merupakan respons terhadap stresor yang dihadapi oleh
seseorang, yang ditunjukkan dengan perilaku aktual melakukan kekerasan,baik pada
diri sendiri maupun orang lain,secara verbal maupun non verbal,bertujuan untuk
melukai orang secara fisik maupun psikologis.(berkowitz, 2000).
Jadi berdasarkan definisi di atas kelompok dapat menarik kesimpulan bahwa
perilaku kekerasan adalah suatu perilaku yang membahayakan baik kepada diri
sendiri, orang lain, maupun lingkungan.
B. Proses terjadinya masalah
A) Patofisiologi
Ancaman

Stress

1
Cemas

Marah

Merasa kuat Mengungkapkan secara Merasa tidak adekuat


Verbal

Menentang Menjaga keutuhan orang lain Melarikan diri

Masalah tidak Lega Mengingkari


selesai marah

Marah berkepanjangan Ketegangan menurun Marah tidak


terungkap
Rasa marah teratasi

Muncul rasa kemarahan

Rasa bermusuhan menahun

Marah pada diri sendiri Marah pada orang


lain/lingkungan

Depresi psikosomatik Agresif mengamuk

Gambar 2. Proses terjadinya perilaku kekerasan


(Beck, dkk. 1986. Hal. 447 dikutip oleh Keliat, 1994).

B) Etiologi
1. Adanya stressor yang berasal dari internal atau eksternal.
a. Stressor internal seperti penyakit, hormonal, dendam, kesal
b. Stressor eksternal bisa berasal dari ledekan, cacian, makian, hilangnya
benda berharga, tertipu, penggusuran, bencana, dan sebagainya
2. Kehilangan harga diri karena tidak dapat memenuhi kebutuhan sehingga
individu tidak berani bertindak, cepat tersinggung, dan lekas marah.
3. Frustasi akibat tujuan tidak tercapai atau terhambat, sehingga individu
merasa cemas dan terancam.
4. Kebutuhan aktualisasi diri yang tidak tercapai sehingga menimbulkan
ketegangan dan membuat individu cepat tersinggung.
C) Rentang respon marah

Perilaku Kekerasan | 2
Adaptif Maladaptif

Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk

Kegagalan yang menimbulkan frustasi dapat menimbulkan respon pasif dan


melarikan diri/respon melawan dan menentang sampai respon maladaptif yaitu
agresif –kekerasan.
1. Asertif
Individu dapat mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan
memberikan kelegaan.
2. Frustasi
Individu gagal mencapai tujuan kepuasan saat marah dan tidak dapat
menemukan alternative.
3. Pasif
Perilaku dimana seseorang tidak mampu mengungkapkan perasaan sebagai
suatu usaha dalam mempertahankan haknya.
4. Agresif
Memperlihatkan permusuhan, keras dan menuntut, mendekati orang lain
dengan ancaman memberi kata-kata ancaman tanpa niat melukai orang
lain. Umumnya klien masih dapat mengontrol perilaku untuk tidak
melukai orang lain.
5. Amuk
Perasaan marah dan bermusuhan kuat disertai kehilangan kontrol diri.
Individu dapat merusak diri sendiri orang lain dan lingkungan.
D) Proses Kemarahan
Stress, cemas, marah merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang harus
dihadapi oleh setiap individu. Stress dapat menyebabkan kecemasan yang
menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan dan terancam. Kecemasan
dapat menimbulkan kemarahan.
Respon terhadap marah dapat di ungkapkan melalui 3 cara yaitu:
1. Mengungkapkan secara verbal
2. Menekan
3. Menantang

Perilaku Kekerasan | 3
Dari ketiga cara ini cara yang pertama adalah konstruktif sedang dua cara lain
adalah destruktif. Dengan melarikan diri atau menantang akan menimbulkan
rasa bermusuhan, dan jika cara ini dipakai terus-menerus, maka kemarahan
dapat diekspresikan pada diri sendiri, atau lingkungan dan akan tampak
sebagai depresi psikomatik atau agresif dan ngamuk.
Kemarahan diawali oleh adanya stressor yang berasal dari internal atau
eksternal. Stressor internal seperti penyakit, hormonal, dendam, kesal
sedangkan stressor eksternal bisa berasal dari ledekan, cacian, makian,
hilangnya benda berharga, tertipu, penggusuran, bencana, dan sebagainya. Hal
tersebut akan mengakibatkan kehilangan atau gangguan pada system individu
(disruption and loss). Hal yang terpenting adalah bagaimana seorang individu
memaknai setiap kejadian yang menyedihkan, atau menjengkelkan tersebut
(personal meaning).
Bila seseorang memberi makna positif, misalnya : penyakit adalah saran
penggugur dosa, suasana bising adalah melatih persyarafan telinga (nervus
auditorius) maka ia akan dapat melakukan kegiatan secara positif
(compensatory act) dan tercapai perasaan lega (resolution). Bila ia gagal dalam
memberikan makna mengganggap segala sesuatunya sebagai ancaman atau
tidak mampu melakukan kegiatan positif (olahraga, menyapu atau baca puisi
saat dia marah dan sebagainya) maka akan muncul perasaan tidak berdaya dan
sengsara (helplessness). Perasaan itu akan memicu timbulnya kemarahan
(anger). Kemarahan yang diekspresikan keluar (expressed outward) dengan
kegiatan yang kontruktif (constructive action) dapat menyelesaikan masalah.
Kemarahan yang di ekpresikan keluar (expressed outward) dengan kegiatan
yang destruktif (destructive action) dapat menimbulkan perasaan bersalah dan
menyesal (guilt). Kematahan yang dipendam akan menimbulkan gejala
psikosomatis (painful symptom) (Yosep, Iyus. 2009).
Batasan ungkapan marah :
Loomis (1970) dikutip dari Stuart dan Sundeen (1987;579) menetapkan 3
batasan ungkapan marah :
1. Menyatakan harapan pada klien dengan cara positif.
2. Membantu klien menggali alasan dan maksud tingkah laku klien.
3. Bersama klien menetapkan alternative cara mengungkapkan marah.
C. Tanda dan gejala

Perilaku Kekerasan | 4
Perawat dapat mengidentifikasikan dan mengobservasi tanda dan gejala perilaku
kekerasan:
1) Fisik
a. Muka merah dan tegang
b. Mata melotot/ pandangan tajam
c. Tangan mengepal
d. Wajah memerah dan tegang
e. Postur tubuh kaku
f. Mengatupkan rahang dengan kuat
g. Jalan mondar-mandir
2) Verbal
a. Bicara kasar
b. Suara tinggi, membentak atau berteriak
c. Mengancam secara verbal atau fisik
d. Mengumpat dengan kata-kata kotor
e. Suara keras
f. Ketus
3) Perilaku
a. Melempar atau memukul benda/orang lain
b. Menyerang orang lain
c. Melukai diri sendiri/orang lain
d. Merusak lingkungan
e. Amuk/agresif.
4) Perhatian
Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.
5) Fisiologi
Tekanan darah meningkat, RR meningkat, napas dangkal, tonus otot meningkat,
muka memerah, perubahan kadar HCl lambung, peningkatan frekuensi
berkemih, dilatasi pupil.
6) Emosi
Labil, tidak sadar, ekspresi wajah tegang, pandangan tajam, merasa tidak aman,
bermusuhan, marah, bersikeras, dendam, menyerang, takut, cemas, merusak
benda.
7) Intelektual

Perilaku Kekerasan | 5
Bicara mendominasi, bawel, berdebat, meremehkan, konsentrasi menurun,
persuasif
8) Social
Menarik diri, sinis, curiga, agresif, mengejek, menolak kasar.
9) Spiritual
Ragu-ragu, moral kurang.
D. Proses keperawatan
A) Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dan dasar utama dari proses keperawatan.
1. Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, diagnosa medis, pendidikan
dan pekerjaan.
2. Alasan Masuk
Tanyakan kepada klien atau keluarga/pihak yang berkatan dan tuliskan
hasilnya pa yang menyebabkan klien dating kerumah sakit? Apa yang
sudah dilakukan oleh klien atau keluarga sebelumnya atau dirumah untuk
mengatasi masalah ini. Dan bagaimana hasilnya.
3. Faktor predisposisi
Menanyakan apakah keluarga mengalami gangguan jiwa, bagaimana hasil
pengobatan sebelumnya, apakah pernah melakukan atau mengalami
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam
keluarga, dan tindakan criminal. Menanyakan kepada klien dan keluarga
apakah ada yang mengalami gangguan jiwa, menanyakan kepada klien
tentang pengalaman yang tidak menyenangkan.
4. Pemeriksaan fisik
Memeriksa tanda-tanda vital, tinggi badan, berat badan, dan tanyakan
apakah ada keluhan fisik yang dirasakan klien.
5. Psikososial
1. Genogram
Genogram menggambarkan klien dengan keluarga, dilihat dari pola
komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.
2. Konsep diri
a. Gambaran diri

Perilaku Kekerasan | 6
Tanyakan persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang
disukai, reaksi klien terhadap bagian tubuh yang tidak disukai dan
bagian yang disukai.
b. Identitas diri
Status dan posisi klien sebelum klien dirawat, kepuasan klien
terhadap status dan posisinya, kepuasan klien sebagai laki-laki
atau perempuan, keunikan yang dimiliki sesuai dengan jenis
kelaminnya dan posisinya.
c. Fungsi peran
Tugas atau peran klien dalam keluarga / pekerjaan / kelompok
masyarakat, kemampuan klien dalam melaksanakan fungsi atau
perannya, perubahan yang terjadi saat klien sakit dan dirawat,
bagaimana perasaan klien akibat perubahan tersebut.
d. Ideal diri
Harapan klien terhadap keadaan tubuh yang ideal, posisi, tugas,
peran dalam keluarga, pekerjaan atau sekolah, harapan klien
terhadap lingkungan, harapan klien terhadap penyakitnya,
bagaimana jika kenyataan tidak sesuai dengan harapannya.
e. Harga diri
Hubungan klien dengan orang lain sesuai dengan kondisi,
dampak pada klien dalam berhubungan dengan orang lain,
harapan, identitas diri tidak sesuai harapan, fungsi peran tidak
sesuai harapan, ideal diri tidak sesuai harapan, penilaian klien
terhadap pandangan / penghargaan orang lain.
3. Hubungan social
Tanyakan orang yang paling berarti dalam hidup klien, tanyakan
upaya yang biasa dilakukan bila ada masalah, tanyakan kelompok apa
saja yang diikuti dalam masyarakat, keterlibatan atau peran serta
dalam kegiatan kelompok / masyarakat, hambatan dalam berhubungan
dengan orang lain, minat dalam berinteraksi dengan orang lain.
4. Spiritual
Nilai dan keyakinan, kegiatan ibadah / menjalankan keyakinan,
kepuasan dalam menjalankan keyakinan.
6. Status mental

Perilaku Kekerasan | 7
a. Data Fokus
1. Penampilan
Cara berpenampilan tidak seperti biasanya, dan tidak rapi.
2. Pembicaraan
cepat, dan keras.
3. Aktivitas motorik
a. Tegang
b. Tik : gerakan-gerakan kecil otot muka yang tidak terkontrol
c. Grimasem : gerakan otot muka yang berubah-ubah yang
tidak terkontrol klien
4. Afek dan Emosi
a. Labil : emosi klien cepat berubah-ubah
b. Tidak sesuai : emosi bertentangan atau berlawanan dengan
stimulus
5. Interaksi selama wawancara
a. Mudah tersinggung
b. Bermusuhan : kata-kata atau pandangan yang tidak
bersahabat atau tidak ramah
c. Curiga : menunjukan sikap atau peran tidak percaya kepada
pewawancara atau orang lain.
6. Persepsi-sensori
Terdapat gangguan seperti halusinasi pendengaran.
7. Proses Pikir
a. Bentuk
Otistik (autisme) : bentuk pemikiran yang berupa fantasi
atau lamunan untuk memuaskan keinginan untuk
memuaskan keinginan yang tidak dapat dicapainya. Hidup
dalam pikirannya sendiri, hanya memuaskan keinginannya
tanpa peduli sekitarnya, menandakan ada distorsi arus
asosiasi dalam diri klien yang dimanifestasikan dengan
lamunan, fantasi, waham dan halusinasinya yang cenderung
menyenangkan dirinya.
b. Isi Pikir

Perilaku Kekerasan | 8
Perasaan Curiga : pikiran yang berupa tidak percaya/ curiga
pada orang lain.
8. Tingkat kesadaran
Tidak sadar, bingung, dan apatis. Terjadi disorientasi orang,
tempat, dan waktu.
9. Memori
Gangguan daya ingat jangka menengah.
10. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Konsentrasi menurun, tidak mampu berhitung sederhana.
11. Kemapuan penilaian
Gangguan bermakna.
12. Daya tilik diri
Menyalahkan hal-hal diluar dirinya : bersikeras, menyerang
orang lain.
B) Diagnosa Keperawatan
1. Perilaku kekerasan
2. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
3. Harga diri rendah
Stuart dan Sundden (1997) mengidentifikasi pohon masalah kekerasan
sebagai berikut :

(Effect) Resiko Tinggi


Mencederai

(Core Problem)
Perilaku Kekerasan

(Causal)
Harga Diri Rendah

Perilaku Kekerasan | 9
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN

PERENCANAAN
TGL DIAGNOSA INTERVENSI DAN RASIONAL
TUJUAN KRITERIA HASIL
Resiko Perilaku TUM : 1.1 Klien mau membalas 1.1.1 Beri salam/panggil nama.

Mencederai Diri Klien tidak salam Sebutkan nama perawat

berhubungan mencederai diri 1.2 Klien mau menjabat Jelaskan maksud hubungan interaksi

dengan perilaku TUK : tangan Jelaskan akan kontrak yang akan dibuat

kekerasan 1. Klien dapat 1.3 Klien mau menyebutkan Beri rasa aman dan sikap empati

membina nama Lakukan kontak singkat tapi sering
hubungan saling 1.4 Klien mau tersenyum R/ : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk
percaya 1.5 Klien mau kontak mata hubungan selanjutnya
1.6 Klien mau mengetahui
nama perawat
2. Klien dapat 2.1 Klien dapat 2.1.1 Berikan kesempatan untuk mengungkapkan
mengidentifikasi mengungkapkan perasaannya
menyebab perasaannya. 2.1.2 Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab perasaan
perilaku 2.2 Klien dapat jengkel/kesal
kekerasan mengungkapkan R/ : Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan
penyebab perasaan dapat membantu mengurangi stress dan penyebab

10
jengkel/kesal (dari diri marah, jengkel/kesal dapat diketahui.
sendiri)
3. Klien dapat 3.1 Klien dapat mengung- 3.1.1 Anjurkan klien mengungkapkan apa yang dialami dan
mengidentifikasi kapkan perasaan dirasakan saat marah/jengkel
tanda dan gejala jengkel/kesal R/ : Untuk mengetahui hal yang dialami dan dirasakan
perilaku saat jengkel
kekerasan 3.1.2 Observasi tanda dan gejala perilaku kekerasan pada
klien
R/ : Untuk mengetahui tanda-tanda klien jengkel/kesal
3.2 Klien dapat menyim- 3.2.1 Simpulkan bersama klien tanda dan gejala
pulkan tanda dan gejala jengkel/kesal yang akan dialami
jengkel/kesal yang R/ : Menarik kesimpulan bersama klien supaya klien
dialaminya mengetahui secara garis besar tanda-tanda
marah/kesal
4. Klien dapat 4.1 Klien dapat mengung- 4.1.1 Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku
mengidentifikasi kapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien (verbal, pada
perilaku kekerasan yang biasa orang lain, pada lingkungan dan pada diri sendiri)
kekerasan yang dilakukan R/ : mengeksplorasi perasaan klien terhadap perilaku
biasa dilakukan kekerasan yang biasa dilakukan
4.2 Klien dapat bermain 4.2.1 Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku
peran sesuai perilaku kekerasan yang biasa dilakukan

Perilaku Kekerasan | 11
kekerasan yang biasa R/ : Untuk mengetahui perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan klien dilakukan dan dengan bantuan perawat bisa
membedakan perilaku konstruktif atau destruktif
4.3 Klien dapat mengetahui 4.3.1 Bicarakan dengan klien, apakah dengan cara yang
cara yang biasa klien lakukan masalahnya selesai
dilakukan untuk R/ : Dapat membantu klien, dapat menggunakan cara
menyelesaikan masalah yang dapat menyelesaikan masalah
5. Klien dapat 5.1 Klien dapat menjelaskan 5.1.1 Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang digunakan
mengidentifikasi akibat dari cara yang klien
akibat perilaku digunakan klien: R/ : Menbantu klien menilai perilaku kekerasan yang
kekerasan  Akibat pada klien dilakukan
sendiri 5.1.2 Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang

Akibat pada orang lain dilakukan klien
 Akibat pada R/ : Dengan mengetahui akibat perilaku kekerasan
lingkungan diharapkan klien dapat mengubah perilaku
destruktif menjadi konstruktif
5.1.3 tanyakan kepeda klien “ Apakah ia ingin mempelajari
cara baru yang sehat”.
R/ : Agar klien dapat mempelajari perilaku konstruktif
yang lain
6. Klien dapat 6.1 Klien dapat 6.1.1 Diskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien

Perilaku Kekerasan | 12
mendemonstrasik menyebutkan contoh R/ : Kegiatan fisik yang biasa di lakukan dapat sebagai
an carafisik pencegahan perilaku media menyalurkan kemarahan
untuk mencegah kekerasan secara fisik : 6.1.2 Beri pujian atas kegiatan fisik klien yang biasa
perilaku  Tarik nafas dalam dilakukan
kkekerasan  Pukulkasuratau 6.1.3 Diskusikan dua cara fisik yang palingt mudah
bantal dilakukan untuk mencegah perilaku kekerasan, yaitu :
 Dll : kegiatan fisik tarik nafas dalam dan pukul kasur serta bantal.
R/ : Tekhnik nafas dalam dapat meningkatkan teknik
relaksasi untuk merendam amarah
6.2 Klien dapat 6.2.1 Diskusikan cara melakukan nafas dalam bersama klien
mengidentifikasikan cara 6.2.2 Beri contoh klien tentang cara menarik nafas dalam
fisik untuk mencegah R/ : Contoh tenatng acar menarik nafas dalam akan
perilaku kekerasan mempermudah klien latihan
6.2.3 Minta klien mengikuiti contoh yang diberikan
sebanyak 5 kali
6.2.4 Beri pujian positif atas kemampuan klien
mendemonstrasikan cara menarik nafas dalam
6.2.5 Tanyakan perasaan klien setelah selesai
R/ : Dengan menanyakan perasaan klien akan
diketahui tingakt keberhasilan dari suatu tujuan
6.2.6 Anjurkan klien menggunakan cara yang telah

Perilaku Kekerasan | 13
dipelajari saat marah/jengkel
6.2.7 Lakukan hal yang sama dengan 6.2.1. sampai 6.2.6.
untuk fisik lain dipertemuan yang lain.
6.3 Klien mempunyai jadwal 6.3.1 Diskusikan dengan klien mengenai frekuensi latihan
untuk melatih cara yang akan dilakukan sendiri oleh klien
pencegahan fisik yang R/ : Frekuensi latihan yang akan dilakukan sendiri
telah dipelajari oleh klien akan meningkatkan kemandirian klien
sebelumnya. 6.3.2 susun jadwal kegiatan untuk melatih cara yang telah
dipelajari.
R/ : Jadwal kegiatan penting untuk strategi / rencana
tindakan berikutnya.
6.4 Klien mengevaluasi 6.4.1 Klien mengevaluasi pelaksanaan latihan, cara
kemampuan dalam pencegahan perilaku kekerasan yang telah dilakukan
melakukan cara fisik dengan mengisi jadwakl kegiatan harian (self-
sesuai jadwal yang telah evaluation)
disusun 6.4.2 Validasi kemampuan klien dalam melaksanakan
latihan
6.4.3 Berikan pujian atas keberhasilan klien
R/ : pujian dapat meningkatkan harga diri klien
6.4.4 Tanyakan kepada klien “apakah kegiatan cara
pencegahan perilaku kekerasan dapat mengurangi

Perilaku Kekerasan | 14
perasaan marah”.
7. Klien dapat 7.1 Klien dapat 7.1.1 Diskusikan cara bicara yang baik dengan klien
mendemonstrasik menyebutkan cara bicara R/ : Cara bicara yang baik dapat mengontrol emosi
an cara sosial (verbal) yang baik dalam klien
untu mencegah mencegah perilaku 7.1.2 Beri contoh cara bicara yang baik :
perilaku kekerasan.  Meminta dengan baik

kekerasan Meminta dengan baik  Menolak dengan baik

Menolak dengan baik  Mengungkapkan perasaan dengan baik

Mengungkapkan
perasaan dengan baik.
7.2 klien dapat 7.2.1 Meminta klien mengikuti contoh cara bicara yang
mendemonstrasikan cara baik.
verbal yang baik  Meminta dengan baik
“Saya minta uang untuk beli makan”
 Menolak dengan baik
“ Maaf, saya tidak bisa melakukan karena ada
kegiatan lain”.
 Mengungkapkan perasaan dengan baik
“ Saya kesal karena permintaan saya tidak
dikabulkan” disertai dengan suara nada rendah.
R/ : dengan klien mengikuti cara bicara yang baik akan

Perilaku Kekerasan | 15
dapat mengetahui tingkat keberhasialn suatu tujuan
7.2.2 Minta klien mengulang sendiri
R/ : meminta klien mengulang sendiri akan
menjadiakn klien semakin terbiasa dengan hal itu
7.2.3 Beri pujian atas keberhasilan klien.
7.3 Klien mempunyai jadwal 7.3.1 Diskusikan dengan klien tentang waktu dan kondisi
untuk melatih cara bicara cara bicara yang dapat dilatih di ruangan, misalnya:
yang baik meminta obat, baju, dll; menolak ajakan merokok,
tidur tidak tepat pada waktunya, menceritakan
kekesalan pada perawat.
7.3.2 Susun jadwal kegiatan untuk melatih cara ynag telah
dipelajari.
7.4 Klien melakukan 7.4.1 Klien mengevaluasi pelaksanaan latihan cara bicra
evaluasi terhadap yang baik dengan mengisi jadwal kegiatan (self-
kemampuan cara bicara evaluation).
yang sessuai dengan 7.4.2 Validasi kemampuan klien dalam melaksankan
jadwal yang telah latihan.
disusun R/ : peningkatan kemampuan mendorong klien untuk
mandiri
7.4.1 Berikan pujian atas keberhasilan klien
R/ : Pujian yang positif dapat memotivasi keluarga dan

Perilaku Kekerasan | 16
klien serta meningkatkan harga diri
7.4.2 Tanyakan kepeda klien “ bagaimana perasaan imam
setelah latihan bicara yang baik? Apakah keinginan
merah berkurang?”..
8. Klien 8.1 Klien dapat 8.1.1 Diskusikan dengan klien kegiatan ibadah yang pernah
mendemonstrasik menyebutkan kegiatan dilakukan.
an cara spiritual ibadah yang biasa 8.1.2 Bantu klien menilai kegiatan ibadah yang dapat
untuk mencegah dilakukan. dilakukan di ruang perawat.
perilaku 8.1.3 Bantu klien memilih kegiatan ibadah yang akan
kekerasan dilakukan
8.2 Klien dapat 8.2.1 Minta klien mendemonstrasikan kegiatan ibadah yang
mendemonstrasikan cara dipilih.
beribadah yang dipilih 8.2.2 Beri pujian atas keberhasilan klien.
R/ : Pujian yang positif dapat memotivasi keluarga dan
klien serta meningkatkan harga diri
8.2.3 Klien mengevaluasi pelksanaan kegiatan ibadah
dengan mengisi jadwal kegiatan
8.3 Klien mempunyai jadwal 8.3.1 Susun jadwal kegiatan untuk melatihb kegiatan
untuk melatih kegiatan ibadah.
ibadah
8.4 Klien melakukan 8.4.1 Klien mengevaluasi pelaksanaan kegiatan ibadah

Perilaku Kekerasan | 17
evaluasi terhadap dengan mengisi jadwal kegiatan harian
kemampuan melkukan 8.4.2 Validasi kemampuan klien dalam melakukan validasi
kegiatan ibadah. 8.4.3 Berikan pujian atas keberhasilan klien
8.4.4 Tanyakan kepeda klien “ bagaimana perasaan imam
setelah teratur melaksanakan ibadah? Apakah
keinginan merah berkurang?”.
9. Klien mendemo- 9.1 Klien dapat 9.1.1 Diskusikan dengan klien tentang jenis obat yang
nstrasikan kepat- menyebutkan jenis, diminumnya (nama, warna, besarnya); waktu minum
uhan minum obat dosis, dan waktu minum obat (jika 3 kali: pkl 07.00), 13.00, 19.00; cara minum
untuk mencegah obat serta manfaat dari obat)
perilaku obat itu (prinsip 5 benar : R/ : klien dan keluraga dapat mengetahui mana-mana
kekerasan benar orang, dosis, obat yang diminum oleh klien
waktu dan cara 9.1.2 Diskusikan dengan klien manfaat minum obat secara
pemberian) teratur :

Beda perasaan sebelum minum obat dan sesudah
minum obat.

Jelaskan bahwa jenis obat hanya boleh diubah oleh
dokter.

Jelaskan mengenai akibat minum obat yang tidak
teratur, misalnya penyakitnya kambuh.
R/ : Klien dan keluarga dapat mengetahui kegunaan

Perilaku Kekerasan | 18
obat yang dikonsumsi oleh klien.
9.2 Klien mendemon- 9.2.1 Diskusikan tentang proses minum obat :

strasikan kepatuhan Klien meninta kepada perawat (jika di RS) kepada
minum obat sesuai keluarga (jika di Rumah).

jadwal yang ditetapkan. Klien memeriksa obat sesuai dosisnya.

Klien meminum obat pada waktu yang tepat.
R/ : Klien dan keluarga dapat mengetahui prinsip
benar agar tidak terjadi kesalahan dalam
mengkonsumsi obat.
9.2.2 Susun jadwal minum obat bersama klien.
9.3 Klien mengevaluasi 9.3.1 Klien mengevaluasi pelaksanaan minum obta dengan
kemampuannya dalam mengisi jadwal kegiatan harian
mematuhi minum obat. 9.3.2 Validasi pelaksanaan minum obat klien
9.3.3 Beri pujian atas keberhasilan klien
9.3.4 Tanyakan kepada klien “ bagaimana perasaan Imam
dengan minum obat secara teratur ? apakah keinginan
untuk marah berkurang ?”.
10. Klien dapat 10.1 Klien yang mengikuti 10.1.1 Anjurkan klien untuk ikut TAK : stimulasi persepsi
mengikuti TAK : TAK : stimulasi persepsi pencegahan perilaku kekerasan.
stimulasi persepsi pencegahan perilaku 10.1.2 Klien mengikuti TAK : stimulasi persepsi pencegahan
pencegahan kekerasan perilaku kekerasan (kegiatan mandiri)

Perilaku Kekerasan | 19
perilaku 10.1.3 Diskusikan dengan klien tentang kegiatan selama
kekerasan TAK
10.1.4 Fasilitasi klien untuk mepraktikkan hasil kegiatan
TAK dan beri pujian atas keberhasilannya.
10.2 Klien mempunyai 10.2.1 Diskusiakn dengan klien tentang jadwal TAK
jadwal, klien melakukan 10.2.2 Masukkan jadwal TAK dalam jadwal kegiatan harian.
evaluasi terhadap 10.2.3 Beri pujian atas kemampuan mengikuti TAK.
pelaksanaan TAK. 10.2.4 Tanyakan kepada klien : “ bagaimana perasan imam
setelah ikut TAK?”,
11. Klien mendapat 11.1 Keluarga dapat 11.1.1 Identifikasi kemampuan keluarga dalam merawat klien
dukungan mendemonstrasikan cara sesuai dengan yang telah dilakukan keluarga terhadap
keluarga dalam merawat klien klien selama ini
melakukan cara 11.1.2 Jelaskan keuntungan peran serta keluarga dalam
pencegahan merawat klien.
perilaku 11.1.3 Jelaskan cara-cara merawat klien.

kekerasan Terkait dengan cara mengontrol perilaku marah
secra konstruktif.

Sikap dan cara bicara.

Membantu klien mengenal penyebab marah dan
pelksanaan cara pencegahan perilaku kekerasan.
11.1.4 Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat

Perilaku Kekerasan | 20
klien
11.1.5 Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah
melakukan demonstrasi.
11.1.6 Anjurkan keluarga mempraktikkannya pada klien
selama dirumah sakit dan melnajutkannya setelah
pulang kerumah.

STRATEGI PELAKSANAAN BERDASARKAN PERTEMUAN

DIAGNOSA
PASIEN KELUARGA
KEPERAWATAN
Risiko Perilaku Kekerasan SP 1 : SP1 :
a. Identifikasi:penyebab, tanda dan gejala PK, a. Identifikasi masalah yang dirasakan keluarga
akibat dalam merawat pasien
b. Latihan cara fisik 1,2 (F1,2). b. Penjelasan PK (penyebab, tanda dan gejala, jenis
c. Masuk jadwal kegiatan pasien. PK, akibat PK).
c. Cara merawat PK.
d. Latih (stimulasi) 2 cara merawat.
e. RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat.
SP2 : SP 2 :
a. Evaluasi kegiatan lalu Yi (F1,2) a. Evaluasi (SP 1)

Perilaku Kekerasan | 21
b. Latihan verval (3 macam) b. Latih (stimulasi) 2 cara lain untuk merawat.
c. Masuk jadwal kegiatan pasien. c. Melatih (langsung ke pasien).
d. RTL keluarga atau jadwal keluarga untuk
merawat
SP3 : SP 3 :
a. Evaluasi kegiatan lalu yi (F1,2) dan verbal a. Evaluasi (SP 1 dan 2)
(SP1,2) b. Latih (langsung ke pasien)
b. Latihan spiritual ( minimal 2 macam) c. RTL keluarga atau jadwal keluarga untuk
c. Masuk Jadwal Kegiatan pasien merawat
SP4 : SP 4 :
a. Evaluasi kegiatan lalu yi (F1,2) dan verbal a. Evaluasi (SP 123)
(SP1,2) b. Latih (langsung ke pasien)
b. Latihan Patuh Obat c. Rencana tindak lanjut keluarga :
c. Masuk Jadwal Kegiatan pasien - Follow Up
- Rujukan

Perilaku Kekerasan | 22
C) Evaluasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan perawat mengevaluasi klien :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
2. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan.
3. Klien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan.
4. klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
5. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
6. Klien dapat mendemonstrasikan cara fisik untuk mencegah perilaku
kekerasan.
7. Klien dapat mendemonstrasikan cara social untuk mencegah perilaku
kekerasan.
8. Klien dapat mendemonstrasikan cara spiritual untuk mencegah perilaku
kekerasan.
9. Klien dapat mendemonstrasikan kepatuhan minum obat untuk mencegah
perilaku kekerasan.
10. Klien dapat mengikuti TAK : stimulasi persepsi pencegahan perilaku
kekerasan.
11. Klien mendapatkan dukungan keluarga dalam melakukan cara pencegahan
perilaku kekerasan

DAFTAR PUSTAKA

Azizah, Lilik Ma’rifatul. 2011. Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Graha Ilmu.


Dalami, Ernawati. dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Jiwa. Jakarta:
CV Trans Info Media.

Keliat,Budiana.1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.Jakarta:EGC


Keliat, Budiana. 2007. Model Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta : EGC
Riyadi , Sujono.2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Graha Ilmu
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.

23