Anda di halaman 1dari 8

BRONKOPNEUMONI

DEFINISI
Definisi Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru;
walaupun banyak pihak yang sependapat bahwa pneumonia adalah suatu keadaan
inflamasi, namun sangat sulit untuk merumuskan satu definisi tunggal yang
universal. Pneumonia adalah sindrom klinis, sehingga didefinisikan berdasarkan
gejala dan tanda klinis, dan perjalanan penyakitnya. Salah satu definisi klinis klasik
menyatakan pneumonia adalah penyakit respiratorik yang ditandai dengan batuk,
sesak napas, demam, ronki basah, dengan gambaran infiltrat pada foto rontgen
toraks.1 Dikenal istilah lain yang mirip yaitu pneumonitis yang maksudnya lebih
kurang sama. Banyak yang menganut pengertian bahwa pneumonia adalah
inflamasi paru karena proses infeksi sedangkan pneumonitis adalah inflamasi paru
non-infeksi

KLASIFIKASI
BAYI DAN ANAK BERUSIA 2 BULAN-5TAHUN
 PNEUMONIA BERAT
 Bila ada sesak napas
 Harus dirawat dan diberi antibiotic
 PNEUMONIA
 Bila tidak ada sesak napas
 Ada napas cepat dengan laju napa:
 >50x/menit untuk anak 2 bulan-1 tahun
 >40x/menit untuk anak >1-5tahun
 Tidak perlu dirawat, diberikan antibiotic oral
 BUKAN PNEUMONIA
 Bila tidak ada sesak napas dan napas cepat
 Tidak perlu dirawat da ridak perlu diberik antibiotic, hanya
diberika obat simptomatik

BAYI BERUSIA <2BULAN


 PNEUMONIA
 Bila napas cepat (>60x/menit) atausesak napas
1

 Harus dirawat dan diberikan antibiotic


 BUKAN PNEUMONIA
 Tidak ada napas cepat atau sesak napas

Tidak perlu di rawat, diberikan obat simptomatik

ETIOLOGI
Bronkopneumonia dapat juga dikatakan suatu peradangan pada parenkim paru
yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur. Bakteri seperti Diplococus pneumonia,
Pneumococcus sp, Streptococcus sp, Hemoliticus aureus, Haemophilus influenza,
Basilus friendlander (Klebsial pneumonia), dan Mycobacterium tuberculosis. Virus
seperti Respiratory syntical virus, Virus influenza, dan Virus sitomegalik. Jamur
seperti Citoplasma capsulatum, Criptococcus nepromas, Blastomices dermatides,
Cocedirides immitis, Aspergillus sp, Candinda albicans, dan Mycoplasma
pneumonia. Meskipun hampir semua organisme dapat menyebabkan
bronkopneumonia, penyebab yang sering adalah stafilokokus, streptokokus, H.
influenza, Proteus sp dan Pseudomonas aeruginosa. Keadaan ini dapat disebabkan
oleh sejumlah besar organisme yang berbeda dengan patogenitas yang bervariasi.
Virus, tuberkolosis dan organisme dengan patogenisitas yang rendah dapat juga
menyebabkan bronkopneumonia, namun gambarannya bervariasi sesuai agen
etiologinya.

EPIDEMIOLOGI
1. Distribusi Bronkopneumonia
a. Distribusi Bronkopneumonia Berdasarkan Orang
Berdasarkan hasil SKRT 2001, angka prevalensi ISPA 2% dari lima
penyakit yang disurvei (ISPA, infeksi saluran nafas kronik, hipertensi, kulit, dan
sendi), dengan prevalensi tinggi pada golongan bayi (39%) dan balita (42%). ISPA
merupakan penyebab utama kematian pada bayi dan balita dengan CFR
masingmasing (27,6%), dan (22,8%). Angka kematian bayi dan balita menjadi
indikator derajat kesehatan masyarakat. 13 Prevalensi ISPA di Indonesia
2

berdasarkan Surkesnas (Survei Kesehatan Nasional) 2001 masih sangat tinggi yaitu
38,7% pada umur dibawah 1 tahun dan 42,2% umur 1-4 tahun. Cause Specific
Death Rate (CSDR) pneumonia pada anak umur 19 tahun merupakan anggota
rumah tangga terbanyak yaitu 568 jiwa (66,7%), demikian juga kasus ISPA
terbanyak pada kelompok umur ini, yaitu 280 kasus (65,6%). Namun bila dihitung
angka Age Specific Morbidity Rate tertinggi adalah pada kelompok ≤5 tahun
(79,4%).

b. Distribusi Bronkopneumonia Berdasarkan Tempat dan Waktu


Berdasarkan hasil Surkesnas 2001 proporsi kematian karena penyakit sistem
pernapasan pada bayi sebesar 23,9% di Jawa Bali, 15,8% di Sumatera, dan 42,6%
di Kawasan Timur Indonesia. Pada balita sebesar 16,7% di Jawa Bali, 29,4% di
sumatera, dan 30,3% di Kawasan Timur Indonesia.25 Profil Kesehatan Indonesia
tahun 2005, prevalensi ISPA di pedesaan (25%) lebih tinggi dibandingkan dengan
perkotaan (22%). Prevalensi ISPA untuk kawasan Sumatera 20%, sementara untuk
kawasan Jawa-Bali adalah 23% dan kawasan KTI (Kalimantan, Sulawesi, dan
NTB/NTT/Papua) 29%.13 Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008, pneumonia yang
terjadi pada balita berdasarkan laporan 26 provinsi, tiga provinsi dengan cakupan
tertinggi berturut-turut adalah provinsi Nusa Tenggara Barat 56,50%, Jawa Barat
42,50% dan Kepulauan Bangka Belitung 21,71%. Sedangkan cakupan terendah
adalah provinsi DI Yogyakarta 1,81%, Kepulauan Riau 2,08%, dan NAD 4,56%.3
Profil Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2004 prevalensi ISPA (97,9 %) dan di kota
Makasar (29,47%)

DIAGNOSIS
Pneumonia khususnya bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi
saluran nafas bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik secara mendadak
sampai 39-400C dan mungkin disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak
sangat gelisah, dispnu, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping
hidung dan sianosis di sekitar hidung dan mulut. Batuk biasanya tidak dijumpai
3

pada awal penyakit,anak akan mendapat batuk setelah beberapa hari, di mana pada
awalnya berupa batuk kering kemudian menjadi produktif (Bennete, 2013).
Dalam pemeriksaan fisik penderita pneumonia khususnya bronkopneumonia
ditemukan hal-hal sebagai berikut (Bennete, 2013):
1. Pada inspeksi terlihat setiap nafas terdapat retraksi otot epigastrik,
interkostal, suprasternal, dan pernapasan cuping hidung.
Tanda objektif yang merefleksikan adanya distres pernapasan adalah retraksi
dinding dada; penggunaan otot tambahan yang terlihat dan cuping hidung;
orthopnea; dan pergerakan pernafasan yang berlawanan. Tekanan intrapleura yang
bertambah negatif selama inspirasi melawan resistensi tinggi jalan nafas
menyebabkan retraksi bagian-bagian yang mudah terpengaruh pada dinding dada,
yaitu jaringan ikat inter dan sub kostal, dan fossae supraklavikula dan suprasternal.
Kebalikannya, ruang interkostal yang melenting dapat terlihat apabila tekanan
intrapleura yang semakin positif. Retraksi lebih mudah terlihat pada bayi baru lahir
dimana jaringan ikat interkostal lebih tipis dan lebih lemah dibandingkan anak yang
lebih tua.
Kontraksi yang terlihat dari otot sternokleidomastoideus dan pergerakan fossae
supraklavikular selama inspirasi merupakan tanda yang paling dapat dipercaya
akan adanya sumbatan jalan nafas. Pada infant, kontraksi otot ini terjadi akibat
“head bobbing”, yang dapat diamati dengan jelas ketika anak beristirahat dengan
kepala disangga tegal lurus dengan area suboksipital. Apabila tidak ada tanda
distres pernapasan yang lain pada “head bobbing”, adanya kerusakan sistem saraf
pusat dapat dicurigai.
Pengembangan cuping hidung adalah tanda yang sensitif akan adanya distress
pernapasan dan dapat terjadi apabila inspirasi memendek secara abnormal
(contohnya pada kondisi nyeri dada). Pengembangan hidung memperbesar pasase
hidung anterior dan menurunkan resistensi jalan napas atas dan keseluruhan. Selain
itu dapat juga menstabilkan jalan napas atas dengan mencegah tekanan negatif
faring selama inspirasi.
2. Pada palpasi ditemukan vokal fremitus yang simetris.
4

Konsolidasi yang kecil pada paru yang terkena tidak menghilangkan getaran
fremitus selama jalan napas masih terbuka, namun bila terjadi perluasan infeksi
paru (kolaps paru/atelektasis) maka transmisi energi vibrasi akan berkurang.
3. Pada perkusi tidak terdapat kelainan
4. Pada auskultasi ditemukan crackles sedang nyaring.
Crackles adalah bunyi non musikal, tidak kontinyu, interupsi pendek dan
berulang dengan spektrum frekuensi antara 200-2000 Hz. Bisa bernada tinggi
ataupun rendah (tergantung tinggi rendahnya frekuensi yang mendominasi), keras
atau lemah (tergantung dari amplitudo osilasi) jarang atau banyak (tergantung
jumlah crackles individual) halus atau kasar (tergantung dari mekanisme
terjadinya).
Crackles dihasilkan oleh gelembung-gelembung udara yang melalui sekret jalan
napas/jalan napas kecil yang tiba-tiba terbuka.

Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologis mempunyai bentuk difus bilateral dengan peningkatan
corakan bronkhovaskular dan infiltrat kecil dan halus yang tersebar di pinggir
lapang paru. Bayangan bercak ini sering terlihat pada lobus bawah (Bennete, 2013).

Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan jumlah leukosit. Hitung
leukosit dapat membantu membedakan pneumoni viral dan bakterial. Infeksi virus
leukosit normal atau meningkat (tidak melebihi 20.000/mm3 dengan limfosit
predominan) dan bakteri leukosit meningkat 15.000-40.000 /mm3 dengan neutrofil
yang predominan. Pada hitung jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta
peningkatan LED. Analisa gas darah menunjukkan hipoksemia dan hipokarbia,
pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik. Isolasi mikroorganisme dari
paru, cairan pleura atau darah bersifat invasif sehingga tidak rutin dilakukan
(Bennete, 2013).
5

Kriteria Diagnosis
Diagnosis ditegakkan bila ditemukan 3 dari 5 gejala berikut (Bradley et.al.,
2011):
1. Sesak napas disertai dengan pernafasan cuping hidung dan tarikan dinding
dada
2. Panas badan
3. Ronkhi basah halus-sedang nyaring (crackles)
4. Foto thorax meninjikkan gambaran infiltrat difus
5. Leukositosis (pada infeksi virus tidak melebihi 20.000/mm3 dengan
limfosit predominan, dan bakteri 15.000-40.000/mm3 neutrofil yang predominan)

Penatalaksanaan
Sebaiknya pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi
tetapi hal ini tidak dapat selalu dilakukan dan memakan waktu yang cukup lama,
maka dalam praktek diberikan pengobatan polifragmasi seperti penisilin diambah
dengan kloramfenikol atau diberi antibiotik yang mempunyai spektrum luas seperti
ampicillin. Pengobatan diteruskan sampai anak bebas demam selama 4 – 5 hari.
Pengobatan dan penatalaksaannya meliputi :

 Bed rest

 Anak dengan sesak nafas memerlukan cairan inta vena dan oksigen (1 – 2
l/mnt). Jenis cairan yang digunakan adalah campuran Glukosa 5% dan NaCl
0,9% ditambah larutan KCl 10 mEq/500 ml botol infus.

 Jumlah cairan disesuaikan dengan berat badan dan kenaikan suhu.

 Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit

 Pemberian antibiotik sesuai biakan atau berikan :

 Untuk kasus pneumonia community base :


6

– Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian

– Kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian

 Untuk kasus pneumonia hospital base :

– Sefotaksim 100 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian

– Amikasin 10-15 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian

 Antipiretik : paracetamol 10-15 mg/kgBB/x beri

 Mukolitik : Ambroxol 1,2-1,6 mg/kgBB/2 dosis/oral

 Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai makanan enteral bertahap
melalui selang nasogastrik dengan feeding drip. Jika sesaknya berat maka
pasien harus dipuasakan.

Tabel pemilihan antibiotika berdasarkan etiologi :3

Mikroorganisme
Streptokokus dan StafilokokusM. Penicilin G 50.000-100.000 unit/hari IV
Pneumonia atauPenicilin Prokain 6.000.000 unit/hari IM atau

H. Influenza Ampicilin 100-200 mg/kgBB/hari atau

Klebsiella dan P. Aeruginosa Ceftriakson 75-200 mg/kgBB/hari

Eritromisin 15 mg/kgBB/hari

Kloramfenikol 50-100 mg/kgBB/hari

Sefalosporin
7

KOMPLIKASI
Dengan penggunaan antibiotika, komplikasi hampir tidak pernah dijumpai.
Komplikasi yang dapat dijumpai adalah empyema dan otitis media akut.
Komplikasi lain seperti meningitis, perikarditis, osteomielitis, peritonitis lebih
jarang dilihat

PROGNOSIS

Dengan pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat maka mortalitas


dapat diturunkan sampai kurang dari 1%. Mortalitas bisa lebih tinggi didapatkan
pada anak-anak dengan keadaan malnutrisi energi protein dan yang datang
terlambat untuk pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sari Pediatri, Vol. 8, No. 2. Jakarta. 2006.


2. Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2013, 362-363.
3. “Guideline For The Diagnosis and Management of Community
AcquiredPneumonia:Pediatric”.www.topalbertadoctors.org/NR/rdonly
res/39CED6AF-08F7-49C9A45DAF8FCA86AFD1/0/CAP_
pediatric.pdf. (diakses tanggal 12 Mei 2008)
4. Hasan, R (edt). Pneumonia. Dalam: Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak.
Jilid 3. Cetakan ke-9. Percetakan Infomedika. Jakarta. 2000. 1229-1230
5. Poesponegoro, HD (edt). Pneumonia. Dalam: “Standar Pelayanan
Medis Kesehatan Anak”. Edisi 2004. IDAI. Jakarta. 2004. 351-354